Posts

3 Kebenaran tentang Ketaatan yang Mengubahku

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Di awal tahun baru 2020, aku mau lebih berkomitmen dalam membaca Alkitab, berdoa, pelayanan, dan meninggalkan sifat-sifat manusia lamaku. Dua bulan sudah dilewati di tahun ini, ada beberapa komitmenku yang berhasil dan ada juga yang tidak. Memenuhi komitmen memang gampang-gampang susah. Aku pun merefleksikan kembali, mengapa aku bisa taat menjalankan beberapa komitmen, sedangkan di hal-hal lainnya aku tidak.

Bersyukurnya, di tahun ini pula, kelompok kecil di gerejaku membahas bersama-sama sebuah buku berjudul “The Freedom of Obedience: Choosing the Way of True Liberation” karya Martha Thatcher. Buku ini membahas bagaimana kita sebagai orang percaya dapat mengerti paradigma ketaatan yang benar.

Melalui pembelajaran dari buku itu, ada tiga hal yang kupelajari tentang ketaatan yang benar di hadapan Tuhan. Tiga hal inilah yang ingin juga kubagikan kepadamu.

1. Ketaatan yang benar didasarkan atas kasih kepada Tuhan

Di awal bukunya, penulis memberikan illustrasi tentang Abraham yang mempersembahkan anaknya, Ishak, kepada Tuhan. Sekilas, perintah Tuhan bagi Abraham terdengar tak masuk akal. Bukankah Abraham dijanjikan akan memiliki keturunan yang banyak (Kejadian 15:5), lantas mengapa Ishak, anak satu-satunya malah harus dikorbankan (Kejadian 22:2)?

Jika kita mengalami kondisi seperti Abraham, kira-kira bagaimanakah kita akan merespons? Kembali ke kisah Abraham, Alkitab mencatat Abraham taat melakukan perintah Tuhan tersebut, meski mungkin itu rasanya tidak masuk akal. Apakah yang membuat Abraham bersedia taat? Jawabannya adalah karena dia mengasihi Tuhan.

Abraham tidak meragukan ketaatannya sebab dasar imannya adalah pengalaman pribadi bersama Tuhan. Ketaatannya adalah buah dari imannya yang mengasihi Tuhan. Abraham tahu siapa Tuhan berdasarkan pengalaman pribadinya bersama Tuhan di masa lalunya. Mendapati Ishak di usianya yang tua sendiri adalah penggenapan janji Tuhan di dalam hidupnya. Di Kejadian pasal 22 Alkitab mencatat Allah lalu memberkati Abraham atas iman percayanya.

Melalui sekilas kisah Abraham, aku belajar untuk lebih menumbuhkan kasihku atas Tuhan. Semakin kasihku kepada Tuhan bertumbuh, aku bisa lebih bersukacita dalam ketaatanku. Aku berterima kasih kepada Tuhan atas kasih karunia-Nya yang berlimpah kepadaku walaupun aku orang berdosa dan bagaimana Dia memimpin jalan-jalanku hingga saat ini. Aku berpikir dengan selalu mengingat hal-hal ini, aku bisa lebih menumbuhkan kasihku kepada Tuhan.

2. Ketaatan yang benar diperoleh dengan fokus tertuju kepada Tuhan

Salah satu contoh tokoh Alkitab yang selalu memiliki fokus tertuju kepada Tuhan adalah Daud. Walaupun Daud dikejar-kejar oleh musuhnya yang tidak lain ada keluarganya sendiri, hatinya selalu tertuju kepada Tuhan.

“Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan” (Mazmur 27:8

Apakah hatiku benar-benar tertuju kepada Tuhan dan Firman-Nya? Apakah ketaatanku sungguh merupakan wujud dari kasihku pada Tuhan? Atau, apakah aku hanya lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang aku lakukan dalam ketaatanku?

Penulis buku tersebut menjelaskan orang yang tergolong dalam tipe kedua cenderung menggantikan ketaatan yang benar dengan menyesuaikan diri dengan budaya Kristen di sekitarnya. Semisal, walaupun tidak pernah absen pergi ke gereja, tetap egois dan membenci orang-orang di sekitar. Walaupun mendengar dengan seksama khotbah pendeta di gereja, Alkitab kita selalu tertutup di hari-hari lainnya. Giat melayani di gereja, tetapi tidak peka dengan kebutuhan keluarga. Rajin memberikan persembahan, tetapi hatinya masih serakah. Kita tidak melatih hati kita selaras dengan ketaatan eksternal yang kita lakukan. Kita melaksanakan ketaatan tanpa fokus yang tertuju kepada Tuhan.

Ketaatan dengan fokus kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah. Kita perlu mengaplikasikan apa yang kita pelajari di gereja atau di saat teduh masing-masing. Sebagai contoh: dalam kehidupanku, aku belajar tentang kasih yang ditulis oleh Rasul Paulus di 1 Korintus 13, tetapi aku termasuk orang yang terkadang iri hati dengan pencapaian orang lain yang sempat membuatku sulit mengasihi orang tersebut. Apa yang aku pelajari hanya sebatas pengetahuan di kepalaku. Untuk membantuku mengubah karakterku, aku berdoa buat orang tersebut dan berharap dia memperoleh yang terbaik. Aku bersukacita ketika dia memperolehnya. Secara perlahan-lahan, Tuhan memampukanku untuk mengasihi orang tersebut.

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2)

3. Ketaatan yang benar bertujuan untuk menumbuhkan karakter Kristus dalam kehidupan kita

Tuhan, aku sudah giat berdoa dan membaca Firman-Mu, tetapi mengapa aku sulit mengubah sifat manusia lamaku? Pertumbuhan rohani tidak berlangsung secara instan dan memerlukan proses. Sebagaimana bayi bertumbuh menjadi orang dewasa, kita juga bertumbuh secara rohani ketika kita menerima Yesus Kristus dalam kehidupan kita.

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29).

Bapa kita di Surga melihat kita sebagai anak-anak-Nya yang bertumbuh menyerupai Kristus. Kita memiliki rupa Kristus, tetapi itu terselubung dalam sifat kita yang jatuh. Kejatuhan kita dalam dosa tak cuma membuat tindakan kita menjadi tercela, tetapi juga cara pandang kita akan segala sesuatu, serta visi hidup kita menjadi buram. Kita tidak tahu dengan benar bagaimana isi hati kita yang sesungguhnya karena kita memiliki pengertian yang kabur. Kita membandingkan diri kita dengan orang-orang Kristen lainnya di sekitar kita. Kita melihat diri kita dalam terang apa yang kita pikir Tuhan inginkan dari “orang Kristen yang baik” atau kita membiarkan “budaya-budaya Kristen” saat ini untuk menentukan arah dan pemikiran kita. Semua pemikiran seperti ini hanya akan membawa kita ke kesimpulan yang salah.

Ketika ketaatan kita didasarkan pada kasih kita pada Tuhan, dan kita memusatkan pandangan kepada-Nya, maka Tuhan akan mengubahkan persepsi kita yang hanya berdasarkan pengertian kita sendiri dengan kebenaran-Nya. Allah telah memberi kita masing-masing iman, sekarang tugas kita adalah menumbuhkan karakter diri yang serupa dengan Kristus dengan penilaian yang bijaksana sesuai dengan Firman Tuhan.

“For by the grace given me I say to every one of you: Do not think of yourself more highly than you ought, but rather think of yourself with sober judgment, in accordance with the faith God has distributed to each of you” (Romans 12:3 NIV)

Tanpa mengevaluasi bagaimana caraku hidup, aku bisa dengan mudah jatuh mengikuti cara berpikir dunia. Melalui kasih karunia Tuhan, aku dimampukan-Nya untuk terus mengevaluasi ketaatan-ketaatan yang kulakukan.

Baca Juga:

Tuhan Memampukanku Menyatakan Kasih Kepada Orang Yang Paling Sulit Kukasihi

18 tahun aku tidak berkomunikasi dengan ayah kandungku, dan aku pernah menganggapnya jahat karena dia meninggalkanku. Namun, di tahun ini, Tuhan mau agar aku mengasihi ayahku. Sulit, tapi inilah pergumulanku.

Apakah Aku Orang Kristen yang Baik?

Hari ke-15 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 3:4-6

3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

Apa yang menjadikan kita orang Kristen yang baik? Coba kita pikirkan.

Di mata teman-teman, saudara, dan rekan kerja yang non-Kristen, apakah orang Kristen yang baik itu berarti bersikap manis kepada semua orang, tak pernah mengumpat? Apakah ditentukan oleh jargon Kristen yang kita gunakan, atau oleh keluarga Kristen tempat kita berasal? Tidak pernah absen datang ke gereja, pelayanan yang kita kerjakan, ayat-ayat yang kita tulis di media sosial? Apakah ketentuan-ketentuan itu juga kita berlakukan kepada orang-orang Kristen sekitar kita dan menjadi tolok ukur siapa yang “lebih suci”?

Kalau boleh jujur, aku mungkin menilai diriku 8 dari 10 dalam hal “Menjadi Orang Kristen yang Baik”. Pasalnya, aku berlaku layaknya “orang Kristen” pada umumnya: pergi ke sekolah Minggu sewaktu kecil dan bersekolah di sekolah Kristen; kebaktian di gereja dan ikut pendalaman Alkitab secara teratur; berdoa dan membaca Alkitab hampir setiap hari. Aku sudah dibaptis, rutin memberi perpuluhan, dan ikut Perjamuan Kudus. Aku bahkan menulis untuk website Kristen.

Namun, Paulus memperingatkan kita untuk tidak mengandalkan perbuatan lahiriah kita sendiri (Filipi 3:3). Lagipula, jika ada yang memiliki bukti-bukti kesalehan lahiriah yang bermutu, Pauluslah orangnya. Dalam ayat 4-6, ia memaparkan semua alasan yang dapat dibanggakan tentang dirinya.

Paulus mendapat hak istimewa sejak lahir, ia pun banyak berprestasi. Ia disunat oleh orangtuanya pada hari kedelapan sesuai dengan perjanjian Abraham (Kejadian 16:11-12). Ia orang Israel—orang Yahudi asli—dari suku Benyamin, satu-satunya suku yang tetap setia kepada Yehuda dan Daud. Ia adalah orang Ibrani yang paling murni di antara orang Ibrani lain karena dibesarkan dengan adat Yahudi. Selain itu, ia juga berbicara dan belajar bahasa Ibrani.

Paulus juga seorang Farisi, golongan agamawan ortodoks yang mengikuti seluruh aturan Yahudi dengan ketat. Ia sangat menekuni agama Yahudi tradisional hingga menghukum mati orang-orang Kristen. Ia jugalah yang menyetujui pembunuhan Stefanus (Kisah Para Rasul 7:58). Paulus tak pernah melanggar hukum, malah menekuni semua hukum Taurat sesuai tafsiran orang Farisi. Seandainya Paulus adalah orang Kristen, ia patut mendapat nilai di atas 10.

Meski demikian, Paulus tidak menaruh kepercayaannya pada hal-hal tersebut. Sebaliknya, ia menganggap semua itu sebagai “rugi” dan “sampah” dibandingkan “pengenalan akan Yesus Kristus” (Filipi 3:8).

Itulah yang Paulus ajarkan kepada kita. Artinya, kita tak boleh mengandalkan “CV Orang Kristen” yaitu perbuatan-perbuatan baik. Bukan berarti semua yang kita miliki dan kita kerjakan percuma saja—semuanya berarti. Namun, hal-hal itu tidak menyelamatkan kita atau membuat kita benar di hadapan Allah. Seluruh perbuatan baik kita adalah perwujudan kepercayaan kita kepada-Nya.

Pada akhirnya, yang membenarkan kita bukanlah kehadiran dii gereja atau banyaknya tafsiran Alkitab yang sudah kita baca, melainkan pengorbanan sempurna yang telah Yesus lakukan. Dia menanggung dosa kita agar Allah dapat menghapus semua dosa kita (Roma 3:23-25). Hanya oleh darah-Nyalah kita diampuni dan diterima oleh Allah.

Jadi, alih-alih mengukur kesalehan orang Kristen lain dan diri sendiri layaknya orang Farisi, aku belajar bahwa kepercayaan diriku—serta identitas, hak, dan posisiku di hadapan Allah—sepenuhnya terletak dalam pengenalan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Perbuatan semata tidak ada nilainya. Yesuslah yang memberiku nilai sempurna dengan anugerah-Nya. Kita dibenarkan oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan iman kepada Kristus. Itulah yang menjadikan kita orang Kristen yang baik.—Wendy Wong, Singapura

Handlettering oleh Vivi Lio

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Dalam hal apa saja kamu menaruh kepercayaanmu pada perbuatan lahiriah dan bukan pada tangan Tuhan?

2. Dalam hal apa saja kamu secara tidak sadar mengganggap dirimu lebih baik daripada orang Kristen lainnya?

3. Ambillah waktu untuk mendoakan semuanya itu dan meminta pertolongan Tuhan agar kamu memiliki cara pandang yang benar.

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Wendy Wong, Singapura | Hari yang sempurna menurut Wendy adalah menyantap peanut buter, hiking, naik sepeda, atau saat teduh bersama Tuhan. Sebagai seoang penulis, Wendy berharap tiap tulisannya jadi alat untuk memuliakan Tuhan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Dari Kejadian Sampai Wahyu, Pengalamanku Membaca Habis Alkitab dalam Setahun

Oleh Jefferson, Singapura

Sejak aku lahir baru, aku terdorong untuk membaca habis Alkitab dalam setahun. Tapi, karena kesibukanku di sekolah, aku terus menundanya. Dengan pertolongan Tuhan dan dukungan dari teman-teman kelompok kecilku, barulah enam tahun kemudian aku dapat menyelesaikan membaca Alkitab dalam setahun.

Membaca Alkitab setiap hari selama setahun telah menolongku untuk peka terhadap suara Tuhan. Namun, aku menyadari bahwa proses untuk konsisten melakukan hal ini tidaklah mudah. Melalui tulisan ini, aku ingin membagikan sekelumit pengalamanku yang kiranya dapat menginspirasimu untuk berkomitmen menjalani hari-hari di tahun 2019 dengan konsisten membaca firman-Nya.

Beberapa persiapan pendahuluan

Di akhir tahun 2017, aku punya resolusi untuk menuntaskan pembacaan Alkitab di tahun 2018. Jadi, selama beberapa minggu terakhir di tahun 2017, aku mempersiapkan hal-hal yang kubutuhkan untuk mewujudkan resolusi itu. Pertama-tama, aku menentukan versi terjemahan Alkitab yang akan kubaca. Aku terbiasa membaca dalam bahasa Inggris, jadi aku memilih Alkitab versi English Standard Version (ESV).

Langkah kedua menurutku adalah langkah yang lebih rumit: menentukan rencana baca Alkitab (Bible reading plan) yang akan kuikuti. Aku bisa saja memilih perikop yang akan kubaca secara acak setiap harinya. Tapi, aku tidak mau melakukannya karena itu sama artinya dengan mengabaikan struktur dan salah satu identitas Alkitab sebagai sebuah karya sastra. Ibarat sebuah fine dining course yang hidangannya disajikan dengan cermat, pun ada urutan-urutan baca tertentu yang memampukan kita untuk melihat gambaran besar yang Alkitab sampaikan. Kupikir cara membaca Alkitab dengan pendekatan acak tidak akan cocok untuk membaca sebuah buku yang berisikan firman Tuhan.

Dari beberapa Bible reading plan yang aku telaah, aku memutuskan untuk menggunakan ESV Study Bible One Year Reading Plan. Selain cocok dengan versi terjemahan yang akan kupakai, plan ini juga menyediakan tafsiran untuk ayat-ayat yang sulit kupahami dan membagi kitab-kitab dalam Alkitab ke dalam empat kategori: Mazmur dan Sastra Hikmat, Taurat dan Sejarah Israel, Tawarikh dan Nabi-nabi, dan Injil dan Surat Rasul. Aku akan membaca paling tidak satu perikop dari setiap kategori tiap harinya. Reading plan ini juga tidak menyediakan renungan apapun sebelum atau sesudah perikop bacaan. Dengan kata lain, aku “dipaksa” untuk benar-benar merenungkan apa yang kubaca.

Langkah terakhir adalah menentukan kapan waktu yang tepat buatku membaca. Awalnya aku berusaha untuk membaca Alkitab di pagi hari. Tapi, sejak aku mulai bekerja, aku tidak punya cukup waktu di pagi hari untuk membaca seluruh perikop. Aku pun mengganti waktu bacaku ke malam hari sepulang dari kantor.

Puji Tuhan, setelah setahun berlangsung, Tuhan memampukanku mengikuti Bible reading plan itu hingga usai. Ada tiga poin yang akan kusampaikan:

#1 – 1001 alasan untuk mangkir tidak berdaya di hadapan 1 alasan untuk membaca

Aku mengamati, mungkin ada di antara kita yang menganggap membaca habis Alkitab dalam setahun sebagai sesuatu yang sulit dan luar biasa. Kita lalu memuji dan sangat kagum dengan saudara seiman yang telah berhasil melakukannya. Tapi, apakah membaca Alkitab dari sampul ke sampul memang sebuah prestasi yang hanya bisa dicapai oleh orang Kristen tertentu? Atau, apakah semua orang Kristen juga bisa melakukannya?

Setelah mempraktikkan dan mengalaminya sendiri, aku memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut. Pada awalnya, aku sepakat dengan anggapan pertama yang mengatakan bahwa membaca tuntas Alkitab hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dunia kita sekarang sudah tersaturasi dengan penggunaan gadget, di mana cara kita berinteraksi di media sosial menanamkan sifat short attention span dalam diri kita. Kita enggan, tidak terbiasa, atau bahkan tidak lagi bisa menikmati kegiatan yang memerlukan perhatian cukup lama seperti membaca. Penolakan ini bisa jadi berlipat ganda ketika buku yang dibaca merupakan salah satu kitab tertua di dunia dengan sastra Yahudi kuno sebagai genre utamanya.

Di masa awal aku menjalani komitmenku ini, aku kesulitan untuk membaca paling tidak empat perikop tiap harinya. Aku sempat jenuh dan pernah dengan sengaja melewatkan satu atau dua perikop di beberapa hari pertamaku. Tapi, Tuhan mengusik hatiku lewat salah satu bacaan di hari kedua yang diambil dari Mazmur 1 yang membandingkan orang fasik dengan orang benar. Perbedaan utama keduanya adalah orang benar menyukai dan merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam (ayat 1). Orang benar kemudian digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang selalu berbuah pada musimnya, tidak layu daunnya, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 4).

Dalam perenunganku, aku menyadari bahwa satu-satunya tindakan aktif si orang benar adalah merenungkan firman Tuhan dan bergantung pada-Nya, karena tidak mungkin sebuah pohon menanam bibitnya sendiri ke dalam tanah lalu bertumbuh. Aku menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang benar yang hidupnya berkenan di hadapan Allah, aku harus menyerahkan diriku sepenuhnya untuk dibentuk dan dididik-Nya lewat pergaulan erat dengan Alkitab. Perenungan inilah yang membakar kembali api semangatku yang sempat padam, dan puji Tuhan, akhirnya aku dapat menyelesaikan resolusiku dengan baik.

Kurasa sangatlah wajar bagi kita untuk enggan membaca Alkitab , tetapi kalau kita terus-menerus menolak untuk mendekat pada Tuhan dan mempelajari kehendak-Nya dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya kita akan kehabisan alasan. Kebenaran pun terungkap: kita bukannya tidak bisa membaca Alkitab secara konsisten dalam setahun; kita tidak mau dan tidak merencanakannya. Padahal, Sumber Air Hidup yang akan membuat kita tidak pernah haus lagi telah memberikan diri-Nya untuk kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah minum dari-Nya dan menyaksikan bagaimana air itu Dia ubahkan menjadi mata air yang tidak akan pernah habis dalam diri kita (Yohanes 4:14).

#2 – Usaha pendakian akan dibayar setimpal oleh pemandangan dari atas puncak

Kita telah belajar kalau membaca Alkitab secara konsisten dalam setahun bukanlah hal yang mustahil jika kita benar-benar bergantung kepada Tuhan. Kita mungkin tidak dapat mengingat ribuan kata yang ada dalam Alkitab karena kita memang manusia yang terbatas. Tetapi, kita dapat mengingat tema-tema dan peristiwa-peristiwa utama yang tercatat dalam Alkitab.

Buatku pribadi, Alkitab berisikan gambaran besar dari kisah Allah yang mulia. Menikmati kisah itu seperti menikmati pemandangan dari atas sebuah puncak. Ada banyak rute yang dapat membawa kita mencapai puncak itu. Dalam pengalamanku, rute yang kupilih adalah keempat kategori rencana baca Alkitabku. Ada banyak hal yang ingin kubagikan dari perjalananku mendaki dan menikmati pemandangan dari puncak itu, tapi rasanya artikel ini nantinya akan terlalu panjang. Jadi, aku hanya ingin membagikan dua hal saja yang kuanggap paling penting.

Pertama, aku terkagum-kagum dengan berbagai macam emosi yang diekspresikan dalam kitab-kitab Mazmur dan Sastra Hikmat (Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung). Kitab-kitab ini menggambarkan dengan jelas realita kehidupan manusia yang penuh jatuh bangun, dari masa-masa penuh sukacita seperti yang tertulis dalam Mazmur 34 dan Kidung Agung, hingga masa yang kelam seperti tertulis di Mazmur 88 dan Pengkhotbah. Namun, di tengah-tengah ketidakpastian hidup, Tuhan hadir sebagai Gunung Batu yang mengundang kita untuk hidup dalam naungan-Nya dan mengikut Dia. Di sini aku belajar untuk terus berelasi dengan Tuhan dalam segala situasi dengan apa adanya.

Poin pertama yang terdengar abstrak ini mengambil bentuk konkrit dalam ketiga kategori lainnya. Peristiwa-peristiwa dalam kitab Taurat, sejarah Israel, nabi-nabi, dan Perjanjian Baru memperjelas identitas dan karakteristik Tuhan yang dinyatakan oleh kategori sebelumnya. Dalam proses aku membaca Alkitab sampai habis, aku semakin memahami dan mengenali Allah Tritunggal yang adalah Kasih. Karena begitu besar kasih yang dimiliki Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus dari semula, ketiga pribadi Tritunggal menciptakan dunia dan segala isinya untuk membagikan kasih ini. Karena begitu besar kasih Allah yang adalah adil dan benar, Ia tidak mungkin mentolerir dosa yang pada dasarnya adalah penolakan dan pemberontakan terhadap diri-Nya. Dan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia memberikan diri-Nya sendiri untuk mati menanggung hukuman dosa dan mendamaikan kita dengan-Nya. Tuhan Yesus, sang Firman yang menjadi manusia, merangkum esensi kasih Allah yang meluap-luap dan tanpa pamrih ini dalam Markus 10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Pemahaman dan pengenalan yang lebih dalam tentang Allah ini hanya bisa kita dapatkan melalui membaca firman-Nya tentang Firman-Nya. Dalam pribadi Kristus kita memiliki teladan hidup, dan inilah yang kumaksud dengan “hidup mengikuti Dia”: mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama, bahkan musuh kita, seperti diri kita sendiri (Matius 22:37-38).

Tidak ada cara lain untuk dapat mengenal Tuhan selain melalui halaman-halaman Alkitab yang memberikan kita “terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Korintus 4:6). Inilah pemandangan dari puncak yang tidak akan kutukar dengan hal apapun (Filipi 3:8).

#3 – Membaca Alkitab sampai habis satu kali tidak akan cukup untuk mengenal Tuhan

Allah yang kita kenal lewat Alkitab adalah Tuhan yang melampaui akal pikiran manusia. Kita tidak mungkin memahami Dia sepenuhnya hanya dengan membaca habis Alkitab satu kali. Jadi, harus berapa kali kita melakukannya supaya kita bisa semakin mengenal Tuhan? Dua kali? Atau tiga kali? Lebih dari itu, kita harus membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu dengan konsisten hingga kelak kita bertemu Tuhan muka dengan muka.

Menyebutkan kitab Wahyu di sini adalah hal yang penting, karena di dalam kitab itu tercatat janji Tuhan untuk berdiam di tengah-tengah umat-Nya (Wahyu 21:3). Kita juga akan melihat wajah-Nya dan di dahi kita akan tertulis nama-Nya (Wahyu 22:4). Di akhir zaman, tidak akan ada lagi maut maupun dosa yang memisahkan kita dengan Tuhan, “sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:4). Apa implikasinya? Kita akan dapat memahami dan mengenal Allah secara penuh; kita dapat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan Allah yang selama ini kita kenal melalui firman-Nya.

Jadi, mengapa kita harus terus membaca Alkitab dengan konsisten terus menerus sampai kelak kita berjumpa dengan Tuhan? Karena Alkitab adalah satu-satunya sarana untuk kita dapat mengenali Tuhan saat ini (kesimpulanku dari berbagai perikop, terutama 2 Timotius 3:15-17). Hanya melalui Alkitablah kita, yang dulu pikirannya dibutakan oleh ilah zaman ini, sekarang dapat melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah sendiri (2 Korintus 4:4). Mungkin sekarang kita hanya dapat mengenal Tuhan melalui gambaran yang kurang jelas dalam cermin, tetapi bayangan samar-samar itu menunjukkan bahwa si pemilik bayangan memang ada. Dan, melalui cermin itulah si pemilik bayangan berjanji untuk menemui kita sehingga kita dapat melihat rupanya dengan jelas. Maka, bersama-sama dengan Paulus, kita dapat dengan penuh percaya diri mengatakan, “Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti [di kedatangan kedua Tuhan] aku akan mengenal dengen sempurna, seperti aku sendiri dikenal [oleh Allah sejak semula]” (1 Korintus 13:12). Sambil menantikan momen bertemu Tuhan muka dengan muka, mari kita terus memahami dan mengenali-Nya lewat cermin yang Ia berikan, yang menuntun kita kepada Firman sejati yang hidup dan pernah berjalan di tengah manusia, Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membaca Alkitab; mulailah tahun 2019 dengan resolusi untuk menyelesaikan membacanya.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan mengajakmu memanjatkan doa yang dinaikkan oleh Anselm, seorang bapak gereja dari abad ke-11. Setelah merenungkan sifat-sifat Allah yang ajaib dan kelihatannya saling berlawanan dalam bukunya Proslogion, ia meresponi hal ini dengan kalimat-kalimat berikut:

Aku berdoa, ya Tuhan, supaya aku dapat mengenal-Mu dan mengasihi-Mu, sehingga aku dapat bersukacita di dalam-Mu.

Dan, jikalau aku tidak dapat melakukannya dengan penuh di kehidupan ini, biarlah aku menguasainya perlahan-lahan hingga mencapai kepenuhannya. Biarlah pengetahuan akan diri-Mu bertumbuh dalamku di sini, dan di sana [di surga] dijadikan sempurna. Biarlah kasih-Mu bertumbuh dalamku di sini dan di sana dijadikan sempurna, sehingga sukacitaku di sini dapat berlimpah dalam pengharapan, dan di sana dijadikan sempurna dalam realita.

Ya Tuhan, melalui Anak-Mu, Engkau mengajarkan kami untuk meminta dan Engkau berjanji bahwa kami akan mendapatkan sehingga “sukacita kami menjadi penuh”. Aku meminta, ya Tuhan, ketika Engkau mengajar melalui Penasihat Ajaib kami, [supaya] aku menerima apa yang Engkau janjikan melalui kebenaran-Mu sehingga “sukacitaku menjadi penuh”.

Allah yang adalah Kebenaran, aku meminta supaya aku dapat menerima sehingga “sukacitaku menjadi penuh”. Hingga saat itu tiba, biarlah pikiranku merenungkan [momen di mana “sukacitaku menjadi penuh”], biarlah lidahku berkata-kata tentangnya, biarlah hatiku mengasihinya, biarlah mulutku berkhotbah tentangnya. Biarlah jiwaku merindukannya, biarlah tubuhku menginginkannya, biarlah seluruh keberadaanku mendambahaknnya, hingga aku masuk dan [mengambil bagian] dalam “sukacita Tuhan”, yang adalah Allah Tritunggal, terberkatilah selama-lamanya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati, soli Deo gloria.

Informasi tambahan:

Kamu dapat membaca tentang tips-tips praktis membaca Alkitab dalam setahun dalam tulisan Bruce Ware, seorang dosen Teologi Kristen di Southern Baptist Theological Seminary. Aplikasi-aplikasi praktis yang ia berikan sangat membantuku selama setahun ke belakang dan kuharap dapat membantumu juga dalam membaca habis Alkitab selama setahun ke depan. Selamat membaca!

Baca Juga:

#10YearChallenge, Hal Apakah yang Tuhan Telah Ubahkan dalam Hidupmu?

Perjalanan hidup yang telah kita lalui mungkin tidaklah selalu lancar, tetapi entah kita sadari atau tidak, itulah yang membentuk dan mengubah kita menjadi diri kita yang ada sekarang ini. Apakah yang Tuhan telah ubahkan dalam hidupmu?

Marvelle Kecil yang Mengajariku Tentang Ketaatan

Oleh Maria Felicia Budijono, Surakarta

“Huaaa… huaaa,” suara tangisan terdengar dari arah tangga. Aku mengenal suara tangisan itu. Marvelle, salah satu muridku yang duduk di kelas 4 berjalan terseok-seok menghampiriku. Air mata membasahi wajahnya.

Sebagai seorang guru, aku tidak tega melihat teman kecilku ini menangis demikian kerasnya. Aku menghampirinya dan bertanya, “Ada apa Marvelle?”

Aku menduga, tangisan Marvelle pasti karena seekor kucing yang ia beri nama Miichan. Beberapa hari belakangan, ada seekor kucing yang berkeliaran di area sekolah. Marvelle senang bermain dengan kucing itu. Dan, ternyata dugaanku benar. Ketika aku menyebutkan nama Miichan, tangisnya semakin keras.

“Kenapa Miichan, Marvelle? Miichannya pergi lagi ya?”

Sambil tetap menangis, Marvelle menjawab dengan terbata-bata, “Aku..aku mau kucing… Tapi nda boleh sama mamaku. Jadi aku nda bisa main sama Miichan lagi.” Aku pun berusaha menghibur Marvelle agar ia dapat lebih tenang.

Tangisan Marvelle siang itu membuat perasaanku campur aduk. Ada rasa terharu, gemas, terenyuh, dan entahlah. Tapi, dari balik tangisannya, aku jadi terpikir akan suatu hal.

Dalam kehidupan kita, ada banyak hal yang “menggiurkan”, yang menarik kita menjauh dari Tuhan. Godaan-godaan dosa mungkin menawarkan hal yang indah dan menyenangkan buat kita. Namun, itu tidaklah menyenangkan hati Tuhan, dan sebenarnya pun tidak baik buat kita.

Tapi, apakah lantas kita memiliki hati seperti Marvelle kecil yang mau taat?

Aku yakin, pasti tidak mudah buat Marvelle mengikuti perintah mamanya. Marvelle begitu menyukai Miichan. Kucing ini tampak menarik dan membuatnya senang setiap kali bermain dengannya. Namun, ketika sang mama akhirnya mengatakan “tidak” untuk bermain dengan kucing ini lagi, pasti Marvelle merasa tidak senang. Marvelle bisa saja melanggar instruksi “tidak” dari mamanya. Toh, kucing itu ada di sekolah, di tempat di mana sang mama tidak ada secara fisik dan mengawasi Marvelle secara langsung.

Tapi, Marvelle—walaupun dengan rasa sedih—dapat mengatakan: “Nda boleh sama mama. Jadi aku tidak bisa main dengan Miichan.”

Di balik rasa sedihnya, Marvelle memilih taat. Ia melakukan apa yang mamanya perintahkan. Aku yakin, bahwa di dalam hatinya, Marvelle tahu bahwa mamanya mengasihi ia. Sehingga, ia pun bersedia taat meskipun mungkin ia sendiri tidak paham mengapa mamanya memerintahkan demikian.

Bagaimana dengan kita? Apakah momen Natal yang baru kita peringati di bulan lalu membuat kita semakin menyadari dan mengingat betapa Allah telah mengasihi kita?

Aku teringat akan perkataan Yesus di malam sebelum Ia ditangkap. “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Ketika Yesus lahir ke dunia, Ia tahu bahwa Ia datang untuk sebuah misi: menyelamatkan umat manusia. Dan, Ia pun tahu bahwa Ia akan mati disalibkan. Itu bukanlah hal yang mudah bagi-Nya. Namun, Yesus menunjukkan ketaatan-Nya yang luar biasa.

Di tahun yang baru ini, aku ingin belajar untuk taat sebagaimana Kristus taat kepada Bapa yang telah mengutus-Nya. Dan, aku pun mengucap syukur kepada Bapa untuk kesempatan belajar dari Marvelle, yang menegurku agar aku terus bersedia dibentuk untuk semakin serupa dengan Kristus.

Baca Juga:

Satu Perubahan yang Perlu Dilakukan Sebelum Menjalankan Resolusi

Apakah resolusi tahun baru yang kita buat menyentuh masalah-masalah mendasar dalam hidup kita?

Bertumbuh di Tempat yang Tepat

Sabtu, 24 Februari 2018

Bertumbuh di Tempat yang Tepat

Baca: 1 Samuel 20:30-34

20:30 Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?

20:31 Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”

20:32 Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: “Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?”

20:33 Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud.

20:34 Sebab itu Yonatan bangkit dan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang bernyala-nyala. Pada hari yang kedua bulan baru itu ia tidak makan apa-apa, sebab ia bersusah hati karena Daud, sebab ayahnya telah menghina Daud.

Lalu Yonatan membuat perjanjian dengan keluarga Daud. —1 Samuel 20:16 FAYH

Bertumbuh di Tempat yang Tepat

“Gulma adalah tanaman apa saja yang tumbuh di tempat yang tidak kamu inginkan,” kata ayah saya saat memberikan cangkul kepada saya. Tadinya saya ingin membiarkan saja tanaman jagung yang tumbuh di antara tanaman kacang polong. Namun, ayah yang telah berpengalaman dalam urusan bertani menyuruh saya mencabut tanaman jagung itu. Batang jagung yang tumbuh sendiri itu tidak berguna sama sekali dan hanya menghambat pertumbuhan tanaman kacang polong dan merampas nutrisi yang dibutuhkannya.

Manusia bukanlah tanaman—kita memiliki pemikiran sendiri dan kehendak bebas yang diberikan Allah. Namun, adakalanya kita berusaha untuk bertumbuh di tempat yang tidak dimaksudkan Allah.

Putra Raja Saul, Yonatan, bisa saja melakukan hal tersebut. Ia sangat berhak jika ia mau menjadi raja. Namun, ia melihat berkat Allah atas Daud sekaligus mengenali sikap iri hati dan kesombongan Saul, ayahnya (1Sam. 18:12-15). Jadi daripada merebut takhta yang tidak akan pernah menjadi miliknya, Yonatan memilih untuk menjadi sahabat dekat bagi Daud, bahkan pernah menyelamatkan hidup Daud (19:1-6; 20:1-4).

Mungkin ada yang mengatakan bahwa pengorbanan Yonatan terlalu besar. Namun pertanyaannya, bagaimana kita ingin dikenang? Sebagai orang yang ambisius seperti Saul, yang berusaha mempertahankan kerajaannya tetapi akhirnya lepas juga? Atau seperti Yonatan, yang melindungi hidup seseorang yang kelak menjadi nenek moyang Yesus?

Rencana Allah selalu lebih baik daripada rencana kita sendiri. Kita bisa menolak rencana Allah itu dan meniru tanaman jagung yang salah tempat tadi. Atau kita dapat menerima arahan Allah dan menjadi tanaman yang bertumbuh dan berbuah di tanah yang diusahakan-Nya. Pilihannya ada di tangan kita. —Tim Gustafson

Tuhan, ampuni kami saat bertindak seolah-olah Engkau telah salah menempatkan kami. Tolonglah kami melakukan kehendak-Mu yang benar hari ini.

Allah mengundang kita untuk bekerja bersama-Nya dalam menyebarkan Injil di mana pun kita ditempatkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 9-11; Markus 5:1-20

Menjauhkan Diri dan Menjadi Kuat

Sabtu, 17 Februari 2018

Menjauhkan Diri dan Menjadi Kuat

Baca: 1 Korintus 6:12-20

6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

6:13 Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.

6:14 Allah, yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya.

6:15 Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? Akan kuambilkah anggota Kristus untuk menyerahkannya kepada percabulan? Sekali-kali tidak!

6:16 Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: “Keduanya akan menjadi satu daging.”

6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.

6:18 Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, —dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

6:20 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! —1 Korintus 6:20

Menjauhkan Diri dan Menjadi Kuat

Tindakan mendengarkan secara aktif itu mengingatkan saya pada ketaatan segera yang diperintahkan Kitab Suci dalam menghadapi godaan seksual. Dalam 1 Korintus 6:18, Paulus menulis kepada anggota jemaat yang tergoda oleh para pelacur bakti di kuil penyembahan berhala dan memerintahkan mereka untuk menjauhi percabulan. Memang adakalanya kita harus berdiri teguh dan bertahan menghadapi situasi yang menantang iman (Gal. 5:1; Ef. 6:11), tetapi di sini Alkitab menyerukan taktik bertahan kita yang terbaik: “Menjauhlah!

Tindakan yang langsung dilakukan akan melindungi kita dari sikap kompromi. Kompromi-kompromi kecil dapat membawa kita pada kekalahan yang telak. Pikiran yang tak terkendali, lirikan mata ke situs-situs di dunia maya yang tidak sepatutnya diakses, main mata dengan orang yang bukan suami atau istri Anda—hal-hal tersebut dapat menyeret kita pada kejatuhan dan menjauhkan kita dari Allah.

Ketika kita menjauhi godaan, Allah pun menyediakan pertolongan-Nya. Melalui kematian-Nya yang menebus kita dari dosa, Yesus memberikan pengharapan, pengampunan, dan permulaan yang baru bagi kita—terlepas dari apa pun yang pernah kita lakukan. Ketika kita merasa lemah dan berlari kepada Yesus, Dia akan melepaskan kita dan memampukan kita hidup dengan kekuatan-Nya. —James Banks

Tuhan Yesus, karena kasih-Mu, Engkau memberikan diri-Mu untuk disalibkan bagi kami. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu dalam ketaatan akan kehendak-Mu.

Hanya Allah yang dapat memenuhi kebutuhan kita yang terdalam dan memuaskan dahaga jiwa kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 21-22; Matius 28

Ham dan Telur

Sabtu, 2 Desember 2017

Ham dan Telur

Baca: 2 Tawarikh 16:1-9

16:1 Pada tahun ketiga puluh enam pemerintahan Asa majulah Baesa, raja Israel, hendak berperang melawan Yehuda. Ia memperkuat Rama dengan maksud mencegah lalu lintas kepada Asa, raja Yehuda.

16:2 Lalu Asa mengeluarkan emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja dan mengirimnya kepada Benhadad, raja Aram yang diam di Damsyik dengan pesan:

16:3 “Ada perjanjian antara aku dan engkau, antara ayahku dan ayahmu. Ini kukirim emas dan perak kepadamu. Marilah, batalkanlah perjanjianmu dengan Baesa, raja Israel, supaya ia undur dari padaku.”

16:4 Lalu Benhadad mendengarkan permintaan raja Asa; ia menyuruh panglima-panglimanya menyerang kota-kota Israel. Dan mereka memukul kalah Iyon, Dan, Abel-Maim dan segala tempat perbekalan kota-kota di Naftali.

16:5 Segera sesudah Baesa mendengar hal itu, ia berhenti memperkuat Rama; ia menghentikan usahanya itu.

16:6 Tetapi raja Asa mengerahkan segenap orang Yehuda, yang harus mengangkat batu dan kayu yang dipergunakan Baesa untuk memperkuat Rama itu. Ia mempergunakannya untuk memperkuat Geba dan Mizpa.

16:7 Pada waktu itu datanglah Hanani, pelihat itu, kepada Asa, raja Yehuda, katanya kepadanya: “Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada TUHAN Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu.

16:8 Bukankah tentara orang Etiopia dan Libia besar jumlahnya, kereta dan orang berkudanya sangat banyak? Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya.

16:9 Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.”

Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. —2 Tawarikh 16:9

Ham dan Telur

Dalam sebuah dongeng tentang ayam dan babi, kedua binatang itu berdiskusi soal rencana membuka restoran bersama. Saat merencanakan menu yang akan disajikan, ayam mengusulkan menu daging ham dan telur. Babi dengan cepat menolak, sembari berkata: “Aku tak setuju. Enak saja, aku harus mengorbankan diriku, sementara kamu hanya cukup bertelur dan tak sampai mati.”

Meskipun babi itu tidak rela menjadi santapan, pengertiannya tentang penyerahan diri membuat saya lebih memahami apa artinya mengikut Allah dengan sepenuh hati.

Untuk melindungi kerajaannya, Asa, raja Yehuda, berusaha memutuskan persekutuannya dengan raja-raja Israel dan Aram. Demi mencapai hal tersebut, ia mengirimkan “emas dan perak dari perbendaharaan rumah TUHAN dan dari perbendaharaan rumah raja” kepada Benhadad, raja Aram, agar ia mau bersekutu dengannya (2Taw. 16:2). Benhadad setuju dan gabungan pasukan kedua kerajaan mereka berhasil mengalahkan Israel.

Namun, Nabi Hanani menyebut Asa telah bersikap bodoh karena mengandalkan pertolongan manusia daripada berharap kepada Allah yang telah menyerahkan para musuh ke tangan mereka. Hanani menegaskan, “Mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia” (ay.9).

Ketika kita menghadapi pergumulan dan tantangan dalam hidup ini, ingatlah bahwa Allah merupakan sekutu dan pengharapan kita yang terbaik. Dia menguatkan kita ketika kita bersedia menyerahkan diri kepada-Nya dengan sepenuh hati. —Kirsten Holmberg

Tuhan, aku ingin bersandar lebih lagi kepada-Mu. Kadang aku hanya melihat apa yang ada di sekelilingku. Tolong aku berharap dan semakin percaya kepada-Mu.

Ketika kita sepenuhnya berserah kepada Allah, Dia dapat bekerja melalui diri kita kapan saja. —Oswald Chambers

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 42-44; 1 Yohanes 1

Mengapa Aku Memutuskan untuk Tidak Berhubungan Seks Sebelum Menikah

mengapa-aku-memutuskan-untuk-tidak-berhubungan-seks-sebelum-menikah

Oleh Michele Ong, Selandia Baru
Artikel asli dalam bahasa Inggris : Is It Possible to Resist Sex in This Day and Age?

Aku memiliki pendirian yang teguh untuk menolak hubungan seks di luar pernikahan, dan tentunya ada risiko atas pendirian itu.

Aku sering dianggap aneh oleh teman-teman ketika mereka tahu tentang pendirianku itu. Mereka seringkali mengatakan padaku, “Tapi, kamu harus mencobanya supaya kamu tahu apakah kamu cocok dengan pasanganmu atau tidak.”

Tak hanya temanku, beberapa mantan pacarku juga berkeyakinan kalau melakukan hubungan seks di luar pernikahan itu tidak masalah selama dilakukan atas dasar cinta dan sama-sama mau melakukan. Aku baru berusia 16 tahun ketika mulai berpacaran dengan pacar pertamaku. Waktu itu, aku tidak yakin aku sudah cukup dewasa untuk membuat sebuah keputusan yang serius seperti itu. Tapi, mereka tetap saja mendesakku.

Mereka memberiku berbagai alasan, “Jika kamu mencintai aku…”, “Semua teman-temanku yang lain juga melakukannya dengan pacar mereka, aku jadi merasa terkucilkan”, atau “Sepertinya kita ketinggalan zaman, ya?” Salah satu mantan pacarku percaya bahwa Tuhan tak seharusnya lagi mengharapkan pasangan di zaman modern ini untuk menunggu hingga hari pernikahan mereka untuk berhubungan seks, karena kini orang-orang menikah di usia yang semakin tua.

Kemudian aku membayangkan jika diriku hamil akibat berhubungan seks di luar nikah, itu tentu mengerikan. Aku lebih memilih untuk duduk di kelas dan mengerjakan ujian akuntansi berulang-ulang daripada harus hamil di usiaku yang ke-16 tahun.

Mungkin kamu akan berpikir kalau penolakanku terhadap seks di luar nikah itu akibat dipengaruhi oleh orangtuaku atau karena aku takut masuk neraka. Tebakanmu salah. Orangtuaku hanya pernah sekali mengingatkanku untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, dan itu ketika aku menonton film Titanic saat aku berusia 12 tahun. Ketika ada adegan intim Jack bersama Rose, ibuku berkata, “Jangan lakukan itu, itu tidak baik.” Hanya itu saja yang pernah ibuku katakan.

Tidak tahu kenapa, kata-kata yang diucapkan oleh ibuku itu terngiang-ngiang di pikiranku, dan aku tetap berpegang pada pendirianku menolak hubungan seks di luar nikah bertahun-tahun setelahnya. Beberapa orang yang mendengar pendirianku itu terkadang merasa skeptis, tidak yakin kalau aku mampu berpegang teguh pada pendirian itu.

“Kamu rohani sekali, ya?” ejek mereka.

Sejujurnya, kalau aku menolak hubungan seks di luar nikah hanya untuk mematuhi hukum Taurat, aku mungkin takkan kuat menghadapi banyaknya tekanan yang ada. Namun secara pribadi, aku punya keyakinan kalau seks itu sangat sakral, sehingga aku sangat protektif menjaga diriku. Saat aku bertumbuh semakin dewasa, keyakinanku ini membuatku lebih mudah menguji apakah seorang lelaki ini layak dipacari atau tidak. Kalau dia tidak siap menerima pendirianku untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah, tentu dia takkan menjadi pacarku.

Ketika aku berpacaran dahulu, mantan pacarku mengatakan kalau dia tidak bisa menjalin relasi ini tanpa melakukan hubungan seks. Dia berargumen, jika aku tidak mau berhubungan seks dengannya, bagaimana mungkin dia dapat yakin kalau aku adalah belahan jiwanya. Tanpa sepatah kata pun, aku pulang ke rumah dan menyadari bahwa hubungan ini tidak bisa diteruskan lagi.

Harus kuakui, terkadang aku pernah berpikir untuk melonggarkan sedikit pendirianku tentang hubungan seks sebelum pernikahan supaya hidupku bisa menjadi lebih mudah. “Mengapa memilih gaya hidup yang kaku ini?” tanyaku pada diri sendiri. Bagaimanapun, kita hidup di dunia yang menganggap seks di luar nikah adalah sebuah hal yang normal, dan menunda hubungan seks sampai waktu menikah adalah sesuatu yang aneh.

Tapi, bagaimana pendapat Tuhan mengenai seks?

Dalam sebuah buku yang berjudul “Laugh Your Way to a Better Marriage”, pendeta Amerika Mark Gungor mengatakan bahwa seks adalah ciptaan Tuhan. Dia menuliskan dalam bukunya, “Tuhanlah yang menciptakan tubuh kita untuk dapat merasakan sensasi ketika disentuh dan dibelai. Dia jugalah yang menciptakan kemampuan untuk orgasme. Seks adalah anugerah dari Tuhan.”

Namun, Alkitab juga memberitahu kita bahwa Tuhan menciptakan seks untuk dinikmati di dalam wadah pernikahan (Ibrani 13:4). Menikmati seks harus dilakukan dalam konteks yang benar karena itu berkaitan dengan keintiman yang tidak bisa dinikmati dalam sembarang relasi. Tuhan menciptakan seks untuk kebaikan kita dan Dia juga memerintahkan kita supaya tidak membangkitkan hasrat seks itu sebelum waktunya yang tepat tiba (Kidung Agung 8:4). Kita juga harus menghindari perbuatan seksual yang menyimpang karena sejatinya tubuh kita adalah bait Allah dan kita telah dibeli dengan harga yang teramat mahal—darah Yesus yang berharga (1 Korintus 6:18-20).

Aku memandang perintah Tuhan untuk tidak melakukan seks di luar pernikahan adalah seperti mendengar orang tua kita mengatakan untuk tidak membuka kado ulang tahun kita sebelum hari ulang tahun kita tiba. Seperti sebuah kado ulang tahun, pandanglah hubungan seks itu sebagai hadiah pernikahan dari Tuhan untuk suami dan istri yang baru menikah, dan untuk dibuka setelah mereka resmi menikah. Tapi, jika kamu tetap membuka hadiah itu sebelum hari ulang tahunmu, kamu mungkin akan kehilangan sukacita besar ketika hari ulang tahunmu itu tiba.

Ingatlah, Tuhan bukannya anti terhadap seks. Alasan Dia meminta kita menghindari hubungan seks yang tidak seharusnya bukanlah karena Dia menganggap bahwa seks itu buruk. Dia tahu yang terbaik bagi kita dan Dia menginginkan kita mendapatkan pengalaman seks yang terbaik, yaitu seks yang dilakukan dalam wadah pernikahan.

Baca Juga:

Mengapa Aku Berada dalam “Friend-Zone” Selama 15 Tahun

15 tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi selama itulah Amy berada dalam “friend-zone”. Pengalaman itu membuatnya belajar bahwa sebuah hubungan yang baik kadang diawali dari pertemanan.

Mengapa Aku Takut Membagikan Imanku?

mengapa-aku-takut-membagikan-imanku

Oleh Aryanto Wijaya

Pernahkah kamu merasa takut untuk membagikan imanmu dengan orang lain? Aku pernah.

Ketika aku masih duduk di kelas IV sekolah dasar, keluargaku adalah satu-satunya orang Kristen di lingkungan tempat tinggal kami. Suatu hari, ketika aku sedang bersepeda melewati sebuah rumah ibadah, beberapa anak sepantaranku datang dan menutup jalanku serta memaksaku turun dari sepeda. Aku mengelak untuk turun, lalu mereka mulai menendangi sepedaku dan memaksaku untuk mengakui agama apa yang kuanut. Mereka kemudian mulai mengejekku—karena aku orang Kristen dan keturunan Tionghoa.

Aku tidak tahu harus melakukan apa waktu itu hingga ada seorang dewasa yang kebetulan lewat lalu membubarkan anak-anak itu.

Sejak saat itu, aku menjadi takut untuk membagikan imanku dengan orang lain. Tapi, setelah aku berpikir baru-baru ini, aku menyadari kalau ada tiga alasan pokok yang membuatku takut membagikan iman kepada orang lain.

1. Aku takut menyinggung orang-orang dari kepercayaan lain

Tidak banyak orang Kristen tinggal di lingkunganku, jadi membicarakan soal iman bisa jadi hal yang sensitif. Suatu ketika, teman-teman ibuku datang untuk berdoa di rumah. Kami tidak menggunakan alat musik ataupun juga membuat suara-suara keras, tapi ada tetangga yang curiga karena rumahku dipenuhi orang. Mereka ketakutan apabila rumah kami berubah menjadi gereja. Dua orang datang ke rumah dan memberitahukan kalau tidak boleh melakukan aktivitas Kristen di wilayah itu.

Sekalipun insiden itu menggangguku, Tuhan memberikan kesempatan lain untuk membuatku belajar menyatakan iman. Suatu kali aku bermalam di rumah seorang ibu yang bukan Kristen. Saat pagi ketika aku tengah bersiap untuk berangkat ke gereja, dia bertanya, “Hei, mau ke mana pagi-pagi?”

Aku menjawabnya dengan jujur kalau aku akan pergi ke gereja. Aku tak menyangka ternyata dia menunjukkan rasa penasarannya tentang gereja. Ibu itu belum pernah bertemu orang Kristen sebelumnya! Lalu aku bercerita padanya tentang Tuhan dan apa itu gereja.

Sadar atau tidak, orang-orang di sekitar kita memperhatikan tingkah laku kita. Cara kita hidup kita bisa jadi membuat mereka penasaran dan ingin mengetahui tentang Yesus. Alkitab mengatakan pada kita, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

2. Aku takut teman-teman memandangku negatif

Aku masih ingat di suatu Minggu pagi ketika aku hendak berangkat ke gereja, teman serumahku mengatakan sembari bercanda, “Ngapain hari Minggu pagi-pagi ke gereja? Enakan juga tidur.” Baginya, hari Minggu seharusnya dipakai untuk tidur lebih lama setelah kita lelah beraktivitas sepanjang hari Senin hingga Sabtu.

Kuakui kalau seringkali aku mengalah dengan ajakan teman-teman sebayaku. Ketika seorang teman mengajakku lari pagi di hari Minggu, aku pun ikut—lalu menunda ibadah di gereja menjadi siang hari. Aku ingin diterima oleh teman-teman sebayaku; dan aku ingin dipandang sebagai teman yang setia.

Aku kembali mengingat apa alasanku melakukan semua hal yang teman-temanku anggap sebagai “hal yang ribet” ini. Beberapa dari mereka berpikir kalau menjadi Kristen itu “ribet” karena ada banyak aturan yang harus ditaati: perpuluhan, pergi ke gereja, baca Alkitab, dan berbagai hal lainnya. Aku takut dipandang sebagai orang yang “ribet”, oleh karenanya aku menyembunyikan imanku.

Tapi, Tuhan mengingatkanku lewat saat teduh kalau yang terpenting adalah pandangan Tuhan terhadapku dan bukan pandangan teman-teman terhadapku. Bagi Tuhan, Aku berharga di mata-Nya dan mulia, dan Dia mengasihiku (Yesaya 43:4). Yesus mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib untukku. Oleh karena itu, aku harus mempersembahkan apapun yang kupunya―itu bisa jadi uangku, tenaga, dan pikiranku―sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah mengasihi dan menyelamatkanku.

Jadi, sekarang ketika temanku bertanya tentang imanku, aku tidak berpikir itu ribet. Pergi ke gereja, memberi persembahan persepuluhan, dan terlibat pelayanan adalah ungkapan syukurku kepada Tuhan yang kulakukan dengan sukacita, bukan karena paksaan.

3. Aku takut kalau tidak bisa menjawab pertanyaan tentang Kekristenan

Beberapa orang pernah memberitahuku bahwa iman Kristen itu tidak masuk akal. Contohnya, mereka pernah bertanya, “Kok Allah punya anak?” Aku merasa sulit untuk menjelaskannya pada mereka. Jadi, aku memilih untuk diam agar tidak ditanya-tanya.

Dalam suatu kebaktian di gereja, Tuhan berbicara kepadaku lewat khotbah yang mengingatkanku agar tak perlu khawatir dengan apa yang harus kujawab. Seharusnya aku mendoakan mereka supaya mereka boleh merasakan kasih Tuhan yang melampaui segala akal (Filipi 4:7).

Terkadang, ketika kita tidak mampu mengungkapkan iman kita lewat kata-kata, kita bisa melakukannya lewat tindakan. Semasa sekolah dulu ada seorang murid perempuan di kelasku yang tidak memiliki teman. Tak ada yang mau satu kelompok dengannya hingga ia merasa kesepian. Kuajak dia untuk bergabung denganku dalam satu kelompok.

Dia merasa heran dengan tindakanku dan bertanya, “Kok kamu mau berteman denganku?” Lalu aku menjawabnya, “Setiap kita diciptakan spesial sama Tuhan. Kalau kamu diciptakan spesial sama Tuhan, kenapa aku harus menjauhi kamu cuma karena hal-hal sepele?”

Aku tidak tahu apakah itu karena tindakan atau ucapanku, tapi sejak saat itu, dia bergabung dengan sebuah persekutuan dan imannya bertumbuh.

Iman kita adalah iman yang istimewa. Itu tidak hanya berbicara soal diri kita sendiri, atau bangunan gereja. Kekristenan adalah tentang Tuhan yang kudus dan peduli akan pendosa.

Menjadi orang Kristen adalah suatu anugerah yang bisa aku syukuri. Sekarang aku mengerti mengapa murid-murid Yesus tidak lagi khawatir ketika orang-orang melabeli mereka sebagai “Kristen”. Aku tak lagi takut untuk membagikan cerita imanku. Daripada aku menyimpan cerita berharga itu hanya untuk diriku, aku mau membagikan cerita tentang Yesus kepada orang lain.

Sekalipun orang-orang mungkin mengejek atau menekan kita karena iman, seperti pengalamanku pada kelas IV SD dulu, aku berdoa supaya kata-kata Yesus ini akan menguatkan kita di tengah penderitaan: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:10-12).

Baca Juga:

3 Manfaat Melakukan Disiplin Rohani

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata “disiplin”? Dulu kata “disiplin” membuatku membayangkan sesuatu yang menyeramkan, bisa jadi itu suatu hukuman, sesuatu yang membatasi, dan tidak keren. Tapi, semuanya berubah ketika aku mulai berkomitmen untuk melakukan disiplin rohani dengan cara bersaat teduh pribadi, membaca firman Tuhan secara teratur, dan mulai berpuasa. Disiplin rohani yang kulakukan itu memberiku tiga manfaat.