Posts

Menatap Cakrawala

Selasa, 29 Mei 2018

Menatap Cakrawala

Baca: Ibrani 11:8-16

11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.

11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Kita mencari kota yang akan datang. —Ibrani 13:14

Menatap Cakrawala

Segera setelah feri mulai bergerak, putri kecil saya mengatakan bahwa ia merasa kurang enak badan. Ia mulai merasa mabuk laut. Tak lama kemudian, saya juga merasa mual. “Tatap cakrawala,” saya mencoba mengingatkan diri sendiri. Para pelaut mengatakan bahwa menatap cakrawala akan menolong sudut pandang kita untuk benar kembali.

Sang Pencipta cakrawala (Ayb. 26:10) tahu bahwa adakalanya dalam hidup ini, kita merasa takut dan gelisah. Sudut pandang kita dapat dibenarkan kembali ketika kita memusatkan perhatian pada satu titik yang tetap dari tujuan kita yang kekal di ujung jalan.

Penulis kitab Ibrani memahami hal itu. Ia dapat merasakan kegelisahan dan keputusasaan para pembacanya. Penganiayaan telah membuat banyak orang meninggalkan rumah mereka. Jadi ia mengingatkan mereka bahwa orang-orang beriman lainnya juga pernah mengalami pencobaan yang lebih berat dan kehilangan tempat tinggal. Mereka dapat bertahan di tengah-tengah semua penderitaan itu karena mereka menantikan sesuatu yang lebih baik.

Sebagai kaum yang terbuang, para pembaca kitab itu dapat menantikan sebuah kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah, yakni tanah air surgawi yang telah disiapkan Allah bagi mereka (Ibr. 11:10,14,16). Jadi dalam nasihat terakhirnya, penulis mendorong para pembacanya untuk berfokus pada janji-janji Allah. “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (13:14).

Masalah-masalah yang kita hadapi saat ini hanyalah sementara. Kita adalah “orang asing dan pendatang di bumi ini” (11:13), tetapi dengan menatap cakrawala dari janji-janji Allah, kita menerima pedoman yang kita perlukan. —Keila Ochoa

Bapa, di tengah-tengah masalah yang kualami, tolong aku untuk berfokus pada janji-janji-Mu.

Berfokuslah kepada Allah dan sudut pandang kita akan benar kembali.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 7-9; Yohanes 11:1-29

Artikel Terkait:

5 Mitos Tentang Surga

Sampai Bertemu Lagi

Rabu, 7 Maret 2018

Sampai Bertemu Lagi

Baca: 1 Tesalonika 4:13-18

4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.

4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.

4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.

4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;

4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.

4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. —1 Tesalonika 4:13

Sampai Bertemu Lagi

Saya dan cucu saya, Allyssa, memiliki kebiasaan yang kami lakukan saat kami berpisah. Kami akan berpelukan dan berpura-pura menangis terisak-isak selama kurang lebih 20 detik. Lalu kami pun memisahkan diri sambil berkata dengan santai, “Sampai jumpa!” Terlepas dari kebiasaan konyol itu, kami berharap bahwa kami akan segera bertemu kembali.

Namun, terkadang kepedihan yang dialami karena berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi dapat terasa menyesakkan. Ketika Rasul Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada para tua-tua dari Efesus, “Menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus. . . . Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena [Paulus] katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi” (Kis. 20:37-38).

Akan tetapi, duka terdalam yang kita rasakan adalah saat kita dipisahkan oleh kematian dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dalam kehidupan ini. Perpisahan seperti itu rasanya tak terbayangkan. Kita berduka. Kita meratap. Bagaimana hati kita tidak hancur karena tidak lagi dapat memeluk orang yang kita cintai?

Meski demikian . . . janganlah kita berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Paulus menulis tentang pertemuan kembali di masa mendatang bagi mereka yang percaya “bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit” (1Tes. 4:13-18). Ia menyatakan, “Pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga,” dan mereka yang telah meninggal dunia, bersama mereka yang masih hidup, akan dipersatukan dengan Tuhan kita. Pertemuan kembali yang sangat indah!

Yang terbaik dari semuanya: kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan Yesus. Itulah pengharapan yang abadi. —Cindy Hess Kasper

Tuhan, terima kasih untuk jaminan bahwa dunia ini bukanlah segala-galanya, melainkan ada kekekalan terindah yang menanti semua yang percaya kepada-Mu.

Saat meninggal dunia, umat Allah tidak berkata, “Selamat tinggal,” tetapi “Sampai jumpa lagi.”

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 3-4; Markus 10:32-52

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Priska Sitepu

Rumah Masa Depan

Rabu, 14 Februari 2018

Rumah Masa Depan

Baca: Yohanes 14:1-14

14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

14:5 Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

14:8 Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.”

14:9 Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.

14:11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.

14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;

14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. . . . Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. —Yohanes 14:2

Rumah Masa Depan

Baru-baru ini seorang kawan menyiapkan diri untuk pindah ke kota yang berjarak lebih dari 1.600 km dari kota tempat tinggalnya sekarang. Ia dan suaminya berbagi tugas untuk menyesuaikan dengan tenggat yang singkat. Suaminya mengatur tempat tinggal yang baru, sedangkan ia mengepak barang-barang milik mereka. Saya terheran-heran dengan kemampuannya yang bisa pindah ke tempat baru tanpa pernah meninjau lokasinya atau ikut berburu rumah. Saya pun bertanya kepadanya bagaimana ia bisa melakukan itu. Ia mengakui itu memang sulit, tetapi ia juga mengatakan bahwa ia bisa mempercayai suaminya. Suaminya mengetahui keinginan dan kebutuhan istrinya karena telah cukup lama menjalani hidup bersama.

Di ruang atas tempat perjamuan terakhir, Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang pengkhianatan dan kematian yang akan dialami-Nya. Saat-saat terkelam dalam kehidupan Yesus di bumi, dan juga dalam kehidupan para murid, akan segera datang. Yesus menghibur mereka dengan kepastian bahwa Dia akan menyiapkan tempat bagi mereka di surga, mirip seperti suami kawan saya yang menyiapkan rumah baru bagi keluarga mereka. Ketika para murid mempertanyakan maksud Yesus, Dia mengajak mereka melihat pengalaman mereka bersama dan segala mukjizat-Nya yang telah mereka saksikan. Meski mereka akan berduka atas kematian dan ketidakhadiran Yesus, Dia mengingatkan mereka bahwa Dia layak dipercaya untuk menepati janji-Nya.

Di masa-masa terkelam sekalipun, kita dapat mempercayai-Nya untuk membawa kita ke tempat yang baik. Saat berjalan bersama-Nya, kita juga belajar untuk semakin mempercayai kesetiaan-Nya. —Kirsten Holmberg

Tuhan, tolong kami untuk bersandar kepada-Mu di saat hidup kami penuh dengan ketidakpastian dan kesulitan. Engkau sungguh baik dan layak dipercaya.

Kita dapat mempercayai Allah untuk memandu kita melalui masa-masa yang sulit.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 15-16; Matius 27:1-26

Pertemanan yang Unik

Jumat, 9 Februari 2018

Pertemanan yang Unik

Baca: Yesaya 11:1-10

11:1 Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.

11:2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN;

11:3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

11:4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik.

11:5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

11:6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

11:7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.

11:8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

11:9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.

11:10 Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama. —Yesaya 11:6

Pertemanan yang Unik

Teman-teman saya di Facebook sering mengunggah video pertemanan antarbinatang yang unik dan menarik. Baru-baru ini saya menonton video tentang anak anjing dan babi yang tak terpisahkan, pertemanan antara rusa dan kucing, serta tentang orang utan yang menjadi induk beberapa anak harimau.

Saat menonton pertemanan yang manis tetapi tidak lazim itu, saya teringat pada Taman Eden. Dalam lingkungan tersebut, hubungan Adam dan Hawa bersama Allah dan di antara mereka berdua terjalin harmonis. Karena Allah memberi mereka tumbuhan untuk dimakan, saya membayangkan bahwa binatang pun hidup bersama dalam damai (Kej. 1:30). Namun, lingkungan yang harmonis itu terganggu saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa (3:21-23). Sekarang, baik dalam hubungan antarmanusia maupun antarciptaan, kita melihat pergumulan dan konflik di mana-mana.

Namun, Nabi Yesaya meyakinkan kita bahwa suatu hari nanti, “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama” (yes. 11: 6). Banyak yang menafsirkan bahwa hal itu akan terjadi suatu hari kelak ketika Yesus datang kembali untuk memerintah. Saat Dia datang kembali, tidak akan ada lagi perpecahan dan “maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi . . . dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why. 21:4). Di bumi yang diperbarui itu, keharmonisan ciptaan akan dipulihkan seperti semula dan orang-orang dari setiap suku, bangsa, dan bahasa akan bersama menyembah Allah (7:9-10; 22:1-5).

Sebelum itu tiba, selama kita masih di dunia, Allah dapat menolong kita memulihkan hubungan yang retak dan menjalin pertemanan baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. —Alyson Kieda

Bapa, tolong kami untuk meruntuhkan penghalang dan berusaha berteman dengan orang lain; dan saat melakukannya, mampukan kami menjadi saksi Injil-Mu.

Kelak Allah akan memulihkan damai yang sempurna di dalam dunia.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 6-7; Matius 25:1-30

Akhir yang Baik

Kamis, 9 November 2017

Akhir yang Baik

Baca: Wahyu 22:1-5

22:1 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,

22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.

22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya. —Wahyu 22:3-4

Akhir yang Baik

Ketika lampu dipadamkan dan kami siap-siap menyaksikan film Apollo 13, teman saya tiba-tiba bergumam, “Sayang sekali mereka semua mati.” Saya pun menonton film tentang penerbangan ke luar angkasa di tahun 1970 itu dengan berdebar-debar, sambil menanti terjadinya tragedi. Ketika film sudah tamat dan daftar nama pemain mulai tertampil di layar, saya baru sadar telah dibohongi teman saya. Saya memang tidak tahu atau tidak ingat tentang akhir dari kisah nyata para astronaut itu. Meski menghadapi banyak kesulitan, mereka dapat pulang ke bumi dengan selamat.

Dalam Kristus, kita mengetahui akhir dari kisah kita—kita juga akan pulang ke rumah kita yang sejati dengan selamat. Artinya, kita akan hidup selamanya bersama Allah Bapa kita di surga, seperti yang kita baca dalam kitab Wahyu. Tuhan akan menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru” karena Dia menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:1,5). Di kota yang baru itu, Tuhan Allah akan menyambut umat-Nya untuk hidup bersama-Nya. Di sana, kita akan hidup tanpa ketakutan dan tanpa kekelaman. Kita memiliki pengharapan karena kita mengetahui akhir dari kisah kita.

Mengetahui akhir kisah dapat mengubah cara pandang kita terhadap masa-masa yang dirasakan begitu sulit untuk dijalani, misalnya ketika seseorang menghadapi kepergian orang yang dikasihinya atau bahkan kematiannya sendiri. Walaupun kita ngeri membayangkan kematian, kita tetap dapat merasakan sukacita dari janji kekekalan yang akan dijelang. Kita merindukan sebuah kota di mana tidak akan ada lagi kutukan—di sanalah kita akan menjalani hidup selamanya dalam terang Allah (Why. 22:5). —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, berilah kepadaku pengharapan yang tak terpadamkan, agar aku terus memegang janji-Mu dan masuk dalam hidup kekal bersama-Mu.

Allah menjanjikan umat-Nya akan mengalami akhir kisah yang baik.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 46-47; Ibrani 6

Sukacita dan Keadilan

Minggu, 5 November 2017

Sukacita dan Keadilan

Baca: Mazmur 67

67:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur. Nyanyian.

67:2 Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, Sela

67:3 supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

67:4 Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.

67:5 Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Sela

67:6 Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.

67:7 Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.

67:8 Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!

Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. —Mazmur 67:5

Sukacita dan Keadilan

Pada suatu pelayanan di Asia, saya terlibat dalam dua percakapan yang sungguh membuka wawasan saya dalam rentang beberapa jam. Pertama, seorang pendeta menuturkan bagaimana selama sebelas tahun ia dipenjara, sebelum akhirnya dibebaskan, karena kasus pembunuhan yang tidak dilakukannya. Lalu, sekelompok keluarga menceritakan bagaimana mereka telah menghabiskan banyak uang untuk meloloskan diri dari penganiayaan di tanah air mereka. Namun, mereka justru dikhianati oleh orang yang mereka andalkan. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun tinggal di pengungsian, mereka pun bertanya-tanya kapan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang tetap.

Dalam kedua kasus itu, keadaan pihak yang menjadi korban diperparah dengan tiadanya keadilan. Itulah salah satu bukti dari kebobrokan dunia ini. Namun, tiadanya keadilan bukanlah kondisi yang akan berlangsung selamanya.

Mazmur 67 menyerukan kepada umat Allah untuk memperkenalkan Allah pada dunia kita yang menderita. Usaha mereka akan membuahkan sukacita, yang tidak hanya muncul sebagai respons terhadap kasih Allah tetapi juga karena keadilan-Nya. “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi” (ay.5).

Meskipun para penulis Alkitab memahami bahwa keadilan merupakan unsur kunci dari kasih Allah, mereka juga menyadari bahwa hal itu baru akan terwujud sempurna di masa mendatang. Sebelum masa itu tiba, di dunia yang marak dengan ketidakadilan ini, kita dapat menuntun orang lain untuk berharap pada keadilan Allah yang kudus. Kelak dalam kedatangan-Nya, Allah akan mewujudkan “keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir!” (Am. 5:24). —Bill Crowder

Allah Bapa, tolonglah kami untuk mengusahakan keadilan-Mu di mana pun kami berada, sembari menanti harinya kelak Engkau memulihkan segala sesuatu.

Usahakanlah keadilan dan mohonkanlah belas kasihan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 34-36; Ibrani 2

Keindahan yang Tiada Bandingnya

Jumat, 20 Oktober 2017

Keindahan yang Tiada Bandingnya

Baca: Mazmur 27:1-4

http://www.warungsatekamu.org/wp-admin/plugins.php
27:1 Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?

27:2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

27:3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. —Mazmur 63:4

Keindahan yang Tiada Bandingnya

Saya suka memandangi Grand Canyon. Setiap kali berdiri di tepi ngarai itu, saya selalu menemukan goresan-goresan baru buatan Allah yang membuat saya terpesona.

Meskipun itu hanyalah sebuah “lubang” (yang sangat besar) di tanah, Grand Canyon menggugah saya untuk merenungkan tentang surga. Pernah ada anak berusia 12 tahun yang dengan polos bertanya kepada saya, “Bukankah surga itu akan membosankan? Kalau di sana kita akan memuji Allah setiap saat, bukankah itu sangat melelahkan?” Namun, jika “lubang di tanah“ saja bisa memancarkan keindahan yang begitu mengagumkan dan membuat kita tidak pernah bosan memandanginya, bayangkanlah sukacita seperti apa yang kita rasakan nanti ketika kita memandang Sumber sejati dari segala keindahan yang ada—Allah Pencipta kita yang penuh kasih—di dalam segala keajaiban yang murni dari ciptaan yang baru.

Daud mengungkapkan kerinduan tersebut ketika ia menulis, “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya” (Mzm. 27:4). Tak ada yang lebih indah daripada hadirat Allah, yang menjumpai kita di bumi ini sewaktu kita mencari-Nya dengan iman sambil menantikan waktunya kelak kita bertemu muka dengan-Nya.

Pada hari itu, pastilah kita tidak akan pernah lelah memuji Allah kita yang menakjubkan, karena kita tidak akan pernah berhenti menemukan hal-hal baru dari kebaikan-Nya yang sempurna dan karya tangan-Nya yang ajaib. Setiap saat berada dalam hadirat Allah akan membuat kita terkesima oleh keindahan dan kasih-Nya yang tiada bandingnya. —James Banks

Juruselamat yang terindah, tolonglah aku untuk mencari wajah-Mu setiap hari dan untuk menjalani hidupku sekarang dalam hadirat-Mu dan kasih-Mu.

Kita diciptakan untuk menikmati Allah selamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 59-61; 2 Tesalonika 3

Hidup dalam Kemah

Minggu, 24 September 2017

Hidup dalam Kemah

Baca: Kejadian 12:4-9

12:4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

12:5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.

12:6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

12:7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.

12:8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.

12:9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur. —Kejadian 12:8

Hidup dalam Kemah

Karena bertumbuh besar di Minnesota yang dikenal dengan danau-danaunya yang indah, saya senang pergi berkemah untuk menikmati keindahan alam ciptaan Allah. Namun, jujur saja, tidur di kemah yang tipis dan rapuh bukanlah bagian favorit dari pengalaman itu—apalagi saat hujan di malam hari dan kemah yang bocor membuat kantong tidur pun menjadi basah.

Saya dibuat kagum saat mengingat salah seorang pahlawan iman kita pernah hidup ratusan tahun di dalam kemah. Ketika berusia 75 tahun, Abraham menerima panggilan Allah untuk meninggalkan negerinya agar Dia dapat menjadikannya sebagai bangsa yang baru (Kej. 12:1-2). Abraham taat dan percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Dan di sepanjang hidupnya, sampai ia meninggal dunia pada usia 175 tahun (KEJ. 25:7), ia hidup jauh dari negeri asalnya dan tinggal dalam kemah.

Kita mungkin tidak menerima panggilan yang sama seperti Abraham untuk hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Namun, meski kita mengasihi dan melayani dunia ini dan penduduknya, kita mungkin merindukan suatu kediaman yang melebihi tempat tinggal kita di bumi. Ketika keadaan hidup kita didera oleh berbagai badai pergumulan, seperti Abraham kita dapat menantikan dengan iman sebuah kota yang akan datang, yang “direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr. 11:10). Dan seperti Abraham, kita dapat tetap berpengharapan bahwa Allah sedang bekerja untuk memperbarui ciptaan-Nya, mempersiapkan “tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi” yang akan datang (ay.16). —Amy Boucher Pye

Tuhan Allah, Engkaulah perlindungan dan dasar kami yang teguh. Kiranya kami percaya kepada-Mu dalam hal-hal besar maupun kecil.

Allah memberi kita dasar yang teguh bagi hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4-5 dan Galatia 3

Melangkah Menuju Kekuatan Baru

Senin, 4 September 2017

Melangkah Menuju Kekuatan Baru

Baca: 1 Tawarikh 16:11-18, 28-36

16:11 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!

16:12 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,

16:13 hai anak cucu Israel, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!

16:14 Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.

16:15 Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan,

16:16 yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak,

16:17 diadakan-Nya bagi Yakub menjadi ketetapan, bagi Israel menjadi perjanjian kekal,

16:18 firman-Nya: “Kepadamu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu.”

16:28 Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!

16:29 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.

16:30 Gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang.

16:31 Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: “TUHAN itu Raja!”

16:32 Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya,

16:33 maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi.

16:34 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

16:35 Dan katakanlah: “Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu.”

16:36 Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: “Amin! Pujilah TUHAN!”

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. —Kolose 4:2

Melangkah Menuju Kekuatan Baru

“Akankah kita melihat ular?”

Allan, seorang remaja di lingkungan kami, mengajukan pertanyaan itu saat kami memulai perjalanan menyusuri sungai di dekat rumah kami.

“Kami belum pernah melihat ular,” jawab saya, “tetapi mungkin saja kita akan melihatnya! Jadi, mari kita meminta Allah untuk menjaga keselamatan kita di jalan.” Kami berhenti sejenak, berdoa bersama, lalu melanjutkan perjalanan.

Beberapa menit kemudian istri saya, Cari, tiba-tiba meloncat mundur karena ia nyaris menginjak seekor ular berbisa yang sebagian badannya melingkar di jalan. Kami menunggu hingga ular itu pergi, sambil menjaga jarak untuk menghindari konsekuensi yang tidak kami inginkan. Lalu kami berdiam sejenak dan bersyukur kepada Allah karena tidak ada hal serius yang terjadi. Saya percaya bahwa melalui pertanyaan Allan, Allah telah mempersiapkan kami untuk menghadapi bahaya itu, dan doa kami merupakan bagian dari pemeliharaan-Nya.

Pengalaman menyerempet bahaya sore itu mengingatkan saya pada pentingnya kata-kata Daud: “Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (1Taw. 16:11). Nasihat itu merupakan bagian dari mazmur yang merayakan kembalinya tabut perjanjian ke Yerusalem. Mazmur itu menceritakan kesetiaan Allah kepada umat-Nya dalam pergumulan mereka sepanjang sejarah, dan mengingatkan mereka untuk selalu memuji Allah dan berseru kepada-Nya (ay.35).

Apa artinya “carilah wajah [Allah]”? Itu berarti kita mengarahkan hati kita kepada-Nya, bahkan dalam keseharian kita yang terkadang biasa-biasa saja. Adakalanya jawaban dari doa kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tetapi apa pun yang terjadi Allah tetap setia. Gembala Agung kita yang baik akan mengarahkan jalan kita dan menjaga kita dengan rahmat, kekuatan, dan kasih-Nya. Kiranya kita sungguh-sungguh bergantung penuh kepada-Nya. —James Banks

Doa memberikan kekuatan untuk terus berjalan dan tidak menjadi lemah. —Oswald Chambers

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 143-145 dan 1 Korintus 14:21-40