Posts

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Tawar Hati

Oleh Alvin Nursalim

Menjalani kehidupan pasti akan menghadapi penderitaan. Dalam profesiku sebagai dokter, rasa sakit, tangis, dan kesedihan adalah kawan yang menjadi keseharianku.

Pastinya teman-teman setuju bahwa rumah sakit bukanlah tempat berlibur. Di sini setiap pasien datang berobat dan berharap sembuh. Aku ingat ketika aku masih menempuh studi kedokteran dulu, biasanya aku akan sampai di rumah sakit sekitar jam 05:30 pagi. Aku dan rekan-rekan tim medis lainnya datang lebih pagi karena jumlah pasien yang menjadi tanggung jawab residen (dokter yang sedang mengambil program pendidikan spesialis) memang cukup banyak jumlahnya.

Para pasien bahkan datang lebih subuh dari kami. Mereka datang lebih awal untuk mengambil nomor pendaftaran. Rumah sakit tempat kami melayani adalah rumah sakit rujukan. Alhasil, pasien datang dari berbagai daerah dan pelosok negeri. Ada pasien-pasien yang masih anak kecil, masih tertidur di kursi roda mereka dan turut mengantre sedari subuh. Pecah tangis seringkali memenuhi ruangan karena kesakitan yang dialami oleh mereka.

Keadaan tersebut tidak berubah. Rumah sakit tetap penuh, malah mungkin lebih penuh karena pandemi Covid-19. Aku terpanggil untuk melayani pasien-pasien yang terinfeksi virus ini. Dewasa, anak kecil, wanita hamil, semua tidak luput dari virus. Rasa khawatir dan tangis dari pihak keluarga tidak asing bagi telingaku.

Menyaksikan penderitaan yang begitu nyata setiap hari seringkali membuatku termenung. Aku bertanya, “Bapa, mengapa ada penderitaan di dunia ini? Mengapa ada kemiskinan yang membuat banyak orang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan hariannya? Mengapa ada penyakit yang memberikan rasa sakit pada banyak orang?”

Pernahkah teman-teman juga bertanya-tanya seperti itu? Mencari tahu mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia di mana semua orang seang, berkecukupan, dan tiada penderitaan?

Apakah Tuhan memahami penderitaan manusia?

Pertanyaan itu membawaku untuk menggali lebih dalam tentang penderitaan manusia. Ketika mengalami penderitaan, kita sebagai manusia sering bertanya apakah Tuhan memahami penderitaan kita. Tetapi, kita lupa bahwa diri-Nyalah sejatinya yang paling memahami penderitaan.

Yesus mengakhiri pelayanan-Nya di bumi dengan dihina, dihukum, dan dipaku di kayu salib. Dia mengalami tak cuma penderitaan fisik, juga penderitaan mental di tangan tentara Romawi dan orang-orang yang mencaci-Nya. Dia ditinggalkan oleh teman-teman terdekat-Nya di saat Dia paling membutuhkannya. Penderitaan Yesus telah ternubuatkan dalam tulisan Yesaya, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).

Jika kita bergumul dan berdoa pada-Nya, kita sejatinya sedang menyampaikan pergumulan manusia kepada Tuhan yang sangat dekat dan memahami penderitaan. Dia bukan Tuhan yang jauh dan tidak dapat berempati atas penderitaan manusia. Kita datang kepada Tuhan yang benar-benar tahu dan peduli, Dia adalah Tuhan yang juga merasakan bagaimana berada di titik nadir.

Selanjutnya, Yesaya 53:4 menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

Penderitaan Yesus melampaui apa yang dapat kita bayangkan. Di kayu salib, semua kejahatan dunia diarahkan pada satu Sosok yang bersih dan murni, yaitu Sang Anak Allah. Yesus melakukannya agar kita beroleh kehidupan, sehingga kejahatan tidak membinasakan manusia.

Mengapa Tuhan dengan segala kuasa-Nya tidak menghilangkan saja penderitaan?

Pertanyaan tersebut memiliki jawaban: suatu hari kejahatan akan disingkirkan selama-lamanya. Suatu hari tidak akan ada lagi dukacita atau rasa sakit. Tuhan akan menghapus setiap air mata (Wahyu 21:4). Tetapi, hari tersebut belumlah tiba.

Jika kita merenungkan posisi kita: siapakah kita manusia berdosa sehingga kita bertanya dan menghakimi Tuhan? Kita adalah ciptaan-Nya dan diciptakan untuk memuliakan-Nya. Justru, seharusnya kita bertanya, apakah hak kita sebagai manusia berdosa untuk menuntut kepada Tuhan yang sudah menebus dosa kita? Namun, terlepas dari segala dosa kita, Tuhan selalu menawarkan diri-Nya sendiri. Dia tidak cuma memberi kita berkat atau janji, tetapi Dia memberi diri-Nya sendiri. Dia merindukan kita datang kepada-Nya, berbicara dengan-Nya, dan membawa penderitaan kita kepada-Nya. Dalam penderitaan kita, Dia tidak meninggalkan kita sendirian. Jika kita berpaling kepada-Nya, ada kekuatan yang tidak pernah kita duga; ada kenyamanan dan pengharapan untuk hari ini dan esok.

Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah doa yang kuterjemahkan dari kumpulan doa puritan, The Valley of Vision. Doa ini begitu indah dan berisikan permohonan manusia agar bisa terus memuji keagungan Tuhan dan berserah kepada-Nya, terlepas dari keadaan yang tampaknya tidak sesuai harapan.

Tuhan, tinggi dan suci, lemah lembut dan rendah hati,

Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan
Di mana aku tinggal di kedalaman tapi melihat-Mu di ketinggian,
dikelilingi gunung dosa aku melihat kemuliaan-Mu.

Biarkan aku belajar dengan paradoks
bahwa jalan turun adalah jalan ke atas,
bahwa menjadi rendah berarti tinggi,
bahwa patah hati adalah hati yang disembuhkan,
bahwa roh yang menyesal adalah roh yang bersukacita,
bahwa jiwa yang bertobat adalah jiwa yang menang,
bahwa tidak memiliki apa-apa berarti memiliki semua,
bahwa memikul salib adalah memakai mahkota,
bahwa memberi berarti menerima,
bahwa lembah adalah tempat penglihatan.

Tuhan, di siang hari bintang bisa dilihat dari sumur terdalam,
dan semakin dalam sumur, semakin terang bintang-bintang-Mu bersinar;

Biarkan aku menemukan cahaya-Mu dalam kegelapanku,
hidup-Mu dalam kematianku,
kegembiraan-Mu dalam kesedihanku,
anugerah-Mu dalam dosaku,
kekayaan-Mu dalam kemiskinanku,
kemuliaan-Mu di lembahku.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Di Tengah Keadaan yang Tak Mudah, Pilihlah untuk Taat

Taat, mudah diucapkan sulit dipraktikkan. Apalagi jika ketaatan itu seolah membuat hidup kita malah menjadi susah. Tetapi, Alkitab memberitahu kita bahwa selalu ada berkat dalam ketaatan kita kepada-Nya.

Hidup untuk Rumah Kita yang Sejati

Hari ke-19 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 3:20–4:1

3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,

3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

4:1 Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

Beberapa bulan lalu, aku membaca surat Filipi sampai selesai beberapa kali. Ada sebuah pesan yang menarik perhatianku. Paulus berulang kali mengingatkan bahwa kita diciptakan untuk kehidupan yang lain dan jangan sampai kita terperangkap dalam cara hidup dunia ini. Pesan tersebut tampak jelas dalam nas hari ini.

Lalu, bila kita ditentukan untuk sebuah kehidupan yang lain, bagaimana kita harus menjalani hidup? Paulus memberikan gambaran menarik.

Pertama, Paulus mengingatkan bahwa karena kewarganegaraan kita berada di surga, kita harus menganut nilai hidup yang berbeda. Sebelumnya, ia telah mengatakan bahwa kita tidak dihakimi berdasarkan perbuatan manusia, melainkan hanya berdasarkan Kristus dan karya-Nya di kayu salib bagi kita (3:3-9). Karena itu, kita tak lagi terbeban oleh masa lalu, tetapi mampu meraih apa yang ada di depan—garis akhir setelah menyelesaikan pertandingan iman dengan baik, dan bersatu dengan Dia suatu hari nanti (ayat 13-14).

Selanjutnya, Paulus juga mengatakan bahwa tubuh kita saat ini akan diubahkan menjadi tubuh kebangkitan yang mulia seperti Yesus (ayat 21). Tubuh duniawi kita bisa terserang penyakit, nyeri, dan terluka. Namun, mengingat bahwa Yesus telah mengalahkan maut, kita memiliki pengharapan bahwa kelak tubuh kita akan dikuduskan dan tak lagi menanggung dampak dosa (Filipi 3:18-29). Seperti Yesus mengalahkan kejahatan dan kerusakan dunia ini, demikian pula Dia akan memusnahkan segala yang buruk dalam diri kita.

Bagaimana kita bisa yakin akan hal itu? Paulus mengatakan bahwa Kristus akan mengubah tubuh jasmani kita menjadi tubuh kemuliaan dengan kuasa yang sama yang dipakai-Nya untuk menaklukkan segala sesuatu. Hidup dengan pola pikir surgawi berarti kita tidak membiarkan diri kita dikendalikan oleh cara pandang dan hawa nafsu dunia yang bobrok dan penuh keegoisan ini (Filipi 3:19). Sebaliknya, kita dapat berdiri dengan teguh dalam Tuhan (4:1) karena tahu bahwa Dia mengaruniakan kehendak untuk hidup kudus dan berkenan kepada-Nya (2:13).

Pesan itu tentu sangat menguatkan bagi jemaat Filipi yang tahu persis seperti apa rasanya hidup di dunia yang berdosa. Bagiku, sulit sekali menjaga fokus yang benar setiap saat. Sering kali, setelah makan malam aku bekerja sampai larut. Produktivitas memang baik, tetapi hal itu telah menjadi berhala bagiku. Aku pun sadar bahwa pikiranku terarah pada “perkara duniawi” (3:19), bukannya menerapkan cara pandang surgawi dalam setiap perbuatan. Jadi, pada minggu-minggu ini, aku akan mengganti kerja malam dengan lebih banyak berdoa.

Dengan berdoa tanpa terburu-buru dan ala kadarnya di tengah kesibukan, aku merasakan suasana doa baru yang sabar, tenang, dan “produktif”! Gaya doa seperti ini memengaruhi cara hidupku. Kalau sebelumnya aku lebih banyak dikendalikan oleh pencapaian, sekarang aku belajar untuk tinggal dalam hadirat-Nya dan mengizinkan firman-Nya berbicara serta mengarahkan hidupku. Mungkin itu hanya satu langkah kecil, tetapi perlahan aku mulai hidup dengan kewargaan surga.

Bila kamu juga merasa kesulitan melepaskan diri dari cara hidup dunia dan berfokus pada rumah yang sejati, pandanglah pengharapan surgawi yang telah Yesus janjikan. Saat kita menatap Dia, Dia akan menolong kita mengarahkan pandangan dan hidup untuk rumah kita yang sejati, selangkah demi selangkah.—Ross Boone, Amerika Serikat

Handlettering oleh Tora Tobing

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Ambillah waktu untuk memeriksa kehidupanmu. Sudahkah tindakan dan perilakumu membuktikan kewargaan surgawi?

2. Kristus akan menaklukkan segala sesuatu kelak. Bagaimana hal itu menguatkanmu untuk berdiri teguh dalam Tuhan (Filipi 4:1) dan mengharapkan-Nya mengubah tindakan dan perilakumu?

3. Dalam hal apa saja kamu bisa mewujudkan pengharapan surgawi dalam kehidupan sehari-hari?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Ross Boone, Amerika Serikat | Ross Boone menolong orang-orang Kristen yang sedang bergumul melalui kata-kata dan seni. Ross telah menulis 5 buku dan menjual hasil karya seninya secara online. Temukan Ross di RawSpoon.com

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Sudah Tahu Siapa Pemenangnya

Senin, 9 September 2019

Sudah Tahu Siapa Pemenangnya

Baca: Wahyu 21:1-5

21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.

21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”

Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:4

Sudah Tahu Siapa Pemenangnya

Atasan saya adalah penggemar berat tim bola basket sebuah kampus. Tim tersebut berhasil menjadi juara nasional tahun ini, maka salah seorang rekan kerja mengirimkan pesan ucapan selamat kepadanya. Masalahnya, atasan saya belum sempat menonton tayangan pertandingan final itu! Ia pun kesal karena sudah mengetahui hasilnya. Namun, ia mengakui, ketika menonton rekaman pertandingan itu, ia tidak lagi gugup ketika skor kedua tim begitu ketat hingga akhir pertandingan. Itu karena ia sudah tahu siapa pemenangnya!

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok hari. Terkadang hidup terasa monoton dan membosankan, sementara hari lain penuh dengan kegembiraan. Di lain waktu, hidup dapat terasa melelahkan, bahkan menyakitkan, untuk jangka waktu yang lama.

Namun, meskipun kita mengalami pasang surut kehidupan yang tidak terduga, kita masih dapat merasa aman dalam damai sejahtera Allah. Itu karena, seperti penyelia saya, kita sudah mengetahui akhir ceritanya. Kita sudah tahu siapa “pemenangnya”.

Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, menyingkapkan kepada kita peristiwa spektakuler yang terjadi pada akhir zaman. Setelah kekalahan terakhir dari maut dan kejahatan (why. 20:10,14), Yohanes menggambarkan sebuah kemenangan yang indah (21:1-3) ketika Allah diam bersama umat-Nya (ay.3), menghapus “segala air mata dari mata mereka” dan “maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (ay.4).

Di tengah masa yang sulit, kita dapat berpegang pada janji ini. Kelak, tidak ada lagi kekalahan atau tangisan. Tidak ada lagi penyesalan atau sakit hati. Kita akan hidup bersama Juruselamat kita selamanya. Alangkah luar biasa perayaan itu nantinya! —Adam Holz

WAWASAN
Bila tidak berhati-hati, gambaran kita mengenai surga bisa dipengaruhi oleh pandangan yang tidak Alkitabiah, misalnya awan dan malaikat kecil bersayap memegang kecapi. Itu bukan gambaran dalam kitab Wahyu. Awan yang digambarkan Yohanes berhubungan dengan penghakiman dan kesusahan besar (10:1; 14:14-16). “Musik” bagai kecapi yang terdapat di dalam pasal 14 adalah seperti suara “desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat” (ay.2). Malaikat yang muncul pun benar-benar mengerikan (14:6-20). Namun, dalam pasal 21, terdapat salah satu perikop yang paling menguatkan. Penghiburan terbesar kita adalah bahwa “kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” (ay.3). Kita tidak tahu pasti bagaimana hal ini akan terjadi, tetapi ketika Yesus sendiri berkata, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!“ (ay.5), kita tahu itu sesuatu yang dahsyat. Dunia yang sekarang pun “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tentunya langit dan bumi yang baru pun tidak kalah baiknya. —Tim Gustafson

Bagaimana harapan akan surga menguatkanmu di saat-saat sulit? Adakah kisah yang “berakhir bahagia” yang kamu sukai? Bagaimana kisah itu mencerminkan apa yang kita baca dalam Wahyu 21?

Suatu hari nanti, Allah akan menghibur setiap hati yang sedih, menyembuhkan setiap luka, dan menghapus setiap tetes air mata.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 6-7; 2 Korintus 2

Rumah Baru Kita

Senin, 19 Agustus 2019

Rumah Baru Kita

Baca: Wahyu 22:1-5

22:1 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,

22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.

22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya. —Wahyu 22:3

Rumah Baru Kita

Sebagai imigran pertama yang tiba di Amerika Serikat melalui Pulau Ellis pada tahun 1892, pastilah Annie Moore merasakan kegembiraan luar biasa saat membayangkan rumah dan awal yang baru. Jutaan orang lain akan melewati juga gerbang yang sama sesudah dirinya. Meski masih remaja, Annie telah meninggalkan kesulitan hidup di Irlandia dan memulai hidup baru di Amerika. Dengan hanya menjinjing sebuah tas kecil, ia datang dengan impian, harapan, dan keyakinan yang begitu besar akan suatu negeri yang penuh kesempatan.

Betapa akan kagum dan takjubnya anak-anak Allah kelak ketika melihat “langit yang baru dan bumi yang baru” (why. 21:1). Kita akan memasuki apa yang disebut kitab Wahyu sebagai “kota yang kudus, Yerusalem yang baru” (ay.2). Rasul Yohanes menggambarkan tempat yang menakjubkan itu dengan gambaran yang dahsyat. Di dalamnya akan ada “sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu” (22:1). Air melambangkan hidup dan kelimpahan, dan sumbernya adalah Allah yang kekal itu sendiri. Yohanes berkata bahwa di sana “tidak akan ada lagi laknat” (ay.3). Hubungan yang murni dan indah sebagaimana yang Allah rencanakan antara diri-Nya dan manusia akan dipulihkan sepenuhnya.

Alangkah luar biasanya mengetahui bahwa Allah, yang mengasihi anak-anak-Nya dan menebus kita dengan nyawa Anak-Nya, sedang menyiapkan rumah baru yang menakjubkan—di sana Dia sendiri akan tinggal bersama kita dan menjadi Allah kita (21:3). —Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Kitab Wahyu memberikan sekilas gambaran masa depan ketika kita kelak bersama-sama Allah dalam kekekalan. Pasal 21-22 memuat daftar berbagai “kebaruan” yang akan kita alami di langit dan bumi yang baru. Dalam bacaan hari ini, ada dua pohon kehidupan—atau satu pohon yang membentang sepanjang dua sisi sungai (22:2). Jalan menuju pohon kehidupan itu lenyap ketika Adam dan Hawa diusir dari taman Eden (lihat Kejadian 3:24). Di langit yang baru, buah-buah pohon itu, yang tampaknya memang untuk dimakan, akan selalu tersedia. Pohon kehidupan ini membuktikan bahwa kehidupan dalam kerajaan-Nya takkan pernah berakhir. —J.R.Hudberg

Apa yang terbayang dalam pikiranmu ketika berpikir tentang surga? Bagaimana bagian kitab Wahyu hari ini menguatkanmu?

Bapa, bersyukur untuk kasih-Mu! Kami gembira menantikan saatnya kami tinggal dalam damai bersama-Mu dan saudara-saudari lainnya di surga.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 103-104; 1 Korintus 2

Background photo credit: Setiawan Jati

Sia-Sia Belaka

Kamis, 25 Juli 2019

Sia-Sia Belaka

Baca: Mazmur 39:1-14

39:1 Untuk pemimpin biduan. Untuk Yedutun. Mazmur Daud.39:2 Pikirku: “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku.”

39:3 Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat.

39:4 Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:

39:5 “Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!

39:6 Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela

39:7 Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.

39:8 Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.

39:9 Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal!

39:10 Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak.

39:11 Hindarkanlah aku dari pada pukulan-Mu, aku remuk karena serangan tangan-Mu.

39:12 Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat; sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela

39:13 Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.

39:14 Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!”

Kepada-Mulah aku berharap. —Mazmur 39:8

Sia-Sia Belaka

Kematian Bobby yang mendadak menyadarkan saya tentang kerasnya realitas kematian dan betapa singkatnya hidup ini. Teman masa kecil saya itu baru berumur dua puluh empat tahun ketika ia menjadi korban kecelakaan tragis di jalan yang licin berlapis es. Sebagai seseorang yang besar dalam keluarga yang kurang harmonis, saat itu Bobby sedang dalam proses menemukan kembali jati dirinya. Ia baru saja mengenal Tuhan Yesus, oleh karena itu sayang sekali hidupnya berakhir begitu cepat.

Terkadang kehidupan terasa begitu singkat dan penuh dengan kepedihan. Dalam Mazmur 39, Daud sang pemazmur meratapi penderitaannya sendiri dan berseru: “Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan!” (ay.5-6). Hidup memang singkat. Walaupun seandainya kita hidup sampai seratus tahun lamanya, masa hidup kita di dunia ini hanyalah setetes air di lautan luas.

Namun, sama seperti Daud, kita bisa berkata kepada Tuhan, “Kepada-Mulah aku berharap” (ay.8). Kita bisa meyakini bahwa hidup kita memang berarti. Meskipun tubuh lahiriah kita makin merosot, sebagai orang percaya kita bisa meyakini karena “manusia batiniah [kita] dibaharui dari sehari ke sehari”—dan kelak kita akan menikmati kekekalan di surga bersama Allah (2Kor. 4:16-5:1). Kita meyakini hal tersebut karena Allah “mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita”! (5:5). —Alyson Kieda

WAWASAN
Mazmur 38 ditutup dengan seruan minta tolong, sedangkan Mazmur 39 berakhir dengan permohonan untuk ditinggalkan sendiri. Puisi dalam kedua mazmur ini menunjukkan kebingungan Daud. Ia tidak tahu bahwa Allah bukan sedang memukul dia (39:10). Daud jujur dengan perasaannya sedemikian hingga hatinya murni di hadapan Bapa yang sedang mengajarnya untuk percaya kepada Dia dalam keadaan yang tidak dimengerti. —Mart DeHaan

Bagaimana kamu terhibur saat mengetahui bahwa Allah telah melayakkan kamu untuk hidup kekal bersama-Nya? Bagaimana kesadaran akan waktu sebagai karunia Allah telah mendorongmu untuk mengisinya dengan sebaik mungkin?

Terima kasih, Tuhan, kehidupan bukan hanya sebatas yang kujalani di dunia! Engkau mengaruniakan kekekalan bagi semua yang percaya kepada-Mu. Tolong kami mengisi hari-hari yang singkat ini dengan setia melayani-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 37-39; Kisah Para Rasul 26

Berwarna-warni Cerah

Minggu, 14 Juli 2019

Berwarna-warni Cerah

Baca: Wahyu 4:1-6

4:1 Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.

4:2 Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang.

4:3 Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya.

4:4 Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.

4:5 Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.

4:6 Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.

Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis. —Wahyu 4:3

Berwarna-warni Cerah

Ketika Xavier McCoury memakai kacamata yang dihadiahkan oleh Bibi Celena untuk hari ulang tahunnya yang kesepuluh, ia menangis tersedu-sedu. Xavier lahir buta warna, dan selama ini hanya dapat melihat dunia dalam warna abu-abu, putih, dan hitam. Dengan kacamata EnChroma yang baru, Xavier bisa melihat warna untuk pertama kalinya. Luapan kegembiraan Xavier saat melihat keindahan di sekelilingnya membuat seluruh keluarganya merasa seperti menyaksikan sebuah mukjizat.

Menyaksikan keindahan Allah yang bersinar terang dalam berbagai warna juga membangkitkan reaksi yang dahsyat dalam diri Rasul Yohanes (Why. 1:17). Setelah melihat seluruh kemuliaan Kristus yang telah bangkit, Yohanes melihat adanya “sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. . . . Dan dari takhta itu keluar kilat” (Why. 4:2-5).

Di masa yang lain, Nabi Yehezkiel menyaksikan penglihatan serupa, yakni “sesuatu yang menyerupai takhta dari batu nilam” dengan sosok di atas takhta itu “kelihatan bercahaya seperti perunggu di tengah nyala api” (Yeh. 1:26-27 bis). Sosok seperti manusia tersebut terlihat bagai api yang dikelilingi oleh sinar seperti busur pelangi (ay.28).

Suatu hari nanti kita akan berhadapan muka dengan Kristus yang telah bangkit. Penglihatan-penglihatan di atas hanyalah isyarat dari keindahan luar biasa yang menanti kita. Sambil mensyukuri keindahan ciptaan Allah dalam dunia ini, kiranya kita juga hidup dalam pengharapan akan kemuliaan yang kelak dinyatakan kepada kita. —Remi Oyedele

WAWASAN
Wahyu 4:1-6 adalah bacaan indah dengan deskripsi yang jelas tentang Kristus dan ruang takhta di surga. Yaspis, permata sardis, pelangi gemilang, jubah putih, mahkota emas, dan lautan kristal, semua itu melukiskan pemandangan yang penuh warna. Selanjutnya, penulis kitab ini menambahkan elemen-elemen suara seperti gemuruh dan guntur yang datang dari takhta, bersamaan dengan kilatan petir. Walaupun gambaran itu menggugah imajinasi, jangan sampai kita melupakan maksud dari gambaran-gambaran tersebut. Di satu sisi, ada kemegahan semarak Yesus di takhta yang dilingkupi pelangi dan lautan kaca seperti kristal. Di sisi lain, ada kuasa dan penghancuran yang diwakili oleh gemuruh dan guntur. Bersama-sama, gambaran tentang Allah adalah suatu kombinasi kekuatan dan keindahan. —J. R. Hudberg

Respons apa yang timbul saat kamu melihat keindahan ciptaan Allah? Bagaimana caramu mengungkapkan syukur kepada Allah atas anugerah-Nya yang sungguh indah?

Bapa, tiada kata yang dapat kami ungkapkan saat kami membayangkan apa yang akan kami alami saat berhadapan muka dengan-Mu. Terima kasih untuk isyarat-isyarat keindahan-Mu yang Kau tempatkan di dunia ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 10-12; Kisah Para Rasul 19:1-20

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Mekar di Padang Gurun

Kamis, 6 Juni 2019

Mekar di Padang Gurun

Baca: Yesaya 35:1-10

35:1 Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;

35:2 seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita.

35:3 Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah.

35:4 Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

35:5 Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.

35:6 Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;

35:7 tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.

35:8 Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.

35:9 Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ,

35:10 dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.

Mereka itu akan melihat kemuliaan Tuhan, semarak Allah kita. —Yesaya 35:2

Mekar di Padang Gurun

Gurun Mojave terdiri dari bukit-bukit pasir, ngarai-ngarai kering, dataran tinggi, dan pegunungan seperti gurun pada umumnya. Namun, ahli biologi asal Amerika Serikat, Edmund Jaeger, mengamati bahwa setiap beberapa tahun sekali hujan lebat akan turun dan membuat “bunga-bunga bermekaran dengan sangat berlimpah sehingga hampir setiap jengkal pasir atau tanah berbatu seakan diselimuti bunga.” Sayangnya, musim bunga liar di Gurun Mojave bukanlah fenomena tahunan. Para peneliti memastikan tanah yang gersang itu perlu dibasahi dulu oleh badai dan dihangatkan oleh matahari selama beberapa waktu, sebelum kemudian pada waktu yang tepat, bunga pun bermekaran menyelimuti gurun dengan warna-warna yang indah.

Gambaran Allah yang memunculkan kehidupan di tanah yang gersang itu mengingatkan saya pada Nabi Yesaya. Setelah menyampaikan pesan tentang penghakiman Allah atas segala bangsa, Yesaya menceritakan penglihatan akan datangnya pengharapan besar (Yes. 35). Saat menjelaskan keadaan di masa mendatang ketika Allah memulihkan segala sesuatu, sang nabi berkata, “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga” (Yes. 35:1). Ia menyatakan bahwa umat yang diselamatkan Allah akan memasuki kerajaan-Nya “dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (Yes. 35:10).

Karena masa depan kekal kita sudah dijamin oleh janji Allah, kita dapat mempercayai Dia di tengah musim kekeringan maupun saat badai kehidupan melanda. Dengan berakar dalam kasih-Nya, kita dapat bertumbuh semakin menyerupai Yesus, sampai pada saatnya, Dia akan datang kembali dan memulihkan segala sesuatu. —Xochitl Dixon

WAWASAN
Janji dalam Yesaya 35:5—orang buta dan tuli akan sembuh—diberikan untuk menolong bangsa Israel mengenali Sang Mesias ketika Dia datang. Dalam Markus 6-8, kita melihat dua rangkaian peristiwa. Dalam setiap rangkaian, ada mukjizat Yesus yang memberi makan ribuan orang, perdebatan dengan pemuka agama, dan mukjizat kesembuhan. Rangkaian pertama diakhiri dengan Yesus menyembuhkan seorang tuli dan yang kedua menyembuhkan orang buta. Jadi, tidak mengherankan jika Petrus menyatakan Yesus sebagai Sang Mesias (8:29), karena Dia telah menggenapi janji dalam Yesaya 35. —Bill Crowder

Badai kehidupan apa yang baru-baru ini kamu hadapi? Bagaimana Allah menyatakan kehadiran-Nya kepadamu? Lihatlah! Dia ada di sana.

Bapa yang Maha Pengasih, terima kasih karena Engkau menjamin akan selalu menyertai dan menumbuhkan kami lewat setiap badai hidup kami.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27; Yohanes 16

Handlettering oleh Teguh Arianto

Berkat Itu Pasti Datang

Senin, 25 Maret 2019

Berkat Itu Pasti Datang

Baca: Galatia 6:7-10

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9

Daily Quotes ODB

Suatu hari, saya berjalan-jalan dengan seorang teman wanita yang membawa serta cucu-cucunya. Sambil mendorong kereta bayi, ia berkata kalau jalan paginya kali itu sia-sia—karena alat pelacak di pergelangan tangannya tidak menghitung hanya karena ia tidak mengayunkan lengan. Saya mengingatkan bahwa kegiatan pagi itu tidak akan sia-sia karena masih berguna bagi kesehatan tubuhnya. “Memang,” ia tertawa. “Tapi aku benar-benar ingin mendapat bintang emas dari alat pelacakku!”

Saya mengerti perasaannya! Mengerjakan sesuatu tanpa langsung mendapatkan hasilnya tentu terasa mengecewakan. Namun, suatu hasil tidak selalu langsung didapat atau terlihat.

Ketika itu terjadi, sering kali kita merasa bahwa hal-hal baik yang kita lakukan, seperti menolong teman atau bersikap baik kepada orang asing, ternyata tidak berguna. Paulus menjelaskan kepada jemaat di Galatia bahwa “apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Namun, jangan sampai kita “jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai” (ay.9). Kita berbuat baik bukan untuk memperoleh keselamatan, dan Alkitab tidak memperinci apakah upah itu kita tuai sekarang atau nanti di surga, tetapi kita dapat meyakini bahwa berkat pasti akan kita tuai.

Berbuat baik itu sulit, terutama ketika kita tidak melihat atau mengetahui apa yang akan kita tuai. Namun, seperti teman saya yang tetap memperoleh manfaat fisik dari berjalan kaki bersama cucu, kita patut terus berbuat baik karena berkat itu pasti datang! —Julie Schwab

Apakah kamu kecewa? Mintalah agar Tuhan menolongmu tetap setia menunaikan panggilanmu. Hal baik apa yang bisa kamu lakukan untuk orang lain hari ini?

Upah dan berkat kita tidak selalu langsung didapat atau terlihat.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 19-21; Lukas 2:25-52

Menemukan Jati Diri

Sabtu, 9 Februari 2019

Menemukan Jati Diri

Baca: 1 Yohanes 2:28-3:3

2:28 Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.

2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. —1 Yohanes 3:2

Menemukan Jati Diri

Siapa aku? Itulah yang ditanyakan oleh sebuah boneka binatang lusuh pada dirinya sendiri dalam buku cerita anak berjudul Nothing karya Mick Inkpen. Terlupakan di sudut loteng yang berdebu, boneka itu mendengar tukang pengangkut barang menyebutnya “Nothing” (bukan siapa-siapa) sehingga ia mengira namanya adalah Nothing.

Pertemuan dengan boneka-boneka lain lalu membangkitkan ingatannya. Nothing pun menyadari bahwa ia pernah memiliki ekor, kumis, dan garis-garis di tubuhnya. Namun, setelah ia bertemu seekor kucing kelabu yang membantunya menemukan jalan pulang, Nothing akhirnya ingat siapa dirinya sebenarnya: sebuah boneka kucing bernama Toby. Sang pemilik dengan penuh kasih memperbaikinya, menjahit sepasang telinga baru, ekor, kumis, dan garis-garis di tubuhnya.

Setiap kali membaca buku itu, saya jadi memikirkan identitas diri saya sendiri. Siapa saya? Dalam suratnya kepada orang percaya, Yohanes menuliskan bahwa Allah menyebut kita sebagai anak-anak-Nya (1Yoh. 3:1). Kita tidak mengerti identitas itu sepenuhnya, tetapi saat melihat Yesus, kita akan menjadi sama seperti Dia (ay.2). Seperti halnya Toby si boneka kucing, suatu hari nanti, diri kita yang telah tercemar oleh dosa akan dipulihkan Allah sesuai dengan identitas yang dikehendaki-Nya bagi kita. Untuk saat ini, kita dapat mengerti identitas itu secara tidak sempurna, dan kita dapat melihat rupa Allah dalam diri sesama. Namun kelak, ketika berjumpa dengan Yesus, kita akan sepenuhnya dipulihkan sesuai jati diri yang Allah kehendaki bagi kita. Kita akan dijadikan-Nya baru. —Amy Peterson

Di mana saya bisa menemukan jati diri saya? Menurut Kitab Suci, bagaimana Allah memandang saya?

Ya Allah, terima kasih, Engkau telah menyelamatkan dan memulihkan kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 6-7; Matius 25:1-30

Artikel Terkait:

Kata Dunia vs Firman Tuhan