Posts

5 Ukuran Kesuksesan yang Lebih Baik

Kita semua ingin sukses, tapi bagaimana kita tahu kalau kita sungguh telah ‘sukses’?

Kamu mungkin merasa jauh dari sukses ketika ‘sukses’ itu ditentukan dari uang yang diraih, status jabatan, dan prestasi-prestasi lahiriah dalam hidup.

Tapi, kita tahu bahwa ukuran sukses kita ada pada Tuhan. Dia menyediakan alur cerita yang berbeda bagi setiap kita, yang memimpin kita kepada tujuan-Nya.

Artspace ini diterjemahkan dari @ymi_today

Sulit Membuat Keputusan? Libatkanlah Tuhan dalam Hidupmu

Oleh Airell Ivana, Bandung

Kelas 3 SMA—momen di mana keputusan tentang masa depan harus dibuat.

Aku bingung. Di jenjang ini, semua siswa harus menentukan, antara melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. Aku ingin berkuliah. Namun, saat itu aku belum memiliki bayangan sama sekali tentang dunia perkuliahan, dan jurusan-jurusan apa saja yang bisa kutempuh hingga masing-masing prospek karirnya.

Orang tuaku menginginkanku untuk langsung bekerja saja karena alasan finansial—mereka tidak sanggup membiayaiku untuk berkuliah. Orang tuaku juga memintaku memeriksa motivasiku untuk berkuliah, apakah karena aku benar-benar ingin belajar atau hanya karena gengsi semata karena mayoritas teman-temanku melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Aku menuruti saran orang tuaku, aku pun berpikir ulang. Tapi, aku merasa dilema. Di satu sisi aku belum siap memasuki dunia kerja. Di sisi lain, aku takut untuk kuliah. Aku takut jika kuliahku nantinya menjadi zona nyamanku, karena aku hanya perlu belajar dan tidak perlu menghadapi tekanan-tekanan dalam dunia pekerjaan.

Di tengah-tengah kebimbangan, aku berdoa dan berserah kepada Tuhan. Aku membutuhkan hikmat Tuhan untuk menentukan pilihan yang tepat. Ia menjawab doaku lewat pameran pendidikan yang diadakan di sekolahku.

Salah satu universitas menarik perhatianku karena menawarkan jurusan yang kuminati, yaitu Teknik. Lebih menariknya lagi, universitas tersebut memiliki program 3 tahun untuk Strata 1—satu tahun lebih cepat dari S1 pada umumnya. “Kalau hanya 3 tahun, mungkin biayanya tidak akan terlalu membebani orang tua,” pikirku.

Aku kembali membawa pergumulanku dalam doa. Apakah ini benar-benar jawaban yang Tuhan tunjukkan padaku? Jika Tuhan memang mengizinkan, aku percaya Tuhan akan membukakan jalan bagiku.

Setelah aku berdiskusi dengan orang tuaku, puji Tuhan mereka mengizinkanku berkuliah di tempat yang kuinginkan. Mereka juga akan berusaha mencari penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahku.

Dunia perkuliahan dimulai. Berbagai tantangan kuhadapi, salah satunya adalah mengatur waktu antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan melakukan tanggung jawabku sebagai ketua himpunan mahasiswa. Sempat terpikir untuk mundur dari jabatanku, tetapi aku bersyukur Tuhan memberiku kekuatan untuk menjalaninya sampai akhir.

Meskipun kuliah dengan jurusan pilihanku, aku ingin cepat-cepat lulus dan segera bekerja penuh waktu karena keterbatasan uang jajan yang diberikan oleh orang tuaku. Uang yang diberikan hanya cukup untuk makan dan membeli keperluan kuliah. Aku memperoleh uang tambahan dengan mengajar les privat dan menjadi asisten dosen. Kondisi finansial yang cukup menantang membuatku sempat sedikit menyesali keputusanku untuk tidak langsung bekerja. Namun, aku percaya Tuhan sendiri yang menuntunku ke jalan yang kutempuh saat itu (Ulangan 31:8). Aku berjalan dalam rencana-Nya dengan tuntunan-Nya.

Tidak pernah luput dari penyertaan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan perkuliahan dalam 3 tahun—sesuai janjiku pada orangtuaku.

Saat ini aku sudah bekerja, dan aku masih seorang yang sulit membuat keputusan. Menyadari hal itu, aku selalu melibatkan Tuhan dalam setiap prosesnya. Tuhan mengingatkan kita akan janji-Nya dalam Yesaya 41:10, “Janganlah takut, sebab aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab aku ini Allahmu; aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Ketika kita bingung akan langkah yang harus kita ambil, izinkan Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita. Ia akan mengantarkan kita pada rencana indah-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Baca Juga:

Pergumulanku untuk Belajar Menyayangi Diriku Sendiri

“Tak kenal maka tak sayang”, ungkapan yang tak lagi asing di telinga kita. Jika dicermati, rasanya memang tidak mungkin menyayangi seseorang jika kita belum mengenalnya. Mengenal adalah langkah pertama untuk dapat menyayangi.

Gagal Naik Podium Tidak Menghentikan Rencana Tuhan dalam Hidupku

Oleh Janessa Moreno, Tangerang

Aku adalah seorang atlet bulutangkis. Namaku terdaftar sebagai penerima beasiswa di salah satu klub ternama di Indonesia, pencetak para juara dunia. Namun, aku bukanlah atlet yang banyak menorehkan prestasi. Aku bisa berada di tempat ini semata-mata karena kemurahan Tuhan.

Menjadi seorang atlet membuat hidupku tidak seperti anak sekolah pada umumnya. Aku tinggal di asrama, dengan rutinitas berupa latihan bulutangkis setiap pagi dan sore. Latihan-latihan yang dijalani tentunya memiliki satu tujuan—menorehkan prestasi bagi klub dan mengharumkan nama bangsa.

Klub-klub besar menerapkan sistem promosi degradasi yang diberlakukan per enam bulan, termasuk klub tempatku dilatih. Jika tidak berhasil menampilkan performa terbaik dan meraih prestasi, maka anggota tersebut harus dikeluarkan dari pusat pelatihan impian ini. Oleh karena itu, aku selalu melakukan latihan tambahan setiap subuh ketika yang lain masih tertidur dan pulang lebih akhir dibandingkan yang lain demi meraih juara dan bertahan di klub ini. Aku percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati akhir. Hari demi hari kulalui dengan kekuatan dari Tuhan, yang kuperoleh melalui doa dan firman-Nya dalam renungan yang kubaca.

Namun, usaha kerasku tidak membuahkan hasil sesuai harapanku.

Tahun 2017 menjadi tahun yang berat, ketika aku tidak berhasil menyumbangkan prestasi apapun. Aku selalu terhenti di babak perempat final sehingga tidak berkesempatan untuk naik podium juara sama sekali. Padahal, aku merasa sudah memberikan yang terbaik.

Tidak hanya kecewa pada diri sendiri, aku juga kecewa pada Tuhan. Aku bingung dan bertanya-tanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa teman-temanku yang lain dapat dengan mudahnya mendapatkan apa yang kuusahakan dengan mati-matian, sedangkan aku tidak?”

Hari pengumuman pun tiba. Ternyata, namaku masih tercantum dalam daftar anggota klub bulutangkis ini. Tidak berhenti sampai di situ, 6 bulan demi 6 bulan selanjutnya, aku masih bertahan sebagai anggota. Bahkan, Tuhan memberiku kejutan-kejutan seperti ketika aku mengalahkan sejumlah pemain terbaik, meskipun tidak berhasil meraih juara. Aku terheran-heran, apa yang membuatku masih bisa memenuhi syarat ketika aku tidak bisa menunjukkan prestasi yang diharapkan?

Suatu malam, aku bertanya kepada Tuhan di dalam doa: “Tuhan, apa yang Tuhan lihat dalam diriku sehingga Engkau terus memilihku sebagai atlet meskipun aku bukan atlet yang berprestasi?”

Dalam perenunganku, tiba-tiba ada suara dalam hatiku yang berkata, “Semangatmulah yang membuat semuanya tidak berhenti. Belas kasih-Ku turun di saat air matamu jatuh, ketika kamu merasa tidak dihargai. Percayalah, Nak, aku ada di saat kamu melakukan pekerjaan yang tidak dilihat orang lain. Aku yang menggandengmu setiap pagi, Aku yang mengangkatmu di saat jatuh. Rencana-Ku belum selesai di dalam kamu.”

Saat itu pula aku menangis. Ternyata, selama ini ada satu Pribadi memerhatikanku. Kedamaian melingkupi hatiku ketika menyadari bahwa Tuhan selalu menopangku.

Aku merasakan penyertaan Tuhan yang begitu nyata dalam perjalananku selama menjadi atlet bulutangkis. Jika hanya mengandalkan kekuatanku sendiri, aku rasa aku tidak akan sanggup bertahan setelah berkali-kali mengalami kegagalan dan kesakitan. Ketika aku hampir menyerah, Tuhan selalu membangkitkan semangatku kembali.

Memasuki tahun 2019, aku memiliki target untuk masuk ke Pelatihan Nasional Indonesia. Aku menyerahkan semua rencanaku pada Tuhan. Apapun yang akan terjadi, aku percaya bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik (Yeremia 29:11). Aku percaya bahwa proses yang kujalani dalam pelatihan ini adalah cara Tuhan mengajarkanku tentang kegigihan, serta mempersiapkanku untuk menjadi kesaksian hidup dan memberi seluruh kemuliaan untuk Tuhan ketika aku berhasil meraih juara.

Mungkin di antara kamu ada yang merasa tidak berharga, tidak hebat, atau putus asa karena apa yang kamu usahakan belum berhasil dicapai. Tetapi bertahanlah, Tuhan mendengar setiap seruan doamu dan melihat air matamu karena Ia dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:18). Dia akan membuat segalanya indah pada waktu-Nya, dan tidak ada satu hal pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya (Pengkhotbah 3:11). Bagian kita adalah hidup dengan penuh semangat, dan melakukan semua hal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Belajar dari Daud: Bukan Kekuatan Kita Sendiri yang Mampu Mengubah Kita

Aku berjuang keras untuk berubah, aku merenung dan menyusun langkah-langkah praktis untuk kulakukan. Tapi, tetap saja tiap kali ada distraksi muncul, aku gagal kembali. Kurasa semua yang kulakukan tidak banyak membuatku berubah. Hingga suatu ketika, aku pun ditegur melalui respons Daud.

Belajar dari Kesuksesan Teman-Temanku

Penulis: Lily Lin, China
Artikel asli dalam Bahasa Mandarin: 每当我想起那些成功的朋友时

successful-friends

Sejak kecil aku merasa beruntung karena memiliki teman-teman yang berotak cemerlang. Mereka terus mengukir prestasi yang bikin iri semua orang, baik saat bersekolah maupun saat mereka sudah bekerja. Banyak di antara mereka berhasil menyelesaikan kuliah dari perguruan tinggi bergengsi dan kini memegang jabatan-jabatan tinggi. Ada yang menjadi ahli komputer, dokter, pengacara, hakim, serta konsultan keuangan. Sebagian meneruskan studi dan meraih gelar doktor di universitas-universitas ternama dan kini menjalankan riset atau mengajar di universitas-universitas papan atas.

Satu hal yang aku perhatikan dari hidup teman-teman yang sukses ini adalah: setiap mereka adalah orang yang bersungguh-sungguh, rajin, disiplin, dan tekun. Mereka adalah bukti hidup dari apa yang pernah dikatakan oleh Jim Rohn, seorang penulis yang banyak memberiku inspirasi: “Kesuksesan tidak diperoleh dengan dikejar; kesuksesan akan datang ketika kamu sudah menjadi seorang pribadi yang siap menerimanya.”

Sungguh aku sangat diberkati memiliki teman-teman yang penuh talenta dalam setiap fase kehidupanku. Setiap kali aku kehilangan semangat atau tergoda untuk bermalas-malasan dalam pekerjaan dan pelayananku, teladan teman-temanku ini mendorongku untuk bangkit lagi. Mereka juga mengingatkanku kepada Rasul Paulus, seorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memberitakan Injil, dan yang memakai segala sesuatu yang ia punya untuk menyebarluaskan sabda Kristus dan membawa orang kepada Tuhan (Kolose 1:28-29).

Tentu saja kita harus menyadari bahwa setiap orang memiliki talenta yang berbeda, menempuh pendidikan yang berbeda, dan tumbuh dalam lingkungan yang juga berbeda. Ini berarti, sekalipun semua kita memberikan usaha yang sama kerasnya, sebagian orang akan meraih hasil yang lebih daripada yang lain. Jika kita hanya berfokus pada apa yang bisa kita peroleh dari sebuah kesuksesan, kita bisa menjadi pahit hati karena kita tidak memiliki talenta dan sumber daya yang sama dengan teman-teman kita. Kita bisa menjadi iri akan kesuksesan mereka. Tetapi, jika kita menyadari bahwa talenta dan sumber daya merupakan karunia yang dipercayakan kepada tiap-tiap orang, dan memahami bahwa bukan kesuksesan yang menentukan kebahagiaan kita, tentulah tanggapan kita akan sangat berbeda.

Dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25), Yesus mengatakan bahwa hal kerajaan surga itu sama seperti seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka sesuai kesanggupan tiap-tiap orang, sebelum ia bepergian ke luar negeri. Yang seorang mendapat lima talenta, yang seorang lagi dua, dan yang seorang lagi satu. Dua hamba pertama menggunakan talenta yang mereka terima sesuai kesanggupan masing-masing sehingga yang seorang mendapat hasil lima talenta, yang seorang lagi mendapat hasil dua talenta. Hamba yang ketiga tidak berbuat apa-apa dan tidak menghasilkan apa-apa. Menariknya, meski dua hamba pertama mendapatkan hasil yang berbeda, mereka mendapatkan tanggapan yang sama dari tuannya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21, 23)

Setiap hal yang kita miliki adalah pemberian Allah, dan suatu hari kelak kita harus mempertanggungjawabkan bagaimana kita menggunakan semua hal yang kita terima itu kepada-Nya. Sebab itu, kita perlu menggunakan semua sumber daya yang kita punyai dengan bijaksana dan memakai talenta kita sebaik mungkin agar orang lain diberkati dengan apa yang kita miliki dan Allah dimuliakan. Tujuan kita bukanlah untuk menunjukkan kepintaran dan kehebatan kita semata, bukan pula untuk memamerkan kesuksesan apa saja yang berhasil kita raih.

Firman Tuhan dalam Mikha 6:8 berkata, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Aku berharap dan berdoa agar setiap kita dapat meraih sukses yang dikehendaki Allah bagi kita dalam setiap fase kehidupan kita.

4 Hal yang Kupelajari dari Kesuksesan Paulus

Penulis: Radius S.K. Siburian

4-hal-yang-kupelajari-dari-paulus

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7). Beberapa kali aku membaca ayat ini dikutip dalam obituarium (berita kematian) yang dimuat di sebuah harian lokal. Sejumlah pertanyaan mengusik pikiranku. Benarkah pernyataan tersebut ingin diberikan oleh almarhum di akhir hidupnya? Benarkah ia telah mengasihi Tuhan semasa hidupnya dan bertekun dalam imannya? Ataukah, kutipan ayat itu adalah inisiatif keluarga belaka demi membuat sebuah obituarium “kristen” yang terlihat baik?

Harus diakui, pernyataan itu sangat menggugah. Siapa yang tidak ingin “mengakhiri pertandingan yang baik”? Kita menangkap kesan bahwa orang yang memberi pernyataan ini telah sukses menyelesaikan misi hidupnya. Lebih mengagumkan lagi, ia bisa dengan yakin berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya…” (2Tim. 4:8).

Ada banyak hal yang kemudian aku pelajari ketika membaca surat-surat Paulus, Rasul besar yang membuat pernyataan tersebut. Khususnya, surat terakhir yang ditulisnya kepada Timotius, anak rohaninya. Setidaknya ada empat hal yang kulihat mendasari keberhasilan hidup Paulus, dan yang ingin ia wariskan kepada generasi setelahnya.

1. Doa
Paulus sadar betul bahwa dasar pelayanannya adalah maksud dan kasih karunia Tuhan semata, dengan tujuan agar rahmat Tuhan dalam Kristus Yesus dapat dinyatakan kepada dunia (2Tim. 1:9-12). Sebab itu, ia selalu membawa setiap pekerjaannya, orang-orang yang ia layani, dan rekan-rekan pelayanannya dalam doa (1Tim. 2:1-4; 2Tim. 1:3).

Sikap Paulus ini mengingatkanku untuk juga memelihara kehidupan doaku. Dengan berdoa, kita mengakui bahwa setiap profesi atau pelayanan yang kita kerjakan untuk Tuhan sesungguhnya berasal dari Tuhan sendiri dan bisa kita lakukan karena kesanggupan yang diberikan-Nya semata. Kita tidak bisa berhasil tanpa perkenan Tuhan.

2. Teladan
Nasihat Paulus kepada Timotius untuk bertekun dalam firman Tuhan dan setia dalam pekerjaan pelayanannya bukan sekadar teori (2Tim. 1:13; 2Tim. 3:10). Paulus sendiri adalah orang yang sangat giat bekerja, giat belajar dan mengajarkan firman Tuhan. Meski banyak menghadapi kesulitan, ia tak kenal lelah memberitakan Injil. Tindakannya berpadanan dengan perkataannya.

Integritas Paulus mengingatkanku untuk mengevaluasi diri: apakah perkataan dan tindakanku sudah selaras? Ketika kita hanya bisa bicara, tetapi tidak melakukan tindakan nyata, kita tidak akan mencapai apa-apa, apalagi menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak kita.

3. Pengharapan
Paulus tidak menjadi tawar hati ketika menghadapi berbagai masalah yang menghadang. Ia tidak hanya semangat di awal, lalu kehilangan optimisme dalam proses yang sulit. Apa gerangan yang membuatnya bertahan hingga akhir? Kita bisa melihat dengan jelas pengharapan yang dimiliki Paulus dalam surat-suratnya. Pengharapan di dalam Pribadi Tuhan yang tidak berubah (2Tim. 1:12), pengharapan di dalam kebangkitan Kristus yang menyelamatkan setiap orang percaya (2Tim. 2:10), dan pengharapan di dalam janji Tuhan yang akan menyediakan upah pada waktu-Nya (2Tim. 4:8).

Harus diakui kadangkala masalah yang datang silih berganti membuatku tawar hati dalam berkarya. Pengharapan Paulus mengingatkanku bahwa aku pun punya pengharapan yang sama. Aku punya Tuhan yang tidak pernah berubah kuasa dan kasih-Nya, Dia telah menyelamatkanku, Dia memperhatikan segala pekerjaanku dan akan memberikan upah pada waktu-Nya. Sebab itu, aku dapat mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan-Nya dengan penuh optimisme. Tidak ada pekerjaan yang sia-sia ketika kita melakukannya dengan hati yang tertuju kepada Tuhan.

4. Ketekunan
Pengharapan yang dimiliki Paulus melahirkan sikap tekun yang luar biasa. Pekerjaan yang ia lakukan untuk memberitakan Injil tidaklah mulus. Ia harus menghadapi orang-orang yang bermaksud jahat (2Tim. 4:14). Ketika menghadapi kesulitan, ia bahkan ditinggalkan oleh teman-temannya (2Tim. 4:10, 16). Namun, pengharapan Paulus kepada Tuhan membuatnya tetap tekun berusaha. Banyak surat penggembalaannya bahkan ditulis dari dalam jeruji penjara. Paulus tidak menjadikan penghargaan manusia sebagai ukuran keberhasilannya. Ia mengarahkan pandangannya kepada mahkota kehidupan yang telah disediakan Tuhan.

Adakalanya aku juga bekerja dengan orientasi yang keliru. Berfokus hanya pada upah dan penghargaan manusia. Dengan mudah aku bisa kecewa dan mundur ketika situasi menjadi sulit atau orang-orang di sekitarku tidak memberi tanggapan yang sesuai dengan harapanku. Ketekunan Paulus mendorongku untuk juga ikut bertekun, bekerja dengan mengarahkan pandangan pada upah yang disediakan Tuhan sendiri. Ketika kelak kita dipanggil menghadap-Nya, kita dapat dengan lega berkata seperti Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Mengapa Kita Haus dan Berjuang Keras Menggapai Kesuksesan?

Penulis: Lim Al, Singapore
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Why Do We Crave and Struggle to Achieve Success?

Why-Do-We-Crave-and-Struggle-to-Achieve-Success--(wo-text)

Belum lama ini, aku membaca curhat seorang pemuda yang dikenal punya banyak talenta. Ia menulis di halaman blog-nya: “Aku tidak suka pergi ke sekolah dan belajar di kelas karena pada dasarnya aku lahir dengan IQ yang rendah. Serajin apapun aku belajar, orang yang punya IQ lebih tinggi akan tetap menang.”

Aku yakin banyak di antara kita juga pernah merasakan pergumulan serupa. Sekeras apa pun kita berusaha, sebanyak apa pun talenta yang kita pikir kita miliki, sepertinya selalu ada orang yang lebih sukses dari kita. Sukses membuat sebagian orang selalu tampak buruk, tidak sebaik orang lain. Saat kita mulai mengukur kesuksesan, kita akan menempatkan orang dalam berbagai tingkatan yang berbeda.

Keinginan untuk sukses adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Aku yakin, setiap manusia haus akan kesuksesan karena kita ingin hidup kita ini bemakna, kita mendambakan kepuasan dan rasa aman. Sukses memastikan kehadiran kita memiliki nilai dalam masyarakat, dan hal itu tentunya akan memberi kita kepuasan. Kita juga merasa aman ketika tahu bahwa diri kita bernilai. Berapa banyak di antara kita yang tidak menginginkan semua itu?

Namun, mendambakan sukses tidak berarti kita bisa meraihnya. Setiap kita punya titik awal yang berbeda. Kemampuan intelektual, penampilan, dan talenta yang dimiliki tiap orang berbeda sejak lahir. Mereka yang lebih pintar, lebih cantik, lebih terampil, akan lebih dihargai dalam masyarakat. Mereka yang berasal dari keluarga berada biasanya punya koneksi dan peluang lebih untuk bisa berhasil. Tentu saja kita bisa menemukan kisah-kisah nyata tentang orang dari keluarga tidak mampu yang kemudian meraih kesuksesan, namun kisah-kisah semacam itu adalah perkecualian, bukan sesuatu yang umum terjadi. Sukses juga tidak mudah diraih karena apa yang didefinisikan orang sebagai sukses bisa berbeda-beda. Misalnya saja, di Singapura (tempat aku tinggal), sukses itu berarti punya prestasi akademik yang tinggi.

Bila sukses ternyata tidak mudah diraih, lalu bagaimana kita dapat mendapatkan hidup yang penuh makna, kepuasan, serta rasa aman? Banyak di antara kita mencarinya pada pribadi orang lain, harta benda, dan jabatan. Namun, benarkah ketika kita memiliki seseorang yang berarti, menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan besar, dan meraup penghasilan ratusan juta rupiah di usia 30 tahun, kita kemudian akan merasa aman, puas, dan hidup penuh arti?

Blaise Pascal, seorang ahli matematika dan fisika asal Perancis, banyak diingat orang karena pernyataannya yang sangat terkenal: “Ada sebuah ruang kosong di hati setiap manusia yang hanya bisa diisi dengan Allah.” Beliau mengamati bahwa kehausan dan ketidakberdayaan manusia menunjukkan bahwa “kebahagiaan sejati itu dulu pernah ada”. Manusia berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai hal di sekitarnya, tetapi tidak ada yang berhasil. Mengapa? Karena “lubang di jiwa yang sangat dalam ini hanya dapat diisi dengan sesuatu yang tidak berbatas dan tidak berubah, yaitu pribadi Allah sendiri.” Orang-orang terkasih dalam hidup kita, harta benda, dan jabatan, adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri. Meski demikian, mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan jiwa kita yang terdalam. Hanya Allah, yang dapat memberi kita rasa aman, kepuasan, dan makna hidup sejati.

Jadi, cara pandang seperti apa yang harus dimiliki seorang Kristen tentang kesuksesan? Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita memahami kesuksesan:

1. Sukses pada dasarnya merupakan berkat dari Tuhan. Rupa-rupa karunia yang kita miliki, sumber daya, dan kesempatan yang tersedia bagi kita, dikaruniakan oleh Tuhan. Semua itu diberikan untuk kita nikmati, namun kita tidak boleh lupa siapa yang merupakan sumber kesuksesan kita. Raja Babel, Nebukadnezar, mendapatkan pelajaran ini melalui sebuah peristiwa yang sangat tidak enak. Daniel 4:28-37 mencatat bagaimana sang raja direndahkan begitu rupa ketika ia mulai membanggakan diri sendiri. Kepadanya diberi peringatan: “Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!”

2. Sukses tidak menyelamatkan kita dari kematian. Yakobus 4:13-15 mengingatkan kita bahwa hidup kita ini “sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”. Sukses itu sementara, suatu hari kelak kita tetap akan mati. Kebenaran ini menancap kuat di pikiranku ketika salah satu sahabat baikku tiba-tiba saja sulit bernapas dalam perjalanan liburannya, dan meninggal hanya dalam hitungan menit. Ia tidak punya riwayat penyakit dan bisa dibilang sangat sehat. Ia memiliki pernikahan yang bahagia, seorang anak laki-laki yang sangat baik, dan sebuah rumah baru yang indah. Ia adalah kepala dari sebuah organisasi besar, seorang anggota jemaat yang aktif melayani dan sangat dihormati.

3. Sukses tidak seharusnya membuat kita beralih perhatian dan tidak lagi mencari kerajaan Allah. Dalam Lukas 12:13-21, Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang kaya yang mencurahkan perhatiannya untuk membangun lumbung-lumbung yang lebih besar untuk menyimpan hasil panennya—namun malam itu juga, jiwanya diambil dari padanya. Yesus kemudian mengajar para murid-Nya untuk mengumpulkan harta di sorga dan, “membuat … pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat” (Luk 12:33). Kiranya cinta akan uang dan kesuksesan tidak mengalihkan perhatian kita dari melakukan kehendak Allah dan Kerajaan-Nya.

Apakah kamu sudah memiliki dan menikmati kesuksesan sejati?

Sharing: Dalam Hal Apa Kamu Ingin Sukses?

Sharing-WarungSaTeKaMu-201510-B

Sukses Dengan Menyedihkan

Jumat, 28 Juni 2013

Sukses Dengan Menyedihkan

Baca: Lukas 9:18-27

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. —Lukas 9:23

Dalam apa pun yang dilakukan manusia tanpa melibatkan Allah, ia pasti gagal dengan menyedihkan—atau meraih sukses dengan lebih menyedihkan,” tulis George MacDonald (1824-1905), seorang penyair, penulis novel, dan pendeta asal Skotlandia. Pernyataan menarik ini seringkali dikutip oleh para pembicara dan penulis modern dan terdapat dalam buku karya MacDonald yang berjudul Unspoken Sermons (Khotbah yang Tak Terucapkan).

MacDonald sedang membicarakan suatu topik yang sulit tentang penyangkalan diri seorang Kristen dan bagaimana kita dapat menerapkan pengajaran Yesus ini: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:23-24).

Menurut MacDonald, penyangkalan diri bukan hanya berupaya memendam hasrat manusiawi kita, tetapi penyangkalan diri yang benar berarti “kita harus melihat segala sesuatu seperti [Kristus] melihatnya, memandang segala sesuatu sebagaimana Dia memandangnya; kita harus menghayati kehendak Allah sebagai jati diri kita . . . . Kita tak lagi berpikir, ‘Apakah yang ingin kulakukan?’ melainkan ‘Apakah yang dikehendaki oleh Allah yang Hidup itu untuk kulakukan?’”

Memperoleh hanya apa yang kita inginkan berarti meraih sukses yang menyedihkan. Kesuksesan yang sejati didapatkan dengan jalan menyerahkan hidup kita pada Yesus dan menjalani hidup itu sepenuhnya dalam kehendak-Nya. —DCM

Makin serupa Yesus, Tuhanku, ini selalu cita-citaku
Makin bertambah di dalam kasihku,
Makin bersungguh menyangkal diriku. —Gabriel
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 138)

Hubungan yang intim dan mendalam bersama Allah dimulai dengan sifat rendah hati dan menyangkal diri.