Posts

Membongkar Ulang Makna Sukses

Oleh Jovita Hutanto

Bulan Januari buatku adalah bulan yang terasa intens. Teman-teman di sekitarku sudah pasang ancang-ancang membuat ini itu untuk capai target sepanjang tahun. Seram rasanya buatku.

Tapi, kurasa tak cuma teman-temanku. Banyak dari kita pun mulai memikirkan goals dan resolusi supaya hidup kita makin dengan dengan kesuksesan. Atau, pada ekstrem yang lain, ada pula orang yang memosisikan diri di kubu ‘bohwat’. Istilah ini sering digunakan oleh teman-teman etnis Tionghoa yang berarti keadaan ketika seseorang sudah bingung mau berbuat apa lagi.

Terlepas dari di kubu mana kita berada, jika bicara soal sukses kurasa semua orang ingin sukses. Itu mimpi semua orang. Tapi, sebelum kita bergerak mengejar sukses, izinkan aku mengkaji ulang definisi dan standar dari sebuah kesuksesan.

Apa sih arti sukses buat kamu? Apakah itu banyak uang? Jadi terkenal? Punya gelar pendidikan tinggi? Punya usaha? Bisa mengubah dunia? Apa pun yang jadi dambaan kita, setiap kita punya standar hidup sukses yang berbeda. Namun, apakah kita bisa yakin bahwa yang kita inginkan itu adalah sukses yang sesungguhnya? Untuk menemukan jawaban yang benar, kita harus kembali pada Alkitab dan melakukan sedikit riset mengenai definisi sukses dari point of view Alkitab, alias dari sudut pandang Allah sendiri.

Aku mengambil satu contoh dari tokoh yang kisahnya pasti familiar kita dengar. Tokoh ini bernama Yusuf. Dalam Perjanjian Lama, dia dikisahkan menderita kemalangan bertubi-tubi. Dari seorang anak kesayangan ayahnya, dia dibuang dan dijual oleh saudara-saudaranya yang iri kepadanya. Tetapi, menariknya, pada teks Kejadian 39:2, tertulis demikian: “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.” Jika kita tilik ayat ini dari terjemahan bahasa Inggris versi ESV, tertulis: “The LORD was with Joseph, and he became a succesful man…” Terjemahan ESV secara gamblang menggunakan kata success.

Dari sini kita dapat melihat dengan jelas bahwa kalimat yang digunakan bukanlah kalimat sebab-akibat. Bukan “sebab Tuhan menyertai Yusuf”, akibatnya “ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.” Ayat ini menjelaskan bahwa penyertaan Tuhan akan selalu diikuti oleh keberhasilan Yusuf. Penggunaan kata “tetapi” menjadi kalimat penghubung yang mengkontraskan kalimat sebelum dan sesudahnya.

Isi ayat sebelumnya berkata, “Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ” (Kejadian 39:1). Penggunaan kata “tetapi” pada ayat selanjutnya memperkuat konsep penyertaan Tuhan yang sifatnya independen (atau mandiri), tidak bergantung pada malangnya latar belakang hidup Yusuf dan Yusuf pun tetap berhasil dalam setiap pekerjaannya.

Ada hal lain lagi yang menarik buatku dari ayat ini, yaitu terdapat kata “selalu”. Tidak seperti manusia yang tidak pasti dan tidak bisa diandalkan, dari kisah Yusuf kita yakin bahwa penyertaan Tuhanlah yang selalu mendatangkan kesuksesan. Inilah kunci keberhasilan yang paling jitu.

Nah, apa sih hidup yang disertai Tuhan?

Kata “serta” mengandung unsur partisipasi aktif dari pihak yang menyertai, yaitu “Tuhan”. Artinya, sebagai umat Kristen sudah sepatutnya kita melibatkan Dia dalam setiap langkah kita, bahkan menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada Tuhan. Cukup abstrak ya konsep melibatkan Tuhan ini kalau kita pikir-pikir. Tapi, yuk kita kembali lagi ke cerita Yusuf.

Di ayat-ayat berikutnya, saat Yusuf digodai untuk meniduri istri Potifar, Yusuf menolak. Yusuf mengatakan, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:9).

Coba perhatikan. Yusuf tidak berkata bahwa dosa tersebut akan menjadi pertanggungjawaban dia terhadap Potifar, tetapi pada Allah. Yusuf menunjukkan jelas bahwa hidupnya tertuju pada Tuhan, meskipun konteksnya dia berada di Mesir dan di istana Potifar

Sampai di sini, kita bisa simpulkan bahwa hidup di dalam penyertaan Tuhan adalah hidup yang menjadikan Tuhan Yesus tuan atas setiap aspek hidup kita.

Lantas, apa sih indikator sukses itu?

Mungkin banyak dari kita beranggapan bahwa kesuksesan Yusuf merupakan status dan harta yang diberikan Potifar kepadanya. Aku kira ini merupakan asumsi yang salah besar. Jangan kita salah kaprahkan ya bonus dari Tuhan dengan arti kesuksesan yang Tuhan maksud.

Coba kita baca baik-baik, pada Kejadian 39:2, yang tertulis adalah “berhasil dalam pekerjaannya”, bukan berhasil mendapatkan uang atau harta. “Berhasil dalam pekerjaannya” dalam pengertian lain adalah Yusuf telah menggenapi kehendak dan panggilan-Nya. Bahkan, Alkitab menyatakan bahwa Yusuf tetap berhasil saat dia dipenjarakan Potifar tanpa status dan harta (Kejadian 39:20-23). Dalam situasi apa pun kita ditempatkan, jika kita hidup dalam penyertaan Tuhan, maka Dia akan memberikan kebijaksanaan-Nya kepada kita agar kita dapat mensukses pekerjaan yang telah Dia titipkan. Status dan harta yang Yusuf terima pada akhirnya hanyalah bonus semata yang Tuhan berikan karena dia telah berhasil menggenapi pekerjaan Tuhan.

Jadi, cukuplah jelas di sini bahwa standar hidup sukses itu adalah pemenuhan target Tuhan, bukan target kita sendiri.

Hidup di dalam penyertaan Tuhan itu merupakan relasi dua arah, antara kita dengan Tuhan, dan titik fokusnya kepada Tuhan. Kalau bahasa yang lebih mendaratnya itu, berjalan dan berjuang bersama Tuhan dan untuk Tuhan. Tapi, di sinilah pr beratnya buat kita. Tuhan tidak terlihat wujudnya, maka bentuk perjalan dan perjuangan bersama Tuhan itu memerlukan skill “melek jiwa”, atau bahasa kerennya “mindfulness”.

Penyertaan Tuhan itu senantiasa, tetapi seringkali kasusnya bukan Tuhan yang tidak mau menyertai, tetapi kitanya yang tidak mau disertai atau kerap kali kita malah melupakan Tuhan di dalam keseharian kita. Kalau mau dipikir-pikir, seberapa banyak dari kita yang melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang kita ambil? Seberapa sering kita menggumulkan firman-Nya? Memang terdengar klise dan mungkin sudah banyak dari kita yang rajin berdoa dan baca Alkitab. Tapi, jujur aja nih. Apakah kita memaknai aktivitas tersebut? Susah loh untuk membentuk sebuah habit yang penuh arti. Jujur, aku pun sering lupa kalau sudah doa makan atau belum saking aku sudah terbiasa dan kurang memaknai artinya lagi. Bahkan, kurasa kita ini sering loh seperti zombie, yang gak sadar hari-hari lewat begitu saja. (Hayoo, ngaku yang sering nanya hari ini hari apa, gak taunya sudah Jumat lagi aja.) Mungkin jika aku berimajinasi Tuhan itu seperti anak gaul, mungkin Dia akan berkata, “sadar woy, sadar.”

Tentunya skill mindfullness alias melek jiwa ini adalah proses yang panjang dan sulit karena dibutuhkan disiplin, konsistensi, dan anugerah Tuhan. Disiplin berdoa dan bergumul. Konsisten bertanya apakah aku melakukan ini untuk diriku atau Tuhanku; dan tidak lupa memohon anugerah Tuhan supaya kita sering-sering dibuat melek dan yang paling penting supaya kita bisa diatur karena kita sendiri adalah orang-orang keras kepala.

Tips jitu yang agak guyon dariku ialah kita bisa setting wallpaper HP kita diganti jadi kalimat yang mengingatkan kita sama Tuhan. Semisal kita tulis, “Inget Tuhan!” Setiap pagi kebanyakan kita mengawali aktivitas dengan…. Buka HP! Betul sekali! Jadi, pas pagi-pagi kita membuka HP dan lihat tulisan “inget Tuhan”, cepat-cepatlah kita berdoa. Kalau lagi kesel dan buka HP, lihat tulisan “inget Tuhan”, eits gak boleh marah-marah. Mesti sabar. Mau tidur, main HP dong pastinya, lihat lagi tulisan “inget Tuhan”, lalu coba refleksikan hari ini kebaikan apa saja yang sudah kita lakukan.”

Capek tapi kan ya diingetin terus? Buatku ya capek sih. Tapi, kalau ingat inilah jurus jitu hidup sukses, harusnya kita nggak akan capek lagi dong ya hehehe.

Goals-goals yang kita bilang kesuksesan itu bukanlah tuntutan karena Tuhan sebenarnya tidak pernah menuntut kita untuk mencapai impian-impian tersebut. Kalau kita bilang itu tuntutan masyarakat, yuk kita sama-sama saling mengingatkan bahwa yang pegang kunci surga sudah pasti bukan teman atau keluarga kita hehe. Jangan salah pahamkan tuntutan yang kita buat sendiri dengan tuntutan yang memang dari Tuhan karena keduanya bagaikan langit dan bumi.

Ekspektasi sukses kita seringkali sifatnya fana dan tidak sesuai dengan maunya Tuhan. Ingat, Dia adalah Tuhan loh! Kalau Dia ingin berikan, maka sekejap maka saja kita akan mendapatkannya. Apa yang Tuhan utamakan adalah proses dan perjalanan keseharian kita bersama Dia.

Resolusiku di tahun ini sesuai dengan pesan yang sudah kusampaikan kepada kita semua, yaitu lebih setia, melek jiwa, dan berjalan bersama Tuhan. Bukan berarti kita hidup tanpa goals ya. Maksudku, kita tidak perlu menjadikan goals kita sebagai standar patokan arti kesuksesan.

Fokus kita hidup seharusnya tertuju pada proses kita berjalan dan berjuang dengan Tuhan Yesus setiap harinya, supaya bisa berhasil memenuhi panggilan-Nya. Kalau memang ternyata semua goals tercapai, aku menganggap semuanya itu bonus dari Tuhan.

Buat tim ‘bohwat’, gak ada salahnya kok dengan ide “just surviving”, yang penting ditambah jadi “just surviving with God.”

Tahun 2023 kita bisa fokuskan resolusi kita pada satu yang pokok: setia berjalan bersama Tuhan semaksimal mungkin.

5 Kunci Bikin Resolusi Jadi Terwujud

Oleh Jenni, Bandung

Seperti kebanyakan orang, aku memiliki resolusi dan pengharapan untuk kukejar sepanjang tahun ini. Namun, aku sadar bahwa untuk mencapai sebuah target diperlukan langkah-langkah disertai strategi yang tepat. Setelah berkaca dari pengalamanku sendiri dan upayaku mempelajari firman-Nya, inilah cara-cara yang kudapatkan untuk menetapkan target dan mewujudkannya:

1. Semua dimulai dengan menyiapkan diri terlebih dulu

Pada Lukas 14:28 tertulis, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” Secara keseluruhan, konteks dari ayat tersebut adalah Yesus mengajar bahwa siapapun yang hendak mengikut dan menjadi murid-Nya harus memutuskan lebih dulu apakah mereka telah siap untuk membayar harga, yakni menyerahkan segala yang kita miliki untuk melayani Kristus.

Ikut Tuhan Yesus tidak main-main dan tidak cuma butuh persiapan, tapi pengorbanan. Dari ayat ini aku belajar bahwa kita perlu menyiapkan waktu khusus untuk memikirkan baik-baik target yang ingin kita capai.

Hal yang sering terlewat olehku adalah menanyakan pada diriku sendiri: ingin menjadi orang seperti apakah aku? Kualitas seperti apa yang ingin aku miliki?

Dua pertanyaan ini akan menuntun kita menetapkan dasar dari usaha-usaha yang akan kita lakukan di langkah berikutnya.

2. Target tidak dibuat setara, tetapi bisa disusun berdasar prioritas

Dalam bekerja, aku belajar bahwa mengetahui mana pekerjaan yang prioritas sangatlah berguna. Saat tahu apa saja kriteria prioritas, aku jadi tahu hal spesifik apa yang perlu dicapai dan dilakukan. Hal ini sangat membantu dalam menentukan tenggat waktu mengerjakan.

Dalam membuat target, mengurutkan prioritas bisa dimulai dengan mengutamakan berdasarkan tanggung jawab dan disusul oleh cita-cita. Mana yang bisa aku lakukan? Inikah yang aku inginkan? Apa langkah pertama yang harus aku fokuskan? Setelah menentukan prioritas, kita bisa fokus untuk mengerahkan tenaga dan waktu yang terbatas.

3. Target perlu dikejar, tapi kita tidak hidup hanya untuk mengejar target

Berkaca pada pengalamanku beberapa tahun silam, ada masanya di mana aku begitu asyik dengan jadwalku yang padat demi mengejar targetku. Aku mengabaikan waktu istirahat dan orang-orang di sekitarku. Seiring waktu, aku sadar bahwa hidupku bukan milikku seorang. Di rumah ada keluarga yang perlu aku kenali lebih dekat, perhatikan, bantu dan dukung. Ada teman yang hubungannya perlu aku rawat dan perhatikan. Ada diri sendiri yang perlu kukenali dan gali lebih dalam.

Aku lupa bahwa hidup bukan hanya sekedar mengejar pencapaian. Istirahat, olahraga, dan bersosialisasi adalah bagian dari kehidupan. Terutama, merawat hubungan dengan Tuhan. Sudahkah aku berusaha mengenal pribadi-Nya? Bisakah aku duduk diam mendengar-Nya? Bagiku mengabaikan Tuhan bagaikan lari ke hutan dan mencari jalan keluar sendiri.

Markus 8:36 berbunyi, “apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.” Hidup bukan hanya tentang mengejar, tetapi juga tentang menikmati kebaikan Tuhan dan berbagi dengan menjadi buah untuk sekitar kita.

4. Manajemen diri adalah koentji

Kembali berkaca dari pengalaman bekerja, terkadang ada tugas mendadak yang membutuhkan energi ekstra. Dengan waktu yang sempit dan pekerjaan yang menumpuk, tekanan bekerja menjadi tinggi dan membuatku kewalahan. Hal itu menyadarkanku bahwa aku perlu menyusun strategi agar kejadian serupa tidak terulang.

Jauh-jauh hari, sebelum tugas mendadak itu muncul (yang entah kapan), aku memutuskan untuk mengerjakan tugasnya dengan mencicil secara berkala dengan disiplin. Pekerjaan besar itu kubagi hingga menjadi pekerjaan yang bisa kukerjakan dalam waktu kurang dari sehari. Dengan cara itu pekerjaan yang tadinya berat jadi terasa ringan karena dikerjakan sedikit demi sedikit setiap harinya.

Amsal 30:25 berbunyi, “semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas.” Ayat ini berbicara tentang mempersiapkan diri. Ayat tersebut dan pengalaman mengajarkanku bahwa untuk mencapai sebuah target yang besar kita perlu menyiasatinya dengan langkah kecil setiap harinya. Buatlah satu target tahunan menjadi bulanan. Uraikan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai target tersebut hingga menjadi tugas yang bisa dilakukan dalam hitungan hari. Lalu, tetapkan tenggat waktu untuk menyelesaikan tugas itu. Sedikit demi sedikit menjadi bukit, percayalah pada proses.

5. Last but not least: ikut tuntunan Tuhan, serahkan segala rencana kita pada-Nya

Kedua orang tuaku berpesan untukku agar selalu berdoa sebelum melakukan perjalanan. Alasannya, meskipun aku sering melewati rute yang sama dan menganggap diriku sudah menguasai medan jalannya, tetap saja ada banyak hal yang bisa terjadi di luar kendaliku. Aku tetap tak tahu apa yang akan terjadi.

Seperti halnya membuat resolusi. Kita punya planning yang baik, tetapi kita sendiri punya keterbatasan. Kita tidak bisa melihat masa depan seperti tertulis, “… Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yakobus 4:15). Kendati demikian, kita bisa menyiapkan masa depan kita, namun yang paling penting ialah kita menyertakan Tuhan dalam setiap rencana kita, selalu berusaha, dan bisa bersikap luwes.

Tuhan tahu yang terbaik dari setiap kita, sehingga sudah sepantasnya kita datang membawa rencana kita pada-Nya. Tuhanlah pemilik masa depan yang berdaulat.

Itulah tips sekaligus sharing untuk menentukan dan menyusun strategi meraih target. Semoga bisa membantu teman-teman dalam menyusun targetnya! Mari kita melakukan yang terbaik dan berdoa senantiasa.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Amsal 19:21).

Ketika Kutemukan Bagian yang Hilang dari Kesuksesan

Oleh Michele Ong
Artikel ini dalam bahasa Inggris: When I Found The Missing Piece To Success

Beberapa waktu lalu, aku mulai merenungkan apa artinya sukses.

Semua dimulai ketika ayahku berkomentar betapa suksesnya salah satu sepupu jauhku yang berprofesi sebagai ahli bedah. Aku ingat, aku pernah memberi tahu ayahku—dengan agak kesal—bahwa lulusan seni bisa sama suksesnya seperti rekan-rekan mereka yang belajar kedokteran. Maksudku, lihatlah sutradara film dari Selandia Baru, Taika Waititi. Dia sukses! Aktor Inggris, Tom Hiddleston begitu memuji Waititi dan mengaguminya karena kecakapannya. Tom juga menyukai film Waititi, Hunt For The Wilderpeople.

Namun, komentar itu tetap membuatku berpikir tentang definisi sukses.

Apakah dengan memiliki jumlah saldo rekening yang besar, pakaian, sepatu mahal, dan tinggal di apartemen mewah? Apakah dengan melepaskan pekerjaan yang nyaman dan penghasilan tetap untuk menjadi sukarelawan di negara dunia ketiga? Atau apakah dengan memiliki keluarga, menetap di rumah yang bagus, dan menikmati kehidupan sosial yang baik bersama keluarga dan teman?

Aku mencari di Google, “Apa itu sukses?”, dan mendapatkan 1,040,000 hasil pencarian. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah playlist pembicaraan yang menampilkan orang-orang terkemuka yang berbagi ide dan definisi tentang kesuksesan mereka. Dua dari mereka menonjol secara khusus.

Yang pertama adalah penulis Amerika, Elizabeth Gilbert, yang menulis memoar populer pada tahun 2006, yaitu Eat Pray Love. Baginya, kesuksesan berarti gigih dalam menghadapi rintangan. Gilbert menerima banyak surat penolakan selama enam tahun sebelum dia menerbitkan buku pertamanya. Namun, sama seperti penolakan-penolakan yang menghancurkannya itu, dia tidak pernah melihat berhenti sebagai pilihan.

Yang kedua adalah pemain dan pelatih bola basket Amerika, John Wooden, yang mendefinisikan kesuksesan sebagai “ketenangan pikiran yang dicapai hanya melalui kepuasan diri dengan mengetahui bahwa kamu melakukan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik yang kamu mampu”.

Setelah mendengar kedua pembicaraan tersebut, aku merasa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang membuat hidup menjadi sukses. Rumus sukses banyak bicara tentang mengatasi kesulitan dan menjadi yang terbaik semampu kita. Dan prinsip-prinsip ini selaras dengan apa yang diajarkan Alkitab. Alkitab memperingatkan tentang kemalasan (Amsal 6:10-11; Amsal 10:4) dan mendorong kita untuk memberikan yang terbaik dalam segala hal yang kita lakukan, memahami bahwa kita bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23-24).

Tapi, tetap saja aku merasa ada yang kurang dalam “rumus sukses” ini.

Jadi, aku melihat buku favoritku sepanjang waktu, The Purpose Driven Life, ditulis oleh pendeta Amerika, Rick Warren. Dia menulis bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk mengonsumsi sumber daya atau untuk “mendapatkan” hasil maksimal dari kehidupan, namun Tuhan telah menciptakan kita untuk membuat perbedaan dalam hidup dengan memberi dan melayani. Bunda Teresa, contohnya. Dia tidak memiliki rumah besar, tapi karya-karyanya telah mempengaruhi jutaan orang di sekitarnya.

Dan tentu saja, ada Yesus sendiri. Ia dilahirkan dalam kehidupan yang sederhana, tanpa kemegahan atau kemewahan. Dia mengabdikan hidup-Nya untuk membantu dan melayani orang lain, melakukan banyak mukjizat di antara mereka untuk menunjukkan kuasa dan kasih Bapa-Nya. Kemudian, Yesus menunjukkan tindakan pelayanan dan pengorbanan terbesar, yaitu menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Sampai hari ini, nama-Nya dikenang dan satu tindakan tanpa pamrih-Nya terus mengubah kehidupan di seluruh dunia. Apakah itu kehidupan yang sukses?

Jadi, jika kehidupan Yesus adalah lambang kesuksesan, kita dapat yakin bahwa Tuhan tidak mengukur kesuksesan kita dengan kekayaan materi kita. Dia juga tidak mengukur kesuksesan kita dengan perbuatan baik yang kita lakukan atau pencapaian yang kita miliki.

Meski begitu, tidak salah jika kita diberkati dengan penghasilan yang lumayan, prestasi yang membanggakan, atau jika kita ingin menjadi relawan di masyarakat. Aku mengenal beberapa pengusaha dan wiraswasta yang mendapatkan gaji besar dan menyumbang sebagian dari pendapatan mereka ke gereja sebagai sarana pelayanan mereka. Ada juga orang yang terpanggil untuk menjadi misionaris dan meninggalkan kenyamanan rumah mereka untuk melayani di lingkungan yang asing. Di mata Tuhan, kedua kelompok itu sama berharga dan suksesnya karena motivasi mereka sama—melayani dan memberi kepada Tuhan.

Aku tahu, kesuksesan dapat dengan mudah didefinisikan berdasarkan gaji, jabatan, dan pencapaian dalam hidup kita. Aku pun jatuh ke dalam perangkap ini sesekali, dan membandingkan pekerjaanku dengan pekerjaan teman-temanku yang memiliki jam terbang tinggi. Terkadang aku bahkan merasa malu karena tidak mengambil bagian dalam tiap misi besar di hidupku, dan merasa seperti aku telah gagal mencapai “kesuksesan”.

Tetapi aku harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri bahwa Tuhan tidak peduli dengan hal-hal tersebut. Akan ada hari ketika kita harus berdiri di hadapan Tuhan untuk memberikan pertanggungjawaban tentang bagaimana kita hidup. Akankah kita dapat berdiri dengan percaya diri di hadapan-Nya karena mengetahui bahwa kita telah melayani-Nya dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik kepada-Nya? Jika demikian, aku benar-benar percaya bahwa itulah tanda kehidupan yang sukses!

Waktu Badai Kelam Datang, Ingatlah Bahwa Itu Pasti Akan Berakhir

Oleh Sofia Dorkas Pakpahan, Medan

“Si ambis”

Julukan itu disematkan buatku. Akar katanya berasal dari “ambisi”, yang artinya keinginan yang besar untuk memperoleh sesuatu. Aku tidak menolak julukan itu karena memang teman-teman mengenalku sebagai sosok mahasiswa yang giat belajar agar proses perkuliahanku dapat berjalan maksimal. Tapi… julukan itu menjadi beban buatku. Mereka sering mengandalkanku dalam urusan akademik karena dianggap pintar dan aku pun berusaha keras supaya julukan si ‘ambis’ yang mereka sematkan itu memang mengantarku pada nilai terbaik.

Namun, di akhir masa kuliah rupanya ekpektasiku tidak sesuai dengan realita. Nilai-nilai di tiap mata kuliah tidak sesuai harapanku. Malahan, teman-teman yang kupikir nilainya akan lebih rendah dariku malah meraih lebih baik. Aku pun berkecil hati. Rasanya julukan ‘si ambis’ tidak pantas kudapatkan karena hasil yang kuterima tidaklah maksimal.

Perasaan gagal dan kecewa memenuhi pikiranku dan aku kehilangan mood untuk beraktivitas. Suatu ketika, saat aku sedang berdiam diri di rumah, hujan turun dengan derasnya membuat mood-ku makin tidak bagus. Aku bergumam kesal. Ketika malam tiba, aku diam saja di kamar.

“Tok…tok,” suara pintu diketuk.

Ibuku masuk ke dalam kamarku dan mengajakku keluar rumah. Sebenarnya aku enggan keluar kamar, tapi supaya tidak memperpanjang percakapan aku menyetujuinya.

Di halam rumah, ibu mengajakku bercerita. “Nak, coba kamu lihat ke atas, apa yang kamu lihat?”

Aku tak tahu mau menjawab apa sebab langit malam itu tidak ada bedanya dengan langit di hari-hari yang lalu. Langit ya tetap langit, aku membatin. “Biasa saja, tidak ada yang istimewa,” jawabku.

Ibuku tersenyum dan menanggapiku dengan pertanyaan lagi. “Coba kamu lihat, ada bulan dan banyak bintang. Apa kamu tahu mengapa mereka jadi kelihatan sangat indah?”

Aku menggeleng.

“Karena langitnya gelap, Nak. Apa kamu sadar, bulan dan bintang memerlukan langit yang gelap agar sinarnya tampak? Dan dengan begitu mereka akan jadi terlihat sangat indah di langit malam.”

Aku agak terkejut. Aku tak pernah memikirkan benda-benda langit dengan sesentimentil itu. Ibuku masih belum berhenti bercerita, dia kembali berkata, “Sama seperti hujan yang turun sore tadi, jika kamu menunggu sebentar maka kamu akan lihat pelangi yang indah sehabis hujan turun. Apa kamu tahu kenapa pelangi itu sangat indah? Karena ia muncul dengan aneka warna di atas langit yang berwarna kelam kelabu. Bulan di langit malam dan pelangi sehabis hujan itu sama seperti kehidupan kita, Nak.”

Aku tak menanggapi ucapan-ucapan ibu. Aku tertegun, lalu teringat akan hal-hal yang membuatku sedih: perasaan gagalku. Saat kurenungkan lebih dalam, sebenarnya kegagalan yang kualami adalah hal alami yang terjadi dalam hidup. Yang namanya hidup pastilah ada kegagalan. Jika tidak pernah gagal maka aku tidak akan pernah maju. Lagipula, Tuhan sendiri pun telah berjanji bahwa sekalipun kita mengalami kegagalan atau hal-hal berat dalam hidup, Dia tidak akan meninggalkan kita. Tuhan selalu ada untuk menolong dan menopang kita agar kita selalu bangkit bersama-Nya (Mazmur 37:23-24).

Percakapan dengan ibuku pelan-pelan melembutkan hatiku dan menggantikan awan kelam dalam pikiranku dengan seberkas cahaya. Kegagalan dan kesulitan sering terasa seperti penderitaan yang tidak akan ada habisnya. Kehadirannya pun ibarat hujan lebat yang tak peduli akan turun di tanah mana. Namun, hujan tak selamanya turun. Ada waktunya untuk berhenti. Ada pelangi sehabis hujan, seperti lirik lagu yang tak asing kita dengar: seperti pelangi sehabis hujan, itulah janji setia-Mu Tuhan. Kadang memang dibutuhkan ‘kegelapan’ ataupun ‘badai’ agar kita bisa bersinar dan melihat pelangi.

Nilai-nilai yang kuraih bukanlah acuan untuk menunjukkan bahwa aku seorang yang pintar atau tidak, juga bukan penentu mutlak akan kesuksesanku di masa depan. Namun, bukan berarti itu semua tidak penting dan kita bisa menjalani studi asal-asalan. Prestasi akademik adalah buah dari perjuangan kita dan seharusnya kita bangga dan bersyukur apabila kita berjuang dengan sungguh-sungguh, bukannya kecil hati dan mengerdilkan segala usaha kita.

Sifat rajinku juga mungkin kepintaran yang orang-orang lain sering sematkan padaku adalah anugerah dari Tuhan yang seharusnya tidak membuatku tinggi hati dan menganggap rendah orang lain atau mengharapkan mereka memperoleh hasil yang lebih jelek dariku.

Kegagalan dan perenunganku menatap benda-benda langit malam itu membukakan wawasan imanku yang baru sekaligus meneguhkanku bahwa segala kelebihan dan kekuranganku adalah hal baik yang Tuhan berikan dalam hidupku dan aku dipanggil-Nya untuk memberitakan Injil, menyebarkan berkat Tuhan bagi orang lain dalam hidup sehari-hari.

Meskipun prestasi akademikku tidak sesuai harapanku, ini bukanlah akhir hidupku. Aku dapat belajar lebih rendah hati menerimanya sembari melakukan evaluasi diri untuk memperbaiki apa yang salah dalam diriku. Meraih nilai terbaik akan kulakukan bukan sebagai ajang untuk pamer atau memenuhi ambisi diriku semata, tetapi sebagai wujud syukurku memaksimalkan kesempatan studi yang Tuhan izinkan buatku.

Dalam sukses ataupun gagal, Tuhan senantiasa menolong dan menyertai kita. Kita tidak sendirian, kita selalu bisa memilih untuk bangkit bersama Tuhan.

Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku (Bagian 2)

Oleh Cana

“Wah, setelah 3 tahun tidak bekerja akhirnya aku dapat pekerjaan! Aku senang kegirangan karena namaku muncul di pengumuman final CPNS 2021.”

Sekitar tahun 2019, tepat tiga tahun yang lalu aku menulis artikel pertamaku di WarungSaTeKaMu dengan judul “Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku”. Jika menengok di masa itu, sungguh sulit untuk menerima semua hal yang tak sesuai harapan. Aku yang saat itu bekerja di sebuah universitas swasta ternama terpaksa tidak bisa mengajar hingga akhirnya bekerja dengan posisi staf administrasi. Aku sungguh merasa tertolak dan sempat berpikir mengakhiri hidup. Setahun kemudian, kontrak kerjaku pun tak dilanjutkan oleh pihak kampus. Aku pengangguran dan tak terasa tiga tahun sudah aku tidak bekerja pada suatu instansi atau lembaga (meskipun sekarang aku telah jadi ibu rumah tangga). Selama itu juga aku terus bergumul dan merenungkan apakah Tuhan akan memberikan kesempatan lagi untuk dapat bekerja? Dan apakah aku memang dipanggil bekerja sebagai dosen?

Melalui pengalaman sebelumnya yang sungguh sangat tidak mudah dilewati, Tuhan mengajariku tentang nilai diri yang sejati dan sebuah sikap rendah hati. Dengan latar belakang pendidikanku dan segala pencapaian yang telah aku peroleh, aku merasa sangat bernilai dan berharga. Bahkan saat diterima di universitas ternama ini aku merasa sangat bangga dengan diriku… namun Tuhan sungguh baik karena Dia memproses dan mengajariku bahwa nilai diriku tidaklah ditentukan dari pekerjaanku.

Perjalanan karierku mengharuskanku mengalami jatuh bangun dan penuh dengan air mata. Namun, dari sinilah aku belajar bahwa nilai diri yang sejati tidak seharusnya dilekatkan pada sebuah prestasi atau posisi. Sebelumnya, pekerjaan bagiku adalah sebuah prestasi dan pencapaian. Jika aku memiliki posisi di pekerjaan yang bagus maka aku merasa berharga, bernilai dan berguna. Akan tetapi, jika tidak maka sebaliknya—aku akan merasa tertolak. Melalui proses itu, aku belajar bahwa pekerjaan seharusnya dipandang sebagai sebuah “kendaraan” untuk membantu kita sampai ke tujuan yaitu melakukan visi atau panggilan-Nya bagi kita.

Aku pun akhirnya mengerti bahwa pekerjaan seharusnya bisa dipandang sebagai sebuah anugerah (pemberian dari Tuhan) sehingga aku tak perlu merasa minder atau super. Minder karena merasa tidak mampu dan tak layak mendapatkan pekerjaan ini atau super karena merasa sangat mampu dan arogan. Status pekerjaan nyatanya adalah sebuah kondisi yang bisa sangat mudah berubah dan dinamis. Mungkin karena pergantian atasan atau kondisi pandemi seperti sekarang ini. Jadi sudah selayaknya kita tidak melekatkan nilai diri kita padanya.

Setelah lama tidak bekerja, aku memberanikan diri untuk melamar sebagai dosen CPNS 2021. Tahapan dan seleksi demi seleksi kulalui. Tentu masih diwarnai dengan perasaan yang pesimis dan tak berani berharap banyak. Namun aku mencoba untuk berusaha semaksimal mungkin menggunakan waktu yang ada untuk belajar dan berserah pada-Nya. Pengumuman final pun keluar dan namaku adalah salah satu yang muncul.

Sungguh aku merasa terkejut, tak percaya, bingung, bersyukur dan senang. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa menjadi salah satu peserta yang diterima di seleksi CPNS kali ini. Mengingat sudah tiga kali aku mencoba tes CPNS, namun berakhir gagal. Namun, kali ini aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki “kendaraan” agar bisa berjalan menuju panggilan-Nya bagiku—untuk mengajar orang lain, menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sejalan dengan firman-Nya bagi peserta didik. Dengan pekerjaan di tempat baru ini pun, aku ingin terus belajar pada-Nya tentang nilai diri yang sejati dan rendah hati. Dan seperti yang dikatakan dalam firman-Nya “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).

Podcast KaMu Episode-5: Kerja-kerja-kerja-tipes

Semua orang ingin sukses. Ah masa sih?

Strategi menggapai sukses yang sering kita dengan adalah kerja keras dan kerja cerdas. Namun, tak jarang hasrat berjuang itu malah seperti bumerang. Saking semangatnya, ada relasi, bahkan kesehatan yang turut dikorbankan. Sebagai anak-anak muda yang sedang meniti jalan menuju suksesnya masing-masing, apa sih sukses yang sebenarnya? Bagaimana kita bisa meraih sukses itu sembari tetap memiliki ritme kehidupan yang baik?

Yuk temukan jawabannya di Podcast KaMu Episode 5 bersama Evans Garey, dosen Psikologi di Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta.

5 Ukuran Kesuksesan yang Lebih Baik

Kita semua ingin sukses, tapi bagaimana kita tahu kalau kita sungguh telah ‘sukses’?

Kamu mungkin merasa jauh dari sukses ketika ‘sukses’ itu ditentukan dari uang yang diraih, status jabatan, dan prestasi-prestasi lahiriah dalam hidup.

Tapi, kita tahu bahwa ukuran sukses kita ada pada Tuhan. Dia menyediakan alur cerita yang berbeda bagi setiap kita, yang memimpin kita kepada tujuan-Nya.

Artspace ini diterjemahkan dari @ymi_today

Sulit Membuat Keputusan? Libatkanlah Tuhan dalam Hidupmu

Oleh Airell Ivana, Bandung

Kelas 3 SMA—momen di mana keputusan tentang masa depan harus dibuat.

Aku bingung. Di jenjang ini, semua siswa harus menentukan, antara melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. Aku ingin berkuliah. Namun, saat itu aku belum memiliki bayangan sama sekali tentang dunia perkuliahan, dan jurusan-jurusan apa saja yang bisa kutempuh hingga masing-masing prospek karirnya.

Orang tuaku menginginkanku untuk langsung bekerja saja karena alasan finansial—mereka tidak sanggup membiayaiku untuk berkuliah. Orang tuaku juga memintaku memeriksa motivasiku untuk berkuliah, apakah karena aku benar-benar ingin belajar atau hanya karena gengsi semata karena mayoritas teman-temanku melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Aku menuruti saran orang tuaku, aku pun berpikir ulang. Tapi, aku merasa dilema. Di satu sisi aku belum siap memasuki dunia kerja. Di sisi lain, aku takut untuk kuliah. Aku takut jika kuliahku nantinya menjadi zona nyamanku, karena aku hanya perlu belajar dan tidak perlu menghadapi tekanan-tekanan dalam dunia pekerjaan.

Di tengah-tengah kebimbangan, aku berdoa dan berserah kepada Tuhan. Aku membutuhkan hikmat Tuhan untuk menentukan pilihan yang tepat. Ia menjawab doaku lewat pameran pendidikan yang diadakan di sekolahku.

Salah satu universitas menarik perhatianku karena menawarkan jurusan yang kuminati, yaitu Teknik. Lebih menariknya lagi, universitas tersebut memiliki program 3 tahun untuk Strata 1—satu tahun lebih cepat dari S1 pada umumnya. “Kalau hanya 3 tahun, mungkin biayanya tidak akan terlalu membebani orang tua,” pikirku.

Aku kembali membawa pergumulanku dalam doa. Apakah ini benar-benar jawaban yang Tuhan tunjukkan padaku? Jika Tuhan memang mengizinkan, aku percaya Tuhan akan membukakan jalan bagiku.

Setelah aku berdiskusi dengan orang tuaku, puji Tuhan mereka mengizinkanku berkuliah di tempat yang kuinginkan. Mereka juga akan berusaha mencari penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahku.

Dunia perkuliahan dimulai. Berbagai tantangan kuhadapi, salah satunya adalah mengatur waktu antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan melakukan tanggung jawabku sebagai ketua himpunan mahasiswa. Sempat terpikir untuk mundur dari jabatanku, tetapi aku bersyukur Tuhan memberiku kekuatan untuk menjalaninya sampai akhir.

Meskipun kuliah dengan jurusan pilihanku, aku ingin cepat-cepat lulus dan segera bekerja penuh waktu karena keterbatasan uang jajan yang diberikan oleh orang tuaku. Uang yang diberikan hanya cukup untuk makan dan membeli keperluan kuliah. Aku memperoleh uang tambahan dengan mengajar les privat dan menjadi asisten dosen. Kondisi finansial yang cukup menantang membuatku sempat sedikit menyesali keputusanku untuk tidak langsung bekerja. Namun, aku percaya Tuhan sendiri yang menuntunku ke jalan yang kutempuh saat itu (Ulangan 31:8). Aku berjalan dalam rencana-Nya dengan tuntunan-Nya.

Tidak pernah luput dari penyertaan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan perkuliahan dalam 3 tahun—sesuai janjiku pada orangtuaku.

Saat ini aku sudah bekerja, dan aku masih seorang yang sulit membuat keputusan. Menyadari hal itu, aku selalu melibatkan Tuhan dalam setiap prosesnya. Tuhan mengingatkan kita akan janji-Nya dalam Yesaya 41:10, “Janganlah takut, sebab aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab aku ini Allahmu; aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Ketika kita bingung akan langkah yang harus kita ambil, izinkan Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita. Ia akan mengantarkan kita pada rencana indah-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Baca Juga:

Pergumulanku untuk Belajar Menyayangi Diriku Sendiri

“Tak kenal maka tak sayang”, ungkapan yang tak lagi asing di telinga kita. Jika dicermati, rasanya memang tidak mungkin menyayangi seseorang jika kita belum mengenalnya. Mengenal adalah langkah pertama untuk dapat menyayangi.

Gagal Naik Podium Tidak Menghentikan Rencana Tuhan dalam Hidupku

Oleh Janessa Moreno, Tangerang

Aku adalah seorang atlet bulutangkis. Namaku terdaftar sebagai penerima beasiswa di salah satu klub ternama di Indonesia, pencetak para juara dunia. Namun, aku bukanlah atlet yang banyak menorehkan prestasi. Aku bisa berada di tempat ini semata-mata karena kemurahan Tuhan.

Menjadi seorang atlet membuat hidupku tidak seperti anak sekolah pada umumnya. Aku tinggal di asrama, dengan rutinitas berupa latihan bulutangkis setiap pagi dan sore. Latihan-latihan yang dijalani tentunya memiliki satu tujuan—menorehkan prestasi bagi klub dan mengharumkan nama bangsa.

Klub-klub besar menerapkan sistem promosi degradasi yang diberlakukan per enam bulan, termasuk klub tempatku dilatih. Jika tidak berhasil menampilkan performa terbaik dan meraih prestasi, maka anggota tersebut harus dikeluarkan dari pusat pelatihan impian ini. Oleh karena itu, aku selalu melakukan latihan tambahan setiap subuh ketika yang lain masih tertidur dan pulang lebih akhir dibandingkan yang lain demi meraih juara dan bertahan di klub ini. Aku percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati akhir. Hari demi hari kulalui dengan kekuatan dari Tuhan, yang kuperoleh melalui doa dan firman-Nya dalam renungan yang kubaca.

Namun, usaha kerasku tidak membuahkan hasil sesuai harapanku.

Tahun 2017 menjadi tahun yang berat, ketika aku tidak berhasil menyumbangkan prestasi apapun. Aku selalu terhenti di babak perempat final sehingga tidak berkesempatan untuk naik podium juara sama sekali. Padahal, aku merasa sudah memberikan yang terbaik.

Tidak hanya kecewa pada diri sendiri, aku juga kecewa pada Tuhan. Aku bingung dan bertanya-tanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa teman-temanku yang lain dapat dengan mudahnya mendapatkan apa yang kuusahakan dengan mati-matian, sedangkan aku tidak?”

Hari pengumuman pun tiba. Ternyata, namaku masih tercantum dalam daftar anggota klub bulutangkis ini. Tidak berhenti sampai di situ, 6 bulan demi 6 bulan selanjutnya, aku masih bertahan sebagai anggota. Bahkan, Tuhan memberiku kejutan-kejutan seperti ketika aku mengalahkan sejumlah pemain terbaik, meskipun tidak berhasil meraih juara. Aku terheran-heran, apa yang membuatku masih bisa memenuhi syarat ketika aku tidak bisa menunjukkan prestasi yang diharapkan?

Suatu malam, aku bertanya kepada Tuhan di dalam doa: “Tuhan, apa yang Tuhan lihat dalam diriku sehingga Engkau terus memilihku sebagai atlet meskipun aku bukan atlet yang berprestasi?”

Dalam perenunganku, tiba-tiba ada suara dalam hatiku yang berkata, “Semangatmulah yang membuat semuanya tidak berhenti. Belas kasih-Ku turun di saat air matamu jatuh, ketika kamu merasa tidak dihargai. Percayalah, Nak, aku ada di saat kamu melakukan pekerjaan yang tidak dilihat orang lain. Aku yang menggandengmu setiap pagi, Aku yang mengangkatmu di saat jatuh. Rencana-Ku belum selesai di dalam kamu.”

Saat itu pula aku menangis. Ternyata, selama ini ada satu Pribadi memerhatikanku. Kedamaian melingkupi hatiku ketika menyadari bahwa Tuhan selalu menopangku.

Aku merasakan penyertaan Tuhan yang begitu nyata dalam perjalananku selama menjadi atlet bulutangkis. Jika hanya mengandalkan kekuatanku sendiri, aku rasa aku tidak akan sanggup bertahan setelah berkali-kali mengalami kegagalan dan kesakitan. Ketika aku hampir menyerah, Tuhan selalu membangkitkan semangatku kembali.

Memasuki tahun 2019, aku memiliki target untuk masuk ke Pelatihan Nasional Indonesia. Aku menyerahkan semua rencanaku pada Tuhan. Apapun yang akan terjadi, aku percaya bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik (Yeremia 29:11). Aku percaya bahwa proses yang kujalani dalam pelatihan ini adalah cara Tuhan mengajarkanku tentang kegigihan, serta mempersiapkanku untuk menjadi kesaksian hidup dan memberi seluruh kemuliaan untuk Tuhan ketika aku berhasil meraih juara.

Mungkin di antara kamu ada yang merasa tidak berharga, tidak hebat, atau putus asa karena apa yang kamu usahakan belum berhasil dicapai. Tetapi bertahanlah, Tuhan mendengar setiap seruan doamu dan melihat air matamu karena Ia dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:18). Dia akan membuat segalanya indah pada waktu-Nya, dan tidak ada satu hal pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya (Pengkhotbah 3:11). Bagian kita adalah hidup dengan penuh semangat, dan melakukan semua hal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Belajar dari Daud: Bukan Kekuatan Kita Sendiri yang Mampu Mengubah Kita

Aku berjuang keras untuk berubah, aku merenung dan menyusun langkah-langkah praktis untuk kulakukan. Tapi, tetap saja tiap kali ada distraksi muncul, aku gagal kembali. Kurasa semua yang kulakukan tidak banyak membuatku berubah. Hingga suatu ketika, aku pun ditegur melalui respons Daud.