Posts

Cerpen: Hanya Sepasang Sepatu

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000, aku masih duduk kelas 2 SD Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Satu kelas hanya diisi dengan 22 siswa, termasuk aku. Bangunanya juga tidak sebagus sekarang. Dulu, temboknya bisa mengelupas sendiri karena termakan usia.

Di tempat inilah aku belajar mengenal angka dan huruf. Jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalku, sehingga aku hanya perlu berjalan kaki untuk berangkat sekolah. Aku bukan siswa yang mudah bergaul dengan teman-temanku. Lebih baik diam dan menyendiri di sudut ruangan. Penampilanku yang kumal dan rambut berantakan, membuatku minder untuk bergaul. Memulai pembicaraan saja, aku gagap.

Kadang juga mempertanyakan kenapa aku harus sekolah, jika sebenarnya orang tuaku saja kesulitan membiayai uang SPP-ku. Seingatku biayanya hanya tiga ribu rupiah per bulan, tetapi mereka tidak mampu membayarnya. Hingga sekarang nominal itu terngiang di kepalaku, karena hampir tiap bulan namaku disebut untuk menagih uang bulanan tersebut. Hal inilah yang menambah keminderanku untuk bergaul, kadang juga malas untuk sekolah.

Bisa dilihat bagaimana tertekannya seorang anak kecil yang melihat temannya bisa menikmati jajanan di kantin, sewaktu jam istirahat. Tak ada uang satu koin pun di dalam kantong, yang ada hanya perasaan iri. Kadang pertanyaanku pun muncul pada waktu itu, “Kenapa Tuhan mengizinkanku lahir di keluarga ini?” Aku tidak bisa menerima segala kekurangan yang kumiliki. Pertanyaan itu hanya tinggal sebuah penyesalan yang kubawa semasa kecil.

* * *

Seperti biasanya, hari Senin adalah hari untuk upacara. Kepala Sekolah menjadi pembina upacara dan seluruh peserta memadati halaman depan. Semua petugas tampak terlatih dalam menjalankan upacara Senin seperti biasanya. Semuanya terlihat sama seperti upacara bendera sebelumnya, kecuali suara dari sang pembina di tengah pidatonya.

“Tolong maju ke depan! Siswa yang berada di barisan kelas 2,” tangan kepala sekolah itu menunjukku. Tetapi aku tidak merasa ditunjuk dan diam di barisanku.

“Tolong siswa yang berada di barisan ketiga, sebelah kanan. Untuk maju ke depan,” lanjutnya.

Benar saja, aku dipanggil oleh kepala sekolahku selaku pembina upacara. Aku melangkah dengan sedikit gemetar. Lututku juga tidak bisa kukendalikan, meski hanya berdiri di samping kirinya. Aku hanya menundukkan kepalaku ke tanah. Betapa malunya aku tampil di depan umum seperti ini. Padahal aku juga tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, aku juga tidak memenangkan suatu perlombaan.

“Coba, anak-anakku sekalian. Lihatlah penampilan siswa kelas 2 ini,” kata Kepala Sekolah sembari tersenyum. Semua pasang mata terlihat mengamatiku lebih detail lagi. Semakin malu aku dibuatnya.

“Nak, sepatu yang kamu pakai itu belinya di mana?”

“Kata ibu, ini belinya dari pasar, Pak”

“Kamu tahu harganya berapa?”

“Tiga ribu, Pak.” Kepalaku semakin menunduk. Aku tahu harganya sangat murah. Merek pun tak tertempel di sepatuku. Hanya berbahan kain berwarna abu-abu, yang tingginya tidak sampai mata kakiku. Betapa memalukan aku ini!

“Nah, seharusnya kalian semuanya harus mencontoh anak ini! Dia mau memakai sepatu yang murah dan pantas dipakai. Sekolah bukan berarti harus berpenampilan bagus dengan memakai sepatu bagus. Kalian masih diberi kesempatan belajar di SD ini, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan malu apa yang kalian pakai, tetapi fokuslah belajar,” jelasnya dengan penuh semangat.

Aku pun dipersilahkan untuk kembali ke barisanku. Perasaan malu sedikit terangkat oleh sebuah kebanggaan. Mungkin memang murah kalau dilihat dari segi harganya, tetapi perkataan kepala sekolahku telah membuatnya menjadi mahal nilainya. Semenjak itu, aku belajar untuk mensyukuri segala kekuranganku dan melihat seperti apa yang dilihat oleh kepala sekolahku.

Mungkin ini yang dimaksud sebuah sukacita. Bukan masalah perasaan senang mendapatkan suatu yang mahal dan mewah. Tetapi bagaimana sikap hati yang mampu mensyukuri atas apa yang diterima dan memiliki sudut pandang yang dimiliki oleh Tuhan terhadapku. Mungkin memang hidupku itu penuh kekurangan, tetapi Tuhan melihatku sebaliknya seperti perkataan kepala sekolahku terhadap sepatuku.

Tuhan memberkati, Amin.

“Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur” (Mazmur 4:7).

Baca Juga:

Ketika Pekerjaan Tak Hanya Sebatas Cari Uang dan Kerja Kantoran

Aku belajar bahwa kita tidak akan pernah menemukan tempat kerja se-sempurna yang kita inginkan. Bahkan seorang petani pun harus turun menjejakkan kakinya di lumpur agar bisa bertani.

Kala Instagram Merenggut Sukacitaku

Oleh Minerva Siboro, Tangerang

Suatu ketika, aku melihat status temanku di Facebook. “Untuk saat ini tidak akan aktif dalam media sosial manapun. Seluruhnya telah menjadi racun bagiku dan mungkin hanya bisa menghubungiku lewat WA saja,” tulisnya. Dengan membaca status itu, aku menerka, mungkin saja temanku ini sedang bergumul karena ketergantungan pada media sosial. Aku lalu merefleksikan pada diriku sendiri, apakah aku mengalami yang sama?

Saat aku menjelajah Instagram, kulihat story teman-temanku berjejer. Ketika kubuka, kulihat betapa aktif dan banyaknya kegiatan yang mereka lakukan. Tiba-tiba, aku merasa kepercayaan diriku ambruk. “Kapan aku bisa seperti itu? Fotonya bagus banget! Kalau dibandingin denganku, aku sepertinya tidak ada apa-apanya. Aduh, kok aku gak seberuntung dia. Aku harus posting juga deh foto ini supaya kelihatan keren!” Tanpa kusadari, aku melewatkan waktu dua jam untuk melihat story teman-temanku dan membandingkannya dengan diriku sendiri, bahwa aku sepertinya selalu kurang jika dibandingkan dengan unggahan teman-temanku itu.

Segera kututup Instagramku dan berdoa, “Tuhan, ampunilah aku yang menganggap diriku tidak lebih baik dari orang lain, terlebih aku telah membuat Engkau terpojokkan. Engkau yang telah menciptakanku dengan sangat baik adanya, tapi aku tidak mensyukuri karya-Mu yang luar biasa dalam diriku ini.”

Aku ingat khotbah dari pendetaku saat kebaktian Minggu di gereja. Kira-kira beginilah kata-katanya, “Jikalau kamu merasa dirimu berharga (sebab Allah telah menciptakan kamu), maka hal-hal berharga lainnya (uang, jabatan, kemewahan) yang tidak kamu miliki bukanlah standar yang membuat dirimu berharga.” Jika saat ini kita tak punya baju bagus, rumah mewah, kendaraan yang keren, itu tidaklah masalah. Kepemilikan atas benda-benda tersebut bukanlah indikator seberapa berharganya diri kita. Kita berharga karena Allah yang telah menciptakan kita. “Untuk mencapai kepuasan diri, maka lihatlah betapa berharganya dirimu di hadapan Tuhan.” Dari perenungan itu, aku menyadari bahwa kunci kebahagiaan sejatinya bukanlah ada pada apa yang belum kita miliki atau apa yang ingin kita tambahkan, melainkan pada apa yang sudah kita miliki: talenta dan karunia yang telah Allah berikan.

Manusia adalah imago Dei, segambar dan serupa dengan Allah seperti tertulis dalam Kejadian 1:26a-27. Citra kita sebagai gambaran Allah adalah sebuah keistimewaan. Meski kita telah jatuh ke dalam dosa, Allah tetap menjadikan kita istimewa hingga Dia datang ke dunia dalam rupa Kristus untuk menyelamatkan kita.

Aku adalah satu-satunya di antara sekian banyak umat manusia di dunia ini. Saat aku belajar biologi, aku mengetahui bahwa tidak ada satu pun dari antara seluruh umat manusia memiliki DNA yang sama. Bahkan, dua orang yang kembar identik pun DNA-nya berbeda. Tak ada satu pun manusia yang tak berharga. Semuanya diberi talenta dan kemampuan yang berbeda-beda, supaya setiap dari kita bisa saling melengkapi di dalam persekutuan yang bertumbuh dalam Tuhan.

Aku sangat bersukacita membayangkan betapa beruntungnya aku memiliki Tuhan yang sangat besar dan menyayangiku dengan sangat istimewa. Terlebih lagi, Tuhan mengenali satu persatu umat-Nya, yang Dia bentuk dengan tangan-Nya sendiri (Yeremia 1:5). Aku masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Godaan memang selalu datang. Ilah-ilah palsu dunia ini merayuku dan menarikku untuk menjauh dari Tuhan dengan mengajakku untuk memercayai bahwa diriku kurang ataupun tidak berharga.

Menikmati media sosial dengan perspektif baru

Aku tidak menutup akun media sosialku. Menurutku, banyak hal positif yang aku dapatkan dari media sosial, seperti berita dan informasi, kondisi teman-teman lamaku, keluargaku yang jauh, bahkan bekerja pun lewat media sosial. Hal yang aku lakukan agar media sosial tidak lagi membuatku tidak bersukacita yaitu dengan cara menggunakannya sesuai porsi yang tepat. Aku juga belajar untuk mengatur waktu dan mengendalikan diriku sendiri saat bermain media sosial. Saat ini aku sangat bersukacita dengan apa yang sudah aku miliki dari Sang Pemilik itu sendiri.

Ravi Zacharias, penulis buku “The Grand Weaver” menyebut-Nya dengan istilah “Sang Penenun Agung”. Aku sangat menyukai sebutan itu. Tuhan telah “menenunku” sedemikian rupa dalam suatu tujuan dan ketetetapan yang kekal. Seperti yang dikatakan dalam Mazmur 139:13-17 “Engkaulah yang membuat bagian-bagian halus di dalam tubuhku dan menenunnya di dalam rahim ibuku. Terima kasih karena Engkau telah membuat aku dengan begitu menakjubkan! Sungguh mengagumkan kalau direnungkan! Buatan tangan-Mu sungguh ajaib—dan semua ini kusadari benar. Pada waktu aku dibentuk di tempat tersembunyi, Engkau ada di sana. Sebelum aku lahir, Engkau telah melihat aku. Sebelum aku mulai bernafas, Engkau telah merencanakan setiap hari hidupku. Setiap hariku tercantum dalam Kitab-Mu! Tuhan, sungguh indah dan menyenangkan bahwa Engkau selalu memikirkan aku. Tidak terhitung betapa seringnya pikiran-Mu tertuju kepadaku. Dan ketika aku bangun pada pagi hari, Engkau masih juga memikirkan aku.” (FAYH).

We are so precious, kita sungguh berharga.

Baca Juga:

4 Jurus untuk Mengatasi Kekhawatiran

Mengatasi khawatir itu susah-susah gampang. Kita tahu janji Tuhan, tapi hati ini kerap menolaknya. Yuk simak 4 jurus ini untuk mengatasinya.

Kebahagiaan Sejati Hanya di Dalam Yesus

Oleh Pesta Manurung, Pekanbaru

Jika ditanya apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita? Tentu jawabannya bisa beragam. Ada yang menjawab sumber kebahagiaannya adalah memiliki tabungan berlimpah, rumah, mobil, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat dan pintar, bahkan pensiun di masa tua dengan pemasukan yang terus berjalan.

Baru-baru ini, aku menonton sebuah video yang berjudul “Adulterous Woman, The Life of Jesus.” Video ini diambil dari Injil Yohanes 8:1-11. Dalam video, terlihat kaum Farisi membawa seorang wanita yang ketahuan berzinah ke hadapan Yesus. Mereka berniat mencobai Yesus, dengan bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita yang telah berzinah ini? Musa berkata kalau ada orang yang ketahuan berzinah, maka akan dilempari dengan batu sampai mati.” Yesus menjawab, “Siapa di antara kamu yang tidak berdosa hendaklah dia yang melempar terlebih dahulu.” Satu persatu mereka menjatuhkan batunya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Aku membayangkan si wanita yang hendak dihukum tentu sangat ketakutan. Hidupnya sedang terancam mengingat hukum yang berlaku pada masa itu, wanita yang kedapatan berbuat zinah akan dirajam sampai mati. Satu-satunya yang menentukan hidupnya adalah keputusan dari Yesus. Jawaban Yesus pun tak terduga, “Pergilah, Aku pun tidak akan menghukum engkau, jangan berbuat dosa lagi.”

Cerita dalam video ini sebenarnya mengisahkan hidup kita semua, meskipun dalam konteks ini secara khusus diceritakan wanita yang berdosa karena berzinah. Namun terlepas dari jenis dosa yang dilakukan oleh si wanita ini, bukankah kita semua berdosa?

Aku pernah berada di posisi seperti si wanita yang kedapatan berzinah itu. Tahun 2013, ketika aku duduk di bangku perkuliahan, aku menghadiri suatu ibadah di kampus. Firman yang aku nikmati saat itu berbicara bahwa sesungguhnya aku adalah manusia yang berdosa. Segala kebaikan yang aku lakukan tidak dapat menyelamatkanku. Aku harusnya dihukum karena segala keberdosaan yang telah aku lakukan. Tetapi saat itu aku mendengar ada Pribadi yang berbicara kepadaku, “Aku mengampuni dosa-dosamu. Aku menerimamu, kembalilah kepada-Ku. Hanya Aku yang berhak menghakimimu, dan Aku tidak akan menghukummu.” Aku meyakini bahwa Roh Kuduslah yang bekerja saat itu, sehingga aku bisa mendengarkan Tuhan berbicara kepadaku. Momen yang aku ingat sampai saat ini. Momen di mana aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Allah begitu mengasihi kita. Kendati kita berdosa, Dia tidak menghukum kita setimpal. Dia justru mengampuni kita. Bukankah kita berulang kali jatuh ke dalam dosa? Tidak terhitung berapa kali kita berdosa. Setiap kita berdosa, kita bisa mengingat perkataan Yesus kepada wanita tersebut, “Pergilah Aku tidak menghukum engkau.” Namun, ini bukan berarti kita diperbolehkan untuk jatuh berulang kali ke dalam dosa. Perkataan Yesus dengan wanita itu diakhiri dengan “Jangan berbuat dosa lagi!” Kalimat ini memberikan kita pengertian bagaimana Yesus mengharapkan kita untuk meninggalkan dosa kita.

Inilah yang menjadi kebahagiaan sejati bagi aku pribadi, mengetahui bahwa Dia yang berhak menghukum aku justru berkata, “Pergilah, Aku tidak menghukum engkau.” Artinya, Dia menerimaku di tengah keberdosaanku dan memaafkanku yang penuh dengan dosa ini.

Baca Juga:

Tuhan, Mengapa Engkau Mengirimku Ke Padang Gurun?

Di saat kebanyakan temanku diterima di kampus negeri, aku melanjutkannya di kampus swasta, dan di jurusan yang tak kusuka pula. Tuhan, kenapa aku harus ke tempat ini? Keluhku pada-Nya.

Apa Pun Ucapan Syukur yang Bisa Kita Ucapkan, Ucapkanlah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Satu bulan yang lalu, saat aku benar-benar berada pada titik jenuh akibat script software pekerjaanku yang selalu menunjukkan kegagalan, aku mendapatkan pesan dari grup WhatsApp yang menginfokan bahwa bapak dari salah satu kakak seniorku dipanggil Tuhan. Rasa dukaku dengan sekejap mengalihkan rasa jenuhku. Aku mengalami pengalihan rasa ini, karena beberapa bulan terakhir, aku selalu melihat unggahan Instagram story beliau yang menampilkan betapa beliau mengasihi bapaknya. Mungkin beberapa orang menganggap perasaanku ini berlebihan, namun aku yakin bagi kamu yang sangat merasakan kasih dari sosok bapak, pasti kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan.

Kakak seniorku ini sangatlah lemah lembut dan juga baik hati, bahkan kepadaku yang hanya sebatas juniornya. Pernah suatu ketika, Instagram story-nya menunjukkan betapa beliau merindukan kakak kandungnya yang telah dipanggil Tuhan tepat di hari ulang tahunnya yang lalu, 25 Juni 2019, dan saat ini 26 Mei 2020 Tuhan memanggil pula bapak yang dikasihinya.

Minggu-minggu sebelum kepergian bapaknya, beliau mengabadikan video saat beliau ke supermarket bersama almarhum. Hati ini pilu, bukan hanya karena melihat kedekatan kakak ini dengan almarhum, namun juga karena almarhum yang sangat romantis kepada beliau. Keromantisannya ini diwujudkan dalam bentuk kehadiran. Hal yang sepenglihatanku sangat jarang, ketika seorang bapak mau menemani anak perempuannya ke supermarket.

Selain itu, bentuk keromantisan almarhum lainnya yaitu ketika almarhum membantu kakak ini memasak dan juga menemani beliau kerja dari rumah alias work from home. Padahal, pada saat itu kondisi almarhum sudah dalam keadaan sakit, namun itu tidak mengurangi kasih sayang almarhum kepada putrinya.

Instagram story nan indah berubah menjadi story yang menyayat hati. Tepatnya 2 minggu lalu, story beliau menampilkan ruang ICU dengan tulisan “Cepat sembuh ya Pah”. Ruang ICU dan kata-kata cepat sembuh adalah hal yang sensitif untuk kulihat dan kudengar. Aku punya trauma tersendiri dengan dua hal ini. Dua tahun yang lalu, bapakku sakit berhari-hari karena salah satu telapak tangannya bengkak dan bernanah. Mama dan kakakku sudah mengantarkannya ke salah satu rumah sakit dan dokter berkata “tidak apa-apa, tidak ada penyakit yang berat”.

Namun, embusan kabar baik tersebut tidak sesuai dengan realita, bukannya semakin membaik, kondisi bapakku malah semakin memburuk. Sampai pada suatu hari, beliau yang adalah pria teraktif yang kukenal, berubah menjadi seseorang yang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tak tega melihatnya, akhirnya kakak dan mamaku bergegas kembali periksa ke rumah sakit lain dan dokter rumah sakit tersebut berkata bahwa bapakku mengidap penyakit gula dan harus segera dioperasi.

Melihatnya masuk ke ruang operasi hanya melalui sebuah layar gawai, studi yang berat untuk aku tinggalkan, dan jarak yang sulit untuk aku gapai adalah momen yang sangat menyayat hati. Namun pada akhirnya, aku sangat bersyukur kalau Tuhan masih memberi bapakku kesembuhan.

Alih-alih stres karena kejenuhanku mengedit script yang selalu gagal, aku mencoba mengucap syukur dari sisi yang lain, yaitu mengucap syukur ketika Tuhan masih mengizinkan bapakku untuk kembali sehat. Tidak sampai di situ, aku juga sangat bersyukur, keesokan harinya ketika hari masih begitu dini, ketika mungkin di saat para pelayat telah tiada, kakak seniorku masih sempat-sempatnya membagikan firman melalui Instagram story-nya dengan cara menangkap layar renungan harian yang beliau nikmati, walau memang judulnya tetap memilukan, “Mengapa aku? mengapa Tuhan memilihku?”

Ketika aku membaca judul ini, aku pun refleks bertanya kepada Tuhan “Iya ya Tuhan, mengapa beliau yang harus melalui ini? Mengapa harus orang baik yang merasakan penderitaan seberat ini? Adiknya yang memiliki penyakit jiwa, kakaknya yang belum 1 tahun tutup usia, dan sekarang bapaknya lagi yang Engkau panggil”.

Sambil bertanya-tanya, aku tetap mencoba membaca tangkapan layar renungan harian tersebut. Ternyata, Tuhan menguatkan beliau dari kisah Ayub. Ayub yang adalah hamba Allah yang setia dan sangat baik (Ayub 1:8), tetapi yang hidupnya juga amat sangat menderita. Kisah Ayub mengajarkan kalau hidup tidak selalu berdasarkan perumpamaan tabur tuai, menabur baik akan menuai baik, dan sebaliknya. Namun, Ayub mengajari kita bahwa “Iman itu jangan hanya dilihat dari yang terlihat, bukan juga dengan perasaan. Namun, iman adalah meyakini sepenuhnya bahwa tidak ada segala sesuatu pun di luar kendali-Nya, walau kadang tampak tidak adil sekalipun.” Membaca ini aku langsung membatalkan pertanyaanku kepada Tuhan dan mengimani kembali iman yang dimiliki Ayub dari kisah hidupnya.

Aku bersyukur tulisan ini diizinkan kakak seniorku untuk aku bagikan. Beliau sangat senang jikalau dukanya bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Apalagi, jika kita semua mau menguatkan beliau dalam doa. Walau memang mungkin kisah hidup kita belum ada apa-apanya dibanding kisah Ayub dan kisah beliau, tetapi aku yakin setiap dari kita pasti pernah berada di posisi bertanya-tanya seperti itu, “Mengapa harus aku?”, baik itu di saat sedih atau di saat jenuh. Namun, lewat kisah Ayub dan juga kisah kakak seniorku, aku berharap ini bisa menjadi kekuatan bagi kita untuk sama-sama berjuang keluar dari rasa kesedihan atau kejenuhan, dengan cara terus beriman bahwa segala sesuatu tidak ada di luar kendali-Nya dan juga mengucap syukur dengan keberadaan orang-orang yang kita kasihi.

Apa pun ucapan syukur yang bisa kita ucapkan, ucapkanlah.

Baca Juga:

Lahirnya Kedamaian Karena Pengampunan

Aku dan temanku mengalami salah paham. Akibatnya, relasi kami sempat mendingin. Jujur, saat itu aku ingin menghindar saja, tapi Tuhan tak ingin aku merespons masalah ini dengan egois.

Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

Oleh Blessdy Clementine, Jakarta

Sudah lebih dari tiga minggu, tagar #DiRumahAja memenuhi hampir semua unggahan yang melintas di media sosialku. Sudah lebih dari tiga minggu pula aku menjalani perkuliahan secara online. Keadaan yang memaksaku untuk beradaptasi secara tiba-tiba ini—ditambah lagi dengan ketidakpastian akan kapan semua ini akan berakhir—membuatku merenung. Ketika tempat kita berpijak mulai goyah dan membuat kita tidak seimbang, sudah pasti gerakan refleks kita adalah mencari pegangan, bukan? Aku menghela nafas dan segera meraih Alkitabku.

Karena tidak tahu bagian mana yang harus kubuka dalam Alkitab, aku berdoa kepada Tuhan agar Roh Kudus mengarahkanku pada perenungan yang dapat memberiku kekuatan yang kubutuhkan tengah-tengah situasi ini. Aku membuka aplikasi Alkitab favoritku dan mulai menelusuri berbagai pilihan topik renungan yang terpampang.

Mataku tertuju pada topik Hope, harapan. Aku menemukan renungan yang ditulis oleh Craig Groeschel, seorang pendeta senior asal Amerika, yang berjudul Hope In The Dark, harapan di tengah kegelapan. Tanpa berpikir dua kali, aku memilihnya untuk menjadi renunganku untuk beberapa hari ke depan.

Tuhan, di manakah Engkau?

Kurasa, di tengah keadaan yang memukul seluruh dunia seperti saat ini, banyak orang yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Dalam imajinasiku, jika Tuhan bekerja di sebuah ruangan kantor, saat ini Tuhan sedang menutup tirai jendela dan mengunci pintu, lalu memasang tulisan “sedang pergi.” Tidak tahu ke mana dan kapan kembali.

Cepat-cepat kukibaskan ilustrasi aneh itu. Sebab pada kenyataanya, Tuhan berjanji Dia akan selalu beserta dengan kita. Lalu, mengapa Dia seakan-akan tidak melihat semua yang terjadi? Mengapa Dia seolah diam saja?

Lebih dari 2,600 tahun yang lalu, Habakuk mempertanyakan hal yang sama. Dia bertanya-tanya mengapa Allah seakan-akan diam dan tidak berbuat apa-apa dalam menghadapi kejahatan dan penindasan yang dilakukan oleh orang-orang Yehuda. Dia mengutarakan keluhannya kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?” (Habakuk 1:2).

Menelusuri kitab Habakuk pasal 1:1-4, kita dapat melihat Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Habakuk sangat mengasihi Tuhan, tetapi justru karena kasihnya yang besar inilah dia dengan penuh hormat melontarkan pertanyaan-pertanyaannya tersebut.

Dalam perikop selanjutnya, Tuhan mengatakan bahwa Dia yang telah membangkitkan orang Kasdim tetapi Dia juga akan menghukum orang Kasdim atas kesalahannya. Jawaban Tuhan membuat Habakuk kembali bergumul: mengapa Allah memakai orang Kasdim (bangsa Babel) yang jauh lebih jahat dari bangsa Yehuda untuk menghukum Yehuda?

Di sisi lain dari keraguannya, Habakuk justru bertumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dalam iman. Mungkin, imannya tidak bisa bertumbuh semantap itu apabila dia tidak merasakan semua keraguan itu.

Jika kita memahami segala hal secara penuh dan sempurna, bukankah kita tak lagi membutuhkan iman? Aku sangat menyukai Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Jika kita belum melihat apa-apa, dengan kacamata iman kita dapat dengan yakin menyatakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi karena kita mengenal siapa Tuhan kita. Karena kita tahu karakter-Nya dan kebesaran-Nya, kita dapat percaya bahwa Dia selalu memegang kendali atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Dengarkan dan nantikan

Habakuk tidak mencurahkan isi hatinya lalu memalingkan wajahnya dari Tuhan, seperti orang yang sedang ngambek. Justru, usai menanyakan segalanya, Habakuk memposisikan dirinya untuk mendengarkan suara Tuhan. Dia berkata, “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” (Habakuk 2:1).

Craig Groeschel menuliskan bahwa terkadang, alasan mengapa kita tak kunjung memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita adalah karena kita kurang bersedia untuk berhenti sejenak dan sabar menunggu sampai Tuhan menyatakan diri-Nya.

Ketika masih duduk di sekolah minggu, kita sering menyanyikan lagu “Baca kitab suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh”. Aku mulai menyadari bahwa untuk mengenal Yesus dua hal wajib yang harus berjalan beriringan dan membutuhkan ketekunan adalah berdoa dan membaca firman-Nya.

Setelah berbicara dan mengungkapkan isi hati dan memanjatkan permohonan syukur kita pada Tuhan, ketika membaca firman kita mendengarkan arahan-Nya. Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Apabila membaca firman hanya menjadi sebuah rutinitas belaka sehingga kita tidak benar-benar menyediakan waktu dan ruang bagi Tuhan untuk memberikan pewahyuan tertentu kepada kita, bisa-bisa kita melewatkan banyak hal yang luar biasa!

Jika kita bersedia meluangkan—bukan hanya menyisakan—waktu untuk mengenal Tuhan dan mendengar suara-Nya, Tuhan pasti akan menghargai usaha kita mencari wajah-Nya. Menunggu memang tidak selalu menyenangkan, tetapi Tuhan berjanji memberikan kekuatan baru bagi kita yang menanti-nantikan Dia (Yesaya 40:31).

“Tetapi Tuhan…”

Ketika kita sudah berdoa berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, tetapi keadaan yang kita doakan tampaknya tidak menampilkan perubahan yang kita harapkan… “apakah kita masih bisa percaya bahwa Tuhan takkan mengingkari janji-Nya? Mungkinkah, ketekunan kita justru membuat kita menjadi sangat dekat dengan Tuhan sehingga kita dapat tetap mengasihi dan melayani-Nya meskipun ada kekecewaan di hati kita?

Pertanyaan-pertanyaan dalam renungan itu cukup membuatku tertohok. Tetapi, menurutku respons Habakuk amatlah menarik. Dua kata pertama yang diucapkan Habakuk dapat menjadi pengingat kita dalam perjalanan iman kita menuju kepercayaan penuh akan kasih dan kuasa-Nya: “Tetapi Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” (Habakuk 2:20).

Keadaan di sekitar kita mungkin terlihat mencekam dan mengerikan, tetapi Tuhan memegang kendali penuh. Kita mungkin merasa sudah melakukan segalanya yang kita bisa untuk masuk ke universitas yang kita impikan dan tak kunjung berhasil, tetapi Tuhan tetap punya rencana yang terbaik. Lutut kita mungkin terasa sakit karena kita terus berdoa tapi seolah tak mendapat jawaban, tetapi Tuhan tetap mendengarkan dan bekerja untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Biarlah keteguhan hati kita akan karakter Tuhan memberi kita penghiburan dan kekuatan untuk melewati setiap badai hidup kita.

Bersukacita karena Tuhan

Aku benar-benar terinspirasi oleh respons nabi Habakuk. Pengalaman bersama Tuhan membuat dia bisa melihat keadaannya dari perspektif Tuhan, dengan penuh iman dan penyerahan penuh pada kehendak Tuhan. Dalam pasal 3, kita dapat melihat Habakuk memuji dan memuliakan Tuhan ketika dia menanti-nantikan Tuhan untuk menggenapi janji-Nya.

“Tuhan, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya Tuhan, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!” (Habakuk 3:2)

Dari Habakuk aku belajar, untuk tidak bersungut-sungut dalam penantian kita. Sebaliknya, kita dapat mengingat perbuatan dan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita dengan penuh sukacita. Kita dapat mengucap syukur akan kebaikan-Nya yang tak berkesudahan, bukan hanya yang sudah-sudah, melainkan juga untuk yang akan datang.

Aku juga melihat bagaimana iman Habakuk tidak tergoyahkan oleh situasi yang ada di sekelilingnya.

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Habakuk 3:17-18).

Luar biasa, sukacita Habakuk karena Tuhan lebih daripada sukacita Habakuk akan berkat dari Tuhan. Aku tersadar, selain karena kebaikan Tuhan yang sudah kita alami sebelumnya, kita dapat bersukacita karena janji Tuhan yang pasti akan Dia penuhi bagi kita. Namun, meskipun keinginan kita tidak diwujudkan sekalipun, bersyukurlah karena kehendak-Nya bagi kita selalu mendatangkan masa depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).

Alkitab berisi banyak sekali panggilan untuk Tuhan: kota benteng, gunung batu, batu karang, menara yang kuat, dan lain sebagainya. Namun, yang kutahu pasti adalah semua itu menunjukkan betapa kuat dan kokohnya Tuhan kita. Di tengah goncangan yang kita alami, kita tahu pada siapa kita dapat berlindung dan apa yang harus menjadi pedoman kita. Tak lain tak bukan, hanya Yesus dan firman-Nya, yang tak akan pernah tergoncangkan. Tuhan memberkati kita semua.

“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)” (Habakuk 3:19).

Baca Juga:

4 Cara untuk Menentramkan Hati Sahabat dalam Masa Sulitnya

Menjadi seorang kawan di kala susah bukanlah hal yang mudah. Kadang kita malah jadi menggurui, meskipun maksudnya baik.

Alkitab, melalui kisah para sahabat Ayub punya pesan yang baik buat kita. Yuk baca artikel ini.

Jawaban Doa yang Tak Terduga

Oleh Stephanie*

Jika doaku dikabulkan Tuhan sesuai dengan apa yang kuinginkan, tentu aku merasa senang. Namun, ada sebuah peristiwa dalam hidup yang bagiku unik. Tuhan menjawab doaku lebih baik dari yang kuharapkan, tapi aku malah tidak bersukacita karenanya.

Tiga tahun lalu, aku mendoakan seorang temanku. Dia orang Kristen, tapi dia dan orang tuanya tidak pernah ke gereja lagi setiap minggunya. Dia sempat datang beberapa kali, lalu menghilang sampai sekarang. Aku sempat mendengar sedikit cerita darinya, bahwa dia bergumul dengan keluarganya, dan dia juga belum sungguh-sungguh mengenal Yesus. Kuajak dia untuk ikut kebaktian umum, tapi dia lebih memilih untuk menemani anaknya ikut sekolah Minggu saja, lalu pulang. Kuajak ikut doa pagi, tapi dia ketiduran. Aku pun berdoa agar temanku ini bisa mengenal Yesus lebih sungguh, kebaktian di gereja, dan jadi orang Kristen yang setia.

Di awal tahun 2020, Tuhan menjawab doaku, bahkan jawabannya lebih baik dari yang kuharapkan. Ayah dari temanku itu datang ke kebaktian umum di gereja. Dia memberi dirinya untuk didoakan dan memutuskan untuk percaya pada Yesus. Minggu depannya, dia mengajak istrinya untuk ikut kebaktian. Sampai saat ini, kedua orang tua temanku itu setia dan tidak pernah absen ke gereja.

Sudah sepatutnya aku bersukacita. Di saat aku mendoakan agar temanku kembali ke gereja, Tuhan malah mengirimkan dua orang tuanya untuk datang ke gereja lebih dulu. Tapi, bukannya bersukacita dan semakin berpengharapan bahwa Tuhan akan melakukan hal yang sama pada temanku, aku malah bertanya-tanya. Kok Tuhan menjawab doaku lain ya?

Namun aku teringat penggalan firman Tuhan yang berkata bahwa jalan Tuhan bukanlah jalan kita (Yesaya 55:8-9). Aku memang rindu agar temanku kembali pada Tuhan dan gereja. Aku mengajaknya, mendoakannya, namun Tuhan punya jalan-Nya sendiri. Tuhan jawab doaku dengan cara menjamah kehidupan keluarga temanku, yang tentunya ini sangat berbeda dari pemikiranku.

Dari peristiwa yang nampaknya sederhana ini, aku belajar satu hal. Aku perlu mengakui kedaulatan Tuhan saat menaikkan doa, permohonan, atau pun rencanaku pada-Nya. Aku tak perlu kecewa akan apa pun jawaban Tuhan atas doaku, Tuhan selalu dapat dipercaya. Namun, agar aku bisa mengakui kedaulatan-Nya, aku perlu bersikap rendah hati dan berserah akan apa pun jawaban Tuhan.

Meskipun jawaban Tuhan berbeda dari ekspektasiku, aku belajar percaya akan rencana-Nya, yakin bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu. Aku percaya, Tuhan akan menyentuh hati temanku dan membawanya untuk kembali bersekutu bersama saudara-saudari seiman.

Dan, di samping belajar mengakui kedaulatan-Nya, aku juga belajar untuk bersukacita atas jawaban doa yang terbaik dari Tuhan, sekalipun itu berbeda dari harapanku. Rasul Paulus pernah mendoakan jemaat Efesus agar bertumbuh dalam iman (Efesus 3:16). Rasul Paulus mendoakan jemaat di Efesus dengan tekun, padahal waktu itu dia sedang dalam tawanan pasukan Romawi. Namun, satu generasi kemudian Kitab Wahyu menuliskan bahwa orang-orang Kristen di Efesus tak lagi mencintai Kristus (Wahyu 2:1-7). Jemaat telah jatuh dalam dosa. Meski demikian, kita tahu bahwa buah dari pelayanan Paulus tak hanya tumbuh bagi jemaat di Efesus, Kabar Baik tentang Tuhan Yesus juga tersiar ke banyak penjuru. Tuhan menjawab doa Paulus, sesuai dengan rencana-Nya yang agung.

Kita belajar meyakini, bahwa segala sesuatu yang Tuhan kerjakan, entah itu sesuai atau tidak dengan harapan kita, adalah yang terbaik. Tuhanlah Sang Penulis Agung, kisah hidup kita ditulis-Nya dengan amat baik.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Paskah dalam Masa-masa Sulit

Kita tidak menampik, hari ini kita menyambut Paskah dalam situasi yang tidak seperti biasanya. Setiap hari kita mendengar berita tentang karantina dan lockdown. Pikiran kita secara alami berkutat seputar pandemi ini. Namun, ambillah waktu sejenak. Inilah masa untuk mengingat kembali penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Iman yang Tabah

Jumat, 28 Februari 2020

Iman yang Tabah

Baca: Kisah Para Rasul 27:27-38

27:27 Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan.

27:28 Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa.

27:29 Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang.

27:30 Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan.

27:31 Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.”

27:32 Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut.

27:33 Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: “Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa.

27:34 Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.”

27:35 Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan.

27:36 Maka kuatlah hati semua orang itu, dan merekapun makan juga.

27:37 Jumlah kami semua yang di kapal itu dua ratus tujuh puluh enam jiwa.

27:38 Setelah makan kenyang, mereka membuang muatan gandum ke laut untuk meringankan kapal itu.

Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan.—Roma 5:3

Iman yang Tabah

Ernest Shackleton (1874-1922) pernah gagal saat memimpin ekspedisi untuk melintasi Antartika pada tahun 1914. Ketika kapalnya yang diberi nama “Ketabahan” terperangkap es tebal di Laut Weddell, perjalanan tersebut berubah menjadi lomba untuk bertahan hidup. Tanpa dapat berkomunikasi sama sekali dengan dunia luar, Shackleton dan krunya menggunakan sejumlah sekoci untuk melakukan perjalanan ke pantai terdekat di Pulau Gajah. Sementara sebagian besar kru tetap bertahan di pulau tersebut, Shackleton dan lima awak kapal menempuh perjalanan sejauh 1.287 km selama dua minggu menyeberangi samudra sampai tiba di Georgia Selatan untuk meminta bantuan bagi mereka yang masih tertinggal di pulau. Ekspedisi “gagal” tersebut berubah menjadi catatan kemenangan dalam buku-buku sejarah ketika semua anak buah Schakleton selamat, berkat keberanian dan ketabahan mereka.

Rasul Paulus mengerti apa artinya tabah. Dalam pelayaran menuju Roma untuk menghadapi persidangan karena imannya kepada Yesus, Paulus mengetahui dari malaikat bahwa kapalnya yang diamuk badai akan tenggelam. Namun, Paulus tetap memberi semangat kepada semua orang yang bersamanya di kapal itu, karena Allah telah menjanjikan mereka semua akan selamat meskipun kapalnya karam (Kis. 27:23-24).

Ketika melapetaka datang, kita cenderung mengharapkan Allah akan segera membereskan semuanya. Namun, Allah memberikan iman agar kita tetap tabah, bertekun, dan bertumbuh. Paulus menulis kepada jemaat di Roma, “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (ketabahan dalam terjemahan lain)” (Rm. 5:3). Kita yang mengetahui hal tersebut dapat menguatkan satu sama lain untuk tetap mempercayai Allah di masa-masa sulit.—LINDA WASHINGTON

WAWASAN
Perjalanan Paulus dari Yerusalem ke Roma menghabiskan waktu sekitar tiga tahun, dimulai dari penangkapannya di Yerusalem—yang terjadi jauh di Kisah Para Rasul 21:27! Penangkapan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan Paulus, tetapi karena sesama orang Yahudi yang membuat kerusuhan. Penangkapannya hampir berujung pada pencambukan (22:25-29) dan menyebabkan ia harus menjalani serangkaian persidangan oleh pejabat-pejabat Romawi—tetapi tidak satu pun yang berhasil menemukan kesalahan Paulus (26:30-32). Sebagai bagian dari hak warga negara Romawi, Paulus naik banding ke Kaisar, dan pilihan tersebut mengirimnya ke perjalanan yang di dalamnya termasuk peristiwa karam kapal dalam Kisah Para Rasul 27.—Bill Crowder

Bagaimana biasanya kamu menanggapi kesulitan yang terjadi? Bagaimana kamu dapat memberikan dorongan kepada seseorang yang sedang menghadapi masa-masa sulit?

Bapa Surgawi, aku membutuhkan pertolongan-Mu untuk tetap tabah, sekalipun aku merasa sulit untuk melakukannya.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 20-22; Markus 7:1-13

Handlettering oleh Catherine Tedjasaputra

Memikirkan Sukacita

Rabu, 26 Februari 2020

Memikirkan Sukacita

Baca: Filipi 4:4-9

4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!

4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! —Filipi 4:4

Memikirkan Sukacita

Dalam buku koleksi wawancara Bill Shapiro yang berjudul What We Keep (Apa yang Kita Simpan), setiap orang bercerita tentang satu benda yang mereka anggap sangat penting dan membawa kesenangan hingga orang itu tidak mau berpisah darinya.

Membaca hal tersebut membuat saya merenungkan apa benda milik saya yang sangat berarti dan membuat saya gembira. Salah satunya adalah selembar kartu berumur empat puluh tahun yang berisi resep tulisan tangan ibu saya. Barang lainnya adalah cangkir teh merah jambu milik nenek saya. Orang lain mungkin menyimpan kenangan berharga—pujian yang membesarkan hati, gelak tawa cucu, atau pencerahan yang mereka dapatkan dari Alkitab.

Namun, sering kali, apa yang kita simpan dalam hati justru hal-hal yang membuat kita sangat tidak bahagia. Kekhawatiran—memang tersembunyi, tetapi siap melanda kapan saja. Kemarahan—tidak kelihatan di permukaan, tapi sewaktu-waktu siap meledak. Kebencian—diam-diam merusak dan mengotori pikiran kita.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Rasul Paulus mengajarkan cara “berpikir” yang lebih positif. Ia mendorong jemaat agar senantiasa bersukacita, baik hati, dan membawa segala keinginan dalam doa kepada Allah (flp. 4:4-9).

Dorongan Paulus tentang apa yang sebaiknya kita pikirkan dapat menolong kita untuk melihat bahwa kita bisa mengenyahkan pikiran-pikiran buruk dan mengizinkan damai sejahtera Allah memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (ay.7). Pada saat pikiran kita dipenuhi dengan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, penuh kebajikan, dan patut dipuji maka damai sejahtera-Nya akan memerintah dalam hati kita (ay.8).—Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Tidak seperti surat-suratnya yang lain, surat Paulus kepada jemaat di Filipi tampaknya bukan sebuah respons terhadap krisis yang serius atau konflik dalam jemaat (hanya satu konflik relasi yang disebutkan di 4:2). Sebaliknya, motivasi utama Paulus sepertinya adalah untuk menyampaikan ucapan syukurnya untuk dukungan dari orang-orang percaya di Filipi (ay.14-18) dan juga untuk mendukung dan bersukacita bersama komunitas orang beriman yang sangat dikasihinya. Suasana surat tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki jiwa persaudaraan dan kepercayaan dengan komunitas orang beriman tersebut, yang ia deskripsikan sebagai “sukacitaku dan mahkotaku” (ay.1). Paulus merasakan kesatuan yang mendalam dengan orang-orang percaya ini sebagai “mendapat bagian dalam kasih karunia” (1:7). Ia tidak berfokus pada menegur kelemahan-kelemahan dalam jemaat tersebut, melainkan ia dapat dengan sukacita mendorong mereka untuk mendalami Injil Kristus dalam hidup mereka (ay.27) dan belajar untuk mengalami sukacita dalam Kristus bahkan di tengah penderitaan (ay.29).—Monica Brands

Pikiran buruk apa saja yang terus mengisi pikiran dan hatimu? Satu cara apa yang bisa kamu terapkan agar pikiranmu terisi dengan hal-hal yang baik tiap hari?

Ya Allah, arahkanlah pemikiranku hari ini, sembari Engkau menggenggam hati dan hidupku dalam tangan kasih-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 15-16; Markus 6:1-29

Handlettering oleh Tora Tobing

Yang Kuinginkan Untuk Natal Hanyalah…

Oleh Jefferson, Singapura

Gambar meme “Namaku Jeff” yang menyembul di antara tumpukan kado seolah-olah memang diletakkan demikian untuk menarik perhatianku. Di komisi remaja, kami memang sedang mengadakan pertukaran kado untuk merayakan Natal, tapi tidak kusangka pemberi kadoku memutuskan untuk mengemas hadiahnya sejelas itu. Melirik ke para remaja yang kumuridkan dan pemuda-pemudi lain yang melayani di komisi remaja, daftar tersangka pemberi kadoku langsung mengerucut ke beberapa nama.

Waktu membuka kado pun tiba. Jantungku berdebar penuh antusiasme. Si pemberi kado dengan cerdik membungkus kadonya dengan beberapa lapis koran. Rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi. Ia pasti memilih kado yang sangat cocok untukku! Lapisan demi lapisan kertas bungkusan kubuka hingga tiba pada isi kadonya.

Seketika aku tertegun.

Aku memelototi benda yang seharusnya adalah hadiah untukku. Dan, bukan hanya aku saja, satu ruangan nampaknya ikutan sunyi senyap, menunggu dan memperhatikan dengan saksama apa yang akan menjadi reaksiku terhadap “kado” yang kupegang. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Aku seperti menemukan granat tangan yang setelah kuperiksa lebih lanjut, ternyata sudah kehilangan pin pengamannya. Tentu saja bom itu meledak beberapa detik kemudian. Tapi bukan hadiahnya; aku yang meledak dalam murka putih-panas.

“APA-APAAN INI?! MEMANGNYA INI SEBUAH LELUCON?!”

Seperti korban ledakan bom yang setengah sadar setelah bom itu meledak, aku hanya dapat mengingat sekelebat dari apa yang terjadi setelahnya. Aku berusaha mengendalikan amarah semampuku sambil meletakkan “hadiah” itu sejauh mungkin dariku. Beberapa orang mencoba menghibur. Aku mengingat para remaja dan pemuda-pemudi lainnya mendapatkan hadiah yang layak. Wajah mereka terlihat gembira sementara aku hanya duduk di bangku, memasang senyuman terpaksa di tengah-tengah badai yang berkecamuk hebat di dalam hatiku.

Sambil menyaksikan yang lain membuka kado, mendadak ada suara yang berbisik dalam hatiku, “Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dari Natal?”

Pertanyaan itu mengusikku selama beberapa waktu, bahkan setelah pemberi kadoku yang usil meminta maaf kepadaku dengan sungguh-sungguh, bahkan setelah aku mengampuninya dengan penuh, bahkan setelah aku menerima kado pengganti darinya, bahkan setelah aku melewati beberapa acara tukar kado berikutnya. Usikan itu baru berhenti ketika aku menemukan jawabannya dari tempat yang paling tidak kuduga: acara Natal Sekolah Minggu yang turut kupersiapkan sebagai salah satu panitia.

“Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dari Natal?”

Di tahun-tahun sebelumnya, adalah drama yang diperankan oleh guru-guru yang membedakan acara Natal Sekolah Minggu dengan pelajaran biasa, entah dalam bentuk cerita kelahiran Yesus, adaptasi buku cerita anak, atau percakapan dengan seorang anak gembala. Tapi, tidak ada drama tahun ini. Oleh karena keterbatasan waktu dan pelayan, panitia memutuskan untuk mengadakan acara Natal yang sederhana namun bermakna. Berangkat dari senandung lagu “All I Want for Christmas is You” setelah sekitar dua jam mendiskusikan tema tanpa hasil, kami di tim panitia menyadari bahwa judul lagu itu dapat menjadi pelajaran yang baik bagi anak-anak.

“Apa yang kamu inginkan untuk Natal?” Dunia mengajarkan anak-anak (dan juga kita) untuk mengharapkan hadiah yang bagus, santapan yang mewah, serta perjalanan liburan yang menyenangkan untuk Natal. Semuanya itu baik, tapi tidak menggambarkan makna Natal dengan utuh. Di balik segala gemerlap gemilang Natal adalah kedatangan pertama yang sederhana daripada Yesus Kristus, sang Tuhan dan Juruselamat, untuk memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban penebusan atas manusia berdosa. Dibandingkan dengan Tuhan Yesus, kado, makanan, maupun liburan kehilangan daya tariknya. Tidak ada hadiah yang lebih baik dan berharga daripada Tuhan Yesus. Berangkat dari perenungan ini, kami di tim panitia ingin anak-anak Sekolah Minggu pertama-tama dan terutama menginginkan sang Pemberi dan Sumber dari segala berkat yang mereka akan terima di masa Natal ini.

Di saat yang sama, kami memahami konteks Singapura, “kota ke mana [kami Tuhan] buang” (Yeremia 29:7) yang aman dan nyaman serta dapat membatasi pemahaman anak-anak terhadap tema di atas. Bagaimana mereka dapat mengerti betapa berharga dan menakjubkannya kedatangan pertama Tuhan Yesus kalau mereka terus diimingi-imingi dengan hal lain sebagai makna utama dari Natal? Dalam rahmat Tuhan, kami mengantisipasinya dengan menunjukkan kepada anak-anak realita penganiayaan terhadap orang Kristen di belahan bumi lain di mana Injil Kristus dilarang dibagikan. Anggota-anggota tubuh Kristus yang lain ini memahami dengan jelas (dan sangat mungkin lebih dalam dari kita) signifikansi dari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama. Begitu besar dampak dari makna sesungguhnya Natal bagi kehidupan mereka sehingga mereka terus bertekun dalam iman dan membagikan Injil di tengah-tengah penganiayaan dan penderitaan. Harapan kami adalah anak-anak bisa belajar dari dan meneladani saudara-saudari kita ini. Puji Tuhan, kami menemukan sebuah video yang menyampaikan pesan ini dengan baik.

Dua bulan berikutnya kami gunakan semaksimal mungkin untuk mempersiapkan acara Natal di minggu kedua bulan Desember. Kulalui rapat-rapat lanjutan, latihan ibadah, pembuatan properti pendukung acara, serta pemanjatan doa kepada Tuhan agar Ia sendiri yang beracara dan berbicara kepada setiap pribadi yang menghadiri acara Natal Sekolah Minggu.

Doaku pun dijawab oleh Tuhan. Di tengah-tengah perayaan Natal, setelah mengikuti ibadah dan mendengarkan Firman Tuhan disampaikan oleh guru injil, dan sambil mengawasi proses berjalannya keseluruhan acara, tiba-tiba aku teringat acara tukar kado di komisi remaja minggu sebelumnya. Dalam retrospeksiku, aku menyadari reaksiku agak terlalu berlebihan dan pada level yang fundamental merupakan reaksi yang keliru. Sebagai salah satu panitia yang merumuskan tema di atas, seharusnya aku sendiri telah memahami dengan baik kebenaran tentang apa yang harusnya kuinginkan untuk Natal: Tuhan Yesus. Namun, dalam naturku sebagai manusia yang hidup di tengah-tengah dunia yang berdosa, tanpa sadar aku telah menginginkan hal-hal lain di luar Kristus sebagai yang terutama untuk Natal tahun ini. Aku jatuh ke dalam godaan untuk mengutamakan diri sendiri di atas Tuhan dan sesama sehingga ketika mendapatkan “hadiah” tersebut, aku langsung emosi dan merasa egoku telah dilukai.

Di satu sisi, kasih antara saudara seiman sepatutnya dinyatakan dengan cara yang tepat dan memikirkan perasaan pribadi si penerima, tidak seperti “hadiah” yang kuterima waktu itu. Di sisi yang lain, ketika kita sudah menerima Kristus yang adalah hadiah yang terbaik dan berharga melebihi segalanya, kita seharusnya menjadi lebih sulit tersinggung karena kita memiliki sukacita dan damai sejahtera Kristus yang tidak dapat digoncangkan oleh suatu hal apa pun (Yohanes 14:27). Kita juga jadi lebih memahami dan dimampukan untuk melakukan perintah Tuhan dalam Efesus 4:32, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Syukur kepada Allah Tritunggal atas pembelajaran yang memperkaya pengenalanku akan dan memperdalam kasihku kepada diri-Nya dan sesama.

Sebuah ajakan untuk Natal 2019

Awalnya aku tidak berencana untuk menulis bulan ini, tetapi ketika Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa yang kuceritakan di atas terjadi, aku tahu aku tidak bisa tidak membagikannya dalam tulisan. Aku berharap Tuhan dapat memberkatimu lewat pengalamanku tersebut. Melaluinya juga aku ingin mengajakmu melakukan beberapa tindakan di bawah untuk Natal di tahun 2019 ini:

  • Memeriksa diri akan kesalahan-kesalahan kita, mengakui dosa-dosa kita, dan meminta pengampunan kepada Tuhan dan pihak yang telah kita lukai;
  • Mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain terhadap diri kita, mengingat bahwa Tuhan telah terlebih dulu mengampuni kita di dalam Kristus;
  • Mendoakan, menghubungi, dan membagikan Kabar Baik akan kesukaan yang besar (Lukas 2:10) kepada satu teman/kerabat yang belum percaya; dan
  • Ketika mengikuti acara tukar kado, memikirkan dengan baik apakah hadiah yang akan diberikan dapat semakin membangun si penerima kado dalam kasih dan sukacita di dalam Kristus Yesus.

Mungkin kita biasanya menghindari melakukan hal-hal yang kusebutkan di atas, tapi ketika momen tahunan untuk memperingati kedatangan Tuhan Yesus yang pertama tiba, kita memiliki dua pilihan: terus berusaha menghindar, atau menghadap takhta Kristus dengan seluruh keberadaan kita sehingga kasih-Nya mengalir dan melimpah dalam hidup kita. Pilihan manakah yang akan kamu ambil?

Baca Juga:

Sebuah Salib yang Menegurku

““Ah, paling isinya gelas, mug, pigura, atau dompet,” kataku dalam hati.

Namun, tebakanku salah.

Bukan benda biasa yang ada dalam kado itu, melainkan sebuah salib kecil.”