Posts

Melayani di IGD, Caraku Menikmati Berkat Tuhan

Oleh Still Ricardo Peea, Tangerang

Ketika himbauan bekerja dari rumah dikeluarkan, aku dan beberapa temanku memilih tetap tinggal di asrama kampus. Kami tidak pulang kampung dan menyiapkan diri untuk menjadi relawan di rumah sakit jika sewaktu-waktu tenaga kami dibutuhkan. Karena jurusan kuliahku adalah Keperawatan, dengan menjadi relawan aku bisa belajar dan mengaplikasikan ilmuku bagi masyarakat.

Aku sudah memikirkan dan mendoakan kesempatan menjadi relawan ini sejak Desember 2019 lalu, saat virus corona masih berepisentrum di Tiongkok. Keluargaku menghimbauku pulang saja karena ada tiket murah, tapi aku menolak. Meski aku sehat, aku tak mau jadi agen penularan, apalagi di rumahku ada kakek dan nenekku, juga tante dan pamanku yang punya riwayat sakit gula. Mereka beresiko terkena COVID-19.

Aku terus memikirkan dan mendoakan hal tersebut hingga di Februari, aku menjalankan praktik klinik untuk mata kuliah pengayaan di salah satu rumah sakit yang kini menjadi tempat rujukan bagi pasien COVID-19.

Pergumulan untuk tetap tinggal

Meski aku punya passion untuk melayani dan mengaplikasikan ilmuku, tapi di kala aku berdoa, aku melihat betapa pandemi ini mengerikan. Virus tak kasat mata ini telah merenggut ribuan nyawa, baik itu masyarakat umum dan juga tenaga kesehatan.

“Apakah Tuhan mau membawaku ke sini untuk mendidikku, atau supaya aku mati karena pandemi ini?” gumamku.

Tapi suara dalam hatiku segera menyentakku. “Hey, di mana kepercayaanmu? Tidakkah kau ingat kebaikan Tuhan selama ini?”

Pandanganku lalu tertuju kepada rerumputan. Aku ingat firman Tuhan di Yesaya 40:8 dan 1 Petrus 1:24-25 yang mengatakan betapa fananya manusia di hadapan Allah Sang Pencipta. Kita seperti rumput, ada hanya sebentar, lalu layu. Namun, meski hidup kita fana, di sinilah Tuhan berkarya. Melalui hidup kita, Tuhan ingin agar orang lain pun beroleh sentuhan kasih-Nya.

Di Minggu pagi setelah ibadah, kulihat langit cerah. Angkasa berwarna lebih biru dari biasanya. Tiupan angin menerpaku. Lagi-lagi aku merasa seperti dibisikkan, “Tuhan sungguh mempedulikanku. Tidakkah itu luar biasa? Allah Bapa sungguh mengasihimu.”

Sore harinya, saat kupandang langit senja, lagi-lagi aku teringat firman Tuhan yang berkata bahwa Allah sungguh mengasihi kita. “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yesaya 31:3). Segala benda langit diciptakan-Nya, juga dipelihara-Nya. Jika benda-benda langit dan segala makhluk hidup dipelihara Tuhan, masakan kita sebagai manusia luput dari perhatian-Nya?

Dengan kekuatan dari Tuhan, aku diizinkan-Nya untuk membantu di bagian screening di Instalasi Gawat Darurat dan di bangsal. Aku membantu setiap pengunjung mengisi formulir pernyataan kesehatan yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki gelaja dari COVID-19. Apabila ada salah satu gejala dan faktor pendukung lain, seperti riwayat kontak dengan orang terduga COVID-19, maka orang tersebut harus mengecek kesehatannya di klinik umum dulu. Aku bertugas memastikan secara spesifik apa yang menjadi keluhan utama mereka.

Setiap orang yang berkunjung ke IGD juga harus dicek suhu tubuhnya. Meski pasien virus corona menjadi perhatian utama, tapi kami tetap harus juga memperhatikan pasien-pasien lain yang dalam kondisi kesehatannya gawat. Kami mengarahkan ke tempat di mana mereka bisa mendapatkan perawatan menyeluruh. Selain itu, kesempatan melayani ini juga menciptakan momen-momen diskusi dengan kakak-kakak seniorku, aku belajar banyak hal.

Meskipun awalnya aku sempat ragu dan takut, sekarang aku bisa bersukacita karena aku tahu apa yang kukerjakan adalah sebuah pelayanan bagi-Nya melalui menolong sesamaku. Hikmat dan pemahaman yang Tuhan anugerahkan memampukanku melihat pandemi ini dari sudut pandang yang berbeda: bukan ketakutan karena virus, tetapi semangat untuk meneruskan kasih-Nya pada orang lain.

Martin Luther dikenal karena dia tidak bisa diam saja ketika mendapati ada yang keliru dalam pengajaran dan praktik kehidupan bergereja. Dia juga tak bisa diam ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan. “Orang Kristen terpanggil untuk mendemonstrasikan belas kasih,” katanya. Juga Florence Nightingale yang memilih untuk menjadi relawan dan melayani dalam perang, tak memikirkan dirinya sebagai anak bangsawan melainkan mau melayani dengan resiko yang besar yaitu terbunuh dalam perang, dia menentang adanya diskriminasi dalam pemberian pelayanan kesehatan. Pemikiran, tindakan dan perkataan Luther dan Nightingale mencerminkan sosok teladan yang sempurna, Kristus sendiri. Alkitab mencatat selama pelayanan-Nya di dunia, Kristus tak hanya mengajar, Dia juga melayani dengan menyembuhkan banyak orang sakit, juga membasuh kaki murid-murid-Nya.

Menutup tulisanku, kupandangi mentari. Sinarnya di pagi hari memberikan kesan hangat dan nyaman, menandai hari yang baru telah tiba. Jika matahari yang dengan sinarnya memberikan banyak kebaikan bagi dunia, demikian juga kita yang diciptakan-Nya begitu istimewa. Dengan segala berkat yang kita terima, kita pun diutus-Nya untuk meneruskan berkat itu kepada orang-orang di sekitar kita.

Bapa kami yang di surga, terima kasih banyak.

Baca Juga:

3 Hal yang Bisa Kita Lakukan Kala Menghadapi Penderitaan

Dalam masa-masa sulit, sulit pula buat kita memikirkan hal-hal yang baik. Tapi, ada satu kebenaran: dalam segala masa, Tuhan selalu baik. Kepada-Nyalah kita dapat berharap dan berdiri teguh.

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

Oleh Still Ricardo Peea, Tangerang

Natal sudah berlalu, namun beberapa waktu belakangan, tema Natal “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” terus terngiang-ngiang di benakku. Tema itu terdengar baik, tapi sekaligus juga seperti utopis bagiku. Pikiranku pun merespons:

“Sepertinya tema itu cuma bisa jadi wacana deh, sulit untuk diwujudkan.”

“Memangnya semua orang bisa ngertiin aku?”

“Hmm, bisa sih jadi sahabat, tapi nggak ke semua orang juga.”

Mungkin kamu pun merespons hal yang sama ketika membaca tema tersebut. Namun, saat aku merenungkannya baik-baik, makna dari tema itu menamparku. Selama ini aku memilih-milih dengan siapa aku ingin menjadi sahabat. Kepada orang yang kuanggap tidak membuatku nyaman, atau yang tidak terima dengan ‘standar’ persahabatanku, cukup jadi teman atau sekadar kenal saja deh. Itu cukup buatku.

Namun, ketika aku melihat kembali isi Alkitab, aku mendapati Tuhan memanggil kita untuk menjadi sahabat. Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Ayat tersebut bukan sekadar ungkapan kata, karena tanpa kita sadari Allah sudah melakukannya terlebih dulu buat kita. Ketika kita masih berdosa, Allah dalam rupa Yesus hadir ke dunia, memberikan nyawa-Nya untuk kita. Itulah kasih yang teramat besar (Yohanes 15:13).

Sahabat sejati tidak meletakkan standar persahabatannya pada syarat-syarat yang ditetapkannya untuk keuntungan pribadinya. Amsal tidak mengatakan agar kita bersahabat dan menaruh kasih kepada orang-orang yang membuat kita nyaman, atau yang sesuai dengan kriteria kita. Amsal memanggil kita untuk menjadi sahabat, atau bersikap selayaknya sahabat untuk siapa pun. Standarnya adalah “kasih”, bukan kenyamanan kita pribadi.

Aku pun membayangkan. Betapa mengerikannya jika Yesus menerapkan standar sesuai dengan standar-standar manusia atau seperti standar kenyamanan yang kita terapkan. Jika demikian, tentu Yesus takkan bersedia untuk menderita sejak lahir, mengalami kesepian, disiksa dan mati di salib. Syukur kepada Allah karena standar yang Yesus gunakan bukanlah standar manusia. Standar yang Yesus kenakan adalah kasih, sebab Dia sendiri adalah kasih.

Yesus menanggalkan keilahian-Nya, rela mengenakan tubuh manusia yang rentan dan rapuh karena kasih-Nya bagi kita. Dia pun bersedia menjadi sahabat bagi para penyamun, pelacur, pemungut cukai, janda, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang terpinggirkan karena kasih-Nya.

Tidak ada keuntungan diri sendiri yang dicari Yesus ketika Dia menjadi sahabat bagi kita. Malah, Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi orang-orang yang tidak layak, seperti aku dan kamu, dan semua orang di dunia ini.

Jauh berbeda seperti standarku yang memilih-milih orang, Yesus tidak memilih-milih. Kasih-Nya diberikan-Nya kepada semua orang. Pengorbanan-Nya dilakukan-Nya supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pengampunan dari Bapa dan beroleh keselamatan, sebab kita sendiri tak mampu menyelamatkan diri kita.

Teladan Yesus tersebut menggambarkan betapa indahnya persahabatan yang tidak didasari pada standar lahiriah semata. Standar lahiriah, atau standar manusia yang kita terapkan bisa berubah kapan pun. Ketika kita disakiti, mungkin kita bisa kecewa dan balik membenci kawan kita. Namun, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibrani 13:8).

Meski terkesan sulit, namun aku berdoa agar menjadi sahabat bagi semua orang menjadi resolusiku di tahun ini pula. Tuhan telah menunjukkan teladan yang terbaik. Dia menagajak dan memanggil kita untuk melakukan-Nya, untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang kita jumpai.

Baca Juga:

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Mengawali tahun 2020, aku diingatkan tentang beberapa ide dan mimpi yang sudah cukup lama aku tunda. Cukup lama terkubur karena kesibukan, akhirnya muncul pertanyaan ini dalam doaku, “Tuhan, kapan aku harus memulai?”