Posts

Kamu Tim Rebahan atau Semangat?

Kerja dari rumah, atau #WFH, adalah aktivitas yang mungkin kita lakukan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.

Rumah dan tempat kerja yang tadinya terpisah kini jadi membaur. Ritme kita pun agaknya berubah. Kita bisa duduk di sofa, menonton video saat lelah, atau kalau lapar tinggal jalan saja ke dapur untuk makan cemilan atau masak sesuatu.

Tapi.. #WFH ini bisa menggoda kita untuk lalai akan tugas dan tanggung jawab karena tak ada bos atau rekan kerja yang melihat kita. Alkitab mengatakan, apa pun yang kita kerjakan, lakukanlah itu dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Bagaimana kita mengaplikasikan apa kata Alkitab itu, sembari kita juga menjaga work-life-balance saat WFH?

Artspace ini merupakan kontribusi dari Citra Marina (@real_choochoo)

Belajar Setia dari Aren

Oleh Olive Bendon, Jakarta

Masa kanak-kanak adalah masa–masa yang menyenangkan. Saat–saat keseharian lebih banyak dihabiskan dengan bermain tanpa beban. Sayangnya, itu tak berlaku bagi Aren yang hingga umur 9 tahun, tak bisa bebas berlarian dan bermain seperti teman–temannya. Baginya, tak ada cerita pulang ke rumah dengan baju basah oleh keringat. Tak pernah pula ia menerima omelan karena pulang terlambat sebab keasikan bermain di luar rumah.

Gangguan jantung bawaan—di dunia medis lebih dikenal sebagai Tetralogy of Fallot (TOF)—membatasi aktivitas Aren sedari bayi. “Aren punya letak jantung miring, bocor di dua tempat. Dia ketahuan memiliki kelainan jantung waktu umur lima bulan. Umur empat tahun, dia punya badan biru. Kukunya juga bulat–bulat”, tutur Mama Imelda, ibunya.

Masalah pada jantungnya membuat Aren cepat lelah. Bergerak sedikit saja, nafasnya susah payah. Agar geraknya tak banyak, setelah masuk sekolah; Mama Imelda menggendong Aren pergi dan pulang sekolah. Setiap hari. Dan itu terus berlangsung selama Aren belum menjalani operasi jantung. Naik turun tangga di rumah sakit dan kemanapun, Mama Imelda tak membiarkan Aren untuk berjalan lama–lama.

Ada masa di mana Aren merasa dunianya hampir runtuh. Namun, keterbatasan tak mengekang senyum dan semangat Aren untuk berkegiatan walau kadang dirinya lebih banyak berdiam ketika sesaknya datang. Pengalaman mengajarkan Aren mencari tahu dan menemukan caranya sendiri untuk mengatasi sesaknya. Dengan muka penuh senyum, Aren berbagi tip ketika sesaknya datang. ”Kalau susah napas, aku lipat kaki rapat ke dada sampai aku tidur sudah”.

Karena keterbatasan fasilitas kedokteran di Sumba, Aren berobat ke Denpasar sebelum dirujuk untuk berobat dan menjalani operasi di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Aku bertemu dengan Aren ketika menjadi volunteer di sebuah rumah singgah, tempat Aren dan ibunya tinggal selama menjalani pengobatan di Jakarta. Waktu itu Aren sudah selesai operasi jantung dan sudah dalam tahap pemulihan. Badannya yang dulu kurus dan menonjolkan tulang–tulangnya, kini mulai berisi. Ia pun sudah terbiasa naik turun tangga tanpa merasa lelah. Tak lagi digendong ibunya.

Pertemuan dengan Aren membuatku belajar 3 (tiga) hal paling dasar untuk menjalani keseharian sebagai anak Tuhan yang tahu bersyukur walau hidup sering mendadak serupa bermain roller-coaster.

1. Sabar dan tidak bersungut-sungut

Sabar dalam penderitaan, itu pilihan Aren. Menurut Mama Imelda, “ketika rasa sakit, Aren tak pernah menangis. Mengeluh sebentar, itu saja.” Tentu saja tidak mudah untuk anak seusia Aren belajar sabar jika tak didampingi oleh sosok yang kuat. Bukan sekadar sosok yang mengingatkan tapi lebih lagi yang bisa memberinya teladan dalam menjalani hari–harinya sehingga Aren yakin dan percaya, Tuhan pasti tolong! Dan sosok ibu, memegang peranan penting di kehidupan Aren.

2. Melibatkan Tuhan dalam hidupnya

“Tiap hari aku berdoa, bangun aku berdoa, mau tidur aku berdoa, mau bikin apa – apa harus berdoa, kakak. Mama ajar aku begitu, harus mengucap syukur,” Aren menimpali obrolan kami dengan riang. Ucapannya membuat mata yang sedari tadi panas, tak kuasa lagi untuk membendung aliran air yang turun satu–satu dan merengkuh tubuhnya. Ya Tuhan, anak ini luar biasa!

3. Setia walau hari–hari yang dilalui terasa berat

“Aku tidak rasa sakit, kakak. Cuma pegal saja waktu dokter bilang dadaku dibuka. Tempat tidurnya juga dingin.”

Mama Imelda membenarkan pernyataan Aren, selama ini anaknya tak sedikitpun menangis. “Saya sudah khawatir waktu kami naik bus dari Bali ke Jakarta. Saya terus berdoa, Tuhan jangan sampai anak ini tiba – tiba kesakitan. Puji Tuhan, kami sampai di sini, Aren baik–baik saja.”

* * *

Perjalanan panjang yang dilalui Aren dan Mama Imelda hingga mendapatkan jadwal operasi, bukanlah perkara yang mudah. Bisa saja di tengah perjalanan, ibunya menyerah atau anaknya putus asa. Lebih lagi mereka hanya bisa melakukan perjalanan darat karena Aren punya ketakutan jika terbang, pesawatnya jatuh. Kalau itu terjadi, dia tak bisa melanjutkan berobat. Tapi Aren belajar setia menunggu waktu-Nya Tuhan.

Kadang, Tuhan izinkan masalah muncul di kehidupan kita untuk mendorong kita lebih dekat lagi kepada-Nya. Hanya saja, kita suka kurang peka. TOF tak sedikitpun menyurutkan semangat Aren untuk mewujudkan cita–citanya menjadi anak Tuhan yang setia. Betapa senangnya Aren dan Mama Imelda ketika dokter memberikan izin boleh pulang ke Sumba dan melakukan kontrol di Denpasar saja. Awal Desember 2019, Aren yang bercita–cita menjadi pendeta; pulang ke Sumba. Ia sudah tak sabar untuk merayakan Natal bersama teman–teman Sekolah Minggu dan keluarganya di kampung yang tak ditemuinya selama hampir setahun.

Apa masalahmu saat ini? Tuhan tidak pernah memberikan ujian melebihi dari yang dapat kita tanggung. Yakin dan percaya, Tuhan pasti selalu menyertai.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

Tahun 2020 kemarin spesial buatku. Aku mendapat pekerjaan pertamaku setelah melalui berbagai lika-liku. Dari situlah aku belajar bahwa bekerja itu tidak cuma soal mencari uang, tapi juga bagaimana kita melakukan kehendak-Nya.

Bosan Tidak Selalu Jadi Pertanda untuk Berhenti

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

“If you are tired, learn to rest, not quit.”

Pesan di atas kuterima di bulan keenam tahun 2018 dari seorang teman dekat yang mengetahui keputusanku untuk mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi pelayanan intern-kampus. Jenuh merupakan faktor utama yang mendorongku untuk memutuskan mundur dari koordinasi yang seharusnya kuselesaikan hingga bulan Desember di tahun yang sama.

Sebagai pengurus, aku dan kesembilan teman dalam koordinasi biasanya memiliki jadwal yang padat. Selain karena kami juga masih menjalani rutinitas kuliah, kegiatan di organisasi dengan visi pelayanan “murid yang memuridkan kembali” tersebut juga terbilang cukup padat. Kegiatan dalam Kelompok Kecil yang merupakan ujung tombak dari pelayanan tak boleh luput dari pantauan kami sebagai motor organisasi di tahun itu. Begitu juga dengan kegiatan lain seperti persiapan ibadah yang biasanya dilakukan 2 kali sebulan, jam doa puasa, pelatihan untuk meningkatkan keterampilan anggota organisasi yang masih mahasiswa hingga harus menjalin komunikasi dengan keseluruhan anggota baik alumni maupun mahasiswa melalui sharing ataupun via daring serta mengadakan pertemuan untuk regenerasi kepengurusan di tahun mendatang.

Hampir setiap malam kami harus bertemu di rumah sekretariat, terkadang kami juga harus sampai begadang karena susah mencocokkan jadwal kosong di siang atau sore hari. Aktivitas yang di awal membuatku bersemangat perlahan berubah menjadi rutinitas yang berlalu tak berbekas ataupun bermakna. Di bulan keenam, kuberanikan diri bercerita dengan seorang teman yang juga pernah mengerjakan kepengurusan. Walau berbeda kampus namun aku percaya dia bisa jadi tempat berbagi.

“Mengapa kemarin mau menerima pelayanan itu?” Pertanyaan pertama darinya membuatku mengingat kembali momen ketika PKK-ku (Pemimpin Kelompok Kecil) secara khusus mengajakku membahas firman Tuhan dari Lukas 19:28-40 tentang bagaimana Yesus dielu-elukan di Yerusalem.

Di sana diceritakan bagaimana Yesus meminta murid-murid-Nya membawa keledai untuk-Nya yang akan ditunggangi-Nya menuju Yerusalem. Saat Yesus akan menaiki keledai, orang-orang menghamparkan pakaiannya dan membantu Yesus menaiki keledai itu.

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang Maha Tinggi”, kata semua murid yang mengiring Dia. Karena hal itu, orang Farisi menegur Yesus, “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu”. Jawab Yesus, “Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak” (Ayat 40).

“Jangan mengeraskan hati dek, jika Tuhan mau, batu pun bisa dipakai-Nya untuk melayani Dia”, begitu kakak di kelompok kecil mengingatkanku di akhir pertemuan itu.

“Ahk, aku capek. Bosan! Daripada kukerjakan tapi tidak dari hati” belaku dengan berbagai alasan pembenaran atas keputusanku. Merasa lelah karena terlalu sering dipekerjakan merupakan salah satu penyebab kejenuhan. Walau tak selalu benar, kejenuhan bisa menjadi alasan bagi kita untuk tidak mengerjakan hal itu lagi.

“If you tired, learn to rest, not quit”, kutipan di awal tulisan ini mengingatkanku untuk menyediakan waktu beristirahat alih-alih mundur dan mengingkari komitmen yang sudah diambil. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus juga pernah mengajak murid-murid-Nya untuk beristirahat ketika mereka harus memberi makan lima ribu orang yang mengikuti mereka (Markus 6:31). Tentu beristirahat dan berhenti adalah dua hal yang berbeda. Secara perlahan dengan pertolongan-Nya, aku mengingat kembali kenapa aku mau menerima tanggung jawab itu. Dengan menyediakan waktu untuk beristirahat, itu berhasil membantuku memulihkan keadaanku saat itu.

Jenuh, jemu, bosan menggambarkan situasi emosional di mana kita sudah tidak suka dengan si objek yang bisa jadi dalam bentuk keadaan, pekerjaaan, lingkungan bahkan hubungan dengan seseorang. Ayah yang sudah bosan bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama; ibu yang jenuh dengan urusan dapur dan kegiatan beres-beres yang dilakukan setiap hari; anak yang jemu duduk berjam-jam di kelas ditambah dengan tugas sekolah; atau mungkin sepasang kekasih yang mulai bosan dengan dering telpon yang dipisahkan jarak; bahkan kita anak-anak Tuhan yang mungkin merasa jenuh menjalin persekutuan dengan-Nya.

Memasuki bulan keempat setelah aturan-aturan untuk menanggulangi pandemi virus corona digalakkan, beradaptasi untuk menghilangkan kejenuhan bukanlah perkara yang mudah. Berhenti beraktivitas dari rumah, pergi berkerumun, atau menolak anjuran pemerintah tentu memiliki konsekuensi tersendiri khususnya bagi kesehatan kita. Sebagai individu yang diciptakan berbeda-beda, tips treatment untuk kejenuhan orang yang satu bisa saja tidak mempan untuk yang lainnya. Pilihan untuk menikmati waktu dengan keluarga, mengubah situasi kamar atau rumah agar lebih nyaman untuk belajar dan bekerja dari rumah, hingga mencari kreativitas lain agar tetap waras selama #DiRumahaAja terdengar klise dan tak berpengaruh. Namun sebagai ciptaan-Nya kita perlu mengingat bahwa pada-Nya ada jawaban dari setiap pergumulan kita dan pada-Nya ada kelegaan bagi setiap kita (Matius 11:28).

Kiranya kita bisa memaknai setiap waktu atau kesempatan dengan bijaksana. Sama seperti Musa, biarlah kita tak bosan meminta kekuatan dari Tuhan untuk menyadari berharganya setiap waktu yang ada (Mazmur 90:12).

Dia akan menolong dan memulihkan semangat kita (Yesaya 40:29).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Ketika Aku Terjebak Membandingkan Diriku dengan Orang Lain

Aku pernah ada dalam kondisi membandingkan diriku dengan orang lain. Dan orang itu adalah teman terdekatku! Aku merasa temanku itu lebih baik dalam banyak hal, terutama pelayanan yang dia kerjakan.

Rahasia untuk Tidak Mengeluh

Hari ke-11 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:14-18

2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.

2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Tidaklah sulit untuk mengingat kapan terakhir kali aku menggerutu tentang sesuatu atau seseorang—kemarin, lebih tepatnya. Aku sedang melewati masa-masa sulit di kantorku dan aku pun mengeluh. Semakin aku menggerutu, semakin aku merasa tidak bahagia; semakin aku merasa tidak bahagia, semakin banyak aku menggerutu.

Itu bukanlah hidup dan sikap yang Tuhan ingin kita jalani, baik itu di rumah, di gereja, di sekolah, atau di kantor. Tuhan, melalui Paulus, mendorong kita untuk “berperilaku yang layak bagi Injil Kristus” (Filipi 1:27). Kita dapat membuktikan kesetiaan kita kepada Kristus dengan cara menaati Tuhan dengan hormat. Dan satu cara untuk menghidupi ketaatan kita adalah melakukan semuanya “tanpa mengeluh atau membantah” (2:14).

Ya, ketika Paulus mengatakan semuanya, ia serius: bahkan ketika kita diminta melakukan hal yang tidak kita mengerti atau tidak kita suka, ketika doa-doa kita tidak dijawab, dan ketika kita sedang melewati kesulitan dan penganiayaan. Semuanya.

Ketika aku membaca ayat-ayat ini, aku teringat bagaimana orang Israel dulu menggerutu dan mempertanyakan pemimpin mereka saat berada di tengah padang gurun (Keluaran 15:24, 16:8). Sikap orang-orang Israel yang sering mengeluh dan mempertanyakan Tuhan akan situasi mereka merupakan suatu bentuk ketidaktaatan. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak percaya kepada Tuhan. Begitu juga segala keluh kesah dan gerutuan kita. Ketika kita melakukannya, semuanya itu tidak hanya diarahkan kepada sesuatu atau seseorang saja, tetapi kita juga melakukannya kepada Tuhan sendiri.

Gerutuan kita bukan hanya merupakan sebuah bentuk ketidaktaatan, itu juga adalah sebuah kesaksian yang buruk bagi orang-orang sekitar kita. Sebagai orang-orang Kristen yang adalah bagian—tapi terpisah dari—dunia ini, kita seharusnya bersinar layaknya terang, mengikuti teladan Kristus (Yohanes 8:12). Tapi, seringkali kita gagal hidup seperti itu. Ketika aku mengeluh kepada teman sekerjaku, aku bertanya-tanya, siapakah yang mereka lihat: Kristus hidup di dalamku, atau aku yang berlaku layaknya salah satu dari mereka?

Tapi pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa menemukan kekuatan untuk melakukan semuanya tanpa mengeluh?

Dengan berpegang kepada firman Tuhan (ayat 16), kata Paulus. Bukan hanya itu, kita sudah dijanjikan bahwa Tuhan akan memungkinkan dan melengkapi kita untuk melakukan kehendak-Nya melalui Roh Kudus (Filipi 2:13).

Ketika kita bisa menahan diri dari menggerutu, mungkin kakak rohani atau pemimpin rohani kita pun turut berbangga atas kita. Paulus mendorong para jemaat Filipi untuk hidup taat dalam Tuhan, agar ia punya alasan untuk berbangga ketika Kristus kembali. Buah yang dihasilkan para jemaat Filipi sangat membahagiakan Paulus (ayat 17), dan merupakan bukti bahwa pengorbanannya untuk mereka tidaklah sia-sia.

Tidaklah mudah untuk menghentikan diri kita sendiri dari mengeluh tentang hal-hal yang tidak kita sukai. Bagiku, masih sulit sekali untuk mengendalikan ucapanku ketika aku mengalami hari yang buruk di kantor, terutama ketika semua orang sekitarku sedang mengeluh karena frustrasi. Tapi ketika aku mengingat identitasku dalam Kristus—bahwa aku telah dikuatkan untuk hidup berbeda dari yang lain—aku sedang belajar untuk mengendalikan kata-kataku setiap hari. Alih-alih marah dan melontarkan kata-kata kasar, aku memilih untuk diam sejenak. Alih-alih mengomel kepada orang-orang di sekitarku, aku menenangkan diri dan berdoa. Aku pun mengalami kebahagiaan dan ketenangan yang didapat dari mengikuti-Nya dengan taat dan beristirahat dalam kekuasaan-Nya.

Memang tidak mudah. Tapi, ketika kita berdoa dan merenungkan tentang mengapa dan bagaimana, kita dapat menghindar dari tingkah laku tersebut. Kita akan tahu bahwa kepuasan yang kita dapatkan dari menggerutu dan mengeluh tidak sebanding dengan hidup dalam sikap yang layak di hadapan firman Tuhan, dan kebahagiaan yang dirasakan oleh pemimpin kita, diri kita, dan Kristus sendiri.—Wendy Wong, Singapura

Handlettering oleh Vivi Lio

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pernahkah kamu merasa tergoda untuk mengeluh dan marah-marah? Apa yang terjadi ketika kamu melakukannya?

2. Adakah hal-hal dalam kehidupanmu yang membuatmu susah untuk tidak mengeluh atau marah-marah? Tuliskanlah semuanya itu dan doakanlah.

3. Apakah kita bersinar terang bagaikan bintang di tengah-tengah dunia yang penuh dengan orang yang jahat? Apakah cara kita untuk dapat bersinar di dalam dunia seperti itu?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Wendy Wong, Singapura | Hari yang sempurna menurut Wendy adalah menyantap peanut buter, hiking, naik sepeda, atau saat teduh bersama Tuhan. Sebagai seoang penulis, Wendy berharap tiap tulisannya jadi alat untuk memuliakan Tuhan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Mati dan Bangkit Setiap Hari

Oleh Jefferson, Singapura.

Tema WarungSaTeKaMu bulan ini adalah “Memelihara Tubuh Kristus”. Cakupan tema ini termasuk luas, tapi dalam tulisan ini aku ingin membahas satu aspek dari kehidupan komunal Kristen yang menurutku jarang disentuh, yaitu kebangkitan rohani (revival). Aku pernah membagikan perenunganku terhadap topik ini sebelumnya dalam rapat panitia acara penyambutan pemuda/i baru di gerejaku yang acaranya kebetulan berpuncak pada Kebaktian Kebangkitan Rohani (KKR). Bertepatan dengan peringatan satu tahun setelah KKR itu dilaksanakan, aku ingin meninjau kembali pemikiranku saat itu dan melihat bagaimana pandanganku terhadap kebangkitan rohani mungkin telah berubah.

Mari kita mulai dengan menilik satu perikop di surat Efesus yang menjadi fokus pembahasan kita.

Sebuah Doa untuk Gereja yang “Sangat Baik” Kondisinya

Aku [Paulus] berdoa supaya Ia [Allah Bapa], menurut kekayaan kemuliaan-Nya, meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

Efesus ‭3:16-19‬‬‬ TB

Karena aku baru mengetahui bahwa aku akan membagikan renungan hanya beberapa jam sebelum rapat berlangsung, aku tidak mempelajari latar belakang perikop dan surat Efesus dengan saksama. Sebaliknya, dengan tergesa-gesa aku membaca bagian-bagian sebelumnya dan dengan keliru menyimpulkan terjadinya konflik antara jemaat Yahudi dengan non-Yahudi di Efesus. Aku menafsirkan demikian dari penjelasan Paulus tentang pengalaman pertobatan setiap orang percaya oleh kasih karunia melalui iman (2:1-10), kesatuan semua orang percaya dari segala suku, abad, dan tempat di bawah Kristus (2:11-22), dan misteri Injil (yaitu lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus juga menebus kaum non-Yahudi; 3:1-13).

Namun, setelah membaca surat Efesus dengan teliti, aku menemukan bahwa tidak ada konflik sama sekali antara jemaat Efesus yang Yahudi dan non-Yahudi. Malahan, ketika biasanya surat rasul ditulis untuk menjawab isu-isu tertentu (contohnya 1 dan 2 Korintus), jemaat Efesus adalah satu dari sedikit yang tidak mempunyai permasalahan sama sekali. Fakta ini membingungkanku. Mengapa Paulus mendoakan terjadinya kebangkitan rohani di antara suatu jemaat yang kondisinya sangat baik? Sebelum kembali ke pertanyaan itu dan menjelaskan mengapa aku menyebut doa di atas sebagai doa untuk kebangkitan rohani, mari kita pahami dulu alur perikop ini.

Menanggapi kebenaran-kebenaran luhur dalam bagian-bagian sebelumnya, Paulus memulai doanya di ayat 16 dengan meminta kepada Allah Bapa supaya Roh Kudus dalam hati (“batin”) setiap anggota jemaat Efesus (“kamu” di sini dalam bahasa Yunani bersifat jamak) menguatkan dan meneguhkan mereka dengan kuasa-Nya seturut dengan anugerah-Nya (“kekayaan kemuliaan-Nya”). Apa tujuan dari permohonan ini? Supaya Kristus sang Anak tinggal di dalam hati mereka lewat iman yang dimampukan oleh Roh, sehingga mereka dapat berakar dan berdasar di dalam kasih-Nya (ayat 17). Permintaan itu tidak berhenti di sana. Paulus lalu berdoa supaya melalui peristiwa-peristiwa ini jemaat Efesus dimampukan untuk bersama-sama memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” yang “melampaui segala pengetahuan” itu, yang memimpin mereka untuk “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (ayat 18-19). Dengan kata lain, Paulus berdoa supaya jemaat Efesus dapat semakin mengenal Tuhan dan Juruselamat mereka yang mulia sebagaimana mestinya secara pribadi dan intim sehingga kepenuhan Allah nyata dalam kehidupan mereka. Perikop ini adalah sebuah permohonan kepada Tuhan agar serangkaian sebab akibat terjadi di antara jemaat Efesus, satu permintaan dibangun di atas yang lain.

Yang menarik dari bagian ini adalah jenis kata kerja yang dipakai Paulus dalam setiap permohonannya (“meneguhkan”, “diam”, “memahami”, “mengenal”, “dipenuhi”), yaitu aorist. Dalam bahasa Yunani, jenis kata kerja ini menandakan suatu tindakan yang dimulai pada suatu titik di masa lalu dan berlanjut ke masa depan tanpa adanya titik akhir. Untuk suatu gereja dalam kondisi baik (dalam artian mereka tidak memiliki masalah genting yang perlu dibahas oleh pemimpin gereja setingkat rasul dalam surat mereka), mengapa Paulus mendoakan dengan penuh semangat dan tanpa malu-malu supaya hal-hal besar tersebut terjadi terus-menerus di antara jemaat Efesus?

Sebuah Doa Terbesar untuk Kebangkitan Rohani

Kurasa Paulus ingin mengingatkan mereka tentang bahaya dari kelonggaran rohani. Kita dapat menelusuri jejak maksud ini dalam bagian-bagian berikutnya. Sebagai contoh, tepat setelah perikop ini, Paulus menasihati jemaat Efesus untuk “hidup sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (4:1). Mengapa Paulus terkesan begitu serius dan mendesak? Karena kalau mereka tidak hidup sebagai orang-orang yang berpadanan dengan panggilan mereka, orang-orang percaya di Efesus bisa dengan tanpa sadar mengikuti ajaran-ajaran palsu di sekitar mereka (4:14). Mungkin selama ini mereka bertumbuh dengan baik dan pesat sebagai murid-murid Kristus, tetapi kalau mereka tidak terus mengingatkan diri bahwa mereka sedang berada dalam peperangan rohani, mereka akan kalah. Paulus menggunakan gambaran yang sangat nyata dalam nasihat terakhir di surat Efesus untuk mendeskripsikan medan peperangan yang mereka hadapi: bukan musuh-musuh yang fisik, melainkan “melawan pemerintah-pemerintah,… penguasa- penguasa,… penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,… roh-roh jahat di udara”‬ ‭(6:12‬).

Tetapi ”panggilan“ seperti apa yang telah diberikan kepada jemaat Efesus (dan setiap orang percaya) yang perlu dipadankan dalam kehidupan? Efesus 2 mengajarkan bahwa kita dipanggil untuk berharap kepada keselamatan yang diberikan dalam Kristus oleh kasih karunia melalui iman (ayat 1-10) dan untuk dipersatukan dengan orang percaya lainnya di dalam-Nya (ayat 11-22). Terlebih lagi, Tuhan Yesus dalam Amanat Agung-Nya (Mat. 28:18-20) memanggil kita untuk membawa orang lain kepada pengharapan yang sama yang kita miliki dalam Dia. Bagaimana caranya? Kita harus pertama-tama menjadi seperti Dia, dipenuhi oleh kasih dan kepenuhan-Nya. Bagaimana caranya? Dengan mengenal siapa Dia: Tuhan dan Juruselamat yang kemuliaan dan keagungan-Nya tidak dapat diukur standar manusia. Lagi, bagaimana caranya? Kristus harus tinggal di dalam kita dulu. Tetapi, oleh karena keberdosaan kita, secara natur kita adalah seteru Allah (Rm. 8:7). Untuk terakhir kalinya, jadi bagaimana caranya? Melalui pekerjaan Roh Kudus yang memampukan kita untuk percaya kepada Kristus. Bisa kamu lihat benang merahnya? Dalam Efesus 3:16-19, Paulus berdoa agar Tuhan terus-menerus membangkitkan kita dari kecenderungan kita kepada kematian rohani dan membukakan mata kita untuk mampu melihat Kristus sebagaimana mestinya: “sang Kepala dari segala yang ada” (1:22), yang telah bangkit dari antara orang mati dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga (1:20). Demikianlah kita mendapatkan sebuah doa terbesar untuk kebangkitan rohani yang kita juga dapat ucapkan sendiri.

Menghidupi Kebangkitan Rohani

Kehidupan Kristen adalah sebuah perjalanan ziarah penuh perjuangan untuk terus melihat dan mengenal Kristus dan kasih-Nya di tengah-tengah ombang-ambing “rupa-rupa angin pengajaran” dan “permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan”‬ ‭(Efesus 4:14‬). Karena kita masih hidup dalam dunia yang berdosa, secara alamiah kita akan cenderung berfokus pada berhala-berhala dunia, bukannya pada Yesus. Di sinilah kita melihat manfaat dari sarana-sarana kebangkitan rohani seperti KKR. Sarana-sarana tersebut layaknya defibrillator ilahi yang Tuhan gunakan untuk membangkitkan mereka yang selama ini tanpa sadar berjalan sebagai mayat hidup, baik yang belum percaya maupun yang sudah percaya kepada Kristus. Analogi ini juga menunjukkan bahwa kita yang hidup dalam dosa tidak dapat menghidupkan diri sendiri; kita hanya bisa beriman kepada Allah yang “menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus” (Efesus 2:5).

Dalam renunganku tahun lalu, aku melanjutkan dengan menjelaskan lebih lanjut tentang KKR, sebuah sarana kebangkitan rohani yang umumnya diselenggarakan gereja untuk peristiwa-peristiwa khusus seperti perayaan Natal dan Paskah. Kali ini, aku ingin menutup dengan sebuah aplikasi praktis yang kita bisa langsung jalankan: mengalami kebangkitan rohani setiap kali bangun pagi. Bagaimana caranya? Melalui disiplin-disiplin rohani mendasar iman Kristen, yaitu saat teduh dan doa.

Belakangan ini aku semakin menyadari betapa pentingnya momen ketika aku beranjak bangun dari kasur setiap pagi. Saat kita bangun pagi adalah momen kita paling rentan terhadap panah-panah api si jahat. Ketika kita belum sepenuhnya sadar, perasaan dan pikiran sudah dilanda dengan berbagai kegelisahan akan berbagai hal, baik pekerjaan yang harus kita kerjakan hari itu, kekhawatiran tentang masa depan, maupun masalah yang belum selesai di kantor/sekolah. Hari kita pun dimulai dengan kepungan tanpa ampun dan suara terompet yang menulikan telinga dari musuh tepat ketika fajar mulai menyingsing. Menghadapi situasi seperti ini, kita dihadapkan dengan dua pilihan: dibutakan oleh keegoisan diri yang dengan arogan berpikir bahwa alam semesta berputar di sekeliling kita, atau dengan tenang mendengarkan strategi perang dari sang Raja.

Dari ilustrasiku di atas, kita melihat pentingnya saat teduh dan doa dalam kebangkitan rohani kita sehari-hari. Alih-alih dibingungkan dan tergoda oleh daya tarik berhala-berhala dunia dan gambaran palsu Kristus yang hati kita yang berdosa ciptakan, Allah dalam kasih karunia-Nya membangkitkan kita yang mati dalam dosa dan memampukan kita untuk melihat Kristus sebagaimana mestinya sehingga kita dapat hidup dalam terang-Nya. Lewat saat teduh kita dimampukan untuk melihat keindahan Kristus yang tersembunyi dalam segala sesuatu dan memahami kehendak-Nya bagi kita untuk hari itu, sementara doa menjadi sarana komunikasi dengan Tuhan dalam menyatakan segala ketakutan kita dan menyerahkan diri untuk mematuhi kehendak-Nya. Disiplin-disiplin rohani ini ibarat rapat strategi sebelum perang (yang memberikan kita senjata tempur dalam bentuk pedang Roh) dan walkie-talkie yang terus menghubungkan kita dengan Panglima Tertinggi di tengah panasnya pertempuran.

Puji Tuhan, aku dimampukan untuk terus mempraktikkan kedua disiplin rohani ini sejak aku pindah ke Singapura. Tuhan terutama memakai kata-kata Charles Spurgeon, seorang pengkhotbah Inggris abad ke-19, untuk mendorongku terus berdisiplin: “Cara terbaik untuk hidup tanpa segala ketakutan terhadap kematian adalah dengan mati setiap pagi sebelum meninggalkan kamar tidur.” Karena diriku yang lama sudah mati dalam dosa, yang sekarang hidup di dalamku adalah Kristus, sang “Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Sudah 5 tahun lebih sejak aku melakukan disiplin “mati” dan dibangkitkan dalam Kristus setiap pagi, dan walaupun tidak setiap hari aku berhasil benar-benar “mati”, kasih karunia Allah selalu cukup dalam memenangkan peperangan rohaniku setiap harinya. Ada banyak keputusan dan lompatan iman penting yang kurasa tidak akan kubuat kalau Kristus tidak benar-benar hidup di dalam aku sejak pagi hari, kalau Tuhan tidak mencelikkan mataku yang buta terlebih dahulu untuk melihat kemuliaan dan keindahan Yesus Kristus dalam segala hal.

Menghidupi Kebangkitan Rohani Bersama

Sebagai penutup, bisakah kamu menduga kaitan aplikasi praktis ini dengan “memelihara tubuh Kristus”? Kalau kamu belum sadar, Paulus dalam doanya tidak pernah meminta kepada Tuhan supaya kita memahami dalamnya kasih Kristus sendirian. Sebaliknya, Paulus memohon agar setiap kita dapat mengenal dan mengasihi Kristus “bersama-sama dengan segala orang kudus” (Efesus 3:18a). Kamu tidak bisa mengenal kemuliaan Kristus yang tak dapat diukur sendirian; kamu membutuhkan perspektif dan pengalaman orang lain untuk dapat melihat batasan lain dari lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus (Efesus 3:18b). Bertekunlah dalam kelompok pemuridan kalau kamu punya, dan kalau kamu belum punya, bergabung dan bertekunlah di sana.

Semoga perenunganku ini dapat membantumu melihat kebangkitan rohani dari perspektif yang lain dan mengaplikasikannya dalam kehidupanmu sehari-sehari. Aku berdoa supaya setiap kita terus bertumbuh “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Efesus 4:13).

Tuhan Yesus memberkati, Soli Deo gloria.

Baca Juga:

Ditelantarkan… Tapi Tidak Dilupakan

Kisah hidupku dimulai dengan ditelantarkan. Aku tidak tahu siapa kedua orang tuaku, pun mengapa aku dilahirkan. Tetapi, Tuhan merajut kisah hidupku.

Yang Terlupakan dari Pelayanan: Kasih Yang Semula

Oleh Erick Mangapul Gultom, Jakarta

Kaum muda dengan semangatnya yang berapi-api dan energinya yang meluap-luap selalu berhasil mengisi dan menghidupi wadah pelayanan dan persekutuan di lingkungan sekolah, kampus, dan gereja. Sungguh luar biasa melihat kaum muda yang memberi diri untuk melayani sebagai pengurus dalam berbagai acara dan kegiatan-kegiatan rohani.

Aku yakin hampir semua sobat muda pernah atau bahkan sedang menjadi bagian di dalam suatu kegiatan pelayanan. Namun, pernahkah kita coba menilik diri kita masing-masing, apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani? Adakah motivasi-motivasi lain yang seringkali jauh dari dasar pelayanan yang sesungguhnya? Jangan-jangan, selama ini pelayanan kita hanyalah sebuah rutinitas semata!

Tuhan Yesus Kristus melalui pewahyuan yang diberikan kepada Yohanes di dalam Wahyu 2:1-7 mengingatkan kita akan motivasi sesungguhnya dalam melayani Tuhan. Sebelumnya, Paulus telah mengabarkan Injil dan melayani di Efesus selama tiga tahun (Kisah Para Rasul 20:31). Ketika Paulus hendak meninggalkan kota Efesus, ia memperingatkan jemaat untuk berjaga-jaga dari pengajaran sesat yang akan masuk dan memengaruhi jemaat Efesus (Kisah Para Rasul 20:29-30).

Tuhan Yesus mengetahui segala pekerjaan pelayanan yang dilakukan oleh jemaat Efesus: jerih payah menjaga jemaat dari orang-orang jahat, ketekunan mereka di tengah-tengah kesulitan, bahkan melawan setiap orang yang hendak menarik jemaat keluar dari kebenaran firman. Mereka bahkan telah mencobai dan memeriksa dengan teliti apa yang diajarkan oleh rasul-rasul palsu dan mendapati mereka sebagai pendusta. Jemaat Efesus telah memberi teladan sikap rela menderita.

Secara kasat mata, tentu kita bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh jemaat Efesus adalah hal yang sangat baik. Namun, Tuhan Yesus mampu melihat sampai ke dasar hati manusia. Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu; baik jerih payahmu maupun ketekunanmu” (Wahyu 2:2). Pujian Tuhan Yesus kepada jemaat Efesus mirip dengan apa yang dituliskan oleh Paulus dalam ucapan syukurnya kepada jemaat di Tesalonika, “Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita” (1 Tesalonika 1:3).

Ada bagian penting yang dimiliki oleh jemaat Tesalonika, tetapi hilang dari jemaat Efesus. Jemaat di Tesalonika mempunyai, “pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan”, sedangkan jemaat Efesus hanya mempunyai “pekerjaan, jerih payah, dan ketekunan”. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mencela mereka, sebab mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Mereka melakukan pekerjaan, jerih lelah, dan ketekunan tanpa iman, kasih, dan pengharapan.

Iman adalah inti dari kekristenan. Kita diselamatkan oleh iman yang bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Kebenaran ini memampukan kita untuk mengakui di dalam hati dan seluruh hidup kita bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat kita.

Pengharapan bahwa kita akan menerima kemuliaan Allah (Roma 5:2)—itulah yang menjadi dasar mengapa kita harus tetap bertahan di dalam penderitaan sewaktu mengikut Tuhan di dunia ini dan senantiasa bersukacita dalam kesesakan. Kita percaya bahwa kita memiliki sebuah pengharapan yang kekal, pengharapan yang membawa kita kepada sukacita yang lebih besar daripada menaklukkan roh-roh jahat, yaitu sukacita karena nama kita terdaftar di sorga (Lukas 10:20). Sebuah pengharapan yang begitu indah bagi kita untuk dapat hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam kekekalan.

Semuanya itu dapat kita alami semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa karena melanggar perintah Tuhan, manusia takut dan bersembunyi dari Tuhan. Namun, Allah mencari manusia dan berkata padanya, “Di manakah engkau?”. Sejak mulanya Allah yang berinisiatif untuk mencari dan menyelamatkan kita dengan menebus kita dari hidup yang penuh keberdosaan. Paulus dalam 1 Korintus 13:13 menyebutkan bahwa iman, pengharapan, dan kasih harus tetap tinggal, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih. Allah adalah kasih itu sendiri, dan kasih akan selalu ada sedari awal sampai selamanya.

Apa yang dilakukan oleh jemaat Efesus dapat pula terjadi pada diri kita: mengerjakan pelayanan tanpa sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai pusat dari pelayanan kita. Pelayanan sekadar dijalankan sebagai sebuah pekerjaan, bukan dimaknai sebagai ungkapan kasih kita pada Allah dan upaya untuk menjadi berkat bagi sesama.

Jikalau saat ini kita diperkenankan untuk mengambil bagian dalam pelayanan, marilah kita mengarahkan hati kita kepada-Nya dan tidak meninggalkan kasih yang semula Tuhan anugerahkan kepada kita. Bukan tentang seberapa besar pelayanan yang kita terima dan jalankan, tetapi seberapa besar hati yang kita berikan pada Tuhan di dalam setiap pelayanan kita.

Soli deo gloria.

Baca Juga:

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Harapan Kita

“Mengapa, Tuhan?” Pertanyaan itu sering muncul ketika kenyataan hidup tidak berjalan sesuai harapan. Dalam artikel ini, aku ingin mengajakmu menggali jawaban dari firman Tuhan terkait pertanyaan “mengapa” tersebut.

Kejenuhan, Celah Si Jahat Untuk Hambat Produktivitas

Oleh Santina Sipayung, Batam

Berjam-jam duduk di kelas. Berhari-hari mengerjakan tugas. Berbulan-bulan menyelesaikan skripsi. Bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama. Tak dapat dipungkiri, menjalani rutinitas atau mengerjakan sesuatu dalam jangka waktu yang lama seringkali membuat kita merasa jenuh.

Sebenarnya, apa itu kejenuhan?

Kejenuhan adalah sindrom yang ada pada tataran emosi. Area kejenuhan pada mental ialah perasaan kehilangan idealisme, gagal sebagai pribadi, dan menyebabkan kesulitan berkonsentrasi. Kejenuhan pada mental dapat ditandai dengan tidak lagi memiliki pengharapan dan cepat menuduh diri sendiri. Bahkan, citra diri di dalam Kristus terkadang dapat terkikis karena kondisi mental yang negatif. Apabila dibiarkan berlarut-larut, kejenuhan bisa menjadi stres yang berkepanjangan dan dapat menyebabkan sakit jiwa.

Kejenuhan yang terjadi pada tataran mental turut berimbas pada area fisik. Kondisi fisik yang menurun karena kejenuhan turut menyebabkan kecenderungan darah tinggi serta serangan otak karena kelelahan. Kelelahan tersebut juga dapat menyebabkan migrain, sakit kepala, dan flu yang tidak kunjung sembuh.

Orang yang mengalami kejenuhan seringkali memiliki kesulitan untuk menyelesaikan aktivitas yang sudah dimulai atau malas melakukan rutinitas yang seharusnya dijalani. Ia jadi cepat bosan, tidak sabar, dan sulit menghargai diri sendiri dan orang lain. Iblis dapat menggunakan celah kejenuhan untuk menurunkan produktivitas dan membuat kita tidak lagi bergairah dalam menjalankan aktivitas rohani maupun pelayanan-pelayanan kita.

Lalu, siapakah orang yang rentan mengalami kejenuhan?

Orang yang rentan mengalami kejenuhan adalah orang-orang yang ambisius, pernah memiliki akar pahit, dan orang yang tidak sanggup berkata “tidak” pada orang lain. Ketiga hal tersebut memberi tekanan pada diri mereka yang berujung pada depresi.

Kejenuhan menjadikan kita kesulitan bertumbuh dan menghalangi peluang kita untuk maju. Oleh karena itu, tentu saja kejenuhan harus diatasi. Berikut adalah langkah konkret yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kejenuhan.

1. Sadari dan akui kejenuhan itu

Langkah pertama untuk mengatasi kejenuhan adalah menyadari perasaan jenuh dan belajar untuk mengakui kejenuhan yang kita rasakan. Seringkali kita berusaha untuk menyangkal kejenuhan dan berusaha untuk terus memforsir diri kita agar dapat menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan dalam rutinitas kita, meski tidak lagi dapat mencapai hasil yang maksimal.

2. Kenali diri dan ketahui kapasitas diri

Setelah menyadari kejenuhan, selanjutnya kita perlu mengenali diri sendiri. Apa saja kondisi yang membuat diri kita jenuh? Kita dapat sejenak berhenti dari aktivitas kita untuk merenung. Jangan lupa juga untuk berdoa dan ceritakan pergumulan kita kepada Tuhan.

Selain itu, kita juga harus mengetahui kapasitas diri kita dan memohon bimbingan Tuhan sebelum memutuskan untuk berkegiatan. Pekerjaan dan aktivitas yang bertumpuk dapat kita bagi menjadi pekerjaan prioritas, mendesak, dapat ditunda, atau pekerjaan yang dapat ditinggalkan. Mengenali kesibukan kita akan membantu kita mengenal Allah yang menganugerahkan setiap aktivitas yang kita miliki. Kita dapat menyerahkan diri dan hidup kita sepenuhnya ke tangan Tuhan karena kita adalah kepunyaan-Nya. Ketika kita membiarkan Allah mengambil alih hidup kita dan melakukan semuanya untuk Tuhan, niscaya kita dapat terlepas dari kejenuhan.

3. Mencari tahu kegiatan untuk keluar dari kejenuhan

Pertanyaan kedua untuk direnungkan adalah, kegiatan apa yang dapat membantu kita untuk mengatasi kejenuhan? Melakukan hobi bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa jenuh. Misalnya, ketika mulai bosan belajar atau mengerjakan tugas selama berjam-jam, selingi dengan bermain musik, berolahraga, menggambar, atau hobi lainnya.

Dalam konteks membaca Alkitab atau bersaat teduh, ada orang yang bisa mengatasi jenuh dengan bersaat teduh dari kitab tertentu (Amsal) selama sebulan, tetapi ada juga yang lebih suka membaca renungan dari kitab yang berbeda-beda setiap harinya. Ada juga yang lebih suka menonton video khotbah dibandingkan membaca buku, atau berselang-seling setiap harinya agar tidak jenuh.

Ketika merasa jenuh, ingatlah bahwa kita tidak pernah sendiri. Tuhan Yesus membuka tangan-Nya lebar-lebar dan menanti kita untuk mencurahkan isi hati kita pada-Nya. Dalam Matius 11:28, Ia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Pada-Nya ada jawaban dari setiap pergumulan kita dan pada-Nya ada kelegaan bagi setiap kita. Saatnya datang pada-Nya dengan penuh kerendahan hati dan izinkan Tuhan memegang kendali hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Tuhan Membentukku Lewat Pekerjaan yang Tak Sesuai dengan Passionku

Ketika pekerjaanku tidak sesuai passionku, yang terpikir olehku adalah resign. Tapi, Tuhan membuatku bertahan di pekerjaan itu sampai waktu tia tahun lebih! Dan, tak kusangka, pekerjaan ini dipakai-Nya untuk membentukku.

Kepada Temanku yang Berpikir untuk Menyerah

Oleh Rebecca Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Letter To The Friend Who Feels Like Giving Up On God

Temanku,

Aku terkejut dan tak menyangka ketika kamu berkata bahwa kamu ingin “menyerah”.

Tapi, jika aku memutar kembali memoriku, kupikir keputusan itu seharusnya tidaklah mengejutkanku.

Untuk waktu yang lama, kamu bergumul dengan rasa sakit, konflik yang tak kunjung selesai, dan beban emosi yang menunggangimu. Kami melihat rasa sakitmu sebagai tanda seolah Tuhan telah meninggalkan dan mengabaikanmu di tengah belantara sendiran.

Mungkin saat ini kamu menyangkali perasaanmu, tapi aku ingin kamu tahu akan suatu kebenaran.

Terkadang, sulit rasanya untuk melihat kembali perjalanan kita di belakang, terutama ketika perjalanan itu seolah tidak tampak ujungnya. Dan, aku pun tahu betapa kerasnya kamu sudah berusaha untuk mencari Tuhan di tengah banyak pencobaan yang kamu lalui selama beberapa tahun belakangan. Aku tahu kamu berusaha menggenggam erat tangan Tuhan terlepas situasi yang tak dapat kamu pahami. Aku tahu betapa susah payahnya kamu berjuang untuk menemukan jawaban.

Kamu mengorbankan banyak bagian dari masa mudamu untuk melayani-Nya. Kamu menukarkan tawaran pekerjaan yang menguntungkan untuk pekerjaan misi Tuhan—merelakan kenyamanan materialmu, keuanganmu, dan bahkan relasi dengan keluargamu—untuk hidup di antara orang miskin dan membangun kerajaan-Nya di sana. Kamu merasa hancur ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kamu harapkan, dan kamu malah diminta untuk pergi meninggalkan pekerjaanmu setelah banyak perselisihan dengan rekan sekerjamu. Kamu pun pulang ke rumah dengan hati yang hancur, letih, dan kecewa.

Tapi, kamu masih belum mau menyerah, kamu masih berjuang untuk memberikan hidupmu untuk Tuhan. Kamu ingin hidupmu berkenan pada-Nya, jadi kamu melibatkan dirimu lebih banyak ke dalam kesempatan pelayanan, mengikuti studi teologi, dan meluangkan lebih banyak waktumu bersama Tuhan.

Aku ingat percakapan panjang yang pernah kita lakukan. Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Mengapa Tuhan tidak memberimu jalan keluar? Mengapa Tuhan membuat segalanya lebih mudah supaya kita bisa melihat bahwa Dia bekerja di balik layar? Waktu itu kuharap aku bisa menolongmu menemukan jawaban-jawaban yang baik, yang memberi penghiburan, dan juga kedamaian.

Hingga saat ini, aku masih belum memiliki jawabannya.

Namun, inilah yang kuingin kamu tahu: Di momen terendah dalam hidupku sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Ingatkah kamu suatu masa ketika aku merasa seperti ada di puncak dunia—aku merasa seolah aku mendapatkan pekerjaan impianku hingga kemudian semuanya hancur hanya dalam satu hari? Hari itu, aku tidak hanya kehilangan pekerjaan, aku kehilangan visi dan semangat hidupku, semua rencana yang telah kususun berubah jadi butiran debu.

Butuh waktu yang lama untukku pulih dan mulai percaya lagi kepada Tuhan, bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu dalam hidupku. Tapi, di masa itu, kamu ada bersamaku ketika aku memutuskan untuk mengambil jeda sejenak dan pergi ke suatu tempat selama enam bulan, berharap dari perjalanan itu aku bisa mendapatkan visi yang lebih jelas akan apa yang harus kulakukan kelak.

Ingatkah kamu selama sembilan bulan setelahnya aku berjuang untuk mendapatkan pekerjaan? Aku lelah, tiap aplikasi lamaran kerjaku tidak berbalas. Aku pun harus mengahadapi banyak pertanyaan tentang mengapa aku masih menganggur. Kamu tahu betapa aku enggan ke luar dari rumah, aku takut menghadapi lebih banyak lagi pertanyaan yang tak mampu kujawab. Dan, kamu ada bersamaku hingga akhirnya ada tawaran kerja datang padaku.

Kamu ada bersamaku untuk mendengarkanku ketika aku terjebak dalam lingkungan kerja yang beracun, hingga aku bertanya-tanya apakah aku mendengarkan kata Tuhan untuk mengambil pekerjaan ini? Adalah perjuangan yang berat untuk bangun dari tidur setiap harinya, dan tiba di rumah setiap malam dengan tubuh lelah dan jiwa tertekan, bertanya-tanya bagaimana bisa aku mengumpulkan energi untuk bisa kembali bekerja besok.

Kamu melihatku tumbuh dalam keputusasaan ketika satu-satunya temanku di tempat kerja pindah ke tempat lain. Aku heran, mengapa Tuhan memberi jalan keluar bagi orang lain dengan mudahnya, sedangkan aku terjebak di sana dan harus memperjuangkan hidupku sendiri. Aku merasa pahit dan marah pada Tuhan, aku tidak bisa mengerti apa baiknya untukku jika aku tetap berada di tempat itu.

Lebih dari satu tahun aku bergumul demikian hingga akhirnya aku menemukan jalan keluar.

Sekarang, beragam rasa sakit dan kebingungan yang kualami dulu datang bersamaan. Dan, aku mulai melihat gambar yang Tuhan maksudkan untuk hidupku.

Aku mungkin bertanya-tanya apakah segala rasa sakit yang kualami itu sia-sia atau tidak, tapi yang kutahu adalah rasa sakit itu memberiku sedikit pemahaman akan apa yang ingin kubagikan dalam persekutanku bersama Tuhan Yesus.

Aku membagikan ceritaku bukan supaya kamu meremehkan apa yang sedang kamu alami, atau membubuhi garam dalam lukamu. Aku menulis ini untuk mengingatkanmu betapa aku menghargai kebersamaan denganmu, ketika kamu duduk bersamaku dalam dia, meratap bersamaku di dalam pergumulanku, dan bersukacita ketika aku mendapatkan jalan keluar. Dan, yang kuingin kamu tahu adalah aku ada di sini untuk melakukan yang sama untukmu.

Selama beberapa tahun, aku mendengar Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3-7. Aku bersukacita untuk kesempatan berjalan bersamamu, menghiburmu dengan penghiburan yang telah kuterima dari Tuhan (ayat 4).

Hari ini, salah satu lagu favoritmu terputar di playlist-ku, dan itu mengingatkanku akan api yang dulu pernah membara dalam dirimu, kerinduanmu untuk melihat kebaikan Tuhan dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekitarmu (Mazmur 27:13).

Mungkin kata-kataku ini rasanya tak berarti buatmu sekarang.

Tapi, seperti pertemanan dan pertolongan doa darimu menolongku untuk melihat kembali pada Tuhan, aku mau tetap berdoa dan percaya bersamamu, bahwa kita akan bersama-sama melihat kebaikan Tuhan. Suatu hari, kamu akan memahami alasan di balik apa yang kamu alami, dan waktu-waktu yang telah kamu luangkan tidaklah berakhir sia-sia.

Dan di lain kesempatan ketika kamu menyanyikan lagu “Engkau baik”, akan ada api semangat yang berbeda. Api itu akan menjadi api kepercayaan seperti yang diucapkan oleh pemazmur yang berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mazmur 27:1). Tuhan tahu jalan hidup kita, dan ketika Dia menguji kita, kita akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Kita akan mengalami itu sebagai buah dari kelembutan hati yang bersedia mencicipi dan melihat kebaikan Tuhan, bahkan ketika kita telah memutuskan untuk melepaskan tangan-Nya.

Sampai tiba masa itu, aku akan terus berdoa untukmu, berjalan bersamamu, dan menunggu bersamamu.

Dengan kasih,

Temanmu.

Baca Juga:

Kecelakaan Hebat Menghancurkan Hidupku, Namun Kisahku Tidak Berakhir di Situ

Ketika aku berusia 16 tahun, segala sesuatu dalam hidupku berjalan dengan baik. Aku unggul di bidang akademis dan olahraga Judo, masa depanku tampak menjanjikan. Namun, hari-hari kejayaanku itu berakhir secara tragis dan mendadak pada 20 April 2010. Aku mengalami cedera otak traumatik (traumatic brain injury; TBI).

Belajar untuk Tidak Khawatir

Oleh Priscila Stevanni, Jakarta

Seandainya jalan hidup manusia berlapis karpet merah, tentu kita tidak akan pernah ragu, khawatir, atau bahkan takut menghadapi masa depan.

Pernahkah kamu membayangkan jadi seseorang yang mendapatkan kesempatan istimewa untuk berjalan di atas karpet merah? Karpet merah membuat langkah kita terasa aman dan nyaman karena ia melapisi semua kerikil yang mengganggu jalan kita. Tapi, sayangnya, kita jarang atau bahkan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berjalan di atas karpet merah tersebut. Kehidupan kita lebih sering dipenuhi oleh jalanan yang berbatu, berlubang, tidak lurus, bahkan tertutup kabut hingga kita tak dapat melihat apa yang ada di depan.

Momen awal tahun mungkin membuat kekhawatiran kita semakin terpampang jelas. Apa yang akan terjadi di tahun ini? Apakah kita akan gagal lagi? Mampukah kita menghadapi tahun ini beserta gelombang-gelombangnya yang bersambut?

Setiap Kamis pagi, di rumah sakit tempatku menjalani internship, selalu diadakan kebaktian yang boleh diikuti oleh semua karyawan dan pasien yang berobat di sana. Pagi itu, di tengah perjalanan menuju ruang kebaktian, aku bertemu dengan seorang anak yang duduk di atas kursi roda. Aku mengenalnya sebagai salah satu pasien di sini. Sebut saja namanya Glen. Glen berusia delapan tahun dan ia menderita leukemia. Ia merupakan pasien ‘langganan’ yang sering masuk rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Selama dua bulan aku sudah beberapa kali melihatnya dirawat.

Kemoterapi yang dijalani Glen tidak selalu berjalan lancar. Ia berkali-kali mengalami reaksi alergi; berulang kali harus ditransfusi; dan berulang kali harus menunda kemoterapi hingga kondisi tubuhnya cukup stabil untuk menerima obat. Kondisi Glen dapat berubah dengan cepat. Ia bisa tiba-tiba sesak dan demam di tengah kemoterapinya, nyeri perut hebat, hingga menggigil semalaman.

Aku pernah bertemu dengan Glen di bangsal. Saat aku memeriksa dan menanyakan keadaannya, aku melihat bahwa Glen adalah anak yang berani. Ia tidak mengeluhkan sakit yang dirasakannya. Pernah suatu ketika, ia harus menjalani transfusi darah berkantong-kantong, namun ia masih bisa menghibur ibunya yang menemaninya.

Perjumpaanku dengan Glen dan melihatnya hadir di kebaktian pagi itu membuatku merasa ditegur. Di tengah ketidakpastian hidupnya, Glen tetap datang kepada Tuhan. Glen mungkin tidak tahu apa yang ia akan hadapi di masa depan. Kondisinya bisa saja membaik, namun bisa juga memburuk tiba-tiba. Tapi, yang kutahu adalah Glen, si pejuang kecil ini tidak pernah menyerah. Di tengah ketidakpastian akan hari esok, ia berserah kepada Bapa.

Aku berkaca pada diriku sendiri, betapa aku perlu belajar dari Glen. Aku sering merasa takut dan bimbang akan masa depan yang terkadang tidak jelas. Aku lupa bahwa firman Tuhan dengan jelas mengatakan:

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”—Matius 6:31-33.

Rasa takut akan masa depan memang merupakan suatu keniscayaan dalam kemanusiawian kita. Tidak ada karpet merah bagi kita, pun jalan hidup kita tidak selalu terbentang jelas tanpa kabut. Namun, ketakutan dan keraguan kita tidak boleh jadi penghalang untuk iman kita tetap tumbuh. Sebaliknya, di tengah kekhawatiran dan keraguan yang mengusik, kita dapat datang kepada Tuhan yang selalu menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan dalam perjalanan hidup kita.

Jehovah Jireh!

Baca Juga:

3 Kebenaran yang Menolongku Menghadapi Tantangan Hidup

Ketika menghadapi tantangan dalam kehidupan, kita sering berharap agar situasi yang kita hadapi berubah menjadi lebih baik. Tapi, ketika itu tidak terjadi, tak jarang kita pun meragukan Tuhan.

Namun, inilah 3 hal yang menolongku untuk menghadapinya.