Posts

Nafsu dalam Pacaran: Dosa Terselubung yang Tidak Kita Bicarakan

Oleh Wendy Wong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Lust in Dating: The Secret Sin We Don’t Talk About

Aku dan suamiku sudah menikah selama setengah tahun. Sebelum menikah, kami pacaran selama dua tahun lebih.

Selama masa-masa pacaran, kami bergumul dengan dosa yang amat kami sesali. Hanya teman yang paling dekat dan pemimpin di gereja kami yang tahu akan dosa itu: hawa nafsu.

Dari berpegangan tangan hingga peluk-pelukan, godaan untuk semakin dekat secara fisik semakin kuat saat relasi kami menjadi lebih erat.

Kami coba lawan godaan ini sebisa mungkin. Kami berdoa memohon pengendalian diri, menundukkan diri kami dalam firman Tuhan tentang kekudusan, membaca dan membaca lagi artikel dan renungan Kristen tentang mengalahkan nafsu, menetapkan batasan-batasan fisik, menangis dan merasa malu setiap kali kami melanggar kesepakatan, berusaha bertanggung jawab dan jujur berbicara ke pembimbing kami, dan datang ke konselor Kristen bersama-sama.

Namun, seringkali rasanya semua usaha itu sia-sia. Kami ‘melakukan’ semuanya dengan benar, iya kan?

Lucunya, meskipun kami pikir kami tahu apa yang Alkitab, buku, dan pasangan yang sudah menikah katakan tentang dosa hawa nafsu, kami tidak cukup mengerti. Sebatas pengetahuan tentang apa yang benar tidak cukup untuk menghindarkan kami dari melakukan hal yang salah. Jauh lebih mudah untuk memuaskan keinginan daging yang menggebu-gebu daripada mendengarkan bisikan Roh Kudus untuk menahan nafsu kami.

Hanya ketika kami mengalami konsekuensi dosa, kami akhirnya mengerti alasan di balik aturan-aturan yang dibuat. Tatkala memuaskan nafsu terasa menyenangkan saat itu, dampak setelahnya yang muncul bisa berupa perasaan malu, bersalah, dan sakit yang bertengger berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Kami menyadari bahwa ketika kami menyerah pada nafsu, kami sedang menyakiti satu sama lain dan mendukakan Tuhan yang telah menyucikan, menebus, dan membayar lunas kita dari dosa dengan pengorbanan Kristus di kayu salib.

Karena hawa nafsu adalah dosa terselubung, pasangan Kristen yang merasa dirinya baik cenderung tidak membahasnya karena berpikir mereka mungkin tidak akan jatuh di dalamnya. Namun, ketika kita terjatuh ke dalamnya, kita merasa sendiri dan terasing, bahkan juga merasa gagal dalam membina hubungan. Kita membangun pemahaman bahwa pasangan Kristen haruslah pasangan yang terlihat “rohani”, sehingga kita jadi ragu atau bahkan merasa kurang “rohani” jika kita membahas hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian diri dari hawa nafsu.

Ketika kubilang kita bergumul dengan hawa nafsu, kita sungguh bergumul dengannya.

Menemukan harapan di tengah peperangan kita

Aku telah melihat Tuhan memiliki tujuan untuk setiap masa yang terjadi dalam hidup kita, tak peduli betapa remeh atau susahnya itu. Tuhan menggunakan masa-masa di mana aku bergumul dengan kekudusan agar aku juga mengalami apa yang dirasakan Daud saat dia menyerukan pertobatannya dalam Mazmur 51.

Mazmur itu telah kubaca sebelumnya, sebagai doa pertobatan dan memohon ampun ketika aku berdosa terhadap Tuhan. Tapi, mazmur itu terasa lebih menyentuh sebagai ratapan pribadiku ketika aku benar-benar terjerat dengan dosa seksual.

Mazmur 51 menunjukkan suasana hati Daud ketika dia berada di titik terendah setelah dia berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria.

Daud menyerukan penyesalannya pada Tuhan, mengakui dia telah amat berdosa terhadap Tuhan. Bukan Batsyeba, wanita bersuami yang diambil paksa oleh Daud. Bukan Uria, suami Batsyeba yang dibunuh oleh Daud. Bukan juga nabi Natan yang menentang kebohongan Daud.

Daud menyadari dia telah berdosa terhadap Tuhan saja: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” (Mazmur 51:4).

Mungkin kamu bisa merasakan betapa hancurnya perasaan Daud saat dia menyadari dosa terberatnya. Namun, seruan penyesalannya juga menyiratkan secercah harapan—suatu harapan bahwa dosa pribadinya akan membawanya kepada keselamatan dan pemulihan, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk bangsanya (Mazmur 51:7-15).

Di manakah harapan Daud berakar? Di mana dia mendapatkan harapan di tengah situasi nan gelap yang diakibatkan dosanya sendiri?

David tahu bahwa dosanya—perzinahan dan pembunuhan—bukanlah segalanya dan bukan pula akhir dari hidupnya. Dia tahu Tuhan tidak cuma kudus dan hakim yang adil terhadap segala dosa kita, tetapi juga Tuhan yang menunjukkan belas kasihan, kasih, dan keselamatan. Daud tahu Tuhan tidak hanya berkenan kepada persembahan secara fisik, tetapi juga “hati yang hancur” yang diberikan kepada-Nya dalam penyerahan diri dan pertobatan (Mazmur 51:17). Daud tahu tak peduli betapa jahat pelanggarannya, Tuhan sanggup menyapu bersih setiap titik dosa-dosanya (Mazmur 51:7-9, 14).

Tak hanya itu, Daud tahu pula bahwa Tuhan dapat menciptakan hati yang murni, membaharui dan meneguhkan jiwanya, serta memulihkannya agar dia bisa bersukacita atas keselamatan yang datang dari pada-Nya (Mazmur 51:10-12).

Memegang firman Tuhan dekat dengan hati kita

Aku tidak ingat berapa kali aku mendoakan mazmur ini dengan berlinangan air mata. Mazmur ini kupegang erat, sebagai janji dan penghiburan, melalui setiap halangan dan rintangan, di lembah gelap dan setiap sudut yang memalukanku.

Mazmur 51 mengingatkanku lagi dan lagi: bahwa meski aku telah berdosa terhadap Tuhan, dosa itu bukanlah akhir dari kisah hidup kami. Aku bisa berpaling pada Tuhan dan menemukan belas kasih dan pengampunan yang amat besar, jika aku menghampiri-Nya dengan pertobatan dan kerendahan hati—bukan karena hal-hal baik yang telah kulakukan, tapi murni karena kebesaran dan kebaikan-Nya.

Firman-Nya memberiku harapan dan kekuatan untuk berseru kepada-Nya setiap kali aku jatuh dan gagal, untuk menemukan pengampunan dan kekuatan dalam perjalananku, dan bahkan untuk menuliskan kisah ini.

Selama dua tahun lebih menjalin relasi, firman-Nya dan Roh-Nya menempa kami untuk menjadi pasangan yang setia kepada-Nya dalam kehidupan spiritual, emosional, dan fisik kami. Kami belajar bahwa senjata terpenting melawan hawa nafsu bukan cuma memusingkan diri dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tapi dengan duduk diam di kaki Yesus setiap hari, mendengarkan firman-Nya, dan memilih bagian yang terbaik: Tuhan dan Juruselamat kita sendiri (Lukas 10:38-42).

Seperti Daud yang mengubah pelanggarannya menjadi kesaksian bagi Tuhan, aku juga berdoa kiranya pergumulan kami dapat menguatkanmu untuk berani melawan dosa-dosamu, sesuai dengan apa yang tertulis dalam Alkitab:

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu,
Dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran,
Supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku,
Maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!
Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

Mazmur 51:14-17

Baca Juga:

Ketika Kisah Cinta Kami Berjalan Keliru

Adalah hal yang sangat menakutkan ketika aku memilih untuk menghabiskan malamku dengan tunanganku dibandingkan meluangkan waktu menyendiri dengan Tuhan, ketika hatiku lebih mendapat kepuasan di dalamnya dibanding di dalam Tuhan, ketika aku lebih mengkhususkan perhatianku untuk kebutuhan dan keinginannya, bukan untuk mengenal dan mematuhi Tuhan.

Pengakuan Terjujur dalam Hidupku

Oleh Lestari*, Jakarta

Pernahkah kalian merasakan terpesona untuk kesekian kalinya pada seseorang atau sesuatu, seakan rasa kekaguman itu baru kalian alami pertama kali? Aku pernah. Aku masih ingat saat aku memutuskan untuk meninggalkan dosa lamaku dan memulai hidup baru. Jiwa melayani yang begitu berapi-api, rasa haus yang begitu mendalam untuk mengikuti setiap pembinaan. Ah, seperti baru kemarin aku mengalami itu. Kerap kali aku diingatkan oleh banyak pembicara dalam pembinaan, hati-hati terhadap semangat yang tinggi karena tidak menutup kemungkinan akan meredup, serupa buih soda saat pertama kali dibuka.

Empat tahun menjadi alumni, aku mulai mengalami masa–masa di mana aku tidak bisa lagi menikmati indahnya persekutuan karena jam kerja di kantor yang membuatku sering lembur. Perlahan, kurasakan aku semakin menuju lembah yang kelam. Sampai di tahun 2019, aku kembali terjatuh dalam dosa lama. Saat itu, aku tahu bahwa itu dosa dan bukan tidak mungkin aku akan kembali diperbudak olehnya. Namun pikiranku buntu dan seakan seperti tahu bahwa pornografi adalah jalan keluarnya. Awal mula hanya sebagai penonton. Hingga aku tiba di satu masa, di mana aku sendiri melakukannya. Pemikiran akan bebasnya hubungan berpacaran saat ini ditambah kurangnya menikmati Firman Tuhan membuat aku melakukannya. Aku melakukan itu bahkan bukan dengan pacarku, melainkan dengan seorang pria yang baru aku kenal dari situs pencarian jodoh. Mungkin juga dipicu oleh rasa frustasi yang begitu menghantuiku mengenai pasangan hidup. Meski aku sudah tidak lagi berhubungan dengan pria itu, tapi aku tidak bisa menghentikan keinginanku untuk menikmati video pornografi. Rasa kecewa ini yang justru membuatku semakin membenamkan diri dalam jerat pornografi. Kukira aku sudah berhasil membunuh Iblis di dalam diriku. Ternyata, aku tidak bisa menenggelamkan Iblis dalam diriku, ia tahu caranya berenang.

Aku sadar telah terlampau jauh tersesat, terlalu jauh untuk kembali, dan kecewa pada diri sendiri. Terlebih aku malu pada Tuhan yang kepada-Nya aku berutang hidup. Bisa dikatakan saat itu aku bagaikan mayat hidup berjalan. Aku tetap pergi ke gereja setiap minggunya, pelayanan di gereja saat ada tugas, namun dalam hatiku begitu kering dan gelap. Pelan tapi pasti, aku berjalan menuju ke lembah kelam. Awal Mei, aku mengikuti retret dari gereja. Malam hari, ada acara renungan yang dibawakan oleh kakak gerejaku. Semua peserta berikut panitia masuk ke dalam aula yang lampunya dimatikan dan hanya diterangi cahaya dari lilin yang disebar di penjuru ruangan. Kami melakukan Jalan Salib dengan menyaksikan kembali penggalan cerita dari film Passion of The Christ sambil diiringi lagu yang dinyanyikan di tiap pemberhentian. Tuhan punya cara sendiri untuk menyadarkan kita. Di salah satu pemberhentian sebelum Yesus disalibkan, penyanyi menyanyikan lagu “He” yang liriknya seperti ini:

He can turn the tide and calm the angry sea
He alone decides who writes a symphony
He lights every star that makes our darkness bright
He keeps watch all through each long and lonely night
He still finds the time to hear a child’s first prayer, saint or sinner call, you’ll always find Him there
Though it makes Him sad to see the way we live, He’ll always say “I forgive!”

Bagian akhir lagu itu begitu meremukkanku. Tuhan tahu ketika aku melihat video porno, bahkan Ia juga tahu ketika aku melakukan dosa saat tidur dengan seorang pria dan apa yang aku lakukan itu membuat hancur hati-Nya. Aku turut menyalibkan Yesus karena dosa–dosaku. Malam itu, di bawah salib Yesus, aku mengaku akan semua dosa–dosa dan kelemahanku kemudian menyerahkan diriku kepada-Nya dan memperbaharui komitmenku. Malam itu, aku terpesona oleh cinta dan kasih-Nya untuk kesekian kalinya. Kini aku sudah mulai menikmati kembali relasi dengan Tuhan dan Firman-Nya. Di waktu senggang aku mengusahakan agar pikiranku tidak kosong dan tidak mulai mengakses situs porno dengan membaca buku, menulis atau melakukan kegiatan rumah tangga lainnya.

Sahabat, selama kita hidup kita akan terus bergumul akan dosa–dosa kita. Penebusan hanya sekali yaitu ketika Kristus mati, namun pengudusan terjadi berulang kali selama kita hidup. Tangan Yesus akan terus terbuka menanti kita hingga saatnya kita dipanggil nanti. Adalah sebuah pilihan, apakah kita mau berbalik kepada Kristus atau terus terjebak dalam dosa kita. Apakah kita akan membiarkan Kristus terus berdiri diluar pintu hati kita, atau kita mau membiarkan Dia masuk dan tinggal. Apapun pergumulan dosamu saat ini, jangan ragu untuk segera datang pada Yesus dan minta pengampunan dari-Nya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yohanes 3:16).

*Bukan nama sebenarnya.

Baca Juga:

Just Be Yourself! Apakah Harus Selalu Begitu?

“Just be yourself”, hidup kita terlalu berharga untuk menghiraukan komentar orang lain. “Nobody perfect”, jadi anggap saja itu bagian dari kelemahanmu. Apakah harus selalu begitu?

Saat Pikiranku Terjerat Fantasi Seksual

Oleh Steviani*, Sulawesi Selatan

Ketika aku menulis artikel ini, aku sedang mengevaluasi diriku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati kalau hidup yang kujalani dulu bukanlah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Meski sejak kecil aku sudah ikut sekolah Minggu dan diajar untuk percaya kepada Yesus, tapi itu tidak menjamin bahwa aku bisa mengendalikan diriku dari dosa.

Sepuluh tahun lalu aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Sejak saat itu aku berusaha menghidupi iman percayaku dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa, membaca firman Tuhan, juga melayani di gereja. Tapi, ada satu hal dalam hidupku yang sulit aku kendalikan: pikiranku.

Pikiranku begitu mudah tertuju kepada hal-hal yang berbau seksual. Saat aku sedang sendirian, atau ketika ada temanku datang dan mereka menyinggung sedikit saja tentang seks, imajinasiku langsung berkembang. Waktu SMA dulu aku pernah belajar tentang seksualitas dalam pelajaran Biologi, tapi imajinasi yang ada dalam pikiranku bukanlah imajinasi tentang seks yang ilmiah. Pikiranku berisikan fantasi-fantasi seksual.

Mungkin berimajinasi tentang sesuatu yang berbau pornografi terlihat tidak ‘membahayakan’ jika dibandingkan dengan melakukan hubungan seks bebas. Akan tetapi aku ingat bahwa dalam kitab Matius 5:28 Yesus pernah berkata kalau “memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Dari ayat ini, aku mendapati bahwa fantasi seksualku itu merupakan sesuatu yang menjijikkan di hadapan Tuhan.

Meski aku tahu bahwa apa yang kulakukan ini tidak menyenangkan Tuhan, tapi aku merasa sulit sekali untuk melepaskan diriku dari fantasi seksual yang muncul di pikiranku. Berulang kali aku membiarkan diriku jatuh ke dalam kedagingan, memuaskan nafsu di dalam pikiranku. Lama-lama aku lelah. Aku berusaha sekuat tenaga, tapi tetap saja aku jatuh. Aku takut apabila kejatuhanku dalam dosa fantasi seks ini dapat menyeretku kepada perbuatan-perbuatan yang tidak kuinginkan. Hingga suatu ketika, aku mendapati sebuah ayat dari 1 Petrus 1:14-16 yang berkata demikian:

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Ayat ini menyentakku. Sebagai anak Tuhan, firman-Nya dengan jelas berkata kalau aku tidak boleh hidup menuruti hawa nafsuku. Tapi aku malah membiarkan hawa nafsu itu menguasai pikiranku dengan anggapan kalau fantasi burukku itu masih jauh lebih baik daripada aku melakukan dosa seksual langsung secara fisik. Namun, kembali Allah menegurku. Gary Inrig dalam bukunya yang berjudul “Pursue Desire” berkata: dosa selalu meyakinkan kita untuk bertindak demi kebaikan kita, sekalipun itu berarti melawan firman Allah. Aku pun tersadar kalau selama ini aku tidak melibatkan Tuhan sungguh-sungguh dalam perjuangan ini. Aku membiarkan dosa mengakar dalam diriku hingga lama-lama aku semakin berkompromi dengan dosa ini.

Dosa tetaplah dosa. Yesus menegaskan bahwa perzinahan bahkan sudah dilakukan ketika hawa nafsu itu baru muncul di pikiran, dan bila aku membiarkan pikiranku terus menerus berimajinasi tentang seks, maka artinya aku tidak benar-benar mengindahkan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengabaikan pengorbanan-Nya di kayu salib.

Saat itu aku berdoa, memohon ampun, dan meminta supaya Tuhan memimpin langkahku untuk keluar dari jeratan dosa ini. Aku sadar bahwa aku adalah manusia yang lemah, mudah jatuh ke dalam dosa. Aku butuh pegangan yang kuat, yaitu Allah sendiri. Salah satu strategi yang kulakukan adalah belajar mengisi pikiranku dengan hal-hal yang positif, seperti yang Rasul Paulus katakan:

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ketika teman-temanku mulai berbicara sesuatu yang berhubungan seks, aku menjauhkan diri sejenak dari obrolan mereka. Kalau aku sedang sendiri, aku berusaha tidak melamun dan menyibukkan diriku dengan aktivitas lainnya seperti membaca buku, Alkitab ataupun berdoa.

Sekarang, aku tidak lagi mudah terjatuh ke dalam dosa tersebut. Semua karena anugerah-Nya. Ketika aku mengakui dosa-dosaku, menyesal, dan berkomitmen untuk bertobat di hadapan-Nya, maka Allah akan memampukanku untuk melakukannya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Sungguh, Allah Kita Mahaagung!

Suatu hari, kami belajar tentang Human Genome Project, atau Proyek Genom Manusia. Para peneliti membutuhkan waktu 13 tahun untuk memecahkan keseluruhan informasi genetik manusia yang rumit. Tapi kemudian kusadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mengagumkan.

3 Alasan untuk Tidak Melakukan Hubungan Seks Sebelum Menikah

Oleh Ross Boone
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Other Reasons Not To Have Sex Before Marriage

Aku sedang melakukan perjalanan bersama temanku saat dia mengetahui kalau aku berkomitmen tidak melakukan hubungan seks sampai nanti aku menikah. “Tidak pasti juga kalau aku akan menikah,” tambahku. Dia menghentikan obrolan, menoleh ke arahku dan berkata tegas, “Janji kepadaku kalau kamu akan melakukan hubungan seks sebelum kamu meninggal!”

Aku punya seorang teman Kristen yang berdebat sepanjang waktu tentang apakah boleh melakukan hubungan seks di luar pernikahan seperti yang budayanya tekankan, atau menanti sampai pernikahan seperti yang iman Kristen ajarkan. Dia tidak menemukan alasan yang cukup kuat mengapa sebuah buku kuno punya jawaban yang relevan atas isu ini. Akhirnya, suatu hari dia memberitahuku, “Kamu tahu, aku sangat bergumul dengan hal ini. Dan, akhirnya aku baru saja melakukannya.”

Hari-hari ini, bahkan orang Kristen sendiri pun tidak mengerti mengapa—selain “karena sebuah buku kuno berkata tidak”—seseorang memilih untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

Alkitab menetapkan situasi yang ideal untuk seks. Allah ingin kita melakukannya hanya dengan satu orang—pasangan kita, hanya setelah kita menikah. Di Taman Eden, Allah berkata “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). “Bersatu dengan isterinya”, artinya mereka sudah menjadi seorang suami dan istri ketika mereka bersetubuh.

Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 6:16, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikian kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.’” Jadi, Alkitab mengatakan bahwa ketika kita bersetubuh dengan seseorang, kita bersatu dalam sebuah relasi misterius yang dalam. Yang aku mengerti di sini adalah ikatan fisik itu ditujukan untuk menguatkan komitmen verbal yang kita ucapkan kepada orang lain seumur hidup kita.

Dan, biasanya ketika tokoh-tokoh Alkitab melakukan hubungan seks yang tidak seharusnya, hasilnya pun tidak baik. Contohnya adalah ketika Abraham tidur dengan pembantunya karena mereka tidak punya cukup iman kalau Allah akan memberi mereka keturunan (Kejadian 16, 21); atau ketika Salomo mengawini banyak perempuan yang akhirnya menjadi kehancurannya (1 Raja-raja 11).

Tapi, dua tokoh tersebut bukanlah alasan yang kuat bagi orang-orang modern yang mempertanyakan relevansi Alkitab. Jawabannya tampak lebih tidak masuk akal jika kamu berkencan dengan seseorang yang kemungkinan besar akan kamu nikahi nanti.

Jadi aku telah menyusun beberapa alasan yang kutemui dan membuatku yakin selama bertahun-tahun. Aku harap jawaban ini dapat memantapkan tekadmu, dan melengkapimu untuk memiliki percakapan yang baik apabila seseorang bertanya, sama seperti yang temanku lakukan kepadaku.

1. Janganlah menjadi serupa dengan dunia

Di dalam dunia yang menganggap perbuatan baik itu keren, seperti mendirikan yayasan dan mengunggah sesuatu yang bijak di Instagram, rasanya sulit untuk menunjukkan apa yang membuat orang Kristen berbeda. Salah satu cara untuk menunjukkan iman kita kepada Allah selain melakukan kebaikan sosial (Yakobus 1:27) adalah dengan menghidupi rancangan Allah atas hidup kita, juga untuk pernikahan.

Di dalam dunia yang mencibir orang-orang yang lulus kuliah tanpa melakukan hubungan seks, menahan nafsu bisa jadi adalah cara yang berani untuk menunjukkan apa yang kita percayai. Ketika kita berpegang teguh pada pendirian kita, tidaklah sulit untuk orang lain mungkin berkata, “Wow, dia menghidupi imannya sungguh-sungguh; kalau tidak, mengapa dia menunggu? Dan mungkin juga mereka akan berkata, “Mungkin ada sesuatu dalam agama itu jika dia berkeputusan seperti itu.” Kita harus berdiri tegar. Dan, inilah yang bisa menjadi alat luar biasa untuk membagikan iman kita.

2. Tunjukkan komitmenmu kepada pasanganmu di masa depan

Di dalam dunia di mana perceraian itu biasa, tidakkah baik untuk menunjukkan kepada pasangan kita kelak bahwa kita berkomitmen untuk menjadi seorang yang setia? Bagaimana jika, bahkan sebelum kita menikah, ada sebuah cara untuk menunjukkan kepada pasangan kita kalau kita itu bisa dipercaya dan setia meskipun ada banyak cobaan dan godaan hawa nafsu?

Dengan berpantang melakukan hubungan seks sebelum menikah, sekalipun tubuh kita meminta yang sebaliknya, kita mempersembahkan kepercayaan dan menunjukkan disipilin kepada pasangan kita. Ini memungkinkan pasangan kita tahu betul bahwa mereka tidak perlu khawatir tentang ketidaksetiaan. Ini menunjukkan kalau kita adalah orang-orang yang disiplin yang keyakinannya jauh lebih kuat daripada rangsangan. Tentu itu adalah sebuah hadiah yang indah bagi pasangan kita kelak saat nanti kita menikah.

3. Membentuk budaya kita

Tentu saja ada alasan-alasan praktikal lainnya untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah. Menghindari penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan termasuk adalah salah satunya. Ada juga alasan emosional, salah satunya dirumuskan dalam pepatah kuno yang mengatakan kalau kamu memberikan sebagian dari dirimu kepada tiap orang yang “tidur” denganmu. Tapi, aku mengatakan kalau hal ini sesungguhnya lebih besar daripada emosi ataupun kondisi fisik tiap-tiap orang.

Inilah yang memiliki kekuatan untuk membentuk masyarakat kita.

Ketika kita melihat dunia modern ini, kita dapat melihat bagaimana hubungan seks pranikah menghasilkan ayah-ayah yang tidak berkomitmen. Ketika pernikahan didasarkan pada kesenangan daripada komitmen, perceraian menjadi tak terhindarkan ketika kesenangan itu hilang. Dan kita bisa melihat kalau situasi ini bisa berakhir dengan menjadikan keluarga yang single parents, tidak utuh lagi.

Aku berpikir, mungkin banyak anak muda melakukan hal-hal yang buruk untuk mengisi kekosongan karena keluarga mereka yang rusak. Dan, mungkin karena mereka juga tidak memiliki contoh cinta yang berdasarkan komitmen, mereka mengadopsi nilai-nilai yang dunia ajarkan. Dan, siklus ini berulang dan berlanjut ke generasi selanjutnya.

Aku pikir ini semua terjadi karena budaya kita mengajak kita untuk menjadi orang-orang yang mengejar kesenangan daripada tujuan. Budaya kita memberitahu kita bahwa setiap orang punya hak untuk merasa senang dan hidup semau kita, selama kita tidak mencampuri urusan orang lain. Beberapa mungkin berkata ini nilai moral kehidupan. Tapi, Allah kita tahu bahwa kita akan bertumbuh lebih baik dan menjadi manusia yang lebih utuh seperti tujuan kita diciptakan jika kita hidup tidak sekadar “tidak mencampuri urusan orang lain.”

Allah ingin kita menjadi seorang yang teguh, memenuhi janji, disiplin, dan mencintai berdasarkan komitmen. Dan, ketika kita hidup berdasarkan ketetapan yang Dia berikan, kita mendapatkan damai dan sukacita yang sesungguhnya dunia mati-matian mencarinya. Yesus datang supaya kita mendapatkan hidup berkelimpahan. Dan buah roh itu termasuk sukacita, damai, dan juga pengendalian diri (Galatia 5:22-23).

Jutaan orang Kristen yang hidup dalam damai, integritas, pengendalian diri, dan komitmen dapat menjadi contoh yang baik untuk budaya kita yang telah dicemari kehancuran dan pencarian kesenangan sesaat. Dan keteguhan untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah di waktu itu mungkin adalah cara paling efektif yang dapat kita tunjukkan untuk budaya kita.

Setelah membicarakan semuanya, tulisan ini ditulis bukan untuk mempermalukan mereka yang sudah jatuh ke dalam dosa seks. Tapi, aku harap poin-poin di atas bisa menjadi penyemangat karena setiap poin tersebut tentu dapat dilakukan kembali oleh mereka yang sudah terjatuh dalam dosa. Faktanya, mungkin akan lebih berdampak ketika seseorang yang dulu hidupnya serupa dengan dunia berpaling kepada komitmen dan integritas Alkitab. Kita bisa memilih untuk menjadi tidak serupa dengan dunia, menunjukkan integritas kepada pasangan kita kelak, dan membentuk budaya kita.

Aku harap aku bisa memberitahumu bahwa hal-hal itu akan mudah jika kamu mengikuti instruksinya. Tapi, sejujurnya: itu tidaklah mudah. Alkitab punya banyak contoh orang-orang yang berhasil, tapi butuh perjuangan keras untuk tetap berkomitmen dan berdedikasi. Aku harap kita bisa menghidupi kehidupan kita sebagai panggilan untuk melakukan apa yang Allah dapat lakukan dalam budaya kita.

“Ross, janji kepadaku kamu akan berhubungan seks sebelum meninggal!”

Jika aku harus memberikan respons kepada budaya yang mengatakan ini, responsku adalah “Aku telah berjanji kepada sesuatu yang melampaui kesenanganku. Aku telah berjanji kepada Penciptaku yang telah meletakkanku dalam rencana untuk menjadikanku seorang manusia yang penuh integritas, janji, komitmen, disiplin, dan sukacita. Aku akan menjadi orang yang dibangun untuk berkembang di surga kelak selamanya.”

Baca Juga:

Ketika Aku Melepaskan Diri dari Kecanduan Media Sosial

Apakah keasyikanku dengan media sosial ini adalah kesia-siaan? Ah, sepertinya tidak. Kupikir ini bukanlah dosa, lagipula tidak ada ayat di Alkitab yang mengatakan kalau keasyikanku dengan media sosial ini adalah dosa.

Aku Pernah Jatuh dalam Pacaran yang Tidak Sehat, Namun Tuhan Memulihkanku

Oleh Grace Lim, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Lost My Virginity But Not My Faith

Usiaku masih cukup muda ketika aku menjalani sebuah hubungan romantis. Sejak usiaku 15 tahun, aku sudah mulai memiliki hubungan pacaran yang berlangsung cukup lama.

Pacar pertamaku adalah orang Kristen. Kami berdua percaya kepada Tuhan, tetapi itu tidak secara otomatis membuat hubungan kami menjadi sehat. Hubungan kami melampaui batas-batas keintiman, tapi kami belum pernah sekalipun melakukan hubungan seksual. Selama masa berpacaran itu, aku menyakinkan diriku bahwa segala hal yang kulakukan itu tidak apa-apa karena kami berdua “saling mencintai” dan “kami orang Kristen”. Setelah dua tahun menjalin relasi yang diwarnai ketidaksepakatan dan pertengkaran, hubungan kami pun berakhir.

Karena aku ingin melepaskan diriku dari segala masalah yang dulu ditimbulkan dari hubungan pacaran pertamaku, aku pun segera menemukan pacar baruku tanpa banyak berpikir ataupun diliputi rasa menyesal. Kali ini, pacarku bukan orang Kristen. Lagi-lagi, hubungan kami melampaui batas-batas yang seharusnya. Saat itulah kami melakukan sesuatu yang lebih jauh dari apa yang kami rencanakan sebelumnya. Singkatnya, aku kehilangan keperawananku. Malam itu, aku menangis sejadi-jadinya dan tidak bisa tidur karena aku tahu apa yang terjadi hari itu tidak dapat diperbaiki kembali.

Sekalipun hubungan pacaranku ini tidak sehat dan kami bukanlah pasangan yang sepadan. Sulit bagiku untuk melepaskan diri dari hubungan ini. Selama hampir tiga tahun, hubungan ini terus berlanjut.

Selama tiga tahun itu, aku menghadapi pertempuran yang tidak pernah berakhir dengan jiwaku sendiri. Kehidupan seksualku yang kututupi ini sangat kontras dengan kehadiranku di gereja setiap minggunya. Aku merasa jijik, kotor, dan bersalah. Aku benci kepada diriku sendiri. Aku tahu bahwa apa yang kulakukan itu salah namun aku tidak punya kekuatan untuk melepaskan diri. Seperti sebuah kecanduan, aku memberitahu diriku sendiri: “Sekali lagi saja dan itu sudah cukup!” Tapi, “sekali lagi” itu tidak pernah menjadi yang terakhir.

Aku menjauh dari Allah. Sekalipun secara fisik aku hadir di gereja, tetapi secara rohani aku tidak di sana. Aku bisa mengajar untuk selalu mengutamakan Allah, tapi kenyataannya malah aku menjadikan keinginan dagingku sebagai penguasa atas hidupku. Aku bisa hadir dalam persekutuan doa, tapi pikiranku melayang-layang. Aku sedang menghidupi kehidupan bermuka dua, dan inilah yang menjadi rahasiaku yang paling dalam dan gelap.

Pada intinya, aku merasa begitu berdosa dan menganggap bahwa apa yang kulakukan itu sudah melampaui batas karunia keselamatan yang Allah sudah berikan untukku. Aku yakin bahwa Allah membenciku.

Namun, Allah tidak pernah menyerah denganku; Dia terus mengejarku. Orang-orang di sekitarku berusaha menjangkau dengan menanyaiku apakah aku baik-baik saja atau apakah aku membutuhkan teman bicara. Ayat-ayat Alkitab menegurku; khotbah-khotbah yang disampaikan mengetuk pintu hatiku dengan penuh kasih. Tapi, sama seperti Firaun, hatiku dikeraskan.

Bertahun-tahun kemudian, melalui kasih karunia Allah, mataku akhirnya terbuka. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang beracun ini, mengakui dosa-dosaku di hadapan Tuhan, dan sekalipun aku merasa begitu takut, ada sesuatu yang mendorongku untuk berani menceritakan hal ini kepada seseorang yang aku percayai.

Aku menemui kakak pembimbing rohaniku, seorang wanita di gereja yang dulu membimbingku selama aku remaja. Aku ingat sekali ketika dia menanyaiku apakah aku lebih nyaman berbicara melalui telepon atau lewat chat saja. Aku memilih opsi kedua karena aku merasa canggung dan takut dihakimi.

Akhirnya, aku mengumpulkan keberanianku dan aku pun menceritakan rahasia tergelapku kepadanya: aku tidak lagi perawan. Hatiku bergetar. Aku menduga bahwa dia akan menghakimiku atau mengatakan supaya aku sebaiknya pindah gereja saja.

Tapi, apa yang ada di pikiranku itu tidak terwujud. Alih-alih menghakimiku, dia mengatakan bahwa selama ini dia telah memperhatikanku dan dia melihat bahwa ada yang berbeda dariku. Aku menjadi orang yang kurang fokus dan sering tertanggu. Dia bahkan berterima kasih kepadaku karena aku bersedia membagikan kepadanya hal yang sulit untuk diungkapkan. Dia juga meyakinkanku bahwa hidupku belumlah berakhir dan Allah tidak membenciku karena dosa.

Dia mengingatkanku bahwa dosa adalah sesuatu tidak terelakkan, menjalar dalam kehidupan setiap orang. Manusia telah kehilangan kemuliaan dan kekudusan Allah (Roma 3:23). Apa yang telah kulakukan itu bukan berarti bahwa aku lebih buruk daripada orang lain. Aku hanyalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Kemudian aku teringat ayat dari Roma 5:8: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

Untuk pertama kalinya, aku mengerti sebuah kenyataan bahwa Allah sanggup mengampuni dosa yang membuatku sempat merasa bahwa aku telah terpisah dari-Nya selamanya. Tak peduli seberapa dalam aku terjatuh, aku tidak pernah terlalu jauh untuk diselamatkan Yesus. Malah, Yesus sudah terlebih dulu menyelamatkanku sejak aku menerima-Nya masuk ke dalam hatiku. Aku dipenuhi kasih karunia-Nya yang tiada bandingnya dan aku pun mengucap syukur bahwa Allah telah mendengar seruanku untuk “menyembunyikan wajah-Nya dari dosaku dan menghapuskan segala kesalahanku” (Mazmur 51:9).

Aku sadar bahwa Allah mengizinkan kesalahanku sebagai sarana untuk meremukkan egoku, untuk membawaku ke suatu titik di mana tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain daripada mencari-Nya. Di titik tergelap jiwaku itulah Allah memenuhiku. Tidak ada nama lain selain Yesus; aku tidak akan pernah mengalami atau mengetahui hal ini tanpa sebuah keputusasaan yang kualami hingga aku dikuatkan kembali oleh tangan-Nya yang setia.

Teruntuk kalian yang sedang bergumul dalam keterpurukan rasa malu, aku mau mendorong kalian dengan kebenaran-kebenaran berharga yang sebelumnya telah berbicara kepadaku:

  1. Jangan meremehkan kuasa darah dan penebusan Yesus. Allah berfirman kepada bangsa Israel yang terus menerus berpaling dari-Nya, “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yesaya 43:25). Tentu, Allah pun akan mengingat kita. Karena Allah, masa lalu kita bukanlah sesuatu yang menentukan masa depan kita.
  2. Ingat bahwa kita semua adalah manusia yang rusak karena dosa, dan Allah tidak pernah memandang hina siapapun yang mencari Dia. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mazmur 51:19).
  3. Meskipun keperawanan adalah hadiah yang indah bagi pasangan hidupmu, hal yang terbaik yang bisa kamu miliki adalah kasih yang teguh kepada Allah. Manusia mungkin melihat tampilan luarmu, tetapi Allah melihat hatimu (1 Samuel 16:7). Seorang pasangan hidup yang benar-benar mengasihi Allah akan melihat pertama-pertama kekudusan dan kemuliaan Kristus di dalam dirimu, bukan sesuatu yang hanya terlihat dari luar saja.

Satu minggu dalam hubungan yang kujalin dengan pasanganku sekarang, aku terdorong untuk menceritakan masa laluku kepadanya. Aku tahu bahwa tindakan ini memiliki risiko. Ketika akhirnya aku selesai berbicara kepadanya, tanggapannya memancarkan kasih Allah dan menurutku hampir sempurna. Dia mengatakan, “Aku tidak marah kepadamu. Kita semua punya kesalahan masing-masing, tapi kesalahan-kesalahan itu tidak mendefinisikan siapa dirimu sesungguhnya. Bukankah ini yang membuat kita perlu Tuhan? Kita memang melakukan kesalahan, tapi kita sendiri adalah bagian yang berbeda dari dosa-dosa itu karena pengampunan Allah. Dosa-dosa bukanlah bagian dari identitas kita lagi. Aku tetap mengasihimu.”

Seiring berjalannya waktu, aku belajar bahwa pergumulan yang kualami bukanlah pergumulan yang kualami sendirian. Allah bisa menggunakan kerapuhan dan kehancuran kita untuk kemuliaan-Nya. Apa yang semula menjadi beban yang sangat berat untuk dipikul dapat menjadi sebuah kesaksian yang bisa kugunakan untuk menjangkau dan membagikan kasih Allah kepada orang-orang lain yang juga bergumul sepertiku dan aku pun bisa menjadi wadah supaya mereka dapat merasakan kasih Allah.

Doaku untuk semua orang yang sedang bergumul adalah bahwa Allah akan mengubah rasa sakitmu menjadi kekuatanmu dan kesaksianmu untuk melayani orang lain dan memuliakan nama-Nya. Berdoalah setiap hari untuk pemulihan dan serahkanlah segala bebanmu kepada Allah. Temukanlah teman atau pembimbing yang bisa kamu percayai, dan jalanilah proses pemulihan ini bersama-sama. Tangan Tuhan selalu terbuka untuk menerimamu, sama seperti seorang ayah yang menyambut anaknya yang hilang (Lukas 15:11-31).

Baca Juga:

Pelayanan di Balik Layar

Sebagai seorang yang melayani di balik layar, aku pernah merasa minder karena jarang sekali aku mendapatkan apresiasi mengenai pelayananku. Hingga akhirnya, Tuhan meneguhkanku akan istimewanya sebuah pelayanan di balik layar.

5 Hal Tentang Masturbasi yang Perlu Kamu Ketahui

Oleh Raphael Zhang, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is Masturbation Your Master?

Sebuah kata yang diawali dengan huruf “M”. Ada banyak istilah untuk merujuk pada kata ini, sebuah aktivitas untuk merangsang gairah seksual oleh diri sendiri, atau kita kenal dengan nama masturbasi.

Pengalaman pertamaku dengan masturbasi sebenarnya dimulai ketika aku masih berusia 5 atau 6 tahun. Waktu itu, secara tidak sengaja tanganku menyentuh bagian vital tubuhku, dan sejak saat itu aku merasa ketagihan.

Di usiaku yang ke-9 tahun, aku menerima Kristus. Tetapi, tidak ada seorang pun yang mengatakan kepadaku apa pandangan Alkitab mengenai masturbasi. Bagiku sendiri, tidak ada yang salah dengan masturbasi karena aku pikir aktivitas ini bukanlah sesuatu yang membahayakan.

Seiring aku bertumbuh dewasa, aku mulai merasa penasaran tentang bagaimana sesungguhnya pandangan Kekristenan terhadap masturbasi. Hampir seluruh artikel-artikel yang kubaca menentang masturbasi karena tindakan ini selalu berkaitan dengan hawa nafsu, pornografi, dan juga fantasi seksual. Dari apa yang kubaca, aku menemukan bahwa masturbasi itu dianggap salah karena bisa dengan mudah membawa kita jatuh ke dalam dosa hawa nafsu. Jadi, kupikir, jika masturbasi yang kulakukan tidak membuatku berpikir penuh hawa nafsu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari bermasturbasi.

Salah satu hal aku syukuri adalah waktu itu aku tidak jatuh terlalu dalam ke dalam dosa pornografi. Jika saja saat itu aku sering mengonsumsi tayangan-tayangan porno, bisa saja aku akan kecanduan lebih lagi dengan masturbasi. Akan tetapi, dampak dari masturbasi yang kulakukan adalah aku jadi sering berfantasi seksual. Dalam beberapa kesempatan, aku mencoba untuk menghancurkan kebiasaan ini. Tapi, karena aku sendiri tidak terlalu yakin bahwa masturbasi adalah sesuatu yang sungguh-sungguh salah, dengan segera aku kembali terjatuh dalam kebiasaan ini.

Di tahun 2014, Tuhan menolongku untuk menghancurkan beberapa keterikatanku dengan dosa seksual. Salah satunya adalah masturbasi. Suatu ketika, di hari Minggu bulan April, hasratku untuk melakukan kebiasaan masturbasi tiba-tiba menurun secara signifikan tanpa aku melakukan apapun. Tuhan mengizinkanku untuk merasakan sebuah masa di mana aku terbebas dari jerat kebiasaan masturbasi selama beberapa bulan.

Namun, tak lama berselang, hasratku kembali seperti sedia kala. Karena selama beberapa bulan sebelumnya aku pernah hidup tanpa hasrat untuk melakukan masturbasi, aku menyadari bahwa lewat peristiwa ini Tuhan ingin menunjukkan padaku bahwa masturbasi bukanlah tindakan yang berkenan pada-Nya. Aku tahu bahwa masturbasi bukanlah sesuatu yang dapat memuliakan Allah, atau membangun diriku menjadi lebih baik, bahkan sekalipun jika masturbasi itu kulakukan tanpa berfantasi seksual atau pornografi.

Sekarang, aku sedang berjuang untuk mematahkan kebiasaan ini. Dalam perjalananku untuk melepaskan diri dari jeratan dosa seksual, inilah 5 hal yang ingin aku bagikan kepadamu tentang masturbasi.

1. Masturbasi bisa menyebabkan kita kecanduan

Dari perjalananku selama bertahun-tahun untuk lepas dari jeratan dosa seksual, aku mendapati bahwa semakin sering aku memberi kesempatan untuk diriku jatuh ke dalamnya, semakin dosa itu akan mengikatku. Masturbasi telah menjadi tuan atas hidupku dan membuatku kecanduan. Ketika godaan untuk melakukannya datang, aku tidak mampu lagi untuk berkata “tidak”. Alih-alih melawan, aku malah “taat” dan terjatuh kembali dalam godaan seksual itu.

Hal ini tentu bukanlah gambaran tentang kebebasan dan kepenuhan hidup seperti yang Alkitab tuliskan. “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Galatia 5:10).

2. Masturbasi bisa membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri

Kebiasaanku untuk melakukan masturbasi membuatku berpikir bahwa aku bisa mendapatkan kenikmatan seksual kapan saja aku mau. Masturbasi membuatku kehilangan kendali atas nafsu seksual yang muncul dalam diriku. Mengapa harus menunggu untuk mendapatkan kenikmatan seksual jika aku bisa dengan segera memuaskannya sendiri?

Alkitab berkata, “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya” (Amsal 25:28). Ketika aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri, sesungguhnya aku akan rentan terhadap serangan dan godaan yang menarikku untuk jatuh dalam dosa.

Roh Kudus adalah Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Timotius 1:7), dan salah satu buah Roh adalah pengendalian diri (Galatia 5:23). Bagaimana caranya aku bisa dipenuhi oleh Roh Kudus (Efesus 5:18) apabila aku tidak memberi diriku untuk dikuasai oleh-Nya?

3. Masturbasi bisa jadi hanyalah sebuah pelarian dari masalah yang jauh lebih serius

Ketika aku mengenang kembali masa-masa saat aku begitu tertarik dengan masturbasi, aku menyadari bahwa saat itu ada luka-luka batin ataupun masalah yang tidak ingin aku selesaikan. Ada rasa kesepian dan kesedihan mendalam yang pada akhirnya membuatku mengalihkan perhatian dari semuanya itu dengan mencari kepuasan seksual.

Di lain waktu, ketika aku merasa frustrasi, stres, ataupun marah karena sesuatu, aku mencoba memulihkan diriku dengan mencari kepuasan seksual dengan harapan supaya aku bisa melupakan sejenak segala masalahku. Bahkan, ketika aku hanya merasa sekadar bosan pun, aku akan mencari-cari sesuatu yang bisa membuatku gembira.

Apa yang kulakukan itu adalah sebuah lingkaran setan. Ketika suatu masalah tidak diselesaikan dengan cara yang benar, masalah itu akan terus menerus datang dan menekanku. Akibatnya, aku menjadikan masturbasi dan tindakan lainnya yang tidak sehat sebagai cara untuk mengatasi masalah-masalah itu. Akan tetapi, kenikmatan yang didapat dari masturbasi hanyalah sementara. Setelahnya, aku malah harus bergumul dengan perasaan bersalah dan kekosongan diri.

Dalam perjalananku untuk keluar dari jeratan masturbasi, aku terus menerus mengingatkan diriku sendiri untuk tidak menjadikan masturbasi sebagai pelarianku. Sebagai gantinya, aku belajar untuk menceritakan perasaanku kepada Tuhan, meminta-Nya untuk menolongku melihat masalah dalam cara pandang-Nya, dan juga berdiri dalam kebenaran-Nya.

Seiring berjalannya waktu, semakin aku menyerahkan hidupku pada Tuhan atas setiap masalah yang kuhadapi, aku pun semakin dimampukan untuk lepas dari jeratan kenyamanan sesaat masturbasi dan tindakan-tindakan lainnya yang tidak berkenan pada-Nya.

4. Masturbasi membuat kita kehilangan yang terbaik dari Tuhan

Alkitab memang tidak secara spesifik menyebut masturbasi sebagai sebuah dosa, namun aku percaya bahwa kita semua dipanggil untuk menanggalkan semua beban dan dosa yang bisa merintangi kita dari sebuah pertandingan iman (Ibrani 12:1-2).

Seorang penulis dan pembicara dari Amerika, Dannah Gresh menulis sebuah buku berjudul “What Are You Waiting For? The One Thing No One Ever Tells You About Sex”. Dalam buku itu dia menuliskan bahwa seks diciptakan Tuhan sebagai sarana untuk kita saling mengenal dan saling menghormati pasangan kita dalam sebuah ikatan pernikahan. Oleh karena itu, dia percaya bahwa masturbasi membuat kita kehilangan tujuan ideal Allah untuk hasrat seksual yang Dia berikan pada kita.

Aku setuju dengan pemikiran Dannah Gresh. Dalam tahun-tahun ketika aku terjebak dalam kebiasaan masturbasi, aku sempat berpikir bahwa kenikmatan seksual itu hanyalah tentang mendapatkan, bukan tentang memberi. Pemikiran inilah yang membuatku mencari-cari cara sendiri untuk memuaskan tubuhku. Akan tetapi, pemikiran seperti ini tidak menolongku untuk kelak bisa saling mengenal dan dikenal oleh pasanganku dalam pernikahan.

Aku percaya bahwa maksud Tuhan dalam sebuah pernikahan adalah supaya seorang lelaki dan perempuan saling memberi dan menyerahkan satu sama lain atas dasar kasih (Efesus 5:21-32). Hal ini juga berlaku dalam kehidupan seksual mereka. Suami dan istri harus mengabdikan diri untuk saling memberi kenikmatan seksual sebagai perwujudan kasih antara satu sama lain. Ketika mereka memberi, mereka pun menerima. Akan tetapi, apabila seseorang hanya berfokus untuk mendapatkan kepuasan seksual dari pasangannya saja, sukacita yang didapatkan dari persatuan seksual mereka akan berkurang. Ini bukanlah gambaran kehidupan seksual yang baik karena salah satu atau bahkan keduanya lebih mendominasi.

Oleh karena alasan ini, aku tidak percaya bahwa masturbasi adalah kehendak Tuhan untuk kehidupan seksualku, bahkan jika seandainya aku kelak tidak menikah. Ketika aku kehilangan bagian terbaik yang Tuhan sudah tetapkan, maka aku tidak bisa mengalami-Nya secara sempurna dalam hidupku.

5. Kita bisa lepas dari jeratan masturbasi

Mungkin saat ini kamu terbiasa melakukan masturbasi dan ingin lepas dari jeratannya. Kamu bisa melakukannya sebab ada harapan. Tuhan ingin membawa pemulihan ke dalam hidup kita.

Jika saat ini kamu sering menonton tayangan pornografi atau melakukan fantasi seksual, belajarlah secara perlahan untuk menguranginya hingga akhirnya kamu dapat menghapus dua hal ini dari kehidupanmu. Dengan kamu melakukan hal ini, artinya kamu sedang memulai untuk perlahan-lahan membebaskan dirimu dari jerat kecanduan masturbasi.

Semakin banyak waktu yang aku lakukan bersama Tuhan—entah itu memuji Dia lewat pujian, membaca Alkitab, berdoa, ikut komunitas orang percaya, melayani orang lain, dan sebagainya—aku semakin dimampukan untuk lepas dari jerat masturbasi. Ketika aku melakukan ini semua, sesungguhnya aku sedang belajar untuk mengaplikasikan apa yang Alkitab katakan dalam Galatia 5:16-17. “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”

Jika kamu, sama sepertiku, pernah menjadikan masturbasi sebagai jawaban atas masalahmu, aku mendorongmu untuk menyelidiki dirimu lebih dalam mengenai masalah apa yang sesungguhnya sedang kamu berusaha untuk hindari. Menghadapi masalah itu mungkin bukanlah sesuatu yang menyenangkan, bahkan terkadang bisa jadi menyakitkan. Akan tetapi, dari pengalamanku, aku belajar bahwa rasa sakit dan susah payah yang dilakukan ini jauh lebih baik daripada kita harus menanggung beban tambahan yang jauh lebih berat ketika kita tidak menyelesaikan masalah-masalah ini. Tuhan ada dan Dia bersedia untuk menyelesaikan masalah ini bersamamu. Dia akan memberimu penghiburan dan pertolongan yang kamu butuhkan ketika kamu sungguh-sungguh mengambil langkah untuk mencari pemulihan dari-Nya.

Dalam perjalananku keluar dari jeratan masturbasi, mungkin saja aku masih mengalami jatuh bangun, tapi aku punya pengharapan bahwa aku bisa lepas sepenuhnya dari jeratan ini. Maukah kamu bergabung denganku untuk berusaha melepaskan diri dari jeratan dosa dan menikmati kebebasan yang Tuhan berikan?

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Allah Mengizinkan Orang Saleh Mengalami Penderitaan

Di semester awal kuliahku, aku nyaris dikeluarkan dari universitas karena nilai-nilaiku yang buruk. Segala cara untuk memperbaiki nilai sudah kulakukan, tetapi hasilnya nihil. Kemudian, aku pun jadi bertanya-tanya, mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi?

Mengapa Aku Memutuskan untuk Tidak Berhubungan Seks Sebelum Menikah

mengapa-aku-memutuskan-untuk-tidak-berhubungan-seks-sebelum-menikah

Oleh Michele Ong, Selandia Baru
Artikel asli dalam bahasa Inggris : Is It Possible to Resist Sex in This Day and Age?

Aku memiliki pendirian yang teguh untuk menolak hubungan seks di luar pernikahan, dan tentunya ada risiko atas pendirian itu.

Aku sering dianggap aneh oleh teman-teman ketika mereka tahu tentang pendirianku itu. Mereka seringkali mengatakan padaku, “Tapi, kamu harus mencobanya supaya kamu tahu apakah kamu cocok dengan pasanganmu atau tidak.”

Tak hanya temanku, beberapa mantan pacarku juga berkeyakinan kalau melakukan hubungan seks di luar pernikahan itu tidak masalah selama dilakukan atas dasar cinta dan sama-sama mau melakukan. Aku baru berusia 16 tahun ketika mulai berpacaran dengan pacar pertamaku. Waktu itu, aku tidak yakin aku sudah cukup dewasa untuk membuat sebuah keputusan yang serius seperti itu. Tapi, mereka tetap saja mendesakku.

Mereka memberiku berbagai alasan, “Jika kamu mencintai aku…”, “Semua teman-temanku yang lain juga melakukannya dengan pacar mereka, aku jadi merasa terkucilkan”, atau “Sepertinya kita ketinggalan zaman, ya?” Salah satu mantan pacarku percaya bahwa Tuhan tak seharusnya lagi mengharapkan pasangan di zaman modern ini untuk menunggu hingga hari pernikahan mereka untuk berhubungan seks, karena kini orang-orang menikah di usia yang semakin tua.

Kemudian aku membayangkan jika diriku hamil akibat berhubungan seks di luar nikah, itu tentu mengerikan. Aku lebih memilih untuk duduk di kelas dan mengerjakan ujian akuntansi berulang-ulang daripada harus hamil di usiaku yang ke-16 tahun.

Mungkin kamu akan berpikir kalau penolakanku terhadap seks di luar nikah itu akibat dipengaruhi oleh orangtuaku atau karena aku takut masuk neraka. Tebakanmu salah. Orangtuaku hanya pernah sekali mengingatkanku untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, dan itu ketika aku menonton film Titanic saat aku berusia 12 tahun. Ketika ada adegan intim Jack bersama Rose, ibuku berkata, “Jangan lakukan itu, itu tidak baik.” Hanya itu saja yang pernah ibuku katakan.

Tidak tahu kenapa, kata-kata yang diucapkan oleh ibuku itu terngiang-ngiang di pikiranku, dan aku tetap berpegang pada pendirianku menolak hubungan seks di luar nikah bertahun-tahun setelahnya. Beberapa orang yang mendengar pendirianku itu terkadang merasa skeptis, tidak yakin kalau aku mampu berpegang teguh pada pendirian itu.

“Kamu rohani sekali, ya?” ejek mereka.

Sejujurnya, kalau aku menolak hubungan seks di luar nikah hanya untuk mematuhi hukum Taurat, aku mungkin takkan kuat menghadapi banyaknya tekanan yang ada. Namun secara pribadi, aku punya keyakinan kalau seks itu sangat sakral, sehingga aku sangat protektif menjaga diriku. Saat aku bertumbuh semakin dewasa, keyakinanku ini membuatku lebih mudah menguji apakah seorang lelaki ini layak dipacari atau tidak. Kalau dia tidak siap menerima pendirianku untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah, tentu dia takkan menjadi pacarku.

Ketika aku berpacaran dahulu, mantan pacarku mengatakan kalau dia tidak bisa menjalin relasi ini tanpa melakukan hubungan seks. Dia berargumen, jika aku tidak mau berhubungan seks dengannya, bagaimana mungkin dia dapat yakin kalau aku adalah belahan jiwanya. Tanpa sepatah kata pun, aku pulang ke rumah dan menyadari bahwa hubungan ini tidak bisa diteruskan lagi.

Harus kuakui, terkadang aku pernah berpikir untuk melonggarkan sedikit pendirianku tentang hubungan seks sebelum pernikahan supaya hidupku bisa menjadi lebih mudah. “Mengapa memilih gaya hidup yang kaku ini?” tanyaku pada diri sendiri. Bagaimanapun, kita hidup di dunia yang menganggap seks di luar nikah adalah sebuah hal yang normal, dan menunda hubungan seks sampai waktu menikah adalah sesuatu yang aneh.

Tapi, bagaimana pendapat Tuhan mengenai seks?

Dalam sebuah buku yang berjudul “Laugh Your Way to a Better Marriage”, pendeta Amerika Mark Gungor mengatakan bahwa seks adalah ciptaan Tuhan. Dia menuliskan dalam bukunya, “Tuhanlah yang menciptakan tubuh kita untuk dapat merasakan sensasi ketika disentuh dan dibelai. Dia jugalah yang menciptakan kemampuan untuk orgasme. Seks adalah anugerah dari Tuhan.”

Namun, Alkitab juga memberitahu kita bahwa Tuhan menciptakan seks untuk dinikmati di dalam wadah pernikahan (Ibrani 13:4). Menikmati seks harus dilakukan dalam konteks yang benar karena itu berkaitan dengan keintiman yang tidak bisa dinikmati dalam sembarang relasi. Tuhan menciptakan seks untuk kebaikan kita dan Dia juga memerintahkan kita supaya tidak membangkitkan hasrat seks itu sebelum waktunya yang tepat tiba (Kidung Agung 8:4). Kita juga harus menghindari perbuatan seksual yang menyimpang karena sejatinya tubuh kita adalah bait Allah dan kita telah dibeli dengan harga yang teramat mahal—darah Yesus yang berharga (1 Korintus 6:18-20).

Aku memandang perintah Tuhan untuk tidak melakukan seks di luar pernikahan adalah seperti mendengar orang tua kita mengatakan untuk tidak membuka kado ulang tahun kita sebelum hari ulang tahun kita tiba. Seperti sebuah kado ulang tahun, pandanglah hubungan seks itu sebagai hadiah pernikahan dari Tuhan untuk suami dan istri yang baru menikah, dan untuk dibuka setelah mereka resmi menikah. Tapi, jika kamu tetap membuka hadiah itu sebelum hari ulang tahunmu, kamu mungkin akan kehilangan sukacita besar ketika hari ulang tahunmu itu tiba.

Ingatlah, Tuhan bukannya anti terhadap seks. Alasan Dia meminta kita menghindari hubungan seks yang tidak seharusnya bukanlah karena Dia menganggap bahwa seks itu buruk. Dia tahu yang terbaik bagi kita dan Dia menginginkan kita mendapatkan pengalaman seks yang terbaik, yaitu seks yang dilakukan dalam wadah pernikahan.

Baca Juga:

Mengapa Aku Berada dalam “Friend-Zone” Selama 15 Tahun

15 tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi selama itulah Amy berada dalam “friend-zone”. Pengalaman itu membuatnya belajar bahwa sebuah hubungan yang baik kadang diawali dari pertemanan.

Seks: Untuk Apa Menunggu?

Penulis: Kezia Lewis, Thailand
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Sex: What Are You Waiting For?

Menanti-cinta-sejati

Aku tumbuh dalam keluarga non-Kristen yang disfungsi. Namun, ibuku berusaha sebaik mungkin mendidikku untuk menjadi orang yang bertanggung jawab, menjunjung tinggi tradisi, dan selalu bersikap hati-hati. Beliau tidak mengatakan secara langsung bahwa aku harus menunggu sampai aku menikah nanti baru boleh melakukan hubungan seks, tetapi aku tahu bahwa itulah yang seharusnya aku lakukan. Sebab itu aku menunggu.

Dan ternyata, menunggu itu tidak mudah. Aku memutuskan untuk menunggu, bukan karena Tuhan (saat itu aku belum mengenal Tuhan), tetapi karena diriku sendiri. Aku menunggu karena aku takut dengan konsekuensi yang harus kuhadapi bila melakukan hubungan seks di luar nikah. Aku menunggu karena aku takut hubungan itu bisa membuatku hamil. Aku menunggu karena keluargaku miskin, dan aku tidak mau memperburuk situasi yang kami hadapi. Untuk makan sehari-hari saja kami sulit, bagaimana bila aku tiba-tiba punya anak? Aku hanya akan menambah beban ibuku.

Pada saat itu aku pikir aku bisa mempertahankan diri karena kekuatanku sendiri. Kini aku menyadari bahwa Tuhanlah yang sesungguhnya telah melindungi aku dari godaan seks di luar nikah dengan mengingatkan aku terus-menerus tentang keluargaku.

 
Menanti Cinta Sejati

Ketika aku menjadi seorang Kristen, aku menjadi akrab dengan slogan “True love waits” [Cinta sejati menunggu], yang mendorong orang untuk berkata tidak pada hubungan seks di luar nikah. Slogan itu sangat mengena di hatiku. Terdengar sangat mulia, bijak, dan masuk di akal. Cinta sejati berarti bersedia menunda hubungan seks hingga tiba saatnya kita mengucapkan janji nikah. Mengkhususkan diri kita hanya untuk pasangan kita seorang, adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan baginya. Untuk itu aku perlu menunggu.

Aku mendengar dan juga bertemu dengan sejumlah orang Kristen yang telah menandatangani kartu komitmen, memakai cincin tanda kesucian, menunggu selama sepuluh bahkan dua puluh tahun, lalu merasa lelah dengan penantian itu. Mereka merasa tidak berarti, sendirian, dan kesepian. Sebagian merasa penantian mereka sia-sia. Mereka melihat teman-teman mereka menikmati seks di luar nikah. Sepertinya mereka telah melewatkan sesuatu yang sangat menyenangkan dan menggairahkan, sesuatu yang bisa memuaskan jiwa mereka. Sebab itu, mereka pun membuang kartu komitmen dan cincin mereka, lalu berhenti menjaga kekudusan hidup mereka.

Sebagian lagi merasa bahwa pernikahan adalah jawaban atas kebutuhan mereka. Mereka pun berusaha untuk cepat-cepat menikah. Mereka sangat bersemangat memasuki rumah tangga dan berharap pasangan mereka akan memuaskan kebutuhan mereka. Lalu mereka menyadari kebenaran yang pahit: ranjang pernikahan tidak cukup untuk mengisi kekosongan hati mereka. Harapan mereka tidak terpenuhi, hati mereka hancur dan dilingkupi rasa kecewa.

Sebagian lagi berusaha tetap menjaga komitmen yang telah mereka buat untuk tetap hidup kudus karena mereka takut dimurkai Tuhan. Akibatnya, hubungan mereka dengan Tuhan menjadi sekadar kewajiban tanpa sukacita. Beberapa orang bahkan memandang Tuhan tak lebih dari sekadar penentu jodoh dalam perjalanan mereka menemukan cinta sejati.

Secara pribadi aku tidak punya masalah dengan slogan “Cinta sejati menunggu”, dan aku pikir slogan itu dapat menjadi pengingat yang baik agar kita dapat tetap menjaga kekudusan hidup. Namun alangkah baiknya jika kita tidak sekadar berfokus pada sebuah janji untuk tidak berhubungan seks, tetapi berfokus pada makna sesungguhnya mengikut Yesus. Menunggu tidak dapat menguduskan kita. Pribadi Yesus dapat. Satu-satunya Pribadi yang dapat memenuhi kebutuhan kita, menjadikan kita sebagai kepunyaan-Nya. Dia bukanlah sebuah jalan untuk menemukan seorang pribadi yang bisa membahagiakan kita. Dia sendirilah Pribadi yang bisa membahagiakan kita. Kepuasan kita yang sejati ada pada Tuhan, bukan pada pernikahan atau hubungan seks. Sebaik apa pun pernikahan atau hubungan seks, keduanya tidak akan memenuhi kebutuhan jiwa kita yang terdalam. Hanya Tuhan yang dapat memenuhkannya.

 
Mengubah Sudut Pandang Kita

Tuhan merancang kita dengan hasrat untuk memiliki hubungan-hubungan yang bermakna dengan sesama manusia. Salah satu hubungan bermakna yang dapat kita miliki adalah hubungan seksual, menyatu dengan seorang manusia lainnya. Tuhan menetapkan hubungan yang indah ini menjadi puncak perayaan pernikahan kita. Tidaklah mengherankan bila kita memiliki hasrat hati untuk dekat secara seksual dengan lawan jenis kita, namun hubungan ini hanya dapat dinikmati dalam ikatan pernikahan.

Kita harus menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks di luar nikah karena itulah yang dikehendaki dan ditetapkan Tuhan bagi kita. Akan sulit menjaga komitmen ini bila kita tidak merasa kehendak Tuhan itu baik dan penting. Kita hanya akan terus gelisah menunggu keluarnya “izin” untuk berhubungan seks. Seorang temanku pernah berkata, “Membuat komitmen untuk hidup kudus itu mudah, menjaga komitmen tersebut adalah sebuah tantangan.”

Perkataannya sangat sesuai dengan apa yang kita hadapi hari ini. Berusaha hidup kudus dengan kekuatan kita sendiri di tengah zaman yang penuh dengan pornografi dan masyarakat yang sangat toleran terhadap perbuatan asusila, bisa dibilang hampir mustahil. Jika kita sekadar menanti-nantikan pernikahan demi bisa berhubungan seks, pertanyaan yang pasti akan timbul adalah: seberapa jauh hubungan yang diperbolehkan sebelum menikah?

Aku sendiri mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali saat aku belum menikah. Dan sekalipun aku tetap menahan diri, aku masih terus memikirkan berbagai alasan untuk membenarkan kecenderungan hatiku. Faktanya adalah: keinginan hati kita begitu kuat sehingga godaan untuk berhubungan seks sangat sulit untuk ditolak. Beberapa orang bisa mengendalikan keinginan hati mereka, tetapi kebanyakan orang tidak bisa. Fakta ini jelas terlihat dengan menurunnya standar moral terkait seks dalam masyarakat kita saat ini.

Bagaimana bila kita mengubah sudut pandang kita untuk menjawab tantangan ini? Bagaimana bila kita tidak lagi berfokus hanya pada kapan dan bagaimana kita bisa menikmati hubungan seks, tetapi pada nilai-nilai yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita? Ketika kita berfokus untuk melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan, kita akan mengajukan pertanyaan yang berbeda: Bagaimana aku dapat menghormati Tuhan dengan pikiranku dan dengan tubuhku?

 
Bagaimana Memulainya

Bagaimana kita dapat mulai mengubah sudut pandang kita dan menemukan identitas sejati kita di dalam Tuhan? Kita perlu menumbuhkan kepekaan kita pada tuntunan Roh Kudus dan mematikan keinginan daging kita. Berikut ini beberapa hal yang bisa mulai kita lakukan:

1. Sediakanlah waktu yang berkualitas bersama Tuhan secara teratur melalui doa dan pembacaan Alkitab setiap hari.
2. Layanilah Tuhan menurut panggilan yang diberikan-Nya kepada kita
3. Serahkanlah pergumulan kita kepada-Nya setiap hari
4. Miliki teman-teman yang dewasa rohani, orang-orang yang mengasihi Tuhan, yang dapat menyemangati kita untuk terus menjaga komitmen kita di dalam Tuhan,
5. Bantulah orang lain untuk juga hidup sebagai murid Kristus

Di atas semua itu, teruslah rindu mengenal dan menikmati hubungan dengan Tuhan setiap hari. Jadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita. Aku sendiri mengalami bahwa ketika hidupku makin berpusat pada Tuhan, aku pun makin tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak menghormati-Nya. Kita akan menemukan kekuatan untuk menolak godaan, kita akan lebih termotivasi untuk melakukan apa yang benar sekalipun hal itu sulit dan tidak ada orang yang memperhatikannya. Hubungan seks tidak lagi menjadi terlalu penting karena perhatian kita lebih banyak tertuju kepada Tuhan. Kita akan lebih peduli tentang bagaimana Tuhan memandang hubungan-hubungan yang kita miliki dan apa yang Tuhan ingin lakukan melalui hidup kita ketimbang mencari kebahagiaan kita di dalam hubungan-hubungan tersebut.

Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan bahwa: mengkhususkan diri kita untuk pasangan kita, bukanlah hadiah terbaik yang bisa kita berikan baginya. Hadiah terbaik yang bisa kita berikan adalah hubungan kita dengan Tuhan. Ketika kasih manusia memudar, kasih Tuhan cukup untuk menjaga hubungan kita dengan pasangan kita hingga maut memisahkannya.