Posts

Mematahkan Mitos ‘Dosen Killer’ Ala Mahasiswa

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Kami menerima surat penetapan dosen yang menjadi pembimbing skripsi kami di bulan Maret dua tahun lalu. Membaca dua nama yang tertera, semangatku yang telah terkumpul menciut begitu saja. Isu yang beredar dari mahasiswa-mahasiswa lain, dua dosen pembimbing ini sulit ditemui, mereka pun ‘perfeksionis’. Kesulitan-kesulitan itu menjadi momok tersendiri bagiku.

Ketakutanku akan sulitnya bimbingan dengan kedua dosen itu kujadikan alasan untuk menunda pengerjaan skripsiku. Aku berharap keajaiban agar ada pergantian dosen. Padahal, aku tahu kalau penggantian dosen pembimbing hanya bisa terjadi untuk alasan urgen seperti musibah atau kematian. Penggalan firman Tuhan yang kuingat dari Matius 7:7-8 dan 21:22 tentang bagaimana Allah akan memberikan hal-hal yang kuminta membuatku menjadikan doa seperti jurus ‘Sim Salabim’. Tuhan kujadikan layaknya ‘kantong doraemon’ yang harus menyediakan setiap hal yang kumau. Dengan persepsi yang salah, beragam alasan juga kuajukan pada-Nya seolah aku berhak komplain dengan rencana-Nya.

Aku seperti menyerah sebelum berperang. Ketakutan menghadapi dosen pembimbing dengan label ‘killer’ tidak kualami sendiri. Ada teman seangkatan lain yang sampai mengajukan pergantian dosen ke jurusan. Ada pula yang jadi lama wisuda dan stuck di revisi. Meski memang bukan satu-satunya faktor penentu kelulusan, dosen pembimbing skripsi juga berperan dalam proses mengakhiri masa studi mahasiswa. Dosen killer dianggap sulit untuk ditemui bimbingan, penliaiannya berstandar tinggi, dan kritik sana-sini. Maka tak ayal, menghindari dosen tipe ini dianggap pilihan yang tepat.

Sebulan pun berlalu. Dosen pembimbing pertamaku meminta kami menemuinya, itu pun karena ada temanku yang berinisiatif menghubunginya duluan. Walau dengan mental tempe, kuberanikan diri mengajukan garis besar penelitianku di bimbingan pertamaku. Di luar dugaanku, dia memberi banyak masukan agar di dua minggu berikutnya judulku bisa di-acc. Anak bimbingan dosen itu hanya diberi kesempatan revisi sekali dua minggu. Pertimbangannya, dengan durasi 14 hari, perbaikan akan lebih maksimal. Kesempatan bimbingan yang terbatas juga harus dimanfaatkan agar mahasiswa tidak asal-asalan menyerahkan revisi.

Kesan pertamaku malah berbanding terbalik dengan cerita yang kudengar. Asumsi ‘killer’ yang penuh kritik tidak masuk akal ternyata tidak sepenuhnya benar. Seolah menjadi amunisi untuk semangat yang sempat menipis, aku pun menemui dosen pembimbing keduaku. Aku menceritakan ide penelitian yang akan kukerjakan. Walau sedikit berbeda dalam beberapa hal, beliau yang sudah professor sekaligus guru besar itu tidak sepenuhnya keberatan. Dengan berbagai saran perbaikan di beberapa pertemuan, judul yang kuajukan disetujui.

Meski usaha tidak selalu berbuah manis, secara perlahan aku menemukan sudut pandang baru di pengerjaan tugas akhirku. Beragam stigma negatif yang terbangun karena mendengar opini lain terkikis secara perlahan. Selain karena memang tidak ada pilihan lain, sebisa mungkin aku memenuhi corat-coret perbaikan dari keduanya. Prinsipnya, mengabaikan saran perbaikan sama saja memperpanjang masa studiku. Tentu menjadi mahasiswa abadi atau ‘dropout’ karena tugas akhir tidak diinginkan siapa pun. Namun, dengan beberapa kondisi, ada teman-teman yang harus mengalaminya.

Dengan bantuan dari mereka yang kutemui di sepanjang proses, aku belajar bahwa benar Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya (Ibrani 13:5b). Ia memakai siapa saja sesuai kehendak-Nya (Yohanes 15:16) dalam setiap kondisi (Roma 8:28). Meski terkesan sepele, namun aku merasa tertolong dengan adanya adik-adik tingkat maupun petugas kebersihan yang biasanya kutanyai tentang keberadaan dua dosenku di kampus. “Pak, ada lihat bapak ini?”, “Dek, kamu ada kelas sama Prof hari ini?”. Dua pertanyaan pamungkas untuk menjawab ketidakpastian bimbingan. Terkadang dosen itu seperti PHP (Pemberi Harapan Palsu). Meski sudah ada jadwal, janji bimbingan tidak serta-merta berjalan mulus, biasanya terjadi jika ada rapat atau agenda lain yang lebih penting.

Bertemu dengan teman seperjuangan yang seangkatan atau orang baru dengan dosen yang sama juga sangat kusyukuri. Mereka menjadi teman melewati suka-duka perjalanan skripsweet. Sharing saran perbaikan, informasi jurnal, judul buku hingga menjadi momen saling menghibur. Kadang, karena ide sudah mandek atau sembari menunggu, kami sering usil dengan guyonan lama wisuda. Tidak hanya menghibur saat bisa menertawakan kondisi, gurauan atas nama solidaritas itu ternyata bisa jadi pelecut semangat.

Pengerjaan terus berlanjut. Revisi demi revisi kukerjakan seiring dengan semangat yang kadang on dan off tidak menentu. Sepanjang proses, ada saja lega yang bisa disyukuri atau kesal berujung tangis. Hingga dinyatakan lulus memperoleh gelar sarjana, pandangan dosen ‘killer’ untuk kedua dosenku ternyata tidak sepenuhnya benar. Anggapan itu tentu kusimpulkan dari pengalamanku. Kesulitan atau situasi yang dialami teman-teman bisa saja berbeda. Untuk itu, kita perlu berhati-hati merespon stigma yang ada.

Apalagi dengan kemudahan yang diberikan kemajuan teknologi. Dampaknya dalam berbagai sendi kehidupan tidak bisa diingkari. Tidak hanya bersifat membangun, efeknya juga ada yang negatif. Salah satunya mengenai tirani opini mayoritas. Tidak hanya di dunia nyata, kini melalui media sosial pandangan yang disampaikan secara daring pun mempengaruhi keputusan seseorang. Pandangan netizen melalui like, views dan comment seakan menjadi penentu dalam berkarya. Tanpa kita sadari, kita sering bertindak dengan memperhatikan atau bahkan mengikuti pendapat orang lain. Dari urusan menentukan sekolah, jurusan, tempat kuliah, memilih pacar hingga memutuskan jalur berkarir.

Pandangan yang beredar di masyarakat tentu ada yang bersifat positif, bisa dijadikan pedoman sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, kita juga harus menyadari ada stigma yang perlu diperbaiki. Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa membatasi opini orang lain. Pendapat mereka tidak ada dalam kendali kita. Alih-alih nekat dengan dalih ingin mematahkan ‘mitos’, kita juga perlu mendengarkan pandangan itu sebagai nasihat agar bijak mengambil keputusan (Amsal 12: 15).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Kita Tak Bisa Memilih untuk Lahir di Keluarga Mana, Tapi Kita Bisa Memilih Berjalan Bersama-Nya

Tuhan mengirimku untuk lahir di dunia ini, di keluarga yang dirundung konflik. Mungkin sekarang aku belum tahu apa maksud Tuhan dari semua ini, namun sekelumit kesan di hari ulang tahun ini mengingatkanku bahwa dalam perjalanan hidupku, aku disertai-Nya.

Mencari Pekerjaan Itu Sulit, tapi Aku Tidak Menyerah

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Di awal tahun 2018 aku lulus sebagai seorang Sarjana Ilmu Komunikasi. Layaknya para fresh graduate lainnya yang ingin segera mendapat kerja, aku pun begitu. Aku ingin bekerja sebagai Public Relations atau Marketing Communications di perusahaan besar supaya aku bisa mengaplikasikan ilmu yang kudapat di kuliah ke dalam dunia kerja.

Minggu pertama setelah wisuda, aku mengikuti beberapa job fair yang ada di Yogyakarta. Dengan penuh semangat, aku menjalani tiap tahapan seleksi di perusahaan-perusahaan yang kulamar. Tapi, tidak ada satu perusahaan pun yang aku lolos. Aku gagal di tahapan psikotes. Aku belum menyerah. Setelah rangkaian job fair itu usai, aku mengirimkan puluhan lamaran kerja lewat email. Tapi, hasilnya senada. Email-emailku tidak ada yang dibalas.

Aku masih belum mau menyerah. Lewat grup pencari kerja di Line dan akun-akun lowongan di Instagram, aku mencari-cari perusahaan yang kuanggap sesuai denganku. Aku masih kekeh ingin bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi. Sebulan, dua bulan, hingga enam bulan aku tak kunjung juga mendapatkan pekerjaan. Harapanku untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku pun meluntur. Ya sudah, sejak saat itu aku sedikit banting setir. Aku melamar ke perusahaan-perusahaan yang menawarkan posisi di luar Public Relations dan Marketing Communications.

Aku kembali gagal

Akhirnya, aku menemukan lowongan yang kurasa tepat buatku. Sebuah agensi periklanan di Tangerang membuka lowongan sebagai Social Media Manager. Tanpa sempat berdoa terlebih dulu, aku segera mengirimkan aplikasi ke sana. Beberapa hari setelahnya, agensi itu membalas emailku. Mereka memintaku datang wawancara tatap muka ke lokasi mereka. Dengan penuh semangat dan tekad untuk segera bekerja, aku berangkat dari Cilacap ke Tangerang.

Selesai wawancara, tahapan selanjutnya adalah mereka memberiku proyek. Aku diminta membuat sebuah kampanye iklan untuk produk otomotif dari klien yang sudah mereka tentukan. Kukerjakanlah proyek itu seserius mungkin, berharap supaya kinerjaku bisa memuaskan mereka.

Tapi, setelah proyek kampanye itu kuserahkan, aku merasa digantung. Agensi itu tidak memberiku kabar apa pun mengenai kelanjutan proses seleksiku. Aku pun memutuskan pulang kembali ke Cilacap. Setelah beberapa hari, barulah mereka mengabariku kalau aku lolos seleksi dan diminta kembali ke Tangerang esok hari untuk melakukan presentasi proyek itu. Aku keberatan, waktunya terlalu mendadak. Jarak antara Cilacap dan Tangerang cukup jauh, apalagi aku tinggal bukan di kotanya, melainkan di sebuah desa kecil di perbatasan provinsi. Jadi aku pun mengajukan penggantian hari. Betapa leganya aku saat mereka mengabulkan permohonanku.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Entah mengapa, agensi itu kembali menelponku. Katanya, aku tidak perlu kembali ke Tangerang karena mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan proses lamaranku. Aku gagal diterima.

Aku kecewa.

Perjalanan mencari kerja selama setengah tahun lebih kembali dijawab dengan hasil yang getir. Lagi-lagi aku gagal. Padahal sebelumnya aku sudah yakin betul kalau aku punya peluang besar diterima di perusahaan itu. Semangatku pun padam. Hatiku sedih. Aku khawatir akan masa depanku. Dan, ketika melihat teman kuliahku yang sudah memiliki pekerjaan, aku pun jadi iri. Rasanya menyenangkan sekali jadi mereka, bisa mengaplikasikan ilmu yang didapati di kuliah dulu di dunia kerja.

Aku tahu iri hati adalah dosa, maka aku berdoa memohon ampun pada Tuhan. Dan, saat aku bercerita kepada temanku tentang pergumulanku mencari kerja dan rasa iri hatiku, dia berkata bahwa mendapatkan pekerjaan itu tidak berarti masalah selesai. Banyak dari teman-teman yang sudah bekerja mengeluh karena pekerjaan mereka yang berat. Ada yang harus kerja lembur sampai larut malam, ada yang merasa pekerjaannya terlalu berat dan tidak sesuai dengan mereka. Bahkan, ada juga yang merasa iri denganku karena dengan aku membantu usaha toko kelontong milik keluargaku, aku bisa dekat dengan ibuku. Hal inilah yang akhirnya menyadariku untuk mengucap syukur dengan keadaanku saat ini.

Kepada Tuhan, aku mengungkapkan bahwa kerinduan hatiku adalah meninggalkan desaku dan bekerja di kota besar, supaya aku bisa mengaplikasikan ilmuku ke dunia kerja. Namun, apabila pada akhirnya aku harus tetap berada di desaku untuk mengusahakan toko kelontong keluargaku dan menemani ibuku yang tinggal seorang diri, aku akan berserah dan bersyukur pada Tuhan. Aku percaya bahwa apa pun hasilnya nanti, Tuhan tahu yang terbaik untukku.

Yang perlu aku lakukan sekarang adalah tetap berdoa dan memohon hikmat dari Tuhan seraya berusaha mencari pekerjaan di luar kota. Sambil membantu usaha ibuku di toko kelontong, aku belajar menulis dan mendesain, supaya ada nilai tambah dalam CV-ku, dan juga melayani di bidang multimedia di gerejaku. Melalui masa penantian ini, aku percaya bahwa Tuhan sedang membentukku untuk memiliki hati yang beriman penuh kepada-Nya.

Sobat, jika saat ini kamu sedang mengalami pergumulan yang sama sepertiku, maukah kamu bersama-sama denganku agar tidak menyerah, tetap berusaha mencari pekerjaan, memohon hikmat, dan percaya pada rencana Tuhan?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Baca Juga:

Apa yang Tidak Kuduga, Itu yang Tuhan Sediakan

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Aku mengamini ayat itu, bahwa Tuhan selalu memeliharaku. Namun, ketika keadaan hidupku sedang tidak menentu, aku pun khawatir dan meragukan pemeliharaan-Nya.