Posts

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Questions To Ask Yourself Before Embarking On A Relationship

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Cinta dan komitmen mereka, begitu pula stabilitas dari pernikahan yang berpusat pada Tuhan yang mereka bawa ke dalam rumah tangga—kemampuan mengasihi, menerima, dan tidak mementingkan diri sendiri—merupakan hal-hal yang aku kagumi. Memang, tidak ada keluarga atau pernikahan yang sempurna, tetapi usaha untuk mengasihi dan melayani satu sama lain bersama Tuhan telah memungkinkan adanya pengampunan dan rekonsiliasi.

Harus kuakui bahwa tahun-tahunku melajang (bukan karena pilihan) nyatanya cukup sulit aku jalani. Dari masa remaja hingga dewasa muda, aku yakin kalau ada sesuatu yang ‘salah’ denganku sehingga aku tidak dateable. Aku sempat berpikir mungkin itu karena diriku yang terlalu atletis, terlalu intelek, atau bahkan terlalu serius dengan imanku.

Syukurnya, aku bukan seorang ahli dalam pernikahan—tetapi Tuhan-lah ahlinya. Lagi pula, pernikahan kan ide-Nya. Aku bersyukur atas semua saran dan dukungan doa dari mentor dan teman-teman rohaniku—untuk tidak puas dengan kualitas yang belum ideal, untuk jadi lebih spesifik dalam mendoakan seorang pasangan, untuk terus mengingat bahwa Tuhan mengasihiku dan mengetahui hasratku untuk menikah, dan untuk percaya pada waktu dan ketentuan Tuhan.

Dalam waktuku melajang, ada banyak hal yang aku tanyakan mengenai diriku. Kini ketika aku sudah memasuki hubungan romantis untuk pertama kalinya, aku bersyukur telah menunggu dan meluangkan waktu untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Apa tujuanku dalam menjalin hubungan?

Awalnya aku menginginkan hubungan romantis dan pernikahan untuk merasa “normal” di kalangan teman sebayaku, sekaligus supaya aku mendapat perhatian dan kasih sayang yang istimewa. Namun pada akhirnya aku sadar bahwa tujuan tersebut sangatlah remeh di mata Tuhan.

Dalam sebuah serial khotbah tentang pernikahan, Timothy Keller mengatakan bahwa tujuan utama dari pernikahan duniawi adalah untuk membawa pemurnian rohani—sehingga pasangan suami istri dapat membantu satu sama lain untuk jadi semakin serupa dengan Kristus, sampai hari mereka masuk ke surga tiba.

Dengan pertolongan dari pernyataan itu—dan beberapa rekomendasi buku, khotbah, dan podcast tentang kencan dan pernikahan—aku pun mulai mendefinisikan ulang tujuan pribadiku dalam menjalin hubungan:

  • Untuk mengasihi dan melayani Tuhan lebih sungguh bersama-sama—walaupun aku sedang melayani Tuhan sekarang, hal itu harus diperkuat seiring aku dan calon suamiku bekerja berdampingan untuk Kerajaan Allah.
  • Untuk mengenali sisi lain dari Yesus. Aku telah mengenal Yesus sebagai Teman dan Tuhan sebagai Bapa. Sebagian diriku ingin mengenal-Nya sebagai Mempelai, sehingga pernikahan duniawi-ku dapat menjadi bayangan atas persatuan Kristus dan Pengantin-Nya, Gereja.

Akankah pernikahan duniawiku mendekatkan atau menjauhkanku dari tujuan Tuhan untuk hidupku (dan hidup pasanganku) dalam terang Kerajaan-Nya? Semua yang tidak mengarah pada tujuan Tuhan rasanya bukanlah yang terbaik bagi pernikahan.

2. Maukah aku mengencani diriku sendiri?

Seiring aku berdoa kepada Tuhan untuk calon pasangan hidupku, aku menemukan bahwa beberapa ciri dalam ‘daftar’ kriteriaku ternyata tetap konsisten selama bertahun-tahun, dalam hal:

  • Iman: memiliki hubungan personal yang aktif dengan Tuhan, mengetahui tujuan hidupnya, dan mampu menjadi pemimpin rohani untuk keluarga.
  • Sosial: Lucu, pendengar yang baik, bisa mengobrol dalam percakapan, jujur dalam kesaksian, menghormati dan peduli pada keluarganya.
  • Kesehatan emosi: Mau diajar dan memiliki kepercayaan diri.
  • Kesehatan intelektual: Memiliki mindset untuk bertumbuh.
  • Tekun dalam merawat kesehatan fisik dan penampilan.

Suatu hari, ketika sedang mendoakan daftar ini dalam waktu teduh, aku merasa Tuhan mencelikkan hatiku dengan bertanya, “Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sudah sesuai dengan kriteriamu sendiri?” Pertanyaan ini menohokku. Akupun mulai memakai daftar kriteria tadi sebagai cermin untuk diriku sendiri—”Apakah aku punya hubungan yang aktif dengan Tuhan? Apakah aku menghormati dan peduli pada keluargaku? Apakah aku mau diajar dan jujur dalam kesaksianku?”

Sampai saat itu, aku pikir bahwa hidup baru akan dimulai ketika aku mulai berkencan dan berjalan mengarah pada pernikahan. Tapi, siapa yang ingin menjalin hubungan denganku kalau aku masih menunggu orang lain untuk ‘mengawali’ hidupku?

Dan jika calon suamiku memiliki kualitas-kualitas ini, bukankah ia juga seharusnya mencari kualitas yang sama dalam calon istrinya?

Pada hari itu aku berdoa, “Tuhan, aku nggak mau lagi pakai standar ganda. Engkau yang telah memberiku hasrat untuk kualitas-kualitas tertentu pada calon pasangan hidupku. Tolong bentuk aku untuk menjadi wanita dengan kualitas seperti yang Kau inginkan aku miliki. Kiranya Engkau tidak membiarkanku mengharapkan orang lain apa yang tidak aku harapkan pada diriku sendiri.”

3. Apakah aku punya ruang untuk hubungan yang serius di dalam hidupku saat ini?

Untuk mengukurnya, aku merenungkan hal ini: jika aku akan menikah dalam waktu dekat, apakah aku akan siap—secara praktis, emosional, spiritual, dan finansial—dalam segala hal yang diperlukan untuk pernikahan?

Itu adalah pertanyaan yang menakutkan, tetapi aku tahu kalau memiliki seseorang signifikan dalam hidupku (dan sebaliknya) akan membutuhkan kerjasama dan kompromi. Berikut adalah hal yang aku harus pikirkan:

  • Secara spiritual, apakah aku semakin konsisten dalam waktu teduhku bersama Tuhan, dan dalam membiarkan-Nya menghancurkan pola pikiran dan kebiasaan burukku? Apakah aku sudah berakar dalam komunitas rohani yang kuat untuk bertanggung jawab membangun imanku?
  • Secara praktik, apakah jadwal dan kesibukan yang aku miliki memungkinkanku untuk menghabiskan waktu bersama calon suamiku secara rutin?
  • Secara sosial dan emosional, apakah aku sudah mempunyai keterbukaan dan kedewasaan untuk menceritakan tentang diriku secara jujur? Apakah aku sudah siap untuk mendengar tentang hidup orang lain secara rutin—tentang sukacita dan pergumulannya?
  • Secara finansial, apakah aku sudah siap untuk menanggung biaya acara pernikahan dan rumah? Apakah aku sudah siap untuk membicarakan tentang bagaimana mengatur keuangan bersama?
  • Dalam hal kesehatan, apakah aku sudah puas dengan cara makan, olahraga, dan waktu tidurku?

Melihat ke belakang, aku bersyukur atas waktu Tuhan yang sempurna karena Ia telah membentuk hatiku—menghancurkan tembok, keterikatanku pada dosa, dan kebiasaanku mengeluh, yang bisa saja membahayakan relasiku jika saja aku mulai berkencan lebih awal.

4. Apakah aku mengidolakan romansa dan pernikahan?

Pada masa aku kuliah, dalam sebuah acara persekutuan, seorang pengkhotbah membagikan kepada kami tentang perjalanannya menuju pernikahan. Ia mengatakan bahwa sangat memungkinkan kalau ia kehilangan istrinya (yang pada saat itu sedang hamil anak pertama) dalam sebuah kecelakaan kapan saja.

Jika hal itu itu terjadi, ia bertanya-tanya apakah ia akan marah kepada Tuhan dan berhenti percaya kepada-Nya. Ia kemudian sadar bahwa istrinya dan anak dalam kandungannya adalah pertama-tama milik Tuhan, dan Tuhan sebenarnya tidak berutang kepada mereka untuk memberikan ‘hidup bahagia selamanya’ yang mungkin selama ini kita harapkan.

Ini mengingatkanku pada ayat, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b). Aku terdorong oleh pesan dari pengkhotbah tadi, dan aku jadi berpikir, bisakah aku berpandangan seperti itu bersama pacarku sekarang?

Kurang dari sebulan setelah artikelku tentang menerima berkat dari masa-masa lajang diterbitkan, pacarku yang sekarang datang di hidupku. Kini sudah hampir setahun setelah kami menjalin hubungan, dan aku mengucap syukur kepada Tuhan setiap hari karena kehadirannya dan bagaimana Tuhan telah memakai dia dalam mendalami imanku, menajamkan keahlian hidupku, dan menumbuhkan mimpi-mimpi kreatif kami.

Namun, terkadang aku masih merasa kurang utuh ketika aku melihat teman-teman sebayaku menikah dan seakan “move on” dalam kehidupan mereka, sementara aku masih di sini-sini saja. Tetapi aku kemudian sadar bahwa aku sedang menggantungkan semua pengharapan dan impianku pada sesama manusia berdosa, seakan mengharapkan dia untuk “menyelamatkan” diriku dari kehidupan yang “kurang”, sekaligus membuatku merasa utuh.

Tuhan tahu betul bagaimana aku sudah menunggu lama dan menjaga diriku tetap murni. Tetapi, jika pacarku meninggalkanku, apakah aku akan menyalahkan Tuhan? Padahal Tuhan tidak berutang untuk memberiku seorang pacar atau suami. Tuhan pun tidak berutang agar Ia menebus kita. Semua itu dilakukan-Nya hanya karena kasih karunia-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku menikah, maka jadilah kehendak-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku melajang, maka jadilah kehendak-Nya. Tuhan tahu yang terbaik dan jalan-jalan-Nya lebih hebat dan lebih tinggi dari jalanku.

Menjalin hubungan romantis memang bisa mengasyikkan sekaligus menegangkan. Setiap hari aku pun belajar apa artinya mengasihi dan dikasihi oleh pacarku. Pada saat yang sama, aku yakin kalau selama kita menetapkan fokus kita kepada Tuhan dan tetap tertanam dalam suatu komunitas rohani, sebuah hubungan romantis yang menuju pernikahan dapat menjadi relasi yang tetap memuliakan Tuhan dan membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Baca Juga:

5 Hal untuk Direnungkan Ketika Iri dengan Privilese Orang Lain

Pada masa-masa aku mulai menyerah karena merasakan privilese terbatas, ada beberapa hal terkait privilese yang kurenungkan dan mulai kutemukan jawabannya ketika aku membaca Alkitab.

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Ways to Pray God-Centered Prayers For Your Friends

Ketika berada dalam satu komunitas orang percaya, aku percaya tiada hal yang paling berkesan selain berdoa bersama. Tapi seringkali, ketika kita menjalani jadwal yang sibuk, kita mungkin tidak terpikir untuk mendoakan teman kita.

Di awal Januari lalu, aku ikut persekutuan bersama temanku. Kami menulis lagu dan mengakhirinya dengan berdoa. Namun, setelah persekutuan itu selesai aku malah merasa kecewa. Aku datang terlambat, dan kurasa aku jadi berdoa dengan terburu-buru. Padahal, seharusnya dalam doa itu aku bisa menaikkan doa yang berfokus pada Tuhan—menyoroti apa yang Tuhan ingin lakukan melalui temanku itu. Berkaca dari pengalaman itu dan pengalaman doa lainnya, aku berpikir bagaimana caranya berdoa dengan lebih efektif, doa yang bersifat Allah-sentris (berpusat pada Allah) bagi teman-temanku.

Beberapa hari kemudian, di reading-plan aku menemukan ayat dari 2 Timotius. Paulus menuliskan doa dan penguatan untuk Timotius dari ayat 3 sampai 7 yang isinya berfokus pada Tuhan:

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Dalam doanya, Paulus pertama-tama mengucap syukur pada Allah (ayat 3), mengingat pergumulan Timotius (ayat 4), mendoakan dengan spesifik atas situasi yang Timotius sedang hadapi (ayat 6), dan mengingatkan Timotius akan janji dan pemeliharaan Allah. Kata-kata Paulus terasa meyakinkan sekaligus juga hangat.

Berdasarkan bacaan itu, aku menemukan empat cara kita bisa mendoakan teman kita dengan lebih baik—meletakkan fokus doa kita kepada Allah, bukan pada kata-kata dan hikmat kita sendiri.

1. Ambil waktu untuk memahami pokok doa mereka

Paulus bisa berdoa secara spesifik buat Timotius karena pertemanan dan komunikasi yang mereka jalin, yang terus berlanjut meskipun Paulus mendekam di penjara. Hal ini menunjukkan ketika kita membagikan apa yang jadi pokok doa kita, itu dapat menolong orang lain untuk mendoakan kita dengan lebih spesifik.

Memang lebih mudah untuk berdoa secara ‘default’, alias doa-doa rutin yang tanpa sadar seperti sudah jadi template bagi kita. Semisal, doa sebelum makan. Namun, doa seperti itu bisa jadi tidak relevan untuk mendoakan kebutuhan teman kita yang spesifik. Adalah baik jika memungkinkan untuk kita mendengar lebih dulu cerita dari teman kita terkait apa yang jadi pokok doanya. Ini beberapa pertanyaan untuk memulai:

  • Apa yang bisa aku doakan buatmu?
  • Apa yang kamu pikirkan atau khawatirkan belakangan ini? Dan bagaimana caramu menyerahkan semua ini pada Tuhan?

Setelah mendapat jawaban temanku, aku akan menuliskannya entah di kertas atau di HP, sehingga kami punya catatan tentang pokok doa kami. Kelak ketika doa-doa itu terjawab, dokumentasi ini menolong kita untuk melihat kembali pertolongan Allah dan tentunya membuat kita bersyukur.

2. Akuilah Tuhan dan mintalah hikmat-Nya

Paulus membuka doanya untuk Timotius dengan mengucap syukur. Betapa menakjubkannya Tuhan kita yang dalam segala kebesaran-Nya menerima setiap doa-doa kita melalui Yesus (Ibrani 4:14-15), dan Dia pun selalu menyediakan anugerah dan belas kasih bagi kita (4:16).

Inilah beberapa doa sederhana yang bisa menolongmu untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat doamu:

  • “Tuhan, berbicaralah melalui aku. Apa yang ingin Engkau katakan untuk temanku melalui aku?” Memberi jeda sejenak setelah berdoa menolong kita untuk berdoa secara dengan lebih luwes.
  • “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan hati-Mu untuk temanku juga dapat kurasakan.”
  • “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengasihi dan menyelamatkan kami. Terima kasih Engkau selalu mendengarkan kami dan tahu apa yang hendak kami ucapkan. Karena kasih-Mu, Engkau pun mengerti apa yang jadi pokok doa kami. Kami percaya di dalam kuasa-Mu, Engkau akan menjawab doa kami seturut hikmat dan waktu-Mu.”

Ketika aku menyerahkan doa-doaku pada Tuhan, Dia menolongku juga untuk berdoa sesuai kehendak-Nya (Roma 8:27).

3. Carilah firman Tuhan

Ketika Paulus berdoa agar Timotius mengobarkan kasih karunia Allah, itu mengingatkanku akan apa yang Alkitab katakan tentang Roh Kudus yang digambarkan seperti api (Matius 3:11). Mungkin Paulus sedang mengucapkan kembali firman Tuhan dalam doanya.

  • Kita bisa membaca Alkitab lebih dulu sebelum berdoa.
    Menuliskan atau menemukan ayat-ayat rujukan dari Alkitab akan lebih menolong kita.

    Inilah beberapa ayat yang sering kugunakan:

    Efesus 6 untuk perlindungan spiritual
    Filipi 4 untuk pikiran yang saleh
    Roma 8 untuk melawan rasa bersalah, malu, dan perasaan tidak berharga
    Mazmur juga menyediakan contoh-contoh doa yang baik. Alkitab akan selalu mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan dan bagaimana Dia menjagai iman kita. Kita dapat mendeklarasikan janji-janji Tuhan dengan yakin atas teman kita.

  • Bergabunglah atau mulailah komunitas doa.
    Menghadiri persekutuan doa di gereja atau mengajak sesama teman untuk saling mendoakan adalah awal yang baik. Beberapa orang menganggap doa itu ibarat otot yang akan semakin kuat ketika kita sering melatihnya.


4. Dengar-dengaranlah akan bisikan Tuhan dan bersyukurlah atas doa-doa yang dijawab

Terakhir, jika ada sesuatu yang Tuhan letakkan dalam hatimu untuk kamu sampaikan pada temanmu, lakukanlah. Temanmu akan merasa tertolong untuk melangkah di jalan yang tepat. Kamu bisa mendorong mereka untuk menemukan pertolongan dari orang yang profesional, merekomendasikan bacaan atau konten lainnya yang berguna buat dia, atau sesederhana mengingatkan mereka akan janji Tuhan.

Kadang ketika kita mendoakan teman kita, Tuhan menggunakan diri kita sendiri sebagai bagian dari jawaban-Nya. Jadi, janganlah kita mengabaikan bisikan Tuhan dan tetaplah mendoakan teman kita. Tanyakan apakah mereka butuh untuk ditolong lebih lanjut dan seberapa sering, karena masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk menerima kasih dan dukungan dari saudara seiman.

Terakhir, ingatlah untuk berbagi sukacita atas tiap doa yang dijawab. Lihatlah kembali catatan doamu dan ingatlah bagaimana Tuhan bekerja. Bersukacita dan mengucap syukur adalah hal yang berkenan bagi Dia—seperti kisah seorang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan (Lukas 17:7-18).

Kembali ke malam sepulang dari persekutuan, aku bersyukur karena saat di perjalanan pulang aku teringat untuk berdoa, “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan-Mu buat temanku itu jadi kerinduanku juga.” Roh Kudus seolah memberiku inspirasi kata-kata di pikiranku, lalu kukirim chat kepada temanku itu tentang apa yang kurasa Tuhan ingin katakan padanya, dan dia berkata kalau doa yang kuucapkan itu pas dengan keadaan yang memang sedang dia hadapi. Setelah itu, kurasa kedamaian memenuhi hatiku.

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu. Dalam perjalananku sendiri, aku mendapati sungguh berharga apabila kita bisa saling mendoakan, menaikkan apa yang jadi kebutuhan kita bersama-sama kepada Allah yang mendengar dan menjawab kita.

Menjadikan Allah sebagai pusat dari doa-doa kita sebagai resolusi kita di sisa tahun ini, mengapa tidak? Saat kita makin sering mengizinkan diri dipakai Tuhan untuk menyampaikan isi hati-Nya bagi orang lain, kita akan berdoa lebih giat daripada sebelumnya, dan lihatlah iman kita bertumbuh melampaui ekspektasi kita.

Baca Juga:

Jurnal Doa

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah.