Posts

Penyertaan Tuhan Melampaui Segala Ketakutanku

Oleh Salsa, Jakarta

Hari itu hujan sangat lebat. Ramalan cuaca mengatakan kalau hujan akan berlangsung sampai esok pagi. Aku tidak tahu persis mengenai kebenaran ramalan tersebut, aku hanya tahu bahwa aku harus bergegas pulang. Sudah lebih dari satu bulan, aku tidak bertemu maupun berkomunikasi dengan ibuku. Meski aku telah memutuskan untuk beriman kepada Kristus sejak 4 tahun lalu, namun aku baru memberi tahu hal tersebut kepada ibuku secara terus terang sekitar beberapa bulan lalu.

Sejak saat itu, hubungan kami menjadi sangat tidak baik. Mungkin aku terlihat seperti anak yang sangat durhaka dan tidak termaafkan di mata beliau. Pesan terakhirku kepadanya tidak dibalas. Oleh sebab itu, aku takut dan tidak tahu harus berbuat apa selama sebulan terakhir. Bukannya aku tidak pernah pulang, namun aku selalu pulang saat ibuku sedang berada di luar kota. Sebagian orang beranggapan aku melarikan diri, sebagian lain berkata bahwa aku butuh waktu untuk menenangkan diri.

Takut, cemas, khawatir, malas, ingin menyerah, seluruh perasaan negatif muncul menjadi satu. Hari itu aku cukup menikmati firman Tuhan yang kembali meneguhkanku. Imanuel, Tuhan bersamaku. Aku kembali memantapkan niat untuk pulang. Sepotong kue dan kartu ucapan selamat hari ibu sudah kusiapkan untuk kuberikan kepada ibuku. Sepanjang perjalanan, bayang-bayang buruk akan penganiayaan verbal, tidak diterima di rumah, dan lainnya, terus menerus menghantuiku, tapi aku coba mengabaikan itu semua. Aku pun mencoba mengingat kembali kisah-kisah penyertaan Tuhan yang banyak diceritakan teman-temanku sebelumnya. Ada yang baru diterima kembali oleh orang tuanya setelah 16 tahun berdoa sambil terus menyatakan kasih kepada orang tuanya. Ada juga yang rela menelepon orang tuanya setiap hari minggu selama 6 tahun meski tahu akan menerima respon yang tidak baik. Kebaikan dan penyertaan Tuhan kepada mereka semakin memantapkanku. Aku yakin, Tuhan juga menyertaiku sama seperti Tuhan menyertai mereka.

Sesampainya di stasiun tujuan, aku segera memesan kendaraan untuk sampai ke rumah. Keadaan cuaca yang semakin buruk membuatku kesulitan mendapat kendaraan. Lagi-lagi, si jahat mencoba mengganggu pikiranku. “Sepertinya kamu tidak harus pulang hari ini, bagaimana kalau kamu dibilang penjilat? Apakah kamu benar-benar siap menghadapi respons ibumu?“, ujar si jahat. Butuh beberapa waktu untuk kembali menepis dan meneguhkan langkah kakiku. Aku teringat saat teduhku di hari sebelumnya mengenai sukacita memberi (Lukas 2:4-14). Aku meyakinkan diriku bahwa alasanku memberi kue kepada ibuku, bukan untuk menyogok maupun mendapatkan kasihnya kembali, melainkan karena aku mengasihinya. Benar, aku mengasihi ibuku, karena Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihiku dengan kehadiran-Nya yang merupakan sukacita bagi dunia. Karenanya, aku sungguh ingin membagikan sukacita dan kasih Tuhan itu kepada ibuku.

Setelah beberapa saat, aku akhirnya mendapat kendaraan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku bersalaman dan memberikan kue kepada ibuku. Hal yang mengejutkan adalah ketika ibuku memeluk dan menciumku sambil berbisik “Hai sayang, jangan deket ibu dulu ya, ibu masih sakit, nanti ketularan“. Tidak satu kata pun keluar dari mulutku. Aku bergegas menuju kamar dan tak kuasa menahan tangis. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tuhan terlalu baik bagiku, dan lagi-lagi Tuhan membuktikan kasih-Nya kepadaku. Tidak ada satu pun ketakutanku yang terjadi pada saat itu.

Aku merasa tertegur karena hampir gagal mempercayai penyertaan Tuhan dibanding ego dan pemikiranku sendiri. Bagaimana bisa, aku percaya kepada anugerah keselamatan dan pengorbanan-Nya, namun hampir gagal mempercayai penyertaan-Nya? Seorang pendeta pernah mengatakan bahwa semestinya iman kita turun seperti air yang mengalir dari atas ke bawah. Ketika kita percaya terhadap sesuatu yang besar, secara otomatis kita akan percaya kepada sesuatu yang kecil. Mungkin analogi sederhananya seperti ketika kita mau menitipkan lima orang anak kepada seseorang, karena kita tahu bahwa orang ini dapat menjaga lima anak tersebut dengan sangat baik. Tentunya secara logika, kita juga akan percaya bahwa dia sanggup menjaga satu orang anak dengan baik. Sangatlah tidak mungkin kalau kita percaya bahwa orang ini dapat menjaga lima anak namun kita tidak percaya bahwa dia dapat menjaga satu anak saja.

Berbalik kepada salib-Nya

Mari sejenak kita kembali ke kitab Keluaran di mana kehadiran Tuhan digambarkan di tempat yang tinggi dan suci seperti gunung Sinai. Dalam pasal 19 diceritakan bahwa kehadiran Tuhan di puncak gunung Sinai merupakan peristiwa yang menyeramkan: ada guruh dan kilat, awan padat di atas gunung, asap yang membumbung dan membuat gemetar seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Ketika itu, bangsa Israel harus menguduskan diri untuk menjumpai Tuhan, namun ternyata mereka tetap tidak diizinkan naik ke atas gunung dan hanya boleh berdiri di kaki gunung. Tuhan memperingatkan Musa untuk memasang batas di sekeliling gunung, karena tempat itu adalah tempat yang kudus. Diceritakan juga, bahwa siapa pun yang mendaki atau menyentuh tempat itu akan mati.

Dalam kisah ini, kita dapat melihat bahwa Tuhan adalah Tuhan. “I am Who I am” (Keluaran 3:14). Dia tidak dapat didefinisikan oleh apa pun. Dia tidak dapat mati, tidak dapat menjadi lemah, dan tentunya Dia tidak dapat bersatu dengan dosa. Bangsa Israel tidak dapat naik dan menjumpai Tuhan karena Tuhan terlalu besar, terlalu agung, dan terlalu kudus bagi mereka. Lantas bagaimana? Dalam Mazmur 24 dikatakan bahwa hanya orang yang benar-benar bersih dan tidak bercela yang dapat naik ke atas gunung Tuhan. Mungkin pada saat itu bangsa Israel tidak mengerti, namun di sana Tuhan ingin berkata bahwa rancangan-Nya adalah rancangan yang terbaik. Bukan tentang bagaimana akhirnya mereka dapat naik untuk berjumpa dengan Tuhan, namun tentang bagaimana Tuhan yang pada akhirnya rela merendahkan diri untuk menjumpai mereka.

Perjanjian Baru menggambarkan kehadiran Tuhan dengan cara yang berbeda. Alih-alih dengan peristiwa yang menyeramkan, kehadiran Tuhan justru digambarkan dalam rupa bayi yang lemah. Imanuel, Tuhan beserta kita. Setiap orang yang berjumpa dengan-Nya, bercakap dengan-Nya, menyentuh-Nya, akan merasa lebih baik, bahkan ada yang seketika sembuh dari penyakitnya. Mengapa? Mengapa mereka tidak mati atau binasa seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama? Karena, segala peristiwa menyeramkan dalam Perjanjian Lama, seperti awan mendung, gempa bumi dan bukit-bukit terbelah, seluruhnya telah ditumpahkan-Nya dalam salib-Nya. Dia yang tidak bercela, Dia yang kudus, Dia yang agung, rela menjadi berdosa dan menanggung segala konsekuensi keterpisahan-Nya dengan Bapa karena kasih-Nya kepada kita semua.

Jika kepercayaan-kepercayaan lain menawarkan berbagai cara untuk dapat berjumpa kembali dengan Tuhan, kekristenan berkata tidak. Kita tidak dapat kembali dengan usaha kita sendiri. Seberapa besar pun usaha kita untuk menyucikan diri, kita tidak akan pernah dapat mencapai-Nya. Mari kita berbalik kepada salib-Nya, melihat bagaimana Dia menyatakan bahwa kita sangat berharga bagi-Nya. Dan ketika kita taat serta percaya dengan sungguh-sungguh, dunia akan melihat kemuliaan-Nya melalui kita.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, iman kita semestinya seperti air yang mengalir dari atas ke bawah. Jika kita percaya kepada anugerah kasih dan keselamatan-Nya yang begitu besar bagi kita, seharusnya kita juga percaya atas pemeliharaan dan penyertaan-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Mari kembali belajar untuk percaya kepada-Nya dan berhenti hidup berdasarkan pemikiran kita sendiri, percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan menyertai kita.

Meski aku belum mengetahui bagaimana kelanjutan kisahku dengan orang tua dan keluargaku, namun aku percaya bahwa Tuhan mengasihiku dan akan selalu menyertaiku. Apa pun ketakutan dan pergumulan yang akan kita hadapi di tahun yang baru ini, semoga kita semua dapat terus memercayai kasih dan penyertaan-Nya setiap waktu.

Baca Juga:

Kado Awal Tahun

Baru di hari kedua tahun 2020, aku sudah dilanda ketakutan. Banjir yang datang tak diundang seolah jadi kado pembuka tahun yang tak diinginkan. Namun, ada pengharapan yang pasti yang bisa kita pegang dalam menghadapi hari-hari kita.