Posts

Yang Kamu Dapat Cuma-Cuma, Bagikanlah Juga dengan Cuma-Cuma

Oleh Cristal Tarigan

Awal Januari harusnya menjadi tahun yang penuh sukacita bagi kebanyakan orang. Kumpul dengan keluarga, membuat resolusi, menikmati pesta tahun baruan dan makanan yang enak-enak. Tapi, di awal tahun 2018 lalu, ada hal yang mengganggu sukacitaku.

Sepulang dari menikmati pesta tradisi adat keluarga dari mamaku, aku mandi untuk menyegarkan diri dan saat menggosok seluruh badan, aku merasa ada sesuatu yang asing di bagian tubuhku di dekat leher daerah dekat bahu. Karena merasa janggal, dan bingung, kutanyakan semua anggota keluargaku apakah di dekat leher mereka juga punya benjolan sepertiku, tapi semuanya nihil.

Beberapa minggu berlalu benjolan itu tidak juga hilang. Awalnya tidak ada rasa takut, karena merasa itu mungkin hanya masuk angin saja. Aku terlalu banyak pergi jalan-jalan selama beberapa hari di awal tahun. Tapi saat sudah memasuki bulan April, di situlah aku mulai overthinking dengan kondisiku.

Saat itu aku sedang kuliah dan kos di kota Medan. Kesendirianku di kamar kos itulah yang menjadi tempat di mana aku sering berpikir yang aneh-aneh, khawatir, takut dan menangis. Kujalani hari-hariku dengan orang lain seperti tidak ada apa-apa, tapi saat sendirian aku benar-benar terpuruk karena aku takut benjolan ini bisa saja membawa sesuatu yang sangat fatal bagi masa depanku. Aku sering mencari banyak informasi di internet tentang kemungkinan yang menjadi penyebab sakitku, tapi bukannya membuatku menemukan jawaban yang pasti, justru informasi itu membuatku semakin hari semakin khawatir.

Mengakhiri ketakutan dengan mulai membagikan Kabar Baik

Sebelum kejadian di 2018 itu, kujelaskan sedikit tentang latar belakang rohaniku. Aku lahir dari keluarga Kristen yang cukup “rohani”. Aku mengikuti banyak kegiatan rohani, memegang jabatan rohani. tetapi sebenarnya aku baru lahir baru di tahun 2015. Sejak tahun itu aku memulai perjalanan hidup baruku dengan Kristus, dan juga terlibat dan kegiatan komunitas Kristen di kampusku. Jadi di saat aku mengalami sakit itu, bukannya aku tidak mengerti bahwa dalam segala hal kita harus berserah kepada Tuhan. Ada segudang teori yang bisa aku bagikan kepada orang lain saat ada kegiatan sharing bersama, tapi dalam kondisi itu selama berbulan-bulan lamanya aku jatuh, aku memang berdoa, menyembah bahkan menangis dalam tiap doaku, tapi aku sadar, sebenarnya saat itu aku bukan berdoa kepada Tuhan. Aku berdoa kepada diriku sendiri, menghendaki Tuhan menjawab doaku seperti keinginanku sendiri. Itulah yang sebenarnya kulakukan setiap kali menghampiri Tuhan lewat doa. Sampai suatu hari aku berdoa, menyanyi, menangis dan entah kenapa aku merasa seperti Tuhan bertanya secara pribadi kepadaku begini “apa yang menurutmu paling berharga yang kau miliki selama hidupmu?”

Kurenungkan pertanyaan itu sampai berhari-hari untuk menemukan jawabannya. Hari di mana aku merasa hidupku berubah seutuhnya adalah ketika aku menerima Yesus sebagai Juruselamatku. Saat itu ada seseorang kakak yang menceritakan Injil dengan rendah hati kepadaku. Inti Ceritanya adalah Yesus satu-satunya jalan keselamatan. Hidup kekal adalah anugerah yg didapat cuma-cuma dari Allah, bukan karena seberapa baiknya aku dan sebanyak apa kegiatan pelayananku, satu-satunya syarat memiliki hidup kekal adalah Iman yang percaya kepada Yesus dengan segenap hati.

Ketika aku sadar bahwa Injil adalah cerita yang paling berharga, aku pun bangkit dan diteguhkan bahwa aku punya tugas menjadi saksi-Nya. Saat itu aku bukanlah seorang penginjil yang sudah diperlengkapi dengan berbagai metode yang bisa aku bagikan dengan teknik-teknik yang luar biasa. Hanya dengan kesadaran bahwa aku sudah mengalami, aku sudah terima, maka artinya aku adalah saksi-Nya dan tugasku adalah bersaksi.

Kumulai saat itu membagikan ceita Injil dengan bahasa apa adanya kepada teman-teman terdekatku. Mereka adalah orang-orang sepertiku dulu sebelum lahir baru. Meskipun sehari-hari tampaknya aktif dalam banyak kegiatan rohani, tapi mungkin saja seseorang masih memiliki pemahaman yang dangkal soal Injil. Berawal dari teman terdekat, aku belajar mengikis rasa takutku sampai akhirnya kini membagikan kabar baik itu adalah sebuah gaya hidup.

Mencontohkan iman itu bisa dalam berbagai hal. Contohnya adalah dengan kesaksian hidup sehari-hari, dari cara berbicara, berpakaian, bekerja, dan berbagai perbuatan lainnya tanpa harus secara terang-terangan membagikan isi Injil, dan mengangkat kata-kata Yesus. Tidak salah bahwa kesaksian hidup bisa mempengaruhi pandangan orang lain yang membuatnya pada akhirnya penasaran, bertanya, dan kita bisa menjelaskan imanlah alasan kita melakukannya. Tapi hendaknya kita tidak lupa bahwa tugas saksi memanglah bersaksi. Selain kita harus bisa menjadi teladan lewat kesaksian hidup, kita memang secara sengaja mendoakan orang-orang di dekat kita lalu mulai berani memulai berbagi dan percaya Roh kudus yang memimpin setiap percakapan dalam kesaksian kita.

Mengalami sendiri Berita Injil

Akhirnya, awal tahun 2019, aku sudah operasi atas saran dokter. Sebenarnya sakit ini tanpa gejala, tapi namanya penyakit harus diobati, akhirnya aku ikuti saja saran dokter. Hasilnya, penyakitku tidak semenakutkan yang aku pikirkan, benjolanku itu bukan sesuatu yang fatal. Dokter menyarankanku kontrol setiap tahun jika kemudian ada hal-hal yang aneh dan terasa tidak nyaman setelah operasi itu dilakukan, dan menerapkan pola hidup sehat.

Proses itu membuatku memahami Yesus bahkan tentang pengorbanan-Nya lebih banyak lagi secara Pribadi. Injil yang aku dengar dan aku bagikan itu sendirilah yang sudah membuatku menyadari betapa luar biasanya Yesus yang aku kenal, yang tidak meninggalkanku di kala lembah terdalam melandaku. Sampai kini, itulah janji-Nya yang gak pernah Dia ingkari.

Memang awalnya aku tidak paham sama sekali kejadian yang diizinkan Tuhan di awal tahun 2018 itu, tapi kini aku tahu, setiap maksud Tuhan selalu mendatangkan kebaikan. Jangan pernah takut bersaksi, kesaksian tidak selalu kita mulai karena kita harus mengalami hal yang luar biasa atau sebuah mukjizat. Setiap kita yang sudah mengalami sendiri Yesus, aku percaya kita semua adalah saksi-saksi yang bisa dan sudah diperlengkapi-Nya untuk kembali memuliakannya.

“Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-nya oleh kekuatan Allah” (2 Tim 1:8).

Masih Muda Bukan Alasan untuk Hidup Asal-Asalan

Oleh Jenni

Malam itu, lagi-lagi rasa sesak muncul di ulu hatiku. Sesak yang disertai sakit itu menyengat bagian dada hingga tembus ke punggung. Aku pun membetulkan posisi tidurku. Kutumpuk bantal agar posisi badan setengah duduk. Selagi berbaring, aku mengingat-ingat makanan dan minuman apa saja yang aku konsumsi tadi.

Oh ya! Tadi aku minum segelas susu bubuk. Hanya karena segelas susu, maagku kambuh. Sakit ini sebenarnya bisa dicegah seandainya dulu aku lebih menjaga kesehatan.

Saat itu aku kelas lima SD, masa di mana aku senang jajan. Tak peduli sehat dan bersih makanannya, asal nikmat maka aku akan menyantapnya. Tak jarang juga kucampurkan bumbu pedas sesuka hati.. Setiap ketahuan oleh ayahku, ia akan menegur dan mengatakan bahwa itu tidak baik untuk kesehatan. Namun, aku mengabaikannya dan melanjutkan kebiasaan itu.

Tahun-tahun berlalu, tak terasa kini aku sudah bekerja. Keadaan di sekelilingku sedikit demi sedikit mulai berubah, tapi kebiasaan makanku tidak ada yang berubah, malah semakin buruk. Apalagi saat itu aku sudah memiliki penghasilan.

Bagaikan bermain game, tingkat pedas yang kusuka semakin bertambah. Yang biasanya satu sendok sudah kewalahan, sekarang dua sendok baru terasa pedas. Dan aku tidak berhenti mengonsumsi makanan seperti itu, bahkan diluar sepengetahuan orang tuaku. Hingga tubuhku mulai memberikan alarm.

Saat itu aku sedang menjalani kursus menggambar. Tiba-tiba kurasakan sakit di kepala dan di dada, namun aku mengabaikannya dan terus melanjutkan kebiasaan buruk itu. Ditambah lagi aku sering begadang untuk mengerjakan tugas atau latihan. Dengan semua yang kulakukan itu, tubuhku tidak bisa lagi bertahan.

Suatu malam setelah bermain, aku mulai merasa tidak enak badan. Aku ke toilet terus menerus dengan sakit di perut yang luar biasa. Aku merasa bahwa asam lambungku naik, bahkan aku sampai tidak bisa menelan makanan atau minuman, termasuk obat. Aku pun dilarikan ke rumah sakit oleh orang tuaku. Dan ketika dokter memeriksa, dokter bilang kalau aku harus rawat inap.

Aku tidak pernah menyangka kalau aku harus dirawat. Saat itu yang menjagaku di rumah sakit adalah orang tuaku. Selama satu minggu dirawat, orang tuaku selalu bolak-balik rumah sakit untuk menjagaku, terlebih ibu. Belum lagi ibu harus mengurus urusan rumah tangga. Dan karena ketidakpedulianku dalam kesehatan tubuh, ibuku harus repot dan lelah menjagaku yang masih muda dengan tubuh yang tidak berdaya.

Selain itu, sebagian pekerjaanku di kantor pun terbengkalai. Aku bersyukur kala itu ada rekan kerja yang menyempatkan waktu untuk back-up pekerjaanku di sela padatnya pekerjaan di kantor. Namun, tetap saja ada perasaan tidak enak. Aku merasa menyusahkan rekanku karena kejadian ini.

Huft.. Betapa orang sekitarku menjadi susah karena ketidakpedulianku dalam menjaga kesehatan tubuh sendiri.

Tidak hanya orang sekitar yang kubuat susah, aku juga membuat diriku kesusahan, bahkan aku merugikan diri sendiri.

Setelah dirawat dan diperiksa, banyak catatan dari dokter yang harus aku perhatikan ke depannya. Yang pertama, pantangan pun jadi banyak. Aku tidak bisa mengonsumsi makanan dan minuman sebebas dulu lagi. Kedua, tidak ada lagi kegiatan sampai tengah malam. Aku tidak boleh bergadang dan harus memiliki jam tidur yang teratur. Hal ini karena tubuhku sudah tidak sekuat dulu lagi. Ada batasan-batasan di mana tubuhku harus beristirahat. Jadi, mau tak mau aku harus menjalani pola hidup yang baru.

Rasanya sulit memulai pola hidup baru. Aku melepas kebiasaan-kebiasaan burukku dan melakukan hal yang terasa asing dan aneh bagiku. Walaupun sulit, tapi harus kulakukan untuk memelihara kesehatan tubuhku. Aku tidak mau lagi merasakan sakit yang luar biasa itu dan menyusahkan keluarga serta orang sekitar. Di samping itu, harus kuakui bahwa pola hidup baru itu memberikan hal-hal baik. Sakit kepala dan sesak dada yang dulu sering muncul kini hilang. Caraku memandang makanan pun jadi berbeda. Jika dulu aku suka menikmati makanan/jajanan sembarangan, kini aku heran kenapa dulu aku bisa menikmati makanan itu.

Meskipun perubahan telah kulakukan, tetapi tetap ada konsekuensi dari kelalaianku dulu. Tubuhku tak sekuat dulu lagi. Sekadar segelas susu atau jus jeruk saja mudah meningkatkan asam lambungku. Tak jarang juga saat maagku kambuh, kegiatanku pun terganggu. Kadang aku berpikir, masih usia 27 tahun tapi kondisi tubuh sudah seperti ini. Sungguh, setelah mengalami ini semua, barulah aku sadar bahwa kesehatan adalah anugerah yang harus dipelihara..

Pada suatu hari, saat sedang membaca Alkitab, aku sampai di Daniel 1:8-17. Daniel dan kawan-kawannya memilih untuk tidak menajiskan diri dengan makanan dan anggur raja, dan mereka memilih mengonsumsi sayur dan air. Hasilnya, fisik mereka lebih sehat dan kuat. Tuhan pun mengaruniakan kasih sayang melalui pemimpin pegawai istana, juga pengetahuan dan kepandaian pada mereka.

Andaikan saja dulu aku lebih dengar-dengaran dan tidak membiarkan diri dikuasai nafsu, mungkin kejadian jatuh sakitku bisa dicegah.

1 Korintus 6:12 mengatakan: “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”

Semasa remaja memang tidak mudah bagiku untuk menekan keinginan. Namun, tak ada hal baik yang dihasilkan dari dikuasai nafsu. Akibatnya akan muncul di masa depan. Bukan hanya diri sendiri yang menanggung dampak buruknya, tapi orang sekitar kita juga dapat terkena imbasnya.

Memiliki tubuh yang sehat akan sangat menguntungkan kita. Berbagai hal baik dan produktif bisa kita lakukan. Seandainya aku bisa bertemu diriku di masa remaja dulu, aku mau berpesan buatku juga buat semua orang: sedari muda, jagalah kesehatan dan pergunakanlah kebebasan dengan baik.

Bukankah dengan mengusahakan pola hidup sehat itu menunjukkan bahwa kita mengasihi Allah? Tubuh adalah bait Roh Kudus. Ketika kita memelihara kesehatan, maka kita mempersembahkan tubuh ini bagi kemuliaan nama-Nya.

Sembuh Tapi Tidak Sembuh, Tidak Sembuh Tapi Sembuh

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Empat tahun yang lalu, aku dan seorang teman dokter melakukan pelayanan di sebuah rumah tahanan (rutan). Setelah aku berkhotbah, kami mengadakan pengobatan gratis untuk semua tahanan berikut para sipir yang ada di sana. Kami lalu mendapatkan informasi bahwa ada seorang tahanan yang bukan orang Kristen yang menderita kusta dan tidak lagi bergaul dengan semua orang di rutan. Dia juga tidak lagi datang ke tempat ibadahnya.

Segera kami mengunjungi orang itu. Kami cukup kaget karena dia tidak bersedia memperlihatkan kondisi tubuhnya. Seluruh tubuhnya dia tutupi dengan kain tipis berwarna agak gelap, hanya menyisakan satu lubang sebesar mata supaya dia tetap bisa memandang kami saat bercakap-cakap. Mungkin dia malu, atau mungkin juga tidak ingin kami terjangkit. Namun, satu yang pasti adalah dia tidak bahagia dengan kondisi tubuhnya, apalagi dia berada di tengah-tengah kelompok yang menjauhinya karena tidak tahu banyak fakta-fakta tentang penyakit kusta. Sejujurnya, saat aku memandangnya aku sangat berharap mukjizat terjadi, tetapi setelah beberapa waktu berselang Tuhan berkata lain. Teman kami, seorang tahanan yang sakit kusta itu telah meninggal.

Pengalamanku melayani di rutan itu membuatku menyadari bahwa setiap orang haus akan relasi. Kita ingin diterima, kita memerlukan sentuhan, kita ingin sehat, pun kita ingin meraih banyak hal dalam hidup. Penyakit telah membatasi banyak hal dari kita. Setiap kali aku mengingat teman kami yang menderita kusta itu, timbul banyak pertanyaan dalam hati. Bagaimana rasanya menghabiskan waktu di sebuah ruangan sempit dan gelap sehari-harian? Bagaimana rasanya tertolak dan sendirian? Setelah teman dokter memberikan petunjuk medis untuknya, aku hanya bisa mendoakannya.

Penyakit kusta bukanlah penyakit baru. Dua ribu tahun lalu, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dia menghadapi sepuluh orang kusta dan mereka semua berseru senada, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Lukas 7:11).

Ada banyak hal yang bisa kita telaah dari kisah itu, tetapi ringkasnya, kesepuluh orang kusta itu menderita lahir dan batin. Kusta telah memisahkan mereka dari komunitas, dari masyarakat dan keluarga. Mereka dipandang sebagai orang yang terkena “kutuk” dari Tuhan. Lalu, karena orang pada masa itu percaya bahwa kusta tidak bisa disembuhkan oleh pengobatan medis, maka teriakan mereka pada Yesus tentu berasal dari hati yang benar-benar hancur.

Kusta yang tertulis di sini bukanlah sekadar tentang sakit akan kulit yang meleleh, tetapi juga relasi yang porak-poranda.

Tidak mengejutkan bagi kita karena Yesus dengan kuasa-Nya tergerak dan menyembuhkan sepuluh orang itu dari sakit kustanya. Tapi, hanya satu yang kembali pada-Nya dan memuliakan Allah. Ada banyak hal yang bisa dijelaskan pada bagian ini, tetapi yang paling ingin aku tekankan adalah bahwa meskipun sepuluh orang telah sembuh, hanya satu orang yang kembali. Satu orang ini adalah orang Samaria yang dianggap remeh oleh orang Yahudi. Kepada orang inilah Yesus berkata, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Lukas 17:19).

***

Mari kembali sejenak ke ceritaku di awal tulisan ini yang terjadi empat tahun lalu dan kita coba sedikit menduga-duga. Jika mukjizat terjadi setelah kami berkunjung dan mendoakan teman yang sakit kusta itu, apa yang akan terjadi? Mungkin kamu akan berkata, “nama Tuhan Yesus dimuliakan.” Tetapi, sayang sekali. Fakta dua ribu tahun lalu memberikan kita informasi yang mengecewakan. Yesus bahkan mempertanyakan sembilan orang yang tidak kembali (ayat 17), dan di sinilah letak krusialnya. Jika kamu dan aku percaya bahwa Yesus bisa membuat mukjizat (secara khusus kesembuhan fisik), orang-orang Farisi dan Saduki yang membencinya juga tahu itu, bahkan Iblis pun tahu.

Kisah tentang mukjizat kesembuhan bagi orang kusta itu tidak hanya bicara tentang kesembuhan tubuh mereka, tetapi bicara tentang iman kepada apa yang tidak bisa dibalas oleh manusia kepada Allah yaitu kasih karunia. Ini tentang keselamatan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun selain belas kasih Allah dalam darah Kristus yang mengalir pada salib kasar itu.

Yesus Kristus Tuhan kita bukan sekadar penyembuh kusta, kanker, buta, lumpuh, AIDS, dan berbagai penyakit fisik mengerikan lainnya. Dia adalah penyembuh dari penyakit yang jauh lebih mengerikan daripada itu, penyakit yang telah membuat perselisihan antara ibu dan anak, pertikaian antar suku, peperangan antar bangsa, penyakit yang menghancurkan relasi antara Allah dengan manusia, yaitu dosa.

Ketika Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit fisik, Dia berfirman, tetapi untuk menyembuhkan orang dari dosa, Dia berkorban. Dia tergantung di salib dengan kesakitan dan menanggung malu sampai mati-Nya bukan hanya untuk menyembuhkan “kustamu dan kustaku yang bisa Dia selesaikan dengan berfirman. Dia terpaku di sana dan disiksa bagaikan seorang perampok untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.

Apabila seseorang bisa sembuh dari penyakit fisiknya tetapi malah tidak sembuh dari penyakit yang mendatangkan kebinasaan roh, itu adalah sukacita semu. Ketika seseorang mungkin saja tidak sembuh dari penyakit fisiknya tetapi telah sembuh dari penyakit dosanya dan terus memuliakan Allah, itulah sukacita sejati. Jika Allah menyembuhkan penyakit di tubuh kita, entah itu melalui pengobatan, terapi, atau mukjizat, maka terpujilah Dia. Tetapi, jika Dia tidak menyembuhkan sakit fisikmu, Dia pasti menemanimu. Teruslah memuji Dia, karena jaminan keselamatan yang Dia tawarkan adalah sesuatu hal yang jauh lebih berharga.

Aku tahu mengatakan ini terasa mudah dibandingkan mengalaminya, tetapi jika saat ini kamu sedang terbaring sakit di rumah sakit, atau sedang merasa tak berdaya, muliakanlah Allah. Jika Allah menyembuhkanmu, muliakanlah Dia. Jika tidak, terpujilah Dia. Jika seseorang yang kamu kasihi menderita penyakit yang pada akhirnya akan atau telah merenggut nyawanya, ingatlah Tuhan kita, Yesus Kristus di atas salib itu.

Percayalah kepada-Nya yang telah berkata, “imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Keterbatasan Bukan Halangan Untuk Menerima Panggilan-Nya

Oleh Jlo (Jessica Lowell), Tangerang

Apa yang kalian pikirkan mengenai keterbatasan?

Banyak orang memiliki pemikiran bahwa keterbatasan adalah orang yang cacat atau tidak lengkap tubuhnya (istilah bahasa Inggrisnya disable). Sedangkan dalam KBBI, keterbatasan berarti keadaan terbatas. Pemikiran awal di atas tidak ada salahnya, namun keterbatasan itu tidak hanya cacat fisik. Ada orang yang memiliki anggota tubuh lengkap, tapi ternyata memiliki keterbatasan dalam hal lain. Salah satunya seperti aku.

Aku memiliki anggota tubuh lengkap, tetapi memiliki keterbatasan yang tidak banyak orang tahu, yaitu disleksia. Disleksia adalah gangguan saraf di bagian batang otak.yang berfungsi memproses bahasa. Waktu kecil, aku mengalami kelambatan bicara yang disebut speak delay, dan ketika mulai menginjak sekolah dasar, bicaraku masih belum jelas, sehingga aku di-bully oleh orang-orang sekitarku.

Aku tidak akan menceritakan mengenai bullying. Aku akan menceritakan bagaimana aku yakin dan percaya bahwa keterbatasanku bukan halangan untuk menerima panggilan Tuhan.

Aku dilahirkan dalam keluarga Kristen. Tiap minggu, aku diajak untuk sekolah minggu. Ketika kelas 6 SD, aku mengikuti retret dan memberi diri untuk mengikut Yesus.

Kemudian memasuki fase remaja, aku belum menemukan hal yang membuatku tertarik. Aku sering ditanya, apa cita-citaku kelak, dan aku selalu menjawab mau menjadi hamba Tuhan. Aku mau membuktikan bahwa keterbatasanku (disleksia) bukan halangan bagi kita untuk melayani Tuhan. Aku pun mengambil pelayanan di sekolah Minggu dengan menjadi asisten guru. Salah satu alasan aku melayani di sekolah Minggu karena aku menyukai anak-anak.

Aku tahu, disleksia yang kualami tentu akan mempengaruhi tiap kegiatanku, di mana pun itu. Misalnya semasa kuliah, ketika ada kerja kelompok dan aku ditanya teman-teman, aku sulit mengutarakan pendapat (kata-kata), sehingga aku memilih diam saja. Begitupun dalam pelayanan yang k ambil, walaupun hanya terkadang. Karena saat ini aku hanya membantu dan lebih banyak bertugas dalam bidang multimedia. Namun tetap saja, aku harus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan teman sepelayananku. Dan aku memilih untuk tidak menyerah dalam melayani, walaupun disleksia mempengaruhi pelayananku.

Kita tahu bahwa dalam Alkitab, banyak sekali tokoh yang memiliki keterbatasan, namun dipakai oleh Tuhan. Salah satunya Musa yang tidak fasih berbicara. Tuhan memilih Musa untuk melakukan suatu pekerjaan besar, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi Musa menolak panggilan Tuhan berkali-kali. Salah satu alasannya menolak karena mempermasalahkan kemampuan bicaranya yang buruk.

“Lalu kata Musa kepada TUHAN: ”Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Keluaran 4:10).

Tuhan sabar menghadapi Musa dan penolakannya. Dia pun berjanji menyertai lidah Musa dan mengajarinya apa yang harus dikatakan (Keluaran 4:12), hingga akhirnya Musa menerima panggilan tersebut. Dan Tuhan memegang janji-Nya. Dia senantiasa menyertai Musa dalam segala hal dan pergumulannya, hingga akhirnya bangsa Israel bebas dari Mesir.

Hal ini mengingatkanku pada kitab 2 Korintus 12 ayat 9 :

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Dalam kelemahankulah kuasa Tuhan menjadi sempurna

Tuhan tentu bisa menghapus kelemahan kita, karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Tapi justru dalam kelemahanlah, Tuhan mau kita bergantung pada kuasa-Nya.

Bisa dibilang, kesediaan aku melayani Tuhan mirip dengan satu nabi di Alkitab yang bernama Yesaya. Saat Nabi Yesaya ditanya oleh Tuhan, ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Setiap kali aku ikut KKR dan retret, aku ditantang oleh pembicara, siapa yang mau menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu untuk menjadi pengajar. Hatiku selalu gemetar, tapi aku memilih melangkah maju sebab aku rindu dapat melayani Tuhan pada bidang itu.

Tuhan bisa memakai siapa saja yang dia mau untuk menjadi pelayan-Nya, baik laki laki atau perempuan, baik tua atau muda. Tuhan juga tidak melihat masa lalu. Ia pun tidak melihat dari ketidaksempurnaan, karena kita semua adalah manusia yang tidak sempurna. Tetapi, yang Tuhan lihat adalah hati yang mau melayani Dia dengan sungguh-sungguh.

Aku mau mengajak kita semua untuk tidak berkecil hati dan tidak takut menerima panggilan Tuhan. Kita pasti memiliki kelemahan yang berbeda-beda, entah terlihat atau tidak. Tapi ingatlah, dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna.

Jika kita Dia pilih untuk menjadi pelayan-Nya, Dia pasti akan memampukan kita dan menyertai kita untuk melakukan pekerjaan baik.

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Sebagai penutup, aku mau memberikan satu ayat Alkitab yang bisa menjadi penguat bagi kita semua dalam melayani.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

20 Tahun Menanti Jawaban Doa

Oleh Raganata Bramantyo

Saat aku masih berusia 9 tahunan, guru-guru sekolah Minggu di gerejaku selalu menasihatiku begini, “Doain papah terus ya, jangan nyerah.”

Di usiaku yang masih kecil dengan pikiran yang belum terbuka, aku menganggap sumber permasalahan dan keributan dalam keluargaku adalah sosok papaku. Setiap hari dia kerjanya marah-marah, memukuli mamaku, mengumpat kasar, berjudi, juga selingkuh dengan wanita lain. Saking seringnya aku melihat keburukan, aku hampir tak bisa melihat sisi baiknya, padahal ada momen-momen ketika papaku bersikap begitu manis dan baik.

Nasihat untuk mendoakan papa tak pernah kubantah. Setiap hari, sejak ingatanku mulai tumbuh aku selalu berdoa untuknya. Tapi, aku sendiri tak terlalu paham detail doanya. Perubahan seperti apa yang aku dambakan pada papa? Aku cuma ingin papaku seperti papa-papa lainnya, sosok papa yang tak cuma memberi nafkah keluarga, tapi juga memberi curahan kasih sayang dan bersikap lemah lembut.

Tahun demi tahun, aku beranjak menjadi remaja hingga dewasa dan mapan bekerja, tetapi perubahan yang kudambakan itu malah semakin jauh terwujud. Di tahun 2014 papaku akhirnya menikahi wanita lain dan merahasiakannya dariku, juga dari mamaku yang relasi dengannya sudah amat renggang tapi tak pernah secara resmi bercerai.

Memberi apa yang tak dimiliki

Kekalutan keluarga itu mendorongku untuk pergi menjauh. Selepas SMA, aku pergi merantau ke kota lain, tetapi di antara jarak jauh yang membentang itu Tuhan perlahan menumbuhkan benih-benih rekonsiliasi.

Aku masih tetap berdoa untuk papaku, memohon hal yang sama agar dia berubah, hingga suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi ke sebuah pulau kecil di Sumatra, tempat kelahiran papaku. Di sana, aku mengobrol dengan banyak kerabat dan mendapati cerita akan kelamnya masa lalu papaku. Cerita-cerita itu menohokku. Jika papaku sejak lahir berjibaku dengan kerasnya hidup, tak mengenal kasih Tuhan, dan tak pernah menerima kasih sayang berupa kata-kata manis dan sentuhan lembut, bagaimana dia dapat memberikannya buatku? Toh kita tak mungkin memberikan sesuatu yang tak kita punya.

Sejak saat itu, tumbuhlah sebuah pemahaman baru dalam hatiku akan papaku. Aku mengubah isi doaku. Bukan lagi meminta agar Tuhan mengubah papaku, tetapi aku memohon agar Tuhan mengubah hatiku untuk bisa memahami dan menerima perangai serta pribadi papaku. Doa itu kulanjutkan dengan tindakan meminta maaf. Melalui pesan SMS, aku tanya apa kabarnya dan kumintakan maaf. Pesan itu tak dijawab hangat. Mungkin dia gengsi. Tetapi, setahun dan dua tahun setelahnya, relasi antara ayah dan anak yang semula amat dingin dan kaku perlahan berubah. Setelah aku lulus dan kerja, aku sering pulang. Dalam setiap pulangku, papaku berkenan menjemputku dan setiap pertemuan jadi terasa akrab meskipun aku sendiri tak banyak tahu tentang kehidupan papaku sebenarnya, tentang di mana rumah barunya, siapa gerangan istri keduanya, bagaimana usaha dia, dan sebagainya. Yang kutahu dari cerita yang disampaikannya dengan singkat dan tertutup adalah dia mencoba membangun kehidupannya dengan iman dan lingkungan yang baru, bukan lagi iman Kristen. Aku mencoba menghormati keputusannya dengan tidak banyak melakukan interogasi.

Keakraban di ujung nafas

Meskipun aku merasa sudah cukup dekat dengan papaku, tetapi hatiku tetap merasa tidak puas. Dalam doaku kutambah lagi permohonan agar aku bisa mengenalnya lebih erat dan membawa papaku kembali pada Kristus.

Pada akhir Maret 2022, jantungku serasa berhenti ketika aku mendapat kabar bahwa papaku mengalami kecelakaan. Dia jatuh ke sungai saat berjalan kaki. Bonggol sendi antara paha dan panggulnya patah, namun di awal-awal kejadian dia menolak untuk dioperasi. Setelah dibiarkan tanpa pengobatan medis selama enam hari, kondisi fisik papaku semakin menurun hingga dia pun nyaris kehilangan kesadaran dan masuk ICU.

Mendapati kabar tragedi ini aku segera pulang menuju kota kelahiranku tengah malam. Saat paginya aku tiba di rumah sakit, betapa kaget aku melihat sosok wanita lain yang menjadi ibu tiriku. Mengetahui kalau aku pulang dan menunggui di rumah sakit, mama kandungku menentangku. Pikirnya, biarlah papaku dan keluarga barunya yang mengurusi semuanya, jangan aku.

“Mah, aku paham maksud hati mama bahwa mama tidak ingin aku direpotkan… tapi, aku mau merawat papaku. Bagiku gak ada istilah mantan anak dan bapak,” kutenangkan mamaku dengan argumen itu. Lalu tambahku, “Lagian, mama juga pasti pengen kan kalau papa bisa kenal Tuhan Yesus lagi? Kalau iya, siapa dong yang bisa kenalin Yesus ke papa kalau bukan aku, anaknya?”

Tiga hari pasca dirawat di ICU, papaku berhasil melewati masa kritisnya. Jam satu dini hari, bersama seorang suster kudorong ranjangnya menuju bangsal perawatan biasa. Lega hatiku, karena maut tak jadi menjemput. Hari-hari setelahnya operasi dilakukan dan keadaan papaku pun semakin baik. Selama dua belas hari di RS, aku benar-benar mengalami keakraban antara ayah dan anak yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku menyanyi bersamanya, mendoakannya, menyuapinya, bercanda, hingga membersihkan kotorannya.

Di malam kesekian, saat kesadaran papaku sedang prima, kutanya begini: “Pah, papa percaya gak kalau Tuhan Yesus menuntun dan memberkati langkah kita?”

“Iya, nak, papa percaya semua ini karena Tuhan baik,” jawabnya sambil memegang pundakku.

“Papa mau gak kembali lagi beriman sama Tuhan Yesus?”

Tak kuduga, jawaban papaku penuh semangat. “Iya! Papa mau beriman serius sama Yesus.”

Malam itu, kutuntun papaku dalam doa untuk mendeklarasikan iman percayanya. Papaku pun bernazar bahwa setelah sembuh dia akan menanggalkan cara hidupnya yang lama dan hidup serius bagi Tuhan.

Sukacitaku membuncah. Di hari ke-12, papaku akhirnya diperbolehkan pulang dan aku pun kembali ke kota perantauanku. Namun, sukacita itu tak berlangsung lama. Tak sampai 12 jam, papaku kembali masuk rumah sakit dengan kendala sulit buang air dan sesak nafas. Awalnya kupikir tidak ada yang serius, tetapi kenyataan berkata lain. Aku kembali pulang dan menemaninya di rumah sakit, sementara keadaannya semakin memburuk.

Hari ke-13 dan seterusnya, terjadi pendarahan hebat yang sungguh menyiksa papaku. Dalam sehari, puluhan kali darah segar mengalir dari anusnya. Dokter mendiagnosis ini sebagai kanker pada usus, namun betapa leganya kami setelah dilakukan endoskopi ternyata tak ditemukan adanya kanker.

“Ini mah disentri aja karena ususnya lecet,” ucapan dokter ini melegakanku.

Antibiotik diberikan dan selang tiga hari tak ada lagi pendarahan. Tapi… di hari ke 27 perawatan papaku di RS, pendarahan yang sempat terhenti itu terjadi lagi, malah lebih masif. Darah encer dan segar tak bisa berhenti mengalir. Sambil terisak, aku berlari ke ruangan suster dan meminta pertolongan segera. Dokter jaga melarikan papaku ke ICU dan sebelum ranjangnya dipindah, dia merintih kesakitan.

“Saya gak kuat lagi, gak kuat lagi…” ucapan ini menggetarkan hatiku. Papaku berulang kali menegaskan bahwa penyakit yang tak jelas ini begitu berat untuk ditanggungnya. Maka, meskipun aku sangat ingin melanjutkan kisah kasihku bersamanya, aku belajar untuk menerima kemungkinan melepasnya.

“Pah, jika memang sakit ini terlalu berat untuk dilalui dan papa mau berpulang, aku menerima keputusan ini. Di dalam Kristus, papa telah diampuni dan beroleh keselamatan sejati,” kubisikkan ucapan ini di telinga papaku sesaat sebelum dia koma.

Dua puluh empat jam kemudian menjadi pertarungan antara hidup dan mati. Setelah papaku dimasukkan ke ICU, kesadarannya hilang total. Di dalam tenggorokannya tertanam ventilator. Di lehernya tertusuk jarum infus. Kedua tangannya diikat. Yang bisa kulihat hanyalah denyut jantungnya pada monitor. Operasi pun dilakukan. Hasilnya sudah bisa ditebak: papaku tak mampu diselamatkan. Pada ususnya terjadi autoimun yang mengakibatkan seluruh dinding usus hancur, tak lagi bisa diselamatkan. Jikalaupun ada mukjizat untuk hidup, akan sangat sulit bagi papaku hidup tanpa usus besar.

Aku, jam tiga pagi, sendirian di ruangan ICU menerima kabar itu dengan kaki bergetar. Air mataku berderai. “Tuhan, mengapa secepat ini Engkau panggil papaku? Tidakkah aku diberikan kesempatan untuk mengasihinya lebih lagi di usianya yang enam dekade pun belum?”

Isakanku tak berjawab. Ia memantul di antara dinding-dinding rumah sakit yang dingin. Jelang sore hari, akhirnya nafas papaku pun terhenti sepenuhnya, dengan aku terduduk sayu di sampingnya, memegangi tangannya sembari mulutku tak henti-hentinya menyanyikan ratusan kidung pujian.

Sedih dan hancur hatiku. Aku bingung memaknai cara kerja Tuhan, tetapi ketika kantung air mataku mulai mengering, kurasakan ketenangan di jiwaku. Betapa 29 hari di rumah sakit ini Tuhan menjawab penantian doaku selama 20 tahun. Aku ingin keakraban, diberinya lebih dari sekadar akrab. Diberi-Nya rahmat yang tak berkesudahan, yang mengikat aku dan papaku dengan ikatan kasih yang tak terputuskan—kasih dari Kristus, Sang Ilahi yang telah mati bagi setiap orang berdosa. Sepanjang hari-hari ke belakang, terkhusus selama masa perawatan papaku, Tuhan telah menunjukkan jejak kasih-Nya, sekalipun itu tak menjawab keinginanku tetapi selalu mencukupi kebutuhanku.

Jika akhirnya papaku berpulang dalam keadaan telah memegang teguh imannya pada Kristus, bukankah itu sebuah kemenangan? Jika aku sebagai anak bisa mendapat kesempatan untuk senantiasa hadir di sisinya sampai ujung nafasnya, bukankah itu sebuah momen yang terlampau mahal? Jika segala kebutuhan finansial yang jumlahnya luar biasa besar ini bisa tercukupi dengan uluran tangan dari banyak sekali orang, bukankah itu bukti bahwa aku tidak sendirian?

Di hadapan peti jenazah papaku, kumenangis keras. Bukan sebagai tangisan kecewa, tetapi tangisan syukur betapa Tuhan menjawab doaku dan memulihkan papaku dengan pemulihan yang sejati.

Meskipun jawaban doa itu tidak terwujud pada tempat yang kudambakan, tetapi atas kasih setia dan rahmat-Nya, diberikan-Nya sesuatu yang jauh lebih baik dari harapanku. Jika aku sebagai manusia mendambakan perubah sikap, Tuhan Sang Ilahi dalam kedaulatan-Nya tak hanya mengubahkan sikap papaku menjadi lembut, tetapi juga meneguhkan jiwa dan rohnya untuk beroleh keselamatan kekal, tinggal damai bahagia dalam rumah Bapa Surgawi, pada sebuah tempat dan keadaan yang penuh damai sejahtera di mana tak akan ada lagi kesakitan, ratap, dan kertak gigi (Wahyu 21:4).

Hari ini, papaku telah menang atas segala sakit dan deritanya.

Cara Tuhan mengubah pandanganku adalah salah satu cara-Nya juga mengasihiku.

Terpujilah Tuhan, kini dan sepanjang segala masa.

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Tuli di Usia Muda, Namun Kasih Tuhan Tak Pernah Absen Kudengar

Oleh Jireh
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 纵然失去听力,我却听见上帝的恩典和爱

Ketika usiaku memasuki 24 tahun, kemampuan pendengaranku semakin berkurang. Kusampaikan keluhan ini ke keluargaku. Ketika seseorang bicara, aku cuma bisa mendengar dua atau tiga kata saja dalam satu kalimat. Diagnosis dokter bilang aku mengalami gangguan pendengaran sensorineural. Otakku kesulitan meraih sinyal suara sehingga aku tidak bisa mendengar orang berbicara.

Dokter menyarankanku memakai alat bantu dengar, meskipun mereka tahu kalau kelak aku akan mengalami tuli total karena belum ada obat atas penyakit ini.

Selama sebulan aku sangat sedih dan takut. Aku berpikir: Aku masih muda. Masih banyak yang aku mau lakukan dan belum terlaksana. Dan sekarang aku malah tuli? Bagaimana hidupku selanjutnya? Bagaimana pekerjaanku? Bagaimana aku bisa berkomunikasi? Aku bekerja sebagai sales. Tidak bisa mendengar dan berkomunikasi mustahil untuk bidang pekerjaan ini, dan aku harus mengubah taktik penjualanku menjadi online.

Kehilangan pendengaran ini juga semakin menambah rasa insecure yang kupunya sejak kecil. Aku sangat introver dan minder. Orang tuaku sering bertengkar dan membuatku berpikir dalam diri “Buat apa aku lahir?” Ketika orang tuaku akhirnya bercerai, aku dipaksa untuk meninggalkan lingkungan masa kecilku, yang akhirnya mempengaruhi hidupku secara keseluruhan.

Namun, tahun ketika aku kehilangan pendengaranku adalah tahun ketika aku juga percaya Yesus. Aku pernah baca Alkitab sebelumnya, tapi barulah saat kubaca Amsal aku mengetahui dan percaya Allah. Lalu, aku mulai pergi ke gereja.

Setiap kali aku merasa tak berdaya, firman Tuhan bergema di telingaku, memberikan penghiburan dan menopang rohku yang lemah:

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6).

Belas kasih dan kekuatan dari Allah besertaku dan menguatkanku sampai hari ini. Aku percaya Dia akan terus memelihara, menolong, dan menjagaku sampai aku berjumpa dengan-Nya. Harapan inilah yang mencukupkanku dan memberiku jaminan bahwa segala sesuatu terjadi seturut kehendak dan rencana Allah.

Dari kehilangan aku meraih

Aku menyerahkan sakitku kepada Tuhan. Kupercaya Tuhan Mahakuasa. Dia bekerja dalam segala sesuatu dan Dia tahu lebih banyak daripada yang kutahu akan apa yang harus terjadi dalam hidupku.

Pencapaian terbesar yang kuraih dari kehilangan pendengaranku adalah aku perlahan belajar untuk menikmati damai dan keheningan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku mulai menjauhkanku dari kebiasaan lamaku yang selalu sibuk dan rusuh mengerjakan satu hal ke hal lainnya.

Pertemananku juga mulai menyusut. Ada teman-temanku yang tak lagi mengobrol denganku karena mereka tak bisa sabar untuk berkomunikasi denganku dengan cara yang baru.

Dari semua ini, aku belajar bagaimana rasanya menjadi temannya Tuhan, berjalan erat bersama-Nya. Kulepaskan alat bantu dengarku, kututup pintu dan mataku, kubuka Alkitabku dan merenungkan sabda-Nya. Aku pun berdoa dan selalu mendekat pada-Nya setiap waktu.

Namun, ada pula kawan baru yang Tuhan berikan. Aku bertemu dengan teman-teman tuli dan semakin mengerti luka hati yang mereka alami. Mereka sering dipandang sebelah mata, ditolak, disalah mengerti, serta dihinggapi perasaan tak berdaya.

Dengan perspektif yang baru, kekurangan fisikku menjadi berkat yang indah. Meskipun raga manusia semakin lemah seiring waktu, roh selalu dibaharui hari demi hari (2 Korintus 4:16).

Aku tak lagi mengasihani diriku sendiri dan tak perlu lagi menyembunyikan kekurangan fisikku. Sekarang aku akan menyapa duluan orang yang kutemui. Meskipun pendengaranku telah hilang, aku semakin membuka diriku dan lebih siap untuk menghadapi dan menerima kehidupanku.

Mukjizat pemulihan

Jika bukan karena Yesus, kasih Bapa, dan sabda-Nya yang menghidupkan, kondisi fisikku hanya akan membuatku jatuh makin dalam ke jurang mengasihani diri. Aku akan lebih takut dan depresi. Namun, syukur kepada Allah yang menjauhkanku dari segala hal buruk tersebut, dan sungguhlah seala kemuliaan hanya bagi Dia.

Lima tahun setelah diagnosis itu, aku tiba-tiba meraih 90% pendengaranku hanya dalam dua minggu. Sensor-sensor di otakku mengalami perbaikan, meskipun tidak bisa sempurna. Tetapi, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, ada perbaikan signifikan dalam pendengaranku–dari tak bisa mendengar sama sekali hingga bisa mendengar beberapa suara.

Bagiku, Tuhan memberiku mukjizat untukku pulih. Aku tak melakukan pengobatan atau terapi karena dokter bilang tak ada cara untuk sembuh. Bahkan seorang ahli yang kukenal pun bilang kalau kasusku sulit dijelaskan. Namun seperti yang Alkitab katakan, “Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua” (Kisah Para Rasul 3:16).

Segala kemuliaan bagi Allah.

Tuhan Buka Jalan, di Saat Tiada Jalan

Oleh Angel Latuheru, Ambon

Penderitaan menyadarkan manusia bahwa dirinya rapuh, oleh karena itu kita membutuhkan kehadiran sosok Ilahi. Ada suatu momen penderitaan yang mengubah caraku memaknai imanku. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2019.

Di awal tahun itu, aku sedang menyelesaikan studi S-2 di universitas swasta di Jawa Tengah. Kampus mewajibkanku melunasi pembayaran uang kuliah paling lambat tanggal 7 Januari 2019. Namun, tak disangka-sangka, cobaan datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Tepat di tanggal 1 Januari 2019, ibuku dilarikan ke rumah sakit di tengah kondisi finansial keluarga yang sedang kacau balau. Untuk memenuhi kebutuhan bulanan saja sudah sulit, sekarang ditambah harus masuk rumah sakit.

Ibuku didiagnosis menderita pneumonia yang mengakibatkan batuk dan sesak napas. Setelah serangkaian pemeriksaan, paru-paru beliau harus segera ditangani menggunakan metode Thoracentesis, yakni penyedotan cairan yang menumpuk di dalam rongga pleura paru-paru.

Beberapa orang anggota keluarga mulai meneleponku. Mereka mengabari kondisi kesehatan ibu, sesekali juga menekankan bahwa biaya rumah sakit terlalu besar, sehingga aku harus mengambil cuti kuliah. Aku tahu betul bahwa tabungan orang tuaku telah terkuras habis. Semenjak ayah pensiun, uang tabungan banyak terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anak. Kalau saja orang tuaku memiliki tabungan saat itu, tentunya aku lebih memilih uang tersebut dipakai untuk kebutuhan berobat ibu dibandingkan kebutuhan kuliahku. Jika kuliah terhenti masih boleh dilanjutkan, tetapi kondisi kesehatan yang memburuk dapat berakhir kehilangan nyawa. “Pasrah” ialah satu-satunya kata yang terlintas dibenak saat itu.

“Jika Tuhan sudah menempatkanku di garis start, maka Tuhan pasti akan menyertai hingga titik finish,” gumamku di dalam hati.

Aku mengimani apa yang Paulus tuliskan dalam 1 Korintus 15:58: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Semua jerih lelah tidak akan luput dari pandangan Tuhan. Mungkin perjalanan hidup mempertemukanku dengan awan hitam, bahkan badai, tetapi aku beriman pada waktu-Nya badai akan berlalu dan awan hitam akan digantikan pelangi di langit yang cerah.

Hari-hari terasa sulit dijalani ketika mengetahui kondisi ibu yang sakit dan aku harus memahami bahwa kuliahku akan terhenti pada semester akhir. Padahal jika aku mengambil cuti kuliah, maka kedepannya orang tuaku harus mengeluarkan biaya kuliah yang lebih besar agar aku dapat menyelesaikan studi S-2.

Dalam kondisi yang sedang merenung di kamar kos berukuran 3×3, tiba-tiba saja aku menerima telepon dari ibuku, yang kuberi nama kontak sebagai “Ibu Negara”. Beliau berkata:

“Nona, kuliahnya bagaimana? Kapan harus bayar uang kuliah?”

“Sudah harus dibayar Ma, terakhir tanggal 7, tapi nanti kakak ambil cuti kuliah aja. Kan mama lagi sakit pasti butuh biaya yang banyak.”

Mendengar jawabanku, beliau terdiam sejenak dan berkata:

“Nona tidak boleh berhenti kuliah. Pokoknya mama akan usahakan untuk mengirim uang kuliah sebelum tanggal 7.”

Ketika beliau berkata seperti itu, terdengar suara lantang di sebelahnya berkata; “Dari mana mau dapat uang buat bayar kuliah, mau nyuri? Buat berobat aja ini kita ngga punya uang. Jangan maksain keadaan!”

Mendengar kalimat tersebut ibuku hanya terdiam. Setelah pembicaraan berakhir, tangisku tidak bisa lagi dibendung. Aku tidak dapat menyangka, ibuku tetap mengkhawatirkan pendidikan anaknya dibandingkan kondisi kesehatannya sendiri. Ibuku melakukan hal yang bertolak belakang dengan banyak orang saat itu. Ketika mayoritas anggota keluarga menghantarku ke tepian untuk mengorbankan pendidikanku, ibuku dalam sakit yang dideritanya tetap mempercayai bahwa Tuhan akan membantu tepat pada waktu-Nya dan aku tetap harus melanjutkan studiku.

Saat itu pelarianku hanyalah doa, dengan percaya bahwa “God’s plan is always the best plan”. Terpatri benar di dalam ingatan saat itu, firman yang kubaca sebelum berdoa ialah Yesaya 55: 6-13, di kemudian hari ayat ini sering aku pakai ketika melakukan pelayanan. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8) Dari ayat inilah keyakinan, kepercayaan, dan pengharapan itu kembali datang. Aku mulai mengerti bahwa seberat apapun penderitaan hidup yang sedang dialami, aku harus tetap setia untuk mempercayakan hidup ini kepada Tuhan.

Tanggal 5 Januari 2019, pukul 08.00 WIB aku berencana untuk pergi ke kampus menanyakan persyaratan untuk mengurus cuti kuliah. Aku bergegas pagi-pagi karena pada hari Sabtu kantor administrasi kampus hanya buka hingga pukul 12.00 WIB. Saat hendak berangkat sekitar jam 07.30 WIB yang artinya waktu Indonesia timur menunjukkan pukul 09.30 ibu meneleponku untuk memberitahukan bahwa beliau akan segera menjalani prosedur medis dan uang kuliahku sudah ditransfer. Ternyata seorang saudara dekat membantu secara diam-diam. Tanpa pikir panjang “orang baik” tersebut bersedia membantu menanggung biaya rumah sakit dan biaya kuliahku. Beliau membantu tanpa membicarakan kepada seorangpun tentang apa yang telah beliau lakukan.

Tiba-tiba saja dalam kesulitan yang sedang keluargaku hadapi, dan saat aku berpikir tidak ada lagi kemungkinan untuk mengikuti semester akhir, Tuhan menunjukkan kuasa tepat pada waktu-Nya. Iman ibuku menyelamatkannya dan masa depanku. Iman ibuku menyadarkan aku bahwa seberat apapun cobaan hidup yang dihadapi, pengharapan kepada Tuhan tidak boleh sirna.

Hampir tidak ada sepatah katapun yang dapat keluar dari mulutku, karena rasa syukur atas kebaikan Tuhan. Sedari saat itu hingga tahun 2022 ini, aku dan keluarga selalu mengingat bahwa kami pernah melalui awal tahun yang berat bersama Tuhan. Awal tahun yang memberi kami kekuatan iman untuk menghadapi penderitaan lainnya di kemudian hari.

Ada Pelangi di Balik Sakit Langka yang Kualami

Oleh Monica Horezki, Jakarta

Namaku Monica Horezki Vivacioingriani. Kesan apakah yang kamu dapat ketika mendengar namaku?

Beberapa orang menganggap namaku panjang dan unik. Nama itu diberikan oleh orangtuaku dengan maksud yang baik. Kata ‘Horezki’ merupakan gabungan dari dua kata baik: hoki dan rezeki.

Namun, meskipun ada makna rezeki dalam namaku, nyatanya kehidupan tak selalu penuh rezeki. Pada usia 20 tahun, aku divonis mengidap penyakit yang namanya cukup langka didengar di Indonesia. Penyakit ini disebut Dandy Walker Syndrome yang mengakibatkan aku kehilangan keseimbangan tubuh karena otak kecilku tidak bertumbuh secara sempurna. Sindrom ini ditemukan oleh seorang dokter saraf bernama Walter Dandy di Amerika Serikat pada tahun 1914.

Kehilangan keseimbangan tubuh menyulitkanku dalam banyak hal. Misalnya, jika aku memegang segelas susu, pasti akan banyak yang tumpah. Sama halnya dengan saat aku berjalan atau menulis dengan tangan. Aku pernah dicegat di bandara karena cara jalanku yang sempoyongan dan gampang menabrak. Petugas bandara mengira aku sedang mabuk. Tulisan tanganku juga sering dikritik karena berantakan dan jelek seperti cakar T-Rex.

Aku sempat berkecil hati.

Hadirnya penyakit ini menimbulkan tantangan. Ada orang-orang yang kemudian menganggapku sebagai beban ketika mereka tahu kalau secara medis, sindrom dandy walker tidak bisa diobati dan hanya bisa dikurangi dengan terapi rutin seperti duduk di atas bola yoga yang setiap hari aku lakukan.

Kini, aku sedang kuliah di semester 5. Cerita tentang diri dan kondisiku tidak serta merta diterima oleh semua temanku. Yah, mau bagaimana lagi? Aku harus ditemani Mami kemanapun aku pergi, termasuk untuk nongkrong. Aku juga dianggap menjadi “anak emas” dosen karena diberi izin untuk menggunakan laptop ketika ujian. Mungkin teman-temanku mengira aku berbuat curang dengan membuka internet di laptop untuk mencari jawaban.Padahal, tanpa sepengetahuan mereka, aku harus memohon izin ke dosen untuk diperbolehkan mengikuti perkuliahan.

Terkadang hal-hal ini membuatku sedih dan frustasi. Aku merasa kalau dunia tidak adil dan tidak ada lagi pengharapan untukku. Sudah tak terhitung jumlah orang yang menganggap rendah dan yang skeptis terhadap masa depanku—bahkan ada pula yang menghakimi orang tuaku. Sebagai orang yang memiliki hobi menulis, aku pun mencurahkan perasaanku ke dalam tulisan.

Aku terus mengetik dan menuangkan isi hatiku selama bertahun-tahun hingga suatu saat, secercah pikiran muncul di benakku: bagaimana aku bisa menjadi berkat bagi orang lain melalui hidupku?

Ingin rasanya aku membagikan cerita dan pergumulanku bersama Tuhan sebagai pengidap sindrom ini dengan menerbitkan buku. Namun, keraguan dan rasa takut kerap kali datang menghampiri: Apakah aku mampu? Apakah tulisanku layak? Apakah ceritaku bisa menyentuh hati banyak orang dan menjadi berkat?

Pertanyaan-pertanyaan ini sempat mengurungkan niatku untuk mencoba menerbitkannya. Perasaan takut mendapat penolakan juga membuat diriku galau untuk akhirnya melangkah. Tetapi, perintah Tuhan untuk bersaksi mendorongku datang kepada-Nya dan meminta keberanian.

Puji Tuhan, berkat pertolongan Tuhan dan dukungan dari kedua orang tua yang menguatkanku, ada satu penerbit yang menerima tulisanku dan bersedia menerbitkannya.

Hari itu, dengan penuh semangat kudatang ke kantor penerbit itu untuk berdiskusi. Aku memberikan judul “Menjalani Apa yang Tidak Dijalani” untuk bukuku. Aku sadar, di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, tidak semua orang dapat merasakan dan menyaksikan kasih, kebaikan, dan pertolongan Tuhan dalam hidupnya. Aku, yang melalui sakitku diizinkan menjadi saksi atas kebaikan Tuhan merasa perlu untuk membagikan kembali kisah kasih itu kepada orang lain.

Hadirnya penyakit langka dalam hidupku mungkin dapat menjadi badai yang menenggelamkanku, tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Badai yang kualami mampu ditenangkan-Nya hingga aku pun melihat pelangi kasih-Nya.

Banyak orang skeptis akan masa depanku dan menghakimi orang tuaku karena keadaanku. Dari situ aku melihat bahwa mencintai orang yang ‘spesial’ tidaklah mudah, tetapi Tuhan mengaruniakan kepercayaan pada kedua orang tuaku untuk tetap mencintaiku sepenuh hati. Tanpa kehadiran orang tuaku yang tangguh, kurasa aku hanya akan hidup menjadi pribadi yang sia-sia, yang tak akan mampu bersaksi di sini di hadapan sahabat-sahabat seimanku.

Aku selalu ingin jadi pribadi yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, menghasilkan karya yang bermakna dan menjadi berkat bagi banyak orang sesuatu apa yang firman Tuhan perintahkan agar kita terus bersaksi sampai hari Tuhan datang.

Hanya Tuhan yang mampu mengubah ratapan menjadi tarian. Kiranya apa yang kusaksikan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menghadapi jalan hidup berliku dan penuh tantangan.

Kuucapkan terima kasih kepada kamu yang telah membaca kesaksianku, dan sekali lagi ingin kuberkata bahwa hanya Tuhan sajalah yang tetap setia dan mendukung kita walau dunia menolak kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Tawar Hati

Oleh Alvin Nursalim

Menjalani kehidupan pasti akan menghadapi penderitaan. Dalam profesiku sebagai dokter, rasa sakit, tangis, dan kesedihan adalah kawan yang menjadi keseharianku.

Pastinya teman-teman setuju bahwa rumah sakit bukanlah tempat berlibur. Di sini setiap pasien datang berobat dan berharap sembuh. Aku ingat ketika aku masih menempuh studi kedokteran dulu, biasanya aku akan sampai di rumah sakit sekitar jam 05:30 pagi. Aku dan rekan-rekan tim medis lainnya datang lebih pagi karena jumlah pasien yang menjadi tanggung jawab residen (dokter yang sedang mengambil program pendidikan spesialis) memang cukup banyak jumlahnya.

Para pasien bahkan datang lebih subuh dari kami. Mereka datang lebih awal untuk mengambil nomor pendaftaran. Rumah sakit tempat kami melayani adalah rumah sakit rujukan. Alhasil, pasien datang dari berbagai daerah dan pelosok negeri. Ada pasien-pasien yang masih anak kecil, masih tertidur di kursi roda mereka dan turut mengantre sedari subuh. Pecah tangis seringkali memenuhi ruangan karena kesakitan yang dialami oleh mereka.

Keadaan tersebut tidak berubah. Rumah sakit tetap penuh, malah mungkin lebih penuh karena pandemi Covid-19. Aku terpanggil untuk melayani pasien-pasien yang terinfeksi virus ini. Dewasa, anak kecil, wanita hamil, semua tidak luput dari virus. Rasa khawatir dan tangis dari pihak keluarga tidak asing bagi telingaku.

Menyaksikan penderitaan yang begitu nyata setiap hari seringkali membuatku termenung. Aku bertanya, “Bapa, mengapa ada penderitaan di dunia ini? Mengapa ada kemiskinan yang membuat banyak orang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan hariannya? Mengapa ada penyakit yang memberikan rasa sakit pada banyak orang?”

Pernahkah teman-teman juga bertanya-tanya seperti itu? Mencari tahu mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia di mana semua orang seang, berkecukupan, dan tiada penderitaan?

Apakah Tuhan memahami penderitaan manusia?

Pertanyaan itu membawaku untuk menggali lebih dalam tentang penderitaan manusia. Ketika mengalami penderitaan, kita sebagai manusia sering bertanya apakah Tuhan memahami penderitaan kita. Tetapi, kita lupa bahwa diri-Nyalah sejatinya yang paling memahami penderitaan.

Yesus mengakhiri pelayanan-Nya di bumi dengan dihina, dihukum, dan dipaku di kayu salib. Dia mengalami tak cuma penderitaan fisik, juga penderitaan mental di tangan tentara Romawi dan orang-orang yang mencaci-Nya. Dia ditinggalkan oleh teman-teman terdekat-Nya di saat Dia paling membutuhkannya. Penderitaan Yesus telah ternubuatkan dalam tulisan Yesaya, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).

Jika kita bergumul dan berdoa pada-Nya, kita sejatinya sedang menyampaikan pergumulan manusia kepada Tuhan yang sangat dekat dan memahami penderitaan. Dia bukan Tuhan yang jauh dan tidak dapat berempati atas penderitaan manusia. Kita datang kepada Tuhan yang benar-benar tahu dan peduli, Dia adalah Tuhan yang juga merasakan bagaimana berada di titik nadir.

Selanjutnya, Yesaya 53:4 menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

Penderitaan Yesus melampaui apa yang dapat kita bayangkan. Di kayu salib, semua kejahatan dunia diarahkan pada satu Sosok yang bersih dan murni, yaitu Sang Anak Allah. Yesus melakukannya agar kita beroleh kehidupan, sehingga kejahatan tidak membinasakan manusia.

Mengapa Tuhan dengan segala kuasa-Nya tidak menghilangkan saja penderitaan?

Pertanyaan tersebut memiliki jawaban: suatu hari kejahatan akan disingkirkan selama-lamanya. Suatu hari tidak akan ada lagi dukacita atau rasa sakit. Tuhan akan menghapus setiap air mata (Wahyu 21:4). Tetapi, hari tersebut belumlah tiba.

Jika kita merenungkan posisi kita: siapakah kita manusia berdosa sehingga kita bertanya dan menghakimi Tuhan? Kita adalah ciptaan-Nya dan diciptakan untuk memuliakan-Nya. Justru, seharusnya kita bertanya, apakah hak kita sebagai manusia berdosa untuk menuntut kepada Tuhan yang sudah menebus dosa kita? Namun, terlepas dari segala dosa kita, Tuhan selalu menawarkan diri-Nya sendiri. Dia tidak cuma memberi kita berkat atau janji, tetapi Dia memberi diri-Nya sendiri. Dia merindukan kita datang kepada-Nya, berbicara dengan-Nya, dan membawa penderitaan kita kepada-Nya. Dalam penderitaan kita, Dia tidak meninggalkan kita sendirian. Jika kita berpaling kepada-Nya, ada kekuatan yang tidak pernah kita duga; ada kenyamanan dan pengharapan untuk hari ini dan esok.

Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah doa yang kuterjemahkan dari kumpulan doa puritan, The Valley of Vision. Doa ini begitu indah dan berisikan permohonan manusia agar bisa terus memuji keagungan Tuhan dan berserah kepada-Nya, terlepas dari keadaan yang tampaknya tidak sesuai harapan.

Tuhan, tinggi dan suci, lemah lembut dan rendah hati,

Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan
Di mana aku tinggal di kedalaman tapi melihat-Mu di ketinggian,
dikelilingi gunung dosa aku melihat kemuliaan-Mu.

Biarkan aku belajar dengan paradoks
bahwa jalan turun adalah jalan ke atas,
bahwa menjadi rendah berarti tinggi,
bahwa patah hati adalah hati yang disembuhkan,
bahwa roh yang menyesal adalah roh yang bersukacita,
bahwa jiwa yang bertobat adalah jiwa yang menang,
bahwa tidak memiliki apa-apa berarti memiliki semua,
bahwa memikul salib adalah memakai mahkota,
bahwa memberi berarti menerima,
bahwa lembah adalah tempat penglihatan.

Tuhan, di siang hari bintang bisa dilihat dari sumur terdalam,
dan semakin dalam sumur, semakin terang bintang-bintang-Mu bersinar;

Biarkan aku menemukan cahaya-Mu dalam kegelapanku,
hidup-Mu dalam kematianku,
kegembiraan-Mu dalam kesedihanku,
anugerah-Mu dalam dosaku,
kekayaan-Mu dalam kemiskinanku,
kemuliaan-Mu di lembahku.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Di Tengah Keadaan yang Tak Mudah, Pilihlah untuk Taat

Taat, mudah diucapkan sulit dipraktikkan. Apalagi jika ketaatan itu seolah membuat hidup kita malah menjadi susah. Tetapi, Alkitab memberitahu kita bahwa selalu ada berkat dalam ketaatan kita kepada-Nya.