Posts

Belajar Menantikan Allah

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Menunggu seringkali terasa berat untuk dilakukan. Menunggu itu sangat membosankan. Menunggu seakan tidak ada kepastian yang akan terjadi. Tetapi mau tidak mau, menunggu adalah pilihan yang selalu diperhadapkan dalam kehidupan kita setiap hari. Saat ini aku harus menunggu tangan kananku sembuh untuk bisa melanjutkan kompetisi novel yang sedang aku ikuti, pun aku harus menunggu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir sehingga aku bisa pulang ke kampung halaman. Setiap hari kita dituntut untuk belajar menunggu.

Mungkin hal-hal menunggu yang aku sampaikan ini masih terbilang remeh. Lalu bagaimana jika kita harus menunggu hal-hal yang lebih serius? Kita yang masih lajang dan rindu berpasangan menunggu Allah mempersiapkan pernikahan buat kita; pasangan suami istri yang sudah menikah lama rindu membesarkan keturunan; atau mungkin juga ada di antara kita yang sedang menanti pekerjaan, namun tidak kunjung memperolehnya. Tiap-tiap kita, dalam setiap kehidupan yang kita jalani, harus belajar untuk menunggu.

Selama liburan ini, aku sedang menikmati buku “Jika Anda Ingin Berjalan Di Atas Air Keluarlah Dari Perahu” yang ditulis oleh John Ortberg. Dalam bagian buku yang dia tuliskan, ada satu bagian yang membahas tentang MENUNGGU.

John menulis, menunggu bisa jadi merupakan hal paling sulit yang harus kita lakukan. Sungguh mengecewakan ketika kita berpaling kepada Alkitab dan mendapati bahwa Allah sendiri, yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, terus berkata kepada umat-Nya: Tunggu!

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. (Mazmur 37:7)

Nantikanlah Tuhan dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan (Mazmur 37:34)

Allah mendatangi Abraham ketika ia berumur 75 tahun dan mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang ayah, leluhur dari suatu bangsa yang besar. Berapa lama sebelum janji itu digenapi? 24 tahun Abraham harus menunggu.

Allah memberi tahu bangsa Israel bahwa mereka akan meninggalkan perbudakan di Mesir dan menjadi suatu bangsa. Namun bangsa itu harus menunggu 400 tahun.

Allah memberi tahu Musa bahwa Dia akan menuntun umat-Nya ke Tanah Perjanjian. Namun mereka harus menunggu selama 40 tahun di padang gurun.

Sebanyak 43 kali dalam Perjanjian lama, orang diperintahkan, “Nantikanlah. Nantikanlah Tuhan.” Lalu pertanyaannya, mengapa Allah membuat kita menunggu? Jika Dia dapat melakukan sesuatu, mengapa Dia tidak memberikan kelegaan dan jawaban sekarang? Salah satu alasannya—meminjam penjelasan dari Bet Patterson—apa yang Allah kerjakan di dalam diri kita saat menunggu itu sama pentingnya dengan apa yang kita tunggu.

Menantikan Tuhan bukan berarti menanti dengan pasif, artinya bukan tidak melakukan apa-apa. Kadang kita mengatakan kalau kita sedang menantikan Tuhan sebagai dalih untuk tidak memikul tanggung jawab atau mengambil tindakan yang diperlukan. Menantikan Tuhan itu berarti terus melekat kepada Allah dengan penuh keyakinan, berdisiplin, penuh pengharapan, aktif dan kadang-kadang menyakitkan. Paulus mengatakan bahwa selama kita menunggu Allah memulihkan segala sesuatu, kita mengalami penderitaan. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita dan oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5). Menunggu itu bukan hanya sesuatu yang kita lakukan sebelum kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Menunggu adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang sesuai dengan rancangan Allah.

John Ortberg menjelaskan ada tiga sikap yang harus kita lakukan ketika menantikan Tuhan:

  1. Kepercayaan yang sabar
  2. Petrus menulis dalam 2 Petrus 3:8-9, “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

    Terlalu sering kita menginginkan berkat-berkat dari Allah, namun kita tidak menginginkan penentuan waktu-Nya. Kita lupa bahwa pekerjaan-Nya di dalam diri kita saat kita menunggu itu sama pentingnya dengan apa yang kita pikir sedang kita nanti-nantikan. Mungkin saat ini kita memiliki impian tentang pencapaian tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan. Apa yang kita harapkan tidak terjadi. Kita tidak tahu penyebabnya, tetapi kegagalan itu menyakitkan diri kita. Kita menjadi tergoda untuk berusaha memaksakannya, kita mendesak, memanipulasi atau menyusun siasat untuk memperoleh apa yang kita inginkan itu.

    Saat menunggu, tugas kita adalah bukan meraih dengan penuh kecemasan. Menunggu memerlukan kepercayaan yang sabar.

  3. Kerendahan hati yang penuh keyakinan
  4. Dalam Yesaya 32:17, “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya.”

    Dari ayat ini buah dari kebenaran menghasilkan dua kualitas karakter. Pertama adalah keyakinan. Bukan keyakinan terhadap diri sendiri, melainkan terhadap Dia yang menopang kita. Yang kedua adalah ketenangan, dengan rendah hati kita mengakui keterbatasan kita.

    Menunggu itu perlu dilakukan dengan rendah hati, kita membutuhkan anugerah Tuhan untuk melakukannya. Sembari menunggu, kita dapat berdoa, sebab doa dapat menolong kita mengatasi perasaan khawatir.

  5. Menantikan Tuhan memerlukan pengharapan yang tidak terpadamkan
  6. Dalam Roma 8:24-25, “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.”

    Pengharapan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah bentuk penantian. Bila saat ini kita sedang menantikan Allah, jika kita menaati Allah tetapi belum melihat hasil yang kita harapkan, kita perlu tahu di Alkitab ada janji indah yang berkaitan dengan penantian ini:

    “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:30-31).

    Teman-teman, aku tidak tahu apa yang menjadi pergumulan kalian saat ini. Tetapi kita dituntut untuk belajar menantikan Allah. Belajar menantikan Allah yang akan menjawab seturut dengan cara dan waktu-Nya. Mari menikmati pembentukan dari Allah dalam masa-masa penantian kita masing-masing.

    “Penundaan kepuasan adalah proses menjadwalkan penderitaan dan kegembiraan hidup sedemikian rupa guna meningkatkan kegembiraan” (M. Scott Peck).

Baca Juga:

Bosan Tidak Selalu Jadi Pertanda untuk Berhenti

“Ahk, aku capek. Bosan! Daripada kukerjakan tapi tidak dari hati” belaku dengan berbagai alasan pembenaran atas keputusanku.

Tapi, sungguhkah solusi dari bosan dan lelah hanyalah menyerah?

Sia-Siakah Kita Bersabar?

Hari ke-27 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Sia-Siakah Kita Bersabar?

Baca: Yakobus 5:7-11

5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!

5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.

5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.

5:11 Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.

Sia-Siakah Kita Bersabar?

Aku merasa cukup sudah. Hatiku sangat berat memikirkan hal-hal yang menyakitkan ini. Untuk apa terus membawa rasa sakitku dalam doa jika tidak ada yang akan segera berubah?

Tuhan telah memintaku membawa rasa sakitku kepada-Nya daripada menekannya atau berusaha mengatasinya sendiri dengan cara yang tidak sehat. Saat aku melakukannya, kehadiran Tuhan yang memberi ketenangan terkadang bisa kurasakan begitu nyata. Adakalanya Tuhan juga menunjukkan cara pandang atau pemikiran baru terhadap situasi yang aku hadapi.

Namun malam itu, tidak ada yang terjadi. Aku merasa diliputi oleh kesia-siaan. Rasa sakit itu masih di sana. Aku masih merasa terluka.

Di tengah rasa putus asa dan frustrasi, Tuhan mengingatkanku pada Yakobus 5:7-8 yang berkata, “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!

Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa ketika para petani menabur, hujan tidak langsung datang. Si petani harus menanti turunnya hujan untuk menyirami tanah itu. Hujan musim gugur dan hujan musim semi hanya akan datang pada waktu tertentu, tidak setiap saat.

Pada intinya, kesabaran adalah salah satu karakter yang dibentuk dalam proses menantikan Tuhan dan mempercayai waktu-Nya. Kita belajar untuk tidak menjadi gelisah karena hasil yang tidak segera terlihat.

Yakobus mengingatkan bahwa kita tidak perlu menanti dalam ketidakpastian. Titik akhirnya jelas adalah “kedatangan Tuhan” (ayat 7-8) yang “sudah dekat” (ayat 8). Ada dua pengertian yang aku dapatkan dari ayat ini. Pertama, dalam kedaulatan-Nya, Tuhan berkuasa untuk datang melakukan sesuatu dalam situasi yang sedang kita hadapi di dunia ini. Kedua, bila Tuhan memilih tidak melakukannya, sudah pasti, di akhir sejarah dunia ini Dia akan “menghapus segala air mata” dari mata kita (Wahyu 21:4a). Sebagai orang-orang Kristen, kita semua sangat menantikan waktunya “tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:4b).

Apa yang kita tabur sekarang dengan air mata itu ibarat benih-benih kecil, tidak ada artinya dibandingkan dengan panen sukacita yang melimpah—karena “hasil yang berharga” dari tanah yang ditabur (ayat 7) Tuhan akan membuat kita menuai hasilnya. Karena di dalam Kristus, Dia akan membawa kita menuai hasil. Di dalam Kristus, “penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2 Korintus 4:17-18).

Bagian Alkitab ini mengakui bahwa menanti-nantikan Tuhan untuk menyembuhkan rasa sakit kita dapat membuat kita gelisah dan tidak bahagia. Namun, bagian ini juga mengingatkan kita: “Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu” (ayat 9).

Ketika diri kita merasa gelisah, takut, atau bergumul dengan cara lain saat menghadapi masalah yang sulit untuk waktu yang lama, kita bisa saja melampiaskan rasa sakit kita dan meluapkan rasa frustrasi kita kepada orang lain. Perasaan itu bisa keluar sebagai rasa iri atau cemburu kepada orang-orang yang menurut kita memiliki hidup lebih baik dari kita. Mungkin juga kita akan tergoda untuk menjadi tidak sabaran atau mudah tersinggung oleh orang lain saat kita berusaha mengatasi perasaan dalam batin kita.

Kita harus menjaga agar cara kita menghadapi situasi sulit tidak menyebabkan kita menaburkan pertikaian dalam hubungan-hubungan kita. Sikap yang “bersungut-sungut” dan menyalahkan saudara-saudara kita, tidaklah menyenangkan Tuhan.

Sebaliknya, kita harus bertekun dalam perjalanan kita sama seperti para nabi Perjanjian Lama. Yakobus mengajar kita, “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun” (ayat 10-11a). Bisa bertekun melewati penderitaan adalah sebuah berkat, karena pada akhirnya ketekunan itu akan menghasilkan pengharapan yang tahan uji dalam kasih Tuhan kepada kita (Roma 5:3-5).

Terakhir, Yakobus juga memberitahu kita betapa pentingnya mengingat kehadiran Tuhan yang menyertai kita saat kita bertekun. Ia mengingatkan bagaimana Tuhan datang untuk Ayub, dan bahwa Tuhan itu ada di pihak kita: “Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan” (ayat 11).

Karena Tuhan itu penuh belas kasihan dan rahmat, kita dapat sepenuhnya percaya bahwa Dia berkuasa untuk campur tangan dalam kesulitan yang harus kita hadapi dengan cara yang akan membawa kita menuai sukacita.

Yang perlu kita lakukan adalah bertekun mempercayai hati-Nya untuk kita, dan menantikan Dia menolong kita. —Raphael Zhang, Singapura

Handlettering oleh Robby Kurniawan
Photo credit: Ian Tan

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Dalam bidang kehidupan mana saja kamu mengalami kesulitan? Apa yang telah menolongmu untuk lebih sabar menantikan Tuhan dalam bidang-bidang kehidupan tersebut?

2. Apakah cara kamu menantikan Tuhan memunculkan ketegangan atau gesekan dalam hubunganmu dengan orang lain? Jika ya, apa saja yang bisa kamu lakukan secara berbeda?

3. Dalam menghadapi penderitaan, apakah kamu percaya bahwa Tuhan itu ada di pihakmu dan Dia akan datang untuk menolong, sama seperti yang dilakukan-Nya untuk Ayub? Jika kamu ragu, apa yang menurutmu dapat menolongmu untuk memahami karakter Tuhan sebagaimana yang diajarkan Kitab Suci?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Raphael Zhang, Singapura | Raphael suka membaca dan menulis, dan dua aktivitas ini dia gunakan sebagai sarana untuk terhubung dengan firman Tuhan. Sejak Raphael dipulihkan oleh Tuhan dari kehancurannya, Raphael bersemangat untuk menolong orang lain agar dapat dipulihkan juga oleh Tuhan yang begitu mengasihi manusia. Raphael juga tergila-gila pada keju, tetapi cinta terbesarnya tetaplah Yesus.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus

Siapa yang Memegang Kendali?

Hari ke-25 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Siapa yang Memegang Kendali?

Baca: Yakobus 4:13-17

4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,

4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.

4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”

4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.

4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Siapa yang Memegang Kendali?

Beberapa tahun lalu, aku merencanakan perjalanan besar ke Amerika Utara yang agenda utamanya menelusuri beberapa jalur pendakian terkenal di wilayah itu. Aku membeli semua perlengkapan yang dibutuhkan—sebuah ransel yang kokoh, sebuah tenda yang bagus, dan juga buku-buku panduan untuk setiap jalur pendakian yang akan kutempuh. Menjelang perjalanan itu, pikiranku dipenuhi bayangan indah tentang alam bebas yang akan aku jumpai. Pada saat kuliah, fokusku tertuju pada layar komputer, mencari-cari perlengkapan terbaru untuk berkemah di situs web Amazon, atau membaca pengalaman para pendaki lain saat menempuh jalur pendakian yang sama.

Namun, dua bulan sebelum berangkat, sebuah kecelakaan saat berolahraga membuat rencanaku porak-poranda. Jaringan pengikat sendi lututku robek, memupuskan semua harapanku untuk menaklukkan rimba pendakian Amerika Utara. Semua imajinasi dan rencana yang sudah aku persiapkan selama enam bulan terakhir menjadi sia-sia. Aku benar-benar kecewa. Waktu yang aku lewatkan di Amerika Utara diwarnai kegetiran karena apa yang seharusnya bisa terjadi selama aku di sana tidak bisa terwujud.

Yakobus berbicara terus terang tentang betapa rapuhnya rencana dan kehidupan manusia di dunia ini. Sebuah kenyataan yang bertentangan dengan naluri kita. Seperti contoh yang diberikan Yakobus, kita kerap begitu sibuk membuat rencana-rencana untuk hidup kita sehingga kita bisa lupa melakukan perbuatan baik yang seharusnya kita lakukan (ayat 17). Parahnya lagi, kita bisa merasa rencana kita begitu hebatnya, seolah-olah kita adalah pengendali kehidupan ini. Sebaliknya, Yakobus menggambarkan hidup ini sama seperti uap—sebentar saja kelihatan lalu lenyap (ayat 14).

Gambaran ini mengingatkan bahwa kita sebenarnya tidak punya kendali atas hidup kita sebanyak yang kita bayangkan. Kita boleh membuat banyak rencana dan menata hidup kita menurut ambisi dan asumsi kita tentang kesuksesan, tetapi tak satu manusia pun yang bisa menjamin semua itu akan terwujud. Rencana yang paling pasti pun rentan buyar karena hidup ini memang rapuh. Lebih jauh, Yakobus mengingatkan kita bahwa Tuhan sendirilah yang memegang kendali penuh atas hidup kita. Kehendak-Nya atas hidup kita, itulah yang paling menentukan, lebih dari rencana apa pun yang kita pikirkan.

Menganggap diri bisa memegang kendali hidup bisa menggembungkan ego kita, membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan apa-apa di luar diri kita. Yakobus menyebutnya congkak. Orang yang congkak tidak lagi memperhatikan kehendak Tuhan, tetapi hidup menurut apa yang menyenangkan hatinya.

Jelas, menurut Yakobus, ini bertentangan dengan cara hidup seorang pengikut Kristus. Iman yang sejati menghormati kehendak Tuhan yang berdaulat. Artinya, pertama-tama kita harus mengakui bahwa keberadaan kita ini bergantung pada Tuhan dan masa depan kita terutama ditentukan oleh kehendak-Nya. Ayat 15 juga menunjukkan bahwa itu berarti menempatkan rencana-rencana kita di kursi penumpang, dan membiarkan Tuhan yang mengarahkan kehidupan kita untuk melakukan apa yang Dia mau.

Ini tidak berarti kita harus berhenti membuat rencana. Yakobus memanggil kita untuk membuat rencana dengan dipandu oleh firman Tuhan. Menengok ke belakang, aku sendiri menyadari betapa aku sangat sedikit melibatkan Tuhan dalam merencanakan perjalananku. Bukannya hidup tunduk pada firman-Nya, aku menempatkan kehendakku di atas kehendak-Nya. Pengalaman ini menunjukkan kepadaku bahwa meski sudah dipersiapkan sebaik mungkin, rencana-rencana kita itu bisa gagal. Sebab itu, kita harus berupaya sungguh-sungguh untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat dari semua rencana yang kita buat. —Andrew Koay, Australia

Handlettering oleh Robby Kurniawan
Photo Credit: Blake Wisz

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Seberapa banyak kamu melibatkan Tuhan dalam rencana-rencanamu? Apakah kamu membuat rencana dengan mengingat hal-hal yang dikehendaki Tuhan?

2. Apa yang kita ketahui tentang panggilan Tuhan bagi para pengikut Kristus di dalam firman-Nya? Akankah kamu menjawab, “Ya Tuhan, aku bersedia”?

3. Jika tidak, apa yang menghalangimu untuk menjawab panggilan-Nya?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Andrew Koay, Australia | Andrew meluangkan empat tahun waktunya untuk belajar Ilmu Sosial Politik dan Sosiologi dan segera setelah lulus dia berharap bekerja di McDonald’s. Namun, dia tahu bahwa pekerjaan yang sejati adalah bekerja demi Injil.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus

Tunggu

Selasa, 19 Februari 2013

Tunggu

Baca: 1 Samuel 13:7-14

Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; . . .” —1 Samuel 13:13

Karena tidak sabar, seorang pria di San Fransisco, California, mencoba untuk melawan kemacetan dengan cara berbelok mengitari sederetan mobil yang sedang berhenti. Namun, lajur jalan yang dimasukinya ternyata baru saja disemen, dan mobil Porsche 911 miliknya pun terjebak. Si pengemudi harus membayar mahal akibat ketidaksabarannya.

Kitab Suci menceritakan tentang seorang raja yang juga membayar mahal akibat ketidaksabarannya. Didorong oleh keinginan yang besar agar Allah memberkati bangsa Israel dalam peperangan mereka melawan bangsa Filistin, Saul bertindak dengan tidak sabar. Ketika Samuel tidak tiba tepat pada waktunya untuk mempersembahkan kurban bakaran bagi Allah, Saul menjadi tidak sabar dan melanggar perintah Allah (1 Sam. 13:8-9,13). Ketidaksabaran ini membuat Saul berpikir bahwa dirinya berada di atas hukum dan berhak mengambil alih kedudukan imam yang bukan menjadi wewenangnya. Saul berpikir bahwa ia dapat melanggar perintah Allah tanpa harus menanggung konsekuensi yang serius. Ia telah salah menilai.

Ketika Samuel tiba, ia menegur Saul dengan keras atas ketidaktaatannya dan menubuatkan bahwa Saul akan kehilangan kerajaannya (ay.13-14). Penolakan Saul untuk menanti perkembangan dari rencana Allah menyebabkannya untuk bertindak tergesa-gesa, dan dalam ketergesa-gesaannya tersebut ia salah langkah (lihat Ams. 19:2). Ketidaksabarannya menjadi bukti utama dari kurangnya iman.

Tuhan akan memberikan tuntunan-Nya ketika dengan sabar kita menantikan Dia untuk menyatakan kehendak-Nya. —MLW

Arahkanlah hatimu yang cemas pada kesabaran,
Berjalanlah dengan iman kala penglihatanmu suram;
Kasihilah Allah, dengan tenang dan percaya sepenuhnya
Dan serahkanlah semua yang ada kepada-Nya. —Chambers

Kesabaran berarti menantikan waktu Allah dan mempercayai kasih Allah.