Posts

Jurnal Doa

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Doa ibarat nafas hidup bagi orang Kristen. Kalimat ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita, bahwa orang Kristen harus berdoa. Bahkan sejak kecil, pesan untuk berdoa sudah disampaikan, baik oleh orang tua maupun guru sekolah Minggu. Belum lagi para hamba Tuhan di gereja yang terus mengingatkan kita untuk berdoa.

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah. Kita selalu memakai cara yang sama sehingga berdoa hanyalah sebatas rutinitas saja.

Ada banyak cara berdoa yang bisa kita jelajahi, yang sudah dikenal dan mungkin paling sering kita lakukan adalah berdoa dengan berbicara langsung pada Tuhan. Kita memejamkan mata lalu mengucapkan doa dalam hati maupun bersuara. Cara lain adalah dengan menyanyikan doa seperti yang dilakukan para pemazmur, misalnya menaikkan lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’ dari Mazmur 23. Variasi cara lain adalah kita dapat bergabung dalam persekutuan doa sehingga kita dapat berdoa bersama teman-teman lain.

Nah, dari cara-cara itu, ada cara lain yang mungkin terdengar tidak biasa dan jarang dilakukan, yaitu menuliskan doa. Ada yang menyebut cara ini sebagai jurnal doa. Atau bisa juga disebut sebagai prayer diary, atau sebutan lainnya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan jurnal doa itu?

Jika teman-teman pernah menuliskan jurnal harian, maka jurnal doa itu mirip-mirip kok. Biasanya dimulai dengan menulis tanggal lalu kita menulis isi doa kita.

Apa isi jurnal doa?

Isi jurnal doa boleh apa saja. Mulai dari mencurahkan perasaan yang sedang kita alami, permohonan kita, pengucapan syukur, memuji Tuhan, atau yang lainnya. Isi jurnal doa sama seperti ketika kita berdoa, hanya dituliskan saja. Misalnya:

12 Juli.

Tuhan yang baik (atau panggilan yang biasanya ditujukan kepada Tuhan)
Hari ini aku merasa sedih. Tadi pagi papa memarahiku karena aku terlambat bangun dari biasanya. Padahal hal itu disebabkan karena sepanjang malam aku harus menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi papa tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskannya. Tuhan, aku merasa kesal dan marah, sekaligus sedih. Tolong aku, Tuhan, untuk menjelaskan kepada papa apa yang terjadi. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Berapa panjangnya?

Tidak ada ketentuan khusus untuk panjangnya tulisan dalam jurnal doa. Jika kita ingin menulis sepanjang satu halaman karena mungkin pada hari itu ada banyak hal yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan, maka dipersilakan saja. Tetapi ada kalanya kita tidak tahu harus bicara apa kepada Tuhan karena kondisi atau suasana hati yang tidak enak, maka menulis hanya satu kalimat pun tidak masalah. Misalnya:

13 Juli
Tuhan, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Amin.

Apakah harus menulis setiap hari?

Tidak harus, karena jurnal doa hanyalah salah satu cara kita berdoa kepada Tuhan, maka kita diberi kebebasan untuk melakukannya. Hanya, semakin sering kita menulis maka kita akan semakin terbiasa.

Jika tidak bisa menulis, bagaimana?

Salah satu keunikan sekaligus kesulitan dalam jurnal doa memang ada dalam hal menulis. Bagi teman-teman yang tidak terbiasa menulis, mungkin menulis jurnal doa adalah cara yang sulit dilakukan. Tetapi cara ini boleh tetap dicoba, karena sebenarnya mengasyikkan.

Ketika kita menulis, kita melatih otak kita untuk berpikir lebih terstruktur dan sistematis. Berbeda dengan bicara yang biasanya berlangsung spontan, menulis membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir, atau juga merenung.

Apa manfaatnya menulis jurnal doa?

Di zaman ketika kita lebih terbiasa menyaksikan tayangan audio-video, menulis bisa jadi terkesan kuno dan ribet. Tetapi, menulis jurnal doa bisa memberikan beberapa manfaat buat kita, seperti mengatasi kejenuhan kita dalam berdoa sekaligus juga mengasah kemampuan menulis kita.

Doa-doa yang kita tulis menolong kita untuk tidak lupa akan pergumulan yang sedang kita hadapi hari itu. Kelak di masa depan, saat kita melihat kembali jurnal itu, iman kita akan dikuatkan karena kita melihat pertolongan dan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan.

Menulisnya di mana?

Kita bisa menulis di mana saja yang kita suka. Di buku tulis biasa, maupun buku tulis khusus, atau pada aplikasi note yang tersedia di gawai kita masing-masing. Kita bebas memilih media yang paling nyaman untuk kita masing-masing.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menuliskan doa? Yuk, kita mencobanya. Siapa tahu cara ini dapat menambah keasyikan kita untuk berdoa, dan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga kita dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doa kita?

Jangan Pernah Berakhir Cerita Cinta Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Akhir-akhir ini aku tengah menikmati sebuah lagu yang dibawakan oleh Arsy Widianto yang berjudul “Cerita Cinta”. Lagu ini dirilis tahun 2020 kemarin, namun lagu tersebut awalnya dipopulerkan oleh grup band Kahitna pada tahun 1994 dan diciptakan oleh Yovie Widianto, yang merupakan ayah dari Arsy Widianto.

Sama seperti lagu-lagu romantis pada umumnya, lagu ini pun menceritakan betapa romantisnya cerita cinta; betapa bahagianya mengalami perasaan mencintai dan dicintai. Tak hanya alunan melodinya yang menyenangkan dan menenangkan, lirik lagu yang diciptakan juga mampu membuat hati tersentuh.

Ketika tengah mendengarkan lagu ini di kantor, aku jadi teringat bagaimana aku juga secara pribadi menikmati perjalanan cerita cinta bersama Sang Pencipta dengan segala lika-liku yang menyertainya.

Saat Teduh: Dari Ritual Jadi Kerinduan

Pertama kali aku mengenal dan mengetahui istilah “saat teduh”, aku merasa tertekan. Mengapa? Waktu itu aku melihat aktivitas saat teduh sebagai suatu bentuk ritual ibadah tambahan yang menyita waktuku. Memang tidak cukup hanya beribadah setiap Minggu? Memang tidak cukup jika aku berdoa? Aku selalu berdoa kok; setiap sebelum makan dan sebelum tidur. Kenapa harus ditambah lagi dengan saat teduh setiap pagi? Kira-kira begitu isi pikiranku waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, dalam anugerah-Nya aku mengerti bahwa saat teduh bukanlah salah satu dari rutinitas rohani yang harus kita lakukan karena paksaan kewajiban (mandatory). Saat teduh merupakan waktu yang kita siapkan secara pribadi untuk mendengarkan dan merenungkan apa yang mau Tuhan katakan melalui Firman-Nya untuk kita di hari itu. Namun dalam kasusku pribadi, cara Tuhan melatihku untuk disiplin ber-saat teduh sungguh unik:

Setiap kali aku menyukai seorang teman laki-laki, aku pasti berdoa tentang perasaanku, tentang teman yang tengah disukai, juga tentang kegalauanku. Semua hal ini aku doakan setiap aku saat teduh pagi hari. Tidak terluput satu hari pun. Harapannya, agar apa yang aku inginkan terkabul. Harapannya, agar si teman laki-laki pun membalas perasaanku. Singkat cerita, pengalaman menyukai teman laki-laki pada akhirnya seringkali berakhir gagal dan membawaku pada penyesalan serta sakit hati yang pemulihannya cukup memakan waktu lama. Awalnya aku berpikir bahwa aku sangat tidak pantas menjadi pacar siapapun sehingga semua teman laki-laki tidak ada yang menyukaiku. Awalnya. Namun, jika aku melihat lagi ke masa-masa itu, aku menyadari bahwa Tuhan ingin memberitahu aku bahwa:

  1. Identitas dan penerimaan sejati dalam hidupku tidak terletak pada apakah aku disukai teman laki-laki atau tidak, melainkan pada Kristus, yang telah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:7).
  2. Saat teduh merupakan salah satu bentuk komunikasi kita secara pribadi dengan Tuhan. Awalnya motivasiku memang hanya ingin curhat terkait perasaan dan kegalauanku ketika menyukai seseorang. Namun lambat laun Tuhan dengan lembut dan sabar mengubah motivasi hatiku yang tadinya hanya fokus ke perasaan dan kegalauan saja, kepada fokus hati yang rindu untuk selalu menyediakan waktu berkomunikasi dengan-Nya setiap hari melalui pembacaan dan perenungan Firman Tuhan.

Terpujilah Tuhan yang selalu sabar mengajar dan mengasihi aku, kini aku dapat menikmati waktu saat teduh pribadi terlepas dari apakah aku tengah menyukai seseorang atau tidak. Bersyukur kepada-Nya ketika aku menangkap pemahaman bahwa Allah rindu berelasi dengan kita umat-Nya. Aku tidak mengatakan bahwa kegalauan akan pasangan hidup tidak boleh dibawa dalam doa ya. Tentu sangat boleh. Ia Maha Mendengar dan Mengetahui. Namun dalam kasus pribadiku, Ia mengubah fokus hatiku sampai aku benar-benar menikmati relasi pribadi dengan-Nya, menikmati berkomunikasi secara khusus dan pribadi dengan-Nya, melalui sebuah aktivitas bernama: saat teduh.

Cerita Cinta-Nya Membuatku Menerima Diri Apa Adanya

Kisah tentang pengorbanan Yesus di kayu salib sudah aku dengar sejak lama. Namun beberapa waktu terakhir ini, terlebih ketika masa-masa Jumat Agung hingga Paskah kemarin, aku kembali merenungkan peristiwa agung tersebut. Bahkan terkadang, aku bertanya-tanya sendiri:

Kenapa sih Tuhan mau mengasihi aku dengan sebegitunya? Sampai harus merasakan jadi manusia dan segala penderitaannya. Bahkan harus sampai mati menanggung murka Allah akibat dosa-dosanya aku dan manusia-manusia lainnya. Kenapa?

Kenapa aku Engkau kasihi? Aku kan berdosa.

Kenapa aku Engkau layakkan menjadi anak dan murid-Mu yang dikasihi?

Sederetan perenungan pribadi ini dijawab oleh satu lagu yang berjudul: Why Have You Chosen Me. Rodger Strader selaku penulis lagu ini mengungkapkan:

I am amazed to know that a God so great could love me so
He’s willing and wanting to bless
His grace is so wonderful, His mercy’s so bountiful
I can’t understand it, I confess

Apa yang Allah telah perbuat untuk kita ternyata memang tidak dapat kita mengerti, tidak bisa kita pahami. Di sini aku makin menghayati arti dari anugerah dan kasih karunia; bahwa semuanya itu benar-benar hanya pemberian cuma-cuma. Bukan hasil dari sesuatu yang aku lakukan, bahkan bukan dari hasil ibadahku. Memahami dan menghayati hal ini kembali membuatku merasa terenyuh dan baper (bawa perasaan) terhadap kasih Allah yang luar biasa untuk aku. Karya salib Yesus menjadi cerita cinta terindah yang tidak bisa tergantikan dengan kisah cinta apapun yang aku impikan, harapkan, atau bayangkan.

Jika Allah saja menerima diriku yang berdosa ini apa adanya, maka aku pun mulai menerima diriku sendiri juga apa adanya. Aku menerima proses memelajari diriku sendiri; mengenal kelebihanku, kekuranganku, karakterku, serta emosiku. Dari proses mengenal diriku sendiri, aku pelan-pelan juga belajar bagaimana mengasihi dan mengenal orang lain dengan hati yang tulus di dalam keberdosaan dan keterbatasanku. Aku pernah menuliskan sedikit kisahku di awal-awal proses mengenal diri sendiri di sini.

* * *

Jika kasih Allah yang sebesar itu dianugerahkan kepada kita manusia berdosa secara cuma-cuma, aku rasa ungkapan romantis dalam bagian akhir lirik lagu “Cerita Cinta” yang ditulis Yovie Widianto pun pasti diungkapkan oleh Sang Pencipta:

“Jangan pernah berakhir cerita cinta kita.”

Baca Juga:

Kejahatan ‘Terbesar’ di Dunia

Kita hidup di dunia yang jatuh ke dalam dosa, dan dosa itu pun mewujud dalam berbagai kejahatan. Tanpa kita sadari, ada satu kejahatan yang kerap tersembunyi dalam topeng rohani kita.

Sekaranglah Kesempatan Kedua Itu!: Disiplin Rohani Menebus Waktu

Oleh Jefferson

“Apakah halangan terbesarmu untuk berdisiplin rohani?”

Aku tidak tahu apa jawabanmu untuk pertanyaan di atas, tetapi kebanyakan responden dari surveiku menjawab “keterbatasan waktu” sebagai halangan terbesar mereka untuk rutin mempraktikkan disiplin rohani. Sambil merenungkan realita ini, kata-kata Paulus terngiang dalam benakku:

“Jadi, perhatikan dengan saksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal,…” (Efesus 5:15).

Apa maksud di balik perkataan Paulus? Penggalian perikop besarnya menuntunku untuk melihat penatalayanan waktu sebagai salah satu disiplin rohani terpenting di zaman ini, “terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan sudah semakin dekat” (Ibr. 10:25; bdk. Mat. 24:42, 44).

Belajar Menebus Waktu dari Efesus 5:1–20

Latar belakang kitab Efesus sudah pernah kugali dalam satu tulisanku sebelumnya, jadi di sini kita langsung fokus pada perikopnya. Paulus memulai dengan satu perintah utama di ayat 1–2, di mana sekali lagi kita melihat sasaran daripada disiplin rohani, yaitu keserupaan dengan Yesus:

1) Sebab itu, jadilah peniru-peniru Allah sebagaimana anak-anak yang terkasih.
2) Hiduplah dalam kasih, sama seperti Kristus mengasihi kita dan memberikan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.

Tapi bagaimana cara kita dapat hidup serupa dengan Yesus? Paulus menjawab lewat 18 ayat berikutnya, yang ia kemas dalam tiga bagian (yang dibatasi oleh “Jadi” di ayat 7 dan 15) yang membandingkan antara kehidupan dalam kegelapan dunia dan dalam terang Kristus. Bagian pertama (ay. 3–6) mencatat berbagai larangan bagi jemaat Efesus (dan kita) agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Mengapa begitu? Alasannya ada di bagian kedua (ay. 7–14): karena kita adalah “anak-anak terang” (ay. 8) yang telah dibangkitkan oleh Allah dari kegelapan dosa dan maut (ay. 14) agar kita “mencari tahu apa yang menyenangkan Tuhan” (ay. 10). Paulus lalu menjelaskan hal-hal apa saja yang menyukakan Tuhan dalam bagian terakhir lewat empat pasang perintah–larangan (ay. 15–18), yang ia kemudian akhiri dengan beberapa perintah penutup (ay. 19–20):

Ayat Perintah (+) Larangan (–)
15 Jadi, perhatikan dengan saksama bagaimana kamu hidup, …, jadilah bijak. … jangan seperti orang bebal…
16 Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya …  … karena hari-hari ini adalah jahat. 
17 Karena itu, …, tetapi mengertilah apa itu kehendak Tuhan.  … janganlah menjadi bodoh… 
18 … sebaliknya penuhlah dengan Roh. Jangan mabuk oleh anggur karena hal itu tidak pantas,…  

Dari keempat ayat di atas, aku ingin menyorot dua kata yang makna aslinya dalam bahasa Yunani mungkin hilang dalam proses penerjemahan. 

Pertama-tama, frasa “Pergunakanlah […] dengan sebaik-baiknya” di ayat 16 aslinya hanya satu kata, exagorazō, yang bisa berarti “dibeli” atau “ditebus”. Lewat pilihan kata ini, Paulus sedang mendorong jemaat Efesus (dan kita) untuk menebus waktu yang biasanya dipakai untuk “perbuatan kegelapan” (ay. 11) dengan hal-hal yang “menyenangkan Tuhan” (ay. 10) dan membuat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di akhir hayat, banyak orang mengharapkan kesempatan kehidupan kedua, tetapi bagi kita yang telah ditebus Kristus, sekaranglah kesempatan kedua itu (bdk. 2 Kor. 5:17; Gal. 2:20), apalagi kita tidak tahu kapan kedatangan-Nya yang kedua (Mat. 24:44).

Kata kedua yang ingin kusorot adalah “penuhlah” (plērousthe, ay. 18). Kata ini menurut tata bahasa Yunani mengambil bentuk tensa imperatif masa kini sehingga memiliki makna tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi terus-menerus. Pilihan gramatika ini menyatakan perintah Paulus dengan gamblang: janganlah hidup sembarangan menurut hawa nafsu kita layaknya orang mabuk, tetapi berikanlah hidup kita untuk terus-menerus dipenuhi oleh Roh (ay. 18) yang salah satu bentuk buah-Nya adalah penguasaan diri (Gal. 5:22–23; bdk. Mat 24:42). Lewat semuanya ini kita dimampukan untuk beribadah kepada Allah, baik secara pribadi maupun dengan sesama orang percaya (ay. 19), mengucapkan “syukur senantiasa atas segala sesuatu kepada Allah Bapa dalam nama Tuhan kita, Kristus Yesus” (ay. 20).

Dari penguraian di atas, jelaslah hubungan antara keserupaan dengan Kristus dan disiplin rohani menebus waktu: menjadi serupa dengan Yesus (ay. 1–2) berarti menjalani setiap detik kehidupan (ay. 8) yang telah ditebus oleh-Nya dari kegelapan dosa dan maut (ay. 14, 16) di dalam Roh Kudus (ay. 18) agar kita dapat memahami dan mengerjakan kehendak Allah dalam kehidupan kita (ay. 15, 17) demi kemuliaan-Nya dan sukacita kita (ay. 19–20).

7 Tindakan Menebus Waktu di Zaman Akhir

Ketika mengetahui berbagai tanggung jawabku di kantor maupun pelayanan, umumnya aku akan ditanya, “Bagaimana caranya kamu bisa mengerjakan semuanya itu?”

Setelah membaca dan merenungkan perikop di atas, tepatnya ayat 13–20, aku melihat paling tidak ada tujuh tindakanku yang lewatnya Tuhan memenuhiku dengan Roh-Nya (ay. 18) untuk menatalayani waktuku yang telah Ia tebus di zaman akhir ini.

#1. Mulailah hari dengan Firman Tuhan (ay. 13–14) 

Bisa kamu tebak dari artikel yang kukutip di awal bahwa aku adalah pendukung garis keras saat teduh di pagi hari. Walaupun wajar-wajar saja kalau kita bersaat teduh di malam hari, menurutku melakukannya tepat setelah bangun tidur adalah praktik terbaik. Seperti matahari pagi yang membangunkan dunia dari kegelapan malam, begitu juga Firman Allah lewat saat teduh pagi “membangkitkan” kita untuk hidup dalam terang-Nya (ay. 13–14). Menjadikan persekutuan pribadi dengan Tuhan sebagai hal pertama yang kita lakukan di pagi hari mengingatkan bahwa Ialah pusat kehidupan kita yang mendikte tempo kita menjalani hari, bukan relasi maupun kesibukan kita. Saat teduh pagi layaknya briefing dari Tuhan yang mengarahkan bagaimana kita akan menjalankan aktivitas-aktivitas pada hari itu. 

Tetapi bagaimana kalau jadwal kita mengharuskan kita untuk mulai beraktivitas sejak fajar? Usahakan untuk tidur dan bangun lebih awal. Sebagai seorang konsultan lingkungan hidup, tidak jarang aku sudah harus berada di lokasi survei supaya dapat mengamati satwa-satwa yang menjadi aktif bersamaan dengan terbitnya sang surya. Awalnya memang berat, tetapi lewat persekutuan dengan sang Firman sebelum masuk ke hutan, aku jadi lebih siap untuk menikmati kemuliaan-Nya lewat alam yang kujelajahi.

#2. Pastikan urutan prioritas-prioritas yang ada benar (ay. 15, 17)

Setelah menikmati hadirat Tuhan sebagai pusat kehidupan, kita perlu melakukan tindakan kedua ini. Mengapa begitu? Karena kita pasti selalu menyediakan waktu untuk hal-hal yang kita prioritaskan, sekecil apapun hal itu. Prioritas-prioritas inilah yang menyingkapkan siapa yang sebenarnya kita sembah dalam kehidupan. Oleh karena itu, mintalah hikmat dari Allah (Yak. 1:5) agar kita dapat mencari dahulu kerajaan dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33) dalam segala hal yang kita prioritaskan sehingga kita tidak hidup “seperti orang bebal” (ay. 15, 17).

Sebagai seorang perantau di Singapura, aku bisa saja memilih untuk bersantai tiap malam setelah seharian bekerja tanpa memperdulikan keluargaku di Indonesia maupun tanggung jawabku yang lain. Lagipula aku berhak beristirahat, bukan? Kalau urutan prioritasku begitu, kamu tidak akan sedang membaca tulisan ini. Puji Tuhan, aku tahu urutan prioritasku yang semestinya untuk bisa menjadi serupa dengan Kristus, bahkan di waktu malam yang sangat mudah disia-siakan. Perhatikan bahwa aku tidak sedang berdalih untuk menyibukkan diri setiap malam; ada waktu-waktu khusus yang kuprioritaskan untuk beristirahat, menonton serial drama, dan, tentu saja, menelpon keluargaku dan bersekutu dengan teman.

#3. Kenali serta kelola batasan-batasan dan pengalih perhatian yang ada (ay. 16, 18)

Selain mengenali bagaimana kita sebaiknya mengurutkan prioritas-prioritas kita, kita perlu mengenali dan mengelola hal-hal yang dapat mengancam susunan prioritas itu. Kita semua memang dianugerahkan Tuhan dengan jumlah waktu yang sama (24 jam), tetapi setiap kita memiliki batasan dan pengalih perhatian yang berbeda-beda. Sekali lagi, butuh hikmat dari Allah (Yak. 1:5) untuk dapat mengenali dan mengelola jenis-jenis anggur yang bisa memabukkan serta mengalihkan kita dari mengerjakan kehendak-Nya (ay. 18).

Batasan utamaku adalah tendensi untuk memikul tanggung jawab lebih dari yang bisa aku pikul. Di tahun-tahun awalku di Singapura, aku kesulitan dalam mengenali dan mengelola batasanku ini, tapi sekarang aku lebih mengenali diriku sendiri dan lebih bisa berkata tidak terhadap berbagai tawaran pekerjaan dan pelayanan yang ada. Hampir semua orang di sekelilingku bilang kalau aku sibuk, tapi nyatanya aku selalu punya waktu untuk bersekutu dengan dan mendengarkan mereka. Di sisi lain, pengalih perhatian utamaku adalah game; kalau ada di gadget, aku pasti kecanduan dan bermain setiap saat. Solusinya hanya satu: menghapus game dari gawai supaya bisa fokus pada prioritas-prioritasku.

#4. Buatlah jadwal dengan “spasi” (ay. 16)

Di minggu terakhir tahun 2020, aku bertemu dengan beberapa kelompok teman yang sudah lama tidak kujumpai karena kesibukan kami masing-masing. Sebagai seorang ekstrovert, aku seharusnya tidak mudah kelelahan ketika berinteraksi dengan banyak orang selama beberapa hari berturut-turut, walaupun beberapa di antaranya memang terjadi dadakan. Kamu bisa bayangkan betapa anehnya perasaanku ketika memutuskan untuk beristirahat di rumah di akhir minggu pertama tahun ini. Ayat 16 menyadarkanku bahwa waktu itu aku tidak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena tidak meluangkan “spasi” dalam jadwal lewat mana kasih karunia Tuhan dapat bekerja lewat rehat dan hal-hal dadakan

Pembelajaran di akhir 2020 ini lalu aku praktikkan pada Jumat terakhir di bulan Januari, di mana aku sengaja mengambil cuti untuk mengerjakan seri tulisan ini. Apa daya, aku gagal memenuhi target untuk menyelesaikan dua artikel tetapi memiliki cukup waktu luang untuk sisa hari itu. Melihat “spasi” ini sebagai anugerah dari Tuhan, aku menggunakannya untuk mempersiapkan bahan kelompok pemuridan yang baru bertemu dua minggu kemudian supaya ke depannya ada waktu lebih untuk mengerjakan sisa tulisan dan kalau-kalau ada kebutuhan mendadak. Benar saja, minggu depannya satu lembaga misi memintaku untuk berkontribusi untuk satu tulisan singkat, yang kemudian dapat kuselesaikan karena ada sejumlah “spasi” dalam jadwalku. Begitulah pentingnya “spasi” dalam jadwal kita sehari-hari.

#5. Libatkan sesama untuk akuntabilitas (ay. 19)

Elemen komunitas tidak bisa dipungkiri dan hampir pasti muncul dalam setiap pembahasan tentang pelaksanaan disiplin rohani, termasuk penatalayanan waktu. Adalah seorang teman kos yang mengingatkanku bahwa masih ada hari esok ketika aku “hanya” menyelesaikan satu tulisan dalam kesaksianku di tindakan #4. Tidak heran kalau Paulus mendorong jemaat Efesus untuk berbicara “satu sama lain dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani” di ayat 19, karena lewat persekutuan dengan sesama anggota tubuh Kristuslah kita dapat memuji Tuhan “dengan segenap hati [kita]”. 

#6. Naikkan syukur setiap saat kepada Allah dalam nama Tuhan Yesus (ay. 20)

Kata “setiap saat” (“senantiasa” menurut ayat 20) mungkin membingungkanmu. “Maksudnya bahkan ketika kita sedang mandi pun kita mengucapkan syukur kepada Tuhan? dan bahkan ketika kita sedang menghadapi situasi yang buruk?” Ya, kalau kamu melakukannya dalam nama Tuhan Yesus.

John Piper dalam salah satu podcast-nya menjelaskan bahwa kata “Teruslah” (adialeiptōs) di 1 Tesalonika 5:17 (“Teruslah berdoa!”) memiliki arti berulang kali dan sering, bukan setiap detik. Walaupun frasa “setiap saat” di Efesus 5:20 bukanlah adialeiptōs melainkan pantote, keduanya memiliki kemiripan sehingga konotasi “berulang kali dan sering” bisa dibilang berlaku untuk tindakan keenam ini. Dan ya, kita melakukannya atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Mengapa begitu? Karena pengucapan syukur “senantiasa atas segala sesuatu” menyelaraskan kita dengan kehendak Allah (ay. 10) untuk melihat bahwa Allah bekerja di dalam setiap momen kehidupan, baik yang baik maupun yang buruk, untuk kebaikan kita dan rencana-Nya untuk menjadikan kita serupa Anak-Nya (Rom. 8:28–29).

Tindakan ini mungkin adalah yang paling mudah dilakukan dibandingkan dengan yang lain. Selain doa pagi, makan, dan malam, aku biasanya memakai waktu commuting dari dan menuju kantor, sewaktu rehat dalam pekerjaan, dan bahkan ketika mandi untuk mengingat dan mengucapkan syukur atas setiap hal yang Tuhan biarkan terjadi sepanjang hari itu.

#7. Ingat: yang lalu tidak bisa kembali, tapi yang akan datang telah Yesus tebus (ay. 15–20)

Di akhir hari, kita mungkin menyesali keputusan dan tindakan yang kita ambil hari itu. “Coba tadi aku makan lebih cepat, pasti tidak akan telat untuk rapat dengan klien!” “Kenapa aku bisa lupa lihat jam, jadi kelamaan bersantai nonton drama Korea!” Oleh karena itu, sambil memejamkan mata sebelum tidur, kita perlu berpegang pada satu kebenaran penting, yang herannya kutemukan dalam baris-baris puisi mini drama AADC yang kemudian kugubah:

Adalah [Allah yang adalah Kasih] yang mengubah jalannya waktu.

Karena [Kasih], waktu terbagi dua:

[tanpa-Nya dan rindu akan hadirat-Nya]

Detik tidak pernah melangkah mundur

tapi [rahmat-Nya] selalu ada;

waktu tidak pernah berjalan mundur

dan hari tidak pernah terulang,

tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru

untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab (Rat. 3:22–23).

Ya, pada akhirnya bukanlah kita yang “mengubah jalannya waktu”, tetapi Tuhan (ay. 17–18, bdk. Kej. 50:20). Dalam keberdosaan kita, segala prioritas dan jadwal yang telah kita rencanakan lewat tindakan #1–6 mungkin malah akan kita gunakan untuk melawan Tuhan, secara sadar maupun tidak sadar. Meskipun begitu, di penghujung hari-hari yang jahat (ay. 16), kita bisa berserah kepada Allah dan tidur dengan nyenyak, mengetahui bahwa “Yesus Kristus tetap sama kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Lebih lagi, kita bisa terlelap dengan harapan bahwa Kristus akan membangunkan kita besok pagi dan mengaruniakan satu lagi hari untuk ditebus di dalam-Nya (bdk. Rat. 3:22–23; Flp. 3:13–14) “menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:25 TB).

Meneladani Sang Penebus dalam Menebus Waktu

Sebagai penutup, sambil mengembangkan satu gagasan dalam tindakan #7, aku ingin mengarahkan pandanganmu kepada Tuhan Yesus sendiri. Perhatikan bahwa dalam setiap momen kehidupan-Nya, Yesus tidak pernah terburu-buru sama sekali. Dia selalu tahu waktu yang paling tepat untuk bertindak (e.g. peristiwa kebangkitan Lazarus di Yohanes 11:1–44, panggilan-Nya kepada Zakheus di Lukas 19:1–10) karena Ia menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Allah Bapa dan mencari kehendak-Nya walaupun Ia baru saja melayani seharian (Mrk. 1:35). Dan “[k]etika waktunya semakin dekat bagi Yesus untuk ditinggikan, Ia meneguhkan hati untuk pergi ke Yerusalem” (Luk. 9:51) untuk mati menebus umat-Nya.

Mengetahui bahwa Roh Kristus memenuhi diri kita (ay. 18), kita dapat berjuang untuk hidup dalam kasih karunia-Nya yang memampukan kita untuk “[menggunakan] waktu yang ada dengan sebaik-baiknya” (ay. 16), menatalayani setiap detik kesempatan kedua ini “dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7) sambil menyambut kedatangan Kristus yang kedua (Why. 22:20).

Seperti yang Anthony Hoekema katakan dalam The Bible and The Future, “Hiduplah seolah-olah Kristus baru mati kemarin, bangkit pagi ini, dan akan kembali lagi besok.

Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo gloria.

Pertanyaan refleksi

  1. Bagaimanakah kamu selama ini memahami dan menggunakan waktu yang ada?
  2. Luangkan waktu ~10–15 menit untuk membaca Efesus 5:1–20. Apa saja yang kamu pelajari dari perikop ini, terutama tentang disiplin rohani menatalayani waktu?
  3. Di antara ketujuh tindakan menebus waktu yang sudah dijelaskan, mana saja yang sudah dan/atau akan kamu mulai praktikkan?
  4. Adakah peristiwa(-peristiwa) lain dalam kehidupan Tuhan Yesus yang dapat kamu teladani dalam menggunakan kesempatan kedua yang telah Ia anugerahkan dengan sebaik-baiknya?

Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Metode Bertemu Realita: Bagaimana Melakukan Disiplin Rohani

Tulisan ini akan menjelaskan tiga prinsip yang menolong kita untuk mempraktikkan disiplin rohani dalam kesalehan Kristiani.

Yuk baca artikel kedua dari #SeriDisiplinRohani ini.

5 Tips Saat Teduh Anti Mager!

Bulan ketiga di tahun 2021 sudah hampir berlalu, adakah yang saat teduhnya masih konsisten dan tidak absen?

Menjaga kekonsistenan saat teduh kadang terasa sulit. Kadang kita terjebak dalam kesibukan, atau tak jarang juga rasa malas yang kita pelihara membuat kita jadi lupa dan enggan bersaat teduh. Yuk kita bangun kembali semangat untuk berelasi erat dengan Tuhan!

Apa saja tipsmu untuk tetap semangat bersaat teduh?

Ketika Metode Bertemu Realita: Bagaimana Melakukan Disiplin Rohani

Oleh Jefferson

Dalam artikelku sebelumnya, aku telah membagikan kepadamu apa yang kupelajari selama 10 tahun terakhir tentang disiplin rohani: kaitannya dengan “kesalehan”, bagaimana definisi “kesalehan” menurut Kekristenan jauh berbeda dengan yang dunia pahami, serta berbagai bentuk praktik disiplin rohani menurut Firman Tuhan.

Melanjutkan pembahasan di atas, tulisan ini akan menjelaskan tiga prinsip yang menolong kita untuk mempraktikkan disiplin rohani dalam kesalehan Kristiani, sebelum mengarahkan kita kepada satu janji Allah yang menopang kita untuk terus melatih diri kita “untuk hidup dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7b).

“Bagaimanakah seharusnya melakukan disiplin rohani?”

Inilah prinsip pelaksanaan disiplin rohani pertama dariku: kita “berlatih dalam kesalehan” lewat disiplin-disiplin rohani dalam Alkitab agar dapat semakin mengenal, mengasihi, dan menyerupai Kristus. Seperti yang telah dijelaskan dalam jawaban untuk pertanyaan pertama di artikel sebelumnya, sasaran inilah yang harus menjadi fokus kita, bukan praktik disiplin rohani itu sendiri. Kalau kita berfokus pada praktik dan kesalehan moral semata, antara kita akan larut dalam kegagalan berdisiplin karena natur dosa kita atau akan bermegah di luar Allah karena “kesuksesan” kita berdisiplin rohani. Jelas keduanya bukan hasil yang kita inginkan, apalagi Tuhan! Oleh karena itu, “berlari[lah] dengan tekun pada perlombaan yang disediakan di hadapan kita” dengan mata yang “tertuju pada Yesus, Sang Pencipta dan Penyempurna iman kita” (Ibr. 12:1–2).

Prinsip kedua kurumuskan berdasarkan satu kata kunci dalam ayat yang kukutip dalam pembuka tulisan ini, “latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7b). Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “latihlah” adalah gymnaze. Terdengar familiar? Betul, ini adalah akar kata dari gymnasium, yang selama pandemi COVID-19 mungkin pindah ke ruang tamu atau kamar tidurmu dalam rangka menjaga kebugaran tatkala tidak bisa keluar rumah. Paulus memakai analogi perlombaan untuk menjelaskan proses pertumbuhan rohani dan kesalehan dalam beberapa suratnya karena analogi ini memang tepat: atlet-atlet berlatih menguasai diri dengan keras untuk mengejar mahkota kemenangan yang fana, tetapi pengikut-pengikut Kristus berlari untuk mendapatkan mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25). Lebih lagi, dalam arena kehidupan di mana semua orang berlari menurut jalan pilihan masing-masing, hanya sedikit yang akan menemukan gerbang sempit yang menuju kepada kehidupan (Mat. 7:14, bdk. 1 Kor. 9:24), jadi kita perlu mempraktikkan disiplin rohani hari demi hari dengan intensional dan disiplin (1 Kor. 9:27). Berdisiplin rohani tanpa disiplin pada dasarnya adalah seperti berlari tanpa tujuan dan meninju angin (1 Kor. 9:26); kita tidak akan pernah mencapai sasaran daripada disiplin rohani, yaitu keserupaan dengan Kristus.

Terakhir, kita perlu melakukan disiplin rohani baik secara pribadi maupun secara komunal bersama saudara-saudari seiman. Senada dengan dorongan Paulus kepada Timotius untuk tidak hanya bertekun dalam Firman tetapi juga mengajarkannya kepada jemaat Efesus (1 Tim. 4:6–7), penulis surat Ibrani mendorong kita untuk “saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (10:24 TB). Bagaimana caranya? Lewat persekutuan dan pertemuan ibadah, di mana kita “saling menguatkan, terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan sudah semakin dekat” (Ibr. 10:25). Ya, karena kedatangan Tuhan Yesus yang kedua pasti segera terjadi, marilah kita semakin giat bertemu dan bersekutu dengan-Nya, baik secara pribadi maupun dengan orang-orang percaya lainnya.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas saudara-saudari yang Ia telah tempatkan dalam hidupku untuk bersama-sama berdisiplin rohani. Lewat berbagai sharing dan diskusi, rencana baca Alkitab dan saat teduh tahunan yang biasanya kujalani sendiri jadi lebih berwarna dan berbobot. Melanjutkan analogi perlombaan, kehadiran rekan-rekan yang berlatih bersama kita pastinya akan meningkatkan semangat dan memperluas pemahaman kita sendiri.

Itulah ketiga prinsip yang kupelajari dan terapkan dalam sepuluh tahun terakhir. Di atas kertas kelihatannya mudah, namun ada kenyataan yang perlu kita sadari dan ingat agar dalam “berlatih dalam kesalehan” kita tidak menjadi tawar hati (bdk. 2 Kor. 4:16).

“Bukan sekarang, tapi 60 tahun lagi”

Kata-kata itu keluar dari mulut kakak pembina di persekutuan kampusku dulu dalam perjalanan kami kembali ke kantor masing-masing sehabis makan siang. Pertemuan ini kami adakan setelah sekitar 2 tahun tidak bertemu satu sama lain karena kesibukan kami masing-masing.

Aku sedang bersiap-siap turun di stasiun MRT berikutnya ketika beliau berkata kepadaku dengan setengah bercanda, “Jangan lupa keep in touch ya, jangan sampai ketika aku ketemu kamu lagi, kamu malah sudah punya anak.”

“Tenang saja Kak, aku akan kabari kalau sudah punya pasangan,” jawabku geli.

“Ya, ya,” balasnya. Ada keheningan selama beberapa detik sebelum beliau melanjutkan begini, “Ingat ya Jeff, aku tidak akan menilai kamu berdasarkan siapa kamu sekarang, tetapi siapa kamu 60 tahun lagi, itu yang menentukan.”

Kebingungan menerima kata-kata tersebut, aku bertanya, “Maksudnya gimana, Kak?”

“Iya, kerohanianmu dan semangatmu melayani saat ini mungkin baik, tapi siapa yang tahu hubunganmu dengan Tuhan 60 tahun lagi, apakah masih baik atau tidak? Di tengah dunia yang berdosa, kita hanya bisa berharap kepada Tuhan bahwa Dia akan terus menjaga iman kita sampai akhir.”

Bersamaan dengan balasan beliau, aku pun tiba di tempat tujuan. Setelah bertukar “Sampai jumpa” dengan kakak pembinaku, aku bergegas turun dari kereta. Sambil berjalan kembali ke kantor, aku larut dalam perenungan, memikirkan kata-katanya.

Perihal pembahasan kita dalam dua tulisan ke belakang, kurasa kata-kata kakak pembinaku sangatlah tepat. Berdisiplin rohani untuk hidup dalam kesalehan, dalam keserupaan dengan Yesus Kristus, terdengar mudah ketika dibaca di atas gadget. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa disiplin dan kesetiaan kepada Tuhan tidak mungkin dilakukan secara konsisten oleh usaha manusia semata, apalagi di tengah-tengah dunia yang berdosa dan membenci Tuhan yang kita sembah (Yoh. 15:18). Berbagai perlawanan akan kita hadapi dalam mempraktikkan disiplin rohani, baik dari dalam diri kita sendiri (e.g. keengganan kita membaca Alkitab yang begitu tebal) maupun dari luar (e.g. daya tarik Netflix ketika kita seharusnya doa malam, sindiran teman ketika kita memilih untuk menghadiri persekutuan doa gereja ketimbang pergi hang out bersama mereka). Kata-kata tekad mudah diucapkan, tapi apakah kata-kata itu akan dipegang atau tidak sampai kita bertemu dengan Tuhan Yesus muka dengan muka, semuanya hanya bergantung pada kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan memampukan (1 Tim. 4:10).

Oleh karena itu, aku ingin mengarahkanmu kepada Filipi 1:6 yang memberikan kita pengharapan bahwa bukan kita yang memampukan diri kita untuk berdisiplin rohani untuk menjadi serupa Tuhan Yesus, melainkan Allah sendiri:

Aku sungguh yakin bahwa Ia yang telah memulai pekerjaan baik di antara kamu, Ia juga yang akan menyempurnakannya sampai hari Yesus Kristus.

Akhir kata, kejarlah Kristus, kejarlah Dia dengan penuh disiplin dan bersemangat, kejarlah Dia bersama saudara-saudari seiman lainnya hingga bertemu dengan-Nya muka dengan muka di akhir kehidupan kita di dunia ini.

Tuhan Yesus menyertai kamu dalam latihan “untuk hidup dalam kesalehan”, soli Deo Gloria.

Pertanyaan refleksi

  1. Bagaimanakah kamu berdisiplin rohani selama ini? dengan mata tertuju pada usaha sendiri atau pada Tuhan Yesus (Ibr. 12:2)?
  2. Bagaimanakah kamu berdisiplin rohani selama ini? seperti berlari tanpa tujuan dan meninju angin, atau “melatih tubuh[mu] dengan keras dan menguasainya” (1 Kor. 9:27)?
  3. Bagaimanakah kamu dapat mulai berdisiplin rohani bersama dengan orang-orang percaya lainnya?

Catatan:
kecuali bagian-bagian yang memiliki singkatan TB / ESV, kutipan-kutipan Alkitab dalam tulisan ini memakai terjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Disiplin Rohani: Perlukah Menjadi Orang Saleh di Abad Ke-21?

Disiplin rohani dan kesalehan, kita mungkin tidak asing dengan dua istilah ini, tapi sejauh mana kita memahami keduanya sebagai sebuah cara hidup orang Kristen? Yuk temukan jawabannya di artikel pertama dari #SeriDisiplinRohani ini.

Disiplin Rohani: Perlukah Menjadi Orang Saleh di Abad Ke-21?

Oleh Jefferson

Pada 2 November yang akan datang, secara rohani aku akan genap berusia satu dekade. Sepuluh tahun yang berlalu sejak pertobatanku terasa begitu panjang dan singkat; panjang, karena ada begitu banyak pengalaman hidup yang telah kulalui (dan segelintir darinya aku bagikan lewat tulisan); singkat, karena rasanya baru kemarin aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Rasanya baru kemarin juga aku menerima undangan untuk menulis tentang disiplin rohani. Topik ini cukup familiar karena pernah kubahas dalam beberapa tulisan terdahulu. Melihat kesempatan ini sebagai anugerah dari Tuhan untuk sekali lagi membagikan pembelajaranku bersama-Nya lewat tulisan, keempat artikel dalam seri ini kutulis sebagai kristalisasi dari pengalamanku “berlatih dalam kesalehan” selama ~10 tahun terakhir.

Untuk memulai penjelajahan kita tentang disiplin rohani selama beberapa minggu ke depan, kita perlu pertama-tama mempelajari dasar-dasar daripada disiplin rohani itu sendiri, yang kurangkum dalam dua pertanyaan besar.

“Apa itu ‘disiplin rohani’ menurut Kekristenan?”

Walaupun istilah “disiplin rohani” tidak pernah disebut secara eksplisit dalam Alkitab, konsep ini tersirat dalam berbagai bagiannya, terutama di Perjanjian Baru. Perumusan terjelasnya terkandung dalam 1 Timotius 4:7b, “latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan”. Dari ayat ini, kita memahami bahwa “disiplin rohani” pada dasarnya diartikan menurut tujuan yang ingin dicapai, yaitu “kesalehan” atau godliness (ESV). Dengan kata lain, disiplin rohani hanyalah cara untuk mencapai kesalehan dan bukanlah kesalehan itu sendiri.

Mendengar kalimat di atas, kamu mungkin berpikir, “Jadi apa bedanya disiplin rohani Kristen dengan tindakan agamawi kepercayaan lain kalau tujuan akhirnya sama, yaitu kesalehan?”

Untuk menjawab keberatan di atas, kita perlu mengklarifikasi apakah definisi “kesalehan” yang dimaksud Paulus dalam 1 Timotius 4:7b sama dengan pemahaman pada umumnya, yaitu “sikap hidup pribadi yang tidak berdosa/bercela”. Pembacaan ayat-ayat sebelum (ay. 1–7a) dan sesudahnya (ay. 8–10) membantu kita menguraikan kebingungan ini.

Pertama-tama, 1 Timotius 1:1–7a menjelaskan latar belakang ayat 7b: akan ada sebagian jemaat Efesus yang meninggalkan iman mereka “dengan menyerahkan diri kepada roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (ay. 1). Orang-orang ini mengharamkan hal-hal baik yang diciptakan oleh Allah, seperti pernikahan dan makanan tertentu (ay. 3–5), dan mempercayai berbagai takhayul (ay. 7a). Terhadap latar kebejatan inilah Paulus mengarahkan Timotius untuk tidak hanya mengajarkan “perkataan-perkataan iman dan ajaran sehat” kepada gereja di Efesus (ay. 6), tetapi juga melatih dirinya “untuk hidup dalam kesalehan” (ay. 7b). Dari ayat-ayat ini, kita mempelajari bahwa disiplin rohani dipraktikkan agar kesalehan dapat dihidupi baik secara pribadi maupun komunal; kita berlatih untuk hidup menurut “perkataan-perkataan iman dan ajaran sehat” dalam Firman Tuhan agar dapat mengenali dan menjauhi berbagai ajaran yang menyimpang dari kebenaran Kristus serta membantu sesama orang percaya melakukan hal serupa untuk mencapai kesalehan.

Ayat 8 memperjelas alasan di balik dorongan Paulus: karena kesalehan “mengandung janji untuk kehidupan sekarang dan juga kehidupan yang akan datang”. Don Whitney dalam bukunya “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen” mengidentifikasi janji tersebut sebagai keserupaan dengan Kristus, baik di masa kini maupun di masa depan. Rasul Yohanes menulis dengan yakin bahwa ketika Kristus datang kedua kalinya, “kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2). Perintah Tuhan dalam Ibrani 12:14 lebih lanjut menjangkarkan janji itu di masa sekarang, “kejarlah kekudusan [yang berhubungan erat dengan “kesalehan”], sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Jadi kita berdisiplin rohani, melatih diri untuk hidup serupa dengan Kristus, supaya dapat melihat kehadiran Kristus secara nyata dalam kehidupan kita di masa kini dan mempersiapkan diri menikmati kekekalan bersama dengan-Nya ketika Ia nanti datang yang kedua kali.

Faktor pembeda terakhir yang perlu kita perhatikan adalah peranan manusia dalam praktik agamawi. Kepercayaan-kepercayaan lain pada umumnya mengajarkan praktik agamawi sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan. Implikasinya adalah manusia harus secara aktif mengejar keselamatan lewat berbagai bentuk kesalehan; kesalehan hanyalah hasil dari praktik agamawi. Keyakinan ini bertolak belakang dengan Kekristenan, yang percaya bahwa kesalehan yang sempurna telah dihidupi oleh Yesus Kristus sehingga orang-orang yang percaya kepada-Nya mempraktikkan disiplin rohani untuk menjadi serupa dengan-Nya, bukan untuk memperoleh keselamatan (bdk. 1 Kor. 1:30–31). Kesalehan yang merupakan keserupaan dengan Kristus adalah penyebab sekaligus sasaran dari disiplin rohani, bukan hasil usaha manusia berdosa, “supaya tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri” (Ef. 2:9). Karena keselamatan diberikan Allah kepada kita oleh karunia-Nya semata, kita mempraktikkan disiplin rohani dengan sepenuhnya “menaruh pengharapan kepada Allah yang hidup” (ay. 10), yang telah membuat Kristus “yang tidak mengenal dosa… menjadi dosa karena kita supaya kita dibenarkan Allah di dalam Dia” (2 Kor. 5:21). Ya, untuk janji di kehidupan sekarang dan yang akan datang “itulah kita bekerja keras dan berjuang” (ay. 10), “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10 TB).

Jadi, apa itu ‘disiplin rohani’ menurut Kekristenan? Secara singkat, “praktik-praktik pribadi dan komunal yang melatih setiap pengikut Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya dan mempersiapkan kita menikmati kekekalan bersama-Nya”.

Definisi ini jelas berbeda dari tindakan agamawi kepercayaan-kepercayaan lainnya bukan?

“Apa saja bentuk-bentuk disiplin rohani?”

Sebelum sepenuhnya bergeser dari konsep disiplin rohani menuju bentuk-bentuk praktiknya, kita perlu menyadari adanya bahaya dari ketiadaan batasan bentuk disiplin rohani. Kalau kita “kecanduan” pada perasaan dekat dengan Allah lewat aktivitas-aktivitas tertentu—yang mungkin hanya berlaku untuk diri kita saja—seperti berkebun dan berolahraga, kita dapat melabeli setiap hal sebagai “disiplin rohani”. Don Whitney melanjutkan dalam “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen”, … lebih parahnya lagi, ini berarti bahwa kita sendirilah yang menentukan praktik-praktik mana saja yang paling baik untuk kesehatan dan kedewasaan rohani kita, bukannya menerima dan melakukan praktik-praktik yang telah Allah ungkapkan dalam Alkitab; dengan kata lain, kita mencoba menggeser Allah dari tempat-Nya sebagai Tuhan atas hidup kita.

Kalau begitu, apa saja bentuk-bentuk disiplin rohani yang Alkitabiah? Don Whitney mencatat paling tidak ada 10 praktik yang paling menonjol dalam Alkitab, sebagai berikut:

  1. Bergaul dengan Firman / Bible intake (2 Tim. 3:14–17; Ez. 7:10; Mzm. 119)
  2. Berdoa (Mat. 6:5–9; 1 Tes. 5:17; Lk. 11:1; Mrk. 1:35–39; Mzm. 19)
  3. Beribadah (Yoh. 4:23–24; Ibr. 10:24–25; Mrk. 12:30; Why. 4:8)
  4. Memberitakan Injil (Mat. 28:18–20; Mrk. 16:15; Yoh. 20:21; Kis. 1:8)
  5. Melayani (Ibr. 9:14; Mzm. 100:2; 1 Sam. 12:24; Yoh. 13:12–16)
  6. Penatalayanan / stewardship (Ef. 5:15–16; Yoh. 9:4; 1 Tim. 5:8; 2 Kor. 9:7)
  7. Berpuasa (Mat. 6:16–18, 9:14–15; Ez. 8:23; Kis. 14:23; Mzm. 35:13)
  8. Bersaat teduh / silence and solitude (Kol. 3:2; Mat. 14:23; Lk. 4:42; Yes. 30:15)
  9. Menulis jurnal (Mzm. 86:1, 62:8, 102:18; Rom. 12:3; Ul. 17:18)
  10. Pembelajaran / learning (Mat. 22:37–39; Ams. 10:14, 18:15; Rom. 12:1–2)

Kamu mungkin sangat familiar dengan beberapa praktik di atas dan merasa bisa bertumbuh tanpa perlu mempraktikkan semua yang ada dalam daftar, namun aku ingin mendorongmu untuk mencoba melakukan semuanya, satu demi satu. Mengapa begitu? Karena kesepuluh praktik ini adalah jalan-jalan yang Tuhan rancang sendiri dan berikan kepada kita agar kita dapat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya (bdk. 2 Tim. 3:16–17). Kalau misalkan ada aktivitas-aktivitas lain yang telah dirancang Allah untuk melakukan tujuan yang sama, tentunya mereka pasti dicatat oleh Firman-Nya, bukan?

Masih ada satu pertanyaan besar lagi yang karena keterbatasan waktu tidak bisa kujawab sekarang, yaitu tentang bagaimana melakukan disiplin rohani. Tenang saja, pertanyaan itu akan kubahas minggu depan, beserta dengan catatan satu percakapanku dengan seorang kakak pembina, yang tanpa kuduga-duga merangkum dengan sangat baik realita manusia yang mempraktikkan disiplin rohani.

Semoga artikel ini membantu kamu dalam mulai berdisiplin rohani di dalam Kristus. Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya, Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo Gloria.

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa pengertianmu tentang disiplin rohani sebelum membaca tulisan ini?
  2. Apa motivasimu mempraktikkan disiplin rohani selama ini? untuk menjadi saleh dan mendapat pahala dari Allah, atau untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus?
  3. Disiplin-disiplin rohani mana saja yang telah kamu praktikkan selama ini? Adakah disiplin tertentu yang belum pernah kamu telusuri dan bisa kamu lakukan dalam waktu dekat, baik secara pribadi maupun bersama orang lain, untuk dapat semakin mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus?

Catatan:
kecuali bagian-bagian yang memiliki singkatan TB / ESV, kutipan-kutipan Alkitab dalam tulisan ini memakai terjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Manfaat Melakukan Disiplin Rohani

Jika kita ingin sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan, kita tidak boleh menghindar dari disiplin rohani. Ketika kita melatih diri lewat berdoa, saat teduh, dan bersekutu, di situlah kita membangun relasi yang erat dengan-Nya. Sekalipun tantangan dan godaan selalu datang, tetapi Tuhan sendirilah yang memampukan kita.

Mati dan Bangkit Setiap Hari

Oleh Jefferson, Singapura.

Tema WarungSaTeKaMu bulan ini adalah “Memelihara Tubuh Kristus”. Cakupan tema ini termasuk luas, tapi dalam tulisan ini aku ingin membahas satu aspek dari kehidupan komunal Kristen yang menurutku jarang disentuh, yaitu kebangkitan rohani (revival). Aku pernah membagikan perenunganku terhadap topik ini sebelumnya dalam rapat panitia acara penyambutan pemuda/i baru di gerejaku yang acaranya kebetulan berpuncak pada Kebaktian Kebangkitan Rohani (KKR). Bertepatan dengan peringatan satu tahun setelah KKR itu dilaksanakan, aku ingin meninjau kembali pemikiranku saat itu dan melihat bagaimana pandanganku terhadap kebangkitan rohani mungkin telah berubah.

Mari kita mulai dengan menilik satu perikop di surat Efesus yang menjadi fokus pembahasan kita.

Sebuah Doa untuk Gereja yang “Sangat Baik” Kondisinya

Aku [Paulus] berdoa supaya Ia [Allah Bapa], menurut kekayaan kemuliaan-Nya, meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

Efesus ‭3:16-19‬‬‬ TB

Karena aku baru mengetahui bahwa aku akan membagikan renungan hanya beberapa jam sebelum rapat berlangsung, aku tidak mempelajari latar belakang perikop dan surat Efesus dengan saksama. Sebaliknya, dengan tergesa-gesa aku membaca bagian-bagian sebelumnya dan dengan keliru menyimpulkan terjadinya konflik antara jemaat Yahudi dengan non-Yahudi di Efesus. Aku menafsirkan demikian dari penjelasan Paulus tentang pengalaman pertobatan setiap orang percaya oleh kasih karunia melalui iman (2:1-10), kesatuan semua orang percaya dari segala suku, abad, dan tempat di bawah Kristus (2:11-22), dan misteri Injil (yaitu lewat kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus juga menebus kaum non-Yahudi; 3:1-13).

Namun, setelah membaca surat Efesus dengan teliti, aku menemukan bahwa tidak ada konflik sama sekali antara jemaat Efesus yang Yahudi dan non-Yahudi. Malahan, ketika biasanya surat rasul ditulis untuk menjawab isu-isu tertentu (contohnya 1 dan 2 Korintus), jemaat Efesus adalah satu dari sedikit yang tidak mempunyai permasalahan sama sekali. Fakta ini membingungkanku. Mengapa Paulus mendoakan terjadinya kebangkitan rohani di antara suatu jemaat yang kondisinya sangat baik? Sebelum kembali ke pertanyaan itu dan menjelaskan mengapa aku menyebut doa di atas sebagai doa untuk kebangkitan rohani, mari kita pahami dulu alur perikop ini.

Menanggapi kebenaran-kebenaran luhur dalam bagian-bagian sebelumnya, Paulus memulai doanya di ayat 16 dengan meminta kepada Allah Bapa supaya Roh Kudus dalam hati (“batin”) setiap anggota jemaat Efesus (“kamu” di sini dalam bahasa Yunani bersifat jamak) menguatkan dan meneguhkan mereka dengan kuasa-Nya seturut dengan anugerah-Nya (“kekayaan kemuliaan-Nya”). Apa tujuan dari permohonan ini? Supaya Kristus sang Anak tinggal di dalam hati mereka lewat iman yang dimampukan oleh Roh, sehingga mereka dapat berakar dan berdasar di dalam kasih-Nya (ayat 17). Permintaan itu tidak berhenti di sana. Paulus lalu berdoa supaya melalui peristiwa-peristiwa ini jemaat Efesus dimampukan untuk bersama-sama memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” yang “melampaui segala pengetahuan” itu, yang memimpin mereka untuk “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (ayat 18-19). Dengan kata lain, Paulus berdoa supaya jemaat Efesus dapat semakin mengenal Tuhan dan Juruselamat mereka yang mulia sebagaimana mestinya secara pribadi dan intim sehingga kepenuhan Allah nyata dalam kehidupan mereka. Perikop ini adalah sebuah permohonan kepada Tuhan agar serangkaian sebab akibat terjadi di antara jemaat Efesus, satu permintaan dibangun di atas yang lain.

Yang menarik dari bagian ini adalah jenis kata kerja yang dipakai Paulus dalam setiap permohonannya (“meneguhkan”, “diam”, “memahami”, “mengenal”, “dipenuhi”), yaitu aorist. Dalam bahasa Yunani, jenis kata kerja ini menandakan suatu tindakan yang dimulai pada suatu titik di masa lalu dan berlanjut ke masa depan tanpa adanya titik akhir. Untuk suatu gereja dalam kondisi baik (dalam artian mereka tidak memiliki masalah genting yang perlu dibahas oleh pemimpin gereja setingkat rasul dalam surat mereka), mengapa Paulus mendoakan dengan penuh semangat dan tanpa malu-malu supaya hal-hal besar tersebut terjadi terus-menerus di antara jemaat Efesus?

Sebuah Doa Terbesar untuk Kebangkitan Rohani

Kurasa Paulus ingin mengingatkan mereka tentang bahaya dari kelonggaran rohani. Kita dapat menelusuri jejak maksud ini dalam bagian-bagian berikutnya. Sebagai contoh, tepat setelah perikop ini, Paulus menasihati jemaat Efesus untuk “hidup sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (4:1). Mengapa Paulus terkesan begitu serius dan mendesak? Karena kalau mereka tidak hidup sebagai orang-orang yang berpadanan dengan panggilan mereka, orang-orang percaya di Efesus bisa dengan tanpa sadar mengikuti ajaran-ajaran palsu di sekitar mereka (4:14). Mungkin selama ini mereka bertumbuh dengan baik dan pesat sebagai murid-murid Kristus, tetapi kalau mereka tidak terus mengingatkan diri bahwa mereka sedang berada dalam peperangan rohani, mereka akan kalah. Paulus menggunakan gambaran yang sangat nyata dalam nasihat terakhir di surat Efesus untuk mendeskripsikan medan peperangan yang mereka hadapi: bukan musuh-musuh yang fisik, melainkan “melawan pemerintah-pemerintah,… penguasa- penguasa,… penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,… roh-roh jahat di udara”‬ ‭(6:12‬).

Tetapi ”panggilan“ seperti apa yang telah diberikan kepada jemaat Efesus (dan setiap orang percaya) yang perlu dipadankan dalam kehidupan? Efesus 2 mengajarkan bahwa kita dipanggil untuk berharap kepada keselamatan yang diberikan dalam Kristus oleh kasih karunia melalui iman (ayat 1-10) dan untuk dipersatukan dengan orang percaya lainnya di dalam-Nya (ayat 11-22). Terlebih lagi, Tuhan Yesus dalam Amanat Agung-Nya (Mat. 28:18-20) memanggil kita untuk membawa orang lain kepada pengharapan yang sama yang kita miliki dalam Dia. Bagaimana caranya? Kita harus pertama-tama menjadi seperti Dia, dipenuhi oleh kasih dan kepenuhan-Nya. Bagaimana caranya? Dengan mengenal siapa Dia: Tuhan dan Juruselamat yang kemuliaan dan keagungan-Nya tidak dapat diukur standar manusia. Lagi, bagaimana caranya? Kristus harus tinggal di dalam kita dulu. Tetapi, oleh karena keberdosaan kita, secara natur kita adalah seteru Allah (Rm. 8:7). Untuk terakhir kalinya, jadi bagaimana caranya? Melalui pekerjaan Roh Kudus yang memampukan kita untuk percaya kepada Kristus. Bisa kamu lihat benang merahnya? Dalam Efesus 3:16-19, Paulus berdoa agar Tuhan terus-menerus membangkitkan kita dari kecenderungan kita kepada kematian rohani dan membukakan mata kita untuk mampu melihat Kristus sebagaimana mestinya: “sang Kepala dari segala yang ada” (1:22), yang telah bangkit dari antara orang mati dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga (1:20). Demikianlah kita mendapatkan sebuah doa terbesar untuk kebangkitan rohani yang kita juga dapat ucapkan sendiri.

Menghidupi Kebangkitan Rohani

Kehidupan Kristen adalah sebuah perjalanan ziarah penuh perjuangan untuk terus melihat dan mengenal Kristus dan kasih-Nya di tengah-tengah ombang-ambing “rupa-rupa angin pengajaran” dan “permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan”‬ ‭(Efesus 4:14‬). Karena kita masih hidup dalam dunia yang berdosa, secara alamiah kita akan cenderung berfokus pada berhala-berhala dunia, bukannya pada Yesus. Di sinilah kita melihat manfaat dari sarana-sarana kebangkitan rohani seperti KKR. Sarana-sarana tersebut layaknya defibrillator ilahi yang Tuhan gunakan untuk membangkitkan mereka yang selama ini tanpa sadar berjalan sebagai mayat hidup, baik yang belum percaya maupun yang sudah percaya kepada Kristus. Analogi ini juga menunjukkan bahwa kita yang hidup dalam dosa tidak dapat menghidupkan diri sendiri; kita hanya bisa beriman kepada Allah yang “menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus” (Efesus 2:5).

Dalam renunganku tahun lalu, aku melanjutkan dengan menjelaskan lebih lanjut tentang KKR, sebuah sarana kebangkitan rohani yang umumnya diselenggarakan gereja untuk peristiwa-peristiwa khusus seperti perayaan Natal dan Paskah. Kali ini, aku ingin menutup dengan sebuah aplikasi praktis yang kita bisa langsung jalankan: mengalami kebangkitan rohani setiap kali bangun pagi. Bagaimana caranya? Melalui disiplin-disiplin rohani mendasar iman Kristen, yaitu saat teduh dan doa.

Belakangan ini aku semakin menyadari betapa pentingnya momen ketika aku beranjak bangun dari kasur setiap pagi. Saat kita bangun pagi adalah momen kita paling rentan terhadap panah-panah api si jahat. Ketika kita belum sepenuhnya sadar, perasaan dan pikiran sudah dilanda dengan berbagai kegelisahan akan berbagai hal, baik pekerjaan yang harus kita kerjakan hari itu, kekhawatiran tentang masa depan, maupun masalah yang belum selesai di kantor/sekolah. Hari kita pun dimulai dengan kepungan tanpa ampun dan suara terompet yang menulikan telinga dari musuh tepat ketika fajar mulai menyingsing. Menghadapi situasi seperti ini, kita dihadapkan dengan dua pilihan: dibutakan oleh keegoisan diri yang dengan arogan berpikir bahwa alam semesta berputar di sekeliling kita, atau dengan tenang mendengarkan strategi perang dari sang Raja.

Dari ilustrasiku di atas, kita melihat pentingnya saat teduh dan doa dalam kebangkitan rohani kita sehari-hari. Alih-alih dibingungkan dan tergoda oleh daya tarik berhala-berhala dunia dan gambaran palsu Kristus yang hati kita yang berdosa ciptakan, Allah dalam kasih karunia-Nya membangkitkan kita yang mati dalam dosa dan memampukan kita untuk melihat Kristus sebagaimana mestinya sehingga kita dapat hidup dalam terang-Nya. Lewat saat teduh kita dimampukan untuk melihat keindahan Kristus yang tersembunyi dalam segala sesuatu dan memahami kehendak-Nya bagi kita untuk hari itu, sementara doa menjadi sarana komunikasi dengan Tuhan dalam menyatakan segala ketakutan kita dan menyerahkan diri untuk mematuhi kehendak-Nya. Disiplin-disiplin rohani ini ibarat rapat strategi sebelum perang (yang memberikan kita senjata tempur dalam bentuk pedang Roh) dan walkie-talkie yang terus menghubungkan kita dengan Panglima Tertinggi di tengah panasnya pertempuran.

Puji Tuhan, aku dimampukan untuk terus mempraktikkan kedua disiplin rohani ini sejak aku pindah ke Singapura. Tuhan terutama memakai kata-kata Charles Spurgeon, seorang pengkhotbah Inggris abad ke-19, untuk mendorongku terus berdisiplin: “Cara terbaik untuk hidup tanpa segala ketakutan terhadap kematian adalah dengan mati setiap pagi sebelum meninggalkan kamar tidur.” Karena diriku yang lama sudah mati dalam dosa, yang sekarang hidup di dalamku adalah Kristus, sang “Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Sudah 5 tahun lebih sejak aku melakukan disiplin “mati” dan dibangkitkan dalam Kristus setiap pagi, dan walaupun tidak setiap hari aku berhasil benar-benar “mati”, kasih karunia Allah selalu cukup dalam memenangkan peperangan rohaniku setiap harinya. Ada banyak keputusan dan lompatan iman penting yang kurasa tidak akan kubuat kalau Kristus tidak benar-benar hidup di dalam aku sejak pagi hari, kalau Tuhan tidak mencelikkan mataku yang buta terlebih dahulu untuk melihat kemuliaan dan keindahan Yesus Kristus dalam segala hal.

Menghidupi Kebangkitan Rohani Bersama

Sebagai penutup, bisakah kamu menduga kaitan aplikasi praktis ini dengan “memelihara tubuh Kristus”? Kalau kamu belum sadar, Paulus dalam doanya tidak pernah meminta kepada Tuhan supaya kita memahami dalamnya kasih Kristus sendirian. Sebaliknya, Paulus memohon agar setiap kita dapat mengenal dan mengasihi Kristus “bersama-sama dengan segala orang kudus” (Efesus 3:18a). Kamu tidak bisa mengenal kemuliaan Kristus yang tak dapat diukur sendirian; kamu membutuhkan perspektif dan pengalaman orang lain untuk dapat melihat batasan lain dari lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus (Efesus 3:18b). Bertekunlah dalam kelompok pemuridan kalau kamu punya, dan kalau kamu belum punya, bergabung dan bertekunlah di sana.

Semoga perenunganku ini dapat membantumu melihat kebangkitan rohani dari perspektif yang lain dan mengaplikasikannya dalam kehidupanmu sehari-sehari. Aku berdoa supaya setiap kita terus bertumbuh “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Efesus 4:13).

Tuhan Yesus memberkati, Soli Deo gloria.

Baca Juga:

Ditelantarkan… Tapi Tidak Dilupakan

Kisah hidupku dimulai dengan ditelantarkan. Aku tidak tahu siapa kedua orang tuaku, pun mengapa aku dilahirkan. Tetapi, Tuhan merajut kisah hidupku.

Membaca Alkitab di Zaman yang Sibuk

Oleh Yunias Monika, Tangerang

Disadari atau tidak, perkembangan teknologi yang makin pesat telah mengubah cara hidup manusia, termasuk di dalamnya bagaimana cara kita memakai waktu. Coba kita hitung, ada berapa grup WhatsApp dan akun media sosial di smart-phone kita? Belum lagi jumlah akun belanja online. Manusia jadi sangat sibuk memeriksa ruang-ruang digital yang semuanya menuntut waktu. Dan, tidak bisa dimungkiri, di tengah padatnya aktivitas, kita membutuhkan pengalihan dari kesibukan. Apa yang biasanya dilakukan? Jujur saja, membaca Alkitab seringkali tidak semenarik menjelajah Instagram atau melihat-lihat flash sale. Kesibukan digital telah menepikan kerinduan untuk mencari Tuhan dan firman-Nya.

Sebagai ibu bekerja yang tidak punya pengasuh anak, aku harus membagi diriku untuk urusan domestik di rumah, belajar hal baru terkait pekerjaan paruh waktuku, membalas email, mengajak anak lelakiku bermain, membalas pertanyaan atau memberi ucapan kepada teman-teman di grup WhatsApp. Meskipun sudah bangun pukul 4 pagi, rasanya sulit sekali menyisihkan waktu 30 menit untuk membaca satu pasal per hari. Bagiku, kegiatan membaca Alkitab selalu berkompetisi dengan berbagai gangguan dan kegiatan lain.

Namun, Tuhan terus memberiku semangat untuk membaca Alkitab.

Gerejaku menggalakkan program membaca Alkitab bersama lewat satu aplikasi bernama GEMA-Gemar Membaca Alkitab GKI Gading Serpong. Setiap hari jemaat mendapat notifikasi pasal berapa yang harus dibaca. Selain itu, ada pula admin yang mengelola grup setiap kelompok. Lewat grup ini, jemaat bisa melihat siapa yang sudah atau belum membaca pasal berapa, karena masing-masing peserta harus memperbarui status pasal yang sudah dibaca. Dengan demikian, aku dan jemaat lain belajar disiplin membaca pasal secara urut. Di sini, teknologi menjadi sarana untuk mendiskusikan firman Tuhan.

Aku yang dulu selalu kesulitan mencari waktu, mulai bisa menciptakan waktu untuk membaca Alkitab, meskipun jamnya belum menentu. Ketika badanku belum terlalu lelah, aku akan membaca Alkitab. Biasanya, waktu terbaikku adalah setelah mandi sore, saat anakku tidur siang, saat sedang jam istirahat mengajar, atau waktu pagi-pagi sekali.

Jika kamu pernah mengalami pergumulan sepertiku, sulit untuk konsisten membaca Alkitab, ada dua tips yang bisa kuberikan:

1. Kamu bisa mencari kelompok yang membaca pasal yang sama setiap hari, supaya lebih semangat dan memiliki teman untuk mendiskusikan firman Tuhan.

2. Membaca setiap pasal secara urut membantu kita memahami konteks bacaan, merasakan kaitan antara satu ayat dengan ayat lain dan menciptakan rasa ingin tahu mengapa ayat tertentu ditulis dan kepada siapa ayat itu ditujukan pada zaman kitab itu ditulis.

Di kehidupan kita sekarang ini, teknologi hadir dengan ruang-ruang digital yang dapat menyita waktu dan mengalihkan perhatian kita, termasuk dalam memperhatikan firman Tuhan. Meski demikian, Tuhan selalu memberi kita waktu dan kesempatan yang cukup, sekalipun kita sering merasa tidak cukup.

Milikilah kerinduan untuk selalu haus akan firman-Nya, dan Tuhan akan menjawab kerinduan itu.

“Dan pergunakanlah waktu-waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5:16).

Baca Juga:

Jangan Sia-siakan Waktu Menunggumu!

Menunggu adalah hal yang sulit, terlebih ketika kita tidak tahu bagaimana jawaban dari doa-doa kita kelak. Aku bergumul selama masa-masa itu, aku susah payah menginginkan jawaban dari Tuhan apa alasan dan tujuan dari semua peristiwa ini.

Memulai Kembali Komitmen Bersaat Teduh.

Subtitle oleh Ferry Setiawan

“Saat teduhku bolong-bolong, sekarang aku mau mulai komitmen lagi untuk disiplin bersaat teduh!” Sobat muda, pernahkah kamu mengalami hal serupa? Di awal tahun, mungkin kita begitu bersemangat bersaat teduh. Tapi, seiring berjalannya waktu kita jadi merasa malas hingga lupa bersaat teduh.

Jika sudah begini, apakah memperbarui komitmen untuk kembali konsisten bersaat teduh dapat dikategorikan sebagai sebuah pertumbuhan rohani?

Yuk cari tahu jawabannya dalam video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh
Puasa Orang Kristen
Tips untuk Berhasil Menjalani Puasa
Cara Mengendalikan Diri
Bagaimana Jika Kita Dicap “Sok Suci?”