Posts

Menemukan Kepuasan di Tengah Rutinitas Sehari-hari

Oleh Matthew Geddes
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Finding Fulfillment In The Daily Grind

Setelah beberapa malam kurang tidur, aku kembali ke depan komputerku dan menyiapkan hariku. Aku duduk di lantai dasar. Gelap dan dingin. Aku merasa lelah. Kupikir aku butuh satu atau dua cangkir kopi.

Di momen itu, aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah hidup cuma begini-begini saja?” Aku berharap aku ada di luar ruangan, diterpa sinar matahari yang hangat di salah satu tempat favoritku: di pegunungan, dikelilingi oleh keindahan ciptaan-Nya. Ayat Alkitab yang sering kudengar di banyak khotbah, seperti “mengucap syukurlah dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18) terasa jauh dan samar, ibarat musim panas yang kehadirannya masih sangat lama di tengah musim dingin.

Lalu aku melanjutkan aktivitas dengan Zoom-meeting bersama teman-teman kerjaku. Satu temanku sedang marah dengan komputernya yang jadi musuh bebuyutannya. Temanku yang kedua sedang frustasi dengan platform hosting untuk acara virtual kami. Temanku yang ketiga hanya diam. Dia sedang dirumahkan sementara dari pekerjaannya dan sangat bergumul.

Seiring aku melihat pergumulan pelik dari masing-masing temanku, aku jadi terbangun. Aku bisa melanjutkan hariku dengan setengah mengantuk, memfokuskan diri pada apa yang aku ingini, dan mungkin tak akan ada yang tahu perbedaannya kecuali Tuhan. Atau, daripada aku berandai-andai sedang berada di mana, aku bisa sungguh hadir di meja kerjaku dan memuliakan Tuhan dengan sepenuh hati bekerja untuk-Nya (Kolose 3:23).

Aku teringat sebuah penelitian yang digagas oleh Amy Wrzeniewski di sebuah rumah sakit. Dia mengidentifikasi beberapa pekerja harian (seperti petugas kebersihan, dsb) yang bekerja melampaui tugas-tugas rutin mereka. Satu pekerja yang bekerja di unit pasien yang mengalami koma, secara rutin mengganti hiasan seni di dinding supaya pemandangan yang berbeda tersebut merangsang perkembangan otak si pasien. Pekerja yang lain akan menemui dan membimbing keluarga pasien dari pintu masuk rumah sakit sampai ke ruangan pasien dirawat. Tidak seperti pekerja harian lainnya, para pekerja ini melihat diri mereka sebagai bagian integral dari tim medis yang berkontribusi untuk menyembuhkan dan memulihkan para pasien.

Apa yang bisa kita pelajari dari para pekerja rumah sakit ini? Mereka melihat melampaui batasan-batasan rutinitas harian, yang banyak orang mungkin melihat pekerjaan mereka sebagai pekerjaan yang kasar atau remeh. Namun, mereka mampu mengkoneksikan pekerjaan remeh tersebut dengan sesuatu yang jauh lebih besar—mereka punya tujuan yang menggerakkan apa yang mereka lakukan.

Bagaimana kita dapat mengaplikasikan pola pikir ini ke dalam pekerjaan atau studi kita, atau ketika kita mendambakan seharusnya kita bekerja di tempat lain? Untuk menjawabnya, kita perlu mengingat bahwa pekerjaan kita bukanlah tentang kita. Tuhan punya tujuan yang lebih besar daripada sekadar membuat kita senang; kita dipanggil untuk menghidupi hidup yang memancarkan kebaikan-Nya (Matius 5:16). Mengingat kebenaran ini dapat menolong kita. Ketika tantangan dan pergumulan meradang, kita bisa memberi ruang bagi Tuhan untuk memimpin kita percaya pada-Nya.

Kedua, adalah sangat menolong apabila kita bisa mengaitkan apa yang kita lakukan dengan bagaimana itu dapat berdampak bagi orang lain. Untuk menolong kita melakukan ini, penulis Emily Esfahani menyarankan kita untuk mengambil pekerjaan rutin dan bertanya pada diri kita sendiri, “Kenapa aku melakukan ini” sebanyak tiga kali. Saat kita melakukan ini, kita kemudian akan menemukan bahwa apa yang kita kerjakan membawa kebaikan bagi orang lain. Seperti yang Bryan Dik dan Ryan Duff catat (mereka berdua penulis dari buku Make Your Job Your Calling), hampir setiap pekerjaan, apa pun itu, memberi perbedaan di hidup orang lain jika kamu sungguh-sungguh memikirkannya.

Sebagai contoh, aku menelaah ratusan resume dari mahasiswaku. Menerapkan saran dari Emily, jawabanku adalah “supaya mahasiswaku bisa mendapat pekerjaan yang sepadan dari studi yang telah mereka lalui dengan upaya keras.” Jawaban akhirku jauh lebih berarti dan memotivasi bagiku karena aku bisa melihat lebih jelas dampak dari aktivitasku bagi orang lain. Itu menolongku untuk berpindah dari sikap aku “harus” bekerja dengan segenap hatiku, menjadi aku “mau” bekerja dengan segenap hatiku (Kolose 3:23).

Terakhir, kita bisa mengambil aksi yang kecil tetapi jelas untuk membuat hidup seseorang lebih baik seperti yang dilakukan oleh para pekerja di rumah sakit di atas. Sikap seperti ini tidak hanya Alkitabiah (ingat kisah Orang Samaria yang baik hati di Lukas 10:30-37), melakukannya menolong kita untuk meningkatkan rasa puas kita terhadap apa yang kita kerjakan. Kepuasan itu bisa datang dari hal yang remeh seperti mendengarkan rekan kerjamu ketika mereka curhat, atau tersenyum kepada seseorang yang kepadanya kamu memberikan secangkir kopi.

Seiring aku mendapati tindakan seperti ini dapat memberikan emosi positif bagiku dan orang lain, yang paling penting adalah: membagikan kebaikan bagi orang lain mengingatkanku akan betapa Tuhan sudah baik bagiku, dan itu memuliakan-Nya.

Di dalam pekerjaanku sendiri, mengingat mengapa aku bekerja tidak hanya meningkatkan kepuasanku, tetapi juga menguatkan relasiku dengan sesama rekan kerja, dan menolong orang lain untuk melihat orang Kristen lebih positif, terkhusus di lingkungan yang tidak ramah terhadap kekristenan.

Jika kelak kamu mendapati dirimu bertanya “mengapa aku melakukan ini?”, bergabunglah bersamaku untuk mengingat para pekerja kasar di rumah sakit, yang banyak orang menganggap pekerjaan mereka itu remeh, tetapi mereka menjadikan apa yang remeh itu sebagai kesempatan untuk menciptakan perbedaan. Kemudian, tanyalah Tuhan, “apa yang bisa kupikirkan dan kulakukan secara berbeda untuk memuliakan-Mu?” dan lihatlah kesempatan-kesempatan yang Tuhan bukakan buatmu.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tembok Bata dari Jaring Laba-laba

Ketika seorang tentara berdoa memohon tembok bata untuk melindunginya dari musuh, Tuhan malah menjawabnya dengan mengirim seekor laba-laba. Apa yang terjadi setelahnya?

Bosan Tidak Selalu Jadi Pertanda untuk Berhenti

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

“If you are tired, learn to rest, not quit.”

Pesan di atas kuterima di bulan keenam tahun 2018 dari seorang teman dekat yang mengetahui keputusanku untuk mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi pelayanan intern-kampus. Jenuh merupakan faktor utama yang mendorongku untuk memutuskan mundur dari koordinasi yang seharusnya kuselesaikan hingga bulan Desember di tahun yang sama.

Sebagai pengurus, aku dan kesembilan teman dalam koordinasi biasanya memiliki jadwal yang padat. Selain karena kami juga masih menjalani rutinitas kuliah, kegiatan di organisasi dengan visi pelayanan “murid yang memuridkan kembali” tersebut juga terbilang cukup padat. Kegiatan dalam Kelompok Kecil yang merupakan ujung tombak dari pelayanan tak boleh luput dari pantauan kami sebagai motor organisasi di tahun itu. Begitu juga dengan kegiatan lain seperti persiapan ibadah yang biasanya dilakukan 2 kali sebulan, jam doa puasa, pelatihan untuk meningkatkan keterampilan anggota organisasi yang masih mahasiswa hingga harus menjalin komunikasi dengan keseluruhan anggota baik alumni maupun mahasiswa melalui sharing ataupun via daring serta mengadakan pertemuan untuk regenerasi kepengurusan di tahun mendatang.

Hampir setiap malam kami harus bertemu di rumah sekretariat, terkadang kami juga harus sampai begadang karena susah mencocokkan jadwal kosong di siang atau sore hari. Aktivitas yang di awal membuatku bersemangat perlahan berubah menjadi rutinitas yang berlalu tak berbekas ataupun bermakna. Di bulan keenam, kuberanikan diri bercerita dengan seorang teman yang juga pernah mengerjakan kepengurusan. Walau berbeda kampus namun aku percaya dia bisa jadi tempat berbagi.

“Mengapa kemarin mau menerima pelayanan itu?” Pertanyaan pertama darinya membuatku mengingat kembali momen ketika PKK-ku (Pemimpin Kelompok Kecil) secara khusus mengajakku membahas firman Tuhan dari Lukas 19:28-40 tentang bagaimana Yesus dielu-elukan di Yerusalem.

Di sana diceritakan bagaimana Yesus meminta murid-murid-Nya membawa keledai untuk-Nya yang akan ditunggangi-Nya menuju Yerusalem. Saat Yesus akan menaiki keledai, orang-orang menghamparkan pakaiannya dan membantu Yesus menaiki keledai itu.

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang Maha Tinggi”, kata semua murid yang mengiring Dia. Karena hal itu, orang Farisi menegur Yesus, “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu”. Jawab Yesus, “Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak” (Ayat 40).

“Jangan mengeraskan hati dek, jika Tuhan mau, batu pun bisa dipakai-Nya untuk melayani Dia”, begitu kakak di kelompok kecil mengingatkanku di akhir pertemuan itu.

“Ahk, aku capek. Bosan! Daripada kukerjakan tapi tidak dari hati” belaku dengan berbagai alasan pembenaran atas keputusanku. Merasa lelah karena terlalu sering dipekerjakan merupakan salah satu penyebab kejenuhan. Walau tak selalu benar, kejenuhan bisa menjadi alasan bagi kita untuk tidak mengerjakan hal itu lagi.

“If you tired, learn to rest, not quit”, kutipan di awal tulisan ini mengingatkanku untuk menyediakan waktu beristirahat alih-alih mundur dan mengingkari komitmen yang sudah diambil. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus juga pernah mengajak murid-murid-Nya untuk beristirahat ketika mereka harus memberi makan lima ribu orang yang mengikuti mereka (Markus 6:31). Tentu beristirahat dan berhenti adalah dua hal yang berbeda. Secara perlahan dengan pertolongan-Nya, aku mengingat kembali kenapa aku mau menerima tanggung jawab itu. Dengan menyediakan waktu untuk beristirahat, itu berhasil membantuku memulihkan keadaanku saat itu.

Jenuh, jemu, bosan menggambarkan situasi emosional di mana kita sudah tidak suka dengan si objek yang bisa jadi dalam bentuk keadaan, pekerjaaan, lingkungan bahkan hubungan dengan seseorang. Ayah yang sudah bosan bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama; ibu yang jenuh dengan urusan dapur dan kegiatan beres-beres yang dilakukan setiap hari; anak yang jemu duduk berjam-jam di kelas ditambah dengan tugas sekolah; atau mungkin sepasang kekasih yang mulai bosan dengan dering telpon yang dipisahkan jarak; bahkan kita anak-anak Tuhan yang mungkin merasa jenuh menjalin persekutuan dengan-Nya.

Memasuki bulan keempat setelah aturan-aturan untuk menanggulangi pandemi virus corona digalakkan, beradaptasi untuk menghilangkan kejenuhan bukanlah perkara yang mudah. Berhenti beraktivitas dari rumah, pergi berkerumun, atau menolak anjuran pemerintah tentu memiliki konsekuensi tersendiri khususnya bagi kesehatan kita. Sebagai individu yang diciptakan berbeda-beda, tips treatment untuk kejenuhan orang yang satu bisa saja tidak mempan untuk yang lainnya. Pilihan untuk menikmati waktu dengan keluarga, mengubah situasi kamar atau rumah agar lebih nyaman untuk belajar dan bekerja dari rumah, hingga mencari kreativitas lain agar tetap waras selama #DiRumahaAja terdengar klise dan tak berpengaruh. Namun sebagai ciptaan-Nya kita perlu mengingat bahwa pada-Nya ada jawaban dari setiap pergumulan kita dan pada-Nya ada kelegaan bagi setiap kita (Matius 11:28).

Kiranya kita bisa memaknai setiap waktu atau kesempatan dengan bijaksana. Sama seperti Musa, biarlah kita tak bosan meminta kekuatan dari Tuhan untuk menyadari berharganya setiap waktu yang ada (Mazmur 90:12).

Dia akan menolong dan memulihkan semangat kita (Yesaya 40:29).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Ketika Aku Terjebak Membandingkan Diriku dengan Orang Lain

Aku pernah ada dalam kondisi membandingkan diriku dengan orang lain. Dan orang itu adalah teman terdekatku! Aku merasa temanku itu lebih baik dalam banyak hal, terutama pelayanan yang dia kerjakan.

Saat Hidup Terasa Begitu Hambar

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta
Ilustrasi gambar oleh Galih Reza Suseno

Kecewa. Jenuh. Hambar.

Tiga kata itu adalah gambaran dari masa-masa kelam yang sempat kulalui di awal tahun 2017. Sebagai seorang sarjana fresh graduate yang baru diwisuda beberapa bulan sebelumnya, aku memimpikan hidup yang signifikan dan penuh petualangan. Aku punya mimpi besar ingin menjelajah ke banyak tempat dan menaklukkan tantangan baru. Namun, mimpi itu seolah sirna begitu saja ketika akhirnya aku mendapati diriku bekerja sebagai seorang editor yang notabene adalah pekerja kantoran yang pergi-pagi-pulang-petang setiap hari.

Sebagai seorang anak muda yang punya mimpi meletup-letup, pekerjaan ini membuat hidupku begitu hambar, biasa saja. Tidak ada peristiwa-peristiwa dramatis yang terjadi. Tidak spektakuler. Dan, kalau boleh jujur, terasa amat membosankan. Aku tidak melihat ada keistimewaan di balik memelototi layar komputer, berkutat dengan kata-kata, dan terus menerus setiap hari seperti ini.

Yang ada dalam benakku hanyalah weekend, weekend, dan weekend supaya aku bisa melarikan diri dari pekerjaan dan jalan-jalan menghibur diri. Bahkan, karena merasa begitu bosan dengan pekerjaan ini, aku sempat terpikir untuk dipecat saja oleh atasanku supaya nanti bisa kembali ke Yogyakarta dan mencari pekerjaan lain di sana.

Namun, ketika dihadapkan pada keadaan di mana aku nyaris “dipecat”, aku merasa hidupku mulai terguncang. Setelah sekitar 3 bulan bekerja, direkturku datang menemuiku. Mulanya pertemuan kami berlangsung hangat dan ceria hingga akhirnya dia bicara serius denganku. Katanya, kinerjaku belum memenuhi ekspektasinya. Sepenangkapanku, jika aku ingin tetap bekerja di sini, mulai dari saat itu aku diberi waktu 3 bulan untuk memperbaiki kinerja.

Jika sebelumnya aku sempat berpikir untuk dipecat, seharusnya kejadian hari itu membuatku senang. Tapi, malam harinya aku pulang dengan perasaan gugup. Aku berpikir keras, jika sampai aku dipecat, mau kerja apa? Lagipula pengalamanku pun belum banyak. Malam itu aku merasa ada yang salah dengan diriku dan aku berusaha mencari tahu apa salahnya.

Aku menangis dan berdoa. “Tuhan, aku gak tahu lagi mau gimana. Aku jenuh. Aku stres. Aku gak suka dengan kerjaanku. Tapi aku juga gak mau kalau sampai kehilangan pekerjaan ini. Tolong aku.”

Sebuah teguran keras dari Tuhan

Suatu ketika, saat aku sedang melakukan perjalanan di atas kereta ekonomi, aku membuka catatan harianku pada tahun 2015. Di halaman keduanya, terdapat sebuah artikel dari Arie Saptaji yang berjudul “Di Balik yang Biasa-biasa Saja”. Dalam salah satu paragrafnya, dia mengutip sebuah tulisan dari Mark Galli yang berjudul “Insignificant is Beautiful”. Isinya adalah sebagai berikut:

“Pencarian akan signifikansi, khususnya bila berkaitan dengan mengubah dunia ini, dapat membutakan kita terhadap aktivitas keseharian, tugas remeh, dan pekerjaan kotor yang merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup dalam pemuridan.”

Apa yang kubaca begitu menamparku. Aku mendambakan kehidupan yang signifikan di mana aku bisa melakukan hal-hal luar biasa dan mewujudkan mimpi-mimpiku. Namun, tanpa kusadari, obsesi berlebihan pada keinginan itulah yang membuatku kehilangan makna dari setiap aktivitas rutin yang kulakukan. Aku menganggap pekerjaanku terlalu remeh. Keinginan untuk mewujudkan hidup yang luar biasa tanpa disertai hikmat telah membuatku buta akan hal-hal yang seharusnya kulakukan sebagai tanggung jawabku.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menuliskan demikian: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Ayat ini juga menamparku dengan keras. Paulus tidak menyebutkan bahwa untuk memuliakan Allah kita harus berkhotbah di hadapan ribuan jemaat, bekerja sebagai direktur, bertulalang ke tempat-tempat jauh, atau memiliki ribuan followers di Instagram. Paulus hanya menuliskan jika kita makan, atau minum, atau lainnya, lakukan semuanya untuk kemuliaan Allah! Artinya, segala aktivitas sederhana dan remeh-temeh yang kita lakukan pun sejatinya bisa dipakai-Nya sebagai sarana untuk memuliakan-Nya.

Akhirnya, aku menyadari bahwa di sinilah letak kesalahan yang kupelihara selama beberapa bulan pertama. Aku lupa untuk memuliakan Allah di balik pekerjaan yang kulakukan. Selama ini aku hanya berfokus pada diriku sendiri. Aku berfokus untuk mengejar mimpi, tapi aku lupa bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk mewujudkan mimpi itu atau tidak.

Jika makan dan minum saja bisa digunakan untuk memuliakan Allah, maka seharusnya pekerjaanku memelototi layar komputer pun bisa dipakai untuk memuliakan-Nya. Ketika aku melakukan pekerjaanku untuk Tuhan, itu berarti aku menjadikan Tuhan sebagai saksi dan penonton utama dari setiap pekerjaanku. Aku percaya bahwa ketika tulisan-tulisan yang kuedit berhasil ditayangkan dan memberkati banyak orang, di situlah Tuhan menepuk pundakku dan berkata, “Good job.” Atau, ketika aku merasa lelah dan buntu ide, di situ jugalah Tuhan merangkulku dan berkata, “Ayo semangat, kamu pasti bisa!

Memaknai hidup dari perspektif yang baru

Sekarang, sudah setahun aku berkutat dengan pekerjaan di balik layar komputer. Tuhan telah mengubahku memandang pekerjaan yang pada mulanya terasa hambar buatku menjadi sebuah pekerjaan yang banyak rasa. Dalam bekerja dan kehidupan keseharianku, rasa jenuh memang tidak terhindarkan. Namun, alih-alih kecewa, sedih, dan terpuruk, aku mengalihkan rasa jenuh itu dengan karya yang lain. Jika dahulu aku menjadikan bepergian sebagai pelarian, kini aku menjadikannya sebagai kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan kapasitasku sebagai seorang editor. Dari tiap-tiap perjalananku, aku menuliskannya dalam sebuah blog perjalanan yang kukelola sendiri.

Ada sebuah kutipan bijak dari Bunda Teresa yang selalu kuingat.

“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love”—Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Tapi, kita bisa melakukan hal kecil dengan kasih yang besar.

Pada intinya, hambar atau tidak kehidupan ini tergantung dari bagaimana cara kita memaknainya. Jika kita memaknai hidup ini hanya sekadar rutinitas menuju akhir hayat, maka kita takkan mampu mengecap banyak rasa darinya. Akan tetapi, ketika kita menyadari bahwa tiap-tiap aktivitas yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan-Nya, maka tak ada lagi hal-hal yang terkesan terlalu biasa untuk kita lakukan.

Ketika kita setia dengan hal-hal kecil atau remeh-temeh yang Tuhan berikan sebagai bagian dari tanggung jawab kita, percayalah bahwa Dia akan memberikan kepada kita tanggung jawab yang lebih besar.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Baca Juga:

7 Doa untuk Korban Bencana Alam

Teruntuk korban bencana alam, kami mengingat kalian, dan menyebut nama kalian di dalam doa kami. Mari kita berdoa memohon tujuh hal berikut ini kepada Tuhan untuk mereka yang menjadi korban bencana alam.