Posts

Sportivitas

Sabtu, 7 April 2018

Sportivitas

Baca: Titus 2:7-8,11-14

2:7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

2:8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.

2:11 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.

2:12 Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini

2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

Jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. —Titus 2:7

Sportivitas

Saat pelari asal Singapura, Ashley Liew, menyadari bahwa ia berlari paling depan dalam perlombaan maraton di Pesta Olahraga Asia Tenggara, ia langsung tahu ada yang salah. Ia melihat bahwa para pelari lain yang tadinya memimpin perlombaan itu telah berbelok ke jalan yang salah dan sekarang mereka tertinggal di belakangnya. Ashley bisa saja memanfaatkan kesalahan mereka, tetapi semangat sportivitas yang dipegangnya teguh mengajarkan bahwa cara itu tidak akan menjadikannya pemenang sejati. Ia ingin menang karena berlari lebih cepat, bukan karena para pelari lainnya salah jalan. Karena keyakinan itulah Ashley memperlambat larinya agar mereka dapat menyusul.

Pada akhirnya, Ashley kalah dalam perlombaan itu dan tidak memperoleh medali. Namun, ia mendapat penghormatan dari warga sebangsanya serta penghargaan internasional atas sikapnya yang sportif. Sikap Ashley juga memberikan kesaksian iman yang baik, sehingga tentu ada yang tergerak untuk bertanya, “Apa yang mendorongnya berbuat demikian?”

Sikap Ashley menantang saya untuk membagikan iman saya melalui perbuatan nyata. Perbuatan kita yang sederhana—seperti menunjukkan perhatian, membagikan kebaikan, atau membawa pengampunan—dapat memuliakan Allah. Itu seperti yang dikatakan Paulus, “Kalau engkau mengajar, engkau harus jujur dan bersungguh-sungguh. Pakailah kata-kata yang bijaksana, yang tidak dapat dicela orang” (TiT. 2:7-8 bis).

Sikap kita yang positif terhadap orang lain dapat menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu tampil beda dalam hidup ini karena Roh Kudus berkarya di dalam kita. Dia akan memberi kita kesanggupan untuk menjauhi dosa dan keinginan duniawi, serta untuk menjalani hidup benar yang mengarahkan orang kepada Allah (ay.11-12). —Leslie Koh

Bapa Surgawi, kiranya perilaku kami membuat orang lain ingin tahu mengapa kami mampu tampil beda. Tolonglah kami untuk mengikuti pimpinan Roh-Mu yang kudus saat kami menjelaskan kepada mereka tentang pengharapan yang kami miliki.

Jalanilah hidup sedemikian rupa sehingga orang lain ingin mengenal Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 7-9; Lukas 9:18-36

Roh Kudus dan Indikator Tangki Bensin

Oleh Raganata Bramantyo, Jakarta

Saat berkunjung ke Yogyakarta minggu lalu, ada peristiwa tidak terduga yang kualami.

Sebelum malam harinya kembali ke Jakarta, aku menyempatkan diri untuk berbelanja di pasar terlebih dulu. Hari itu, aku tidak sendirian, seorang sahabatku bersedia mengantar dan menemaniku. Setelah proses berbelanja usai, kami pun kembali ke rumah menaiki sepeda motor.

Sedari di parkiran, indikator tangki bensin motor sudah berkedip-kedip, pertanda tangki harus segera diisi. Aku pun menepuk pundak sahabatku dan mengingatkannya supaya nanti mampir sejenak di SPBU. Tapi, dia menolak. “Masih cukup ini, selow aja,” katanya meyakinkanku bahwa kapasitas bensin dalam tangkinya masih cukup untuk mengantar kami tiba di rumah. Ya sudah, aku pun tidak memaksanya untuk mampir ke SPBU, karena mungkin saja sahabatku itu lebih paham kemampuan motornya. Kami pun mengobrol asyik sepanjang jalan.

Tapi, baru setengah perjalanan pulang, motor yang kami tumpangi mendadak tak bertenaga, lalu segera mati mesinnya.

Loh, waduh, abis ini bensinnya,” kata sahabatku.

Lah, gimana? Tadi kusuruh mampir pom bensin katanya nggak usah,” timpalku.

Akhirnya, di siang hari yang terik, kami pun harus turun dari motor dan berjalan kaki mencari penjual bensin eceran seraya menenteng belanjaan. Melelahkan sekali rasanya. Lalu, timbul pula rasa menyesal, mengapa tadi kami tidak mampir saja ke pom bensin, toh kan tidak akan makan waktu lama juga. Tapi, penyesalan di akhir memang sudah terlambat. Kami tetap harus berjalan hingga menemukan penjual bensin eceran.

Peristiwa yang terjadi siang itu jelas bukanlah peristiwa yang kami harapkan. Tapi, ada satu pelajaran yang dapat kami petik.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebenarnya ada indikator-indikator yang Tuhan berikan untuk mengingatkan kita; kapan kita harus berhenti, kapan kita harus memulai, kapan kita harus berdoa, kapan kita harus melepaskan pengampunan, dan lain-lainnya. Namun, seringkali, kita malah mengabaikan indikator-indikator tersebut dengan asumsi bahwa tanda yang diberikan itu bukan sesuatu yang mendesak, persis seperti apa yang aku dan sahabatku lakukan tatkala menyikapi indikator tangki bensin yang berkedip-kedip.

Dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, indikator yang selalu berkedip-kedip mengingatkan kita itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus memiliki peranan untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, penghakiman, juga memimpin hidup kita kepada kebenaran (Yohanes 16:7-11). Dengan pertolongan Roh Kuduslah kita dimampukan untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah.

Namun, pada praktiknya, dalam kehidupan kita, kita seringkali mengabaikan suara Roh Kudus itu. Sewaktu duduk di bangku SMA dulu, aku sempat terjebak ke dalam dosa pornografi. Pertama kali aku membuka situs-situs dewasa tersebut, ada perasaan takut yang bergejolak. Roh Kudus dengan jelas mengatakan dalam hatiku bahwa apa yang kulakukan itu adalah dosa dan berpotensi merusak diriku. Tapi, roh kedagingan yang berbentuk penasaran yang juga bicara sama kuatnya. Aku pun mengabaikan suara Roh Kudus dan terus melanjutkan penjelajahanku di dunia pornografi tersebut.

Roh Kudus telah memberitahuku supaya aku berhenti dan berbalik dari perbuatan berdosa itu. Tapi, aku memilih untuk mengabaikan suara-Nya hingga pada akhirnya, sampai aku berada di titik hampir kecanduan, aku merasa begitu menyesal karena telah terjebak di dalam dosa ini. Jika saja sedari dulu aku mengikuti suara Roh Kudus, tentu aku tidak akan terjebak terlalu dalam. Singkat cerita, aku bersyukur karena melalui perjalanan panjang dan perjuangan berat, aku pun bisa dilepaskan dari perbuatan tercela itu.

Jika aku merenung dan menelaah kehidupan ini lebih dalam lagi, sebenarnya Roh Kudus bicara dalam berbagai cara dan dalam banyak peristiwa. Ketika kita berbuat dosa dan muncul rasa takut, itu adalah indikator supaya kita berhenti dan memohon pertobatan kepada Allah. Ketika hati terasa begitu jengkel dan dipenuhi amarah dan kita menjadi stres, itu adalah indikator untuk kita berdoa sejenak, melepaskan pengampunan, dan bersandar pada Allah yang Mahakuat. Mengabaikan indikator yang diberikan Roh Kudus ini bisa jadi malah membawa kita kepada kerusakan yang lebih buruk, yang jikalaupun kita menyesal, butuh upaya ekstra untuk kembali pulih.

Kita memiliki dua pilihan yang bisa kita ambil tatkala Roh Kudus berbicara pada kita: menaati-Nya, atau malah mengabaikan-Nya. Ketika kita memilih untuk taat pada suara-Nya, saat itulah Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan mengingatkan kita akan segala hal yang telah Yesus ajarkan kepada kita (Yohanes 14:26).

Baca Juga:

Belajar dari Albert McMakin, Tokoh di Balik Transformasi Billy Graham

Billy Graham memang dipakai Tuhan dengan luar biasa dan kita pun mengenalnya sebagai pribadi yang hebat. Namun, tidak banyak dari kita tahu bahwa di balik nama Billy Graham itu ada seseorang yang amat berjasa bagi hidup Billy. Siapakah orang itu?

Sukacita Berlimpah dari Allah

Minggu, 4 Maret 2018

Sukacita Berlimpah dari Allah

Baca: Mazmur 16:5-11

16:5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

16:6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

16:9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;

16:10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. —Mazmur 16:11

Sukacita Berlimpah dari Allah

“Entah apa yang telah kulakukan?” Masa itu seharusnya menjadi salah satu masa yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Namun, saya justru merasa begitu kesepian. Waktu itu, saya baru lulus kuliah dan memperoleh pekerjaan “sungguhan” pertama saya di sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dari tempat asal saya. Namun, sensasi dari langkah besar tersebut tidak bertahan lama. Yang saya punya hanya sebuah apartemen mungil tanpa perabot. Saya tidak mengenal kota itu. Saya tidak mengenal siapa pun. Pekerjaan saya menarik, tetapi rasa sepi membuat saya merana.

Suatu malam di rumah, saya duduk termenung dan membuka Alkitab. Saya pun membaca Mazmur 16, dan ayat 11 menjanjikan sukacita berlimpah-limpah yang disediakan Allah. Saya pun berdoa, “Tuhan, rasanya pekerjaanku tepat untukku, tetapi sekarang aku merasa sangat kesepian. Tolonglah ya Tuhan, penuhi aku dengan kehadiran-Mu.” Saya menaikkan rintihan permohonan seperti itu berminggu-minggu lamanya. Adakalanya kesepian itu terasa lebih ringan, dan saya begitu kuat merasakan kehadiran Allah. Namun di malam-malam tertentu, saya merasa begitu tersiksa oleh rasa sepi.

Saat saya kembali kepada ayat itu dan menambatkan hati saya pada firman Allah malam demi malam, Dia perlahan-lahan memperdalam iman saya. Saya mengalami kesetiaan-Nya melalui cara-cara yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Saya pun belajar bahwa saya hanya perlu mencurahkan isi hati saya kepada-Nya . . . dan dengan rendah hati menantikan jawaban yang pasti diberikan-Nya, sambil mempercayai janji-Nya untuk memenuhi saya dengan Roh-Nya. —Adam Holz

Tuhan, terkadang kami merasa begitu hampa. Namun, Engkau menunjukkan jalan kehidupan dan menghendaki kami untuk mempercayai-Mu. Tolonglah kami untuk memegang janji-Mu yang akan melimpahkan sukacita di saat kami berputus asa.

Tambatkanlah hatimu pada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 31-33; Markus 9:1-29

Oleh Kuasa Roh Kudus

Jumat, 19 Januari 2018

Oleh Kuasa Roh Kudus

Baca: Zakharia 4:1-7

4:1 Datanglah kembali malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannyalah aku seperti seorang yang dibangunkan dari tidurnya.

4:2 Maka berkatalah ia kepadaku: “Apa yang engkau lihat?” Jawabku: “Aku melihat: tampak sebuah kandil, dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu.

4:3 Dan pohon zaitun ada terukir padanya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu di sebelah kirinya.”

4:4 Lalu berbicaralah aku, kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: “Apakah arti semuanya ini, tuanku?”

4:5 Maka berbicaralah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: “Tidak, tuanku!”

4:6 Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.

4:7 Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang bersorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!”

Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. —Zakharia 4:7

Oleh Kuasa Roh Kudus

Apa yang akan Anda lakukan ketika sebuah gunung menghalangi jalan Anda? Kisah Dashrath Manjhi dapat menginspirasi kita. Istrinya meninggal dunia karena Manjhi tidak sanggup membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat. Karena peristiwa itu, Manjhi pun melakukan sesuatu yang kelihatannya mustahil. Ia menghabiskan waktu selama 22 tahun untuk memahat lubang besar di sebuah gunung supaya penduduk desa lainnya dapat pergi ke rumah sakit terdekat untuk menerima perawatan medis yang mereka butuhkan. Sebelum Manjhi tutup usia, pemerintah India sempat memberikan penghargaan atas usahanya itu.

Membangun kembali Bait Allah pasti kelihatan mustahil bagi Zerubabel, salah seorang pemimpin Israel yang kembali dari pembuangan. Rakyat sedang patah semangat, sementara musuh-musuh mengancam dan mereka kekurangan sumber daya atau jumlah pasukan yang cukup untuk bertahan. Namun, Allah mengirimkan Zakharia untuk mengingatkan Zerubabel bahwa tugas itu membutuhkan sesuatu yang lebih dahsyat daripada kekuatan militer, keperkasaan individu, atau sumber daya buatan manusia. Pekerjaan itu membutuhkan kuasa Roh Allah (Zak. 4:6). Dengan jaminan pertolongan ilahi, Zerubabel percaya bahwa Allah akan meratakan gunung kesulitan apa pun yang menghalangi pembangunan kembali Bait Allah dan proses pemulihan umat-Nya (ay.7).

Apa yang akan kita lakukan menghadapi “gunung” di hadapan kita? Kita memiliki dua pilihan: mengandalkan kekuatan kita sendiri atau mempercayai kuasa Roh Allah. Ketika kita mempercayai kuasa-Nya, Allah sanggup meratakan gunung itu, atau sebaliknya, memberi kita kekuatan dan ketahanan untuk mengatasinya. —Marvin Williams

Tujuan-tujuan Allah hanya dapat dicapai oleh kuasa Allah. Manusia takkan sanggup melakukannya dengan kekuatannya sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 46–48; Matius 13:1-30

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Robby Kurniawan

Apalagi!

Rabu, 15 November 2017

Apalagi!

Baca: Lukas 11:5-13

11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,

11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;

11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.

11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.

11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?

11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?

11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya. —Lukas 11:13

Apalagi!

Pada Oktober 1915, semasa Perang Dunia I, Oswald Chambers tiba di Kamp Zeitoun, pusat pelatihan militer di dekat Kairo, Mesir. Di sana Chambers melayani sebagai pembina rohani bagi para tentara Persemakmuran Inggris. Dalam salah satu kebaktian di malam hari, 400 orang memenuhi sebuah tenda pertemuan yang besar untuk mendengarkan Chambers membahas tema “Apa Manfaat Doa?”. Setelah itu, saat berbincang secara pribadi dengan para prajurit yang berusaha mencari Allah di tengah medan peperangan, Oswald sering mengutip Lukas 11:13, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Karunia cuma-cuma dari Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, adalah pengampunan, pengharapan, dan kehadiran-Nya yang aktif dalam hidup kita melalui Roh Kudus. “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (ay.10).

Pada 15 November 1917, Oswald Chambers meninggal mendadak karena usus buntunya pecah. Untuk menghormati almarhum, seorang prajurit yang pernah ditolong Oswald untuk beriman kepada Kristus membeli sebuah ukiran marmer berbentuk Alkitab yang terbuka dan meletakkannya di sisi makam Oswald. Pada sisi halaman Alkitab itu tercantum penggalan ayat Lukas 11:13: “Apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Saat ini, setiap dari kita dapat menerima karunia luar biasa dari Allah itu. —David C. McCasland

Bapa, Engkau sumber segala pemberian yang baik. Kami berterima kasih untuk Roh Kudus yang tinggal di dalam kami dan menuntun kami dalam kebenaran-Mu hari ini.

Saat ini, setiap dari kita dapat menerima karunia Roh Kudus dari Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 1-2; Ibrani 11:1-19

Artikel Terkait:

Seks: Untuk Apa Menunggu?

Kita Punya Kuasa!

Kamis, 19 Oktober 2017

Kita Punya Kuasa!

Baca: Roma 7:14-25

7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

7:16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

7:17 Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh. —Galatia 5:25

Kita Punya Kuasa!

Suara retakan yang keras itu mengejutkan saya. Saat menyadari suara apa itu, saya segera lari ke dapur. Ternyata tanpa sengaja, saya telah menekan tombol start pada perangkat pembuat kopi yang kosong. Setelah mencabut steker, saya menggapai pegangan dari teko kaca itu. Lalu saya menyentuh bagian bawahnya untuk memastikan teko itu tidak terlalu panas saat diletakkan di meja keramik. Namun, permukaan halus dari bagian bawah teko itu membakar ujung jemari saya dan membuat kulit melepuh.

Sementara luka saya dirawat oleh suami, saya masih tidak percaya pada apa yang terjadi. “Aku benar-benar tak tahu mengapa aku menyentuhnya, padahal aku tahu kacanya panas,” kata saya.

Respons saya setelah melakukan kesalahan tersebut mengingatkan saya tentang reaksi Paulus terhadap persoalan yang lebih serius di dalam Kitab Suci, yakni watak manusia yang berdosa.

Rasul Paulus mengaku tidak tahu mengapa ia melakukan hal-hal yang dilarang dan yang tidak dikehendakinya (Rm. 7:15). Dengan menegaskan bahwa Kitab Suci merupakan patokan tentang apa yang benar dan yang salah (ay.7), ia mengakui adanya pergulatan berat yang terus berlangsung antara keinginan daging dan keinginan roh dalam pergumulannya melawan dosa (ay.15-23). Setelah mengakui kelemahannya sendiri, Paulus lalu menyodorkan pengharapan akan kemenangan yang dapat kita alami sekarang dan untuk selamanya (ay.24-25).

Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, Dia memberi kita Roh Kudus-Nya yang akan memampukan kita untuk melakukan apa yang benar (8:8-10). Ketika Roh Kudus memampukan kita untuk menaati firman Allah, kita dapat menjauhi dosa yang menghanguskan dan yang memisahkan kita dari hidup berkelimpahan yang dijanjikan Allah kepada mereka yang mengasihi-Nya. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mematahkan belenggu yang pernah membuat kami tidak berdaya dan hidup kami dikuasai oleh watak dosa.

Roh Kudus mengubah kita lewat kasih-Nya dan oleh anugerah-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 56-58; 2 Tesalonika 2

Tuntunan Ilahi

Selasa, 17 Oktober 2017

Tuntunan Ilahi

Baca: 1 Tesalonika 5:16-24

5:16 Bersukacitalah senantiasa.

5:17 Tetaplah berdoa.

5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

5:19 Janganlah padamkan Roh,

5:20 dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat.

5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

5:22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

5:24 Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.

Janganlah padamkan Roh. —1 Tesalonika 5:19

Tuntunan Ilahi

Saat mengunjungi Galeri Seni Nasional di Washington, DC, saya melihat sebuah mahakarya berjudul The Wind. Lukisan itu menggambarkan badai yang sedang bertiup menerpa pepohonan. Pohon-pohon yang ramping dan menjulang tertiup ke arah kiri gambar. Semak-semak juga terhempas ke arah yang sama.

Seperti angin yang bertiup kencang, tetapi dengan pengaruh yang lebih dahsyat, Roh Kudus juga sanggup menggerakkan orang percaya untuk mengikuti kebaikan dan kebenaran Allah. Mengikuti tuntunan Roh Kudus akan memampukan kita untuk lebih berani melangkah dan lebih sungguh mengasihi sesama. Kita juga akan lebih peka untuk mengetahui bagaimana kita dapat mengendalikan diri (2Tim. 1:7).

Namun adakalanya ketika Roh Allah hendak membawa kita pada pertumbuhan dan perubahan rohani, kita menolak untuk melakukannya. Di Alkitab, sikap yang terus-menerus menolak tuntunan ilahi itu disebut memadamkan Roh (1tes. 5:19). Akhirnya, lambat laun, hal-hal yang semula kita anggap salah mulai terlihat wajar.

Saat hubungan kita dengan Allah terasa jauh bahkan terputus, itu mungkin karena kita terlalu sering mengabaikan dorongan Roh Kudus. Bila itu terlalu lama dibiarkan, akar masalahnya menjadi semakin sulit untuk ditemukan dan dibereskan. Syukurlah, kita dapat berdoa dan meminta Allah untuk memperlihatkan dosa-dosa kita. Jika kita berpaling dari dosa dan menyerahkan diri kembali kepada Allah, Dia akan mengampuni kita dan menggelorakan lagi kuasa dan pengaruh Roh-Nya dalam diri kita. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Allah, tunjukkanlah bagaimana selama ini aku telah menolak tuntunan Roh-Mu. Tolong aku untuk mendengarkan perkataan-Mu. Aku ingin kembali dekat dengan-Mu.

Penyerahan diri kepada Roh Kudus membawa kita pada hidup yang benar.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 50-52; 1 Tesalonika 5

Saat Saya Tak Sanggup Berdoa

Kamis, 28 September 2017

Saat Saya Tak Sanggup Berdoa

Baca: Roma 8:22-26

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. —Roma 8:26

Saat Saya Tak Sanggup Berdoa

November 2015, saya diberi tahu bahwa saya membutuhkan bedah jantung. Karena terguncang, saya langsung terpikir tentang kemungkinan meninggal dunia. Adakah hubungan yang perlu dipulihkan? Urusan keuangan yang perlu diselesaikan? Pekerjaan yang dapat diselesaikan lebih awal? Ada juga pekerjaan mendesak yang harus dialihkan kepada orang lain. Saya harus berdoa dan bertindak.

Namun saya tak bisa melakukan keduanya.

Tubuh lelah dan pikiran penat membuat saya tidak kuat melakukan pekerjaan yang paling sederhana sekalipun. Mungkin yang paling mengejutkan, ketika saya mencoba berdoa, pikiran saya terus teralihkan oleh rasa sakit, atau napas-napas pendek karena kerusakan jantung membuat saya mudah jatuh tertidur. Saya merasa frustrasi. Saya tidak dapat bekerja, bahkan tidak sanggup meminta Allah memperpanjang umur saya agar saya dapat menikmati lebih banyak waktu dengan keluarga!

Ketidakmampuan untuk berdoa begitu mengusik saya. Namun sama dengan semua kebutuhan manusia lainnya, Allah Sang Pencipta tahu apa yang saya alami. Akhirnya saya teringat bahwa Allah sudah menyiapkan dua hal untuk keadaan seperti ini: doa dari Roh Kudus untuk kita di saat kita tak bisa berdoa (Rm. 8:26); dan doa dari saudara-saudara seiman untuk kita (Yak. 5:16; Gal. 6:2).

Sungguh saya terhibur saat mengetahui bahwa Roh Kudus juga membawa kekhawatiran saya kepada Allah Bapa. Sungguh saya juga bahagia saat mendengar bahwa sejumlah teman dan kerabat juga mendoakan saya. Lalu muncul kejutan lainnya: Saat teman dan kerabat saya menanyakan apa yang bisa mereka doakan, jelaslah bahwa jawaban saya bagi pertanyaan mereka juga diterima oleh Allah sebagai doa. Alangkah berbahagianya ketika di tengah segala ketidakpastian, kita diingatkan bahwa Allah mendengar suara hati kita bahkan di saat kita merasa tidak sanggup berseru kepada-Nya.—Randy Kilgore

Allah tidak pernah luput mendengarkan suara anak-anak-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 5-6 dan Efesus 1

Artikel Terkait:

Dipulihkan Karena Doa

Tunduk kepada Sang Raja

Kamis, 14 September 2017

Tunduk kepada Sang Raja

Baca: Hakim-Hakim 2:11-23

2:11 Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

2:12 Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN.

2:13 Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.

2:14 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka.

2:15 Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka, sesuai dengan apa yang telah diperingatkan kepada mereka oleh TUHAN dengan sumpah, sehingga mereka sangat terdesak.

2:16 Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu.

2:17 Tetapi juga para hakim itu tidak mereka hiraukan, karena mereka berzinah dengan mengikuti allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Mereka segera menyimpang dari jalan yang ditempuh oleh nenek moyangnya yang mendengarkan perintah TUHAN; mereka melakukan yang tidak patut.

2:18 Setiap kali apabila TUHAN membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka TUHAN menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh mereka selama hakim itu hidup; sebab TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka.

2:19 Tetapi apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu.

2:20 Apabila murka TUHAN bangkit terhadap orang Israel, berfirmanlah Ia: “Karena bangsa ini melanggar perjanjian yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyang mereka, dan tidak mendengarkan firman-Ku,

2:21 maka Akupun tidak mau menghalau lagi dari depan mereka satupun dari bangsa-bangsa yang ditinggalkan Yosua pada waktu matinya,

2:22 supaya dengan perantaraan bangsa-bangsa itu Aku mencobai orang Israel, apakah mereka tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, atau tidak.”

2:23 Demikianlah TUHAN membiarkan bangsa-bangsa itu tinggal dengan tidak segera menghalau mereka; mereka tidak diserahkan-Nya ke dalam tangan Yosua.

Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. —Hakim-Hakim 21:25

Tunduk kepada Sang Raja

Saya sempat melontarkan kata-kata pedas kepada suami saat berada dalam situasi yang tidak sejalan dengan kemauan saya. Setelah itu, saya pun menolak otoritas Roh Kudus yang berusaha mengingatkan saya pada ayat-ayat Alkitab yang menyingkapkan perilaku saya yang berdosa itu. Apakah sikap saya yang keras kepala itu sepadan dengan dampak buruk yang terjadi dalam pernikahan saya, dan sepadan dengan ketidaktaatan saya kepada Allah? Tentu saja tidak! Namun ketika akhirnya saya meminta pengampunan dari Tuhan dan dari suami saya, saya telah meninggalkan luka membekas yang terjadi akibat saya mengabaikan nasihat yang bijak dan merasa tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun.

Bangsa Israel pernah mempunyai perilaku yang memberontak. Setelah kematian Musa, Yosualah yang memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Di bawah kepemimpinan Yosua, bangsa Israel setia beribadah kepada Tuhan (Hak. 2:7). Namun setelah Yosua dan generasi sezamannya berlalu, bangsa Israel pun melupakan Allah dan perbuatan-Nya (ay.10). Mereka menolak para pemimpin yang ditunjuk Tuhan dan memilih untuk bergelimang dosa (ay.11-15).

Keadaan membaik manakala Tuhan mengangkat para hakim (ay.16-18) yang berfungsi seperti raja. Namun tiap kali hakim itu meninggal, bangsa Israel kembali melawan Allah. Mereka hidup seakan tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun, dan itu membuat mereka harus menerima konsekuensi yang menyakitkan (ay.19-22). Kita tidak perlu jatuh pada sikap dan pengalaman yang sama. Tunduklah kepada Yesus Kristus, Penguasa kekal yang berdaulat dan yang layak kita ikuti, karena Dialah Hakim kita yang hidup dan Raja atas segala raja. —Xochitl Dixon

Tuhan Yesus, mampukan kami untuk mengingat Engkaulah Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan, Mahabesar dan layak menerima ketataan dan kepercayaan kami.

Allah memberi kita kuasa dan hak istimewa untuk menikmati berkat ketika kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan cara-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 19-21 dan 2 Korintus 7