Posts

Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Selasa, 9 Oktober 2018

Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Baca: Roma 8:22-30

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. —Roma 8:26

Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Pada acara peresmian Alkitab yang telah berhasil diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa lokal di Afrika, kepala suku di wilayah itu menerima satu jilid Alkitab tersebut. Dengan penuh rasa syukur, ia mengangkat Alkitab itu dan berseru, ”Sekarang kita tahu bahwa Allah mengerti bahasa kita! Kini kita dapat membaca Alkitab dalam bahasa ibu kita.”

Bapa Surgawi kita mengerti apa pun bahasa yang kita gunakan. Namun, kita sering merasa tidak sanggup mengungkapkan kerinduan hati kita yang terdalam kepada-Nya. Rasul Paulus mendorong kita untuk tetap berdoa terlepas dari apa pun yang kita rasakan. Paulus berbicara tentang dunia yang menderita dan penderitaan kita sendiri: ”Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Rm. 8:22), dan ia membandingkan hal itu dengan karya Roh Kudus bagi kita. “Roh membantu kita dalam kelemahan kita,” tulisnya. “Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (ay.26).

Roh Kudus mengenal kita dengan intim. Dia tahu kerinduan kita, bahasa hati kita, dan kalimat-kalimat kita yang tidak terucapkan, dan Dia menolong kita untuk berkomunikasi dengan Allah. Roh-Nya membawa kita untuk diubahkan menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (ay.29).

Bapa Surgawi mengerti bahasa kita dan berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Di saat kita berpikir bahwa doa kita terlalu lemah atau terlalu pendek, Roh Kudus menolong kita dengan berbicara melalui kita kepada Bapa. Allah Bapa ingin kita berbicara dengan-Nya di dalam doa. —Lawrence Darmani

Tuhan, terima kasih karena Engkau memahami ungkapan dan kerinduan hatiku yang terdalam. Saat doaku lemah dan kering, topanglah diriku dengan Roh-Mu.

Ketika kita merasa terlalu lemah untuk berdoa, Roh Allah menolong kita dengan cara-cara yang tak pernah terbayangkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32-33; Kolose 1

Mengikuti Jalan Allah

Senin, 24 September 2018

Mengikuti Jalan Allah

Baca: Yesaya 30:15-21

30:15 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,

30:16 kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

30:17 Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit.

30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

30:19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.

30:20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia,

30:21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri.

Bila kamu menyimpang dari jalan, di belakangmu akan terdengar suara-Nya yang berkata, “Inilah jalannya; ikutlah jalan ini.” —Yesaya 30:21 BIS

Mengikuti Jalan Allah

“Ayo, lewat sini,” ujar saya kepada putra saya sambil menyentuh bahunya untuk mengarahkannya melewati kerumunan dan menyusul ibu serta saudara-saudaranya yang berjalan di depan kami. Saya semakin sering melakukannya ketika hari makin larut di taman hiburan yang sedang kami kunjungi. Putra saya mulai lelah dan mudah sekali perhatiannya teralihkan. Mengapa ia sulit sekali membuntuti mereka? saya bertanya-tanya.

Kemudian sesuatu terlintas di benak saya: Seberapa sering saya melakukan hal yang sama? Seberapa sering saya menyimpang dari kesetiaan mengikuti Allah, karena terpikat oleh godaan untuk mengejar kesenangan saya daripada mengikuti jalan-jalan-Nya?

Coba perhatikan perkataan Allah yang disampaikan Nabi Yesaya kepada Israel: “Bila kamu menyimpang dari jalan, di belakangmu akan terdengar suara-Nya yang berkata, ‘Inilah jalannya; ikutlah jalan ini’” (Yes. 30:21 bis). Di bagian awal pasal tersebut, Allah telah menegur umat-Nya karena pemberontakan mereka. Namun, apabila mereka mempercayai kekuatan-Nya daripada jalan mereka sendiri (ay.15), Dia berjanji akan menunjukkan kemurahan dan kasih sayang-Nya (ay.18).

Salah satu ungkapan kemurahan hati Allah adalah janji-Nya untuk membimbing kita melalui Roh Kudus. Hal itu terjadi ketika kita menyatakan kepada-Nya segala kerinduan kita dan berdoa memohon kepada-Nya apa yang telah Dia sediakan bagi kita. Saya bersyukur karena Allah dengan sabar mengarahkan kita, hari lepas hari, langkah demi langkah, ketika kita mempercayai-Nya dan mendengarkan suara-Nya. —Adam Holz

Ya Bapa, Engkau berjanji membimbing kami melewati pasang-surut kehidupan dan keputusan yang harus kami ambil dalam hidup ini. Tolong kami untuk mempercayai dan mengikut-Mu, serta mendengarkan tuntunan suara-Mu dengan saksama.

Allah dengan sabar mengarahkan kita ketika kita mempercayai-Nya dan mendengarkan suara-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4-5; Galatia 3

Kita akan Melihat Yesus

Jumat, 24 Agustus 2018

Kita akan Melihat Yesus

Baca: Yohanes 12:20-26

12:20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.

12:21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.”

12:22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.

12:23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Orang-orang itu pergi kepada Filipus, . . . lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” —Yohanes 12:21

Kita akan Melihat Yesus

Saat memandang dari atas mimbar, tempat saya membawakan doa di suatu acara pemakaman, saya melihat sekilas plakat berbahan kuningan yang mencantumkan kata-kata dari Yohanes 12:21: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Saya pun berpikir, alangkah tepat ayat itu ketika dengan air mata dan senyuman kami sedang mengenang seseorang yang hidupnya memancarkan Yesus. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kekecewaan dalam hidupnya, almarhum tidak pernah melepaskan imannya kepada Kristus. Karena Roh Allah juga hidup dalam dirinya, kami dapat melihat Yesus melalui hidupnya.

Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus memasuki Yerusalem (lihat Yoh. 12:12-16), sejumlah orang Yunani mendekati Filipus, salah satu murid Yesus, dan meminta, “Tuan, kami ingin bertemu Yesus” (ay.21). Bisa jadi mereka penasaran dengan penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat Yesus. Namun, karena bukan orang Yahudi, mereka tidak diizinkan memasuki pelataran Bait Allah. Ketika permintaan mereka diteruskan kepada Yesus, Dia menyatakan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk dimuliakan (ay.23). Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa Dia akan segera mati menanggung dosa banyak orang. Yesus akan memenuhi misi-Nya untuk menjangkau tidak saja orang Yahudi, tetapi juga orang non-Yahudi (“orang Yunani” di ayat 20), dan sekarang mereka hendak bertemu dengan Yesus.

Setelah Yesus Kristus mati, Dia mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri pengikut-pengikut-Nya (14:16-17). Jadi, saat kita mengasihi dan melayani Yesus, kita melihat bahwa Dia aktif berkarya dalam diri kita. Yang luar biasa, orang-orang di sekitar kita juga bisa melihat Yesus melalui kehidupan kita! —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, aku begitu terhormat dan takjub karena Engkau mau datang dan hidup di dalamku. Tolonglah aku untuk membagikan anugerah yang ajaib ini dengan orang-orang yang kutemui hari ini.

Kita bisa melihat Yesus lewat kehidupan pengikut-pengikut-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 116-118; 1 Korintus 7:1-19

Pemberian Terbaik

Minggu, 15 Juli 2018

Pemberian Terbaik

Baca: Lukas 11:9-13

11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?

11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking?

11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. —Lukas 11:9

Pemberian Terbaik

Ketika sedang mengepak barang untuk pulang ke London, ibu memberi saya sebuah hadiah, yakni salah satu cincin miliknya yang telah lama saya kagumi. Karena terkejut, saya bertanya, “Untuk apa ini, Bu?” Ibu menjawab, “Kupikir kamu dapat memakainya sekarang, tidak perlu menunggu sampai Ibu sudah tiada. Lagipula cincin itu sudah tidak muat lagi di jari Ibu.” Ibu memberikannya sebagai warisan yang diberikan lebih awal. Betapa senangnya saya menerima hadiah yang tak terduga itu!

Ibu memberi saya hadiah berupa materi, tetapi Yesus berjanji bahwa Bapa-Nya akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta-Nya (Luk. 11:13). Jika orangtua yang berdosa saja dapat menyediakan kebutuhan anak-anaknya (seperti ikan dan telur untuk makanan), betapa lebih lagi Bapa kita di surga memberikan apa yang baik bagi anak-anak-Nya. Melalui Roh Kudus yang diberikan-Nya (Yoh. 16:13), kita dapat mengalami pengharapan, kasih, dan damai bahkan di tengah masa-masa yang sulit—dan kita dapat membagikan berkat-berkat tersebut kepada orang lain.

Saat kita bertumbuh besar, mungkin saja kita memiliki orangtua yang tidak dapat sepenuhnya melimpahkan kasih sayang dan perhatian kepada kita. Atau sebaliknya, mungkin kita mempunyai ayah dan ibu yang memberikan teladan kasih dan pengorbanan diri yang patut dipuji. Atau mungkin kita berada di antara kedua pengalaman tersebut. Bagaimanapun pengalaman kita dalam keluarga, kita dapat mengandalkan janji dari Bapa kita di surga. Dia berjanji selalu mengasihi anak-anak-Nya dan mengaruniakan Roh Kudus kepada kita yang percaya kepada-Nya. —Amy Boucher Pye

Bapa Surgawi, aku kagum akan kasih-Mu kepadaku. Tolonglah aku untuk berdiam dalam hadirat-Mu hari ini dan membagikan kasih-Mu kepada siapa pun yang kutemui.

Allah Bapa memberikan segala yang baik bagi kita, anak-anak-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13-15; Kisah Para Rasul 19:21-41

Membuka Mata

Senin, 4 Juni 2018

Membuka Mata

Baca: Yohanes 14:23-31

14:23 Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

14:24 Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.

14:25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;

14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

14:28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

14:29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

14:30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.

14:31 Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. —Yohanes 14:26

Membuka Mata

Saat pertama kalinya mengunjungi Gereja Chora yang sangat megah di Istanbul, saya dapat memahami beberapa cerita Alkitab yang tergambar dalam lukisan dinding dan mosaik zaman Bizantium yang terdapat pada langit-langit gereja itu. Namun, ada banyak detail yang terlewatkan oleh saya. Dalam kunjungan kedua, saya didampingi oleh seorang pemandu. Ia pun menunjukkan semua detail yang saya lewatkan sebelumnya, sehingga saya mendapatkan gambaran yang utuh! Misalnya, gambaran pada lorong pertama dari gereja itu melukiskan kehidupan Yesus sebagaimana yang dicatat dalam Injil Lukas.

Adakalanya ketika membaca Alkitab, kita bisa memahami kisah-kisah dasarnya, tetapi bagaimana kaitan antara satu bagian dan yang lainnya? Bagaimana dengan detail-detail Kitab Suci yang saling terjalin hingga menjadi satu kisah yang sempurna? Memang tersedia buku-buku tafsiran Alkitab dan bahan pendalaman Alkitab, tetapi kita juga membutuhkan pemandu, yaitu pribadi yang akan membuka mata kita dan menolong kita melihat keajaiban-keajaiban dari firman Allah yang tertulis. Pemandu itu adalah Roh Kudus dan Dialah yang akan mengajarkan kepada kita “segala sesuatu” (Yoh. 14:26). Paulus menulis bahwa Roh Kudus “menjelaskan hal-hal mengenai Allah . . . menurut ajaran Roh Allah” (1Kor. 2:13).

Betapa indahnya ketika Sang Penulis Alkitab itu sendiri menunjukkan kepada kita segala keajaiban dari firman-Nya! Allah tidak hanya memberi kita firman-Nya yang tertulis dan pewahyuan-Nya, tetapi Dia juga menolong kita memahami dan belajar darinya. Bersama pemazmur, marilah berdoa, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mzm. 119:18). —Keila Ochoa

Allah terkasih, saat aku membaca firman-Mu, singkapkanlah mataku supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari pewahyuan-Mu.

Kita membutuhkan Allah untuk dapat memahami Kitab Suci.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 21-22; Yohanes 14

Salah Berkata-Kata

Rabu, 30 Mei 2018

Salah Berkata-Kata

Baca: Roma 8:22-27

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. —Mazmur 33:22

Salah Berkata-Kata

Baru-baru ini, saya mengirimkan pesan pendek kepada istri saya, Cari, dengan menggunakan program deteksi suara untuk menuliskan pesan itu. Saat itu saya hendak keluar menuju ke mobil untuk mengajak Cari pulang dari tempat kerjanya. Saya bermaksud mengirimkan pesan, “Mau dijemput di mana, mami sayang?”

Saya biasa memanggil Cari dengan “mami sayang”—sebuah julukan khusus yang kami gunakan dalam keluarga kami. Namun, ponsel saya tidak “menangkap” frasa itu, sehingga yang terkirim adalah pesan dengan sebutan “mami siang”. Beda sekali dari maksud saya!

Saya beruntung karena Cari segera mengerti apa yang telah terjadi dan melihatnya sebagai sebuah kesalahan yang lucu. Kemudian ia menggunggah pesan saya itu di media sosial dan bertanya kepada teman-temannya, “Aku harus tersinggung ga ya?” Kami berdua bisa sama-sama menertawakan hal itu.

Respons istri saya yang tidak marah terhadap pesan saya hari itu membuat saya terpikir tentang Allah yang sangat memahami isi dari doa-doa kita. Saat berdoa, mungkin kita tidak tahu apa yang harus kita katakan atau bahkan apa yang perlu kita minta. Namun, ketika kita menjadi milik Kristus, Roh-Nya di dalam kita “berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm. 8:26). Dengan penuh kasih, Roh Kudus menolong kita mengungkapkan kerinduan kita yang terdalam kepada Allah.

Bapa Surgawi tidak sedang diam dan menunggu sampai kita dapat berdoa dengan benar. Kita dapat datang kepada-Nya dengan setiap kebutuhan kita, karena kita yakin bahwa Dia memahami dan menerima kita dengan kasih. —James Banks

Abba, Bapa, terima kasih karena aku boleh datang kepada-Mu tanpa merasa takut kalau kata-kata doaku tidak tepat. Tolonglah aku tetap berdoa kepada-Mu hari ini.

Keindahan kasih Allah sungguh tak terungkapkan dengan kata-kata.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 10-12; Yohanes 11:30-57

Wanita Babushka

Rabu, 23 Mei 2018

Wanita Babushka

Baca: Kisah Para Rasul 2:22-36

2:22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.

2:23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.

2:24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.

2:25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

2:26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,

2:27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

2:28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.

2:29 Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.

2:30 Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya.

2:31 Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.

2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.

2:33 Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.

2:34 Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:

2:35 Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.

2:36 Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. —Kisah Para Rasul 2:36

Wanita Babushka

“Wanita Babushka” menjadi salah satu misteri yang menyelimuti peristiwa pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada tahun 1963. Wanita misterius yang tertangkap kamera sedang merekam peristiwa tersebut ternyata tidak mudah untuk dikenali. Ia terlihat mengenakan mantel dan syal penutup kepala (mirip dengan yang biasa dikenakan kaum nenek di Rusia). Sampai saat ini, ia tidak pernah teridentifikasi dan hasil rekamannya tidak pernah diketahui keberadaannya. Selama puluhan tahun, pakar sejarah berspekulasi bahwa rasa takut telah menghalangi “Wanita Babushka” itu untuk menceritakan pengalaman- nya tentang hari yang kelabu tersebut.

Namun, kita tak perlu berspekulasi untuk memahami mengapa murid-murid Yesus bersembunyi. Mereka ketakutan karena pihak penguasa telah membunuh Guru mereka (Yoh. 20:19). Mereka enggan tampil dan menceritakan pengalaman mereka. Namun, Yesus kemudian bangkit dari kematian. Roh Kudus juga datang dan tak ada lagi yang bisa membungkam para pengikut Kristus yang tadinya penakut! Pada hari Pentakosta, Roh memampukan Simon Petrus untuk mengatakan, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36).

Kesempatan untuk berani berbicara dalam nama Yesus tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang berjiwa pemberani atau yang pernah mendapatkan pelatihan penginjilan. Roh Allah yang berdiam dalam diri kitalah yang memampukan kita untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus. Oleh kuasa-Nya, kita mempunyai keberanian untuk menceritakan tentang Juruselamat kita kepada orang lain. —Bill Crowder

Tuhan, beriku kekuatan dan keberanian untuk menceritakan tentang Engkau kepada orang lain.

Ceritakanlah tentang kasih Kristus yang tiada bandingnya kepada siapa pun yang perlu mendengarnya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 19-21; Yohanes 8:1-27

Meluap

Jumat, 18 Mei 2018

Meluap

Baca: Roma 15:4-13

15:4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.

15:5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,

15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

15:8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita,

15:9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”

15:10 Dan selanjutnya: “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.”

15:11 Dan lagi: “Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.”

15:12 Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.”

15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Semoga Allah sumber pengharapan memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu. —Roma 15:13

Meluap

“Oh, tidak! Tidak! TIDAK!” teriak saya. Namun, teriakan saya tidak menolong sama sekali. Ide saya untuk mengatasi masalah penyumbatan dengan menyiram air sekali lagi ternyata membawa akibat yang berlawanan sama sekali dengan maksud saya. Saya tahu saya telah membuat kesalahan segera setelah menekan tuas kakusnya. Saya hanya bisa berdiri dan pasrah melihat air kakus itu meluap keluar.

Entah berapa kali anak-anak kita berusaha menuang susu dengan cara yang keliru hingga tumpah ke mana-mana. Atau kita pernah lupa pada botol soda berukuran besar yang berguling-guling di bagasi mobil, hingga ketika dibuka tersemburlah isinya dengan dahsyat.

Luapan-luapan semacam itu tentu tidak diharapkan. Namun, ada satu luapan yang berbeda. Rasul Paulus menggunakan “luapan” untuk menggambarkan orang-orang yang dipenuhi oleh kekuatan Roh Allah. Dari dalam diri mereka meluaplah pengharapan secara alami dan berlimpah-limpah (Rm. 15:13). Saya menyukai gambaran tentang seseorang yang begitu dipenuhi dengan sukacita, damai sejahtera, dan iman sampai meluap karena Allah hadir dengan penuh kuasa di dalam hidup kita. Kelimpahan itu membuat kita, tidak mungkin tidak, akan memancarkan dan mengekspresikan keyakinan yang teguh kepada Allah, Bapa Surgawi kita. Itu mungkin terjadi pada masa-masa yang indah dan menyenangkan dalam hidup kita. Namun, itu mungkin juga terjadi saat hidup kita sedang mengalami guncangan. Bagaimanapun kondisinya, kiranya yang meluap keluar dari diri kita adalah pengharapan yang memberikan hidup kepada orang-orang di sekitar kita. —Adam Holz

Tuhan, saat terjadi hal-hal yang tidak kami duga, penuhilah kami dengan Roh-Mu agar apa yang meluap dari diri kami adalah pengharapan yang memberkati orang lain di sekitar kami.

Bapa memberi kita Roh yang menjadikan kita serupa dengan Sang Anak.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 4-6; Yohanes 6:1-21

Lock Screen: Galatia 5:25

Yuk download dan gunakan lock screen ini di ponselmu!

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” (Galatia 5:25)

Klik di sini untuk melihat koleksi lock screen WarungSaTeKaMu