Posts

Lupakan Resolusi, Tentukan Tujuan Hidupmu!

Setiap tahun baru kita sering membuat resolusi tapi gagal memenuhinya. Kita lantas merasa gagal atau kecewa seiring waktu yang terus berjalan. Tapi… bagaimana jika kita coba lupakan tentang membuat resolusi dan mulai menetapkan tujuan hidup kita supaya kita bisa menghidupi hari-hari secara maksimal?

Jika kamu bingung mau memulai dari mana, Efesus 5:15-21 adalah bacaan yang baik untuk mulai membangun tujuan hidup kita. Perikop itu memberi kita hikmat yang dapat menolong kita untuk memanjat tangga pertumbuhan rohani dan mengidentifikasi bagian-bagian licin manakah yang perlu kita hindari supaya kita bisa mengakhiri perjalanan kita dengan baik.

Artspace ini dibuat oleh YMI Today.

Tumpaslah Kemalasan, Sebelum Itu Menghancurkan Kita

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Kesempatan adalah sesuatu yang tidak selalu ada. Beberapa dari kita berupaya mencarinya, mungkin mati-matian, lalu pada saat kita mendapatkannya, kita “melahapnya”. Namun anehnya, pola seperti itu tidak selalu terjadi. Ada momen ketika sejumlah kesempatanlah yang terlihat menawarkan diri kepada kita. Beberapa kesempatan bahkan hadir secara tiba-tiba, tanpa perlu diawali dengan butir-butir keringat. Tapi, bukannya menyambutnya dengan antusias, kita malah mengambil kesempatan-kesempatan itu dan menyimpannya di saku kita, berharap mereka aman di sana, lalu perlahan mulai menyadari saku kita telah kosong. Intinya adalah kita senang menunda-nunda sesuatu.

Ada kasus yang dimulai dengan berkata santai “nanti saja”, lalu pada akhirnya disusul dengan kepanikan mengejar deadline. Ada pula kasus lain yang diawali dengan kalimat “sebentar lagi” dan berakhir dengan nada penyesalan berbunyi “coba kalau aku sedikit lebih cepat”. Mari renungkan sejenak, berapa kali dalam hidup ini kita kehilangan hal berharga yang tidak kita jaga dengan baik karena sikap suka menunda-nunda? Seberapa sering kita menganggap enteng peluang-peluang positif yang tepat berada di depan mata kita dan menunda untuk memanfaatkannya, lalu akhirnya menangis hingga mengutuki diri sendiri?

Tentu untuk menyelesaikan masalah yang serius ini, kita patut mencari akar permasalahannya. Akan tetapi, sebisa mungkin kita tetap harus berusaha bersikap adil agar tidak terjebak pada oversimplifikasi (sikap yang terlalu menyederhanakan masalah). Yang aku maksud adalah kita harus mengakui bahwa tindakan menunda tidak selalu buruk. Ada masa di mana kita tidak boleh terburu-buru. Malahan pada banyak situasi pula kita harus berpikir bijaksana dengan menunda sesuatu dan lain hal. Jadi amat penting untuk kita menganalisa dengan cermat alasan di balik sikap menunda-nunda seseorang, apalagi pada saat kita berbicara tentang seorang yang mengidap Procrastination (Penyakit Psikologis Suka Menunda). Karena faktanya alasan orang menunda-nunda pekerjaan bisa bersumber dari beraneka ragam alasan, misalnya ketakutan berlebih pada kegagalan akibat trauma masa lalu, atau mungkin kurangnya motivasi orang-orang sekitar. Apabila pembahasannya seluas ini, maka itu memerlukan ruang yang besar, bahkan pengalaman dan keahlian dari seorang psikolog tentu akan sangat membantu dalam melihat kasus per kasus secara spesifik.

Maka dari itu, dalam tulisanku ini kita hanya akan membahas sebuah sikap suka menunda-nunda yang bersumber dari kemalasan. Dengan kata lain, seperti yang kusinggung sebelumya, kita akan membahas apa yang menjadi akar permasalahannya. Sehingga di sini, sikap malas yang menjadi penyebab dari sikap suka menunda-nunda akan menjadi apa yang kita bedah secara serius.

Sebagai langkah awal kita harus bertanya tentang bagaimana sikap Firman Tuhan dalam memandang kemalasan. Pertanyaan itu amat mendesak karena sangat disayangkan ada sebagian dari kita yang beranggapan bahwa masalah kemalasan ini adalah masalah sepele. Bahkan, mungkin kita telah menghapus kemalasan dari daftar dosa di hadapan Allah. Aku pernah mendengarkan tanggapan dari seorang teman atas sikap teman lain yang berbunyi, “dia orang yang sangat baik tapi sayang sekali dia orang yang malas”. Apakah benar seorang dapat menjadi sangat baik tetapi juga pemalas?

Dalam perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang talenta (Matius 25:14-30) digambarkan ada 3 orang yang diberikan kepercayaan oleh tuannya untuk dikelola. Dua hamba yang diberi 5 dan 2 talenta mengerjakan bagian mereka dengan serius dan mendapatkan pujian/apresiasi dari sang tuan (padahal pada masa itu seorang hamba, serajin apapun dia, sama sekali tidak punya hak, termasuk hak untuk dipuji oleh tuannya). Sedangkan hamba terakhir yang mendapat 1 talenta, benar-benar mengecewakan tuannya dengan menguburkan uang yang telah dipercayakan kepadanya. Kemudian seperti yang kita tahu, atas apa yang dilakukan oleh hamba terakhir itu, sang tuan yang marah besar lantas berkata “Hai kamu hamba yang jahat dan malas”.

Coba membaca nats itu dengan lengkap dan kita akan mendapati kerasnya rangkaian kata dari sang tuan beserta konsekuensi yang harus ditanggung hamba yang malas itu. Dalam perumpamaan itu kita sama sekali tidak diizinkan oleh Yesus untuk menganggap kemalasan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kemalasan adalah kejahatan. Menunda-nunda apa yang mampu kita lakukan secepatnya berarti mengizinkan kemalasan untuk masuk dan mendapatkan ruang di hati kita. Dan itu adalah kekejian di mata Allah.

Setiap kesempatan yang baik adalah pemberian Allah. Meremehkan dan menunda memanfaatkannya sama saja dengan menghina Sang Pemberinya. Sekali lagi, kita tidak diajar untuk menjadi orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan bertindak. Menjadi ceroboh adalah hal lain. Tetapi menjadi pemalas yang suka menunda-nunda adalah hal yang lain pula. Kemalasan membawa dampak yang berbahaya, baik secara internal maupun eksternal. Ia dapat menghancurkan kita bersamaan dengan semua yang ada di sekitar kita. Mungkin tidak bersifat instan, tetapi bersifat pasti.

Di suatu malam yang larut seorang teman lama menghubungiku dan meminta waktu untuk bercerita secara serius. Dalam pembicaraan kami melalui telepon genggam, ia menyodorkanku sejumlah pertanyaan yang sungguh-sungguh menguras emosi. Aku menduga, dan amat yakin, deretan pertanyaan itu lahir dari sebuah penyesalan yang amat dalam. Sambil menangis temanku mengisahkan bagaimana ia harus kehilangan seorang adik yang sangat dikasihinya tanpa pernah bertemu secara langsung ketika adiknya itu dirawat di rumah sakit. Berkali-kali sang adik menelepon dan memintanya sedikit waktu saja untuk bertemu. Temanku itu terus mengiyakan, mencoba “mengumpulkan niat”, dan akhirnya kembali menunda kunjungannya. Ia selalu menenangkan dan meyakinkan dirinya dengan berkata “masih ada hari esok”. Dan dia benar, hari esok masih ada, tapi adiknya telah pergi. Dimulailah tuduhan pada diri sendiri, berharap waktu dapat diputar kembali. Bahkan untuk menghibur hatinya yang diliputi perasaan tertuduh itu aku akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung dan berbicara dengan dia meski di tengah-tengah kesibukanku.

Bukankah ini yang terjadi banyak dari kita? Beberapa orang secara keliru menjadi terlalu yakin bahwa mereka akan selalu baik-baik saja. Kita menunda untuk memulai hidup yang sehat, makan sembarangan, mengabaikan olahraga, lalu petaka datang dan akhirnya kita menangis bagai anak kecil yang permennya dirampas orang. Berkali-kali seperti itu. Kita bisa saja mencari ratusan contoh lain untuk masalah serupa, tetapi biarkan aku mengatakan salah satu kalimat angkuh yang paling sering kudengar dari mulut seseorang: “Biarkan aku menikmati hidupku dengan memuaskan semua nafsuku di masa muda, lalu aku akan bertobat di masa tua dan mati dengan tenang”. Entah dari mana dia tahu bahwa dia akan hidup sampai pada masa senja. Tanpa bermaksud memprediksi usia seseorang, tetapi atas dasar apa kita menjadi sangat yakin bahwa kesempatan akan selalu tersedia bagi kita? Betapa kagetnya setiap kali mendengarkan kabar pilu dari teman dan anggota keluarga yang terlihat sangat sehat, tetapi malah meninggal secara tiba-tiba di usia yang masih sangat muda. Tubuh kekar dan karier gemilang memang membanggakan, tapi jangan lupa, hidup penuh dengan kejutan!

Mari kita pikirkan sesuatu yang lebih dalam tentang semua ini. Sungguh tidak terbayangkan apa jadinya jika para rasul Kristus adalah sekumpulan pemalas yang menunda-nunda pengabaran Injil. Semakin dalam lagi, apa yang akan terjadi dengan kita jika Tuhan Yesus yang kita sembah adalah pribadi yang tidak tahu bekerja? Tetapi sungguh aku terpesona dengan-Nya. Semakin aku mengenal-Nya, semakin hatiku bergelora. Dia yang kukenal adalah Tuhan yang tidak takut “meninggalkan” kenyamanan takhta-Nya dan mengambil rupa seorang hamba yang dianiaya dengan kejam. Ia punya kuasa, tapi tidak sekalipun Ia memeras Petrus agar memberi-Nya ikan setiap kali Ia lapar, lalu setelah kenyang naik ke atas keledai, dan jalan-jalan menikmati pemandangan sore di Galilea. Tidak!

Tanpa menunda-nunda, pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Ia menyusuri jalan berbatu di bawah panas terik dan berteriak sana sini agar manusia kembali bersekutu dengan Allah. Ia menempuh perjalanan jauh dari Surga yang mulia ke Betlehem yang kotor dengan hati yang tulus. Dengan punggung yang robek serta pelipis yang tertancap duri jerami Ia menempuh jalan Via Dolorosa yang berkelok-kelok. Dengan keringat, darah, dan (kuyakin) air mata, Ia lalu mati di Golgota untukku dan untukmu.

Dia tidak menunda-nunda apa yang telah dijanjikan-Nya melalu para nabi-Nya. Ia sudah menepatinya, tepat dua ribu yang tahun lampau. Saat ini adalah waktumu dan waktuku. Berjuanglah dan jangan membuang-buang waktu. Setiap kali kemalasan datang menggodamu, berdoalah dan mintalah semangat, hikmat, dan kekuatan dari Allah. Renungkanlah salib itu. Di sana pernah tergantung Kristus, sang pejuang yang bijaksana. Ikutlah teladan-Nya. Lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Hargai setiap kesempatan dan manfaatkanlah dengan sebaik mungkin. Hormati semua pemberian-Nya. Bergegaslah untuk kemuliaan Tuhan. Jangan menunda-nunda!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menikmati Allah di Segala Musim

Menikmati Tuhan di segala keadaan adalah hal terbaik. Sebuah sukacita ketika kita bisa merasakan pimpinan-Nya saat bekerja maupun saat kita beristirahat.

Sesegera Mungkin, Buatlah Rencana Keuanganmu!

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Tahun 2020 sudah memasuki bulan kedua, tapi rasanya belumlah terlambat untuk bicara soal resolusi.

Dalam peribadatan tutup tahun serta awal tahun, gereja pun kerap menyuarakan pentingnya membuat resolusi. Namun, sadar atau tidak, gereja cenderung menekankan agar umat Kristen memiliki resolusi yang berfokus pada ritual peribadatan Kristiani. Contohnya, umat Kristen harus baca Alkitab setahun penuh di tahun yang baru, harus ikut satu pelayanan, dan lain-lain.

Tentu bukan hal yang salah untuk mengingatkan ritual yang terjadi dalam “altar,” tetapi gereja juga tidak boleh abai pada hal yang terjadi di “latar,” yaitu hal-hal yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ada beberapa gereja yang merasa mendiskusikan seks, relasi, dan uang, adalah hal yang tabu. Padahal, nyatanya manusia kerap menghadapi permasalahan pada tiga topik tersebut.

Bicara soal uang, apakah kamu sudah melakukan perencanaan finansialmu sepanjang tahun ini?

Pentingnya apa sih?

Sebagai pelajar maupun pekerja, kita mungkin pernah atau kerap mengalami kondisi bangkrut—kondisi di mana kita kehilangan financial resources, alias bokek. Pada akhir bulan, biasanya orang tua kita mengirimkan uang bulanan, atau para pekerja mendapatkan gaji, tapi tak berselang lama, minggu kedua di bulan berikutnya isi dompet menipis. Dan ketika uang habis, mungkin ada dari kita yang ikut kegiatan gereja yang ada makan-makannya, ikut doa puasa (yang mungkin landasannya bukanlah pertobatan), kita pun minta uang ke orang tua, dan yang paling buruk ialah berutang kepada teman atau lewat pinjaman online.

Bukankah pengaturan keuangan yang buruk bisa mengindikasikan bahwa kita belum bertanggung jawab atas berkat materiil yang Tuhan titipkan bagi kita?

Perumpamaan tentang talenta, dalam Matius 25:14-30 maupun perumpamaan tentang uang Mina dalam Lukas 19:12-27 bisa menjadi asumsi bahwa Tuhan menuntut kita untuk bertanggung jawab atas hal-hal yang Dia titipkan pada kita. Talenta dan Mina, dalam beberapa perspektif teologi dapat diartikan sebagai karunia Roh, soft skill di mana Tuhan ingin menghasilkan jiwa-jiwa baru yang percaya pada-Nya. Namun, berkat materiil juga merupakan berkat yang tak bisa diabaikan, karena perihal keuangan juga berdampak langsung dalam kehidupan di masa kini. Maka, seharusnyalah seorang pelajar mampu mengelola kiriman bulanan yang dikirim oleh orang tua; begitu pun seorang pekerja harus mampu mengelola pendapatan yang dia terima.

Tantangan yang kita hadapi dalam mempertanggungjawabkan berkat materiil adalah gaya hidup masa kini yang impulsif dan konsumtif. Kita bisa membeli banyak hal lewat ragam aplikasi di gawai, mulai dari makanan, pakaian, barang elektronik, dan banyak lainnya. Hal-hal yang awalnya tidak terlalu diinginkan lambat laun jadi kebutuhan. Semisal harus beli boba atau kopi tiap hari. Fasilitas kredit pun makin mudah kita dapatkan, baik pinjaman kredit online maupun fitur pay later.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa merancang kehidupan finansial dengan baik?

Kuncinya adalah mencatat, agar kita bisa mengukur dan menghitung pengeluaran serta pendapatan dengan tepat. Kita bisa mendapatkan banyak aplikasi maupun program perihal merancang finansial di gawai kita. Kita juga bisa melakukannya dengan secarik kertas, yang dibagi menjadi dua kolom. Sisi kiri untuk pemasukan, sisi kanan untuk menulis pengeluaran. Dalam proses penulisan tersebut, kita bisa mulai dengan mengurutkan informasi nominal yang pasti dan stabil dari yang paling atas. Contohnya, pada sisi kiri, kita mencatat pemasukan berupa kiriman dari orang tua, gaji bulanan, atau pendapatan lainnya yang bersifat stabil; dan di bawahnya kita bisa melanjutkan dengan pemasukan yang fluktuatif, seperti hasil dari kerja sambilan.

Hal yang sama juga bisa diterapkan pada sisi kanan, untuk menuliskan pengeluaran. Dari atas kita menuliskan pengeluaran yang sifatnya wajib dan pasti, misal bayar uang kuliah, bayar uang kos, persepuluhan, bayar cicilan. Pada bagian bawahnya kita bisa mencatat pengeluaran yang sifatnya alokasi seperti kebutuhan pengembangan diri, kebutuhan entertainment. Kita pun bisa melanjutkan dengan menulis pengeluaran untuk biaya saving yang dialokasikan untuk investasi dan tabungan.

Tentu secara teoritis tampaknya mudah, tapi perlu usaha keras untuk mempraktikkan pencatatan keuangan ini. Sebagai umat Kristen, kita perlu melandasi perancangan finansial dengan pemahaman bahwa melalui harta tersebut, kita dapat memuliakan nama Tuhan, seperti tertulis dalam Amsal 3:9, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.”

Dalam usaha memuliakan Tuhan melalui berkat materiil yang kita miliki, tentunya dengan perencanaan yang matang pula, seperti tertulis dalam Lukas 14:28, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuh menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”

Selamat menikmati 2020 dengan resolusi finansial yang baik, kawan!

*Tulisan ini diadaptasi dari wawancara dengan Fenny Sutandi, seorang bankir dan Certified Financial Planner. Dapat didengarkan melalui podcast di sini.

Baca Juga:

Nafsu dalam Pacaran: Dosa Terselubung yang Tidak Kita Bicarakan

Selama masa-masa pacaran, kami bergumul dengan dosa yang amat kami sesali. Hanya teman yang paling dekat dan pemimpin di gereja kami yang tahu akan dosa itu: hawa nafsu. Ketika akhirnya kami mengalami konsekuensi dosa, barulah kami sadar dan bertekad untuk berbalik.

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

Oleh Still Ricardo Peea, Tangerang

Natal sudah berlalu, namun beberapa waktu belakangan, tema Natal “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” terus terngiang-ngiang di benakku. Tema itu terdengar baik, tapi sekaligus juga seperti utopis bagiku. Pikiranku pun merespons:

“Sepertinya tema itu cuma bisa jadi wacana deh, sulit untuk diwujudkan.”

“Memangnya semua orang bisa ngertiin aku?”

“Hmm, bisa sih jadi sahabat, tapi nggak ke semua orang juga.”

Mungkin kamu pun merespons hal yang sama ketika membaca tema tersebut. Namun, saat aku merenungkannya baik-baik, makna dari tema itu menamparku. Selama ini aku memilih-milih dengan siapa aku ingin menjadi sahabat. Kepada orang yang kuanggap tidak membuatku nyaman, atau yang tidak terima dengan ‘standar’ persahabatanku, cukup jadi teman atau sekadar kenal saja deh. Itu cukup buatku.

Namun, ketika aku melihat kembali isi Alkitab, aku mendapati Tuhan memanggil kita untuk menjadi sahabat. Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Ayat tersebut bukan sekadar ungkapan kata, karena tanpa kita sadari Allah sudah melakukannya terlebih dulu buat kita. Ketika kita masih berdosa, Allah dalam rupa Yesus hadir ke dunia, memberikan nyawa-Nya untuk kita. Itulah kasih yang teramat besar (Yohanes 15:13).

Sahabat sejati tidak meletakkan standar persahabatannya pada syarat-syarat yang ditetapkannya untuk keuntungan pribadinya. Amsal tidak mengatakan agar kita bersahabat dan menaruh kasih kepada orang-orang yang membuat kita nyaman, atau yang sesuai dengan kriteria kita. Amsal memanggil kita untuk menjadi sahabat, atau bersikap selayaknya sahabat untuk siapa pun. Standarnya adalah “kasih”, bukan kenyamanan kita pribadi.

Aku pun membayangkan. Betapa mengerikannya jika Yesus menerapkan standar sesuai dengan standar-standar manusia atau seperti standar kenyamanan yang kita terapkan. Jika demikian, tentu Yesus takkan bersedia untuk menderita sejak lahir, mengalami kesepian, disiksa dan mati di salib. Syukur kepada Allah karena standar yang Yesus gunakan bukanlah standar manusia. Standar yang Yesus kenakan adalah kasih, sebab Dia sendiri adalah kasih.

Yesus menanggalkan keilahian-Nya, rela mengenakan tubuh manusia yang rentan dan rapuh karena kasih-Nya bagi kita. Dia pun bersedia menjadi sahabat bagi para penyamun, pelacur, pemungut cukai, janda, anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang terpinggirkan karena kasih-Nya.

Tidak ada keuntungan diri sendiri yang dicari Yesus ketika Dia menjadi sahabat bagi kita. Malah, Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk menjadi tebusan bagi orang-orang yang tidak layak, seperti aku dan kamu, dan semua orang di dunia ini.

Jauh berbeda seperti standarku yang memilih-milih orang, Yesus tidak memilih-milih. Kasih-Nya diberikan-Nya kepada semua orang. Pengorbanan-Nya dilakukan-Nya supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pengampunan dari Bapa dan beroleh keselamatan, sebab kita sendiri tak mampu menyelamatkan diri kita.

Teladan Yesus tersebut menggambarkan betapa indahnya persahabatan yang tidak didasari pada standar lahiriah semata. Standar lahiriah, atau standar manusia yang kita terapkan bisa berubah kapan pun. Ketika kita disakiti, mungkin kita bisa kecewa dan balik membenci kawan kita. Namun, Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, hari ini, dan selama-lamanya (Ibrani 13:8).

Meski terkesan sulit, namun aku berdoa agar menjadi sahabat bagi semua orang menjadi resolusiku di tahun ini pula. Tuhan telah menunjukkan teladan yang terbaik. Dia menagajak dan memanggil kita untuk melakukan-Nya, untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang kita jumpai.

Baca Juga:

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Mengawali tahun 2020, aku diingatkan tentang beberapa ide dan mimpi yang sudah cukup lama aku tunda. Cukup lama terkubur karena kesibukan, akhirnya muncul pertanyaan ini dalam doaku, “Tuhan, kapan aku harus memulai?”

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Oleh Ezra A. Hayvito, Tangerang Selatan

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Mengawali tahun 2020, aku diingatkan tentang beberapa ide dan mimpi yang sudah cukup lama aku tunda. Cukup lama terkubur karena kesibukan, akhirnya muncul pertanyaan ini dalam doaku, “Tuhan, kapan aku harus memulai?”

Kalau kamu merasa pertanyaan ini juga tidak asing buat kamu, izinkan aku membagikan sedikit ceritaku dalam tulisan ini.

Maret 2019, aku diberikan undangan untuk menulis artikel rohani oleh salah satu sahabatku. Tawaran itu begitu menarik bagiku karena saat itu aku memang sedang giat menulis catatan dari renungan pribadiku. Namun bagiku menulis artikel rohani adalah sebuah area baru yang belum siap untuk aku masuki sehingga tawaran itu hanya kusimpan sebagai mimpi dan terkubur dalam kesibukanku yang lain.

Waktu berlalu dan pada Desember 2019, tawaran itu datang kembali. Seketika, aku mendapat keyakinan untuk mengiyakan undangan itu. Tidak ada keraguan dan itu cukup aneh bagiku.

Aku percaya keyakinan itu berasal dari Tuhan. Aku meyakini jika itu memang kehendak Tuhan, pasti ada dorongan yang kuat yang bisa kita hindari dan Tuhan pasti memberikan damai sejahtera ketika hal itu dilakukan.

Berkaca dari pengalaman ini, aku mencoba menyelami pikiranku untuk melihat proses pembelajaran apa saja yang aku alami mulai dari aku mendapat tawaran menulis hingga akhirnya aku mulai menulis. Berikut ini adalah proses yang aku pelajari tentang kapan dan bagaimana harus mulai melaksanakan sesuatu.

1. Cari Tahu Kehendak Tuhan

Salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan adalah melakukan hal yang menurut kita baik belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk itu penting sekali bagi kita untuk mencari tahu apakah ide dan mimpi kita ini sesuai dengan kehendak-Nya.

Awalnya aku tidak dapat memahami bagaimana aku bisa mengetahui apakah hal ini sesuai dengan kehendak Allah atau tidak. Inilah yang aku lakukan. Aku membuang semua kebingungan dari pikiranku, aku menolak segala ketakutan dan keraguan, lalu aku mulai berdoa dan bersyukur.

Aku berdoa sambil memuji dan menyembah hingga segala ketakutan dan keraguan itu hilang. Aku percaya, Tuhan bertakhta di atas pujianku. Ketika aku datang berdoa dan bersyukur dengan hati yang tulus, aku yakin Ia dan Kerajaan-Nya datang dan aku ada dalam hadirat-Nya.

Aku tahu, Tuhan juga ingin berbicara kepadaku. Ia bukan allah yang tidak bisa berbicara kepada umatnya. Dia Allah yang mau memiliki relasi dengan kita. Seperti komunikasi pada umumnya, ini harus berlangsung dua arah. Dalam doa dan penyembahanku, aku telah berbicara kepada Tuhan. Sekarang giliran Tuhan menyampaikan isi hati-Nya.

Biasanya aku akan mulai dengan membaca Alkitab dengan meminta hikmat dari Tuhan. Aku percaya Alkitab adalah kebenaran dan Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan menuntun kita kepada segala kebenaran.

Dalam 1 Korintus 2:10-12, Rasul Paulus juga menyampaikan tidak ada yang mengetahui isi pikiran (kehendak) seseorang selain rohnya, begitu pula dengan Allah, tidak ada yang mengetahui kehendak-Nya selain Roh Allah atau Roh Kudus.

Sehingga dapat aku simpulkan sebelum memulai melaksanakan ide dan mimpi, aku harus terlebih dahulu memastikan itu adalah kehendak Tuhan. Hal ini aku lakukan dengan bersekutu selalu dengan Roh Kudus dan peka terhadap suara-Nya.

2. Buat Perencanaan

Dalam Amsal 24:6 dikatakan kita hanya dapat berperang dengan perencanaan dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak. Aku ingat pesan seorang teman yang berkata jika kita berperang tanpa rencana artinya kita sedang berencana untuk kalah. Ini membuat ku yakin aku harus menuliskan rencanaku sebelum memulai menjalankan ide dan mimpi itu.

Namun dalam menyusun rencana ini, nasihat siapa yang harus kuminta? Aku berpikir dan teringat salah satu lagu pada ibadah Natal.

“… dan Nama-Nya pun disebut orang. Penasihat Ajaib. Allah yang Perkasa. Bapa yang Kekal. Raja Damai.”

“Nama-Nya akan disebut sebagai Penasihat Ajaib.” Ini yang membuatku yakin bahwa aku harus membuat rencana sebelum aku berperang dan aku sudah memiliki Penasihat yang bukan sembarang penasihat, Ia adalah Penasihat Ajaib yang adalah Yesus sendiri.

Dalam perencanaanku aku melibatkan Tuhan dan ini yang aku pelajari. Aku harus membuat target dalam jangka waktu tertentu karena aku termasuk orang yang akan menunda pekerjaan apabila tidak ada tenggat waktu yang diberikan.

Tuhan memberiku inspirasi untuk bangun setiap pagi dan menentukan progress apa yang mau aku capai di hari itu, bagaimana prioritasnya terhadap aktivitasku yang lain, dan menentukan berapa lama durasi yang mau aku luangkan untuk mengerjakan hal tersebut.

Aku menemukan hal ini efektif bagiku. Kalau menurutmu cara ini tepat bagimu untuk kamu lakukan, coba lakukan itu. Pastikan kamu menyediakan waktu khusus untuk menulis rencana dan berdoalah sebelumnya untuk meminta hikmat dari Tuhan.

3. Laksanakan Rencana

Tahap pelaksanaan sering menjadi bagian yang sulit untuk aku lakukan. Aku menyadari hal ini disebabkan karena ketika aku berusaha menggenapi kehendak Tuhan, Iblis pun akan berusaha membuatku gagal dalam menggenapi rencana Tuhan.

Distraksi adalah salah satu musuh besar yang harus aku lawan. Tanpa aku sadari, ketika aku lengah dan mengizinkan diriku untuk bersantai di Instagram, Youtube, atau media sosial lainnya, aku perlahan-lahan sedang di jerat Iblis untuk tidak produktif selama berjam-jam dan berujung pada dosa.

Mengatasi hal ini, Roh Kudus mengingatkanku untuk setia terhadap perkara yang kecil. Melawan kemalasan dan distraksi dengan kesetiaan dan ketaatan. Ini aku terapkan dengan bangun pagi, merapikan tempat tidur, bersaat teduh, dan membuat rencana aktivitasku untuk hari itu. Ketika aku memiliki to-do-list yang jelas dan target untuk dicapai, aku menjadi tidak mudah terdistraksi.

Aku yang sedang giat dalam menyelesaikan pekerjaan bertemu dengan masalah baru. Keasyikan bekerja membuatku menyampingkan waktu istirahat dan tidak jarang aku lalai dalam doa pribadiku. Tanpa sadar aku masuk dalam jerat lain si Iblis dengan menjadikan pekerjaanku sebagai berhala.

Tuhan menegurku. Aku tidak merasakan damai sejahtera dan kreativitasku menjadi terbatas. Di momen inilah aku sadar, aku harus taat terhadap rencana waktu yang sudah kutentukan sebelumnya, termasuk taat apabila tiba waktu untukku beristirahat dan berdoa.

Selanjutnya adalah pikiran yang berkata aku tidak sanggup, perasaan jenuh, dan rasa ingin menyerah. Ini adalah contoh selanjut yang sering menjadi penghambatku dalam mengerjakan apa yang aku kerjakan. Di saat seperti ini, Roh Kudus mengingatkanku terhadap alasan aku melakukan semua ini. Dan jawabannya sesederhana karena ini adalah kehendak Tuhan dan di dalam Dia terletak kekuatanku untuk terus berjuang.

Kunci yang aku pelajari untuk taat dan setia adalah untuk menjadikan perjalanan kita sebagai penyembahan kita kepada Tuhan. Ketaatan dan kesetiaan yang sejati lahir dari luapan kasihku kepada Tuhan.

Lebih dari sekadar mengikuti peraturan, kasihku kepada Tuhan seharusnya pendorong untuk aku berani melangkah lebih jauh. Aku percaya, dengan mengasihi Tuhan aku dimampukan untuk melakukan apapun yang Tuhan perintahkan, termasuk untuk taat dan setia.

***

Bagiku, ini adalah salah satu kehendak Tuhan yang berhasil aku mulai dalam hidupku. Aku bersyukur untuk setiap proses yang Tuhan ajarkan hingga akhirnya aku dapat menuangkannya dalam tulisan ini. Aku berdoa agar dalam segala keterbatasan tulisanku, Roh Kudus menyempurnakan setiap tulisan ini dalam hatimu. Haleluya!

Immanuel, God with us!

Baca Juga:

Mengapresiasi Diri, Resolusi Tahun Baru

Aku pernah merasa hidupku penuh cela, lapuk, atau pun tidak berguna, tapi Allah memandangku bernilai. Tahun ini, aku belajar untuk menghargai diriku sendiri. Inilah resolusiku.

Resolusiku: Belajar Mengapresiasi Diri

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Novita, terima kasih sudah tampil perkasa di dalam menjalani dan mengakhiri tahun 2019.
Terima kasih boleh tetap kuat dan teguh dalam menjalani setiap peran yang Dia percayakan.
Terima kasih sudah mau berjuang melawan kebobrokan-kebobrokanmu yang terus terulang.
Terima kasih Novita, sampai bertemu di tahun 2020.
Tetaplah menjadi Novita yang mau berjuang!

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang sering aku katakan kepada diriku akhir-akhir ini. Mungkin bagi beberapa orang pernyataan di atas seperti sedang membanggakan diri sendiri, merasa bahwa apa yang telah terjadi di 2019 atas hidupku karena kekuatanku sendiri.

Tapi, tentu bukan itu yang dimaksud. Menyatakan hal-hal di atas tujuannya bukan untuk membanggakan diriku yang ada bisa tiba sampai di titik ini. Bagiku sendiri ungkapan di atas tentunya bukan hal yang mudah untuk aku katakan di awal. Melihat perjalanan selama 2019, banyak hal yang telah gagal aku lakukan untuk menyenangkan hati-Nya, banyak pergumulan yang aku coba selesaikan sendiri, banyak dosa yang aku toleransi. Sungguh sebenarnya di tahun 2019 seperti tahun yang sangat berat bagiku.

Aku berani untuk menyatakan hal-hal di atas ketika Tuhan menyapaku lewat saat teduhku di suatu pagi.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Korintus 6:20).

Di buku renungan itu disampaikan, mungkin saat ini aku merasa hidupku penuh cela, lapuk, tua, atau tidak berguna lagi. Tapi, Allah tetap memandang diriku bernilai. Sang Pencipta alam semesta ini menginginkanku—bukan karena pikiran, tubuh, pakaian, pencapaian, kepandaian, atau kepribadianku, melainkan karena diriku sendiri. Dia rela menempuh apa pun dan membayar harga berapa pun untuk mendapatkanku.

Tuhan sungguh telah melakukannya. Dari surga, Dia datang ke dunia untuk menebusku dengan darah-Nya sendiri (Roma 5:6,8-9). Sedemikian besar keinginan-Nya untuk memilikiku. Aku sungguh berharga di mata-Nya, dan Dia mengasihiku.

Saat teduhku pagi itu menyapaku sangat tajam dan meneguhkan aku kembali, bahwa aku sangat berharga bagi-Nya. Mungkin saat itu banyak hal yang aku lakukan mendukakan hati-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan aku begitu saja. Dia tetap menganggap aku berharga di mata-Nya, Dia tetap mengasihiku. Itulah yang membuat aku pun harus mengasihi diriku.

Saat itu hal yang aku pilih untuk mengasihi diriku adalah dengan mengatakan hal-hal di awal tadi. Bagiku, dengan menyatakannya aku sedang mengapresiasi diriku sendiri. Sederhana dan menguatkan.

Dengan mengapresiasi diriku yang telah dibayar lunas dan berharga di mata-Nya, itu memudahkanku untuk mengucap syukur kepada Allah atas orang-orang yang sudah hadir di dalam kehidupanku.

Orang-orang yang hadir di dalam kehidupanku tentu sangat beragam dan mereka pun sama berharganya di mata Allah. Apa pun latar belakang, kondisi, karakter mereka, mereka punya porsinya masing-masing memberi peran di dalam hidupku. Sehingga ketika aku pun dikecewakan oleh mereka, aku juga harus sadar bahwa aku pun pernah mengecewakan mereka bahkan Allah sendiri.

Sahabat, memulai tahun yang baru ini, sudahkah kamu mengapresiasi dirimu yang sudah dimampukan Tuhan untuk tangguh melewati tahun yang telah berlalu? Atau kamu sedang sibuk menyalahkan dirimu untuk kesalahan-kesalahan yang telah kamu lakukan di tahun yang lalu?

Mari bersama memilih untuk mengapresiasi diri sendiri sebagai rasa ungkapan syukur kita kepada Allah sehingga kita juga dimampukan untuk mengapresiasi orang disekitar kita.

“Engkau berharga di mata-Ku, Aku menghargai dan mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a, BIS).

Baca Juga:

Bukan Resolusi Kembang Api

Semangat memulai sesuatu yang baru sering mirip kembang api. Heboh dan meriah, tapi cuma sesaat. Lantas, bagaimana supaya resolusi tahun baru bisa terlaksana?

Bukan Resolusi Kembang Api

Oleh Erick Mangapul Gultom, Jakarta

Perjalanan hidup kita setiap tahunnya selalu diwarnai keberhasilan dan kegagalan. Natur kita sebagai manusia tentunya ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, sehingga apa yang dialami tahun sebelumnya mendorong kita untuk membuat target-target baru seiring pergantian tahun.

“Pokoknya, tahun ini aku mau lebih rajin belajar supaya bisa lulus cumlaude!”

“Pokoknya, tahun ini harus selesai skripsi biar cepat wisuda dan membanggakan papa dan mama.”

“Pokoknya, tahun ini aku tekun bersaat teduh setiap hari dan enggak mau bolong-bolong lagi!”

“Pokoknya, tahun ini harus selesai baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu.”

Sayangnya, semangat ini seringkali lebih menyerupai kembang api, heboh dan meriah, tetapi hanya bertahan sesaat. Dalam sekejap, mati dan terlupakan begitu saja.

Mau belajar lebih rutin, tetapi lebih tertarik ke mal untuk jalan-jalan. Mau menyelesaikan skripsi, tapi selalu bilang, “kan masih bisa esok hari”. Mau rajin saat teduh setiap hari, tetapi ketika bangun tidur yang dicek pertama kali malah notifikasi di HP. Mau membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, malah tergoda menonton video di YouTube yang kelihatannya lebih menarik.

Aku pun merenungkan isi hati Tuhan dalam surat kasih-Nya, Alkitab. Inilah tiga hal yang kuperoleh sebagai hasil perenunganku ketika hendak menyusun dan melaksanakan resolusi tahun baru.

1. Relasi, Dekat dengan Sumber Berkat

Bicara tentang relasi, aku selalu teringat pada Daud. Daud adalah tokoh dalam Alkitab yang memiliki kerinduan luar biasa untuk selalu dekat dengan Tuhan. Dalam Mazmur 1 ayat 1 dan 2, Daud berkata:

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan merenungkan Taurat itu siang dan malam.”

Aku sungguh bersyukur ketika membaca bagian firman Tuhan ini. Aku diingatkan bahwa seringkali kita meminta Tuhan memberkati rencana-rencana yang telah kita buat, tetapi lupa untuk melibatkan Tuhan dalam menyusun rencana tersebut. Kita lebih suka pada berkat-Nya daripada hubungan dengan-Nya. Padahal, orang yang mencintai firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam disebut “berbahagia” oleh pemazmur. Dengan berelasi dengan Tuhan, kita sudah diberkati dengan kebahagiaan.

Seperti Daud, aku terinspirasi untuk dapat berelasi dengan Tuhan karena rindu untuk selalu dekat dengan-Nya. Aku belajar untuk memperbaiki fokusku—bukan kepada berkat, melainkan kepada Sang Sumber Berkat itu sendiri.

Aku rindu untuk mengajak teman-teman agar kita senantiasa membangun relasi dengan Tuhan dalam doa dan pembacaan firman. Marilah kita berdoa dan meminta hikmat Roh Kudus dalam menyusun perencanaan kita di tahun yang baru ini, agar apa yang kita rencanakan sesuai dengan apa yang Ia kehendaki bagi kita. Ia yang akan membimbing dan memampukan kita dalam melaksanakannya!

2. Kesetiaan, Proses Hari demi Hari

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Kita cenderung mengukur kemajuan dan kesuksesan dari hal-hal yang besar, padahal firman Tuhan justru mengingatkan kita untuk belajar setia dari hal-hal yang kecil.

Aku pernah membuat resolusi tahun baru untuk mengurangi penggunaan kertas yang berlebihan di kantor tempatku bekerja. Sebelumnya, aku selalu mencetak hasil desain untuk memeriksanya. Untuk mewujudkan resolusiku tersebut, aku membiasakan diri untuk memeriksa semuanya di laptop sebelum dicetak. Apa yang kulakukan nampaknya sederhana, tetapi ternyata tidak semudah itu untuk dilakukan. Aku belajar untuk setia pada kebiasaan kecil ini. Aku percaya perubahan besar harus dimulai dari diri sendiri!

Dalam menjalani resolusiku ini, aku teringat pada perumpamaan talenta dalam Matius 25 ayat 14 sampai 30, yang memberi pesan serupa dengan Lukas 16 ayat 10. Hasil yang kita peroleh akan semakin berarti apabila kita menghargai setiap proses yang dilalui. Ketika kemajuan yang diperoleh tidak seberapa, jangan turuti keinginan si jahat yang membuat hati kita tergoda untuk berhenti setia. Ingat, Tuhan kita yang setia akan “menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat” (2 Tesalonika 3:3).

3. Yesus, Harapan yang Sejati

Apa yang sebenarnya menjadi harapan kita yang terutama? Kalau diri Allah yang menjadi sasaran akhir dari harapan kita, maka kita berada di jalur yang benar. Namun, kita perlu mengoreksi kembali tujuan kita ketika apa yang kita harapkan justru adalah apa yang diciptakan Allah.

Perenungan selanjutnya adalah, apakah harapan-harapan itu menyenangkan hati Allah, atau jangan-jangan hanya nafsu pribadi semata? Aku pernah membuat resolusi untuk menabung di tahun ini, agar tahun depan bisa membeli barang yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Menyadari bahwa aku hanya ingin memuaskan diri tanpa tujuan yang jelas, aku akhirnya menggunakan uang tabunganku untuk membeli buku rohani untukku dan adik-adik rohaniku.

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).

Aku berdoa agar kita semua senantiasa menjadikan Yesus sebagai tujuan utama dari segala hal yang ingin kita capai. Bukan lagi kehendak kita sendiri, tetapi kehendak Yesus yang kita lakukan dalam kehidupan kita.

Biarlah semangat kita untuk menjalani komitmen yang kita buat bersama Tuhan terus membara seperti api Roh Kudus, bukan lagi seperti kembang api. Roh Kudus memampukan kita untuk menjadi anak-anak yang setia dan hidup berkenan kepada Tuhan dalam relasi yang indah bersama-Nya.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Allah Bekerja dalam Kehilangan Kita

Tidak ada orang yang ingin merasakan kehilangan. Bahkan, banyak yang berpikir bahwa kehilangan akan menghasilkan rasa sakit dan tidak perlulah menjadi bagian hidup manusia. Namun, tidak bisa kita pungkiri, semua orang pasti akan merasakan kehilangan.

5 Cara Supaya Resolusi Tahun Barumu tidak Zonk

Jelang akhir tahun, kata ini tidak asing kita dengar. Banyak orang mengevaluasi kehidupan mereka selama setahun lalu menyusun strategi baru untuk setahun ke depan. Namun, tak jarang resolusi yang sudah disusun itu mangkrak di tengah jalan. Jelang tengah tahun, malah ada yang sudah lupa sama sekali dengan resolusinya.

Gimana ya caranya supaya resolusi yang sudah kita susun bisa terlaksana dengan maksimal?

Allah Imanuel, Menyertaiku dan Masa Depanku

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Aku bersama rekan sekerjaku sedang berkomitmen untuk membaca Alkitab secara keseluruhan. Di suatu sore, aku melanjutkan pembacaan Alkitabku di Keluaran 33.

Keluaran 33 bercerita tentang Musa yang memohon penyertaan Tuhan untuk berjalan bersama-sama bangsa Israel di padang gurun menuju tanah Kanaan. Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk. Meskipun Tuhan telah menunjukkan banyak mukjizat dan memelihara mereka, bangsa Israel tetap saja bersungut-sungut. Bahkan, di Keluaran 32 tertulis bahwa bangsa Israel memalingkan diri dari Tuhan dengan membuat anak lembu emas dan sujud menyembah kepadanya.

Akibat perbuatan mereka, Tuhan tidak berkenan untuk menyertai bangsa Israel. Namun, mendengar ancaman dari Tuhan, bangsa Israel pun berkabung dan Musa memohon agar kiranya Tuhan tetap berkenan menyertai mereka. Ada bagian yang menarik di pasal ini. Di pasal 33 ayat 15, Musa berkata, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Musa memahami betul bahwa kehadiran Tuhan di tengah bangsa Israel adalah yang terpenting, hingga dia pun memohon agar kiranya Tuhan sudi beserta dengan mereka. Tanpa kehadiran Tuhan, mustahil bagi bangsa Israel untuk lari dari kejaran kereta Firaun dan juga menghadapi tantangan-tantangan lainnya.

Keluaran 33 mengingatkanku kembali akan perjalanan hidupku sepanjang tahun ini. Ada banyak hal yang aku syukuri, tapi ada juga hal-hal yang kupertanyakan. Misalnya, tahun ini aku dinyatakan lulus untuk melanjutkan pendidikanku setelah sekian lama aku mendoakannya. Namun, di tahun ini juga aku banyak dikecewakan oleh orang-orang yang aku kasihi. Aku pun bertanya, apakah yang akan terjadi di tahun depan? Semua bisa berubah tiba-tiba dan aku ragu untuk menghadapi tahun depan.

Aku pribadi adalah orang yang sistematis, aku punya perencanaan dalam segala hal. Di akhir tahun seperti ini, aku membuat berbagai perencanaan untuk ke depannya, tetapi aku malah jadi sulit menikmati kehadiran Tuhan dalam tiap perencanaan yang kubuat. Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya apa yang kurencanakan terwujud tanpa mempercayai bahwa Tuhan akan menyertai perjalananku. Agaknya, aku seperti bangsa Israel yang meragukan penyertaan Tuhan, padahal dalam perjalananku di tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, Tuhan telah menyertaiku.

Jika ada di antara kamu yang juga mengalami sepertiku, marilah kita mengingat kembali bahwa meskipun apa yang kita inginkan tidak berjalan seturut kemauan kita, Tuhan selalu menyertai perjalanan kita. Seperti bangsa Israel di padang gurun yang diberkati Tuhan dengan burung puyuh, roti mana, tiang api, dan tiang awan, Tuhan pun dalam pemeliharaan-Nya yang sempurna akan menyediakan segala yang kita butuhkan.

Pemeliharaan Tuhan tidak selalu terwujud lewat hal-hal yang spektakuler. Ketika kita diberi kesehatan, bisa menikmati pekerjaan dan pelayanan, serta dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang mendukung, itu adalah salah satu dari sekian banyak bukti pemeliharaan-Nya buat kita.

Di penghujung tahun ini, seiring kita juga menyiapkan diri untuk menyambut Natal, kiranya kita tidak hanya sibuk oleh hal-hal lahiriah, tetapi juga menyiapkan hati kita agar Sang Juruselamat yang kita rayakan kelahiran-Nya, lahir dan memerintah pula dalam hati kita. Sang Juruselamat tidak hanya hadir saat bulan Desember, Dia senantiasa hadir menyertai kita. Nabi Yesaya dalam nubuatannya pun mengatakan bahwa Juruselamat itu akan dinamakan Imanuel, yang berarti Allah selalu menyertai kita.

Kesetiaan Allah sebagaimana ditunjukkan-Nya kepada bangsa Israel tidak pernah berubah sampai kepada hari ini, Dia pun menyertai kita senantiasa.

Menutup tulisan ini, ada sepenggal lirik lagu yang ingin kubagikan:

Pardon for sin and a peace that endureth,
Thine own dear presence to cheer and to guide;
Strength for today and bright hope for tomorrow,
Blessings all mine, with ten thousand beside!
“Great is Thy faithfulness!”

Lirik lagu ini adalah doaku untuk bersyukur atas semua hal yang terjadi di tahun ini, sekaligus juga menjadi pengharapanku untuk menjalani tahun yang baru.

Kepada sahabat-sahabatku, juga semua pembaca, selamat menyambut Sang Juruselamat dengan hati yang terus mengimani Dia, Imanuel.

Baca Juga:

Mengapa Kita Perlu Bersyukur atas Peristiwa Natal?

Menjelang Natal, tak jarang aku mendengar khotbah-khotbah diwartakan dari atas mimbar, “Kita harus bersyukur atas peristiwa Natal.” Sejenak aku berpikir, mengapa kita perlu bersyukur atas Natal? Adakah hal istimewa yang sungguh menjadikan Natal sebagai peristiwa yang patut disyukuri?