Posts

Mendengar dengan Kasih

Kamis, 14 Mei 2015

Mendengar dengan Kasih

Baca: Lukas 18:9-14

18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:

18:10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. —Lukas 18:14

Mendengar dengan Kasih

Suatu malam di bulan Agustus di Vermont, seorang misionaris muda berbicara di gereja kecil kami. Negara yang dilayaninya bersama istri sedang mengalami konflik antar pemeluk agama, sehingga tempat itu dianggap terlalu berbahaya bagi anak-anak. Dalam kesaksiannya, ia bercerita tentang sebuah pengalaman yang memilukan saat putrinya memohon kepadanya agar tidak ditinggalkan di sebuah sekolah berasrama.

Saat itu saya baru menjadi seorang ayah dari seorang putri, dan kisah itu membuat saya kesal. Bagaimana mungkin orangtua yang penuh kasih dapat meninggalkan putrinya sendirian seperti itu? gerutu saya dalam hati. Seusai kebaktian itu, saya begitu marah sampai-sampai saya menolak untuk ikut mengunjungi misionaris itu. Saya pun langsung keluar dari gedung gereja, sambil berkata dengan suara keras: “Syukurlah, aku tidak seperti . . . .”

Saat itu juga, Roh Kudus menyentak saya. Saya bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Bayangkan, saya hampir mengucapkan kata-kata yang persis dengan apa yang diucapkan orang Farisi kepada Allah, “Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain” (Luk. 18:11). Saya begitu kecewa terhadap diri saya sendiri! Pasti Allah juga kecewa pada saya! Sejak malam itu, saya selalu memohon Allah membantu saya untuk mau mendengarkan orang lain dengan rendah hati dan mampu mengendalikan diri saat mereka bersaksi tentang pengakuan, pernyataan, atau penderitaan mereka. —Randy Kilgore

Tuhan, kiranya kami cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata dan untuk menghakimi. Sikap angkuh begitu mudah menjangkiti hidup kami. Berilah kami kerendahan hati yang mencerminkan hati-Mu dan kasih-Mu.

Menghakimi orang lain menghalangi kita untuk mendekat kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 19-21; Yohanes 4:1-30

Siapakah Kamu?

Minggu, 29 Maret 2015

Siapakah Kamu?

Baca: Matius 21:1-11

21:1 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya

21:2 dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku.

21:3 Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."

21:4 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi:

21:5 "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda."

21:6 Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka.

21:7 Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.

21:8 Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.

21:9 Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"

21:10 Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?"

21:11 Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

Dan ketika [Yesus] masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: “Siapakah orang ini?” —Matius 21:10

Siapakah Kamu?

Dari waktu ke waktu, kita membaca tentang orang-orang yang tersinggung karena merasa tidak dihormati dan disegani sebagaimana mestinya. “Kamu tidak tahu siapa saya?” teriak mereka dengan nada marah. Sikap itu membuat kita teringat pada pernyataan yang berbunyi, “Jika kamu sampai perlu memberi tahu orang tentang siapa dirimu, mungkin sebenarnya dirimu tidaklah sepenting yang kamu kira.” Kita melihat dalam diri Yesus suatu sikap yang sangat bertolak belakang dengan keangkuhan dan peninggian diri seperti itu. Sikap itu bahkan ditunjukkan Yesus ketika Dia mendekati akhir masa hidup-Nya di dunia.

Yesus memasuki Yerusalem dengan disambut seruan pujian dari orang banyak (Mat. 21:7-9). Ketika orang-orang di seluruh kota bertanya, “Siapakah orang ini?” orang banyak itu menjawab, “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea” (ay.10-11). Yesus tidak datang dengan menuntut perlakuan khusus, tetapi dengan kerendahan hati, Dia datang untuk menyerahkan hidup-Nya dalam ketaatan pada kehendak Bapa-Nya.

Perkataan dan perbuatan Yesus layak mendapat penghormatan, tetapi tidak seperti para penguasa yang gila hormat, Dia tidak pernah menuntut orang untuk menghormati-Nya. Masa sengsara yang dialami- Nya mungkin terlihat seperti kelemahan dan kegagalan terbesar-Nya. Namun demikian, keyakinan yang kuat akan jati diri dan misi-Nya menopang Yesus sepanjang saat-saat terkelam itu, yaitu ketika Dia mati untuk menebus dosa kita agar kita bisa hidup dalam kasih-Nya.

Yesus layak menerima persembahan hidup kita dan penyembahan kita hari ini. Apakah kita mengenali diri-Nya? —David McCasland

Tuhan, aku takjub akan kerendahan hati, kekuatan, dan kasih-Mu. Aku merasa malu dengan keinginanku untuk mementingkan diri sendiri. Kiranya dengan mengenal-Mu, keegoisan hatiku bisa berubah menjadi kerinduan untuk hidup sebagaimana Engkau hidup di bumi.

Sekali berjumpa Yesus, kamu takkan pernah sama lagi. OSWALD CHAMBERS

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 7-8; Lukas 5:1-16

Menyerahkan Cermin Kita

Jumat, 13 Maret 2015

Menyerahkan Cermin Kita

Baca: Filipi 2:1-5

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Dibuatnyalah [oleh Bezaleel] bejana pembasuhan dan juga alasnya dari tembaga, dari cermin-cermin para pelayan perempuan yang melayani. —Keluaran 38:8

Menyerahkan Cermin Kita

Ketika Musa mengumpulkan bangsa Israel untuk memulai pekerjaan membangun Kemah Suci (Kel. 35-39), ia memanggil Bezaleel, seorang tukang yang ahli, untuk membantu dalam membuat perabotannya. Kita membaca bahwa sejumlah pelayan perempuan diminta untuk memberikan cermin tembaga mereka yang berharga agar dibuat menjadi bejana pembasuhan (38:8). Mereka menyerahkan cermin-cermin itu untuk membantu dalam menyiapkan suatu tempat kediaman bagi Allah.

Bagi kebanyakan dari kita, menyerahkan cermin mungkin tidak mudah untuk dilakukan. Kita memang tidak diminta untuk menyerahkan cermin, tetapi saya terpikir bahwa terlalu banyak introspeksi diri mungkin dapat membawa dampak yang mengkhawatirkan. Akibatnya, bisa saja kita menjadi lebih suka memikirkan diri sendiri dan kurang memikirkan keadaan orang lain.

Ketika kita dapat segera melupakan keadaan kita dan mengingat bahwa Allah mengasihi kita apa adanya—dengan segala ketidaksempurnaan kita—kita dapat mulai untuk tidak hanya “memperhatikan kepentingan [kita] sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4).

Agustinus pernah berkata, kita akan kehilangan jati diri bila kita mengasihi diri sendiri, tetapi kita menemukan jati diri sejati bila kita mengasihi orang lain. Dengan kata lain, rahasia kebahagiaan bukanlah dengan memuaskan diri sendiri, melainkan dengan memberikan hati kita, hidup kita, dan diri kita dalam kasih kepada sesama. —David Roper

Bapa, tolong aku untuk lebih mendahulukan orang lain daripada diriku sendiri. Kiranya aku tidak mementingkan diriku sendiri ketika memperhatikan orang lain dan kebutuhan mereka.

Hati yang berfokus kepada orang lain tidak akan berpikir untuk mendahulukan diri sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 20-22; Markus 13:21-37

Photo credit: markemark4 / Foter / CC BY-NC-SA

Keagungan Sejati

Senin, 20 Januari 2014

Keagungan Sejati

Baca: Markus 10:35-45

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. —Markus 10:43

Keagungan Sejati

Ada orang-orang yang merasa dirinya bagaikan sebuah batu kerikil kecil yang tak berarti di tengah suatu jurang yang dalam. Namun sekecil apa pun kita menilai diri sendiri, Allah dapat memakai kita secara luar biasa.

Dalam khotbahnya di awal tahun 1968, Martin Luther King Jr. mengutip perkataan Yesus dari Markus 10 tentang hal melayani. Kemudian King mengatakan, “Setiap orang bisa menjadi besar, karena setiap orang bisa melayani. Anda tak perlu gelar sarjana untuk bisa melayani. Anda tak perlu membuat satu kalimat yang sempurna untuk bisa melayani. Anda tak perlu mengetahui tentang Plato dan Aristoteles untuk bisa melayani. . . . Anda hanya perlu sebuah hati yang penuh kasih karunia dan jiwa yang digerakkan oleh kasih.”

Ketika murid-murid Yesus bertengkar tentang siapa di antara mereka yang akan menduduki tempat terhormat di surga, Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang’’ (Mrk. 10:43-45).

Bagaimanakah dengan kita? Seperti itukah pemahaman kita tentang keagungan? Apakah kita melayani dengan gembira, saat melakukan pekerjaan yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain? Apakah tujuan kita melayani adalah untuk menyenangkan Tuhan dan bukan untuk mendapatkan pujian? Jika kita bersedia menjadi seorang pelayan, hidup kita akan memuliakan Tuhan yang sungguh agung. —VCG

Tak ada pelayanan yang dipandang kecil,
Ataupun terlalu besar, meski seluruh bumi diraihnya;
Hal itu kecil jika demi kemuliaan diri sendiri,
Dan itu besar jika seturut kehendak Tuhan. —NN.

Perbuatan sederhana yang dilakukan demi nama Kristus merupakan perbuatan yang sungguh agung.

Kecongkakan Dan Kesombongan

Minggu, 21 Juli 2013

Kecongkakan Dan Kesombongan

Baca: Amsal 8:12-21

Aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. —Amsal 8:13

Dalam buku Screwtape Letters (Surat- Surat Screwtape) karya C. S. Lewis, sesosok setan senior mendesak anak didiknya untuk mengalihkan pikiran seorang Kristen dari Allah dan membuatnya sibuk memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain yang ada di gereja.

Dalam satu ibadah Minggu, saya merasa terganggu dan agak jengkel dengan seseorang di dekat saya yang bernyanyi keras-keras dengan nada yang sumbang. Ia pun tidak kompak ketika jemaat membaca ayat secara bersama-sama. Namun saat kami menundukkan kepala untuk bersaat teduh dan berdoa dalam hati, saya tersadar bahwa Tuhan pasti lebih berkenan kepada hati orang itu daripada semua perasaan menghakimi yang dilihat-Nya dengan jelas di dalam hati saya.

Beberapa hari kemudian, saya membaca Amsal 8 dan tertegur oleh ayat ke-13: “Aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Melalui pasal ini, hikmat memanggil kita untuk memiliki hati yang berpengertian (ay.5) dan mendapatkan hidup dan menjadi berkenan di mata Tuhan (ay.35). Jika tidak demikian, kita akan menjalani hidup dengan suatu sikap yang sombong, sementara batin kita perlahan-lahan sekarat dan mati (ay.36).

Kesombongan itu bagai sebilah pedang yang melukai bukan saja orang yang menggunakannya tetapi juga orang yang diserangnya. Kecongkakan merampas kita dari segala sesuatu yang ingin Allah berikan kepada kita, tetapi “ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan” (22:4). —DCM

Kurindukan sedikit kelembutan-Mu, Juruselamatku,
Merendahkan diri di saat aku menampilkan diriku;
Menemukan kemuliaan dan kekuatanku dalam rahmat-Mu,
Tahu bahwa dalam kelemahanku, anugerah-Mu sempurna. —Bosch

Kecongkakan mempermalukan, tetapi kerendahan hati menghasilkan hikmat.

Memerangi Ego

Jumat, 5 Juli 2013

Memerangi Ego

Baca: Yakobus 4:6-17

“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” —Yakobus 4:6

Ketika seorang jenderal kembali dari suatu peperangan dengan membawa kemenangan, warga kota Roma kuno akan mengadakan suatu pawai untuk menyambut kepulangan sang penakluk. Pawai itu akan diikuti oleh pasukan sang jenderal, kemudian disusul barisan tawanan perang yang dibawa serta sebagai bukti dari kemenangan tersebut. Ketika pawai tersebut berarak melintasi tengah kota, orang banyak akan mengelu-elukan keberhasilan pahlawan mereka.

Untuk mencegah agar ego dari sang jenderal tidak membubung terlalu berlebihan, seorang budak ditempatkan bersamanya di dalam kereta. Mengapa demikian? Supaya pada saat penduduk Roma melontarkan puji-pujian kepada sang jenderal, si budak dapat terus membisikkan di telinganya, “Anda pun makhluk fana.”

Ketika memperoleh keberhasilan, bisa jadi kita juga mengabaikan kelemahan diri sendiri dan membiarkan hati kita dipenuhi kesombongan yang menghancurkan diri kita. Yakobus mengingatkan kita untuk menjauhi bahaya kesombongan dan mengarahkan kita untuk bersikap rendah hati dan mendekat kepada Allah. Ia menulis, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Kunci dari pernyataan itu adalah mengasihani. Tak ada yang lebih mengagumkan dari itu! Hanya Tuhan yang layak mendapatkan ucapan syukur dan pujian—terutama atas belas kasihan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita.

Keberhasilan, pencapaian, atau kebesaran kita tidak berasal dari diri sendiri. Semua itu merupakan karya belas kasihan Allah yang tiada bandingnya dan yang kita butuhkan untuk selamanya. —WEC

Belas kasihan yang baru setiap pagi
Anugerah untuk setiap hari,
Harapan baru di setiap pencobaan,
Dan keberanian di sepanjang hidup. —Mc Veigh

Belas kasihan Allah adalah kasih tak terhingga yang diwujudkan dalam kebaikan-Nya yang tak berkesudahan.

Dokter Dari Desa

Selasa, 25 Juni 2013

Dokter Dari Desa

Baca: Filipi 2:1-11

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. —Filipi 2:3

Novel karya Sinclair Lewis, Main Street (Jalan Utama), bercerita tentang Carol, seorang wanita berpendidikan asal kota yang menikahi seorang dokter dari desa. Ia merasa lebih pintar daripada orang-orang yang hidup di lingkungan kota kecil yang kini menjadi tempat tinggalnya. Namun respons suaminya terhadap sebuah krisis medis membuat Carol menyadari keangkuhannya. Seorang petani imigran terluka parah pada tangannya dan perlu diamputasi. Carol menyaksikan dengan kagum saat suaminya mengucapkan kata-kata yang menghibur hati orang yang terluka itu dan istrinya yang kebingungan. Sikap si dokter yang hangat dan rela melayani itu menantang pola pikir Carol yang sombong.

Di setiap hubungan kita dengan sesama sebagai pengikut Yesus, kita bisa memilih untuk berpikir bahwa kita lebih unggul, atau sebaliknya dengan rendah hati, kita bisa mengutamakan kepentingan orang lain. Paulus mendorong kita untuk “tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:3-4).

Kita dapat belajar untuk menganggap kebutuhan orang lain itu lebih penting daripada kebutuhan kita sendiri dengan cara memperhatikan teladan Yesus. Dia “mengambil rupa seorang hamba” dan memberikan diri-Nya bagi kita (ay.5-8). Saat kita gagal menghargai orang lain, pengorbanan-Nya bagi kita menunjukkan bahwa kerendahan hati merupakan pilihan yang lebih baik. —HDF

Makin serupa Yesus, Tuhanku
Inilah sungguh kerinduanku;
Makin bersabar, lembut, dan merendah,
Makin setia dan rajin bekerja. —Gabriel
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 138)

Sukacita dialami ketika kita menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita.

Titik Lemah

Kamis, 30 Mei 2013

Titik Lemah

Baca: 2 Tawarikh 26:3-15

Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat. —2 Tawarikh 26:15

Dalam literatur, titik lemah merupakan suatu ciri dari sifat seorang tokoh pahlawan dalam cerita yang menyebabkan kejatuhannya. Inilah yang dialami Uzia, seorang raja Yehuda yang dinobatkan pada usia 16 tahun. Selama bertahun-tahun ia mencari Tuhan, dan sepanjang ia berbuat demikian, Allah memberikan keberhasilan besar kepadanya (2Taw. 26:4-5). Namun segalanya berubah ketika “nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat. Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak” (ay.15-16).

Uzia memasuki bait Tuhan untuk membakar ukupan di atas mezbah (ay.16), dan dengan itu ia terang-terangan melawan perintah Allah. Dalam kesombongannya, Uzia mungkin merasa bahwa peraturan Allah berlaku bagi semua orang kecuali atas dirinya. Ketika Uzia marah besar terhadap para imam yang memberitahukan bahwa perbuatannya tersebut tidak benar, Tuhan pun menimpakan penyakit kusta kepadanya (ay.18-20).

Dalam literatur dan dalam kehidupan nyata, betapa sering kita melihat seseorang yang reputasinya baik dan dihormati mengalami kejatuhan yang memalukan dan akhirnya menderita. “Raja Uzia sakit kusta sampai kepada hari matinya, dan sebagai orang yang sakit kusta ia tinggal dalam sebuah rumah pengasingan, karena ia dikucilkan dari rumah TUHAN” (ay.21).

Satu-satunya cara kita supaya dapat mencegah berubahnya madu pujian menjadi racun kesombongan adalah dengan sikap rendah hati mengikut Tuhan. —DCM

Kerendahan hati bisa berbahaya
Bagi mereka yang mengejarnya;
Kita jadi rendah hati di mata Allah
Dengan melayani seperti Anak-Nya. —Gustafson

Emas dan perak diuji dalam perapian; orang dikenal dari sikapnya terhadap pujian. —Amsal 27:21 (BIS)

Bejana Tanah Liat

Kamis, 21 Februari 2013

Bejana Tanah Liat

Baca: 2 Korintus 4:7-15

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7

Ketika Anda membeli sebuah perhiasan yang indah, perhiasan tersebut sering diletakkan dalam kotak kecil berlapis kain beludru yang berwarna hitam atau gelap. Saya pikir hal itu dirancang sedemikian rupa agar perhatian Anda segera tertuju pada keindahan perhiasan itu. Jika kemasannya dirancang dengan corak yang ramai, keindahan harta yang bernilai tersebut akan tersaingi.

Hal itu mengingatkan saya akan pendapat Paulus tentang pelayanan yang Yesus lakukan melalui diri kita, yakni ketika ia berkata, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat” (2 Kor. 4:7). Kita mudah sekali lupa bahwa kita hanyalah kemasannya dan karya Allah itulah hartanya yang bernilai. Kita justru menghiasi bejana tanah liat kita dan menerima pujian untuk hal-hal yang kita lakukan dalam pelayanan untuk Kristus. Kita berusaha mencari kemuliaan bagi diri sendiri ketika kita telah mengampuni seseorang, atau menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, atau memberi kepada sesama dengan murah hati. Yang menjadi masalah, ketika kita mulai mencari penegasan dan pujian atas perbuatan baik yang kita lakukan, hal itu berarti kita sedang menyaingi kecemerlangan dari harta karya Allah yang bekerja melalui kita.

Ketika kita melakukan pelayanan untuk Kristus, hal itu bukanlah untuk diri kita tetapi demi kemuliaan-Nya. Semakin kita tidak menonjol, semakin cemerlanglah Kristus. Oleh karena itu, Paulus berkata bahwa harta itu dipunyai dalam bejana tanah liat supaya Allah sajalah yang akan dimuliakan. Lagipula, tidak ada yang menganggap bejana tanah liat sebagai benda yang penting. Harta yang ada di dalamnya itulah yang penting! —JMS

Tolong kami untuk tidak mengaburkan kemuliaan Allah
Tidak juga oleh diri kami cahaya-Nya menjadi suram;
Kiranya setiap pikiran ditaklukkan kepada Kristus,
Agar dikosongkan untuk diisi oleh-Nya. —NN.

Kiranya kecemerlangan harta Kristus bersinar melalui Anda ketika Anda hidup bagi-Nya.