Posts

Saya Tidak Layak

Rabu, 13 Desember 2017

Saya Tidak Layak

Baca: 1 Korintus 15:1-11

15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.

15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu—kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,

15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;

15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.

15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.

15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.

15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. —Galatia 2:20

Saya Tidak Layak

Sebagai salah satu pemimpin orkestra yang paling terkenal dari abad ke-20, Arturo Toscanini dikenang karena sikapnya yang senang memberikan pujian kepada orang-orang yang memang pantas mendapatkannya. Dalam buku Dictators of the Baton, penulis David Ewen menggambarkan bagaimana para anggota orkestra New York Philharmonic berdiri dan bertepuk tangan untuk Toscanini di akhir latihan mereka memainkan Simfoni No. 9 karya Beethoven. Ketika keriuhan itu mereda, dengan air mata yang menetes, Arturo berkata dengan suara parau: “Saya tidak layak . . . Beethoven yang layak! . . . Toscanini bukanlah siapa-siapa.”

Dalam surat-suratnya di Perjanjian Baru, Rasul Paulus juga menolak untuk menerima pujian atas pengaruh dan wawasan rohaninya. Paulus tahu bahwa ia bagaikan seorang ayah dan ibu rohani bagi banyak orang yang beriman kepada Kristus. Paulus mengakui bahwa ia telah bekerja keras dan sering menderita dalam upayanya menguatkan iman, pengharapan, dan kasih dalam diri banyak orang (1Kor. 15:10). Namun, ia sadar bahwa sesungguhnya ia tidak layak menerima pujian dari orang-orang yang telah diberkati lewat teladan iman, kasih, dan wawasannya.

Jadi demi kebaikan para pembaca suratnya, dan juga demi kebaikan kita, Paulus seakan berkata, “Aku tidak layak, saudara-saudaraku sekalian. Kristus saja yang layak . . . Paulus bukanlah siapa-siapa.” Kita semua hanyalah pembawa pesan yang diberikan oleh satu Pribadi yang memang layak untuk menerima segala pujian kita. —Mart DeHaan

Bapa di surga, tanpa-Mu, kami bukanlah apa-apa. Tanpa anugerah-Mu, kami tak punya pengharapan. Tanpa Roh Kudus, kami sungguh tak berdaya. Tunjukkanlah kepada kami bagaimana kami dapat memberi-Mu pujian yang memang selayaknya Engkau terima.

Bijaksanalah orang yang lebih suka memberikan pujian daripada menerimanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 12-14 dan Wahyu 4

Menjadi yang Terdahulu

Jumat, 1 Desember 2017

Menjadi yang Terdahulu

Baca: Markus 9:33-37

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. —Matius 23:12

Menjadi yang Terdahulu

Baru-baru ini saya termasuk dalam kelompok paling belakang dalam antrean penumpang yang akan naik ke pesawat dengan tempat duduk yang belum ditentukan. Saya mendapat kursi di bagian tengah, di dekat sayap. Namun, satu-satunya tempat untuk menyimpan tas saya adalah kompartemen di atas penumpang di bagian paling belakang. Itu artinya, ketika pesawat mendarat, saya harus menunggu sampai semua penumpang keluar sebelum saya dapat ke belakang untuk mengambil tas saya.

Saya duduk sambil tersenyum, dan sempat terlintas pemikiran yang sepertinya berasal dari Tuhan: “Tak ada ruginya kamu menunggu. Mungkin justru ada manfaatnya bagimu.” Saya pun memutuskan untuk menikmati waktu luang itu dengan membantu penumpang lain menurunkan bagasi mereka dan membantu pramugari untuk bersih-bersih. Ketika akhirnya dapat mengambil tas, saya tertawa saat seseorang mengira bahwa saya bekerja di penerbangan tersebut.

Pengalaman hari itu membuat saya merenungkan kata-kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk. 9:35).

Saya menunggu karena memang tidak ada pilihan lain. Namun, dalam kerajaan Yesus yang sangat bertolak belakang, tersedia tempat kehormatan bagi mereka yang secara sukarela mengesampingkan kepentingan mereka demi mendahulukan kepentingan orang lain.

Yesus datang ke dunia kita, di mana orang-orangnya serba terburu-buru dan selalu ingin didahulukan, “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28). Pelayanan kita yang terbaik kepada-Nya adalah pelayanan yang kita berikan kepada sesama. Semakin kita merendahkan diri, semakin kita dekat kepada-Nya. —James Banks

Tuhan yang penuh kasih, tolonglah aku untuk meneladani-Mu dalam memenuhi kebutuhan sesama dan melayani-Mu sesuai kebutuhan mereka.

Kerajaan Yesus sangat bertolak belakang dengan dunia.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 40-41; 2 Petrus 3

Sebuah Pelajaran dari Bapak Penjual Sandal

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Apa yang akan kamu lakukan ketika ada seseorang yang meminta kepadamu? Sederhananya, ada dua jawaban yang mungkin aku atau kamu akan berikan, yaitu memberi atau menolak.

Namun, ada sebuah peristiwa di mana aku merasa bimbang dan dilema. Di satu sisi aku ingin memberi tapi aku enggan. Di sisi lainnya, aku ingin menolak tetapi tidak sampai hati.

Cerita ini bermula saat aku sedang makan bersama seorang teman di warung kaki lima. Waktu itu ada seorang bapak berjalan mendekat ke arah kami. Jalannya pincang, di punggungnya terkait sebuah tas besar, tangannya memegang beberapa pasang sandal, dan senyum tipis tersungging di wajahnya. Dia berusaha membujuk kami untuk membeli salah satu dari sandal yang dia jajakan. Awalnya aku berusaha acuh tak acuh terhadap bapak itu, tetapi dia bergeming dan menatapku dengan tatapan lunglai.

Akhirnya, aku bertanya. “Berapa harga sandalnya, pak?”

“60 ribu, mas,” sahutnya.

Saat itu aku hanya membawa sedikit uang di dompet, dan tepat di hari itu juga aku kehilangan sejumlah uang. Ingin rasanya aku menolak bapak itu supaya dia segera beranjak. Tapi, setelah kuamati sekali lagi bapak itu, aroma balsem tercium menyengat dari tubuhnya, matanya begitu sayu, wajahnya penuh keringat, dan nafasnya pun tersengal-sengal. Aku pikir sepertinya bapak itu memang sedang kelelahan, sakit, dan tentunya membutuhkan uang.

Hati kecilku terketuk, lalu kupegang tangan bapak itu dan berkata, “Pak, saya tidak punya cukup uang buat beli sandal bapak, dan saya juga saat ini belum membutuhkan sandal. Tapi, saya mau memberi buat bapak seadanya.”

Respons yang kudapat mengejutkanku. Bapak itu tersungkur di depanku dan menangis. Setelah kuajak bicara lebih lanjut, ternyata perjuangan bapak itu sungguh luar biasa. Aroma balsem yang menyeruak dari tubuhnya itu berasal dari kakinya yang membengkak karena kecelakaan. Aku mengajaknya untuk duduk makan bersamaku, namun dia menolak dengan halus. Katanya dia mau menggunakan uang yang diterimanya untuk pulang saja ke rumah. Kemudian bapak itu undur diri dan berjalan meninggalkan kami.

Saat aku melanjutkan makanku, pikiranku terus bertanya-tanya dan membayangkan tentang bapak itu.

Sudah sejauh mana dia berjalan? Bagaimana dengan kakinya yang bengkak itu? Bagaimana perasaannya apabila hari itu tak ada satupun yang membeli jualannya?

Walaupun aku telah memutuskan untuk memberi, tetapi aku merasa malu pada diriku sendiri. Sebagai seorang Kristen, aku sudah sering mendengar ayat-ayat yang berbicara tentang memberi. Namun, ketika dihadapkan pada pilihan di mana sudah seharusnya aku memberi, aku malah bingung dan bertanya-tanya. Apakah aku harus memberi kepada bapak ini? Atau, sampai sejauh mana aku harus memberi? Apakah aku memberi jika aku sedang berkelimpahan? Atau, apakah aku memberi jika kalau aku merasa ingin saja?

Alkitab tidak mengatakan pada kita bahwa kita harus memberi kalau kita diberi kembali, atau kita harus memberi kalau kita sedang punya. Dalam Kisah Para Rasul 20:35, Alkitab dengan jelas mengatakan pada kita bahwa adalah lebih baik memberi daripada menerima, titik. Tanpa ada persyaratan lainnya.

Malam itu aku menyadari bahwa aku masih terlalu egois. Yang ada dalam pikiranku hanyalah tentang diriku sendiri. Ketika bapak itu datang menghampiriku, aku mengesampingkan dahulu rasa kepedulianku dan lebih memikirkan tentang kemalangan yang sudah terlebih dahulu menimpaku. Aku lupa bahwa sesulit-sulitnya hidupku, ada orang lain yang hidupnya jauh lebih sulit. Aku pun lupa bahwa ketika aku menolong orang yang lemah dan hina, sesungguhnya aku sedang melakukan itu untuk Tuhan (Matius 25:40).

Aku berdoa memohon ampun kepada Tuhan dan juga mengucap syukur atas kehadiran bapak tadi yang boleh menegur dan mengajarku untuk menjadi seorang yang ikhlas memberi. Mungkin pemberianku yang kecil itu tidak akan mengubah kehidupan bapak itu seketika, tetapi minimal dia bisa kembali ke rumahnya, beristirahat, dan bertemu dengan keluarganya.

Aku yakin bahwa tak hanya bapak itu, tetapi ada banyak orang lain di lingkungan kita yang juga membutuhkan pertolongan. Entah itu seorang janda di gereja kita yang tak punya uang untuk berobat, teman sekelas kita yang tak mampu untuk membayar uang sekolah, atau bahkan para pedagang kecil yang sering menghampiri kita saat kita sedang makan. Pada intinya, realita yang tersaji di hadapan kita adalah ada banyak orang-orang yang sebetulnya membutuhkan bantuan dari kita. Hanya, apakah kita peka dan mau menaruh perhatian terhadap mereka?

Sebagai orang Kristen yang adalah pengikut Kristus, sudah seharusnya kita mengikuti teladan-Nya dan juga peka terhadap lingkungan sekitar kita. Ketika Kristus telah memberikan segala-galanya untuk kita yang seharusnya tak layak diberi (Roma 3:23-24), akankah kita memberikan sedikit yang ada daripada kita untuk sesama manusia yang membutuhkan?

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Baca Juga:

Masa Single: Sebuah Garis yang (Sepertinya) Tidak Bisa Kulewati

Apa gunanya sebuah garis? Jawabannya adalah untuk memisahkan dua sisi. Dari sisi di mana aku berdiri, aku melihat orang-orang di sisi seberangku sudah memiliki pacar atau menikah. Dan, di sinilah aku, sedang berdiri menanti untuk menyeberangi garis ini.

Ketika Aku Menyadari Ada Motivasi Terselubung di Balik Pelayananku di Gereja

Oleh Olyvia Hulda

Aku bersyukur dipercaya oleh Tuhan untuk melayani-Nya sebagai pemain keyboard. Bersama dengan 3 orang pemusik lainnya, aku tergabung dalam tim inti. Selain kami, ada tim pemusik lainnya, namun timku sering mendapatkan jam pelayanan yang tinggi. Tak jarang kami diberikan kepercayaan untuk melayani di acara-acara akbar seperti Natal, Paskah, dan ulang tahun gereja.

Bapak Gembala dan beberapa jemaat mengagumi permainan musik yang kami lakukan. Kami terus berusaha untuk mengembangkan kemampuan bermusik kami. Dengan tekun, kami belajar melodi-melodi baru, membuat intro-intro yang berbeda, bahkan kami pun berusaha membuat instrumen terdengar unik dan menarik sekalipun itu cukup rumit untuk dilakukan.

Suatu ketika, ada permasalahan yang terjadi di gereja. Dalam beberapa khotbahnya, Bapak Gembala melontarkan kritik secara terang-terangan yang ditujukan kepada para pelayan mimbar. Sebenarnya, kritik tersebut sudah pernah disampaikan kepada pemimpin tim musik kami, akan tetapi kritik itu tidak pernah tersampaikan karena kami jarang sekali mengadakan persekutuan pelayan mimbar. Cara Bapak Gembala yang mengkritik secara terang-terangan di depan jemaat itu membuat dua dari anggota tim pemusik inti mengundurkan diri. Alhasil, tersisa aku dan seorang temanku saja serta empat pemusik lainnya yang jam pelayanannya tidak sesering timku.

Aku dan temanku merasa terpukul atas kehilangan kedua anggota pemusik. Selama setahun, permainan musikku mulai kacau karena aku merasa tim musikku kini tak sekompak dahulu. Sering juga aku merasa kurang cocok dengan permainan musik keempat temanku. Feeling kami dalam bermusik ternyata berbeda. Nada-nada yang kami mainkan juga tidak selaras sehingga lagu-lagu pun sering menjadi sumbang.

Semangatku memudar dan aku sempat menyalahkan Bapak Gembala dan Tuhan atas persoalan ini. Mengapa Bapak Gembala harus menegur di depan jemaat hingga membuat teman-temanku mengundurkan diri? Namun, suatu hari Tuhan menegurku melalui sebuah ayat: “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan, bukanlah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:1-3).

Kata “manusia duniawi dan hidup secara manusiawi” yang disebutkan oleh Paulus itu membuatku tertohok. Di balik pelayanan yang kulakukan, ternyata aku masih memelihara kehidupan sebagai manusia duniawi. Ketika permasalahan di gereja terjadi, alih-alih berusaha memahami dengan jernih duduk perkaranya, aku malah langsung menghakimi Bapak Gembala karena cara dia mengkritik yang menurutku kurang elok. Aku sadar, sebagai seorang pelayan Tuhan, seharusnya aku bisa membantu mendamaikan keadaan, bukan malah mendukung teman-temanku yang lain untuk menyudutkan Bapak Gembala.

Kemudian, secara tidak sengaja, aku mendengar sebuah khotbah yang bercerita tentang nabi Samuel yang mengurapi Daud. Hamba Tuhan yang berkhotbah tersebut menekankan bahwa ukuran yang Tuhan pakai untuk menilai sesuatu berbeda dari ukuran manusia. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7b).

Aku merenungkan ayat tersebut dan mengintrospeksi diriku sendiri serta pelayananku. Apakah movitasi dan tujuanku untuk melayani-Nya sudah benar? Tapi, saat itu aku sendiri masih bingung apa dan di mana letak kesalahanku.

Aku berdoa dan memohon supaya Roh Kudus membimbingku untuk memeriksa hatiku. Aku mendapati bahwa diriku selama ini telah berdosa dan salah di hadapan Tuhan. Aku dan teman-temanku terlalu berfokus pada apa yang dilihat mata—penampilan, performa, bahkan apresiasi dari Bapak Gembala dan jemaat telah menjadi motivasi terselubung dari pelayanan yang kami lakukan. Aku lebih terpaku pada kunci-kunci dan tempo lagu daripada persekutuan pribadiku dengan Tuhan. Aku mengerahkan kekuatanku untuk mempelajari kunci dan melodi daripada mempelajari apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku. Tanpa kusadari, melalui permainan keyboard dan tim pelayananku, aku telah membangun tembok kesombongan.

Aku bersyukur hari itu Tuhan mengingatkanku untuk tidak menjadikan pelayanan sebagai sarana untukku memegahkan diri. Aku memohon ampun dan berdoa kepada Tuhan supaya Dia memberikanku kesempatan untuk berubah. Tidaklah salah untuk melatih kemampuan bermusikku, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah pelayanan yang kulakukan tidak boleh menghilangkan waktu-waktu pribadiku bersama Tuhan. Sejak saat itu, aku mulai belajar untuk mempraktikkan kerendahan hati secara nyata dalam kehidupan pelayananku.

Lambat laun, semangatku untuk melayani Tuhan kembali menyala, namun dengan motivasi yang berbeda dari pelayananku terdahulu.

Jika dahulu aku mengandalkan diriku sendiri dalam melayani-Nya, kini aku mengandalkan Tuhan dengan cara berdoa terlebih dahulu sebelum mulai melayani-Nya. Aku belajar untuk membangun relasi dengan Tuhan, supaya yang mengalir dalam jiwaku adalah hikmat dari-Nya, bukan hikmatku sendiri.

Jika dahulu aku memainkan instrumen musik sesuai keinginan hatiku dan timku sendiri, sekarang aku melakukannya berdasarkan kebutuhan jemaat dan gereja. Bermain musik bukan sebuah ajang untukku pamer di depan jemaat.

Jika dahulu aku sedih karena merasa tidak cocok dengan teman-teman yang gaya bermusiknya berbeda dariku, sekarang aku belajar untuk tidak menggurui dan tidak menghakimi mereka saat berlatih. Aku belajar untuk menerima setiap keunikan mereka dan menyesuaikan gaya permainanku dengan gaya mereka.

Jika dahulu aku menyalahkan Tuhan dan bersedih karena kedua temanku yang meninggalkan gereja, sekarang aku mendoakan mereka supaya di gereja manapun mereka berada, mereka boleh tetap melayani Tuhan dan menjadi berkat. Alih-alih berfokus pada diriku sendiri, sekarang aku mulai memikirkan tentang regenerasi pemusik di gerejaku. Kepada orang-orang yang berminat, dengan senang hati aku akan mengajar dan membimbing mereka bermain keyboard.

Ada perjuangan yang harus kulakukan untuk melayani Tuhan dengan motivasi yang benar dan untuk melakukannya aku sangat membutuhkan pertolongan dari Roh Kudus. Aku perlu menyangkal diri, merendahkan hatku, memikul salib, dan melakukan apa yang memang Tuhan kehendaki.

Melalui pengalaman ini, aku belajar untuk mengerti bahwa melayani Tuhan adalah sebuah panggilan yang mulia, yang diberikan oleh Allah untuk kita orang Kristen. Akan tetapi, sebelum kita melayani, satu hal yang perlu kita bangun adalah relasi yang intim dengan Allah. Keintiman kita dengan Allah sajalah yang akan menggerakkan hati kita untuk rindu melayani-Nya dengan cara yang benar.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Di Balik Kepergian Papa yang Mendadak, Ada Pertolongan Tuhan yang Tak Terduga

Ketika Tuhan memanggil pulang Papa begitu cepat, duniaku seakan runtuh. Perasaanku tidak karuan dan aku pun tak habis pikir. Papa tidak punya riwayat sakit, juga bersahabat baik dengan semua orang. Namun, mengapa Tuhan melakukan ini semua?

Pujian dari Hati yang Tulus

Senin, 30 Mei 2016

Pujian dari Hati yang Tulus

Baca: Mazmur 51:9-19

51:9 Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:10 Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:11 Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

51:12 Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:13 Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:14 Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

51:15 Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

51:16 Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

51:17 Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

51:18 Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

51:19 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. —Mazmur 51:19

Pujian dari Hati yang Tulus

Dalam perjalanannya ke luar negeri, teman saya mendatangi suatu gereja untuk beribadah. Ia memperhatikan bahwa orang-orang yang memasuki ruang kebaktian segera berlutut dan berdoa dengan membelakangi mimbar yang terletak di bagian depan gereja. Teman saya menyadari bahwa jemaat gereja itu sedang mengakui dosa mereka kepada Allah sebelum mereka memulai kebaktian.

Bagi saya, tindakan yang menunjukkan kerendahan hati itu melukiskan perkataan Daud di Mazmur 51, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (ay.19). Daud sedang menggambarkan penyesalan dan pertobatannya sendiri atas dosa perzinahan yang diperbuatnya dengan Batsyeba. Penyesalan yang sungguh atas dosa terjadi ketika kita menerima pandangan Allah terhadap perbuatan kita— dengan memandang dosa sebagai sesuatu yang jelas-jelas salah, membencinya, dan tidak ingin lagi meneruskannya.

Ketika kita benar-benar menyesali dosa kita, Allah menerima kita kembali dengan penuh kasih. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). Pengampunan itu membuat kita merasa lega di hadapan-Nya dan menggugah kita untuk memuji nama-Nya. Setelah Daud bertobat, mengakui dosanya, dan diampuni Allah, ia merespons dengan mengatakan, “Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu” (Mzm. 51:17).

Kerendahan hati adalah respons yang tepat terhadap kekudusan Allah. Dan pujian merupakan respons hati kita terhadap pengampunan yang dianugerahkan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tidak membenarkan atau menyepelekan dosaku. Terimalah aku dalam kejatuhanku, dan jangan biarkan apa pun menghalangiku untuk memuji nama-Mu.

Pujian adalah lagu yang keluar dari jiwa yang telah dibebaskan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 10-12; Yohanes 11:30-57

Artikel Terkait:

Remukkanku ‘Tuk Memandang-Mu

Sebuah puisi indah yang menceritakan cara Tuhan menarik Ruth Lydia kembali untuk terus memandang kepada-Nya. Meski itu berarti dia harus diremukkan hingga ke titik yang paling rendah.

Perkataan Orang Berhikmat

Senin, 2 November 2015

Perkataan Orang Berhikmat

Baca: Pengkhotbah 9:13-18

9:13 Hal ini juga kupandang sebagai hikmat di bawah matahari dan nampaknya besar bagiku;

9:14 ada sebuah kota yang kecil, penduduknya tidak seberapa; seorang raja yang agung menyerang, mengepungnya dan mendirikan tembok-tembok pengepungan yang besar terhadapnya;

9:15 di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu.

9:16 Kataku: “Hikmat lebih baik dari pada keperkasaan, tetapi hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang.”

9:17 Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh.

9:18 Hikmat lebih baik dari pada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.

Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik. —Pengkhotbah 9:17

Perkataan Orang Berhikmat

Baru-baru ini, suami dari keponakan saya menulis kata-kata berikut di akun media sosialnya: “Kalau bukan karena bisikan lembut yang mengingatkanku, pasti aku akan menulis lebih banyak lagi di sini. Sebagai seorang pengikut Yesus, mungkin kamu berpikir bisikan itu datang dari Roh Kudus. Bukan. Bisikan itu datang dari Heidi, istriku.”

Sambil tersenyum membaca tulisan itu, saya pun merenung sejenak. Memang, teguran dari seorang sahabat yang bijak dapat mencerminkan hikmat Allah. Pengkhotbah 9 berkata, “Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh” (ay.17).

Kitab Suci memperingatkan kita untuk tidak menganggap diri sendiri pandai atau bijaksana (Ams. 3:7; Yes. 5:21; Rm. 12:16). Dengan kata lain, janganlah kita menganggap bahwa kita tahu segalanya. Amsal 19:20 berkata, “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” Allah dapat memakai siapa saja, baik itu seorang teman, pasangan hidup, pendeta, atau rekan kerja, untuk mengajari kita agar lebih memahami hikmat-Nya.

“Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian,” demikian dikatakan Amsal 14:33. Salah satu cara untuk memahami hikmat dari Roh Kudus adalah dengan mendengarkan nasihat orang lain dan belajar dari satu sama lain. —Cindy Hess Kasper

Ya Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu yang mengajarku untuk mengasihi-Mu dan mengasihi sesamaku. Terima kasih juga untuk orang-orang yang telah Kau tempatkan dalam hidupku yang mengingatkanku pada kebenaran-Mu.

Hikmat sejati bersumber dari Allah saja.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 27-29; Titus 3

Di Balik Layar

Minggu, 25 Oktober 2015

Di Balik Layar

Baca: Yohanes 3:22-31

3:22 Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.

3:23 Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis,

3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian.

3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”

3:27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.

3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.

3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.

3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

3:31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. —Yohanes 3:30

Di Balik Layar

Kegiatan penjangkauan yang dilakukan gereja kami berpuncak dengan penyelenggaraan kebaktian kebangunan rohani yang mengundang penduduk dari seluruh wilayah kota. Ketika tim yang mengatur dan memimpin acara itu—terdiri dari kelompok musik kaum muda, para konselor, dan para pemimpin gereja—naik ke atas panggung, kami semua dengan gembira bertepuk tangan dan menyerukan apresiasi kami atas kerja keras mereka.

Namun ada seorang pria di antara mereka tidak terlihat mencolok, meskipun ia adalah ketua dari tim tersebut. Ketika bertemu dengannya beberapa hari kemudian, saya berterima kasih dan mengucapkan selamat atas hasil kerjanya. Saya mengatakan, “Kami jarang melihatmu sepanjang kegiatan itu.”

Ketua tim tersebut menjawab, “Saya suka bekerja di balik layar.” Ia tidak mementingkan pengakuan bagi dirinya. Baginya, mereka yang bekerja di depanlah yang pantas menerima penghargaan.

Sikapnya yang tidak banyak bicara itu justru berbicara banyak bagi saya. Saya diingatkan bahwa ketika melayani Tuhan, saya tidak perlu mencari-cari pengakuan diri. Saya dapat memuliakan Allah, entah saya diberi penghargaan atau tidak oleh orang lain. Sikap yang mengutamakan Kristus akan dapat mencegah timbulnya perasaan cemburu buta dan persaingan yang tidak sehat.

Yesus, yang ada “di atas semuanya” (Yoh. 3:31), “harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (ay.30). Dengan sikap itu, kita akan semakin mengupayakan kemajuan dari pekerjaan Allah. Kristus sajalah, dan bukan kita, yang patut menjadi pusat perhatian dari segala sesuatu yang kita lakukan. —Lawrence Darmani

Yesus, jadilah pusat dari pikiranku, keinginanku, dan perbuatanku. Kendalikanlah aku dan pakailah aku.

Sorotan utama haruslah tertuju kepada Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6-8; 1 Timotius 5

Semaunya Sendiri

Sabtu, 18 Juli 2015

Semaunya Sendiri

Baca: 2 Raja-Raja 5:1-15

5:1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.

5:2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.

5:3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

5:4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: “Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu.”

5:5 Maka jawab raja Aram: “Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.” Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian.

5:6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: “Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya.”

5:7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.”

5:8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: “Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.”

5:9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa.

5:10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.”

5:11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!

5:12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.

5:13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.”

5:14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.

5:15 Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!”

Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. —2 Raja-Raja 5:15

Semaunya Sendiri

Ada dua anak laki-laki sedang memainkan suatu permainan yang rumit dengan menggunakan sejumlah tongkat dan tali. Setelah beberapa menit anak yang lebih tua berkata dengan marah kepada temannya, “Kamu tak bermain dengan benar. Ini permainanku, dan kita mainkan sesuai aturanku. Kamu tak boleh main lagi!” Sejak usia muda pun, sudah ada keinginan untuk melakukan segala sesuatu semaunya sendiri!

Naaman adalah seseorang yang sudah terbiasa dituruti kemauannya. Ia merupakan seorang panglima pasukan raja Aram. Namun Naaman juga menderita suatu penyakit yang tak tersembuhkan. Pada suatu hari, pelayan istrinya, seorang anak perempuan yang telah ditawan dari negeri Israel, mengusulkan agar Naaman mencari kesembuhan dari Elisa, sang nabi Allah. Naaman sudah putus asa sehingga ia menuruti nasihat itu, tetapi ia mau supaya nabi itu yang datang kepadanya. Ia berharap disambut dengan upacara besar dan penghormatan. Maka ketika Elisa hanya mengirim sebuah pesan yang meminta Naaman untuk mandi tujuh kali di sungai Yordan, Naaman menjadi marah dan menolaknya (2Raj. 5:10-12). Setelah akhirnya Naaman merendahkan diri dan melakukannya sesuai dengan cara Allah, barulah ia disembuhkan (ay.13-14).

Adakalanya kita juga mungkin berkata kepada Allah, “Aku akan melakukannya semauku sendiri.” Namun cara Allah selalu yang terbaik. Oleh sebab itu, marilah kita meminta Allah untuk memberi kita kerendahan hati agar kita lebih rela mengikuti cara-Nya daripada cara kita sendiri. —Marion Stroud

Bapa, ampunilah aku atas kesombonganku dan karena aku sering merasa paling tahu apa yang terbaik untukku. Berilah aku kerendahan hati agar rela mengikuti kehendak-Mu dalam segala hal.

Kerendahan hati berarti memberikan penilaian yang benar terhadap diri sendiri. —Charles Spurgeon

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 20–22; Kisah Para Rasul 21:1-17

Arus yang Mengecoh

Selasa, 9 Juni 2015

Arus yang Mengecoh

Baca: Ulangan 8:11-20

8:11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;

8:12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,

8:13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,

8:14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,

8:15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,

8:16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.

8:17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

8:18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

8:19 Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa;

8:20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.”

Ketika mereka makan rumput, maka mereka kenyang; setelah mereka kenyang, maka hati mereka meninggi. —Hosea 13:6

Arus yang Mengecoh

Di buku berjudul The Hidden Brain (Otak yang Tersembunyi), penulis ilmiah Shankar Vedantam menceritakan pengalamannya berenang ke pantai. Air saat itu tenang dan jernih, dan ia merasa kuat dan bangga karena dapat menempuh jarak yang jauh dengan mudah. Lalu ia memutuskan untuk berenang menjauh dari teluk menuju laut lepas. Namun saat berusaha untuk kembali, ia tak bisa bergerak maju. Ia telah dikecoh oleh arus air. Yang membuatnya berenang dengan mudah bukanlah kekuatannya sendiri melainkan pergerakan air.

Situasi serupa juga bisa terjadi dalam hubungan kita dengan Allah. “Mengikuti arus” bisa mengecoh hingga kita merasa lebih kuat daripada keadaan kita yang sebenarnya. Ketika hidup berjalan lancar, kita berpikir itu karena kekuatan kita sendiri. Kita menjadi sombong dan tinggi hati. Namun pada saat masalah-masalah menimpa, kita baru menyadari betapa kecilnya kekuatan kita dan betapa tidak berdayanya diri kita.

Itulah pengalaman bangsa Israel. Allah telah memberkati mereka dengan kemenangan, kedamaian dan kemakmuran. Namun jika mereka pikir semua itu diraih dengan kekuatan mereka sendiri, mereka menjadi sombong dan merasa tak membutuhkan siapa pun (Ul. 8:11-12). Karena merasa tak lagi memerlukan Allah, mereka menempuh jalan mereka sendiri, sampai akhirnya musuh menyerang barulah mereka sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, mereka tidak berdaya sama sekali.

Saat hidup berjalan mulus, kita juga perlu waspada agar tidak terkecoh. Kesombongan akan menjerumuskan kita. Hanya kerendahan hati yang membuat kita mempunyai sikap yang sepatutnya—bersyukur kepada Allah dan bergantung pada kekuatan-Nya. Julie Ackerman Link

Tuhan, kami tak berani mengandalkan kekuatan sendiri untuk tugas kami hari ini. Engkau yang memberi kami talenta dan kesempatan. Tolonglah agar kami memakai semua itu bukan demi kami sendiri, tetapi untuk menolong orang lain.

Kerendahan hati yang sejati berarti mengakui Allah sebagai sumber setiap keberhasilan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 32–33; Yohanes 18:19-40