Posts

3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Tahun 2020 merupakan tahun yang spesial bagiku. Aku menyelesaikan studi pascasarjanaku di Korea Selatan dan mendapat pekerjaan pertamaku. Ketika melihat kembali dan merenungkan bagaimana Tuhan memimpin jalanku hingga aku mendapatkan pekerjaan ini, sungguh aku berterima kasih atas pimpinan-Nya dalam hidupku.

Teruntuk kamu yang sedang bergumul dalam hal pekerjaan, aku berharap sedikit kisahku dapat memberkatimu. Inilah tiga hal yang Tuhan ajarkan padaku melalui pekerjaan pertamaku.

1. Percayalah sepenuhnya pada kedaulatan Kristus

Tahun 2020 sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 memberi dampak besar hampir di seluruh aspek kehidupan. Di tahun 2020 ini aku mengirimkan dua aplikasi pendaftaranku untuk studi post-doctoral di Jerman dan Amerika. Aku berdoa agar Tuhan meloloskan rencana ini supaya kemampuan penelitianku bertambah, aku bisa mendapat posisi sebagai profesor di universitas yang baik, dan aku bisa memberitakan Kristus kepada mahasiswa yang kuajar nantinya. Aku yakin bisa diterima, mengingat aku punya relasi dengan dosen di Jerman dan jumlah jurnal publikasiku mencukupi. Tapi, Tuhan tidak mengabulkan doaku. Kedua aplikasi pendaftaranku ditolak.

Upayaku menawar Tuhan dalam doaku kupahami saat ini sebagai kesalahanku memahami kondisi dan janji Tuhan dalam Matius 6:33 yang berkata, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Ayat ini tidak ditulis terbalik, jika semuanya ditambahkan pada kita maka kita dapat mencari kerajaan Allah. Ayat ini dengan tegas mengatakan carilah dahulu kerajaan-Nya, bukan kehendak hati kita sendiri.

Mentor rohaniku berkata, “Tuhan akan mengirim kamu ketika kamu siap dipakai oleh-Nya”. Momen kegagalan ini kumakani sebagai latihan persiapan sebelum Tuhan memakaiku kelak. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada kedaulatan Kristus, yang di dalamnya termasuk menangkal nafsu duniawi atas obsesiku menjadi dosen di universitas yang bagus. Tuhan ingin aku taat kepada firman-Nya terlepas apa pun kondisiku. Dia ingin aku memberitakan Kristus terlepas di mana pun dan apa pun pekerjaanku.

Suatu hari dosen pembimbingku bertanya, “Bagaimana kalau kamu mendaftar sebagai dosen di Korea?” Tidak terpikir olehku untuk mendaftar sebagai dosen di sini karena aku orang Indonesia, warga negara asing, dan universitas di Korea dikenal karena tuntutan kerjanya yang berat. Tapi singkat cerita, aku mempertimbangkan saran itu dan mencari lowongan pekerjaan sebagai dosen di beberapa universitas. Dikarenakan aku belum memperoleh ijazah kelulusan dan tidak memiliki pengalaman sebagai postdoc, aku tidak dapat memenuhi syarat pendaftaran untuk mendaftar sebagai dosen di beberapa universitas. Tetapi Tuhan melalui kedaulatan-Nya membuka pintu untuk aku mendaftar sebagai dosen peneliti di salah satu universitas di Korea. Melalui kasih karunia dan pimpinan Kristus, aku diterima di posisi tersebut. Seperti tertulis di Amsal 16:9, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”. Ketika kita berserah sepenuhnya kepada Kristus, Tuhan akan menentukan arah langkah kita.

2. Hidupilah hidup yang digerakkan oleh firman Tuhan

Pekerjaan yang kuterima membuatku harus pindah ke kota lain. Artinya, aku harus mulai lagi beradaptasi dengan lingkungan dan komunitas yang baru. Banyak hal menambah beban pikiranku: urusan administrasi universitas yang kebanyakan dilakukan dalam bahasa Korea, hubungan dengan para dosen dan senior di jurusanku yang tak semudah yang kupikirkan, ditambah lagi aku harus mengajar kelas daring buatku yang tidak pernah punya pengalaman mengajar. Ini semua jadi tantangan baru buatku.

Namun, di balik semua beban itu, Tuhan memberiku komunitas gereja yang baru. Sama seperti di universitas sebelumnya, aku bersekutu bersama Navigators di kampus tempat kerjaku di sini. Aku berterima kasih atas mentor rohaniku yang baru, dia tidak hanya membantuku dalam urusan pertumbuhan rohaniku, tetapi juga dalam beberapa urusan administrasi di universitas. Walaupun mentorku juga memiliki pekerjaan di tempat lain, ia berusaha bersekutu denganku setiap jam makan siang di kampus tempat kerjaku. Kami bersama-sama merenungkan Firman Tuhan dan berdoa. Melalui persekutuan yang hampir setiap hari bersama mentorku, aku melihat lebih dalam lagi betapa pentingnya Firman Tuhan dalam kehidupanku.

“Beginilah firman Tuhan, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya 48:17-18).

Seperti ayat di atas, damai sejahtera yang sesungguhnya di dalam segala permasalahan yang muncul di dalam kehidupanku hanya bisa diperoleh ketika aku memperhatikan firman Tuhan dengan benar setiap hari. Mazmur 119—yang merupakan Mazmur terpanjang di Alkitab—dengan sangat jelas mengajarku betapa pentingnya Firman Tuhan. Firman-Nya membantuku dalam hidup kudus, memberi aku kekuatan, kegembiraan, penghiburan, kebijaksanaan, dan terang bagi jalan-jalanku.

Memegang janji Tuhan dan hidup di dalam Firman-Nya sangat membantuku menghadapi segala beban di dalam pekerjaan pertamaku. Mazmur 62:7-9 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Tuhan melalui kedaulatan-Nya membantuku untuk mengatasi masalah-masalah di pekerjaan pertamaku. Ketika aku berseru dengan memegang janji Tuhan di dalam kehidupanku, Ia memberikanku kekuatan untuk menghadapi masalahku satu persatu.

3. Carilah wajah Tuhan, bukan hanya pemberian-Nya

Di kontrak pekerjaan pertamaku, aku diwajibkan untuk mempublikasi sedikitnya 6 jurnal ilmiah selama 2 tahun. Kontrakku tidak akan diperbarui jika aku tidak bisa memenuhi syarat tersebut. Di bulan awal pekerjaanku, pikiranku dipenuhi dengan bagaimana aku bisa menulis sebanyak itu di dalam 2 tahun.

Mentorku menolongku mengatasi kekhawatiranku. Katanya, orang yang benar-benar percaya sepenuhnya kepada kedaulatan Kristus akan merasakan kebebasan yang sesungguhnya atas hasil apa pun di dalam kehidupannya. Orang yang tidak bisa melihat ini kebanyakan dikarenakan mereka lebih melihat apa yang “tangan” Tuhan berikan dibandingkan wajah Tuhan. Mereka berusaha mencari berkat-Nya, tetapi tidak ingin selalu terhubung dengan-Nya.

Daud dengan jelas mengalami kebebasan atas hasil apa pun di dalam kehidupannya. Walaupun Daud dikejar oleh musuh-musuhnya, ia tetap mencari wajah Tuhan. Mazmur 27:8, “Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan.” Bagi Daud, Tuhan adalah gembalanya dan sekalipun ia berjalan dalam lembah kekelaman, ia tidak takut bahaya sebab Tuhan besertanya (Mazmur 23).

Kebebasan yang sesungguhnya atas hasil di dalam hidup juga dialami Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Seperti tertulis di kitab Daniel, mereka percaya sepenuhnya kepada kedaulatan Allah. Mereka tidak fokus kepada apakah nantinya mereka diselamatkan atau tidak jika mereka dilemparkan ke perapian yang menyala-nyala. Mereka fokus kepada Allah sehingga mereka sanggup tidak gentar akan hasil akhir apakah yang akan mereka terima. “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Daniel 3:17-18). Bagi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, kepuasan mereka datang dari hubungan mereka bersama Allah bukan dari apa yang akan Allah berikan. Dan, Allah melalui kasih karunia-Nya menyelamatkan mereka dari bahaya pada akhirnya.

Seperti contoh-contoh iman di atas, aku berusaha menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada Kristus dengan melihat kepada Kristus bukan kepada apa yang Dia (akan) berikan kepadaku. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi syarat perpanjangan kontrak kerja pertamaku. Tugasku hanya melakukan apa yang aku bisa lakukan dan menyerahkan hasil semuanya kepada Kristus. Apabila Tuhan berkenan, maka Dia akan membuka jalan-jalanku.

Melihat kembali bagaimana Tuhan memimpin jalanku untuk pekerjaan pertamaku, aku berterima kasih kepada Tuhan. Pimpinan Tuhan di tahun 2020 menjadi salah satu batu Eben-Haezer di dalam kehidupanku. Aku berharap aku tetap bisa mengingat apa yang telah Tuhan perbuat di dalam hidupku dan terus memuji Tuhan seumur hidupku.

Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ”Sampai di sini Tuhan menolong kita.” (1 Samuel 7:12)

Kiranya teman-teman sekalian juga bisa terus melangkah dengan iman dan mata yang tertuju kepada Kristus di tahun 2021 ini.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tumpaslah Kemalasan, Sebelum Itu Menghancurkan Kita

Kemalasan membawa dampak yang berbahaya, baik secara internal maupun eksternal. Ia dapat menghancurkan kita bersamaan dengan semua yang ada di sekitar kita. Mungkin tidak bersifat instan, tetapi bersifat pasti.

Jalan Sulit dan Memutar

Oleh Josephina Manurung

Beberapa hari lalu foto hitam putih dengan judul “adversity” muncul di linimasa Instagramku. Foto tersebut diunggah oleh seorang influencer yang menceritakan kondisi sulit sebagai minoritas yang pernah ia alami selama duduk di bangku sekolah. Ia bersyukur karena melalui masa sulit tersebut ia bertumbuh menjadi pribadi yang kuat. Saat ini, sebagai seorang bapak ia memiliki kekhawatiran jika anak-anaknya tumbuh terlalu nyaman tanpa adanya kesulitan sehingga kelak menjadi pribadi yang tidak tahan uji. Oleh karena itu di akhir captionnya ia berkata “Atas nama cinta seorang bapak, kelak saya akan mencari cara untuk mempersulit hidup kalian. “And then you can thank me later, if I’m still around.”

Setelah selesai membaca, pikiranku langsung melayang pada pengalaman pribadiku ketika papa secara sengaja “mempersulit” hidupku di bangku SMP-SMA. Saat menginjak bangku SMP, aku pindah rumah ke dekat sekolah. Jarak tempuh dari rumah baruku ke sekolah jika naik mobil hanya 5 menit. Saat itu aku sangat senang mengingat sebelumnya dari rumah lamaku ke sekolah memerlukan waktu 1 jam perjalanan menggunakan mobil. Aku berpikir enak banget nih mulai sekarang bisa bangun lebih siang, tidak perlu khawatir terjebak macet di jalan, tinggal naik mobil duduk manis lalu sampai deh di sekolah. Akan tetapi semua pikiran dan harapanku dalam sekejap dipatahkan ketika sehari sebelum sekolah dimulai, papa mengajakku berjalan kaki ke area perkampungan di belakang rumahku. Ia berjalan di depanku, memanduku menyeberangi jembatan gantung, menyusuri gang, menapaki 100 anak tangga yang membuatku super ngos-ngosan hingga akhirnya tiba di jalan raya seberang sekolahku.

“Oh ternyata ada jalan kecil yang bisa tembus kesini”, gumamku yang masih ngos-ngosan.
Papa yang melihat ku sangat capek kemudian berkomentar

“Tenang aja, lama-lama juga biasa kok”.

“Maksudnya?” Aku menyahut.

“Mulai besok kamu kalau ke sekolah dan gereja jalan kaki lewat jalan ini. Enggak akan dianter naik mobil”

Saat itu aku rasanya kesal banget dan ingin melawan, pikirku kenapa sih papaku jahat, kenapa harus susah-susah melalui jalan memutar yang memakan waktu lebih lama, kenapa harus jalan kaki kalau di rumah ada mobil dan ada mama papa yang bisa mengantarku? Apakah papaku tidak tahu kalau tas sekolahku yang berisi buku-buku cetak tebal itu amat berat dan tentunya akan sangat membuatku capek jika harus berjalan dan menanjak 100 anak tangga ini? Pertanyaan kenapa dan rasa kesal menyelimuti pikiranku, tapi aku tahu percuma melawan karena papa karena pasti tidak akan mengubah keputusannya.

Hari, minggu, bulan pertama perjalanan jalan kaki selama 15 menit ke sekolah terasa berat dan melelahkan. Tiap kali menaiki anak tangga aku selalu berhenti sejenak, mengatur napas, menurunkan tasku, lalu berjalan kembali. Tak jarang aku berkeringat ketika sampai di kelas. Setelah melewati bulan demi bulan hingga tahun demi tahun akhirnya aku pun terbiasa. Bahkan kini aku dapat menempuh perjalanan dengan setengah waktu yang lebih singkat tanpa harus merasa ngos-ngosan ketika berjalan dan menanjak anak tangga yang dahulu terasa amat berat.

Seiring beranjak dewasa, aku baru dapat memahami bahwa kesulitan yang papa “sengaja” ciptakan merupakan bentuk disiplin dalam mendidik aku sebagai anak remaja agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Tanpa aku sadari ketika aku harus melalui jalan yang lebih jauh, jalan yang memutar untuk sampai ke destinasi, jalan yang ada di luar zona nyaman tersebut, namun melaluinya dengan sikap hati yang taat maka perlahan demi perlahan ada banyak hal positif yang terbentuk dalam diriku dan bertahan sampai sekarang. Hal positif tersebut diantaranya ialah aku menjadi terbiasa hidup hemat, lebih mandiri, tidak manja, mau berjuang, dan belajar bersyukur.

Ketika aku merenungkan proses pendisiplinan yang secara sengaja papaku ciptakan untuk kebaikanku di masa depan, aku berpikir bahwa hal yang sama sebenarnya juga dilakukan oleh Bapa di Surga. Saking sayangnya Bapa kepada anak-anak-Nya, Dia tidak mau anak-Nya jadi anak dengan mental yang gampangan. Dia secara aktif mendisiplin dan mendidik anak-Nya dengan cara mengizinkan anak-anak-Nya melalui jalan yang memutar, jalan yang lebih jauh, jalan yang berada di luar zona nyaman, melalui jalan yang penuh kerikil dan kadang terjal, supaya dalam perjalanan tersebut pada akhirnya anak-anak-Nya sampai di destinasi yang hendak dicapai dengan sikap hati yang bergantung sepenuhnya pada Bapa, punya karakter-karakter positif baru, punya pengenalan yang makin dalam terhadap Bapa, dan memiliki iman yang semakin bertumbuh dewasa.

Aku percaya karakter Bapa adalah baik. Dalam tiap musim kehidupan yang Dia izinkan dalam hidupku, Dia tetap Allah Bapa yang baik. Dia mengizinkan semua hal terjadi untuk kebaikan anak-Nya. Dia tidak akan memberikan jalan terlalu sulit yang melampaui kekuatanku, pun ketika dalam perjalanan aku jatuh aku tidak akan sampai jatuh tergeletak, sebab tangan-Nya siap sedia menopangku. Aku juga sangat percaya semua rencananya, serumit dan semelelahkan apa pun, pada akhirnya akan membawa pada satu rancangan kebaikan selama aku berjalan dalam kehendak dan terang pimpinan-Nya.

Saat ini, di musim Covid-19 yang Tuhan izinkan terjadi di dunia, banyak dari kita yang mungkin bergumul dengan jalan yang terasa sulit, terjal, dan penuh ketidakpastian. Jalan sulit dan memutar apa yang saat ini sedang Tuhan izinkan untuk kamu lalui? Apapun itu, mari belajar taat melakukan kehendak-Nya, percaya bahwa rancangan-Nya mendatangkan kebaikan, dan berserah izinkan dirimu diproses oleh Bapa.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Lebih Berharga Daripada Emas dan Permata

Apakah yang membuat manusia bernilai? Mungkin jawaban kita adalah karena “manusia diberikan pikiran atau akal budi”. Tetapi, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki kendala kemampuan berpikir, atau masalah mental?

Dari Danny, Aku Belajar Mengasihi Tanpa Syarat

Oleh Nerissa Archangely, Tangerang

Adikku bernama Danny, usianya 25 tahun. Dia anak yang istimewa dengan retardasi mental, tapi satu yang kuingat adalah dia selalu tersenyum apa pun yang terjadi. Saat bicara, pasti gigi-giginya akan terlihat. Walau sering dimarahi, atau kadang dipukul, dia tetap saja bisa tertawa. Rumah kami pun selalu ramai kalau ada Danny.

Namun, perubahan besar terjadi saat mamaku mendapat serangan stroke. Beliau lumpuh separuh badan dan sulit bicara. Kejadian itu terjadi di Februari 2020, beberapa hari sebelum Imlek. Papaku yang sangat syok dan depresi juga jadi sulit melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, tidur, dan sebagainya. Danny yang biasanya mendapatkan perhatian dan asuhan penuh dari kedua orang tua pun jadi terlantar. Akhirnya, kami sekeluarga berembuk dan dengan berat hati kami menitipkan Danny di sebuah panti rehabilitasi Bethesda yang dikelola oleh Ps. Irwan Silaban, MARS (Manajemen RS) di Bogor. Namun belum genap satu bulan, kami dihubungi panti untuk menjemput Danny di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi (RSMM). Alasannya, Danny sudah empat hari lebih tidak makan. Dia mengalami perburukan gizi, badannya lemas. Saat itu dia diinfus dan dipasangi selang untuk mensuplai makanan ke dalam tubuhnya.

Berbekal info tersebut, aku dan suamiku pergi ke sana untuk melihat Danny secara langsung. Keadaan Danny rupanya lebih buruk dari gambaran kami. Danny terbaring lemas sulit bergerak, tidak bisa bicara. Tawanya kini berganti dengan erangan tertahan, terlebih ada memar-memar di sekujur tubuhnya. Bahkan, didapati ada kerusakan fungsi liver. Kami putuskan untuk merawat Danny sementara di sini sampai fisiknya pulih. Saat itu, virus Covid-19 sudah menyebar di Indonesia dan RSMM pun sempat menerima pasien suspect corona. Hingga tanggal 10 April 2020, Danny diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena intake (kebutuhan gizi) dan fungsi organ vital lainnya sudah stabil.

Karena kondisi orang tua yang tidak memungkinkan lagi untuk merawat Danny, maka aku dan suamiku sepakat untuk merawat Danny di rumah kami. Sangat tidak mudah awalnya, karena kami memang bukan tenaga ahli seperti perawat khusus orang sakit atau homecare. Di tahun ketiga pernikahan kami, di saat kami mengharapkan adanya bayi di tengah keluarga kecil kami, kami seolah-olah mendapatkan ‘bayi besar’ yang setiap hari harus diberi susu, diganti popoknya, dimandikan, dijemur, dan sebagainya. Tapi, anugerah Tuhan tak pernah habis. Aku belajar banyak dari perawat di rumah sakit hingga aku bisa memasang selang NGT sendiri, memandikan di tempat tidur, membersihkan mulut dengan kasa, mengganti popok dengan benar, dan lainnya. Aku juga bersyukur suamiku siap sedia untuk membantu, walau memang awalnya kami jadi sering bertengkar karena selain kesulitan merawat Danny, kami juga khawatir terhadap kedua orang tua kami yang rapuh di tengah masa pandemi. Orangtuaku dirawat oleh adik lelakiku di Tangerang. Bukan hanya kami lelah secara fisik, namun kami juga dirundung oleh beban mental yang besar: khawatir akan kesehatan orang tua dan apakah adikku sanggup merawat mereka seorang diri. Bahkan ada masa-masa di mana aku merasa sangat tertekan hingga tak bisa melihat Allah dan rasanya ingin mati saja. Tapi, dengan segala cara yang ajaib, Tuhan tetap merengkuhku kembali.

Saat dirawat di RSMM itu memang ada indikasi pendarahan di otak Danny serta cedera lainnya, namun kami tak pernah menyangka bahwa bahu kanan Danny ternyata mengalami dislokasi dan open fracture. Hingga sekitar akhir April, kami perhatikan ada memar di bahu kanannya yang berujung pada pembengkakan dan sepsis (nanah yang sudah menginfeksi seluruh tubuh) pada 2 Mei 2020. Kami segera membawa Danny ke RS Medika BSD untuk mendapat penanganan pertama. Diperlukan ICU untuk operasi, tapi tak ada tempat tersedia di sana. Terpaksa kami harus menunggu 3 hari untuk mendapat rujukan. Tak hanya itu, kami juga dihadapkan dengan fakta lain. Danny sempat melalui rapid test Covid-19 dan CT-Scan paru-paru. Hasil CT-Scan menunjukan ground-glass opacification/opacity (GGO), sebuah indikasi kuat dari infeksi Covid-19. Kami menghubungi seluruh rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya, namun semuanya menolak karena alasan suspect infeksi Covid-19 dan kompleksnya kondisi Danny (ada open fracture bahu, sepsis, dan anak kebutuhan khusus). Pihak RS Medika menyarankan kami untuk membawa Danny langsung ke RSUP Fatmawati yang punya fasilitas lebih lengkap.

Tanggal 5 Mei 2020, akhirnya Danny dibawa ke IGD RSUP Fatmawati sendiri—tanpa ambulans—dan sungguh karena anugerah Tuhan, dia bisa mendapatkan ruang ICU besoknya. Sebelumnya, Danny membutuhkan darah karena sel darah putihnya semakin meningkat akibat infeksi. Ini membuat sel darah merahnya sangat kurang, sehingga sangat berisiko jika dia dioperasi tanpa ada transfusi darah. Awalnya kami ragu akan dapat donor dengan cepat, terlebih karena stok di PMI pusat pun kosong. Pandemi Covid-19 membuat banyak orang enggan mendonorkan darah. Tetapi jalan Tuhan tidak pernah buntu. Lewat pesan broadcast di Twitter, Instagram dan WhatsApp grup serta dibantu oleh rekan-rekanku sewaktu di PMK POMITI dulu, akhirnya kami bisa mendapatkan donor yang diperlukan. Pihak RS membutuhkan minimal 3 orang sebagai pendonor tapi Tuhan yang Maha Pemurah menyediakan sampai 4 orang. Tuhan seolah ingin menyampaikan bahwa rencana-Nya untuk Danny masih belum usai.

Tuhan terlebih-lebih menyayangi Danny. Tuhan memanggil Danny pulang pada 8 Mei 2020 jam 7 pagi. Sekarang Danny tidak lagi merasakan sakit dan sesak. Danny bisa tertawa lagi bersama Bapa di Surga.

Pemakaman Danny sungguh sepi. Tiada musik, tiada karangan bunga, tiada arak-arakan, bahkan kami pun tak sempat memberikan penghormatan terakhir. Tapi kami yakin Allah Bapa telah menyiapkan pesta meriah untuk kepulangannya. Mungkin dunia menolak Danny, tapi tangan Bapa terbuka lebar menyambut Danny.

Awalnya aku bertanya-tanya apa tujuan Tuhan menjadikan Danny hadir di dunia ini? Mengapa Tuhan izinkan Danny ‘berbeda’?

Kini aku mengerti. Lewat Danny, Tuhan mengajariku untuk bisa mengasihi tanpa syarat, kepada siapa pun, sesulit apa pun situasinya. Hidup Danny walau singkat, memberiku kesan mendalam. Aku tak akan pernah lupa pelajaran hidup dari adikku yang istimewa ini.

Aku pribadi amat bersyukur atas setiap hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku. Bahkan sampai saat ini pun aku merasa aku orang yang amat beruntung. Di tengah situasi yang luar biasa sulit, Tuhan yang penuh kuasa memberikan orang-orang yang luar biasa pula, yang dipakai-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Suamiku, Indra, dia sosok yang sabar mendampingiku. Dia mendukungku di masa-masa terkelamku, tetap mengasihiku dalam kondisi apa pun. Sungguh aku amat beruntung dikasihi dan memilikinya sebagai teman hidupku.

Mertuaku sekeluarga, juga sangat luar biasa mendukung kami secara fisik maupun mental. Aku tahu dari mana kebaikan suamiku berasal. Papa dan mama mertuaku sungguh istimewa, betapa aku beruntung dan bersyukur bisa memanggil mereka ‘papa’ dan ‘mama’.

Keluarga kecilku di guru-guru sekolah Minggu GKY BSD, Laoshi Wiwi sebagai pembina dan secara khusus partner-ku di kelas 2 siang, kalian sungguh luar biasa. Sungguh ucapan terima kasihku rasanya tak cukup membalas setiap chat, telepon, dukungan dana, dan bahan pangan sehari-hari, serta setiap bentuk perhatian yang dicurahkan. Kehadiran mereka ibarat lilin-lilin kecil yang menerangi hatiku yang gelap dan lembab di tengah keterpurukan.

Juga kelompok kecilku sejak di PMK kampus. Meskipun kami hanya berlima, tapi berdampak besar. Meski kami berjauhan, tapi Tuhan selalu mendekatkan hati kami.

Bahkan, Tuhan juga memakai mereka yang belum percaya, dan juga orang-orang yang baru kukenal via media sosial, yang bermurah hati untuk membantu dari segi dana dan siap menjadi pendonor bagi Danny. Betapa Tuhan juga bermurah padaku dengan mengaruniakan seorang atasan yang peduli, penuh pengertian serta suportif terhadap kondisi yang aku alami, sehingga tanggung jawab pekerjaanku dilonggarkan ketika sedang merawat Danny.

Aku tahu kondisi Covid-19 tidak bisa dianggap remeh, tapi aku tahu Tuhan kita Yesus Kristus jauh lebih hebat daripada virus itu. Di atas segala-galanya, Dialah tabib segala tabib yang mampu menyelamatkan bukan hanya fisik, namun jiwa kita pun sanggup Dia selamatkan.

Ayub 1:21 berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengajarku Melalui Anakku yang Cacat Mental

Vonis dokter bahwa Sharon adalah anak cacat membuatku terkejut. Aku termenung sejenak, mengapa ini semua harus terjadi? Di tengah perenungan itu, aku mengingat bahwa bagaimanapun juga, Sharon adalah anak yang kulahirkan sendiri. Penyakit ini datang bukan karena kesalahan Sharon. Oleh karena itu, tak peduli apapun keadaannya, aku berjanji untuk selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.

Tuhan Lebih Tahu Sedalam-dalamnya Kita

Oleh Josua Martua Sitorus, Palembang

“Hidup ini adalah pilihan.”

Kita mungkin familiar dan paham makna dari kutipan di atas. Mulai dari lahir, mengalami masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa, ada begitu banyak pilihan di hadapan kita, dan dalam waktu tertentu kita ‘dipaksa’ untuk memilih satu di antaranya.

Kilas balik kehidupanku tujuh tahun silam merupakan momen penentu yang punya andil besar dalam menentukan masa depanku. Seperti anak-anak kelas XII SMA lainnya, aku menghadapi banyak pilihan: ikut bimbel atau tidak, ingin lanjut kuliah di mana, seleksinya lewat jalur apa, hingga kampus mana dan jurusan apa yang perlu kuambil. Aku sempat bimbang. Kucari tahu apa kehendak Tuhan lewat perenungan-perenungan dan doa yang kupanjatkan. Aku juga banyak bertanya kepada keluargaku dan abang alumni, sampai akhirnya aku menentukan ke mana aku harus melangkah.

Supaya aku bisa lolos di SNMPTN, aku menyiapkan diri sebaik mungkin. Setiap hari aku bangun pukul setengah lima pagi, belajar materi dan membahas soal, lanjut ikut bimbel dari jam tujuh pagi sampai tujuh malam. Sampai di rumah aku masih lanjut belajar sampai kira-kira jam sembilan. Semua itu kulakukan hampir tiap hari, masa-masa yang menurutku begitu produktif. Namun, rupanya Tuhan menghendaki yang lain. Aku gagal di SNMPTN.

Ada satu ayat yang menguatkanku, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Ayat ini mengajariku bahwa hanya berdoa dan memohon saja tidak cukup jika tidak disertai usaha. Mungkin upayaku belajar terkesan ambisius, tapi itulah caraku menunjukkan keseriusanku pada Tuhan. Dia senantiasa menguatkanku, bahkan memberiku orang-orang yang bersedia mendukungku saat itu.

Aku pun ikut ujian kembali, kali ini di kota Medan. Saat itu aku belum hafal denah kota ini. Aku sempat nyasar, tapi bukan suatu kebetulan saat aku turun dari angkot, aku malah bertemu seorang teman akrabku tepat di trotoar tempat angkotku berhenti. Dia yang memang orang Medan langsung mengantarku ke tempat ujian. Kulari ke ruang ujian di lantai dua, dan semenit kemudian ujian langsung dimulai. Nyaris saja aku terlambat jika aku harus mencari-cari jalan sendiri ke tempat ujian. Ada banyak sekali hal yang patut disyukuri dari Tuhan.

Singkat cerita, hari pengumuman SBMPTN pun tiba. Tuhan menganugerahkanku kesempatan untuk kuliah di salah satu PTN di kota Bandung. Syukur begitu dalam kuhaturkan pada-Nya. Namun, di tengah rasa syukurku tetap ada yang mengganjal di hati. Aku tetap saja gagal meraih kampus yang sebenarnya paling kuimpikan.

Kembali aku ingat penggalan ayat Alkitab yang berkata, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9).

Aku berangkat ke Bandung dengan tekad kuat untuk menjalani kehendak-Nya dalam hidupku. Pertanyaan tentang mengapa aku gagal meraih impianku sedikit demi sedikit mulai hilang. Mamaku berulang kali menasihatiku supaya jangan lupa bersyukur pada Tuhan karena aku sudah diberikan kesempatan untuk berkuliah.

Proses selama kuliah adalah masa-masa yang indah. Aku belajar memilih, melawan godaan duniawi dan pergaulan tak sehat, dan Tuhan memberkati tiap langkahku. Tugas kuliah, praktikum, jadwal ujian yang padat, serta tanggung jawab di kepanitiaan, semuanya terasa berat tetapi Tuhan menguatkanku sehingga semuanya terasa ringan. Dan, di masa-masa kuliah inilah aku bertumbuh melalui pengenalku akan firman-Nya. Aku ikut komunitas rohani.

Sampai hari kelulusanku tiba, aku benar-benar merasakan Tuhan terus bekerja atas hidupku. Aku melihat hasil karya tangan-Nya yang begitu nyata. Beberapa pertanyaanku di awal perkuliahan mulai terjawab melalui apa yang kurasakan.

Mungkin jika aku berhasil masuk ke kampus impianku, aku tidak dapat bersaing dengan teman-temanku yang lain. Mungkin juga aku tidak bisa lulus lebih cepat dari yang seharusnya dan menjadi lulusan tercepat kedua. Aku juga merasakan hal-hal yang tidak ada di bayanganku sebelumnya seperti hidup di kota Bandung yang sejuk dan asri, mendapat komunitas ideal tempatku bertumbuh, mengikuti kegiatan yang bermanfaat yang dapat mengasah kemampuanku, serta hal-hal lain yang begitu banyak Tuhan izinkan untuk terjadi. Satu waktu aku sampai terdiam dan menangis karena mengingat akan kebaikan Tuhan atas hidupku. Tuhan begitu baik, sangat-sangat baik. Kadang aku menyesal untuk kurang bersyukur pada Tuhan.

Memilih berjalan bersama Tuhan dan mengikuti semua kehendak-Nya adalah pilihan yang harus kita ambil. Kadang kita tidak tahu apa rencana Tuhan atas hidup kita, padahal sebenarnya yang lebih tahu sedalam-dalamnya hidup kita adalah Tuhan, bukan diri kita sendiri. Tuhan adalah penulis skenario terbaik dalam hidup kita. Banyak rancangan-Nya yang begitu indah, tinggal bagaimana respons kita dalam menjalaninya. Kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Di akhir ceritaku, aku ingin membagikan satu lirik lagu yang menurutku sangat baik untuk kita hayati bersama. Lagu ini ditulis oleh Adelaide A. Pollard yang terinspirasi dari Yesaya 64:8. Begini liriknya:

Have Thine Own Way, Lord

Have thine own way, Lord, have thine own way!
Thou art the Potter; I am the clay,
Mould me and make me, After thy will,
While I am waiting, Yielded and still.
Have thine own way,
Lord, have thine own way!
Search me and try me, Master, today!
Whiter than snow, Lord, Wash me just now,
As in thy presence Humbly I bow.
Have thine own way, Lord, have thine own way!
Wounded and weary, Help me I pray!
Power, all power, Surely is thine!
Touch me and heal me, Saviour divine!

Atau dalam terjemahan bebas, kira-kira seperti ini liriknya:

Jadilah kehendak-Mu ya Tuhan,
Engkaulah penjunan, aku tanah liat
Bentuklah aku seturut kehendak-Mu
Dengan tenang aku menantikan-Mu

Jadilah kehendak-Mu ya Tuhan
Cari dan ujilah aku aku, Tuhan
Basuhlah aku agar aku lebih putih dari salju
Di hadapan hadirat-Mu, aku merendahkan diri
Jadilah kehendak-Mu Tuhan
Aku terluka dan lemah, tolonglah Tuhan
Segala kekuatan adalah milik-Mu
Jamah dan sembuhkanku, Juruselamat.

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau , dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yeremia 1:5).

Baca Juga:

Teruntuk Kamu yang Merayakan Ulang Tahun Sendirian

Hari ulang tahun mengingatkanku akan kesetiaan Allah. Dia senantiasa hadir dalam tiap langkah perjalanan hidup kita.

Jika hari ulang tahunmu jatuh pada hari-hari ini dan orang-orang terdekatmu tak dapat hadir secara fisik, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun buatmu.

Mendoakan Rencanaku Bukan Berarti Tuhan Pasti Memuluskan Jalanku

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Kita terbiasa mendoakan perencanaan kita. Dalam doa, kita berharap pertolongan Tuhan atas rencana itu. Lalu, mungkin kita berpikir, jika rencana itu sudah kita doakan, tentunya Tuhan akan membuat semuanya lancar dan sukses.

Aku juga pernah berpikiran begitu. Saat aku mendoakan semua rencanaku, Tuhan akan menjadikan semuanya lancar. Suatu ketika, aku berdoa agar Tuhan melancarkan rencanaku mengurus paspor. Selain berdoa, aku mempersiapkan berkas-berkas yang ada sesuai dengan panduan di aplikasi. Aku bolak-balik memeriksa berkasnya, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal.

Namun, ketika aku datang ke kantor imigrasi, yang terjadi malah kebalikan dari doaku. Petugas menemukan kesalahan dalam data pribadiku dan aku harus memperbaikinya di kantor kecamatan. Aku diberi tenggat waktu 5 hari, sedangkan berkas di kecamatan yang kuurus baru bisa jadi dalam waktu 7 hari kerja. Singkatnya, rencana membuat pasporku ini gagal. Aku lalu mendaftarkan diri lagi, tapi malah kuota di kantor imigrasi di daerahku sudah penuh, ditambah lagi pendaftarannya cuma dibuka hari Senin-Jumat sampai jam 2 siang saja.

Kutunggu seminggu, dua minggu, dan hari-hari berikutnya tetap saja kuotanya katanya penuh. Di tengah kebingungan ini, aku jadi merenung: waktu aku mendoakan perencanaanku, motivasinya apa? Apakah aku kekeuh memaksa Tuhan menjadikan realita sesuai dengan yang kuharapkan, atau aku menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan? Berserah pada Tuhan dalam artian Tuhanlah yang memegang kendali atas apa yang telah aku rencanakan. Dalam upayaku membuat paspor, realita yang kuharapkan adalah: pengurusan berkas lancar, aku bisa mengurus di tempat terdekat, dan paspor bisa jadi dalam waktu singkat.

Aku lalu berdoa kembali, tapi kali ini dalam doaku aku belajar percaya akan kendali-Nya, sekalipun mungkin realita yang terjadi tidak sesuai dan semulus harapanku.

Opsi terakhir yang kuambil adalah aku mengurus paspor di kantor imigrasi kota lain, yang jaraknya ditempuh 5 jam perjalanan dari kotaku. Aku cukup menyesal karena harus merepotkan beberapa orang karena jauhnya perjalananku hanya karena mengurus paspor. Aku berdoa sekali lagi agar tidak ada masalah baru dalam pembuatan pasporku.

Memang, ketidaklancaran dalam pengurusan surat dapat disebabkan beberapa faktor. Namun melalui proses ini, aku jadi sadar yang bermasalah sebenarnya bukan cuma berkasnya, melainkan sikap hatiku yang sangat ‘ngotot’ dan memaksa. Aku percaya diri bahwa dengan mempersiapkan segala hal, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Aku yakin bahwa berkas-berkasku sudah benar tanpa kesalahan, tapi malah setelah diperiksa rupanya ada kesalahan.

Aku jadi teringat suatu nats di kitab Amsal: Manusia mempunyai banyak rencana, tetapi hanya keputusan TUHAN yang terlaksana (Amsal 19:21 BIS). Kita bisa merancangkan strategi yang menurut kita paling bagus, tetapi itu tidak menjamin realita akan sama persis dengan rancangan kita. Oleh karena itu, Amsal mengajak kita untuk memandang pada Tuhan yang berdaulat. Amsal bukan mengajak kita untuk asal-asalan saja dalam membuat perencanaan, melainkan dalam perencanaan yang kita buat tersebut kita mengikutsertakan Tuhan dan mengikuti kebijaksanaan-Nya.

Aku belajar untuk rela dan menerima keadaan. Dalam hal ini, aku sudah berusaha semaksimal mungkin mengikuti prosedur yang berlaku, namun apakah hasilnya nanti pasporku bisa dibuat atau tidak, biarlah kehendak-Nya yang jadi. Aku merasa Tuhan mengizinkan kesalahan dan kendala terjadi agar aku belajar bahwa mendoakan perencanaan bukan berarti ‘mengatur Tuhan’ agar Dia mewujudkan rencanaku.

Aku bisa merasakan sukacita dan damai sejahtera, sekalipun perjalanan yang kutempuh jauh, panas, dan setibanya kantor imigrasi aku harus antre panjang dalam suasana ruangan yang pengap. Perjalanan lima jam ini meski jauh tapi menjadikanku dekat dengan orang tuaku dan temanku, juga bisa mengenal orang baru. Selain itu, pihak kantor imigrasi juga ramah dan mereka memiliki layanan pengiriman paspor sehingga nanti saat paspornya selesai aku tidak perlu kembali ke sini.

Pengalaman kecil dalam mengurus paspor ini membuatku sadar bahwa ketika rancanganku tak terlaksana, Tuhan senantiasa menyertai.

Apa perencanaan yang sedang kamu buat? Sembari kamu menyusun dan mendoakannya, serahkanlah semuanya kepada-Nya. Mungkin ketika rencana tersebut tidak berjalan lancar, kita bisa memilih untuk tetap percaya akan penyertaan-Nya.

Menyerahkan rencana kita kepada Tuhan dan percaya Dia memegang kendali tak selalu terasa mudah, terlebih di masa-masa sekarang ini ketika banyak aspek hidup kita terdampak oleh pandemi. Tetapi aku berdoa, kiranya kita semua dimampukan-Nya untuk memahami betapa panjang, dalam, dan lebarnya kasih Tuhan dalam hidup kita.

Baca Juga:

Marriage Story: Mengapa Relasi yang Hancur Tetap Berharga untuk Diselamatkan?

Membangun relasi berlandaskan komitmen itu sulit, tak melulu romantis. Tak ayal, banyak pernikahan berujung pada perceraian. Tapi, adakah jalan untuk memperbaiki relasi dan komitmen yang rusak?

Yuk baca artikel ini.

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Bagaimana kalau kelulusan kamu ditunda satu semester?

Begitulah pertanyaan dari dosen pembimbingku di bulan Oktober tahun lalu. Beliau memberiku waktu 3 minggu untuk memutuskannya. Aku terdiam dan hanya bisa berpikir dalam hati. Rencanaku, aku akan lulus di Februari 2020, lalu mencari lowongan pekerjaan. Jika rencana ini lancar dan aku diterima kerja, maka itu akan jadi pekerjaan pertamaku setelah hampir 10 tahun aku duduk di bangku perkuliahan. Tapi, pertanyaan dosen pembimbingku itu mengejutkanku. Aku jadi berpikir, apakah Tuhan ingin aku menunda kelulusanku?

Dosen pembimbingku menilai bahwa aku perlu sedikit waktu untuk memikirkan apa tujuan hidupku: apakah aku mau lanjut berkarya di dunia akademik atau bekerja sebagai peneliti di institut penelitian? Beliau juga berpikir bahwa jika kelulusanku ditunda sedikit, aku bisa mengerjakan beberapa penelitian yang dapat menambah kualitas disertasiku.

Beliau lantas memberiku dua pilihan: menunda kelulusan atau tetap lulus di bulan Februari 2020 dan menetap di lab sebagai postdoctoral fellow sampai nanti aku mendapatkan pekerjaan tetap, seperti yang kebanyakan dilakukan para senior di labku.

Dalam masa-masa pergumulanku menentukan keputusan ini, kelompok kecil gerejaku membahas tentang memahami kehendak Tuhan. Melalui pembelajaran tersebut serta diskusi bersama mentor rohani dan keluargaku, aku memutuskan untuk menunda kelulusanku hingga Agustus 2020.

Prinsip mengambil keputusan

Kita bisa memahami dengan jelas kehendak Tuhan yang sangat jelas tertera di Alkitab. Contoh-contoh kehendak Tuhan yang terlihat jelas adalah: hidup kudus (1 Petrus 1:16), bersukacita senantiasa, berdoa, mengucap syukur dalam segala hal (1 Tesalonika 5:16-18), berbuat baik kepada orang lain (1 Petrus 2:15), dan masih banyak lagi jika kita mau mencarinya.

Tapi, bagaimana dengan kehendak Tuhan yang tidak tertulis di Alkitab? Pertanyaan-pertanyaan seperti jurusan apa yang harus kupilih, pekerjaan yang harus kulakukan, di mana nantinya aku tinggal, dengan siapa aku menikah, dan semacamnya, tidak memiliki jawaban secara eksplisit di Alkitab. Namun, Tuhan melalui firman-Nya tidak akan membiarkan anak-anak-Nya berada dalam kebingungannya sendiri. Tuhan berjanji kepada kita sebagai orang percaya bahwa Dia akan menunjukkan kepada kita jalan-jalan yang harus kita tempuh.

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu” (Mazmur 32:8).

Untuk menumbuhkan sukacita yang sesungguhnya (JOY) di dalam mengambil keputusan, kita dapat menerapkan prinsip Jesus Others You (kalau disingkat menjadi JOY) sebagai urutan prioritas. Terkait dengan mendahulukan Yesus dalam mengambil keputusan, aku belajar tentang bagaimana firman Tuhan harus menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan berlandaskan firman Tuhan kepada diri kita masing-masing, seperti contoh di bawah ini:

  • Apakah dengan mengambil keputusan ini aku mendahulukan kepentingan kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya daripada keinginanku sendiri? (Matius 6:33).
  • Apakah dengan mengambil keputusan ini aku bisa lebih mengasihi Kristus dan orang-orang di sekitarku? (Matius 22:37-39).
  • Apakah dengan mengambil keputusan ini menolongku menyampaikan berita Kristus kepada orang-orang yang belum percaya? (Matius 28:19-20).
  • Apakah keputusan ini bisa membantuku hidup dalam kekudusan? (1 Petrus 1:15).
  • Apakah keputusan ini bisa membuatku mengenal Kristus dan bertumbuh dalam kasih karunia-Nya? (2 Petrus 3:18).
  • Apakah yang aku lakukan ini menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitarku? (1 Korintus 8:9).
  • Apakah ini bermanfaat bagi jiwaku dan tidak menjadi tuan dalam hidupku? (1 Korintus 6:12).
  • Apakah aku melakukan semuanya ini untuk kemuliaan Tuhan? (1 Korintus 10:31).

Dan masih banyak lagi firman Tuhan yang dapat kita temukan dan jadikan sebagai dasar untuk membedakan mana yang kehendak Tuhan atau bukan dalam kehidupan kita. Ketika kita melihat bahwa hal yang akan kita lakukan tidak sesuai dengan firman Tuhan, kita dapat menyimpulkan dengan pasti itu bukanlah kehendak Tuhan.

Kembali ke pengalamanku sendiri dalam mengambil keputusan untuk menunda kelulusanku, aku berusaha jujur terhadap diriku sendiri. Ada hasrat dalam diriku untuk lulus cepat supaya aku bisa bangga menyelesaikan studiku sedikit lebih cepat dari waktu normal. Aku pikir ini mungkin bisa membantuku mendapat pekerjaan yang aku inginkan nantinya.

Ketika aku melihat tujuanku dalam mencari pekerjaan dan membandingkannya dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 6:33, aku mulai membuka hatiku terhadap kemungkinan untuk menunda kelulusanku.

Aku juga berpikir Tuhanlah yang menggerakkan hati dosen pembimbingku untuk menanyakan kepadaku tentang penundaan kelulusan. Jika beliau tidak bertanya itu sama sekali, dipastikan aku lulus di Februari 2020.

Taat pada kehendak Tuhan

Di dalam pembahasan mengenai kehendak Tuhan, aku diajarkan untuk taat kepada kehendak-Nya yang telah diberikan Alkitab. Tulisanku sebelumnya mengenai ketaatan yang benar di hadapan Tuhan bisa dibaca di sini.

Ketaatan kepada firman Tuhan dapat bertumbuh melalui saat teduh dan kehidupan doa kita sehari-hari. Bagaimana aku bisa peka terhadap arahan Tuhan dalam hidupku kalau aku tidak peka dengan suara-Nya dalam firman-Nya? Ketika firman Tuhan ada dalam hati kita, langkah hidup kita tidak akan goyah (Mazmur 37:31). Firman Tuhan akan menjadi pelita bagi kita dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105), dan memberikan pengertian kepada kita (Mazmur 119:130).

Untuk mencari pimpinan Tuhan dalam kehidupan kita, kita bisa belajar dari doa Daud yang tertuang dalam Mazmur 25:4-5 dan Mazmur 143:8. Daud merindukan kasih setia Tuhan setiap pagi. Daud tahu dan percaya bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan, tidak habis, dan selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23). Kita juga bisa meneladani Daud dengan setia merenungkan firman Tuhan setiap pagi dan berdoa meminta bimbingan-Nya setiap hari.

Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku. (Mazmur 143:8)

Untuk mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupanku, aku melatih diriku untuk lebih giat berdoa. Salah satu caraku adalah dengan mendoabacakan Mazmur 25:4-5 setiap harinya. Terkadang di saatku berdoa, aku juga memparafrasekan ayat tersebut dengan bahasaku sendiri. Ini sangat membantuku untuk menikmati kasih setia Tuhan dan menunggu dengan setia jawaban dari Tuhan.

Membuka hati dan menerima bimbingan Tuhan

Jika kita memiliki hati yang bersedia untuk melakukan apa pun itu yang merupakan kehendak Allah dalam kehidupan kita, kita akan lebih mudah membedakan mana yang merupakan kehendak Allah atau bukan. Tuhan Yesus juga berkata apabila kita mau melakukan kehendak-Nya, kita bisa tahu apakah itu kehendak Allah atau tidak (Yohanes 7:17). Ketika kita membuka hati kita untuk taat terhadap apa pun kehendak-Nya dalam hidup kita, Tuhan akan membimbing langkah kaki kita.

Salah satu cara Tuhan membimbing langkahku adalah lewat berdiskusi dengan mentor rohaniku. Aku bersyukur memiliki mentor rohani yang pernah mengalami masa-masa sepertiku dan bersimpati terhadap keadaanku.

Dibandingkan lulus cepat, lebih baik lulus normal dan telah mendapat tawaran pekerjaan. Menetap sebagai postdoctoral fellow di lab yang sama bukanlah hal yang buruk, tapi itu dapat memberiku kesan kalau aku tidak mendapatkan tawaran dari luar sama sekali. Kurang lebih begitulah nasihat yang mentorku berikan.

Mentorku juga menyarankanku untuk lebih menyelidiki motivasiku dalam mencari pekerjaan. Apakah dengan uang yang aku peroleh dari pekerjaanku nantinya aku mau memakainya untuk memberkati orang lain? Apakah aku mau menyampaikan berita Kristus dan memuridkan orang lain terlepas dari apa pun pekerjaanku? Apabila Tuhan melihatku telah siap dipakai untuk memperluas kerajaan-Nya, aku yakin Tuhan akan memberikan aku pekerjaan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Setelah memutuskan untuk menunda kelulusanku, aku merasakan damai Kristus dalam hatiku. Tuhan Yesus juga membantuku dalam penelitianku yang aku lakukan di masa-masa penundaan kelulusanku. Melalui kasih karunia Tuhan, aku bisa mempublikasikan satu jurnal, dan satu lagi sedang dalam proses revisi.

Kondisi virus corona di seluruh dunia saat ini juga berdampak terhadap tersedianya lowongan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatku. Mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapat pekerjaan pertamaku. Terlepas dari apapun kondisi nantinya, aku akan menantikan Tuhan bekerja pada waktu-Nya dan taat kepada kehendak-Nya karena aku tahu Penebusku hidup dan mengasihiku.

Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! (Yesaya 30:18)

Aku berharap teman-teman sekalian di dalam masa mencari tahu kehendak Tuhan dalam kehidupan, tetap taat dan berpedoman kepada Firman Tuhan. Biarlah kiranya kita semua selalu setia menanti bimbingan Tuhan dalam kehidupan kita.

Tuhan memberkati.

Baca Juga:

Menentukan Jurusan Kuliah: Pilihanku atau Pilihan Tuhan?

Menentukan jurusan kuliah adalah salah satu keputusan sulit yang kita ambil. Bagaimana kita bisa yakin pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang terbaik buat kita?

Penderitaan yang Membingungkan dan Yesus yang Kukenal

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Kita hidup dalam dunia yang telah berteman akrab dengan penderitaan. Ketika dosa masuk ke dalam dunia ini, dimulailah konsekuensi yang saat ini kita tanggung. Ada derai air mata kepedihan, jerit kesakitan, dan berbagai luka kehancuran.

Ketika persoalan hidup seolah lebih banyak dari pasir di laut, kita masih bisa bersyukur karena firman Tuhan terus tersedia, menjadi pegangan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tetapi, jika kita harus bersikap jujur, bukankah kita tetap dibingungkan oleh pertanyaan hidup seputar penderitaan? Di satu sisi kita tahu Allah itu baik, tetapi di satu sisi yang lain, bertumpuklah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di pikiran dan mungkin pula menggores hati.

Mengapa Allah yang baik mengizinkan penderitaan terjadi pada kita semua? Itulah inti semua pertanyaan kita.

Suatu kali seorang teman yang kukasihi datang kepadaku dan bercerita tentang kehidupannya yang berat. Dia dan keluarganya telah melayani Tuhan cukup lama. Di suatu malam yang disertai guyuran hujan, dia dengan nada pelan dan gaya bicaranya yang lembut mengisahkan bagaimana dia dan keluarganya harus melewati masa sulit terkait kehidupan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Temanku itu seorang yang suka menolong. Sudah banyak orang yang menerima kebaikannya. Tetapi, suatu kali dia dirugikan oleh seorang yang telah dianggapnya sebagai keluarga. Akibatnya, mereka bergumul untuk biaya hidup sehari-hari. Kondisi keuangan yang berada pada titik nadir membuat kebutuhan dasar keluarganya susah dibeli. Aku berusaha tidak ikut menangis ketika mendengarkan cerita pilunya.

Sejujurnya aku kaget dengan keputusannya menceritakan sebuah hal yang benar-benar sangat pribadi itu. Tetapi aku memahami perasaannya. Dia tak mampu menanggungnya sendiri. Sebagai seorang pria yang merasa gagal bertanggungjawab atas istri yang dicintainya, dia membutuhkan tempat berkeluh kesah. Setelah percakapan emosional itu, dalam kebingungan aku bertanya, “Di manakah Engkau Tuhan? Mengapa Engkau mengizinkan mereka yang mengasihi-Mu mengalami penderitaan-penderitaan seberat ini?”

Pemahaman kita tentang kebaikan Allah

Sebagai orang percaya kita berkali-kali diajarkan tentang kebaikan Allah. Aku rasa pemahaman itu telah lama masuk dalam daftar utama pengetahuan kita. Bahkan mungkin sejak kita berada di sekolah Minggu, inilah yang paling sering disampaikan oleh para pengajar. Tetapi, mengapa Allah yang baik itu mengizinkan penderitaan, bahkan yang sangat berat, terjadi kepada kita anak-anak-Nya? Betapa hancurnya kehilangan seorang yang dicintai, divonis penyakit mematikan, melihat orang tersayang terkapar tak berdaya, dan dikhianati orang yang dipercaya. Semua itu benar-benar menyesakkan dada, juga menimbulkan jutaan pertanyaan membingungkan yang tak mungkin diabaikan begitu saja. Kita menantikan jawaban atasnya.

Tetapi sebelum masuk dan membahas masalah ini lebih jauh, aku berharap kita bersepakat dan mengakui satu hal terlebih dahulu. Meskipun tidak pada semua kasus, faktanya ada juga banyak penderitaan yang terjadi pada kita karena kecerobohan dan kelalaian kita sendiri. Dalam keadaan seperti ini kita harus dengan rendah hati mengakui kesalahan kita di hadapan Allah dan meminta-Nya agar menolong kita berubah menjadi lebih baik. Maafkan aku untuk memberikan contoh ini, namun kita yang tidak suka menjaga kesehatan dan yang senang berkendara dengan ugal-ugalan, lalu mendapat akibat buruk, tidak layak mempersalahkan orang lain, termasuk Allah. Karena sering kali kita yang menancapkan banyak pedang di hati Allah lalu menuduh-Nya jahat padahal hati kita tergores oleh pisau kecil yang kita pegang sendiri.

Tetapi bagaimana jika kasusnya lain? Bagaimana jika kita telah berusaha hidup benar tetapi masih tetap dihantam oleh gelombang penderitaan? Apakah itu adil? Jika kanker menyerang tubuh seorang seperti Adolf Hitler yang telah merenggut lebih dari sepuluh juta nyawa manusia demi ambisinya yang jahat, aku rasa banyak dari kita yang tidak akan merasa heran. Menanggapinya, mungkin kita dengan ketus akan berkata, “itu sebuah karma”.

Untuk membantu kita mendalami persoalan yang tidak mudah ini, sebenarnya kita bisa melihat ada begitu berlimpah tokoh hebat dalam Alkitab yang hidupnya dipenuhi dengan penderitaan. Dari kisah dan kesaksian mereka semua kita bisa melihat cara kerja dan karakter Allah. Karena aku yakin kehidupan mereka masing-masing akan membawa kita pada kesimpulan yang sama. Salah satunya Ayub. Dia bukan orang jahat. Kitab Ayub memberikan keterangan tentangnya membuat kita kagum. Ayub adalah orang saleh. Tetapi dia mengalami penderitaan hebat.

Namun dalam tulisan ini, aku tidak akan mengajak kita semua untuk membedah kisah Ayub atau tokoh lain dalam kitab Perjanjian Lama. Aku hanya akan membawa kita untuk secara khusus mengarahkan lampu sorot kepada kehidupan seorang rasul bernama Paulus dengan melihat sedikit perkataan dalam sebuah suratnya, kemudian mengaitkannya dengan sebuah peristiwa sejarah yang paling penting yang telah mengubah peradaban dunia, yaitu salib Yesus Kristus.

Dalam suratnya kepada Timotius yang merupakan seorang anak rohani yang dikasihinya, Paulus memberikan dorongan dan penghiburan yang memang sangat dibutuhkan di masa-masa sulit itu. Pada saat itu, menjadi orang Kristen sama saja dengan membawa diri pada bahaya-bahaya yang serius. Paulus bahkan sudah lebih dulu mengalaminya. Mengetahui bahwa sang murid juga nantinya akan menghadapi semuanya itu, Paulus tidak tinggal diam. Dia mengirimkan surat keduanya untuk Timotius. Demikian penggalan tulisannya:

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Timotius 1:12).

Seperti yang kita tahu, Paulus adalah seorang yang sangat akrab dengan penderitaan. Semenjak dia “ditangkap” oleh Tuhan dalam perjalanan ke Damsyik dan memutuskan untuk melayani-Nya, dia mulai berteman dekat dengan kepedihan. Dia kelaparan, kedinginan, dianiaya, dan dipenjarakan karena Kristus. Sampai di sini, aku yakin—sama seperti kita dan para tokoh Alkitab lainnya—Paulus karena keterbatasannya mungkin tidak dapat memahami secara utuh maksud dan rencana Tuhan. Namun dalam suratnya itu, dia berkata bahwa dia tahu kepada siapa dia percaya.

Mari perhatikan dengan cermat perkataannya. Ketika ia berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”, dia sedang menegaskan pengenalannya akan sosok yang dia sebutkan, yaitu Yesus Kristus.

Mengapa hal ini menjadi penting? Karena poin inilah yang dapat membawa kita pada kelegaan.

Seperti yang telah sedikit aku singgung sebelumnya, dalam kehidupan kita seringkali pertanyaan-pertanyaan yang sulit muncul dan membelenggu kita. Kita tak bisa memahami rencana Allah dalam hidup kita secara utuh dan jelas. Ada banyak hal yang tersembunyi, dan keterbatasan kita seakan membuat kita tak berdaya hingga menjadi berpasrah diri dengan wajah lesu dan kecewa. Tetapi, beruntunglah kita karena pengenalan yang benar akan Yesus Kristus yang akan memberikan pijakan yang tak dapat menggoyahkan kaki kita. Inilah yang Paulus ingin agar kita lakukan, yakni mengenal siapa yang kita percayai. Walaupun mengetahui atau mengenal siapa yang kita percaya tidak lantas melenyapkan deretan pertanyaan membingungkan yang ada di kepala kita, namun itu akan menentukan cara kita melihat sesuatu dengan lebih baik.

Biarkan sebuah cerita pendek ini membantu menjelaskan hal ini.

Ada sebuah pasangan suami istri yang memiliki seorang bayi kecil yang cantik. Di suatu pagi sang istri mendapatkan tugas untuk membeli makanan bagi bayi mereka dan sang suami mendapat tugas untuk menjaga bayi itu di rumah. Tetapi setelah berjam-jam meninggalkan rumah, si istri tak kunjung kembali. Bayi kecil yang mulai menangis kelaparan mulai membuat sang ayah menjadi cemas, khawatir, dan marah. Dia khawatir dengan bayinya yang kelaparan itu. Dia marah dengan istri yang tak tahu ada di mana. Dia cemas dan menimbun banyak pertanyaan di kepalanya. Dengan wajah kesal dia mulai bergumam, “di mana wanita ini?”

Meskipun ada begitu banyak dugaan, dia tidak dapat memastikan keberadaan istrinya saat itu. Dia benar-benar tidak tahu. Tetapi teringatlah dia pada satu hal. Dia tahu siapa istrinya. Dia kenal siapa istrinya. Istrinya adalah seorang yang telah “meninggalkan” keluarganya demi menikah dengannya dan merawat dia dengan kasih sayang. Istrinya adalah seorang yang telah mempertaruhkan nyawanya pada saat melahirkan bayi mereka itu. Berkali-kali dia melihat istrinya memaksakan diri, melawan kantuk, untuk bangun di tengah malam, menggantikan popok, membuatkan susu, dan menyanyikan lagu dengan suaranya yang jelek itu demi menidurkan bayi yang dikasihi itu. Semuanya dilakukan dengan ketulusan dan tanpa keluhan, bahkan di saat istrinya sedang sakit. Sang suami tahu persis, istrinya mencintai bayi itu, bahkan melebihi nyawanya sendiri.

Tetapi kembali terbesit pertanyaan menjengkelkan itu. “Mengapa istriku belum kembali?” Dia tidak tahu! Tetapi ada satu hal yang dia tahu. Dia tahu dan mengenal baik siapa istrinya. Untuk semua yang pernah istrinya lakukan bagi bayi mereka, untuk segala kesetiaan dan pengorbanan yang tak kecil, dia yakin tak mungkin istrinya mau mencelakakan bayi itu. Lalu mengapa istrinya belum kembali? Ada di mana dia?” Jawabannya adalah “Tidak tahu!” Tetapi sekali lagi ada suara dari lubuk hati paling dalam yang berbisik dalam batinnya, “Untuk semua yang telah istriku lakukan bagi aku dan anakku, aku tahu siapa istriku! Aku tahu dia punya alasan.” Tetapi apa alasannya? “Aku tidak tahu! Tapi aku tahu dan aku kenal siapa dia.”

Sama seperti sang suami yang tidak mengetahui dengan pasti keberadaan istrinya, kita juga mungkin tidak memahami bagaimana cara Allah bekerja. Kita tidak mengerti mengapa Dia mengizinkan kita mengalami luka yang sedemikian menyakitkan. Kita benar-benar tidak tahu. Kita dibingungkan dengan sederet pertanyaan “mengapa”. Mengapa ini, mengapa itu, mengapa aku begini, mengapa terjadi begitu? Mengapa orang lain yang mendapatkannya padahal aku yang telah melakukan lebih baik? Mengapa bukan orang jahat itu yang menanggung semua beban ini? Begitulah keadaannya. Tetapi jika satu dari pertanyaan sulit itu dijawab, muncul lagi pertanyaan membingungkan lainnya. Terus-menerus begitu.

Lalu di mana kita harus berhenti? Mari menjawab satu pertanyaan penting ini:

Tahukah kita siapa Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin tidak melenyapkan pertanyaan-pertanyaan membingungkan sebelumnya. Tetapi aku percaya jawaban itu akan menjadi seperti air segar yang tercurah dari langit di tengah terik yang kering. Yesus Kristus adalah Pribadi Allah yang meninggalkan surga yang mulia dan memilih lahir di palungan sebuah kandang domba untukmu dan untukku. Dia ditelanjangi dan diludahi oleh mereka yang dikasihi-Nya. Tangan yang dikasihi-Nyalah yang menancapkan paku ke dalam tangan dan kaki-Nya. Dia yang tak bersalah bersedia mati bagi kita yang selalu menyakiti hati-Nya.

Apakah masuk akal jika Pribadi yang pernah terhina seperti itu, Pribadi yang menyerahkan nyawa-Nya supaya kita menerima pengampunan dan jaminan keselamatan, Pribadi yang membuktikan cinta tanpa syarat bagi kita, berniat mencelakai kita? Tidak mungkin!

Lalu mengapa Dia mengizinkan semua kepedihan ini menimpa kita? Aku tidak tahu! Tetapi aku tahu siapa Dia! Sama seperti Paulus berkata, aku juga akan mengatakan hal yang sama, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”.

Allah yang aku percaya adalah Allah yang telah mengorbankan diri-Nya demi aku. Ia mencintai aku. Aku kenal siapa Dia. Dia adalah Allah yang punya rencana indah bagi anak-anak yang dikasihi-Nya.

Hari ini, saat ini, aku tidak memahami cara kerja-Nya. Aku dibingungkan dengan keputusan-keputusan-Nya. Tapi imanku tidak goyah. Tidak akan pernah. Karena aku tahu kepada siapa aku percaya!

Dia adalah Allah yang bisa dipercaya dan diandalkan. Dialah yang berkata kepada Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Tuhan Yesus memberkati kita. Amin

(Segala kelemahan dari tulisan ini berasal dariku, berkatnya berasal dari Dia)

Baca Juga:

Mengalami Kehadiran Allah Ketika Menghadapi Bullying

Teman-temanku menuduh dan menjulukiku sebagai “tukang ngadu”, akibatnya aku dijauhi dan dirundung secara mental dan fisik. Masa-masa sekolah jadi momen yang menyakitkan. Namun, Tuhan menolongku melalui masa-masa ini.

Berkat yang Kuterima dari Kegagalanku

Oleh Marion Sitanggang, Jakarta

Sejak SMP aku bercita-cita menjadi seorang Psikolog Anak. Profesi itu adalah dambaan bagiku karena aku bisa menolong para orang tua yang kesulitan menghadapi anak-anak mereka, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan psikis anak-anak yang berpengaruh terhadap masa depan mereka.

Supaya cita-cita ini terwujud, aku belajar sungguh-sungguh. Setelah lulus SMA, aku ikut seleksi di beberapa perguruan tinggi negeri, aku memilih jurusan Psikologi di setiap PTN yang kupilih. Tapi, beberapa kali ujian, semuanya gagal. Aku pun ngambek pada Tuhan. Setiap hari pertanyaan di kepalaku, “Kenapa gagal? Kenapa Tuhan kok gak kasih kesempatan itu? Tuhan kan tahu aku pengen banget, kan Tuhan juga sudah lihat usahaku yang hampir setiap hari lembur belajar? Kenapa?”

Larut dalam kecewa membuatku menyerah pada disiplin rohaniku. Aku berdoa seadanya, kalau ingat saja. Ke gereja kalau tidak sedang malas saja. Di pikiranku saat itu, terserah Tuhan saja, toh aku meminta juga Dia gak kasih.

Meski gagal masuk jurusan Psikologi, aku tetap kuliah tahun itu. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi di bawah Kementrian Perindustrian di jurusan Manajemen Bisnis. Jurusan ini kupilih ngasal saja. Yang penting saat ujian tidak ada materi fisika, jadi tentunya kupikir nanti saat kuliah tidak ada mata kuliah fisika.

Semester pertama aku kuliah tanpa semangat. Aku datang, duduk, diam, lalu pulang. Aku tidak belajar kala ujian, tidak ikut kegiatan. Aku tak peduli kuliahku benar atau tidak. Tapi, setelah ujian akhir semester pertama, IP-ku malah 3,67. Bukannya bersyukur, aku malah bertanya, “Kenapa Tuhan? Di saat aku berontak, Engkau malah memberiku sesuatu yang membuatku merasa bersalah sudah mengutuki keadaan. Tuhan, apa mau-Mu?”

Kebingungan itu mendorongku untuk mencoba berdamai dengan kenyataan. Mungkin aku memang tidak bisa kuliah di jurusan idamanku, tapi mungkin juga Tuhan ingin menunjukkan hal lain yang lebih baik. Saat itu, seniorku di kampus sering mengajakku untuk ikut persekutuan. Seniorku mengajakku bergabung dalam kelompok kecil dan aku bersedia.

Sepanjang masa-masa aku tergabung dalam persekutuan dan melayani di sana, aku tertampar oleh banyak sekali ayat-ayat Alkitab. Salah satunya dari Yesaya 55:8, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Aku teringat bagaimana pedihnya hatiku ketika berhadapan dengan kegagalan. Di awal-awal kuliah aku masih sering menangis dan berandai jika saja aku kuliah di Psikologi. Apalagi setiap ada pengumuman masuk Perguruan Tinggi Negeri, kegagalan itu masih terbayang dan membuatku bertanya lagi pada Tuhan.

Namun seiring waktu, Tuhan nyatanya malah menyertaiku. Kisah hidupku tidak selesai ketika aku gagal, melainkan Tuhan melanjutkannya dengan penyertaan-Nya yang sempurna. Hari lewat hari aku diajar-Nya untuk berdamai dengan keadaan. Melalui doa, persekutuan, dan ibadah Minggu, pelan-pelan aku mengerti bahwa segala sesuatu pastilah terjadi dengan alasan. Aku membayangkan, jika seandainya aku sungguh mendapatkan apa yang aku mau, besar kemungkinan aku akan jadi orang yang serakah dengan segala keinginan dagingku hingga melupakan-Nya. Aku mungkin akan jadi orang yang sombong karena merasa berhasil dengan upayaku sendiri.

Tuhan sungguh baik, Dia menunjukkanku bahwa yang menjadikan hidupku baik bukanlah karena aku mendapatkan apa yang kuinginkan, melainkan karena Dia menyertaiku senantiasa. Hari-hariku melayani-Nya menjadi saat-saat penyembuhanku. Aku sadar Tuhanlah yang sepenuhnya berkuasa. Aku terlalu rakus mengejar mimpi tanpa peduli akan kehendak-Nya, tanpa melibatkan-Nya. Aku telah sombong, merencanakan segala yang baik tanpa sikap berserah.

Kisah yang awalnya gagal Tuhan rangkai dengan amat baik. Sekarang aku telah lulus dari studiku dan meraih IPK 3,74, lebih daripada yang kuminta. Sungguh Tuhan itu baik, teramat baik!

* * *

Kawanku, ceritaku ini adalah cerita tentang kekecewaanku dan bagaimana Tuhan bekerja seturut kehendak-Nya. Setiap tahun akan ada orang-orang yang gagal masuk PTN sepertiku. Aku tahu betapa sesaknya di hati, sampai kata-kata pun hilang dan hati hanya bisa bertanya, “Kenapa?”

Aku berdoa kiranya kamu yang masih bergumul dengan pedihnya kegagalan dapat bertahan melewati saat-saat tersulit sekalipun. Dan untuk kamu yang tahun ini akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri, kiranya Tuhan beserta langkahmu.

Siapa pun kamu yang membaca tulisan ini, aku harap kiranya inilah yang jadi pengingat bagi kita semua: bahwa ketika keadaan tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita, sekalipun kita sudah berusaha semampu kita atau bahkan lebih, pandanglah pada Yesus. Di tengah perasaan kecewa dan terpuruk, semoga kita bisa melembutkan hati, menerima keadaan, dan mencari Tuhan. Menangislah jika ingin menangis, marahlah jika ingin marah, tetapi jangan sampai menghambat dirimu untuk dituntun Tuhan.

Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya jatuh sampai tergeletak. Tangan-Nya selalu menopang. Dia selalu ada menunggu kita untuk datang kepada-Nya.

Tuhan memberkati dan menyertai kita setiap waktu.

Allah Bekerja dalam Kehilangan Kita

Oleh Daniel Alexander Oktavianus, Bekasi

Tidak ada orang yang ingin merasakan kehilangan. Bahkan, banyak yang berpikir bahwa kehilangan akan menghasilkan rasa sakit dan tidak perlulah menjadi bagian hidup manusia. Namun, tidak bisa kita pungkiri, semua orang pasti akan merasakan kehilangan.

Aku pun pernah kehilangan, dan yang terbaru terjadi dua bulan lalu. Aku kehilangan bapakku di saat aku sebagai anak tertua tidak bisa melakukan apa-apa untuk keluargaku.

Singkat cerita, bapak tidak tinggal bersama kami karena beliau dan mama bertengkar sejak lama, bahkan hampir bercerai hingga akhirnya berpisah rumah cukup jauh. Kami tinggal di Bekasi sementara bapak tinggal bersama saudaranya di Siantar, Sumatera Utara.

Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menyatukan mereka kembali. Mereka berdua sudah terlanjur terlalu membenci. Aku hanya bisa mendoakan mereka, karena setiap usahaku untuk menyatukan mereka, selalu gagal.

Lalu, ketika bapak dalam kondisi sakit parah, aku pun terbang ke Siantar, merawatnya sampai bapak meninggal di sebelahku. Yang aku pikirkan saat bapak pergi hanya satu, “Aku hanya orang yang gagal, yang gak bisa menyatukan keluarga.” Rasa kehilangan bercampur dengan perasaan gagal. Beberapa jam aku merenung, dan yang ada hanyalah perasaan terintimidasi.

Sampai pada akhirnya, ada satu kalimat terlintas dalam pikiranku, “Mungkin Tuhan ingin ini terjadi agar ada pengampunan dalam keluarga.”

Kalimat inilah yang membebaskanku dari perasaan bersalahku.

Bagaimana bisa?

Semenjak hari itu, sampai sekarang, aku melihat sendiri bagaimana peristiwa dukacita itu menjadi momen pemulihan bagi keluargaku. Mama membuka pintu hatinya dan mengampuni bapak, bahkan malah semakin merindukan kehadran bapak. Pengampunan turun atas keluarga kami.

Dukacita dan kehilangan, perisitwa yang agaknya kelam, namun Tuhan pakai untuk mendatangkan kebaikan. Dari kejadian ini, aku samkin yakin satu hal, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28).

Kadang, kita sering melihat momen hidup yang tidak mengenakkan sebagai sebuah hal yang harus dihindari.

Namun, kenyataannya, tidaklah selalu demikian.

Kita diizinkan tidak jadian dengan wanita yang kita suka bukan karena Tuhan tidak ingin kita senang, tapi karena Tuhan tidak ingin kita bersedih karena salah pilih orang.

Kita diizinkan gagal masuk sekolah yang kita inginkan, bukan karena Tuhan tidak ingin kita masuk ke sekolah yang terbaik, tapi karena mungkin Tuhan ingin mempertemukan kita dengan orang yang bisa mengubah atau menolong kita di sekolah lain.

Tuhan mengizinkan orang tua kita berpulang lebih dahulu kepada-Nya bukan karena Tuhan ingin kita kesempian, tapi Dia ingin kita bergantung kepada-Nya.

Segala sesuatu yang Tuhan lakukan senantiasa untuk kebaikan kita. Bahkan, sekalipun hal itu buruk di mata kita, Tuhan selalu menyajikan kebaikan di dalamnya.

Yohanes 3:16 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita dari kebinasaan dan membawa kita ke hidup kekal, Tuhan sendiri pun merasakan kehilangan. Bapa di surga kehilangan Anak-Nya yang tunggal demi membawa keselamatan bagi kita semua.

Kehilangan tidaklah selalu buruk. Dikecewakan tidaklah selalu buruk. Disakiti tidaklah selalu buruk. Yang membuat itu semua buruk adalah respons kita yang menolak untuk menerima peristiwa tersebut dan kita enggan meletakkan kepercayaan kita kepada Tuhan.

Namun, menerima kehilangan dan beragam peristiwa buruk bukanlah proses yang mudah. Bisa jadi itu adalah proses bertahun-tahun yang melibatkan kemelut emosi dan derai air mata. Kiranya kita tidak tawar hati dan sama-sama berkenan untuk belajar bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Selalu ada maksud Tuhan dalam setiap momen hidup kita, bahkan dalam kehilangan kita sekalipun.

Baca Juga:

Kini dan Nanti, Penyertaan-Nya Tetap Ada

Kegagalan yang terjadi bukan selalu berarti Tuhant idak merestui rencana kita. Izinkanlah diri kita untuk percaya akan kebaikan dan penyertaan Tuhan meskipun lewat hal pahit sekalipun.