Pos

Perlukah Orang Kristen Mengejar Kebebasan Finansial?

Oleh Rachel Lee
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: klik di sini

“Capek kerja dari pagi sampai malam? Daftar kursus gratis ini dan belajarlah bagaimana menjadi bos!”

“Kekurangan uang? Chat saya, dan saya akan mengajari Anda mendapatkan uang dengan mudah.”

“Belum mulai berinvestasi? Anda belum terlambat! Ayo bergabung sekarang dengan tim kami!”

“Tahukah Anda apa itu kebebasan finansial? Itu adalah kondisi di mana Anda tak perlu lagi bekerja karena uanglah yang bekerja buat Anda! Mau tahu caranya? Kontak saya sekarang juga.”

***

Setiap kali aku masuk ke media sosialku, aku menemukan banyak iklan seperti di atas, di mana-mana! Setelah melihat banyak iklan itu, ada lagi iklan yang bilang begini:

“Kalau kamu punya uang, tidak hanya kamu punya lebih banyak pilihan; kamu bisa berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang tak kamu suka”, atau

“Berjuanglah sekarang, dan dirimu di masa depan akan berterima kasih.”

Aku merasa tergelitik dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa menambah hartaku. Melihat bagaimana bisnis dan investasi teman-temanku berjalan baik, aku merasa tak puas dengan posisi finansialku. Aku juga ingin meraih lebih banyak uang supaya aku bisa melunasi cicilan, dan membawa keluargaku jalan-jalan keliling dunia. Jadi, aku pun mulai mencari-cari kesempatan berbisnis secara daring.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru buatku. Di tahun 2016, ketika aku masih mahasiswa, aku pernah menulis artikel tentang keinginanku untuk mendapat uang. Artikel itu ditulis saat aku tidak punya pendapatan, tapi sekarang setelah aku bekerja dan punya pemasukan yang stabil, aku masih ingin meraih lebih. Jadi aku bertanya-tanya: apakah ini karena aku kurang puas?

Ketika aku merenungkan motivasiku, aku sadar kalau aku ingin meraih kebebasan finansial bukan supaya aku bisa hidup mewah. Malah, harapanku adalah dengan punya kemampuan finansial yang lebih besar, aku bisa menaikkan taraf hidup keluargaku lebih baik. Plus, kalau semisal aku terpanggil untuk melakukan mission-trip entah ke mana, aku bisa membayarnya tanpa khawatir. Semua motivasi ini terlihat rasional kan?

Jadi, sebagai orang Kristen, aku sungguh bisa mengejar kebebasan finansial kan?

Berangkat dari dua pertanyaan itu, aku membuka Alkitabku untuk mencari tahu apa yang Allah ingin katakan terkait dengan kekayaan. Kutemukan beberapa penemuanku. Kuharap apa yang kupelajari juga menolongmu untuk menemukan jawaban.

Berdasarkan sebuah artikel di koran, ada sekitar dua ribu ayat di Alkitab tentang uang. Tapi, hanya sekitar 500 yang berbicara tentang doa dan iman. Bisa dikatakan, masalah tentang uang tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya, uang itu bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari orang yang menggunakannya. Uang bukanlah akar segala kejahatan, cinta akan uanglah yang jadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Kapan pun Alkitab berbicara tentang uang, Alkitab juga berbicara tentang bagaimana orang memandang dan menggunakannya.

Inilah tiga hal yang harus selalu kita ingat ketika kita membahas soal relasi kita dengan uang:

1. Ingatlah bahwa uang itu diberikan oleh Tuhan

Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk uang, berasal dari Allah. Salomo yang dipenuhi kebijaksanaan dan kekayaan pernah berkata, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Namun, kita harus memahami bahwa karunia Allah itu tidak hanya ada saat kita kaya, tapi juga saat kita miskin. Ketika Ayub kehilangan anak, harta, dan kekayaannya, dia masih bisa berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Pernyataan Ayub menunjukkan bahwa Allah jauh lebih besar daripada pengejarannya akan kemakmuran dan kedamaian. Iman Ayub adalah teladan bagi kita.

Marilah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan apa pun yang kita butuhkan, dan kita perlu bersyukur atas apa yang ada pada kita.

2. Kita hanyalah pengelola uang

Ketika kita menyadari bahwa uang berasal dari Allah, kita dapat menempatkan diri pada posisi yang benar—sebagai pelayan Allah. Karena Dia telah memberi kita uang, maka kita harus mengelolanya.

Pemahaman ini membawa kita pada pengelolaan keuangan. Pendapatan kita dapat dibagi ke dalam dua kelompok: aktif dan pasif.

A. Pendapatan aktif—uang yang kita raih dari bekerja:

1 Timotius 5:18 berkata “Setiap orang yang bekerja patut mendapat upahnya.” Mendapatkan upah yang layak dari instansi tempat kita bekerja adalah hak kita. Ayat ini juga mengingatkan orang-orang Kristen yang merupakan para pemilik usaha akan kewajiban untuk membayar pekerjanya dengan upah yang sesuai.

Alkitab tidak menentang usaha sampingan, tapi ada cara-cara yang ditentang Allah seperti: penyuapan (Mikha 3:11), warisan yang diminta terlalu cepat (Amsal 20:21), pencurian, kebohongan, dusta (Imamat 19:11).

B. Pendapatan pasif—uang mendapatkan uang:

Matius 25:14-30 menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang memberikan hamba-hambanya masing-masing lima, dua, dan satu talenta. Orang-orang biasanya memahami perumpamaan ini sebagai pengingat bagi kita untuk menggunakan talenta dan kemampuan kita bagi Tuhan. Tapi, aku percaya pada prinsipnya perumpamaan ini juga jadi pengingat yang baik tentang uang: kita harus memperlakukan dengan serius uang yang Tuhan telah berikan buat kita–dengan menggunakan cara-cara bijak untuk meningkatkan nilainya. Entah itu dengan menabung di bank atau di instrumen investasi.

Allah tidak menilai uang lebih berharga daripada kita, atau pun Dia menjadikan uang sebagai tolok ukur kasih-Nya bagi kita. Dia berkenan apabila kita secara efektif menggunakan apa yang Dia telah percayakan bagi kita. Saat kita bersyukur pada-Nya atas pemberian-Nya, kita juga harus belajar untuk mengelolanya dengan baik sebagaimana kita mengembangkan talenta dan kemampuan kita.

3. Belajarlah mengelola uang tanpa bersifat serakah

Ketika kita mengelola keuangan pada jalur yang benar, hasilnya bisa saja jauh melampaui apa yang kita harapkan. Manajemen yang baik bisa menolong kita meraih lebih banyak uang, yang juga menuntut energi lebih untuk mengelolanya. Namun, berhati-hatilah agar kita tak kehilangan pandangan kita akan Allah. Atau, jangan pula karena kita gagal mengelola uang dengan baik lantas kita pun menyalahkan-Nya.

Sifat tamak atau serakah muncul ketika kita memaknai uang lebih besar daripada kasih kita pada Tuhan. Uang lalu menjadi tuan kita, sedangkan Tuhan menjadi pelayan ketika kita berpikir bahwa Dia berkewajiban untuk menambah harta kekayaan kita.

Jika kita ingin tahu apakah kita telah jadi orang yang serakah atau tidak, secara sederhana kita dapat melihat bagaimana sikap kita terhadap persembahan. Persembahan adalah cara yang baik untuk menguji siapakah pemilik uang itu.

Jika kita merasa uang itu adalah milik kita karena kita yang meraihnya, dan memberikan persembahan bagi rumah Tuhan tidak akan menambah uang itu, maka persembahan meskipun cuma seribu rupiah pun tidak akan terasa baik buat kita. Tapi, jika kita mampu memberi dengan sukacita, itu menyenangkan Tuhan. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Sejalan dengan tiga poinku, aku merumuskan definisi baru dari ‘kebebasan finansial’ buatku sendiri:

1. Aku bisa bebas memuji Tuhan untuk segala kepunyaanku yang adalah kepunyaan-Nya.

2. Aku bisa bebas bekerja untuk memuliakan-Nya dan berani berkata ‘tidak’ untuk cara-cara yang tidak menyenangkan hati-Nya.

3. Aku bisa bebas mempersembahkan segalanya bagi Tuhan: dengan sukacita memberikan uang yang dipercayakan-Nya untuk membangun kerajaan-Nya.

Yohanes 8:32 berkata, “…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Terlepas dari apakah aku bisa memenuhi kebebasan finansial berdasar standar dunia, aku tahu apabila aku mengejar kebenaran Allah, aku akan memperoleh kebebasan sejati yang berasal dari-Nya: untuk hidup dalam naungan kasih dan anugerah-Nya, tidak lagi terikat pada dosa, dan mampu menolak godaan keuangan dan menolak untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan pada-Nya.