Posts

Kekuatan Seorang Manusia

Minggu, 16 Juni 2013

Kekuatan Seorang Manusia

Baca: 1 Korintus 16:9-13

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! —1 Korintus 16:13

Beberapa tahun lalu saya berada di dalam lift bersama dua orang laki-laki. Malam telah larut, dan kami semua terlihat lelah. Lift pun berhenti, dan seorang laki-laki berpenampilan menyolok berjalan masuk dengan santai. Ia mengenakan pakaian koboi, topi yang lusuh, jaket kulit domba yang sudah bernoda dan tua, serta sepatu bot yang usang. Ia memandangi kami dari atas ke bawah, menatap kami, dan menyapa dengan geraman, “Selamat malam, saudara-saudara.” Kami semua langsung berdiri tegak dan menegapkan bahu kami. Kami berusaha tampil selayaknya laki-laki.

Hari ini merupakan hari untuk menghormati kaum laki-laki, karena itu marilah membahas tentang apa artinya bersikap sebagai laki-laki. Sebagai laki-laki, kita berusaha untuk bersikap tangguh dan jantan, tetapi seringkali semua itu hanyalah dalam penampilan. Sekeras apapun usaha kita, kita sadar bahwa ternyata kita tidak setangguh itu. Di balik keberanian yang dibuat-buat itu, ternyata kita memendam banyak ketakutan, keraguan, dan kekurangan. Sebagian besar dari sikap jantan kita hanyalah gertak sambal belaka.

Dengan berani Paulus mengakui hal ini: “Kami adalah lemah,” katanya (2Kor. 13:4). Ini bukanlah sikap sok saleh, melainkan suatu kesadaran yang nyata. Namun dalam pernyataan lain yang sepertinya bertolak belakang, Paulus dengan tegas mendesak kita untuk “bersikap sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (1Kor. 16:13).

Bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang kuat seperti yang dikehendaki Allah? Hanya dengan cara menyerahkan diri kita ke dalam tangan Allah dan meminta-Nya untuk menguatkan kita oleh kuasa-Nya yang memberi kesanggupan. —DHR

Mari, Tuhan, berikanku keberanian,
Berikanlah Roh yang berkuasa;
Jadikanku seorang pemenang—
Hiduplah penuh kuasa di dalamku. —NN.

Kekuatan sejati datang dari kuasa Allah di dalam jiwa.

Tetap Terhubung

Kamis, 13 Juni 2013

Tetap Terhubung

Baca: Mazmur 119:33-40

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. —Mazmur 119:105

Suatu pagi, saya mendapati ternyata hubungan Internet saya tidak berfungsi. Penyedia layanan melakukan beberapa tes dan menyimpulkan bahwa modem saya perlu diganti, tetapi mereka hanya bisa melakukannya esok hari. Saya sedikit panik saat membayangkan saya tidak dapat menggunakan Internet selama 24 jam! Saya berpikir, Bagaimana saya bisa hidup tanpa Internet?

Kemudian saya bertanya kepada diri sendiri, Apakah saya juga akan merasa panik jika hubungan saya dengan Allah terganggu selama sehari penuh? Kita menjaga hubungan kita dengan Allah supaya tetap hidup dengan cara meluangkan waktu untuk membaca firman-Nya dan berdoa. Lalu kita harus menjadi “pelaku firman” (Yak. 1:22-24).

Penulis Mazmur 119 mengenali pentingnya suatu hubungan dengan Allah. Pemazmur meminta Allah untuk mengajarkan ketetapan-ketetapan-Nya dan memberi pengertian akan taurat-Nya (ay.33-34). Kemudian pemazmur berdoa supaya ia dapat memelihara firman itu dengan segenap hati (ay.34), hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Nya (ay.35), dan menjauhkan matanya dari melihat segala hal yang hampa (ay.37). Dengan merenungkan firman Allah dan kemudian menerapkannya, pemazmur selalu “terhubung” dengan Allah.

Allah telah memberikan firman-Nya untuk menjadi pelita bagi kaki kita dan menjadi terang bagi jalan kita sehingga menuntun kita kepada-Nya. —CPH

Kiranya pikiran Yesus Juruselamatku
Hidup di dalamku hari demi hari,
Dengan kasih dan kuasa-Nya menuntun
Semua yang kulakukan dan kukatakan. —Wilkinson

Untuk memperbarui kekuatan jiwa Anda, teruslah terhubung dengan Sang Sumber Hidup.

Tak Cukup Sekadar Informasi

Rabu, 5 Juni 2013

Tak Cukup Sekadar Informasi

Baca: Yohanes 15:1-13

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. —Yohanes 15:4

Bagaimana tingkah laku dapat diubah? Dalam bukunya The Social Animal (Makhluk Sosial), David Brooks menulis bahwa menurut para ahli, orang hanya perlu diajarkan mengenai risiko jangka panjang dari perilaku yang buruk. Sebagai contoh, ia menulis: “Merokok dapat menyebabkan kanker. Perzinahan menghancurkan keluarga, dan berbohong menghancurkan kepercayaan. Asumsinya, sekali Anda mengingatkan orang betapa bodohnya perilaku mereka, mereka akan termotivasi untuk menghentikannya. Rasio dan kehendak memang penting dalam mengambil keputusan moral dan menerapkan pengendalian diri. Namun kedua pola karakter ini terbukti tidak terlalu efektif.” Dengan kata lain, pengetahuan saja tidak cukup kuat untuk mengubah suatu perilaku.

Sebagai pengikut Yesus, kita ingin bertumbuh dan berubah secara rohani. Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bagaimana hal itu dapat terlaksana. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh. 15:4). Yesus adalah Pokok Anggur dan kita, pengikut-pengikut-Nya, adalah ranting-rantingnya. Jika kita jujur, kita sadar bahwa kita sama sekali tidak berdaya dan tidak dapat bertumbuh secara rohani di luar Dia.

Yesus mengubah kita secara rohani dan menciptakan hidup-Nya di dalam kita—ketika kita tinggal di dalam Dia. —MLW

Ya Tuhanku, hidupku t’rimalah;
Kasih yang murni, O curahkanlah.
Taklukkanlah dendam dan nafsuku
Tinggallah ‘Kau tetap di hatiku. —Orr
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 13)

Perubahan perilaku dimulai dari hati yang diubah oleh Yesus.

Anjuran Untuk Investasi

Sabtu, 21 April 2012

Anjuran Untuk Investasi

Baca: 2 Petrus 1:1-11

Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. —2 Petrus 1:8

Saya akan membantu Anda untuk berinvestasi secara bijak demi masa depan Anda.” Itulah yang dikatakan seorang penasihat keuangan ketika ia memulai ceramahnya tentang berinvestasi dalam sistem tabungan dana pensiun. Ia ingin pendengarnya terus menanam uang ke dalam pasar saham pada saat ekonomi sedang pasang-surut, karena sejarah menunjukkan bahwa pada akhirnya tindakan itu akan menghasilkan keuntungan.

Allah juga menghendaki kita untuk berinvestasi dengan bijak demi masa depan rohani kita. Di tengah pasang-surutnya keadaan hidup ini, kita harus terus-menerus menanam dalam suatu “rekening rohani”, yaitu karakter kita. Rasul Petrus meminta kita untuk bersungguh-sungguh dalam membangun karakter diri (2 Ptr. 1:5-11). Setelah kita percaya kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan, kita perlu terus menanamkan kualitas ini ke dalam karakter kita: iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih kepada semua orang.

Keuntungan masa depan dari investasi kita dalam karakter ini adalah kesalehan (ay.5-7), berlimpah dalam pengenalan akan Yesus Kristus (ay.8), peneguhan akan panggilan kita (ay.9), dan kemenangan atas dosa (ay.10).

Menginvestasikan uang dalam dana pensiun bisa jadi menguntungkan, tetapi berinventasi dalam kehidupan rohani kita jelas akan memberi keuntungan yang terbaik bagi masa depan kita! —AMC

Mari bertumbuh ke arah Kristus,
Menyatakan hidup dan kuasa-Nya—
Kemenangan anugerah di tempat surgawi
Yang disediakan Tuhan bagi kita. —Flint

Kini adalah saat yang tepat untuk berinvestasi dalam kekekalan.

Merayakan Buahnya

Selasa, 13 Maret 2012

Baca: Kolose 1:3-14

Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu. —Kolose 1:3

Kita bisa dengan mudah bersikap kritis terhadap orang-orang yang tidak bertumbuh secara rohani sesuai dengan harapan kita. Kita mudah sekali menemukan hal-hal mengkhawatirkan yang bisa kita tegur, tetapi kita juga perlu memperhatikan apa yang sudah benar. Dalam surat-suratnya, Paulus sering merasa perlu menegur jemaat yang dilayaninya, tetapi ia juga memuji apa yang baik.

Sebagai contoh, dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menyebutkan bahwa benih Injil telah berakar dan menghasilkan buah dalam kehidupan orang-orang percaya di sana (1:6). Ia memuji mereka dengan memberikan ucapan syukurnya kepada Allah atas pertumbuhan rohani mereka. Mereka telah menerima Yesus dan sekarang sedang berjuang melawan guru-guru palsu (2:6-8). Paulus mengucap syukur kepada Tuhan karena kasih mereka yang terus-menerus dan mendalam bagi para orang kudus dan karena mereka menunjukkan kepedulian yang nyata dan kesediaan untuk berkorban bagi saudara-saudara seiman mereka (1:4). Paulus juga bersyukur kepada Allah karena iman dan kasih jemaat Kolose itu bertumbuh dari pengharapan mereka—suatu realitas dan keyakinan bahwa dunia ini bukanlah tempat perhentian yang terakhir (1:5).

Mungkin saat ini kita dianugerahi kesempatan untuk mengamati saudara-saudara seiman kita. Kita bisa bersikap kritis atau sebaliknya, memuji kemajuan rohani mereka. Mari sediakan waktu untuk bersyukur kepada Tuhan atas benih Injil Yesus Kristus yang telah berakar dan menghasilkan buah dalam kehidupan mereka. —MLW

Tolong aku, Tuhan, untuk meyakinkan dan menguatkan
Sesamaku dengan perkataan yang hari ini kuucapkan;
Aku akan selalu berusaha meyakinkan mereka,
Seiring perjalanan hidup kami bersama. —Hess

Teguran memang berguna, tetapi dorongan yang menguatkan akan lebih bermanfaat.