Posts

Membersihkan Rumah

Sabtu, 1 Juli 2017

Membersihkan Rumah

Baca: 1 Petrus 1:22-2:5

1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

1:24 Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,

1:25 tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.

2:1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

2:2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,

2:3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

2:4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

Buanglah dari dirimu segala yang jahat; jangan lagi berdusta, dan jangan berpura-pura. Jangan iri hati, dan jangan menghina orang lain. —1 Petrus 2:1 BIS

Membersihkan Rumah

Baru-baru ini, saya pindah dari satu kamar ke kamar lain di rumah yang saya sewa. Ternyata dibutuhkan waktu lebih lama dari yang saya perkirakan karena saya tidak ingin kamar baru saya berantakan seperti kamar yang lama. Saya ingin awal yang serba rapi dan segar. Setelah berjam-jam membersihkan dan memilah barang, saya menaruh beberapa kantong di pintu depan berisi barang-barang yang akan dibuang, didonasikan, atau didaur ulang. Namun, akhir dari proses yang melelahkan itu adalah kamar bersih yang membuat saya betah di dalamnya.

Usaha pembersihan kamar itu memberi saya pencerahan baru saat membaca kembali 1 Petrus 2:1 (BIS), “Sebab itu, buanglah dari dirimu segala yang jahat; jangan lagi berdusta, dan jangan berpura-pura. Jangan iri hati, dan jangan menghina orang lain.” Yang menarik, baru setelah mengungkapkan sukacita atas hidup mereka yang baru di dalam Kristus (1:1-12), mereka diperintahkan Petrus untuk membuang segala kebiasaan yang buruk (1:13-2:3). Saat perjalanan kita bersama Tuhan terasa berat dan kasih kita kepada sesama menjadi dingin, janganlah itu membuat kita mempertanyakan keselamatan kita. Kita tidak berubah demi diselamatkan, tetapi justru karena kita telah diselamatkan (1:23).

Memang, kita telah menjalani hidup baru di dalam Kristus, tetapi kebiasaan-kebiasaan buruk kita tidak hilang begitu saja. Karena itu, setiap hari kita perlu membuang semua yang menghalangi kita untuk sepenuhnya mengasihi sesama (1:22) dan bertumbuh (2:2). Lalu, setelah diperbarui dan dibersihkan, kita dapat mengalami keindahan dari pembangunan kembali yang dikerjakan Kristus lewat kuasa dan kehidupan-Nya (2:5). —Monica Brands

Bapa Surgawi, terima kasih untuk hidup baru yang Engkau bangun dalam diri kami melalui Tuhan Yesus Kristus. Tolonglah kami untuk datang kepada-Mu setiap hari agar senantiasa dibersihkan dan dibarui.

Tiap hari, tolaklah kebiasaan buruk dan alamilah hidup baru dalam Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 20-21 dan Kisah Para Rasul 10:24-48

Piano yang Menyusut

Minggu, 23 April 2017

Piano yang Menyusut

Baca: Filipi 1:1-11

1:1 Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.

1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.

1:4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.

1:5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.

1:6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

1:7 Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.

1:8 Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.

1:9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

1:10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

1:11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. —Filipi 1:6

Piano yang Menyusut

Selama tiga tahun bertuRut-tuRut, putra saya mengikuti resital piano. Pada tahun ketiga, saya menyaksikannya mengatur pijakan kaki dan kertas partitur lalu memainkan dua lagu. Setelah itu, ia duduk di sebelah saya sambil berbisik, “Ibu, tahun ini pianonya lebih kecil.” Saya berkata, “Bukan, itu piano yang sama dengan yang kamu mainkan tahun lalu. Kamulah yang bertambah besar! Kamu telah bertumbuh.” Seperti halnya pertumbuhan jasmani, pertumbuhan rohani sering terjadi perlahan seiring berjalannya waktu. Pertumbuhan rohani merupakan proses yang berlangsung terus-menerus untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus, dan itu terjadi ketika kita diubahkan melalui pembaruan budi kita (Rm. 12:2).

Ketika Roh Kudus bekerja dalam diri kita, kita menjadi lebih peka terhadap dosa dalam hidup kita. Dengan kerinduan untuk memuliakan Allah, kita pun mau berusaha untuk berubah. Kadangkala usaha kita berhasil, tetapi di lain waktu kita gagal. Ketika sepertinya tidak ada yang berubah, kita dapat berkecil hati. Kita mungkin menyamakan kegagalan itu dengan kemandekan, padahal sebenarnya itu adalah bukti bahwa kita sedang berada dalam proses perubahan.

Pertumbuhan rohani melibatkan Roh Kudus, kerelaan kita untuk berubah, dan juga waktu. Kelak di dalam hidup kita, kita akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa kita memang telah bertumbuh secara rohani. Kiranya Allah memberi kita iman untuk tetap percaya bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp. 1:6). —Jennifer Benson Schuldt

Allah terkasih, berilah aku kerinduan untuk bertumbuh secara rohani. Aku ingin memuliakan-Mu dengan segenap hidupku dan merasakan sukacita dari karya Roh Kudus dalam hidupku.

Pertumbuhan rohani adalah sebuah proses.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 16-18; Lukas 17:20-37

Diuji oleh Api

Rabu, 29 Maret 2017

Diuji oleh Api

Baca: Yakobus 1:1-12

1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,

1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.

1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. —Yakobus 1:12

Diuji oleh Api

Musim dingin yang lalu, ketika mengunjungi museum sejarah alam di Colorado, saya menemukan sejumlah fakta yang luar biasa tentang pohon aspen. Pepohonan aspen dengan batang-batang putihnya yang menjulang dapat tumbuh dari satu benih saja dengan jaringan akar yang sama. Jaringan akar itu sanggup bertahan ribuan tahun baik yang bertumbuh menjadi tunas pohon aspen atau tidak. Jaringan tersebut tidur di bawah tanah, sambil menantikan kebakaran, banjir, atau tanah longsor untuk membuka jalan bagi mereka di tengah hutan yang teduh. Setelah bencana alam mengosongkan lahannya, akar-akar aspen itu akhirnya dapat merasakan sinar matahari. Akar-akar itu memunculkan pohon muda, yang kemudian menjadi pohon-pohon aspen.

Bagi pohon aspen, pertumbuhan baru dimungkinkan karena adanya kehancuran yang ditimbulkan bencana alam. Yakobus menulis bahwa pertumbuhan iman kita juga dimungkinkan karena adanya berbagai kesulitan. Ia menulis, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak. 1:2-4).

Memang sulit untuk bersukacita di tengah pencobaan, tetapi kita dapat dikuatkan oleh kenyataan bahwa Allah akan memakai keadaan-keadaan sulit itu untuk menolong kita mencapai kedewasaan. Seperti pohon aspen, iman dapat bertumbuh di masa-masa pencobaan ketika kesulitan itu membuka jalan di dalam hati kita sehingga terang Allah dapat menjamah kita. —Amy Peterson

Terima kasih, ya Allah, karena Engkau menyertai kami dalam segala pencobaan yang kami hadapi dan menumbuhkan iman kami lewat semua itu.

Pencobaan dan ujian dapat mendekatkan kita kepada Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 7-8; Lukas 5:1-16

Aku Sudah Tahu Semuanya

Sabtu, 11 Februari 2017

Aku Sudah Tahu Semuanya

Baca: Mazmur 139:1-18

139:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

139:2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

139:3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.

139:4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

139:5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

139:6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,

139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

139:11 Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,”

139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

139:14 Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

139:15 Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

139:16 mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

139:17 Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!

139:18 Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.

 

Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kau-maklumi. —Mazmur 139:3

Aku Sudah Tahu Semuanya

Putra dan menantu kami pernah menghadapi kondisi darurat. Anak mereka, Cameron, menderita pneumonia dan bronkitis sehingga perlu segera dibawa ke rumah sakit. Mereka meminta bantuan kami untuk menjemput pulang putra mereka yang berumur lima tahun, Nathan, dari sekolahnya. Saya dan Marlene tentu saja senang melakukannya.

Ketika Nathan sudah masuk ke mobil, Marlene bertanya, “Kamu kaget tidak karena kami yang menjemputmu hari ini?” Nathan menjawab, “Tidak, dong!” Ketika kami menanyakan alasannya, ia menjawab, “Aku kan sudah tahu semuanya!”

Seorang anak umur lima tahun bisa mengaku sudah tahu semuanya, tetapi kita yang dewasa tentu lebih mengerti. Sering kali kita justru memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kita mempertanyakan banyak hal tentang hidup kita—dan kita sering lupa bahwa meskipun kita tidak tahu segalanya, kita mengetahui bahwa ada Allah yang Mahatahu.

Mazmur 139:1 dan 3 menyatakan tentang kemahatahuan Allah yang menyeluruh atas diri kita. Daud mengatakan, “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; . . . Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.” Sungguh menenangkan ketika menyadari bahwa Allah mengasihi kita dengan begitu sempurna. Dia tahu sepenuhnya apa yang akan kita hadapi hari ini dan Dia tahu cara terbaik untuk menolong kita dalam setiap situasi dari hidup ini.

Pengetahuan kita akan selamanya terbatas, tetapi yang terpenting adalah kita mengenal Allah. Kita dapat mempercayai-Nya. —Bill Crowder

Tuhan, terima kasih karena Engkau mengetahui segalanya tentang diriku dan kebutuhanku.

Mengenal Allah adalah yang terpenting.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 11-12; Matius 26:1-25

Background photo credit: Ian Tan

Artikel Terkait:

4 Tips untuk Bersaat Teduh dengan Konsisten

Menjalankan komitmen bersaat teduh itu tidak mudah. Kesibukanku di ekstrakurikuler sekolah seringkali membuatku lupa bersaat teduh. Namun aku bersyukur karena Tuhan menolongku untuk terus belajar memiliki saat teduh yang berkualitas.

Baca tips bersaat teduh dari Noni selengkapnya di dalam artikel ini.

Pandangan dari Jarak 650 km

Kamis, 1 Desember 2016

Pandangan dari Jarak 650 km

Baca: Yohanes 1:1-14

1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;

1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. —Yohanes 1:9

Pandangan dari Jarak 650 km

“Perspektif saya terhadap bumi berubah drastis ketika untuk pertama kalinya saya pergi ke ruang angkasa,” kata astronaut pesawat ulang-alik Charles Frank Bolden Jr. Dari jarak 650 KM di atas bumi, semua tampak damai dan indah baginya. Namun kemudian Bolden teringat bahwa ketika ia melintas di atas wilayah Timur Tengah, ia tersadar oleh kenyataan akan konflik yang terus terjadi di sana. Dalam wawancara dengan seorang produser film, Bolden menyatakan bahwa pada saat ia melihat bumi dari luar angkasa, ia membayangkan apa yang seharusnya terjadi di atas bumi. Setelah itu, ia pun tertantang untuk melakukan apa saja yang ia mampu untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Ketika Yesus lahir di Betlehem, keadaan dunia tidaklah seperti yang Allah kehendaki. Ke dalam kegelapan moral dan spiritual itulah Yesus datang membawa hidup dan terang kepada semua orang (Yoh. 1:4). Walaupun dunia tidak mengenal-Nya, “semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (ay.12).

Ketika hidup tidak berjalan sebagaimana mestinya—banyak keluarga terpecah-belah, anak-anak kelaparan, dan bangsa-bangsa bergelut dalam perang—kita pun berduka. Namun Allah berjanji bahwa dengan iman di dalam Kristus, setiap orang dapat kembali melangkah dengan tujuan yang baru.

Masa Natal mengingatkan kita bahwa Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, memberikan anugerah kehidupan dan terang kepada setiap orang yang mau menerima dan mengikut Dia. —David McCasland

Bapa di surga, kiranya kami dapat membagikan terang dan hidup Yesus kepada sesama kami hari ini.

Allah terus bekerja membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 40-41; 2 Petrus 3

Artikel Terkait:

Ketika Kesuksesan Menjadi Kegagalan di Mata Tuhan

Mengapa begitu banyak orang mengejar kesuksesan? Apa definisi kesuksesan yang sejati? Begitu lama Maleakhi tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini—hingga suatu hari dia menemukan sebuah kutipan yang menunjukkan hubungan yang menarik antara kesuksesan dan kegagalan.

Memperkuat Hati

Rabu, 6 Juli 2016

Memperkuat Hati

Baca: 1 Timotius 4:6-11

4:6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

4:11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.

 

Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia. —Ibrani 13:9

Memperkuat Hati

Pusat kebugaran di lingkungan tempat saya berolahraga selama bertahun-tahun baru saja ditutup bulan lalu, sehingga saya harus bergabung dengan pusat kebugaran baru. Tempat sebelumnya itu memberikan kehangatan tersendiri, dengan fasilitas yang nyaman dan para pengunjung yang gemar bersosialisasi sambil berolahraga. Rasanya kami tak pernah sampai berkeringat. Sebaliknya, pusat kebugaran yang baru berisi fasilitas canggih dan dipenuhi dengan para pria dan wanita yang serius berolahraga dan sungguh-sungguh berupaya membentuk tubuh yang lebih sehat. Saya mengamati mereka berusaha keras dan bersusah payah melakukannya. Tubuh mereka terlihat kuat, tetapi saya tidak tahu apakah organ jantung di dalam tubuh mereka juga diperkuat.

Jantung adalah sebuah otot yang memampukan otot-otot lain untuk bekerja. Memang baik untuk membentuk dan mengencangkan otot-otot kita lainnya, tetapi yang paling penting adalah melakukan apa saja agar membuat jantung tetap kuat.

Begitu pula dengan hati rohani kita. Kita membentuk dan memperkuat hati kita dengan menerima kebenaran firman Tuhan yang menyatakan tentang kebaikan dan kasih karunia Allah. Menjaga hati rohani kita tetap kuat dan sehat haruslah menjadi prioritas pertama dan hal utama yang kita upayakan.

Paulus pun setuju: “Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1Tim. 4:7-8). —David Roper

Kiranya aku hidup dari menikmati kebaikan-Mu setiap hari, ya Tuhan, supaya hatiku semakin diperkuat oleh Roh Kudus-Mu.

Latihan dari Allah bertujuan agar kita bertumbuh dalam iman.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 32-33; Kisah Para Rasul 14

Artikel Terkait:

5 Hal yang Menolongku Mengatasi Kebiasaan Menunda

Aku orang yang suka menunda. Ini adalah pergumulanku sejak lahir. Berikut ini ada lima strategi yang kugunakan hingga saat ini untuk melawan kebiasaan menunda.

Saatnya Bertumbuh

Selasa, 17 Mei 2016

Saatnya Bertumbuh

Baca: Galatia 6:1-10

6:1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9

Saatnya Bertumbuh

Di rumah barunya, Debbie menemukan sebatang tanaman yang tidak terurus di suatu sudut dapur yang gelap. Dedaunan yang sudah berdebu dan koyak tersebut sepertinya berasal dari tanaman anggrek kumbang, dan ia membayangkan indahnya tanaman itu apabila bunga-bunganya kembali mekar. Ia pun memindahkan pot tanaman itu ke dekat jendela, memangkas daun-daunnya yang mati, dan menyiraminya dengan rajin. Ia membeli dan menebar pupuk pada akar-akarnya. Minggu demi minggu, ia memeriksa tanaman itu, tetapi tidak ada tunas baru yang muncul. “Akan kuberikan waktu sebulan lagi,” kata Debbie kepada suaminya, “bila masih tak ada perubahan, akan kubuang saja tanaman itu.”

Ketika sebulan sudah hampir berlalu, Debbie pun terkejut oleh apa yang dilihatnya. Ada dua tunas kecil yang mencuat di antara dedaunan! Tanaman yang hampir dibuangnya itu ternyata masih hidup.

Pernahkah kamu putus asa karena merasa kerohanianmu bertumbuh begitu lamban? Mungkin kamu masih mudah kehilangan kesabaran atau sering tergoda untuk menyebarkan gosip. Atau mungkin kamu sering terlambat bangun untuk berdoa dan membaca Alkitab, walaupun sebelumnya kamu sudah bertekad melakukannya.

Cobalah untuk menceritakan kepada seorang sahabat yang kamu percayai tentang aspek pertumbuhan rohani apa yang kamu rindukan. Mintalah bantuannya untuk ikut mendoakan dan mendorongmu bertanggung jawab pada keputusanmu. Kemudian bersabarlah. Kerohanianmu akan bertumbuh apabila kamu mengizinkan Roh Kudus bekerja di dalam dirimu. —Marion Stroud

Tuhan, berilah aku kesabaran terhadap diriku sendiri dan sesamaku. Tolonglah aku untuk bekerja sama dengan Roh Kudus ketika Dia membentuk kerinduanku dan menolongku bertumbuh.

Setiap langkah kecil dalam iman merupakan langkah besar menuju pertumbuhan rohani.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 1-3; Yohanes 5:25-47

Artikel Terkait:

Jika Firman Allah itu Hidup dan Berkuasa, Mengapa Tidak Terjadi Apa-Apa Saat Aku Membacanya?

Ini adalah pergumulan yang dihadapi oleh Sheila May. Bagaimana Tuhan menjawab pergumulannya? Temukan jawabannya di dalam artikel ini.

Bisnis Barang Bekas

Minggu, 1 Mei 2016

Bisnis Barang Bekas

Baca: Filipi 3:1-8

3:1 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.

3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,

3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.

3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. —Filipi 3:8

Bisnis Barang Bekas

Adam Minter memiliki bisnis barang bekas. Sebagai anak dari pengusaha barang bekas, ia berkeliling dunia untuk mencari tahu tentang sampah dan rongsokan. Dalam buku berjudul Junkyard Planet (Planet Barang Bekas), ia membahas tentang industri daur ulang sampah yang bernilai milyaran dolar. Ia bercerita tentang pengusaha-pengusaha di seluruh dunia yang mencurahkan tenaga mereka untuk mencari barang-barang bekas, seperti kawat tembaga, kain usang, dan plastik, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang baru dan berguna.

Setelah Rasul Paulus menyerahkan hidupnya kepada Yesus, ia pun menganggap segala prestasi dan kemampuannya tidak lebih daripada sampah. Namun Yesus mengubah semua itu menjadi sesuatu yang baru dan berguna. Ia berkata, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Di bawah didikan hukum agama Yahudi, ia tumbuh menjadi seorang yang pemarah dan bertindak keras terhadap para pengikut Kristus (Kis. 9:1-2). Setelah diubahkan oleh Kristus, tabiat lamanya yang pemarah dan pengacau itu diubahkan menjadi penuh dengan kasih Kristus kepada sesamanya (2Kor. 5:14-17).

Jika kamu merasa hidupmu tidak lagi berguna bagaikan seonggok barang bekas, ingatlah bahwa Allah selalu sanggup mengubah kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya, Dia akan memperbarui kita agar berguna bagi-Nya dan bagi sesama. —Dennis Fisher

Bagaimana caranya menjadi manusia baru? Roma 3:23 dan 6:23 menyatakan bahwa ketika kita mengakui dosa dan memohon pengampunan Allah, Dia memberi kita anugerah hidup kekal yang diperoleh melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Nyatakanlah kepada-Nya apa yang kamu butuhkan.

Kristus menjadikan segala sesuatu baru.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-Raja 10-11; Lukas 21:20-38

Beranjak Dewasa

Minggu, 28 Februari 2016

Beranjak Dewasa

Baca: Efesus 4:1-16

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

4:8 Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.”

4:9 Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?

4:10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh . . . menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. —Efesus 4:16

Beranjak Dewasa

Sungguh menghibur saat menonton cucu laki-laki saya yang masih kecil dan teman-temannya bermain T-Ball. Dalam bisbol versi anak kecil ini, para pemain yang masih muda itu sering berlari ke base yang salah atau tidak tahu harus berbuat apa dengan bola yang mereka tangkap. Namun seandainya yang kami tonton itu adalah pertandingan bisbol profesional, kesalahankesalahan seperti itu tentulah tidak lucu.

Masalahnya terletak pada kedewasaan.

Tidak masalah jika para atlet belia itu masih menemui kesulitan—kadang mereka tidak tahu harus berbuat apa atau tidak sepenuhnya bermain dengan benar. Mereka sedang mencoba dan belajar bermain. Maka kita melatih mereka dengan sabar dan membimbing mereka menuju kedewasaan. Kita akan merayakan kesuksesan mereka ketika di kemudian hari mereka bermain dengan terampil sebagai sebuah tim.

Sesuatu yang serupa terjadi dalam kehidupan para pengikut Yesus. Paulus menyatakan bahwa gereja membutuhkan orang-orang yang mau bersikap “rendah hati, lemah lembut, dan sabar” (Ef. 4:2). Dan kita membutuhkan bermacam-macam “pelatih” (para pendeta, guru, pembimbing rohani) untuk menolong kita semua melangkah menuju “kesatuan iman” di tengah perjuangan kita mencapai “kedewasaan penuh” (ay.13).

Tujuan dari mendengarkan khotbah maupun pengajaran dan menikmati hidup bersama di dalam gereja adalah agar kita bertumbuh semakin dewasa dalam Kristus (ay.15). Masing-masing dari kita sedang menempuh perjalanan ini, dan kita dapat menguatkan satu sama lain di sepanjang jalan menuju kedewasaan dalam Yesus. —Dave Branon

Tuhan, tolonglah aku berjuang mencapai kedewasaan. Terima kasih karena Engkau telah memperlengkapi gereja dengan mereka yang dapat menolong imanku bertumbuh. Tunjukkanlah siapa yang dapat kukuatkan hari ini.

Kebersamaan akan memberi kita sukacita dalam perjalanan iman.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 17-19; Markus 6:30-56