Posts

Yesus Selalu Dekat

Sabtu, 12 Januari 2019

Yesus Selalu Dekat

Baca: Matius 25:37-40

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40

Yesus Selalu Dekat

Putri saya sudah siap berangkat ke sekolah lebih cepat daripada biasanya. Ia pun bertanya apakah kami bisa mampir ke kedai kopi dalam perjalanan ke sekolah. Saya setuju. Ketika mendekati jalur “lantatur” (layanan tanpa turun), saya berkata, “Kamu mau membagikan sedikit sukacita pagi ini?” “Mau, Pa,” jawabnya.

Kami pun memesan, kemudian beranjak ke loket pembayaran. Saya berkata kepada si pramuniaga, “Kami juga mau membayar pesanan wanita di mobil belakang.” Putri saya terlihat sangat senang dengan senyumnya yang lebar.

Di antara banyak hal besar, secangkir kopi kelihatannya sepele, bukan? Namun, saya bertanya-tanya, mungkinkah itu salah satu cara untuk mewujudkan kehendak Yesus bagi kita, yakni untuk memperhatikan orang-orang yang Dia sebut “salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina”? (Mat. 25:40). Cobalah melihat orang yang antri di belakang atau di depan kita sebagai pribadi yang dimaksudkan oleh Yesus itu. Kemudian lakukan “segala sesuatu” yang kamu bisa—mungkin membelikan secangkir kopi atau melakukan yang lain, bisa lebih besar atau lebih sederhana dari itu. Ungkapan “segala sesuatu yang kamu lakukan” (ay.40) itu memberi kita keleluasaan yang sangat besar untuk melayani Dia sekaligus melayani orang lain.

Ketika meninggalkan tempat itu, kami melihat wajah wanita muda di belakang kami dan juga wajah pramuniaga yang memberikan kopi kepadanya. Mereka berdua tersenyum lebar. —John Blase

Tuhan, tolong aku untuk tidak memikirkan pelayanan sebagai sesuatu yang sulit. Terkadang hal-hal kecil dan sederhana memberi dampak lebih daripada yang dapat kubayangkan. Tolong aku juga untuk selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kulakukan bagi orang lain, aku melakukannya bagi-Mu.

Saat melayani sesama, kita sedang melayani Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29-30; Matius 9:1-17

Resep Hidup

Rabu, 12 Desember 2018

Resep Hidup

Baca: Roma 7:14-25

7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

7:16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

7:17 Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. —Roma 7:15

Resep Hidup

Seorang rekan kerja mengaku bahwa ia tidak merasa dirinya layak diselamatkan oleh Tuhan. Saya mendengarkan penuturannya tentang bagaimana ia hidup selama ini dengan begitu nyaman dan bersenang-senang, tetapi hal-hal itu ternyata tak memuaskannya. “Masalahnya, saya sudah berusaha menjadi orang baik, bahkan peduli kepada orang lain, tetapi rasanya semua itu percuma. Hal baik yang ingin saya lakukan justru tidak mampu saya lakukan, tetapi hal buruk yang kubenci, itulah yang terus kulakukan.”

“Apa resep hidupmu?” tanyanya dengan penuh kesungguhan. “Resepnya . . .” jawab saya, “sebenarnya tidak ada. Seperti kamu, saya juga tidak mampu hidup menurut standar Allah. Karena itu, kita memerlukan Yesus.”

Saya menunjukkan kepadanya perkataan Rasul Paulus dalam Roma 7:15. Ungkapan frustrasi Paulus sering mengena baik kepada orang belum percaya maupun orang Kristen yang merasa harus berusaha membuat diri layak di hadapan Allah tetapi tetap gagal juga. Mungkin kamu pun merasakannya. Jika demikian, pernyataan Paulus bahwa Kristuslah sumber keselamatan dan perubahan hidup kita seharusnya menggetarkan jiwamu (7:25-8:2). Yesus sendiri telah menyelesaikan karya penyelamatan agar kita terbebas dari hal-hal yang membuat kita frustrasi!

Dosa yang menjadi penghalang antara kita dan Allah telah disingkirkan tanpa usaha kita sama sekali. Keselamatan—dan perubahan hidup yang dikerjakan Roh Kudus dalam proses pertumbuhan kita—adalah kehendak Allah bagi semua orang. Dia mengetuk pintu hati kita. Izinkanlah Dia masuk. Dialah “resep” hidup kita. —Randy Kilgore

Tanpa Yesus, takkan ada keselamatan dan pertumbuhan rohani.

Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 9-11; Wahyu 3

Ketika Orangtuaku Melarangku untuk Ikut Kelompok Pendalaman Alkitab

Oleh Ricky Eben Ezer, Depok

Aku bersyukur karena Tuhan menyayangiku dan menyelamatkanku dari dosa. Setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, pemimpin kelompok Pendalaman Alkitab (PA) di kampusku menantangku untuk berkomitmen mengikuti PA. Dengan yakin dan bersemangat, aku menerima tantangan itu.

Kebanyakan teman-teman PA-ku tinggal di kos di sekitar kampus, sedangkan aku setiap hari harus pulang-pergi dari rumah ke kampus yang jaraknya cukup jauh. Supaya tidak mengganggu waktu kuliah, kami sepakat melakukan PA di malam hari dan selesai agak larut. Setelah beberapa kali mengikuti PA, orangtuaku memintaku untuk berhenti mengikuti kelompok ini. Mereka khawatir akan keselamatan diriku kalau aku pulang malam-malam.

Aku sedih dan kecewa. Aku tahu kalau PA yang kuikuti ini adalah aktivitas yang baik, tapi mengapa oangtuaku melarangku. Malam itu aku tidak bisa tidur. Hatiku gusar karena tidak tahu apa yang harus kulakukan supaya tetap bisa belajar Alkitab dan menumbuhkan imanku. Namun, kemudian aku teringat pesan yang kudapat dari PA, bahwa alih-alih menggerutu, berpikiran negatif tentang orangtuaku, dan khawatir karena tidak bisa ikut PA lagi, aku bisa berdoa. Dalam doaku, aku menyatakan kegusaranku kepada Tuhan.

Meski aku tidak mengikuti PA, namun Tuhan tetap menganugerahiku dengan pertumbuhan iman. Lewat doa-doa yang kunaikkan setiap hari, aku semakin rindu untuk berelasi intim dengan-Nya. Tak ada yang kusembunyikan dalam doaku. Kuceritakan segalanya kepada Tuhan, entah itu hal yang menyenangkan, menyedihkan, ataupun memalukan. Dan, dalam relasiku dengan Tuhan itulah aku diingatkan kembali bahwa hendaknya pertumbuhan imanku dapat dinikmati juga oleh orang-orang di sekitarku.

Sebelum aku mengenal Kristus, aku suka berbohong kepada orangtuaku karena buatku mereka itu terlalu protektif. Kupikir tidak ada anak lelaki yang suka kalau hidupnya terlalu banyak diatur. Kebohongan demi kebohongan yang kulakukan itu semata-mata supaya aku bisa lebih bebas. Aku tidak ingin hidup dengan terlalu banyak aturan.

Belakangan, aku sadar bahwa kegemaranku berbohong itu bukanlah solusi atas ketidaksukaanku atas protektifnya orangtuaku. Masakan aku berdoa tetapi terus menerus berbohong? Tidak mungkin imanku dapat bertumbuh baik apabila aku terus memelihara dosa. Hari itu aku berkomitmen untuk hidup jujur.

Mungkin aku bisa membohongi orangtuaku supaya aku bisa ikut PA. Tapi, aku tahu betul bahwa bohong itu dosa, dan dosa tidak berkenan di hati Tuhan. Setelah beberapa waktu berselang, aku kembali meminta izin kepada mereka untuk kembali mengikuti PA. Mereka menolak dengan alasan yang sama. Seminggu kemudian, aku memberanikan diriku untuk meminta izin kembali. Dengan lembut, aku menjelaskan pada mereka bahwa mengikuti kelompok PA bukanlah sesuatu yang buruk, tapi mereka masih bersikukuh. Katanya, mereka khawatir kalau PA yang dilakukan malam hari itu akan mengganggu jadwal kuliahku dan mengganggu kesehatan tubuhku.

Aku mencoba menjelaskan sehalus mungkin pada mereka bahwa aku membutuhkan dukungan dari rekan-rekan PA sebagai komunitas orang percaya. Hingga akhirnya, saat aku mengajak mereka untuk berefleksi mengenai perubahan apa yang terjadi kepadaku setelah aku menerima Kristus, mereka menyadari bahwa sifatku telah banyak berubah, dari yang buruk menjadi lebih baik. Aku mengakui pada mereka kalau dulu aku suka membohongi mereka, tapi sekarang tidak lagi. Tuhan melembutkan hati kedua orangtuaku. Hari itu mereka mengizinkanku untuk kembali mengikuti PA. Aku bersyukur kepada Tuhan karena bisa kembali bertumbuh bersama dengan kelompok PA-ku. Sekarang, aku dan orangtuaku memiliki waktu bersaat teduh dan doa pribadi, juga bersama-sama memuji Tuhan dalam ibadah keluarga.

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kolose 4:2).

Baca Juga:

Saat Pikiranku Terjerat Fantasi Seksual

Pikiranku begitu mudah tertuju kepada hal-hal yang berbau seksual. Saat aku sedang sendirian, atau ketika ada temanku datang dan mereka menyinggung sedikit saja tentang seks, imajinasiku langsung berkembang. Aku memohon pada Tuhan dan berjuang untuk keluar dari jeratan dosa ini.

Sang Pemberi Pertumbuhan

Selasa, 27 Maret 2018

Sang Pemberi Pertumbuhan

Baca: Markus 4:26-29

4:26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,

4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.

4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.

4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. —1 Korintus 3:7

Sang Pemberi Pertumbuhan

Suatu hari, saya melihat sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya. Ada enam tangkai bunga bakung kuning yang cerah menjulang di antara dua batu besar di sisi kanan jalan masuk ke rumah kami. Karena tidak pernah menanam, memberi pupuk, atau sengaja menyirami bunga itu, saya tidak tahu bagaimana atau mengapa tanaman itu bisa tumbuh di halaman kami.

Yesus melukiskan misteri pertumbuhan rohani lewat perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Dia membandingkan Kerajaan Allah dengan orang yang menaburkan benih di tanah (Mrk. 4:26). Orang yang menabur benih mungkin sudah melakukan semampunya untuk memelihara tanahnya. Namun, Yesus mengatakan bahwa benih itu terus bertumbuh, terlepas dari orang itu tidur atau bangun, bahkan tanpa ia memahami bagaimana itu semua bisa terjadi (ay.27-28). Pemilik tanah tetap memperoleh keuntungan dari panen (ay.29), meskipun perkembangannya tidak tergantung pada apa yang dilakukannya atau apa yang diketahuinya tentang proses pertumbuhan di bawah permukaan tanah.

Pematangan benih dalam perumpamaan Yesus, seperti mekarnya bunga-bunga bakung di halaman saya, terjadi sesuai waktu yang ditentukan Allah dan oleh kuasa-Nya yang memberi pertumbuhan. Baik dalam pertumbuhan rohani pribadi maupun rencana Allah untuk memperluas kerajaan-Nya sampai kedatangan Yesus kembali, cara kerja Tuhan yang misterius tidaklah tergantung pada kemampuan atau pemahaman kita tentang karya-karya-Nya. Meski demikian, Allah memanggil kita untuk mengenal, melayani, dan memuji Dia, Sang Pemberi Pertumbuhan, sehingga kita akan menuai kedewasaan rohani yang ditumbuhkan-Nya di dalam dan melalui diri kita. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih Engkau menumbuhkan iman kami dan memakai kami untuk melayani umat-Mu, seiring Engkau berkarya memperluas kerajaan-Mu.

Allah layak menerima kemuliaan atas pertumbuhan yang dialami umat dan kerajaan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 1-3; Lukas 4:1-30

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Julio Mesak

Disingkapkan untuk Dipulihkan

Kamis, 15 Maret 2018

Disingkapkan untuk Dipulihkan

Baca: Mazmur 25:1-11

25:1 Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku;

25:2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku.

25:3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya.

25:4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

25:5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

25:6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

25:7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.

Tunjukkanlah kehendak-Mu kepadaku, ya Tuhan, nyatakanlah apa yang harus kulakukan. —Mazmur 25:4 BIS

Disingkapkan untuk Dipulihkan

Semasa kecil, saya pernah melihat Ayah menggarap ladang yang belum pernah diolah sebelumnya. Bajakan pertama memunculkan batu-batu besar yang kemudian disingkirkan ayah. Lalu, ia akan membajaknya lagi, dan diulang lagi, untuk semakin menggemburkan tanahnya. Setiap bajakan memunculkan bebatuan kecil yang perlu disingkirkan. Proses pembajakan itu terus dilakukan sampai ladang itu dilintasi berulang-ulang.

Pertumbuhan rohani kita juga mengalami proses yang serupa. Saat pertama kali menjadi orang percaya, kita mungkin mengalami bagaimana dosa-dosa “besar” kita disingkap-kan. Kita pun mengakuinya kepada Allah dan menerima pengampunan-Nya. Namun seiring berlalunya waktu, saat firman Allah kita hayati dan tertanam di dalam batin, Roh Kudus mulai menyingkapkan dosa-dosa lainnya. Dosa-dosa tersembunyi yang semula kita anggap kecil dan sepele kemudian muncul dalam berbagai sikap dan perilaku kita yang merusak. Dosa-dosa itu berupa kesombongan, sikap mengasihani diri, kebiasaan mengeluh, kepicikan, prasangka buruk, kedengkian, suka memuaskan diri sendiri.

Allah menyingkapkan setiap dosa kita supaya Dia dapat menyingkirkannya. Dia menyingkapkannya supaya kita dipulihkan. Ketika perilaku kita yang merusak dan tersembunyi disingkapkan, kita dapat berdoa seperti Daud sang pemazmur, “Tuhan, ampunilah aku sesuai dengan janji-Mu, sebab besarlah kesalahanku” (Mzm. 25:11 bis).

Sekalipun menyakitkan, penyingkapan itu merendahkan hati kita dan baik untuk jiwa kita. Itulah salah satu cara Allah “menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” Dia “membimbing orang yang rendah hati, dan mengajar mereka kehendak-Nya” (ay. 8-9 bis). —David H. Roper

Terima kasih, Tuhan, Engkau mengingat kami karena kasih-Mu. Tuntunlah dan arahkanlah kami. Ajar kami untuk hidup selayaknya orang yang sudah diampuni.

Yesus menerima kita apa adanya dan membentuk kita menjadi seseorang yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 26-27; Markus 14:27-53

Sikap Kita

Senin, 22 Januari 2018

Sikap Kita

Baca: Yakobus 1:1-12

1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,

1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.

1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai bagai pencobaan. —Yakobus 1:2

Sikap Kita

Regina berkendara pulang dari tempat kerjanya dengan kondisi lelah dan kecewa. Di awal hari itu, ia mendapat kabar tragis dari seorang teman melalui pesan pendek. Selanjutnya hari itu bertambah berat, ketika di dalam rapat, rekan-rekan kerjanya menolak untuk melakukan gagasan apa pun yang diberikannya. Ketika Regina sedang mencurahkan kegalauannya kepada Tuhan, terlintas di pikirannya untuk mengesampingkan dahulu tekanan yang dialaminya hari itu. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi temannya, Maria, yang telah lanjut usia di panti wreda. Semangat Regina bangkit lagi ketika Maria menceritakan segala kebaikan Allah yang telah diterimanya. Maria berkata, “Aku punya tempat tidur dan sofaku sendiri, makan tiga kali sehari, dan sangat terbantu oleh para perawat di sini. Kadang-kadang Allah mengirimkan burung gereja bertengger di jendela kamarku karena Dia tahu aku menyukainya dan Dia sangat mengasihiku.”

Masalahnya adalah sikap dan sudut pandang kita. Sebuah ungkapan menyatakan, “Hidup ditentukan 10 persennya oleh apa yang kita alami, sementara 90 persennya lagi oleh reaksi kita terhadap pengalaman itu.” Orang-orang yang menerima surat dari Yakobus sedang hidup terpencar-pencar karena penganiayaan, dan Yakobus menantang mereka untuk memandang kesulitan dari sudut yang berbeda. Ia mendorong mereka dengan perkataan ini, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yak. 1:2).

Masing-masing dari kita berada dalam proses untuk belajar mempercayai Allah dalam situasi-situasi yang sulit. Sudut pandang yang dipenuhi sukacita, sebagaimana yang disampaikan Yakobus, dialami ketika kita belajar untuk melihat bahwa Allah dapat memakai setiap pergumulan untuk mendewasakan iman kita. —Anne Cetas

Tuhan, ubahlah sikapku dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Tumbuhkanlah sukacita, ketekunan, dan kedewasaan dalam diriku.

Allah dapat menumbuhkan iman kita lewat peristiwa sulit yang kita hadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4–6; Matius 14:22-36

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Julio Mesak

Terus Maju

Selasa, 2 Januari 2018

Terus Maju

Baca: Filipi 3:7-14

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah. —Filipi 3:14

Terus Maju

Ketika berjalan di luar gedung kantor tempat saya bekerja, saya tercengang melihat sebatang tanaman bunga yang indah tumbuh di suatu celah lempengan beton yang menutupi tanah. Meskipun keadaannya tidak mendukung, tanaman itu berhasil menemukan tempat untuk berakar di retakan yang kering dan bertumbuh dengan baik. Saya kemudian menyadari bahwa tepat di atas tanaman itu terpasang unit pendingin udara yang meneteskan air pada tanaman itu sepanjang hari. Jadi, meskipun lingkungannya tidak bersahabat, tanaman tersebut menerima pertolongan yang dibutuhkannya untuk bertumbuh dari tetesan air itu.

Dalam hidup kita sebagai orang percaya, terkadang kita menemui berbagai hambatan untuk bertumbuh. Namun, jika kita bertekun dalam Kristus, hambatan-hambatan itu dapat diatasi. Mungkin lingkungan kita tidak bersahabat dan kekecewaan hidup bisa jadi menghalangi kita untuk bertumbuh. Akan tetapi, jika kita terus maju dalam persekutuan dengan Allah, kita akan dapat bertumbuh seperti tanaman bunga di atas. Itulah yang dialami oleh Rasul Paulus. Meskipun menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat berat (2Kor. 11:23-27), ia tidak pernah menyerah. “Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” demikian tulis Paulus. “[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah” (Flp. 3:12,14).

Paulus menyadari bahwa ia sanggup menanggung segala perkara di dalam Tuhan yang memberikan kekuatan kepadanya (4:13). Demikian juga kita dapat terus maju dengan pertolongan Kristus yang memberikan kekuatan kepada kita. —Lawrence Darmani

Hari ini adalah hari yang Engkau ciptakan, Bapa. Terima kasih karena Engkau akan selalu menyertaiku dalam segala hal yang kuhadapi hari ini.

Allah memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk bertekun dan bertumbuh.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 4–6; Matius 2

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Mesulam Esther

Mengutamakan yang Terpenting

Kamis, 7 Desember 2017

Mengutamakan yang Terpenting

Baca: 1 Timotius 4:12-16

4:12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.

4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. —1 Timotius 4:16

Mengutamakan yang Terpenting

Ketika kamu melakukan perjalanan udara, sebelum pesawat lepas landas, para pramugari dan pramugara biasanya memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan. Mereka menjelaskan apa yang perlu dilakukan jika tekanan dalam kabin pesawat menurun. Para penumpang diberi tahu bahwa masker oksigen akan otomatis jatuh dari kompartemen atas dan mereka harus memakainya sendiri terlebih dahulu sebelum menolong penumpang lain. Mengapa demikian? Karena sebelum dapat menolong orang lain, kita perlu memperhatikan kesiapan fisik kita sendiri.

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menekankan pentingnya Timotius menjaga kesehatan rohaninya sendiri sebelum menolong dan melayani orang lain. Ia mengingatkan Timotius tentang banyaknya tanggung jawab sebagai pemimpin jemaat: Ada ajaran palsu yang harus dihadapi (1Tim. 4:1-5) dan doktrin-doktrin sesat yang perlu diluruskan (ay.6-8). Namun, agar dapat menunaikan tugasnya dengan baik, hal terpenting yang harus dilakukan Timotius adalah mengawasi dirinya sendiri dan ajarannya serta tekun melakukan semuanya itu (ay.16). Timotius perlu menjaga persekutuan pribadinya dengan Tuhan terlebih dahulu sebelum ia dapat menolong orang lain.

Nasihat Paulus kepada Timotius juga berlaku bagi kita. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Ketika kita mengisi kerohanian kita terlebih dahulu lewat perenungan firman Tuhan dan doa serta kesanggupan yang diberikan Roh Kudus, persekutuan pribadi kita dengan Allah pun akan selalu terjaga. Dengan demikian, kita akan siap secara rohani untuk menolong orang lain. —C. P. Hia

Tuhan, ajarkanlah firman-Mu kepadaku sekarang. Perkenankan aku merasakan kesegarannya sebelum aku pergi menjadi terang-Mu bagi dunia.

Kehidupan orang Kristen bagaikan jendela terbuka yang melaluinya orang lain dapat melihat Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5-7 dan 2 Yohanes

Perlu Waktu untuk Bertumbuh

Minggu, 1 Oktober 2017

Perlu Waktu untuk Bertumbuh

Baca: Efesus 4:11-16

4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, —yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota—menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Kita harus menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih, sehingga dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus, yang menjadi kepala kita. —Efesus 4:15 BIS

Perlu Waktu untuk Bertumbuh

Pada hari pertamanya di kelas prasekolah, si kecil Charlotte diminta untuk menggambar dirinya sendiri. Gambarnya sangat sederhana—badan bulat, kepala oval, dan dua bulatan mata. Kemudian pada hari terakhirnya di kelas itu, Charlotte kembali diminta untuk menggambar dirinya. Kali ini ia menggambar seorang anak perempuan kecil dengan baju warna-warni, wajah penuh senyum dengan garis-garis yang jelas, dan rambut merah panjang yang terurai dengan indah. Sekolah itu menggunakan sebuah tugas sederhana untuk menunjukkan bagaimana seorang anak bertumbuh dewasa seiring waktu.

Kita sadar bahwa anak-anak perlu waktu untuk bertumbuh, tetapi kita sering tidak sabar terhadap pertumbuhan diri kita atau terhadap saudara seiman yang kerohaniannya bertumbuh dengan lamban. Kita bersukacita ketika melihat “buah Roh” (Gal. 5:22-23) dalam hidup orang lain, tetapi menjadi kecewa ketika mereka memilih mengikuti jalan yang berdosa. Penulis kitab Ibrani berbicara tentang hal itu dalam suratnya kepada jemaat: “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah” (Ibr. 5:12).

Dalam kerinduan kita untuk bersekutu dengan Tuhan, marilah kita terus saling mendoakan dan dengan sabar mendampingi saudara-saudari seiman kita yang masih bergumul dengan pertumbuhan rohani mereka. Dengan “menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih,” marilah terus menguatkan satu sama lain, agar “dalam segala hal kita makin lama makin menjadi sempurna seperti Kristus, yang menjadi kepala kita” (Ef. 4:15 BIS). —Cindy Hess Kasper

Tuhan, kami mengasihi-Mu! Dalam perjalanan kami bersama-Mu, tolonglah kami untuk rela dikuatkan dan menguatkan sesama.

Hal-hal benar yang diucapkan dengan hati penuh kasih dapat membawa kita semua pada kedewasaan dalam Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 11-13; Efesus 4