Posts

Pertolongan yang Ajaib

Oleh Tamara Sitinjak, Jambi

Di suatu hari Minggu yang biasa, aku dan adikku pergi ke gereja. Ketika ibadah usai dan kami hendak pulang, aku merasa tidak enak hati karena hari itu orang tua kami tidak ikut mengantar kami pulang. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya.

Setiap kali pergi ke luar rumah, aku biasanya berdoa singkat, “Tuhan Yesus, berkati perjalanan kami selamat sampai di tujuan.” Mungkin karena rasa malas untuk pulang, hari itu aku lupa berdoa dan segeralah pergi.

Di perjalanan pulang, barulah kuingat kalau aku tadi tidak sempat berdoa. Kuberdoa dalam hati, memohon penyertaan Tuhan. Selang beberapa menit, aku dan adikku melihat ada dua orang yang membuntuti motor kami. Rasa takut menyergap, tapi kami berusaha tenang. Aku tidak meminta adikku untuk menarik gas lebih kencang, berharap bahwa mereka hanyalah pemotor biasa. Semenit, dua menit, sampai kira-kira 30 menit, dua orang itu tetap mengikuti kami dan tiba-tiba mendekati kami.

Dua orang itu berjenis kelamin laki-laki. Aku tidak ingat persis bagaimana penampakan fisik mereka, tetapi laki-laki yang di posisi belakang memegang sebuah pistol.

“Berhenti! Berhenti!” mereka berteriak pada kami sembari menodongkan pistol.

Kami benar-benar ketakutan dan sangat bingung. Apakah harus menuruti kata mereka dan berhenti, atau terus melaju. Karena takut, adikku mencoba untuk berhenti, tapi dari belakang kutarik gas motorku agar tetap melaju.

Jalanan yang kami lalui bukanlah jalanan perkotaan yang ramai. Kami sedang berkendara di jalanan antar desa yang rusak dan dikelilingi hutan. Kepanikan membuat motor yang kami kendarai nyaris celaka dan jatuh ke jurang. Kami tak tahu apa yang akan terjadi. Yang kami tahu hanya terus tancap gas sekencang mungkin, sembari berdoa dan mencari pertolongan.

Hingga akhirnya, kami menjumpai ada orang lain di jalan itu. Buru-buru kami meminta tolong dan mereka bersiap untuk menghadang dua orang yang mengejar kami.

Melihat kami yang telah bertemu dengan warga lain, dua pelaku itu segera tancap gas sehingga mereka pun lolos. Kami tak tahu apa motif dari dua orang yang mengejar kami itu, tapi kami sungguh lega dan bersyukur ketika akhirnya kami selamat meskipun dua pelaku itu berhasil melarikan diri.

Pengalaman hari itu sungguh tidak terlupakan buatku dan mengajariku satu hal tentang pertolongan Tuhan yang ajaib. Aku mungkin lupa berdoa, atau doa yang kuucapkan pun berisikan permohonan yang biasa-biasa saja, tetapi Tuhan selalu mendengar doa sesederhana apa pun dari anak-anak-Nya.

Hari itu aku melihat dan mengalami pertolongan Tuhan, bagaimana Dia meluputkan kami dari tindakan kejahatan yang besar kemungkinan akan mencelakai kami. Tuhan tidak hanya meloloskan kami dari dua penjahat itu, tapi juga mempertemukan kami dengan orang-orang baik yang bersedia menolong kami ketika kami sangat ketakutan.

Aku percaya segala yang terjadi pada kita bukanlah sekadar kebetulan, semua ada dalam kendali-Nya. Aku berkomitmen untuk selalu melibatkan Tuhan dalam segala hal melalui doa-doa yang kunaikkan, dan memohon agar Dia melayakkanku untuk menjadi anak-Nya yang setia.

Teman-teman apakah hari-hari ini kamu sedang berhenti berdoa?

Percayalah bahwa apa pun pergumulanmu Tuhan pasti menolong. Apa pun yang kamu khawatirkan, Tuhan sudah mengatur hidupmu dengan indah dan Dia akan memberikan pertolongan buatmu tepat pada waktu-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Suka, Cinta, dan Penantian

“Kenapa kakak belum pacaran? Kan sudah dewasa, sudah tahu tujuan hidup, dan kayaknya kak juga udah siap. Nunggu apa coba?”

Sebuah Retret Keluarga di Rumah Sakit

Oleh Putri L.

Namaku Putri. Aku mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Aku ingin membagikan sedikit pengalamanku menghadapi terjangan badai yang selama ini sangat kutakutkan. Sebelumnya, ibuku juga sempat menuliskan kisah ini dari sudut pandangnya di sini. Semoga bisa bermanfaat bagi siapa pun yang membaca tulisanku.

Semua berawal dari kemarahanku pada pacarku. Kita semua tahu bahwa kumpul-kumpul di masa pandemi itu salah. Aku marah padanya karena pacarku itu malah main futsal di gelanggang olahraga yang tempatnya tertutup. Nggak pakai masker, lagi! Aku marah sekali padanya dan melarangnya datang menemuiku selama dua minggu penuh.

Alasanku marah adalah selain khawatir ia bisa tertular, aku juga sangat mengkhawatirkan kesehatan ayahku. Ayahku seorang dokter, dan aku selalu khawatir jika dirinya terkena virus corona ini. Ayahku memiliki komorbid diabetes sekaligus hipertensi, jadi pikirku, bila ayahku terkena corona, itu akan sangat berat baginya dan aku bisa kehilangan dia. Itu yang paling kutakutkan.

Sepuluh hari berlalu tanpa ada hal yang aneh. Menjelang hari pacarku akan datang mengunjungiku lagi, mendadak aku merasa tidak enak badan. Mataku panas. Dengan cemas aku mengukur suhu badanku. Mataku membelalak melihat angka yang tertera di sana. Tiga puluh tujuh koma lima derajat. Dengan perasaan takut, aku menenggak pil pereda demam, sambil berharap demamnya cepat turun. Dan, ya, memang turun.

Aku lega sekali. Namun kelegaanku tidak berlangsung lama. Keesokan harinya, tubuhku kembali demam, kali ini suhu badanku mencapai angka 38. Aku nyaris tidak bisa mengikuti perkuliahan daring hari itu. Hari berikutnya lebih menakutkan. Selain demam, aku mulai tidak bisa mencium bau apa pun. Aku ingat sekali, hari itu ibuku memasak semur kesukaanku. Tapi, aku tidak bisa mencicipi sama sekali.

Aku ketakutan. Tambahan lagi, ibuku mengalami hal yang sama sejak tiga hari sebelumnya. Apakah kami kena corona? Rasanya mustahil! Selama pandemi ini aku hanya bertemu dengan pacarku. Tidak pernah bertemu dengan yang lain. Ibu dan adikku juga tidak. Hanya ayahku yang pergi keluar, itu pun hanya untuk bekerja. Beliau selalu mengenakan face shield dan masker, sering cuci tangan, memakai hand-sanitizer, pokoknya protokol kesehatan selalu beliau jalankan. Jadi, apa yang membuat kami terkena corona? Harusnya tidak ada!

Hari berikutnya demamku hilang, tapi aku tetap kehilangan kemampuan mencium dan merasa. Akhirnya orangtuaku memutuskan untuk swab test keesokan harinya. Aku mencoba untuk santai, walau tak bisa dipungkiri aku tetap ketakutan. Kami menjalani swab di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Rasanya sedikit sakit dan geli, air mataku sampai keluar. Setelah itu kami pulang dan menunggu hasilnya di rumah.

Malamnya adalah malam terburuk. Kami menerima hasil dan hasilnya adalah aku dan kedua orangtuaku positif terkena Covid-19. Kami semua bagaikan tersambar petir mendengarnya. Rasanya ingin menjerit dan menangis. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Bagaimana dengan ayahku, apa aku akan kehilangan dia? Bagaimana dengan ibuku? Adikku, yang tidak ikut di swab test itu? Apakah dia sehat, atau tidak?

Ibuku terus-terusan menangis dan dalam kekalutannya sempat menyalahkan ayahku karena ternyata beliau sempat memeriksa temannya yang belakangan positif Covid-19. Ayahku marah. Adikku ketakutan. Sesaat kami tidak tahu harus berbuat apa. Keesokan harinya, kami ‘menyerahkan diri’ untuk dirawat di rumah sakit. Di sana, adikku langsung ikut masuk ke rumah sakit karena ia juga sudah demam, meski belum di-swab test. Namun ternyata hal itu tidak percuma, karena dua hari kemudian, adikku juga dinyatakan positif Covid-19.

Awalnya, aku juga marah. Aku sampai mogok membuka Instagram, karena aku benci melihat Instagram stories teman-temanku. Mereka tetap berkumpul bersama, nongkrong di mal, tapi sehat-sehat saja! Sementara aku yang selalu patuh tinggal di rumah, malah terkena Covid-19! Coba bayangkan: aku dan pacar selalu di rumah, tidak pernah nongkrong di luar. Kalaupun ingin makan di luar, kami hanya membelinya lalu menyantapnya di rumah. Ibuku apalagi. Sejak bulan Maret beliau selalu di rumah karena kantornya mewajibkan WFH (Work From Home). Ia sangat keras dan disiplin terhadap kebersihan, ayahku selalu dipaksa untuk langsung mandi olehnya begitu pulang kerja. Seluruh barang dengan sangat teliti selalu disemprot disinfektan oleh ibuku. Rumah setiap hari di pelnya dengan karbol. Ia juga tidak pernah berkumpul bersama teman-temannya. Adikku lebih parah lagi, ia bahkan tidak pernah keluar dari rumah sekali pun. Apa lagi yang kurang?

Tapi sekarang, saat kami berempat berada di ruang isolasi, kami mulai menyadari ada satu ‘protokol kesehatan’ yang sesungguhnya sering lalai kami lakukan. Di ruang isolasi yang mencekam itu, Tuhan mengingatkan kami. Aku merasa ditegur-Nya lewat mimpi. Ayahku diperdengarkan terus dengan lagu-lagu rohani yang terus bergema di hatinya ketika ia tidur. Ada hal terpenting dari sekian banyak protokol yang harus ditaati tapi justru tidak kami lakukan: berdoa mohon perlindungan!

Kenapa aku bilang berdoa merupakan salah satu bagian dari protokol kesehatan? Karena aku dan keluargaku sudah mengalaminya sendiri: semua itu percuma kalau kita tidak melibatkan Tuhan di dalamnya. Seperti kata Ayub: “Apakah kekuatanku?” (Ayub 6:11). “Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayub 12:13). Kami sudah melakukan protokol kesehatan dengan benar dan disiplin, tapi tetap saja kena. Karena apa? Ya, karena akhir-akhir ini, kami memang sangat kurang membangun mezbah keluarga. Dalam kesibukan keluarga setiap pagi, sebelum Ayah pergi bekerja, kami tidak pernah melepasnya dalam doa secara khusus. Kami membiarkannya begitu saja, berjuang di luar menghadapi pandemi, tanpa meminta perlindungan dari Tuhan, karena kami begitu yakin kami telah melakukan protokol dengan tepat dan benar. Kami sekeluarga memakai kekuatan kami sendiri dengan merasa terlalu percaya diri. Kami lupa melibatkan Tuhan agar senantiasa menjaga kami.

Namun begitu, Tuhan tetap sayang pada kami. Dari awal semua telah diatur oleh-Nya. Pacarku, yang selama ini tidak pernah bandel, dibuat-Nya menjadi bandel agar kami tidak bertemu dan ia terhindar dari Covid-19. Dan, kami bersyukur memperoleh kemudahan mendapat ruangan di rumah sakit padahal banyak yang terpaksa berkeliling ke beberapa rumah sakit dulu baru berhasil mendapatkan ruangan. Keluarga, teman, dan pacarku juga senantiasa mendoakan dan mendukung dari rumah. Mereka selalu menyemangatiku ketika kami lagi-lagi mendapatkan hasil ‘positif’ di swab yang kedua. Keluarga besar, secara bergiliran, mengirimi kami makanan enak-enak setiap harinya, sampai terkadang rasanya terlalu banyak. Ketakutan yang selalu terbayang olehku, bahwa ayahku pasti kalah bila terkena penyakit ini juga tidak terbukti, karena sampai hari ini ayahku sehat-sehat saja dan dapat beraktivitas seperti biasa, meski memang karena komorbidnya, kondisi paru-paru beliau yang paling parah di antara kami berempat, dan proses penyembuhannya akan memakan waktu yang lebih lama. Tuhan Yesus begitu sayang pada keluarga kami, padahal kami sudah lama melupakan-Nya. Karena kasihnya, Dia mengizinkan peristiwa ini terjadi pada keluarga kami untuk mengingatkan bahwa Dia ada dan selalu menyertai kami.

Kata ayahku, ini retret keluarga kami. Dalam ruang isolasi rumah sakit ini, kami diingatkan lagi untuk membangun kembali mezbah keluarga yang sudah lama hilang dari keluarga kami. Kami diingatkan bahwa percuma saja kami mengandalkan kekuatan sendiri dan tidak melibatkan Tuhan dalam hidup kita. Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau begitu baik kepada kami.

Untuk teman-teman yang kukasihi, aku meminta kalian untuk tidak lupa menyertakan Tuhan. Jangan lupa untuk tetap melakukan protokol kesehatan, tapi sebelum itu mulailah semua kegiatan kalian dengan berdoa. Buka dan tutup hari kalian dengan doa. Melakukan protokol kesehatan tanpa Tuhan sama saja bohong. “Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan jangan patah hati” (Ulangan 31:8).

Jaga kesehatan kalian, karena terjangkit Covid-19 sangat tidak enak! Kiranya tulisanku ini bisa menjadi berkat. Tuhan Yesus memberkati, amin.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tidak Sempurna, Tetapi Diberikan-Nya Tepat Buatku

Kasih bapakku tidak sempurna, tetapi kasih Allah Bapa menyempurnakannya. Kedua orangtuaku, juga orangtuamu mungkin banyak berlaku salah dan mengecewakan kita, tetapi percayakah kita kalau merekalah yang terbaik buat kita?

Lebih Dari Kain Kering Bekas

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Rabu, 1 Januari 2020

Pagi itu, sekitar jam setengah lima, aku dan keluarga cukup panik saat mengetahui genangan air banjir mulai memasuki rumah. Sambil memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi, aku masih terus berharap dan berdoa hujan deras bisa segera reda supaya genangan air tidak makin naik. Namun alam sepertinya berkata lain. Hujan tak kunjung reda, tetap deras, dan air di dalam rumah naik perlahan-lahan, menyebabkan bencana banjir Jakarta dan wilayah sekitarnya kembali terjadi di awal tahun 2020.

Dalam kebingungan dan ketakutanku, pertanyaan yang kulontarkan pada Tuhan dalam doa adalah: “Tuhan, ini aku harus ngapain lagiiiii?”. Akhirnya aku beranikan diri mengambil keputusan. “Pa, ini hujannya enggak berhenti. Airnya makin tinggi. Apa enggak sebaiknya kita keluar dulu aja?” Papa mamaku setuju. Kami masukkan beberapa baju dan makanan kering seadanya secara cepat ke dalam tas, lalu berjalan perlahan-lahan ke luar rumah. Saat itu kondisi banjir di dalam rumah sudah mencapai tinggi di atas lutut. Mama dan adikku berjalan bersama di bawah payung—karena saat itu hujan masih turun dengan sangat deras— sedangkan aku dan papa melakukan pemeriksaan terakhir sebelum meninggalkan rumah, mulai dari mengunci pintu hingga mematikan arus listrik utama. Karena belum menentukan tujuan, kami berempat memutuskan untuk berteduh sebentar di area berkanopi depan komplek yang memang lokasinya lebih tinggi sehingga tidak terdampak banjir.

Singkat cerita, kami akhirnya mengungsi ke kontrakan tanteku yang lokasinya satu komplek dengan kami namun lokasinya lebih tinggi. Kontrakan yang ditinggali tanteku berada di lantai 2, sehingga kami bisa aman sementara di sana. Dari tempat tersebut aku bisa melihat ke area lapangan belakang kontrakan. Biasanya aku melihat beberapa ekor rusa yang berjalan, berlarian, ataupun sedang makan dedaunan dari semak-semak. Namun saat itu, yang kulihat hanyalah genangan air layaknya sungai beserta tetesan air hujan yang masih sangat deras. Aku memikirkan kemana rusa-rusa itu pergi? Aku juga memikirkan apa yang akan terjadi dengan rumahku? Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan belum ada tanda-tanda hujan memperlambat derasnya. Akhirnya aku memilih tidur karena tidak tahu bisa melakukan apa lagi.

Aku terbangun pukul delapan pagi dan langsung melihat ke luar. Hujan sudah agak reda namun masih terus turun. Mungkin ini yang biasa disebut sebagai ‘hujan awet’. Saat itu aku tidak bisa mendefinisikan emosiku; perasaan yang campur aduk antara cemas, panik, takut, sedih, tapi di saat yang sama tetap berusaha berpikir jernih supaya bisa tahu apa yang harus dilakukan. Aku hanya bisa menunggu melewati waktu yang terus berjalan. Ketika sedang melamun, tanteku membuatkan sarapan dan aku sangat bersyukur dalam kondisi tersebut aku masih bisa menikmati berkat Tuhan berupa makanan. Sambil menikmati sarapan, aku mendengar kabar dari ayah bahwa ternyata komplek kami kebagian banjir kiriman dari komplek sebelah. Dinding perbatasan yang memisahkan antar komplek entah mengapa jebol—hingga kini pun aku masih belum mengetahui alasan jebolnya kenapa; apakah perbuatan sengaja tangan manusia yang jahil, atau memang ada kerusakan yang belum sempat diperbaiki. Ayahku juga mengatakan bahwa air banjir di komplek semakin tinggi. Ketika mendengar berita ini jujur aku mati rasa. Tidak tahu apakah harus makin sedih, atau makin takut, yang aku ketahui saat itu adalah aku sedang sarapan dan aku harus menghabiskannya.

Sekitar jam dua belas, ayah menyampaikan informasi bahwa sepupunya—yang adalah pamanku—meminta kami untuk mengungsi ke rumahnya yang ada di Tanjung Priok. Kondisi di sana ternyata aman dari banjir. Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami menyetujuinya. Sebelum kami berangkat, aku dan ayah sekali lagi pulang ke rumah untuk mengambil berkas-berkas pendidikan aku dan adik untuk diselamatkan sementara ke kontrakan tanteku. Ketika sampai di rumah, tinggi airnya sudah mencapai dadaku, itupun berdirinya sambil jinjit. Aku sudah ‘tutup mata’ dengan kondisi tersebut dan hanya fokus pada tujuan utama. Aku tidak bisa menangis lagi melihat pianoku yang posisinya sudah miring dan speaker-nya nyelup ke dalam air, TV yang sudah nyebur, kulkas yang mengapung, dan entah harta benda apa lagi yang aku sudah tidak mau lihat kondisinya. Sebelum keluar rumah, aku sempat berkata dalam hati sambil mengelus dinding: “Baik-baik ya, rumah. Nanti kita bersihin kamu.”

Singkat cerita, kami akhirnya menempuh perjalanan ke salah satu tempat di area Senayan untuk janjian dengan pamanku yang akan mengantar kami ke Tanjung Priok. Kami pergi menggunakan mobil online—ini sungguh pertolongan Tuhan juga karena masih ada bapak driver yang mau mengambil orderan kami. Padahal kondisi jalanan Jakarta banyak yang putus akibat banjir. Beliau mau dan rela mengantar kami, si pengungsi yang belum mandi dari pagi dan kebanjiran, sambil memutar-mutar Jakarta mencari jalan yang bisa ditembus ke arah tujuan. Syukur kepada Tuhan, kami sampai dengan selamat di tempat bertemu, kemudian pamanku mengantarkan kami ke rumahnya, dan tiba juga dengan selamat di Tanjung Priok sekitar pukul enam sore.

Kain kering bekas

Di malam kedua menginap, kami berdiskusi tentang langkah apa yang harus diambil selanjutnya. Setelah mengetahui dari tetangga bahwa banjir di komplek sudah surut, aku dan ayah memutuskan untuk pulang ke rumah duluan di hari Jumat pagi untuk menyicil bersih- bersih rumah. Aku sudah membuat daftar perencanaan, mulai dari alat-alat kebersihan apa saja yang harus dibeli, hingga urutan pekerjaan yang harus dilakukan nanti sesampainya di rumah. Lalu tiba-tiba terbesit suatu hal di dalam benakku: aku butuh kain kering bekas untuk setidaknya mengeringkan kaki dan tangan kami yang pastinya akan selalu basah saat bersih- bersih nanti. Namun aku tidak tahu bisa mendapatkannya di mana. Kemudian aku mencoba iseng mengunggah status di Instagram Story bahwa aku membutuhkan kain kering bekas. Jujur, aku tidak terlalu berharap banyak. Aku bukan tipe yang senang meminta pertolongan dari orang lain. Malah kalau bisa, aku harus berjuang sendiri menyelesaikan masalah hidupku. Aku tidak mau merepotkan orang lain atau melibatkan mereka di dalamnya. Namun, kali ini Tuhan lagi-lagi sedang mengajari aku sesuatu.

Aku sungguh tidak menyangka bahwa apa yang kudapat melebihi harapanku. Pertolongan dalam berbagai bentuk mulai berdatangan; mulai dari kain kering bekas yang aku minta, kiriman makanan dan minuman, alat-alat kebersihan, alas tidur beserta bantal, dan masih banyak lagi bantuan lainnya yang tidak bisa kujelaskan satu-satu. Bahkan beberapa teman- temanku sampai ada yang datang membantu membersihkan rumah. Sungguh pertolongan- pertolongan yang sangat mengejutkanku. Padahal yang aku minta di awal hanyalah kain kering bekas, tapi Tuhan berikan jauh lebih banyak dari itu. Rumahku bersih dalam waktu 2 hari, waktu yang lebih cepat dibandingkan ketika kami mengalami banjir besar yang sama di tahun 2007 silam.

Hal yang menjadi perenunganku dari peristiwa ini adalah bahwa pertolongan Tuhan selalu tepat waktu, dan Ia mampu memberikan lebih dari yang kita mau. Aku tidak menyesal sama sekali telah meminta tolong lewat status Instagram Story tersebut, meski sempat dilanda rasa gengsi dan takut tidak ada yang mau menolongku. Aku menyadari bahwa rasa gengsi ini berakar dari perasaan tidak ingin dikasihani. Karena kalau dikasihani, harga diriku rasanya jatuh. Tadinya aku lebih memilih untuk menyelesaikan berbagai masalahku sendirian, termasuk dalam penanggulangan serta pemulihan dari bencana. Inilah yang kadang menghambatku dalam hal mencari pertolongan. Namun syukur kepada Tuhan dari bencana banjir ini aku belajar bahwa meminta pertolongan adalah hal yang baik untuk dilakukan, dan tidak perlu dikaitkan dengan harga diri atau takut ditolak. Aku percaya kok jika pun aku tidak meng-update status tersebut, anugerah pertolongan Tuhan tetap tersedia. Namun aku sadar saat itu aku tengah dilatih dan diajari sesuatu yang baru oleh-Nya, yang sungguh mengubah pandanganku terkait meminta pertolongan.

Aku belajar bahwa sukacita tidak ditentukan oleh kondisi atau keadaan yang kita kehendaki. Seperti yang pernah aku tuliskan dalam tulisanku sebelumnya, bahwa sukacita identik dengan rasa syukur dan rasa cukup, meski apa yang dialami tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan inginkan. Tentu, aku pun tidak ingin kena banjir lagi. Hingga saat ini, kami sekeluarga tetap berupaya sedikit demi sedikit meminimalisir risiko banjir dengan cara melakukan beberapa perbaikan di rumah yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi aku dan ayah. Namun di saat yang sama, kami juga mau percaya kalau pertolongan Tuhan akan selalu ada.

Aku tidak tahu bencana apa yang pernah atau sedang dialami teman-teman saat ini. Terdampak COVID-19, sakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dikasihi, kondisi ekonomi yang memburuk, atau apa pun itu, tapi aku harap kita bisa sama-sama belajar percaya bahwa Tuhan akan selalu menolong kita. Mungkin dengan cara yang tidak sama dengan yang kita mau. Mungkin dengan waktu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tak lupa, sukacita itu pun juga tersedia meski kita dilanda penderitaan. Apakah percaya pada Tuhan itu susah? Karena keberdosaan kita: iya, tapi kepercayaan itu bisa dilatih kalau kita mau dan memberi diri ditolong Tuhan.

To GOD be the glory!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tuhanlah Sumber Kekuatan, Sebuah Surat Dariku yang Pernah Kehilangan

Berlarut-larut dalam rasa kehilangan, mungkin bagi sebagian kita itu membuat kita tidak lagi bersemangat, tidak nafsu makan, dan tidak berdaya. Namun, aku percaya bahwa Tuhan Yesus memberikan damai sejahtera bagi kita.

Kini dan Nanti, Penyertaan-Nya Tetap Ada

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT

Begitu pesan yang muncul di laman pengumuman SBMPTN 2019. Hari itu adalah salah satu hari yang paling kuingat di sepanjang hidupku. Sebagai kakak perempuan dari adikku satu-satunya, aku turut sedih dengan pengumuman itu. Kutenangkan hati dan pikiranku, lalu ku-screen shot pengumuman itu dan kukirimkan pada adikku. Tidak ada kata-kata atau emotikon apa pun yang kusertakan selayaknya kami biasanya saling chat. Bukan sedang tidak mau memberi semangat atau enggan menulis kalimat supaya adikku tidak putus asa, tapi kali itu aku menyadari kalau hal itu sepertinya tidak akan menolongnya untuk tidak bersedih atau pun bingung.

Memoriku saat mengantar dan menemani adikku mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri kembali terngiang.

“Kayakmana lah aku kalau nggak lulus ke kampus negeri,” adikku bertanya padaku saat perjalalan pulang.

Aku sengaja mengajak adikku pulang jalan kaki, selain karena lokasi ujian yang dekat dengan kosku, aku juga jadi punya kesempatan untuk menanyakan bagaimana pengalamannya ikut ujian itu.

“Optimislah dek, kalau memang bagianmu yang kuliah itu, jalannya akan tersedia,” nasihatku padanya.

Saat aku mengantarnya ikut ujian itu, kami memang tidak punya rencana alternatif jika dia tidak lulus. Kuliah di negeri menjadi satu-satunya rencana kami karena biaya kuliah yang relatif lebih murah. Walau sudah punya penghasilan, aku belum bisa membantu adikku secara finansial karena aku masih mengerjakan tugas akhirku. Tidak kuliah dan mencari pekerjaan adalah satu-satunya cara yang harus diterima adikku jika dia gagal seleksi.

Kami tiga bersaudara. Ayah dan ibuku bukan orang yang mengenyam bangku kuliah. Ibuku tamatan SMP dan ayah tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Kuliah adalah hal yang baru bagi keluarga kami, termasuk juga dalam keluarga besar maupun masyarakat di kampung kami. Bagi banyak orang tua di tempat kami, kuliah itu identik dengan biaya mahal: uang studi, uang kos, uang bulanan, belum lagi lokasi kampus yang jauh dari kampung. Setelah menyelesaikan SMA, merantau ke kota besar seperti Batam, atau menjadi tenaga kerja di Malaysia seolah jadi kebiasaan yang diturunkan antar generasi. Jika tidak beruntung menyelesaikan SMA, menjadi buruh tani, kernet mobil tanah, atau menjadi buruh bangunan adalah hal yang umum di keluarga besar kami.

Aku masih ingat bagaimana respons kedua orang tuaku ketika mendengar kalau aku akan kuliah. Mereka terkejut, tapi tidak berani melarangku. Mungkin mereka tak tega karena aku sering berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik di sekolah. Singkat cerita, dengan beberapa usaha, khususnya dalam dana dan beberapa perjanjian tentang hal yang boleh dan tidak boleh kulakukan selama kuliah, aku bisa mengenyam pendidikan tinggi di salah satu kampus negeri di kota Medan. Keputusanku untuk kuliah terinspirasi dari abang sepupuku. Dia menjadi orang pertama dalam keluarga besar kami yang kuliah. Dia kuliah di kampus keguruan yang ada di bagian selatan Tapanuli.

Nggak pernah aku nggak makan, dek. Tuhan mencukupkan setiap hal yang kubutuhkan,” begitu dia menasihatiku setipa kali aku bercerita tentang kekhawatiranku.

“Kuliah tidak menjamin pekerjaan yang baik untukmu, tapi ada pola pikir yang lebih luas terbentuk selama proses itu.” Perkataan ini merupakan bagian yang selalu kuingat sampai saat ini. Dan, benar, sampai di penghujung waktu kuliah, aku merasakan bagaimana Tuhan memelihara hidupku seperti yang Dia janjikan dalam Ibrani 13:5b.

Sama seperti aku yang terinspirasi dari abang sepupuku tersebut, tampaknya adikku juga mengalami hal yang sma. Dulu dia sempat menyatakan kalau dia akan bersekolah di SMK karena tidak mau kuliah. Bisa jadi dia terdorong memutuskan itu karena dia menyaksikan bagaimana keluarga kami berjuang agar kuliahku bisa terus berlanjut. Sebagai kakak, tentu aku berharap setiap kebaikan Tuhan terjadi pada adikku, termasuk harapanku kalau dia juga bisa berkuliah. Sembari berharap, aku mengingat firman Tuhan dari Yeremia 1:5, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.”

Semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan. Pandangan yang sama mengenai perkuliahan serta sharing pengalamanku selama kuliah tetap kubagikan padanya. Seiring waktu berlalu, aku tidak mengerti bagaimana Tuhan bekerja. Alih-alih mendaftar ke SMK, adikku malah mengikuti beberapa seleksi masuk SMA dan berhasil menamatkan studinya dari bidang IPS. Lagi-lagi, aku belajar bahwa banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana (Amsal 19:21).

Ketika hal-hal terjadi sesuai dengan yang kita inginkan atau harapkan, mungkin tidak sulit untuk menerima dan menyatakan itu sebagai bagian dari penyertaan Tuhan. Namun, ketika semua terjadi di luar perencanaan kita, maka kekecewaan dan kekhawatiran sering menjadi teman setia kita, dan Tuhan pun terasa jauh. Ketika menerima kabar ketidaklulusan adikku, itu bukanlah hal yang mudah bagiku dan keluarga besarku.

Mungkin, saat ini semuanya masih tampak belum jelas. Adikku belum bisa berkuliah, tapi dia berencana untuk ikut seleksi kembali di tahun 2020 ini. Namun, kegagalan ini bukan berarti Tuhan tidak merestui rencananya berkuliah. Seperti aku yang dahulu merasakan bagaimana Tuhan menyertai perjalanan hidupku melewati suka dan duka, aku juga belajar percaya bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik buat adikku dan keluargaku (Yesaya 55:8-9).

Perencanaan-perencanaan untuk mencapai hal-hal yang lebih baik tentu menjadi harapan kita di awal tahun 2020 ini. Resolusi pada karakter diri, karier, asmara, serta hal-hal lainnya kiranya tidak meluputkan kita dari menyerahkan diri kepada Tuhan.

Melewati setiap musim kehidupan yang sudah kita alami, atau yang akan kita lalui kelak, biarlah kita tetap percaya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (FIlipi 4:19).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Bersyukur dan Percaya di Tengah Kesulitan, Sanggupkah?

Sepanjang tahun 2019 lalu, rasanya mudah sekali menuliskan “kejutan-kejutan” yang tak terduga karena begitu banyak hal yang terjadi di luar perkiraanku dan tak terbayangkan sebelumnya. Lantas, haruskah aku tetap percaya pada penyertaan Tuhan?

Jadilah Tuhan, Kehendak-Mu

Oleh Tetti Manullang, Bekasi

Aku seorang mahasiswa S2 jurusan Science Accounting di Yogyakarta. Iklim belajar di kampus ini jauh berbeda dengan kampus S1-ku di Jakarta, sehingga tahun pertama studi master menjadi masa tersulit dalam hidupku.

Sebelum masuk kelas, kami diharuskan untuk memahami materi kuliah terlebih dahulu untuk bisa mengikuti proses diskusi di kelas. Resume perkuliahan, presentasi, serta review artikel dari jurnal internasional menjadi santapanku setiap minggu. Oh, masih ditambah lagi dengan tugas akhir berupa proposal untuk setiap mata kuliah yang ada.

Hasil studiku di semester pertama sangat jauh di bawah harapan. Aku sudah berupaya sekuat tenaga untuk mengikuti ritme perkuliahan, tetapi tetap saja aku tertinggal dari teman-temanku. Aku merasa gagal dan kecewa. Aku takut beasiswaku dicabut, mengingat ada standar nilai minimal yang harus dicapai di tiap semester.

Keadaan ini membuatku semakin giat dan semangat untuk memperbaiki nilaiku di semester berikutnya. Tidur pagi dan kembali bangun di pagi yang sama sudah menjadi suatu hal yang biasa bagiku. Aku menghabiskan akhir pekan dengan belajar di kamar atau perpustakaan. Kadang aku juga belajar kelompok bersama teman-temanku sampai malam di kampus.

Hubungan pribadiku dengan Tuhan masih terjaga, tetapi hanya secara kuantitas. Waktu untuk saat teduh dan berdoa selalu kusediakan, tetapi hanya menjadi rutinitas yang tidak terlalu berarti. Bahkan, aku terlibat dalam pelayanan sebagai BPH di Keluarga Mahasiswa Kristen Pascasarjana di kampusku. Namun, karena tuntutan perkuliahanku yang tinggi, aku hanya mengerjakan tugasku secara teknis tanpa merasakan pertumbuhan apapun. Aku sama sekali tidak menikmati pelayananku. Pergi ke gereja menjadi prioritas terakhir kala itu, mungkin hanya 4 atau 5 kali dalam setahun. Aku tidak mau membiarkan waktu belajarku terbuang sedikitpun. Hidupku hanya didedikasikan untuk kepentingan akademis.

Memasuki semester 4, tahap pengerjaan tesis dimulai. Berkat bimbingan seminggu sekali dengan dosen pembimbingku, Pak Ertambang Nahartyo yang disapa Pak Er, proposalku selesai dengan cepat.

Pada hari Kamis yang cukup santai, pikiranku melayang pada ketiak sebelah kananku bagian bawah yang sudah sebulan ini terasa sangat pegal. Awalnya, kukira rasa pegal itu akibat aku sering membawa buku dan laptop yang cukup berat. Namun, aku mulai curiga ketiga mendapati adanya benjolan di area tersebut. Aku pun browsing untuk mencari informasi, kutemukan banyak saran untuk memeriksakan diri ke dokter onkologi. Segera aku menelepon dokter onkologi di Yogya dan membuat janji konsultasi. Jadwalnya masih dua minggu lagi. Berjaga-jaga jika bukan kabar baik yang kuterima, aku memesan tiket ke Jakarta satu hari setelah jadwal konsultasiku agar bisa ditemani keluarga selama melakukan pengobatan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku terasa sesak dan aku menangis dengan suara keras. Sudah kucoba menutup mulut dengan kedua tanganku, tetap saja tidak terbendung. Aku merasa sangat takut. Takut menghadapi vonis dokter, takut menerima kenyataan apabila benjolan di tubuhku ini adalah tumor ganas, dan takut tidak dapat menyelesaikan studiku tepat waktu. Belum lagi, aku memiliki mimpi untuk mengajukan beasiswa pendidikan doktoral dengan syarat lulus studi master tepat waktu. Bagaimana jika kesempatan itu menjauh dariku? Kucoba mengendalikan pikiranku untuk tetap tenang dan berpikir positif.

Kamis yang kutunggu pun tiba. Aku pergi ditemani Mbak Ida, teman kosku, untuk menemui dokter onkologi. Aku di-USG, dan hasilnya menunjukkan bahwa aku mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Untuk mengetahui struktur jaringannya, aku harus segera dioperasi.

Mendengar hal itu, duniaku terasa berhenti sejenak. Aku terdiam sambil berusaha menahan tangisku. Aku dikuasai penuh oleh rasa takutku. Mbak Ida banyak menanyakan kepada dokter seputar penyakitku. Ia bertanya apakah memungkinkan bagiku untuk dioperasi tahun depan setelah lulus kuliah, mengingat posisiku kala itu yang sedang dalam masa penulisan tesis. Namun, dokter menghimbauku untuk segera dioperasi secepatnya dan jangan ditunda.

Keesokan harinya, aku ditemani Mbak Ida untuk menghadap Pak Er. Beliau menyambutku dengan semangat, tetapi aku malah terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Saya mau pamit, Pak.” Aku melanjutkan kalimatku dengan tangisan. Mbak Ida yang menjelaskan kepada beliau bahwa aku akan pulang ke Jakarta untuk berobat.

It’s okay. Pastikan kamu akan sembuh. Kalau saya mengajar di Jakarta, kita janjian bertemu di sana, ya,” respon Pak Er seperti berusaha menenangkanku.

“Semua akan lulus pada waktunya. Cepat sembuh, Tet. Yang penting sembuh, tesis bisa menyusul.”

Ketika duduk manis di kereta dalam perjalanan pulang ke Jakarta, pikiranku melayang-layang. Hati ini gelisah. Sesekali aku menarik nafas panjang karena merasa sesak di dada. Aku begitu takut akan apa yang akan kuhadapi. Aku pun berdoa untuk menenangkan diri.

“Ya, Allah, rasanya sudah terlalu lama aku melupakan-Mu. Aku merasa terlalu kuat untuk menghadapi semuanya sendiri. Aku seperti tidak membutuhkan-Mu. Aku mengandalkan kekuatanku dan menjadi allah atas hidupku sendiri.

Siapakah aku? Aku bukan siapa-siapa, memandang kasut-Mu pun aku tak layak. Aku hanya hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya. Ampuni aku, ya Allah. Terima kasih untuk teguran-Mu, terima kasih tidak membiarkanku berjalan semakin menjauh, terima kasih atas kesetiaan-Mu.

Saat ini aku datang, untuk menyerahkan segala kekhawatiranku, segala takutku, masa depanku, harapanku, cita-citaku. Ya Allah, jika engkau tak mengizinkan aku lulus tahun ini tak mengapa, jika aku harus mengubur mimpi doktorku tak mengapa, jika hasil buruk yang harus kuterima tentang penyakitku tak mengapa. Pegang tanganku selalu, jangan biarkan aku sendiri. Kuserahkan semuanya ke dalam tangan-Mu, jadilah seturut dengan kehendak-Mu. Amin.”

Aku menyanyikan lagu NKB No. 14 “Jadilah Tuhan Kehendak-Mu’’. Lagu ini semakin meneguhkanku untuk berserah kepada-Nya.

“Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Kaulah Penjunan, ku tanahnya.
Bentuklah aku sesuka-Mu, kan ku nantikan dan berserah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tiliklah aku dan ujilah.
Sucikan hati, pikiranku dan di depan-Mu, ku menyembah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tolong, ya Tuhan, ku yang lemah!
S’gala kuasa di tangan-Mu; jamahlah aku, sembuhkanlah!”

Setelah berdoa dan mengangkat pujian, rasanya beban dan ketakutanku hilang. Kusadari selama ini aku lupa, bahwa beasiswa yang berusaha kupertahankan dan perkuliahan yang kuperjuangkan mati-matian itu berhasil kudapatkan hanya karena kemurahan-Nya. Musim kehidupan ini Tuhan pakai untuk menarikku kembali kepada-Nya.

Aku akhirnya menjalani operasi. Puji Tuhan, tidak ditemukan keganasan! Aku dapat kembali melanjutkan perkuliahan.

Selama kurang lebih dua bulan, aku belum bisa menggunakan tangan kananku dengan normal. Untuk melakukan beberapa aktivitas sehari-hari seperti mandi, mengganti perban, mencuci, membawa tas, atau mengendarai motor, aku masih harus dibantu oleh orang-orang di sekitarku. Aku semakin tersadar akan kebaikan Tuhan yang luar biasa lewat kehadiran keluarga yang selalu menopang dan menghiburku, teman-teman yang membantuku mengejar ketertinggalan di kampus, dan Pak Er yang membimbingku dengan sepenuh hati.

Atas penyertaan dan pertolongan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan studi masterku dalam waktu 1 tahun 11 bulan. Dialah sang pemilik hidup kita. Terpujilah Tuhan kini dan selamanya.

Baca Juga:

5 Hal yang Bertumbuh Ketika Aku Memberi Diri Melayani

Salah satu pemberian terbaik yang bisa kulakukan adalah dengan memberi diriku melayani di gereja. Aku melayani sebagai pengiring nyanyian jemaat atau pemain musik. Sambil terus melayani dan belajar firman-Nya, ada lima hal dalam diriku yang bertumbuh:

Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku

Oleh Cana

“Oh hari ini sudah hari Senin dan aku harus masuk kerja lagi. Oh Tuhan, kapan hari Sabtu dan Minggu ya? Rasanya menyebalkan dan tidak semangat.”

Itulah sekelumit gambaran perasaanku setiap kali aku harus berangkat kerja di hari Senin. Aku baru bekerja di tempat yang baru selama dua bulan. Awalnya aku merasa sangat bersyukur dan senang diterima di sini. Bagaimana tidak, di sini aku mendapatkan gaji yang cukup baik dan posisi yang kuharapkan, yaitu sebagai dosen. Dan, terlebih lagi adalah aku bisa bekerja satu kota dengan suamiku.

Tapi, seiring berjalannya waktu, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa posisi yang awalnya kudapatkan sebagai dosen ternyata hanyalah sebuah status yang tertera di name tag. Ada miskomunikasi saat proses perekrutan dulu. Pihak HRD kala itu menyampaikan padaku bahwa mereka membutuhkan dosen dan nantinya jika aku diterima, mereka juga memintaku untuk menolong bidang promosi di fakultas. Aku mengiyakan tawaran itu karena kupikir porsi pekerjaan utamaku adalah menjadi dosen. Namun, setelah aku bekerja di sana, rupanya bidang yang sangat mereka butuhkan adalah marketing, bukan dosen.

Para pimpinan pun menghampiriku satu per satu dan menjelaskan bahwa ilmu Kesehatan Masyarakat yang jadi latar belakang studiku kurang sesuai dengan Fakultas Kedokteran di mana aku berada. Dan, kalau aku tetap diizinkan mengajar, maka yang terjadi adalah beberapa dosen lain akan merasa tidak adil. Mereka mungkin akan keluar dan tidak mau mengajar lagi. Intinya, aku tidak bisa mengajar sebagai dosen dan mereka menyarankanku untuk mempertimbangkan ulang bidang marketing atau bagian lain yang mengurus administrasi.

Aku merasa jadi seseorang yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, dan tertolak. Pertanyaan besar pun menggantung di benakku, “Lalu, aku bekerja di sini sebagai apa? Mengapa aku tidak layak mendapatkan posisi dosen di sini? Apakah aku tidak baik? Apakah aku bodoh? Apakah status lulusan S-2ku tidak ada artinya?”

Saat itu aku merasa stres dan ingin keluar, tapi aku sendiri membutuhkan pekerjaan. Jadi, aku coba bertahan. Namun, hari-hariku dipenuhi kebingungan, kekecewaan, dan rasa marah. Aku tidak punya jobdesc yang jelas dan karenanya aku juga tidak memiliki teman dekat. Aku sering menyendiri, diam, dan tidak berani bergaul. Bahkan, aku tidak berani memakai name tag dosen yang seharusnya kupakai setiap kerja. Aku selalu membaliknya sehingga orang tidak tahu aku bekerja di posisi apa.

Aku memendam semua perasaan ini, hingga akhirnya aku merasa tidak sanggup lagi. Aku menangis dan terus menangis di depan suamiku. Kala itu, karena aku merasa tidak dibutuhkan dan tidak berguna, aku berpikir bahwa solusi yang paling tepat adalah bunuh diri. Suamiku terkejut. Dia memelukku dan bertanya mengapa aku jadi seperti ini. Dia berusaha menenangkanku.

Saat aku lebih tenang, suamiku lalu menunjukkan foto-foto tentang kebersamaan kami yang di dalamnya juga tertulis ayat-ayat Alkitab. Aku berhenti menangis. Foto-foto itu membuatku mengingat kembali dan tersadar akan perjalanan yang telah kami berdua lalui. Tuhan telah begitu baik, Dia menyertai kami berdua di dalam setiap pergumulan studi hingga hubungan yang kami jalani.

Satu teguran yang mengubahku

Beberapa hari kemudian, aku membaca cerita tentang perumpamaan anak yang hilang yang diambil dari Lukas 15:11-32. Dalam cerita itu, si anak bungsu pergi meninggalkan rumah dan menghabiskan semua uang yang diberikan oleh bapanya. Ketika uangnya habis, si bungsu hidup menderita. Hingga suatu ketika, dia teringat akan kehidupannya semula bersama sang bapa. Dia lalu memberanikan diri untuk pulang.

Cerita itu membuatku berpikir. Betapa si anak bungsu yang memiliki sikap buruk ini punya keberanian untuk menghadap bapanya. Dia bisa saja merasa takut dan bersalah hingga pergi semakin jauh. Tapi, dia berani datang kepada bapanya seburuk apapun kondisinya, semalu dan sehancur apapun perasannya. Kupikir, si bungsu berani melakukan itu karena dia yakin bahwa bapanya tidak akan menolaknya. Dan, pada akhirnya, sang bapa pun menerimanya dengan tangan terbuka.

Aku tertegur. Selama ini, aku takut datang kepada Bapa karena kupikir kondisiku terlalu buruk dan hatiku sangat hancur. Aku menyembunyikan segala pergumulan itu dalam hatiku dan mencari-cari jalan keluar sendiri. Padahal, seperti anak bungsu yang disambut oleh bapanya, Tuhan tentu akan menerimaku dengan tangan terbuka. Aku pun meminta ampun kepada Tuhan, juga kepada suamiku karena aku telah berpikir buruk, bahkan hingga ingin mengakhiri hidupku.

Sejak saat itu, aku memohon pertolongan Tuhan untukku melalui hari-hariku. Aku mungkin belum sepenuhnya pulih dari perasaan kecewaku, tetapi sekarang aku tahu aku harus berlari ke mana dan kepada Siapa. Tuhan adalah Bapa yang menerima setiap hati yang hancur. Tak peduli apapun kondisiku, Dia selalu menerimaku. Hari-hariku kemudian menjadi momen pembelajaranku bahwa yang terpenting adalah identitasku sebagai anak-Nya, yang dikasihi dan diterima-Nya.

Aku belajar untuk memandang pekerjaanku bukan sebagai tempatku mencari nafkah semata, tetapi sebagai tempat di mana aku berproses. Meskipun terasa pahit, sakit, dan rasanya tidak sesuai dengan keinginanku, namun aku mau belajar yakin bahwa Tuhan merancangkan kebaikan di balik segala hal yang kualami.

Hingga kini memang aku belum mendapatkan kesempatan untuk mengajar, namun sekarang aku mulai dapat mengecap sedikit demi sedikit pengalaman baru yang kudapatkan dari bidang pekerjaan yang kutekuni. Aku berusaha melakukan setiap tugas yang diberikan oleh atasanku dengan baik. Aku percaya bahwa Tuhan mengetahui apa yang jadi keinginan hatiku. Pun Tuhan lebih tahu di mana tempat yang tepat untuk memprosesku, apapun jabatan yang diberikan kepadaku saat ini.

Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah,” Mazmur 51:19b.

Baca Juga:

Saat Aku Mengizinkan Ketakutan Menguasaiku

Ketakutanku yang berlebihan itu rasanya adalah sesuatu yang konyol, sebab ketakutan itu tidak berdasar. Tapi, mengapa aku dan mungkin juga kamu dapat terjebak di dalamnya?

Sharing: Kekecewaan Apa yang Pernah Kamu Alami dan Bagaimana Tuhan Menolongmu Menghadapinya?

warungsatekamu-sharing-201611

Kekecewaan apa yang pernah kamu alami dan bagaimana Tuhan menolongmu menghadapinya? Yuk sharingkan dalam kolom komentar berikut ini…

Sharing: Pertolongan Tuhan Apa yang Berkesan dalam Hidupmu?

WarungSaTeKaMu-Sharing-201607

Pertolongan Tuhan apa yang berkesan dalam hidupmu? Yuk sharingkan dalam kolom komentar berikut ini…

Tsunami yang Mengubah Hidupku

Penulis: Kelty Tjhin
Ilustrasi: Galih Reza Suseno

kesempatan-hidup-lagi

26 Desember 2004 adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Hari itu, kota kelahiranku porak poranda oleh gempa dan tsunami yang hebat. Ratusan ribu orang tewas. Dunia menundukkan kepala, turut merasakan duka yang dalam.

Saat itu usiaku baru 9 tahun, dan aku baru saja bergembira merayakan Natal. Aku masih bermalas-malasan di tempat tidur ketika tiba-tiba perabot-perabot rumah mulai bergerak-gerak sendiri. Nenekku berteriak panik, dan dengan ketakutan aku lari ke ruang tamu. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Tiga ruko yang baru dibangun di seberang rumahku dalam sekejap tinggal puing-puing belaka.

Setelah gempa berhenti, kami hanya bisa tenang sebentar. Orang banyak mulai berlari sambil berteriak, “LARI! LARI! AIR NAIK!” Mama dan aku mulai membereskan barang-barang agar tidak rusak bila banjir datang. Namun, yang kemudian kami saksikan bukan sekadar banjir biasa, melainkan tsunami yang sangat dahsyat!

Semuanya terjadi begitu cepat. Aku mendengar suara gemuruh, melihat arus deras membawa kapal nelayan lewat di halaman rumahku, dan dalam hitungan detik air berwarna hitam dan berbau tidak enak sudah mencapai pinggangku. Jantungku berdegup kencang. “Apakah aku akan mati?” aku mulai menangis. Pikiranku penuh dengan gambaran akhir zaman yang dibicarakan guru sekolah mingguku setiap kali kami membahas kitab Wahyu. Entah bagaimana caranya kami bisa keluar dari rumah yang makin penuh air ini. Dalam keputusasaan aku berteriak, “Tuhan, tolong kami… selamatkan kami!!!”

Beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan yang keras. Air yang sangat deras itu menerjang dan akhirnya membobol tembok belakang rumah kami. Dengan segera terjangan air itu menghempas kami keluar rumah. Karena badanku sangat kecil dan tidak bisa berenang, aku pun tenggelam. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa pasrah saat merasakan banyak barang yang menabrakku di dalam air, hingga tiba-tiba ada suara yang berbisik keras di telingaku: “Kelty, ayo teriak!” Aku tidak tahu dari mana asal suara itu, tetapi aku mematuhinya. Aku berteriak sekuat tenaga, “Tuhan, tolooong! Mama, tolooong!!” Tak lama kemudian aku merasa ada yang mendorong badanku ke atas hingga akhirnya aku tiba di permukaan. Ketika bisa membuka mata, aku melihat mamaku. Rupanya tadi ia mendengar teriakanku lalu menarik rambutku. Tetapi, siapa yang telah mendorong aku dari bawah hingga bisa dijangkau oleh mamaku? Aku menarik napas panjang. Itu sebuah misteri yang tidak bisa kujawab. Setelah beberapa menit berada di bawah air, aku akhirnya bisa bernapas kembali. Tsunami tidak jadi merenggut nyawaku!

Aku masih ingat bagaimana kami dengan susah payah memanjat balkon tetangga yang rumahnya lebih tinggi dan diam di sana selama berjam-jam. Setelah hari mulai senja, kami kemudian berjalan menuju daerah pegunungan untuk mencari perlindungan, hanya dengan baju yang melekat di badan. Dalam perjalanan, kami melewati rumah teman mama yang mengajak kami tinggal di sana untuk sementara. Dua hari kemudian tentara mengumumkan bahwa kami semua harus segera meninggalkan Banda Aceh. Tumpukan mayat yang memenuhi jalan, tangisan pedih para korban yang selamat sembari mencari sanak keluarga mereka, membekas kuat dalam ingatanku.

Setiap kali mengingat peristiwa yang terjadi lebih dari 11 tahun yang lalu itu, aku mengaminkan kata pemazmur, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mazmur 121:2). Aku sadar bahwa aku tidak memegang kendali atas hidupku sendiri. Tuhanlah yang telah menolongku. Dialah yang memberiku keberanian untuk berteriak saat terjebak di bawah air. Dialah yang mendorongku keluar dari air. Dialah yang menghendaki aku tetap hidup.

Adakalanya aku merasa bisa melakukan ini dan itu dengan kekuatanku sendiri. Namun, Tuhan mengizinkan tsunami datang dalam hidupku untuk selalu mengingatkan aku bahwa apa pun yang aku miliki, sekecil apa pun itu, semua adalah kasih karunia-Nya semata.

Adakalanya aku ingin hidup sesuka hati, memuaskan keinginanku sendiri. Namun, Tuhan mengizinkan tsunami datang dalam hidupku untuk selalu mengingatkan aku bahwa Tuhan adalah pemilik hidupku dan Dia mau agar hidupku memuliakan-Nya. Tuhan begitu mengasihiku. Kesempatan hidup yang Dia berikan tidak akan aku sia-siakan. Aku ingin mengisi hari-hariku dengan apa yang menyenangkan hati-Nya.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
“Tsunami” apa yang pernah Tuhan izinkan kamu alami dan telah mengubah cara pandangmu tentang hidup ini?