Posts

Dari Lubuk Hati

Selasa, 18 Oktober 2016

Dari Lubuk Hati

Baca: Yoel 2:12-17

2:12 “Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”

2:13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

2:14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.

2:15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;

2:16 kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;

2:17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?”

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang. —Yoel 2:13

Dari Lubuk Hati

Di banyak budaya, menangis dengan suara kencang, meratap, dan mengoyakkan pakaian adalah cara-cara yang lazim digunakan untuk mengungkapkan rasa duka pribadi atau kesedihan atas bencana besar yang dialami suatu bangsa. Bangsa Israel semasa Perjanjian Lama juga bersikap serupa dalam mengungkapkan dukacita mereka yang mendalam dan pertobatan atas pemberontakan mereka kepada Tuhan.

Pertobatan yang diungkapkan secara terbuka itu bisa berdampak dahsyat jika memang keluar dari lubuk hati kita. Namun tanpa pertobatan yang tulus di dalam hati kepada Allah, bisa saja kita sekadar berbasa-basi, meskipun kita melakukannya bersama-sama dengan saudara-saudara seiman yang lain.

Setelah wabah belalang merusakkan tanah Yehuda, Allah melalui Nabi Yoel memanggil umat-Nya untuk sungguh-sungguh bertobat agar mereka terhindar dari penghukuman-Nya. “‘Sekarang juga,’ demikianlah firman Tuhan, ‘berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh’” (Yoel 2:12).

Lalu Nabi Yoel menyerukan kepada bangsa itu untuk menanggapi panggilan Allah dari lubuk hati mereka: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (ay.13). Pertobatan sejati berasal dari dalam hati.

Tuhan rindu kita rela mengakui dosa-dosa kita kepada-Nya dan menerima pengampunan-Nya, agar kemudian kita dapat mengasihi dan melayani-Nya dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita.

Apa pun yang perlu kamu ungkapkan kepada Tuhan hari ini, nyatakanlah kepada-Nya dengan ketulusan hati. —David McCasland

Tuhan, berilah aku hati yang rela bertobat agar melihat diriku seperti Engkau melihatku. Anugerahkan kepadaku ketaatan pada seruan-Mu untuk berubah.

Allah rindu mendengar isi hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 53-55; 2 Tesalonika 1

Artikel Terkait:

Haruskah Kita Mengikuti Kata Hati?

Banyak orang menasihati Kezia untuk mengikuti kata hati agar bahagia. Ia pun melakukannya. Namun, kenyataannya, kata hati justru membawanya menuju jurang kehancuran. Ia mulai bertanya, benarkah kata hati dapat dipercaya? Baca kisah Kezia di dalam artikel ini.

Peringatan!

Rabu, 12 Oktober 2016

Peringatan!

Baca: 1 Samuel 25:1-12

25:1 Dan matilah Samuel; seluruh orang Israel berkumpul meratapi dia dan menguburkan dia di rumahnya di Rama. Dan Daud berkemas, lalu pergi ke padang gurun Paran.

25:2 Ketika itu ada seorang laki-laki di Maon, yang mempunyai perusahaan di Karmel. Orang itu sangat kaya: ia mempunyai tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Ia ada di Karmel pada pengguntingan bulu domba-dombanya.

25:3 Nama orang itu Nabal dan nama isterinya Abigail. Perempuan itu bijak dan cantik, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang keturunan Kaleb.

25:4 Ketika didengar Daud di padang gurun, bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya,

25:5 maka Daud menyuruh sepuluh orang dan kepada orang-orang itu Daud berkata: “Pergilah ke Karmel dan temuilah Nabal. Tanyakanlah keselamatannya atas namaku

25:6 dan sampaikanlah salam ini kepadanya: Selamat! Selamatlah engkau, selamatlah keluargamu, selamatlah segala yang ada padamu.

25:7 Baru-baru ini aku mendengar bahwa engkau mengadakan pengguntingan bulu domba. Adapun gembala-gembalamu yang ada dengan kami, tidak kami ganggu dan tidak ada sesuatu yang hilang dari pada mereka selama mereka ada di Karmel.

25:8 Tanyakanlah kepada orang-orangmu, mereka tentu akan memberitahukan kepadamu. Sebab itu biarlah orang-orang ini mendapat belas kasihanmu; bukankah kami ini datang pada hari raya? Berikanlah kepada hamba-hambamu ini dan kepada anakmu Daud apa yang ada padamu.”

25:9 Ketika orang-orang Daud sampai ke sana, berkatalah mereka kepada Nabal atas nama Daud tepat seperti yang dikatakan kepada mereka, kemudian mereka menanti.

25:10 Tetapi Nabal menjawab anak buah Daud itu, katanya: “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya.

25:11 Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

25:12 Lalu orang-orang Daud itu berbalik pulang dan setelah sampai, mereka memberitahukan kepadanya tepat seperti yang dikatakan kepada mereka.

Ia orang bodoh— sama dengan arti namanya. —1 Samuel 25:25 BIS

Peringatan!

Peringatan-peringatan berikut dapat dibaca pada berbagai produk yang kita gunakan:
“Jangan dibanting!” (barang pecah-belah)
“Hanya dengan resep dokter.” (obat-obatan)
“Awas tersedak! Tidak disarankan untuk anak di bawah 3 tahun.” (mainan)

Label peringatan yang cocok untuk Nabal bisa jadi adalah: “Awas! Orang bodoh pasti akan bertindak bodoh” (lihat 1Sam. 25). Nabal sedang tidak berpikir jernih ketika ia berbicara tentang Daud. Di tengah pelarian dirinya dari Saul, Daud telah membantu menjaga kawanan domba milik seorang kaya bernama Nabal. Ketika Daud mengetahui bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya dan mengadakan perayaan, ia mengutus sepuluh anak buahnya untuk meminta baik-baik makanan sebagai imbalan atas penjagaan yang telah dilakukannya (ay.4-8).

Respons Nabal terhadap permintaan Daud sangatlah tidak pantas. Ia berkata, “Daud? Siapa dia? . . . Mana bisa aku mengambil roti dan air minumku, serta daging yang telah kusediakan bagi para pengguntingku, lalu kuberikan semua itu kepada orang yang tidak jelas asal usulnya!” (ay.10-11 BIS). Nabal melanggar norma sosial dengan tidak mengundang Daud datang ke perayaannya, tidak menunjukkan rasa hormat dengan memaki-maki Daud, dan pada dasarnya mencuri hak Daud dengan tidak bersedia membayar upahnya.

Sebenarnya, kita juga memiliki sedikit sifat Nabal dalam diri kita masing-masing. Adakalanya kita bertindak bodoh. Satu-satunya cara untuk mengatasi sifat tersebut adalah dengan mengakui dosa kita kepada Allah. Dia akan bertindak dengan mengampuni kita, mengajar kita, dan memberikan kita hikmat-Nya. —Marvin Williams

Tuhan, adakalanya aku bersikap egois. Aku lebih mementingkan kebutuhanku daripada kebutuhan orang lain. Berikanku hati yang jujur dan berbelas kasih.

Hikmat Allah sanggup mengatasi keegoisan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 39-40; Kolose 4

Artikel Terkait:

Ketika Tes Kepribadian Membuatku Kehilangan Identitas

Apakah kamu seorang INTJ, ENTP atau ISFP? Jangan khawatir jika belum pernah mendengar singkatan ini. Sudah waktunya kita melihat kembali kelebihan dan kelemahan sebuah tes kepribadian.Baca kesaksian Gabrielle saat tes kepribadian membuatnya kehilangan identitas.

Perjalanan yang Utama

Senin, 29 Agustus 2016

Perjalanan yang Utama

Baca: Yesaya 40:1-11

40:1 Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,

40:2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.

40:3 Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!

40:4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;

40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”

40:6 Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan?” “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.

40:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.

40:8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”

40:9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!”

40:10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.

40:11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! —Yesaya 40:3

Perjalanan yang Utama

National Road 5 di Madagaskar menyajikan pemandangan pantai pasir putih, hutan palem, dan Samudera Hindia yang indah. Namun, jalan dua arah sepanjang 200 km dari batu, pasir, dan lumpur itu telah dijuluki sebagai salah satu jalan raya terburuk di dunia. Para turis yang ingin melihat pemandangan indah di sana disarankan untuk menaiki kendaraan four-wheel drive yang dikendarai oleh sopir yang berpengalaman dan didampingi seorang montir.

Yohanes Pembaptis datang untuk memberitakan kabar baik tentang Mesias yang akan datang bagi siapa saja yang telah menempuh perjalanan hidup yang keras dan gersang. Dengan mengulangi pernyataan Nabi Yesaya yang tertulis berabad-abad sebelumnya, Yohanes mendesak orang banyak yang mendengarkannya untuk mempersiapkan “jalan untuk Tuhan” dan meluruskan “jalan bagi-Nya” (Luk. 3:4-5; Yes. 40:3)

Yohanes tahu jika penduduk Yerusalem ingin siap menyambut Mesias yang telah lama mereka nantikan, hati mereka harus berubah. Kebanggaan rohani yang menjulang tinggi dalam diri mereka harus diruntuhkan. Sebaliknya, mereka yang terpuruk dalam keputusasaan karena pergumulan hidup butuh dikuatkan.

Semua itu tidak dapat dilakukan dengan usaha manusia semata. Mereka yang menolak untuk menanggapi Roh Kudus dengan menerima baptisan pertobatan dari Yohanes Pembaptis akan gagal mengenali Mesias yang datang untuk mereka (Luk. 7:29-30). Sebaliknya, mereka yang menyadari kebutuhan mereka untuk berubah akan dapat menyaksikan kebaikan dan keajaiban Allah di dalam diri Yesus. —Mart DeHaan

Bapa di surga, kami memerlukan-Mu untuk melakukan dalam diri kami sesuatu yang tak bisa kami lakukan sendiri. Runtuhkanlah kebanggaan dan keputusasaan yang menghalangi kami menyambut-Mu dalam hidup kami.

Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk berjalan bersama Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33

Artikel Terkait:

Menguak Misteri Masa Depan

Daripada galau dengan perhitungan manusia yang serba tak pasti, bukankah lebih baik kita mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang menurut Firman Tuhan pasti akan terjadi?

Tuhan Tahu Aku Butuh Penyakit Ini Agar Aku Berbalik Kepada-Nya

tuhan-tahu-aku-butuh-penyakit-ini

Oleh Mary Ann
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Pneumonia Was What I Needed

Dahulu, aku adalah seorang yang amat berambisi. Saat kuliah, aku menikmati hidup dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kuinginkan—terutama ketika itu berhubungan dengan nilai. Aku ingin menjadi mahasiswi terbaik sehingga semua orang melihatku. Ambisiku ini membuatku mengorbankan banyak hal yang lain: Tuhan, keluarga, dan teman-teman. Namun kemudian keadaannya menjadi berbalik, ketika aku mulai kehilangan semua hal yang aku miliki—pekerjaan impianku, pacarku, dan kesehatanku.

Segera setelah lulus kuliah, sebuah perusahaan desain yang selalu kuimpi-impikan menjadi tempatku bekerja menolak lamaranku sebagai desainer grafis. Akibatnya, aku harus bekerja di perusahaan keluargaku sebagai seorang asisten penjualan. Sangat sulit bagiku untuk menceritakan pekerjaanku kepada teman-temanku karena mereka tahu betapa aku ingin bekerja di perusahaan desain tersebut. Hal itu bahkan menjadi semakin sulit ketika sebagian besar dari mereka mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang terkenal. Seakan segalanya belum cukup buruk, pacarku—yang aku pikir akan mendampingiku seumur hidup—memutuskanku beberapa bulan kemudian. Aku patah hati.

Ketika aku bergumul untuk move on, luka-luka lama dan berbagai perasaan datang kembali. Tiba-tiba aku mengingat kembali masa-masa di mana orang lain menyakitiku, dan aku menjadi kepahitan dengan mereka. Aku menjadi sangat sadar akan segala ketidakmampuan dan kegagalanku, dan menjadi marah kepada Tuhan karena mengizinkan semua hal ini terjadi padaku dalam waktu yang bersamaan. Aku kehilangan mimpi dan semangatku. Aku merasa seperti terombang-ambing di tengah kehidupan yang tidak bertujuan.

Jadi aku mulai menjauh dari keluarga dan teman-temanku, dan mendekam di kamarku untuk menangisi dan mengasihani diriku sendiri dalam kesedihan. Aku bergumul dengan banyak suara yang ada di kepalaku yang mengatakan bahwa aku payah dalam segala hal dan aku tidak akan pernah sukses.

Sementara itu, aku berusaha sebaik mungkin untuk tetap menjalani rutinitas Kristenku: aku pergi ke gereja, bersaat teduh, dan berdoa . . . tapi yang kurasakan hanyalah kekosongan. Aku tahu aku melakukan semua ini sebagai sebuah tugas, dan bukan karena aku secara sungguh-sungguh ingin mencari Tuhan. Bagaimana mungkin aku dapat mencari Tuhan ketika segala hal dalam hidupku seakan berantakan? Aku kecewa kepada Tuhan dan menjadi pahit hati kepada-Nya. Mengapa Dia harus mengambil semuanya dariku? Aku berulang kali mengatakan pada diriku bahwa Tuhan memegang kendali dan Dia tidak akan menyakitiku, tapi sekarang, aku begitu bergumul untuk mempercayai hal itu ketika semua yang aku lihat hanyalah hal-hal buruk yang terjadi dalam hidupku.

Suatu malam, aku bahkan bermimpi buruk dikejar oleh roh jahat. Ketika aku bertanya kepadanya mengapa dia mengejarku, roh jahat itu menjawab bahwa itu karena aku “lemah”. Aku melihat diriku berlari di dalam mimpi itu, ketakutan dan sendirian, sampai aku masuk ke dalam sebuah gereja untuk mencari perlindungan.

Suatu hari, aku menderita demam tinggi, batuk parah, dan sesak nafas saat terbangun dari tidurku. Semua gejala ini terus terjadi sepanjang minggu. Ketika aku pergi ke dokter, dokter memintaku untuk melakukan X-ray. Kemudian diketahuilah bahwa aku menderita pneumonia akut. Aku langsung diopname di rumah sakit dan diberikan pengobatan.

Malam itu, berbagai pertanyaan tentang kematian dan kehidupan berlarian di pikiranku: bagaimana jika aku tiba-tiba berhenti bernafas dan mati malam itu? Sudahkah aku memuliakan Tuhan dalam hidupku? Apakah Dia senang denganku? Ketika aku memikirkannya, aku berseru kepada Tuhan, mengakui kesalahan-kesalahanku dan kegagalan-kegagalanku. Saat itulah aku menyadari bahwa aku telah mengejar hal-hal yang salah selama ini. Yang kucari adalah kebahagiaan dalam karirku dan cinta yang diberikan oleh manusia, dan aku telah kehilangan sukacita dari mengikut Tuhan. Aku telah kehilangan arti sesungguhnya dari hidup—untuk mengikut Dia dan merindukan kehadiran-Nya.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar menginginkan kehadiran dan kasih Tuhan. Ketika aku berdoa, tiba-tiba aku merasakan sebuah kedamaian di dalam hatiku. Aku langsung tahu bahwa Tuhan hadir dalam ruangan itu bersamaku dan Dia mendengar semua tangisanku.

Setelah 3 hari di rumah sakit, dokter mengizinkanku untuk pulang. Aku pulang ke rumah beberapa hari kemudian dan diberikan 3 jenis obat yang berbeda untuk aku minum. Ketika aku kembali lagi untuk pemeriksaan X-ray yang terakhir, aku diberitahu bahwa aku telah sembuh. Pneumonia akut yang kuderita telah sirna! Aku tidak dapat mempercayainya. Tuhan telah mendengar doa-doaku dan menyembuhkanku sepenuhnya.

Aku bersyukur kepada Tuhan bukan hanya karena Dia telah menyembuhkan fisikku, tapi juga karena Dia memberikanku sebuah terobosan spiritual di tengah masa-masa sulit dalam hidupku. Aku merasa diperbarui dan diberikan kekuatan oleh kasih dan kebaikan-Nya di dalam hidupku. Aku belajar untuk mencari Dia, menginginkan Dia setiap hari, dan bersyukur bahkan di tengah masa-masa sulit kehidupan.

“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab,
Aku akan menyertai dia dalam kesesakan,
Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.
Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia,
dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”
(Mazmur 91:15-16)

Baca Juga:

Tuhan Akan Menuntun Kita Melalui Kabut Kehidupan

Janji Tuhan buat kita anak-anak-Nya bukanlah jalan yang mulus tanpa lobang ataupun kerikil. Janji Tuhan kepada kita adalah bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Pengetahuan dan Tindakan

Selasa, 31 Mei 2016

Pengetahuan dan Tindakan

Baca: Markus 10:17-27

10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

10:18 Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!”

10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”

10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah. —Markus 10:27

Pengetahuan dan Tindakan

Seorang filsuf Tiongkok, Han Feizi, memberikan komentarnya tentang kehidupan, “Mengetahui fakta itu mudah. Yang sulit adalah mengetahui bagaimana bertindak sesuai fakta itu.” Seorang pria kaya dengan masalah tersebut pernah datang kepada Yesus. Ia tahu betul hukum Musa dan yakin bahwa ia telah menaati semua perintah Allah sejak muda (Mrk. 10:20). Namun tampaknya ia penasaran apakah ada fakta-fakta lain yang dikemukakan Yesus. “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay.17).

Jawaban Yesus mengecewakan orang kaya itu. Yesus memerintahkannya untuk menjual segala miliknya, memberikan uang hasil penjualan itu kepada orang miskin, lalu mengikuti Dia (ay.21). Yesus menyingkapkan sebuah fakta yang tak ingin didengar orang itu. Pria kaya itu lebih mencintai dan mengandalkan kekayaannya daripada mempercayai Yesus. Perintah untuk melepaskan jaminan keuangannya dan menjadi pengikut Yesus itu dianggapnya sebagai risiko yang terlalu besar, maka ia pun pergi dengan sedih (ay.22).

Apa yang dimaksud oleh Sang Guru? Murid-murid-Nya sendiri gempar dan bertanya, “Siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus menjawab, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (ay.27). Yang dibutuhkan adalah keberanian dan iman. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10:9). —Poh Fang Chia

Ya Allah, terima kasih untuk kabar baik tentang Yesus. Beri kami keberanian untuk menindaklanjuti kebenaran yang kami ketahui, dan untuk menerima keselamatan yang Yesus berikan. Terima kasih karena Engkau memberi kami kekuatan untuk bertindak menuruti fakta yang ada.

Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat. —Kisah Para Rasul 16:31

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 13-14; Yohanes 12:1-26

Artikel Terkait:

Tsunami yang Mengubah Hidupku

Tsunami dahsyat di tahun 2004 adalah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan Kelty seumur hidup. Melalui peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya itu, Tuhan mengubahkan cara pandangnya tentang kehidupan.

Pujian dari Hati yang Tulus

Senin, 30 Mei 2016

Pujian dari Hati yang Tulus

Baca: Mazmur 51:9-19

51:9 Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:10 Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:11 Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

51:12 Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:13 Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:14 Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

51:15 Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

51:16 Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

51:17 Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

51:18 Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

51:19 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. —Mazmur 51:19

Pujian dari Hati yang Tulus

Dalam perjalanannya ke luar negeri, teman saya mendatangi suatu gereja untuk beribadah. Ia memperhatikan bahwa orang-orang yang memasuki ruang kebaktian segera berlutut dan berdoa dengan membelakangi mimbar yang terletak di bagian depan gereja. Teman saya menyadari bahwa jemaat gereja itu sedang mengakui dosa mereka kepada Allah sebelum mereka memulai kebaktian.

Bagi saya, tindakan yang menunjukkan kerendahan hati itu melukiskan perkataan Daud di Mazmur 51, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (ay.19). Daud sedang menggambarkan penyesalan dan pertobatannya sendiri atas dosa perzinahan yang diperbuatnya dengan Batsyeba. Penyesalan yang sungguh atas dosa terjadi ketika kita menerima pandangan Allah terhadap perbuatan kita— dengan memandang dosa sebagai sesuatu yang jelas-jelas salah, membencinya, dan tidak ingin lagi meneruskannya.

Ketika kita benar-benar menyesali dosa kita, Allah menerima kita kembali dengan penuh kasih. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). Pengampunan itu membuat kita merasa lega di hadapan-Nya dan menggugah kita untuk memuji nama-Nya. Setelah Daud bertobat, mengakui dosanya, dan diampuni Allah, ia merespons dengan mengatakan, “Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu” (Mzm. 51:17).

Kerendahan hati adalah respons yang tepat terhadap kekudusan Allah. Dan pujian merupakan respons hati kita terhadap pengampunan yang dianugerahkan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tidak membenarkan atau menyepelekan dosaku. Terimalah aku dalam kejatuhanku, dan jangan biarkan apa pun menghalangiku untuk memuji nama-Mu.

Pujian adalah lagu yang keluar dari jiwa yang telah dibebaskan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 10-12; Yohanes 11:30-57

Artikel Terkait:

Remukkanku ‘Tuk Memandang-Mu

Sebuah puisi indah yang menceritakan cara Tuhan menarik Ruth Lydia kembali untuk terus memandang kepada-Nya. Meski itu berarti dia harus diremukkan hingga ke titik yang paling rendah.

Angkatlah Tanganmu

Rabu, 1 Juli 2015

Angkatlah Tanganmu

Baca: Yohanes 4:7-15,28-30

4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.

4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

4:10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”

4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

4:28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:

4:29 “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”

4:30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. —Yohanes 3:17

Angkatlah Tanganmu

Paduan Suara St. Olaf dari Northfield, Minnesota, terkenal karena kemampuan mereka mengalunkan musik yang indah. Salah satu keunggulan mereka terletak pada proses seleksinya. Para penyanyi dipilih tak hanya berdasarkan kecakapan mereka bernyanyi, tetapi juga bagaimana suara mereka dapat berpadu menjadi satu kesatuan. Keunggulan yang lain terletak pada kesepakatan dari setiap anggotanya untuk menjadikan paduan suara sebagai prioritas utama mereka, dengan berkomitmen mengikuti jadwal latihan dan pertunjukan yang sangat ketat.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya pada paduan suara tersebut adalah sesuatu yang terjadi pada latihan mereka. Setiap kali salah satu dari mereka salah dalam bernyanyi, orang itu akan mengangkat tangannya. Mereka tidak berusaha menghindar dari kesalahan, tetapi justru mengakuinya. Dengan demikian, pemimpin paduan suara dapat membantu setiap penyanyi dalam mempelajari bagian yang sulit, sehingga kemampuan mereka untuk tampil dengan sempurna nantinya akan semakin baik.

Saya pikir itulah ciri komunitas yang sedang dibangun Yesus ketika memberitahukan kepada Nikodemus bahwa Allah mengutus Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (Yoh. 3:17). Tak lama setelah itu, Yesus bertemu seorang perempuan Samaria di sebuah sumur. Yesus menolong perempuan itu untuk mengakui kegagalannya dan menjanjikannya sebuah jalan hidup yang lebih baik saat perempuan itu menerima pengampunan dari-Nya (Yoh. 4).

Sebagai anggota tubuh Kristus di bumi ini, kita tak perlu takut mengakui kesalahan kita, melainkan menerimanya sebagai kesempatan untuk bersama-sama mengalami sukacita dalam pengampunan Allah. —Julie Ackerman Link

Tuhan, kami cenderung menyembunyikan dosa dan kesalahan kami. Kami rindu datang kepada-Mu dengan jujur, karena Engkau mengasihi dan mengampuni kami.

Kita tidak dapat meninggalkan dosa apabila kita belum menghadapinya.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 20–21; Kisah Para Rasul 10:24-48

Tidak Layak

Rabu, 5 November 2014

Tidak Layak

Baca: Kejadian 32:3-12

32:3 Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom.

32:4 Ia memerintahkan kepada mereka: "Beginilah kamu katakan kepada tuanku, kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai orang asing dan diam di situ selama ini.

32:5 Aku telah mempunyai lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat kasihmu."

32:6 Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan berkata: "Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan iapun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang."

32:7 Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan.

32:8 Sebab pikirnya: "Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput."

32:9 Kemudian berkatalah Yakub: "Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu–

32:10 sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan.

32:11 Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.

32:12 Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung."

Sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini. —Kejadian 32:10

Tidak Layak

Tidak seperti orang-orang yang meninggikan diri mereka, Yakub sadar bahwa hidupnya telah dirusak oleh dosa (Kej. 32:10). Ia memandang dirinya tidak layak untuk menerima kasih karunia Allah. Ia telah menipu kakaknya Esau untuk mendapatkan hak kesulungan (psl.27), dan sang kakak pun membencinya karena hal itu. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, Yakub harus kembali berhadapan dengan Esau.

Yakub berdoa, “Sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan . . . . Lepaskanlah kiranya aku” (Kej. 32:10-11).

Alangkah janggal melihat kedua frasa ini saling berdampingan: Aku tidak layak untuk menerima segala kasih-Mu . . . . Lepaskanlah aku! Namun Yakub dapat berdoa memohon belas kasihan Allah karena pengharapannya tidak digantungkan pada keadaan dirinya, tetapi pada janji Allah. Allah berjanji bahwa Dia berkenan kepada siapa saja yang merendahkan diri di hadapan- Nya. Kerendahan hati dan penyesalan merupakan kunci yang membuka pintu hati Allah. Seseorang berkata bahwa sikap hati yang terbaik untuk berdoa dimiliki ketika kita telah kehilangan segalanya. Pada saat itu, doa menjadi seruan yang keluar dari lubuk hati yang terdalam. Doa itu berasal dari jiwa yang menyadari kebobrokan dirinya.

Doa-doa seperti itu dipanjatkan oleh orang-orang yang sadar sepenuhnya akan dosa dan aib mereka, tetapi, pada saat yang sama, mereka juga diyakinkan akan anugerah Allah yang tercurah kepada manusia berdosa yang tidak layak menerimanya. Allah menyimak seruan mereka yang berdoa: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk. 18:13) —DHR

Ya Tuhan, aku ini seperti Yakub, yang membutuhkan belas kasih-Mu.
Aku telah berdosa kepada-Mu, dan kini kubersujud di kaki-Mu.
Terima kasih, Engkaulah Allah yang penuh belas kasih, yang selalu
siap dan sanggup untuk mengampuni dan memulihkanku.

Layaklah Allah yang agung mengampuni para pendosa besar.

Titik Balik

Jumat, 31 Agustus 2012

Titik Balik

Baca: Galatia 1:11-24

Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. —Galatia 1:23

Bill adalah seorang teman saya di seminari yang percaya kepada Kristus setelah meninggalkan gaya hidupnya yang penuh dosa. Ia menggambarkannya demikian: “Saya sedang mengendarai kendaraan di jalan sambil minum sebotol minuman keras dan ditemani oleh istri orang lain. Ketika melihat beberapa orang Kristen di trotoar yang sedang bersaksi tentang Kristus kepada pejalan kaki lainnya, saya mendekati mereka dan berteriak, ‘Orang bodoh!’ Namun beberapa minggu kemudian saya berlutut di sebuah gereja dan meminta Kristus untuk menjadi Tuhan dan Juruselamat saya.” Kelahiran baru yang dialami Bill ini membuatnya meninggalkan hidupnya yang lama dan menjalani hidup baru di dalam Kristus. Ini merupakan suatu titik balik yang mengubah total hidupnya.

Pertobatan sejati, yang berasal dari karya Roh Kudus, meliputi suatu titik balik yang sesungguhnya. Sering kita melihat bahwa semakin besar perlawanan seseorang terhadap Injil, semakin luar biasa perubahan hidup yang akan terjadi padanya setelah ia mengalami kelahiran barunya. Ketika Saulus dari Tarsus bertemu Kristus di jalan menuju Damaskus, ia diubahkan dari seorang penganiaya menjadi seorang pemberita Injil. Tentang hal ini, banyak orang yang mengamati: “Ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya” (Gal. 1:23).

Kelahiran baru yang sejati meliputi pertobatan, yang merupakan perubahan dari pemikiran dan arah hidup. Bagi seorang pengikut Kristus, pertobatan berarti terus-menerus menjauh dari dosa dan dalam ketaatan berbalik datang kepada Kristus. —HDF

Dari hidupku yang bercela,
Yesus, Tuhan, ‘ku datanglah;
Masuk ke dalam t’rang mulia,
Yesus, ‘ku datanglah. —Sleeper
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 010)

Pertobatan berarti Anda begitu menyesali dosa sehingga Anda rela meninggalkannya.