Posts

Jujur kepada Allah

Rabu, 3 Juli 2019

Jujur kepada Allah

Baca: Yesaya 1:12-18

1:12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?

1:13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.

1:14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.

1:15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

1:16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,

1:17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! —firman TUHAN—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan. —Mazmur 32:5

Jujur kepada Allah

Cucu saya yang berusia tiga tahun mengawali harinya dengan uring-uringan. Ia tidak bisa menemukan kaus kesayangannya. Sepatu yang ingin dipakainya terlalu panas. Ia jengkel dan marah-marah kepada neneknya, lalu duduk dan menangis.

“Mengapa kamu marah-marah begitu tadi?” tanya saya. Kami mengobrol selama beberapa saat dan setelah ia tenang, saya bertanya dengan lembut, “Baikkah sikap kamu kepada Nenek tadi?” Ia diam dan menunduk, lalu menjawab, “Aku jahat kepada Nenek. Aku minta maaf.”

Luluh hati saya. Ia tidak menyangkali perbuatannya dan bersikap jujur. Kemudian kami berdoa, memohon agar Tuhan Yesus mengampuni kesalahan kami dan menolong kami bersikap lebih baik.

Dalam Yesaya 1, Allah menegur umat-Nya karena kesalahan dan kejahatan yang telah mereka perbuat. Suap dan ketidakadilan merajalela di pengadilan. Anak-anak yatim piatu dan janda-janda diperalat demi mendapatkan keuntungan materi. Namun, pada saat seperti itu pun Allah memberi tanggapan yang penuh belas kasihan, dengan meminta orang-orang Yehuda mengakui apa yang telah mereka lakukan dan berbalik dari dosa-dosa mereka: “Marilah, baiklah kita berperkara! —firman Tuhan—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” (Yes. 1:18).

Allah rindu kita terbuka di hadapan-Nya tentang dosa-dosa kita. Dia menyikapi kejujuran dan pertobatan kita dengan pengampunan yang indah: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). Karena Allah kita penuh belas kasihan, awal yang baru pun menanti kita! —James Banks

WAWASAN
Nabi Yesaya—namanya berarti “Tuhan menyelamatkan”—memberi peringatan tentang penghakiman Allah yang akan datang kepada Yehuda yang tak mau bertobat (Yesaya 1-12) berupa pembuangan ke Babel (39:6-7). Ia berbicara tentang kasih karunia Allah (pasal 40-55) dan pemulihan yang akan datang bagi semua yang bertobat (pasal 11; 56-66). Dalam Yesaya 1, Allah memanggil umat-Nya untuk merenungkan dosa-dosa mereka dengan sungguh-sungguh (ay.2-15). Namun, Dia meyakinkan mereka bahwa meskipun mereka sudah berdosa dan penuh noda (ay. 18), Allah akan menyucikan, mengampuni, dan memberkati mereka bila mereka “menurut dan mau mendengar” (ay.19). Allah juga memperingatkan mereka tentang hukuman berat yang akan mereka terima bila tidak mau bertobat (ay.20). —K.T. Sim

Dosa-dosa apa yang belum kamu akui di hadapan Allah? Apa yang menghalangimu untuk mengakui semua itu kepada-Nya?

Abba, Bapa, tolonglah aku berpaling dari dosa dalam hidupku dan memulai awal yang baru dengan-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 25-27; Kisah Para Rasul 12

Handlettering oleh Marcella Liem

Siapakah Itu?

Sabtu, 20 April 2019

Siapakah Itu?

Baca: 2 Samuel 12:1-14

12:1 TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.

12:2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;

12:3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.

12:4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.”

12:5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.

12:6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.”

12:7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.

12:8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.

12:9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.

12:10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

12:11 Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.

12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.”

12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

12:14 Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.”

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Natan berkata kepada Daud: “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu.” —2 Samuel 12:13

Siapakah Itu?

Ketika seorang pria memasang kamera pengawas di luar rumahnya, ia memeriksa fitur video untuk memastikan sistemnya berfungsi dengan baik. Namun, ia kaget melihat sosok seorang laki-laki berdada bidang dan berbaju warna gelap berkeliaran di halaman rumahnya. Ia memperhatikan lebih jauh apa yang hendak dilakukan lelaki itu. Akan tetapi, ia merasa mengenal orang tersebut. Barulah ia tersadar bahwa yang diperhatikannya bukanlah video orang tak dikenal, melainkan rekaman dirinya sendiri!

Apa yang akan kita lihat jika kita bisa keluar dari tubuh kita dan mengamati diri kita sendiri dalam situasi tertentu? Ketika hati Daud mengeras dan ia memerlukan sudut pandang yang lain—suatu sudut pandang ilahi—tentang perselingkuhannya dengan Batsyeba, Allah mengirimkan Nabi Natan kepadanya (2Sam. 12).

Nabi Natan bercerita kepada Daud tentang seorang kaya yang merebut satu-satunya anak domba milik seorang miskin. Meskipun orang kaya tersebut mempunyai ternak yang banyak, ia menyembelih satu-satunya anak domba milik orang miskin tersebut dan membuatnya menjadi makanan. Ketika Natan mengungkapkan bahwa cerita tersebut menggambarkan apa yang Daud lakukan, Daud pun sadar ia telah mencelakakan Uria. Natan menjelaskan konsekuensi yang harus diterima Daud, tetapi yang lebih penting ia meyakinkan Daud, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu” (ay.13).

Ketika Tuhan menyingkapkan dosa kita, tujuan utama-Nya bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan dan menolong kita agar berdamai dengan mereka yang telah kita sakiti. Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kuasa pengampunan dan anugerah-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN

Teguran nabi Natan atas perzinahan Daud, konspirasi pembunuhan, dan usaha untuk menutupinya yang tercatat dalam 2 Samuel 12 bisa saja dirahasiakan oleh para sejarawan Israel. Namun, catatan kejahatan Daud tetap ada dalam Alkitab kita sebagai bukti bahwa Alkitab dapat dipercaya, tidak menyembunyikan kegagalan moral para pahlawannya, sekaligus tetap meyakinkan kita bahwa Allah senantiasa siap mengampuni sekalipun konsekuensi dosa tetap ada. —Mart DeHaan

Dosa-dosa apa yang perlu Anda bawa hari ini kepada Tuhan dalam pertobatan? Bagaimana anugerah-Nya mendorong Anda untuk tulus datang kepada-Nya?

Tuhan, tolonglah aku untuk dapat memandang hidupku sebagaimana Engkau melihatnya agar aku makin mengalami indahnya anugerah-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 9–11; Lukas 15:11-32

Handlettering oleh Claudia Rachel

Rabu Abu, Momen untuk Kita Berbalik dari Dosa

Oleh Sukma Sari Dewi Budiarti, Jakarta
Ilustrasi oleh: Betsymorla Arifin (@betsymorla)

Tahun 2019 telah memasuki bulan ketiga dan tidak terasa bulan depan kita akan bersama-sama merayakan Jumat Agung dan Paskah. Namun, sebelum hari besar itu diperingati, hari ini kita mengawalinya dengan Rabu Abu.

Terlepas dari gerejamu melaksanakan atau tidak, artikel ini kutulis bukan untuk memperdebatkannya, melainkan untuk memberikan pengetahuan kepada teman-teman tentang keberagaman tradisi Kristen yang kaya dan perlu kita syukuri.

Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga Katolik. Aku pun mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA di sekolah Katolik. Aku menemukan beberapa tradisi yang berbeda dari teman-temanku yang Protestan, salah satunya adalah hari Rabu Abu yang diperingati sebagai awal dari masa prapaskah. Meski begitu, ada juga beberapa denominasi dari gereja Protestan yang turut memperingati dan melaksanakan ibadah Rabu Abu.

Di dalam liturgi gerejawi, Rabu Abu menandai dimulainya masa prapaskah yang berjarak 40 hari sebelum Paskah. Kita akan diberi torehan abu di dahi kita sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita perbuat (Yunus 3:6). Abu yang digunakan tentu bukan abu gosok untuk mencuci piring, tapi berasal dari daun palma dari perayaan Minggu Palma setahun lalu yang kemudian dibakar dan abunya digunakan pada ibadah Rabu Abu.

Sekilas mengenai Rabu Abu

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari masa Perjanjian Lama di mana abu digunakan sebagai lambang atas perkabungan, ketidakabadian, penyesalan, dan juga pertobatan. Orang yang menyesali dosanya kemudian menaburkan abu di atas kepalanya, atau di seluruh tubuhnya (Ester 4:1,3). Di masa kini, terkhusus di gerejaku, abu tersebut diberikan oleh imam atau prodiakon bagi umat yang berusia 18-59 tahun. Sambil abu ditorehkan, mereka akan berkata, “Bertobatlah dan percaya kepada Injil” atau “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu”.

Melihat kembali ke perjalanan sejarah Kekristenan, gereja perdana juga menggunakan abu sebagai simbol perkabungan dan memohon pengampunan. Pada masa itu, mereka yang mengakui pertobatan di hadapan umum akan dikenakan abu di kepala mereka. Agak berbeda dengan abad-abad pertama, gereja di abad pertengahan menggunakan abu untuk mereka yang akan menghadapi ajal. Mereka dibaringkan di atas kain kabung dan diperciki abu sambil imam mengatakan, “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Meski begitu, makna abu tetap sama, yaitu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian, dan pertobatan.

Ritual Rabu Abu sendiri ditemukan dalam manuskrip Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad ke-delapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric berkhotbah demikian, “Kita membaca di kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru bahwa orang-orang yang bertobat dari dosanya menaburi diri mereka dengan abu dan membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada masa awal prapaskah. Kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama masa prapaskah.”

Di gerejaku, bagi umat percaya yang mengikuti ibadah Rabu Abu diwajibkan untuk menjalani puasa dan pantang selama 40 hari. Puasa yang dimaksudkan di sini adalah makan satu kali kenyang. Saat umat menjalani puasa dan pantang selama 40 hari, biasanya tiap wilayah di satu gereja akan diberikan satu amplop pada masing-masing keluarga. Amplop yang biasa disebut amplop APP (Aksi Puasa Pembangunan) ni diisi dengan uang yang nantinya digunakan gereja untuk menolong sesama yang membutuhkan. Untukku sendiri, biasanya salah satu pantangan yang kulakukan adalah tidak jajan. Uang jajanku itulah yang nanti kumasukkan ke dalam amplop ini.

Sahabatku, terlepas dari ada tidaknya tradisi Rabu Abu dalam gereja kita, sudah seharusnya kita menghidupi hidup yang senantiasa mawas diri. Kita menyadari bahwa kita adalah ciptaan dari Sang Pencipta, sadar bahwa diri kita adalah manusia berdosa, dan hidup yang kita hidupi saat ini adalah kesempatan yang begitu berharga, karena Tuhan Yesus telah menebus kita dengan harga yang teramat mahal.

Kiranya setiap hari di dalam hidup kita, tidak hanya dalam masa Prapaskah ini, kita senantiasa menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan dan oleh anugerah Kristus kita berjuang untuk menjaga kekudusan, mengasihi sesama, dan juga tidak mementingkan diri sendiri.

Selamat memasuki masa Prapaskah!

Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Diam dan Tenang: Senjata Ampuh yang Mengalahkan Kekhawatiran

Aku berusaha menguatkan diriku untuk tidak khawatir. Tapi, apakah benar aku sungguh berusaha untuk tidak khawatir? Atau, aku cuma mengabaikannya saja?

Bukan Soal Ikan

Rabu, 26 September 2018

Bukan Soal Ikan

Baca: Yunus 3:10-4:4

3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

4:1 Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.

4:2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.

4:3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

4:4 Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah. —Yunus 3:10

Bukan Soal Ikan

Migaloo adalah ikan paus bungkuk albino pertama yang pernah didokumentasikan dan pernah terlihat beberapa kali di lepas pantai Queensland Selatan, Australia. Makhluk mengagumkan yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 12 m itu adalah makhluk yang sangat langka sampai-sampai Australia menerbitkan undang-undang khusus untuk melindunginya.

Alkitab menceritakan kepada kita tentang seekor “ikan besar” yang sangat langka sampai-sampai Allah harus menyiapkannya khusus untuk menelan seorang nabi yang melarikan diri (Yun. 1:17). Allah mau Yunus menyampaikan pesan penghakiman kepada Niniwe. Namun, Yunus tidak mau berurusan dengan orang Niniwe yang terkenal kejam kepada semua orang, termasuk orang Ibrani. Jadi, Yunus melarikan diri. Keadaan pun memburuk. Di dalam perut ikan, Yunus menyesal. Akhirnya ia mau berkhotbah kepada bangsa Niniwe dan mereka pun bertobat (3:5-10).

Cerita yang bagus, bukan? Namun, itu belum berakhir. Saat Niniwe bertobat, Yunus kesal. “Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu?” doa Yunus. “Sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (4:2). Meski telah diselamatkan dari maut, kemarahan Yunus yang penuh dosa itu memuncak sampai ia memohon Allah mencabut saja nyawanya (ay.3).

Cerita Yunus bukanlah soal ikan besar, melainkan soal natur manusiawi kita dan natur Allah yang mencari kita. “[Tuhan] sabar terhadap kamu,” tulis Rasul Petrus, “supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2Ptr. 3:9). Allah memberikan kasih-Nya kepada orang Niniwe yang kejam, kepada seorang nabi yang kesal, kepada kamu dan saya. —Tim Gustafson

Bapa, kami cenderung melihat apa yang “pantas” diterima orang lain dan lupa bahwa kami membutuhkan kasih-Mu sama seperti mereka. Tolonglah kami hidup dalam kasih-Mu dan menceritakan kasih itu kepada sesama.

Kasih kita terbatas, tetapi kasih Tuhan tidak.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 1-2; Galatia 5

Seni Mengampuni

Jumat, 20 April 2018

Seni Mengampuni

Baca: Lukas 15:11-24

15:11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. —Lukas 15:20

Seni Mengampuni

Suatu sore saya menghabiskan waktu dua jam menikmati pameran seni yang berjudul The Father & His Two Sons: The Art of Forgiveness (Bapa & Dua Putranya: Seni Mengampuni). Semua karya seni yang terpajang di sana berfokus pada perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-31). Kesan paling kuat saya dapatkan dari lukisan karya Edward Riojas, The Prodigal Son (Anak yang Hilang). Lukisan itu menggambar-kan anak yang hilang itu pulang, memakai baju yang compang-camping, dan berjalan dengan kepala tertunduk. Dengan dunia kematian di belakangnya, anak itu menapaki setapak jalan yang sama dengan yang dilalui sang ayah yang sudah berlari ke arahnya. Di bagian bawah lukisan itu, terdapat perkataan Yesus, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (ay.20).

Saya sangat tersentuh dan menyadari kembali bagaimana kasih Allah yang tidak berubah telah mengubah hidup saya. Ketika saya menjauh dari-Nya, Dia tidak mengabaikan saya. Dia terus melihat, memperhatikan, dan menanti. Kasih-Nya tidak layak kita terima, meski demikian, kasih itu tidak pernah berubah; kasih-Nya sering kita abaikan, tetapi tidak pernah ditarik-Nya kembali.

Kita semua telah berdosa, tetapi Bapa Surgawi mengulurkan tangan-Nya untuk menyambut kita, sama seperti bapa dalam perumpamaan ini merangkul anaknya yang hilang. “Marilah kita makan dan bersukacita,” kata sang bapa kepada hamba-hambanya. “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (ay.23-24).

Tuhan masih bersukacita atas orang-orang yang datang kembali kepada-Nya hari ini—dan itu layak untuk dirayakan! —David C. McCasland

Bapa, karena kami telah menerima kasih dan pengampunan-Mu, kiranya kami juga dapat meneruskan kasih itu kepada orang lain dalam nama-Mu.

Kasih Allah tidak layak kita terima, meski demikian, kasih itu tak pernah berubah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 9-11; Lukas 15:11-32

Ketika Pacarku Menjeratku ke dalam Dosa Percabulan

Oleh Renata*

Aku adalah mahasiswi berusia 21 tahun. Kisah ini bermula 3 tahun lalu saat aku berkenalan dengan seorang pria di semester kedua kuliahku. Pertemuan pertama kami terjadi di sebuah kepanitiaan. Waktu itu aku baru menyadari bahwa ternyata dia adalah teman seangkatanku, satu jurusan, dan juga sesama orang Kristen.

Semenjak pertemuan itu, setelah tiga minggu berselang kami sangat sering berkomunikasi hingga tumbuh rasa ketertarikan di dalam hati. Kami bercerita tentang masa lalu kami masing-masing dan apa yang menjadi harapan kami ke depannya. Walau usia pertemanan kami baru sebentar, tapi aku merasa sudah mengenalnya dengan begitu baik, bahkan merasa cocok dengannya. Akhirnya, dari proses yang singkat ini kami berdua memutuskan untuk menjalani hubungan yang serius, yaitu berpacaran.

Pada awal hubungan pacaran, aku merasa sangat senang. Pacarku adalah sosok pria yang romantis. Dia sering memberiku bunga, kejutan-kejutan kecil, mengantarkanku pulang, mengajakku jalan-jalan, mendengarkan setiap ceritaku, dan rela mengorbankan apapun untukku, termasuk waktunya. Setiap hari kami selalu bertemu di kelas, dan sepulang kuliah pun masih pergi makan bersama. Selain itu, kurasa kami berdua juga memiliki tipe kepribadian yang sama, sehingga kami merasa sangat cocok dan nyambung dari segi pemikiran dan pembicaraan.

Hubungan pacaran ini membuatku bahagia. Apalagi dia sering mengingatkanku untuk terus membawa hubungan kami ke dalam doa. Ketika bertemu, kami tak lupa untuk berdoa bersama. Kami membeli buku saat teduh bersama, dan beberapa kali beribadah bersama-sama di gereja.

Namun, hubungan yang pada mulanya terasa begitu baik dan membangun tersebut mulai berubah saat menginjak bulan keempat. Pacarku mulai menunjukkan bahwa dia menyukai sentuhan-sentuhan fisik. Pada awalnya, aku merasa sangat risih karena aku ingin memberikan batasan-batasan dalam berhubungan. Tapi, tidak berhenti di situ, dia mulai mengajakku untuk singgah ke tempat kosnya. Aku menolak ajakannya karena aku ingat pesan ibuku untuk tidak main ke kamar kos lawan jenis.

Pacarku memahami penolakanku, sehingga setiap kali tiba di depan kosnya, dia memintaku untuk menunggu saja di dalam mobil sementara dia masuk untuk mengambil barang. Tapi, lama-lama dia membujukku untuk menunggu di dalam saja. Lalu, dia juga mengajakku untuk belajar dan mengerjakan tugas bersama di kosnya. Aku pun menerima bujukan itu dan merasa tidak ada yang salah dengan ajakan belajar bersama. Tapi, suatu ketika dia melakukan hal yang tidak pantas. Dia melecehkanku dengan melakukan sentuhan-sentuhan fisik di tubuhku sehingga kami pun bertengkar hebat dan aku sangat marah. Setelah kejadian itu, dia meminta maaf dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali. Tapi, janji tersebut hanya sebatas ucapan. Setiap kali kami bertemu, dia selalu berusaha melampiaskan nafsunya kepadaku. Entah mengapa, mudah sekali bagi dia untuk membuatku luluh hingga akhirnya aku pun menuruti kemauannya.

Aku sadar bahwa tindakan yang kami lakukan adalah dosa percabulan. Tapi, pacarku selalu memaksaku karena dia menganggap bahwa hal tersebut tidaklah masalah karena kami tidak sampai melakukan hubungan badan. Hubungan pacaran kami pun mulai dipenuhi pertengkaran. Bahkan, masalah sepele pun sering menjadi besar. Ketika pertengkaran terjadi, aku sering memintanya untuk berhenti memaksaku melakukan dosa percabulan ini. Tapi, dia tidak pernah menggubrisnya. Ketika aku tidak menuruti kemauannya, dia malah akan balik marah kepadaku.

Di tengah rasa frustrasiku dalam hubungan pacaran ini, aku tidak berani menceritakan persoalan ini kepada siapapun. Aku takut jika aku bercerita ke orang lain, maka cerita ini akan tersebar. Aku merasa malu dan jijik dengan diriku sendiri. Selama dua tahun aku menjalani hubungan pacaran yang tidak sehat. Di satu sisi aku tahu bahwa pacarku itu mencintaiku. Tapi, mengapa dia tidak bisa menyayangiku dengan tulus? Mengapa dia membawaku ke dalam hal-hal percabulan? Dia sering mengajakku pergi, membuatku bahagia, tapi mengapa ujung-ujungnya dia mengharapkan imbalan dariku untuk memuaskan hawa nafusnya? Apakah Tuhan berkenan jika hubungan kami seperti ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terngiang di benakku. Jika dulu kami memulai hubungan ini dengan relasi yang membangun, sekarang dosa percabulan justru menghancurkan hubungan kami. Kami tidak lagi mengindahkan Tuhan, malahan semakin menjauh dari-Nya. Sampai di sini, aku pun mengambil keputusan untuk menyudahi saja hubungan pacaran kami. Aku menjadi sangat cuek kepada pacarku dan beberapa kali mengajaknya putus. Tetapi, dia bersikukuh untuk mempertahankan hubungan ini. Hingga pada suatu momen, aku pun pergi meninggalkannya tanpa mengabarinya. Aku merasa lega bisa terbebas dari hubungan ini. Tapi, tiga minggu berselang, aku malah merindukannya kembali. Dan, tanpa bertanya terlebih dulu kepada Tuhan, aku pun segera menghubunginya kembali dan memohon maaf karena aku telah meninggalkannya. Namun, saat itu dia sudah tidak memberiku kesempatan lagi.

Saat itu aku merasa sangat hancur. Aku merasa tidak ada lagi sosok yang dapat menggantikannya. Malahan, aku jadi merasa bersalah karena menganggap dirikulah yang menjadi penyebab kehancuran hubungan ini. Kupikir akulah yang selama ini tidak menjadi pasangan yang baik baginya. Karena rasa kehilangan inilah, aku mengejar-ngejar bahkan mengemis-ngemis supaya dia mau kembali denganku. Namun, dia tidak mau. Bahkan, dia tidak menyesal atas segala dosa percabulan yang telah kami lakukan dan dengan segera dia berpaling kepada perempuan lain.

Di awal masa putus ini, dalam doaku aku memohon pada Tuhan jika mantan pacarku adalah yang terbaik untukku, maka dia akan kembali padaku. Tapi, jika tidak, aku berdoa supaya aku bisa melupakannya. Hari-hariku pun kulalui tanpa semangat dan sering menangis jika mengingat mantan pacarku, padahal dulu aku adalah seorang yang cerita dan tidak pernah menunjukkan kesedihan di depan orang lain.

Sampai suatu ketika, aku tidak bisa tidur semalaman, dan aku merasa Tuhan seperti memanggilku untuk berdoa. Di titik ini aku menyerah dan tersadar bahwa selama ini aku telah melupakan Tuhan tanpa kerinduan sungguh-sungguh untuk kembali pada-Nya. Aku memang berdoa. Tapi, alih-alih berdoa memohon ampun atas segala dosa yang telah kami lakukan saat berpacaran, aku hanya berdoa memohon supaya aku dapat melupakan mantan pacarku. Hari itu aku menangis kepada Tuhan. Aku memohon ampun kepada-Nya atas segala dosa yang telah aku perbuat.

Di saat aku bertekuk lutut dan berserah penuh kepada Tuhan, Dia tidak tinggal diam. Saat itu aku merasakan kelegaan yang sangat mendalam. Seperti pemazmur yang mengatakan, “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:9), aku merasakan kedamaian di hatiku, hingga akhirnya dengan penuh keyakinan aku berani berkomitmen bahwa sejak saat itu aku akan berjuang sepenuh hati untuk lepas dari dosa percabulan.

Selama masa pemulihan dari segala dosa dan trauma yang melingkupiku, Tuhan membalut luka-luka hatiku. Melalui berbagai materi firman Tuhan yang kudapat lewat Alkitab, artikel, dan media sosial, aku selalu dimotivasi untuk tidak lagi menyimpan segala luka dan dosa yang pernah kulakukan pada masa lalu. Selain itu, setelah aku berani terbuka kepada keluarga dan teman-temanku, mereka pun mendukungku. Jika saat berpacaran dahulu aku jarang sekali memiliki waktu bersama teman-temanku, sekarang malah mereka memberikan waktu mereka untuk hadir, menemaniku, dan memberiku dorongan semangat. Mereka menyadarkanku bahwa mantan pacarku bukanlah orang yang terbaik untukku.

Melalui peristiwa ini, aku belajar bahwa untuk dapat move-on, hal yang tidak sepantasnya dilakukan adalah mendoakan hal buruk dan berusaha untuk balas dendam terhadap orang yang telah menyakiti kita. Seperti firman yang Yesus ucapkan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44), aku menjadikan masa laluku sebagai pembelajaran dan aku pun belajar berdoa supaya mantan pacarku dapat berubah menjadi pribadi yang lebih positif. Aku berdoa supaya ketika dia menjalin hubungan dengan pacar barunya, mereka dapat membangun relasi yang positif dan tidak mengulangi kesalahan seperti pada hubungan kami yang dulu.

Ketika Tuhan mengampuniku, aku pun dimampukan untuk mengampuni mantan pacarku dan mengikhlaskannya sebagai bagian dari masa laluku. Sekarang, aku tidak lagi merasa sedih atau galau setiap kali mengingatnya ataupun melihat dia bersama pacar barunya. Melalui peristiwa ini aku melihat bahwa Allah begitu baik kepadaku. Dia menghiburku, juga melindungiku. Dan, terkadang, Dia pun menegurku dengan teguran yang keras.

Saat ini aku berfokus untuk membina relasi yang intim dengan Tuhan, keluarga, dan juga teman-temanku. Selain itu, aku juga berusaha menyelesaikan kuliahku dan mempersiapkan rencana karierku di masa depan. Aku percaya bahwa Tuhan sangat menyayangiku dan tak peduli seberapa kelam masa laluku, Tuhan mempersiapkan masa depan yang baik untukku, sebagaimana firman-Nya yang berkata bahwa rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11).

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).

*bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Dia Melengkapiku (adalah sebuah kebohongan)

Apa yang terlintas di benakmu ketika berbicara tentang jodoh dan pasangan hidup? Mungkin kamu akan berpikir tentang belahan jiwa. Sebagai seorang pemuda yang pernah bergumul dengan depresi dan pencarian pasangan hidup, inilah sekelumit pandangan tentang hubungan cinta yang perlu kamu ketahui.

Ketika Keraguan akan Imanku Membawaku pada Yesus

Oleh Ananda Utami*

Aku dilahirkan di keluarga bukan Kristen yang cukup taat beribadah. Bahkan, kedua orangtuaku pernah menyekolahkanku di sebuah sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Teman-temanku di sekolah juga mengenalku sebagai anak yang baik dan saleh. Mereka merasa kalau aku selalu mengajar dan mengingatkan mereka untuk menjadi semakin baik.

Ketika duduk di bangku SMA, tepatnya sejak kelas X, aku memiliki beberapa sahabat karib. Bersama mereka, kami melakukan banyak hal. Kami bertukar kado di hari ulang tahun, pergi ke bioskop, ataupun sekadar jalan-jalan sepulang sekolah. Walaupun di kelas XI dan XII kami tidak berada di satu kelas, tapi kami selalu menyempatkan diri untuk saling bertemu. Hingga masing-masing kami terpencar di berbagai universitas yang berbeda kota, bahkan berbeda negara, hubungan persahabatan kami pun masih tetap erat.

Ketika aku mulai meragukan imanku

Saat duduk di bangku SMP, aku mulai tertarik untuk belajar tentang agama-agama lain di luar agamaku, mencari-cari kesalahannya supaya aku makin yakin bahwa agamakulah satu-satunya yang benar. Tak hanya membaca buku, aku pun rajin menonton debat-debat keagamaan di Youtube. Hal ini membuatku menganggap bahwa agamakulah yang paling benar sedangkan yang lain semuanya tidak masuk akal.

Menjelang kelulusan SMA, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, jadi aku tak perlu lagi mengikuti SBMPTN sebagaimana yang banyak temanku lakukan. Alih-alih bingung dan gelisah akan kuliah atau bagaimana hidupku nanti di tempat yang baru, aku digelisahkan Tuhan mengenai imanku. Ada pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dalam pikiranku. “Jika aku tidak dilahirkan dalam keluarga yang beragama X ini, apakah aku akan tetap memilih untuk menjadi seperti ini? Apakah aku akan setaat ini? Apakah aku akan menemukan jalan kebenaran?” Pada saat itu aku menepis kegelisahan ini dan menganggap bahwa agamaku yang paling benar.

Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan ini tidak hilang, melainkan semakin membuatku penasaran untuk mencari jawabannya. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang temanku yang Kristen dan bertanya, “Kenapa kamu Kristen kalau bukan karena dari lahir? Bukannya semua agama mengklaim bahwa mereka yang paling benar? Aku dan kamu tidak hidup di masa lalu dan setiap kitab menjamin kebenarannya masing-masing, bagaimana kamu tahu kalau agamamu yang benar?”

Temanku mengajakku bertemu di suatu tempat dan di sana dia menjawab tiap-tiap pertanyaanku dengan rinci. Dia bercerita tentang keselamatan, bagaimana manusia terjatuh ke dalam dosa, dan janji Allah akan kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia. Walaupun sudah mendapatkan penjelasan, aku masih tetap tidak percaya dan kupikir kalau aku hanya buang-buang waktu saja bertemu dengannya. Lalu aku berkata, “Kalau di agamaku, kitabmulah yang salah. Bukan Yesus yang disalib!” Sekeras apa pun aku menyanggah, temanku tetap bersedia menjawabku dengan tenang dan rinci.

Suatu ketika, temanku itu memberitahu kepada kakak rohaninya tentang aku, kemudian dia menyarankanku untuk membaca sebuah buku yang ditulis oleh Nabeel Qureshi, seorang yang pada awalnya bukan Kristen namun diberi anugerah untuk mengenal dan menerima Yesus. Melalui beberapa mimpi, Nabeel mendapatkan konfirmasi bahwa Tuhan Yesus adalah benar. Awalnya aku menolak untuk membacanya, menganggap mimpi-mimpi itu konyol, dan memang aku sendiri tidak suka dengan kesaksian dari orang-orang. Menurutku semua kesaksian itu sama saja dan tidak akan mempengaruhiku.

Namun, entah mengapa, aku tergerak membaca buku itu. Dengan istilah-istilah bahasa Inggris yang benar-benar baru kutemui, seharusnya aku malas untuk membacanya sampai tuntas. Tapi, aku justru sanggup membacanya sampai selesai. Buku itu memberitahuku bahwa penyaliban Yesus bukanlah peristiwa yang terjadi sekejap mata, apalagi fiktif. Ada banyak saksi dan orang-orang yang terlibat. Alangkah anehnya kalau peristiwa yang melibatkan banyak orang dan saksi ini hanyalah sebuah cerita palsu. Tapi, sekali lagi aku berusaha menepis pandangan ini dan meyakinkan diriku bahwa Kekristenan itu tidak benar.

Ketika Tuhan mengetuk pintu hatiku

Beberapa hari setelah membaca buku itu, beberapa kali aku bermimpi dan pikiranku sangat terganggu. Aku bertanya-tanya. Apakah mimpi itu hanya sekadar euforia setelah membaca buku atau benar-benar tanda dari Tuhan? Dalam salah satu mimpiku, aku melihat diriku sedang dimarahi ibuku karena keputusanku mengikut Yesus. Rasanya begitu menyeramkan.

Aku lalu memberanikan diri untuk bercerita ke temanku yang lain. Tak kusangka, dia malah bercerita tentang orang Farisi yang beribadah dengan tujuan “menyogok” Tuhan. Orang-orang Farisi melakukan ritual dengan anggapan supaya mereka selamat. Mendengar hal ini, aku tertegun. Selama ini aku merasa seperti orang Farisi yang tahu banyak tentang agama dan mempraktikkan ritual supaya aku bisa diselamatkan dan mendapat tempat spesial di mata Tuhan. Aku menjadi sedih dan pikiranku tidak karuan.

Malam itu aku menangis dan berdoa, meminta kepada Tuhan, siapapun Tuhannya. Aku meminta supaya Dia menunjukkan kebenaran kepadaku. Lalu, aku membuka sebuah buku saat teduh pemberian temanku dan di sana tertulis sebuah ayat dari Mazmur 46:11 yang berbunyi:

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

Membaca ayat itu membuatku merinding, takut, dan terkejut, seolah Tuhan benar-benar bicara langsung kepadaku. Saat itu, aku memutuskan untuk mempercayai-Nya, walau keesokan harinya aku kembali ragu apakah ini benar-benar jalan yang kupilih. Apakah Tuhan yang kupilih malam itu adalah Tuhan yang benar? Dan lagi, Tuhan menjawabku melalui bahan saat teduh hari itu. Di sana tertulis firman Tuhan dari Yohanes 15:16 yang berbunyi:

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Aku kembali terkejut. Aku merasa bahwa Tuhan benar-benar menjawab keraguanku dan karenanya aku memilih untuk taat. Setelah serangkaian peristiwa panjang di mana aku meragukan iman yang selama ini kupercayai, akhirnya setelah lulus dari SMA aku memantapkan diriku untuk menerima Yesus. Aku menemukan kebenaran dan kedamaian di dalam Yesus Kristus. Aku tahu bahwa keputusan ini akan melahirkan tantangan yang harus kuhadapi, baik dari orangtua, teman, dan lingkunganku. Namun, aku memberanikan diri dan percaya bahwa Tuhan Yesus bersamaku.

Ketika aku harus kehilangan sahabat-sahabat sebagai konsekuensi dari mengikut Yesus

Selama beberapa waktu, aku merahasiakan keputusanku dari semua orang, termasuk para sahabatku. Walau sebenarnya aku ingin memberi tahu mereka, tapi aku takut dan ketika aku menggumuli hal ini bersama Tuhan, Dia menjawabku bahwa belum saatnya aku membuka diri tentang identitasku yang baru. Jadi, aku sempat berpikir bahwa jika aku masih berada di identitasku yang lama, akan lebih mudah bagiku untuk memasukkan pemahaman-pemahaman Kristen kepada sahabat-sahabatku, supaya ketika nanti aku membuka diriku, mereka tidak terlalu terkejut.

Aku pun semakin giat “meninggalkan jejak” atau “sinyal” bagi mereka mengenai imanku yang baru dengan cara membuat postingan-postingan rohani dengan sedikit modifikasi. Sebagai contoh, aku sering mengunggah lirik-lirik lagu rohani dan kutipan-kutipan Alkitab tanpa mencantumkan sumbernya. Dengan begitu, aku berharap ketika aku memberi tahu mereka tentang imanku, mereka tidak akan terlalu terkejut. Hal ini berlangsung selama satu setengah tahun.

Setelah kudoakan dengan sungguh-sungguh, aku memutuskan untuk memberi tahu mereka tentang imanku. Aku sudah menduga mereka akan sedih ketika mengetahuinya, namun aku tetap memberitahu mereka karena aku tahu hal ini tidak mungkin dirahasiakan selamanya dan mereka harus tahu karena mereka sahabatku. Mereka terkejut dan tidak pernah menyangka bahwa aku akan menjadi seperti ini. Mereka kira tiap-tiap postinganku di media sosial itu hanya hal biasa, sekadar rasa ingin tahuku tentang Kekristenan, tidak lebih dari itu. Aku merasa lega karena telah berbicara jujur pada sahabat-sahabatku, dan kupikir mereka pun tidak akan meninggalkanku karena kita adalah sahabat karib.

Namun, prediksiku salah total. Keesokan harinya, salah seorang dari mereka mengirimi aku pesan. Dia mengungkapkan rasa marah, kecewa, dan sedihnya kepadaku. Dia merasa kalau aku telah mengkhianatinya karena aku merahasiakan hal ini darinya. Hal ini membuatku terpukul dan hancur. Dan ketika aku bertanya kepada sahabat-sahabatku yang lain, mereka pun mengungkapkan perasaan yang serupa. Hari-hari selanjutnya mereka sering melontarkanku banyak pertanyaan tentang iman Kristenku, tapi bukan karena ingin tahu, mereka berusaha untuk menarikku kembali ke imanku yang semula. Usaha mereka gagal karena aku telah mantap beriman pada Yesus, dan sejak saat itu mereka menjauhiku dan aku kehilangan sahabat-sahabatku.

Aku merasa sedih dan sangat kehilangan. Tapi, aku tetap mendoakan mereka dan aku bersyukur karena Tuhan memberikan sahabat-sahabat baru untukku melalui persekutuan-persekutuan yang aku ikuti. Apa yang kuhadapi hari ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari apa yang kelak akan kuhadapi di masa depan, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Yesus yang dikucilkan orang-orang, bahkan sampai disangkal oleh Petrus, murid-Nya sendiri.

Aku tidak tahu bagaimana respons keluargaku nanti apabila mereka mengetahui tentang imanku. Namun, aku percaya bahwa apapun yang terjadi kelak, Tuhan tidak pernah meninggalkanku, seperti sebuah lagu yang berjudul “What A Friend We Have In Jesus” yang liriknya berkata:

Have we trials and temptations?
Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged
Take it to the Lord in prayer.
Can we find a friend so faithful,
Who will all our sorrows share?
Jesus knows our every weakness;
Take it to the Lord in prayer.

Atau dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya:

Adakah kesulitan dan pencobaan?
Adakah masalah melanda?
Jangan pernah berputus asa
Naikkan doa pada Tuhan.

Adakah teman yang begitu setia,
Yang bersedia berbagi kesedihan kita?
Yesus tahu setiap kelemahan kita;
Naikkan doa pada-Nya.

Mungkin aku telah kehilangan sahabat-sahabat karib yang begitu kukasihi, namun sesungguhnya ada Tuhan Yesus, sahabat sejati yang tidak pernah meninggalkanku, apapun keadaannya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Sebuah Pelajaran dari Bapak Penjual Sandal

Apa yang akan kamu lakukan ketika ada seseorang yang meminta kepadamu? Sederhananya, ada dua jawaban yang mungkin aku atau kamu akan berikan, yaitu memberi atau menolak. Namun, ada sebuah peristiwa di mana seorang bapak penjual sandal memberiku sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya aku memberi.

Menghancurkan Dosa

Senin, 3 Juli 2017

Menghancurkan Dosa

Baca: Yosua 7:1-12

7:1 Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.

7:2 Yosua menyuruh orang dari Yerikho ke Ai, yang letaknya dekat Bet-Awen, di sebelah timur Betel, dan berkata kepada mereka, demikian: “Pergilah ke sana dan intailah negeri itu.” Maka pergilah orang-orang itu ke sana dan mengintai kota Ai.

7:3 Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: “Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja.”

7:4 Maka berangkatlah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu ke sana; tetapi mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai.

7:5 Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng. Lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat.

7:6 Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya.

7:7 Dan berkatalah Yosua: “Ah, Tuhanku ALLAH, mengapa Engkau menyuruh bangsa ini menyeberangi sungai Yordan? supaya kami diserahkan kepada orang Amori untuk dibinasakan? Lebih baik kalau kami putuskan tadinya untuk tinggal di seberang sungai Yordan itu!

7:8 O Tuhan, apakah yang akan kukatakan, setelah orang Israel lari membelakangi musuhnya?

7:9 Apabila hal itu terdengar oleh orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini, maka mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?”

7:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Bangunlah! Mengapa engkau sujud demikian?

7:11 Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya dan mereka menaruhnya di antara barang-barangnya.

7:12 Sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya. Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun dikhususkan untuk ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.

Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu. —Yosua 7:12

Menghancurkan Dosa

Tenggat penyelesaian penulisan sudah dekat, tetapi perdebatan dengan suami tadi pagi masih berkecamuk di benak saya. Saya menatap kursor yang berkedip-kedip di layar komputer dengan jari-jari yang terdiam di atas keyboard. Ia juga salah, Tuhan.

Saat layar komputer mati, pantulan di situ seolah balik mencemooh saya. Kesalahan yang enggan saya akui itu tidak saja menghambat pekerjaan yang harus saya selesaikan, tetapi juga membawa ketegangan dalam hubungan saya dengan suami dan juga Allah.

Saya pun mengambil ponsel, mengabaikan gengsi, dan meminta maaf kepada suami. Setelah berdamai dengan suami yang juga meminta maaf, saya bersyukur kepada Allah dan menyelesaikan tulisan saya tepat waktu.

Bangsa Israel mengalami pedihnya dosa pribadi sekaligus sukacita dari pemulihan. Yosua sudah mengingatkan umat Allah untuk tidak memperkaya diri mereka dalam pertempuran untuk merebut Yerikho (YOS. 6:18). Namun, Akhan mencuri barang jarahan dan menyembunyikannya di kemahnya (7:1). Setelah dosa Akhan terungkap dan dituntaskan (ay.4-12), barulah bangsa Israel bisa berdamai kembali dengan Allah.

Seperti Akhan, kita tidak selalu menyadari bahwa dosa yang kita sembunyikan membuat hati kita berpaling dari Allah dan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita. Mengakui Yesus sebagai Tuhan, mengakui dosa kita, dan meminta pengampunan dari-Nya memberikan dasar bagi suatu hubungan yang sehat dan setia dengan Allah dan sesama. Dengan berserah setiap hari kepada Allah, Pencipta dan Penopang kita yang penuh kasih, kita dapat melayani-Nya sekaligus menikmati kehadiran-Nya di tengah kita semua. —Xochitl Dixon

Tuhan, tolonglah kami menyadari, mengakui, dan berbalik dari dosa kami, agar kami dapat membangun hubungan yang penuh kasih dengan-Mu dan sesama.

Allah dapat membersihkan hati kita dari dosa yang merusak kedekatan kita dengan-Nya dan hubungan kita dengan sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 25-27 dan Kisah Para Rasul 12

Indahnya Kehancuran

Rabu, 31 Mei 2017

Indahnya Kehancuran

Baca: Mazmur 51

51:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud,

51:2 ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.

51:3 Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!

51:4 Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

51:5 Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

51:6 Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

51:7 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

51:8 Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

51:9 Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:10 Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:11 Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

51:12 Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:13 Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:14 Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

51:15 Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

51:16 Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

51:17 Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

51:18 Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

51:19 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

51:20 Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

51:21 Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur. —Mazmur 51:19

Indahnya Kehancuran

Kintsugi merupakan seni memperbaiki tembikar hancur yang berasal dari Jepang dan telah berusia ratusan tahun. Serbuk emas yang dicampur dengan resin digunakan untuk menyambung patahan keramik atau menambal retakan hingga menghasilkan suatu perpaduan yang indah. Alih-alih menyembunyikan perbaikannya, seni tersebut justru menonjolkan sisi indah dari suatu kehancuran.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah juga memandang kehancuran kita sebagai sesuatu yang bernilai, ketika kita tulus mengakui dosa yang telah kita lakukan. Setelah Daud berzina dengan Batsyeba dan merancang kematian suaminya, ia ditegur oleh Nabi Natan dan kemudian bertobat. Doa Daud setelah pertobatannya memberikan kepada kita pengertian tentang apa yang dirindukan Allah ketika kita berdosa: “Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Mzm. 51:18-19).

Ketika kita menyesal dan hati kita hancur karena dosa, Allah akan memulihkannya dengan pengampunan tak ternilai yang dikaruniakan oleh Juruselamat kita di kayu salib. Dengan penuh kasih, Dia menerima kita ketika kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Hubungan kita dengan-Nya pun dipulihkan kembali.

Alangkah murah hatinya Allah! Dengan mengingat kerinduan-Nya akan hati yang hancur dan keindahan kebaikan-Nya yang luar biasa, marilah hari ini kita berdoa dengan sebuah doa lainnya dari Kitab Suci: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). —James Banks

Bapa yang penuh kasih, aku ingin membuat-Mu bersukacita dengan merendahkan diri dan bertobat hari ini.

Dukacita ilahi atas dosa akan membawa kita kepada sukacita.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 13-14; Yohanes 12:1-26

Artikel Terkait:

Menemukan Kasih Sejati