Posts

Sahabatku, Keluargaku

Artikel oleh: Yosua Andreas
Ilustrasi oleh: Armitze Ghazali

Sahabatku-Keluargaku

Setahun menghirup udara Jatinangor membuatku makin menghargai dan mensyukuri kehadiran sahabat-sahabat seiman. Masih lekat dalam ingatan saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus Unpad sebagai anak rantau yang menargetkan sukses di tanah orang. Hari itu hari pertama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek). Pagi-pagi benar aku harus berangkat ke kampus. Tidak ada orang yang kukenal saat itu, perasaanku campur aduk.

Tanpa diduga, beberapa orang teman baru menyambutku dengan ramah. Mereka memperkenalkan diri sebagai Komunitas Mahasiswa Protestan Katolik (KMPK) di kampusku. Aku sangat terkesan. Keramahan mereka menyambutku membuatku segera merasa nyaman di tempat yang baru. Tak hanya saat Ospek, mereka terus menjadi teman yang baik selama aku kuliah.

Teman-teman dari KMPK ini berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Jelas kami punya banyak perbedaan. Tiap orang unik, karakternya beda-beda. Namun, kasih Kristus mengikat kami.

Rutinitas untuk kuliah dan mengerjakan tugas tiap hari kadang terasa berat dan melelahkan. Kehadiran KMPK ibarat aliran air yang menyegarkan pikiran dan jiwaku, karena mereka selalu mendorongku untuk berakar dan bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan. Kami mengerjakan tugas bersama, bermain bersama, menanggung susah senang bersama, melayani Tuhan bersama. Kami merayakan ulang tahun bersama. Kami saling mendukung dan mengingatkan agar hidup kami menjadi garam dan terang bagi sesama. Meski kami jauh dari keluarga masing-masing, kami merasa sudah seperti keluarga bagi satu sama lain.

Kelihatannya mungkin sepele. Memperhatikan teman. Merayakan ulang tahun. Mendengarkan keluh kesah. Mendoakan. Menemani belajar bersama. Makan bersama. Membaca dan merenungkan firman Tuhan bersama. Hal-hal yang tampak kecil di sela rutinitas sehari-hari. Akan tetapi melalui hal-hal kecil itu, aku ditolong untuk makin mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam karakterku. Aku bahkan juga melihat banyak teman yang mengalami hal serupa.

Betapa aku bersyukur untuk KMPK. Abang, kakak, adik, sahabat-sahabat yang sudah seperti keluarga bagiku. Mereka mengajariku apa artinya hidup baru sebagai orang yang telah dikuduskan dan dikasihi Allah (Kolose 3:12-17).

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
Berada dalam sebuah komunitas yang menunjukkan kasih Kristus secara nyata dapat membuat perbedaan dalam hidup seseorang. Bagaimana kamu dapat memulai komunitas semacam itu di lingkungan sekolah, kampus, atau tempat kerjamu?

Empat Fakta Tentang Persahabatan

Oleh: Michelle Chun, Malaysia
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: 4 Facts About Making Friendship Works)

4-Fakta-Persahabatan

Aku dan Anna* telah bersahabat dekat sejak usiaku 10 tahun. Kalau kamu mengenal kami, pasti kamu heran mengapa kami bisa bersahabat. Kadang-kadang aku sendiri juga heran. Memang kami memiliki beberapa kenangan masa kecil yang indah, tetapi sekarang kami sudah tumbuh dewasa. Kami tidak mempunyai kegemaran yang sama; pergaulan dan pekerjaan sehari-hari kami juga sangat berbeda. Pemikiran kami tidak selalu nyambung—adakalanya perlu energi lebih untuk kami bisa berdiskusi, sehingga kami biasanya memilih untuk tidak banyak bicara ketika kami keluar bersama.

Meski demikian, Anna adalah salah satu orang terpenting dalam hidupku.

Banyak persahabatan pada zaman ini dimulai dan diakhiri dengan mudahnya. Media dan teknologi digital membuat kita sangat mudah menemukan teman baru. Kita bisa berpindah-pindah dari satu lingkar sosial ke lingkar sosial lainnya (kantor, sekolah, gereja, klub olahraga, dll). Kita punya beragam pilihan kegiatan untuk dilakukan dan tempat untuk dikunjungi. Seiring dengan itu, kita menambah daftar teman-teman kita. Di sisi lain, kita juga kehilangan kontak dengan sejumlah teman lama.

Begitu memasuki usia 20-an, kita mungkin menemukan bahwa meskipun kita mempunyai banyak teman, hanya ada beberapa orang yang akan kita kontak kalau kita kesulitan tidur, perlu dukungan doa, nasihat, atau dorongan semangat segera. Mereka juga pasti akan menghubungi kita saat mereka butuh ditemani—atau butuh sedikit lelucon konyol.

Anna adalah sahabat seperti itu. Sebenarnya sangat mudah membiarkan persahabatan kami memudar, karena selama 6 tahun terakhir, ia tinggal di belahan dunia yang lain. Akan tetapi, memelihara hubungan dengannya adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat. Dan, ada beberapa hal yang telah aku pelajari dalam proses ini:

1. Persahabatan memerlukan kerja keras. Jangan mudah tertipu oleh media sosial. Persahabatan itu lebih daripada sekadar menerima sebuah “Friend Request” atau mem-follow akun media sosial seseorang. Persahabatan memerlukan komitmen, kesabaran, dan pengorbanan. Mungkin kita harus rela menempuh perjalanan panjang menembus kemacetan demi bisa bertemu selama setengah jam. Mungkin kita harus menahan diri untuk berkata “Tuh kan aku sudah bilang” ketika sahabat kita menyesali sesuatu yang sudah kita peringatkan sebelumnya. Mungkin itu juga berarti kita harus meluangkan waktu untuk ngobrol lewat Skype tengah malam karena perbedaan zona waktu. Persahabatan itu kerja keras.

2. Persahabatan berarti bertumbuh bersama-sama. Amsal 17:17 adalah ayat yang sering dipakai saat kita membicarakan pentingnya persahabatan: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Betapa bijaksananya Alkitab itu! Aku sendiri selalu kagum melihat bagaimana firman Tuhan selalu relevan; tidak dibatasi oleh perbedaan waktu, zaman, dan budaya. Persahabatan berarti bertumbuh bersama, dan memilih untuk selalu saling mengasihi—sahabat bukanlah proyek yang berusaha kita bereskan. Persahabatan berarti menyatakan kasih Allah bagi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari, serta saling memberi dorongan untuk tumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Yesus Kristus. Seperti besi menajamkan besi!

3. Persahabatan tidak berarti menyenangkan semua orang. Menjadi sahabat yang baik tidak berarti kita bisa menyenangkan semua orang. Aku telah bertemu beberapa orang yang rela melakukan apa saja demi bisa kelihatan “keren” atau bisa diterima orang lain, hingga suatu hari mereka menyadari bahwa mereka telah kehilangan jati diri mereka sendiri. Kenyataannya, tidak semua orang ingin menjadi sahabat kita, dan kita juga tidak selalu ingin bersahabat dengan semua orang. Tidak apa-apa jika kita belum bisa menjadi sahabat bagi semua orang. Di dalam Yesus, kita punya teladan terbaik tentang bagaimana menjadi seorang sahabat sejati. Mari mengikuti jejak-Nya dan biarkan Dia bersinar melalui kita! Dia akan memampukan kita menjadi sahabat terbaik bagi orang-orang di sekitar kita.

4. Persahabatan tak ternilai harganya. Kita tidak bisa membeli seorang sahabat sejati. Tidak mudah menemukan seorang sahabat yang betul-betul mengasihi kita, ingin yang terbaik untuk kita, dan yang bersedia berbagi hidup dan bertumbuh bersama kita, dalam dunia yang menyepelekan arti persahabatan serta kurang menghargai komitmen dan kesetiaan. Namun, meski terbilang langka, sahabat yang demikian ada! Ketika kita menemukannya, jagalah persahabatan itu baik-baik. Bagi aku sendiri, Anna adalah mutiara yang tak ternilai harganya.

Ingatlah juga, jika kita ingin memiliki sahabat-sahabat yang baik, kita sendiri harus lebih dulu menjadi sahabat yang baik. Yesus memberi kita teladan yang luar biasa! Dia mengasihi kita apa adanya; Dia membimbing dan memimpin kita sepanjang jalan supaya kita bisa hidup menurut tujuan yang dikehendaki Bapa untuk kita.

Dengan Kristus di dalam kita, kita dapat menjadi sahabat yang hebat untuk orang lain.

 
*Bukan nama sebenarnya.

Persahabatan Semu

Renungan-Khusus-Persahabatan-dan-Cinta-Hari02

Baca: Yohanes 15:9-17

15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

 

Belum lama ini, aku menerima telepon dari seseorang yang suaranya sangat bersahabat. Ia menyapa nama kecilku dan dengan hangat menanyakan kabarku hari itu. Kemudian, ia memberi tahu bahwa ia dapat menolongku menghemat jutaan rupiah dalam setahun jika aku mau memperbarui kredit rumahku dengan perusahaan tertentu. Namun, begitu ia menangkap bahwa aku tidak tertarik dengan tawaran itu, keakrabannya pun menguap.

Sering kali, berpura-pura akrab sudah dianggap sebagai sikap yang seharusnya ditunjukkan untuk membuat orang lain terkesan atau untuk mendapatkan sesuatu dari mereka. Betapa kontrasnya sikap yang mementingkan diri sendiri itu dengan persahabatan sejati yang dinyatakan Yesus kepada kita. Dia berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Lalu Dia menunjukkan kasih yang rela mengorbankan diri, dengan mati di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Saat mempercayai Yesus sebagai Juruselamat dan belajar menaati-Nya, kita akan menjadi sahabat-Nya. Mengalami persahabatan dengan Yesus akan menolong kita untuk dengan sungguh-sungguh dan tulus menunjukkan sikap bersahabat kepada sesama.

Tuhan, tolonglah kami untuk tidak menunjukkan sikap bersahabat yang semu demi memperoleh apa yang kami inginkan dari orang lain. Ajar kami untuk memancarkan hangatnya sikap bersahabat yang serupa Kristus kepada setiap orang yang kami temui.—DCE
 

Sikap bersahabat yang tulus dapat membawa orang mendekat kepada Kristus.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut:
Pernahkah kamu “memanfaatkan” orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? Apa artinya seseorang “memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” dalam kehidupan sehari-hari?

Jangan Hanya Memiliki Teman-Teman Seiman

Oleh: Lingyi Dai, Shanghai
(Artikel asli dalam Simplified Chinese: 不要单以基督徒为友)

Jangan-Hanya-Punya-Teman-Seiman

Persahabatan selalu menjadi bagian yang penting dalam hidupku, terutama di sekolah. Mayoritas teman dekatku bukanlah orang Kristen. Namun saat aku kuliah, mendengar Injil dan percaya kepada Yesus, aku kemudian mengenal saudara-saudara seiman di gereja dan mulai membangun persahabatan dengan mereka. Pada saat itu aku menyadari betapa berbedanya nilai-nilai yang dipegang oleh para pengikut Kristus dibandingkan dengan orang-orang dunia. Imanku kepada Kristus membuat aku mulai tidak sependapat dengan teman-teman yang dulunya kuanggap sejalan denganku dan yang dulunya bisa menjadi teman curhatku.

Awalnya, aku merasa bingung dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa mempertahankan persahabatanku dengan perbedaan-perbedaan nilai yang kami miliki. Akan tetapi, ketika aku mempelajari Alkitab, aku menemukan dalam Matius 5, bahwa Allah menghendaki kita menjadi “garam” dan “terang” dunia.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”—Matius 5:13-16

Allah tidak ingin kita memutus hubungan sama sekali dengan dunia sekuler. Sebaliknya, kita justru harus hidup di tengah-tengah dunia ini dengan cara yang berpadanan dengan panggilan Allah, supaya orang lain yang melihat hidup kita akan memuliakan Dia.

Setelah menyadari kebenaran ini, aku mulai membagikan keyakinanku dengan teman-temanku yang non-Kristen. Adakalanya aku bahkan mengundang mereka ikut acara gereja dan kegiatan Natal. Perlahan-lahan, teman-temanku mulai mengetahui lebih banyak tentang Yesus dan kekristenan. Meskipun pendapat kami masih berbeda tentang beberapa hal, kami kini belajar menghormati satu sama lain dan bertumbuh dalam pemahaman kami masing-masing. Hingga saat ini, aku telah menerima banyak kasih dan perhatian dari teman-temanku yang non-kristen, dan mereka menolongku untuk melihat berbagai masalah dalam konteks yang lebih besar. Mereka menolongku menyadari bahwa meski semua orang tidak sempurna, setiap kita punya pendapat-pendapat yang baik. Jika kita bersedia merendahkan hati untuk belajar dari satu sama lain, kita akan mendapatkan banyak kejutan.

Belakangan ini, salah satu teman baikku bercerita bahwa ia kini memercayai Yesus dan berencana untuk dibaptis tahun ini. Aku merasa sangat gembira. Kami sudah bisa mulai saling menguatkan satu sama lain dengan firman Tuhan. Betapa baik dan luar biasanya Tuhan itu!

Kiranya Tuhan menuntun kita menjadi utusan-utusan-Nya di dunia ini, yang membawa banyak orang untuk datang mengenal-Nya.

“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”—1 Korintus 9:19-23

Sharing: Menurutmu, Sahabat Sejati Itu Seperti Apa?

Sharing-WarungSaTeKaMu-201508-B

Amsal 17:17 berkata,
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,
dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Adakah orang-orang di hidupmu
yang kamu sebut sahabat seperti itu?

Apakah kamu sendiri bisa diandalkan
sebagai sahabat yang demikian?

Menurutmu, sahabat sejati itu seperti apa?

Persahabatan

Renungan-Khusus-Persahabatan-dan-Cinta-Hari01

Baca: 1 Samuel 23:14-18

23:14 Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.

23:15 Daud takut, karena Saul telah keluar dengan maksud mencabut nyawanya. Ketika Daud ada di padang gurun Zif di Koresa,

23:16 maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah

23:17 dan berkata kepadanya: “Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu.”

23:18 Kemudian kedua orang itu mengikat perjanjian di hadapan TUHAN. Dan Daud tinggal di Koresa, tetapi Yonatan pulang ke rumahnya.

 

Persahabatan adalah salah satu karunia terbesar dalam kehidupan. Sahabat sejati merindukan kebaikan terbesar bagi teman-temannya, yaitu agar mereka bisa mengenal Allah dan mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran mereka. Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta asal Jerman yang kemudian menjadi martir, pernah berkata,“Persahabatan kita seharusnya ditujukan untuk menolong sahabat kita menjalankan kehendak Tuhan dalam hidupnya.”

Yonatan, sahabat Daud, adalah contoh seorang sahabat sejati. Saat itu Daud sedang melarikan diri dan bersembunyi di padang gurun Zif, karena menyadari bahwa “Saul telah keluar dengan maksud mencabut nyawanya” (1Sam. 23:15). Yonatan pun pergi ke Koresa untuk menemui Daud. Catatan yang penting di sini adalah niat Yonatan dalam menolong Daud, yaitu untuk “menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah” (ay.16).

Inilah esensi dari persahabatan Kristen. Lebih dari sekadar berbagi minat yang sama, kasih sayang, cerita, dan tawa, persahabatan Kristen bertujuan untuk menaburkan firman tentang hidup yang kekal dalam hidup orang lain, mengingatkan mereka pada hikmat Allah, menyegarkan kembali jiwa mereka dengan firman tentang kasih-Nya, dan mengokohkan iman mereka kepada Allah.

Berdoalah bagi sahabat-sahabatmu dan mintalah agar Allah memberimu perkataan yang tepat pada saat yang tepat untuk menolong mereka memperoleh kekuatan baru di dalam Allah dan firman-Nya.—DHR

 

Sahabat sejati adalah hadiah dari Allah,
seseorang yang mengarahkan kita kembali kepada-Nya.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
Apakah kamu secara intensional memberitakan Injil kepada teman-temanmu atau menguatkan kepercayaan mereka kepada Allah saat mereka bergumul? Perubahan tutur kata dan perilaku seperti apa yang perlu kamu lakukan agar kamu dapat mengarahkan orang kepada Kristus?

Aku dan Sahabatku

Kamis, 18 Desember 2014

KomikStrip-WarungSateKamu-20141218-Aku-Dan-Sahabatku

Baca: 1 Samuel 18:1-4;23:15-18

1 Samuel 18:1 Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.

18:2 Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya.

18:3 Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.

18:4 Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.

1 Samuel 23:15 Daud takut, karena Saul telah keluar dengan maksud mencabut nyawanya. Ketika Daud ada di padang gurun Zif di Koresa,

23:16 maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah

23:17 dan berkata kepadanya: "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu."

23:18 Kemudian kedua orang itu mengikat perjanjian di hadapan TUHAN. Dan Daud tinggal di Koresa, tetapi Yonatan pulang ke rumahnya.

Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. —1 Samuel 18:3

Saya Dan Sahabat Saya

John Chrysostom (347-407), seorang Uskup Agung dari Konstanstinopel, pernah mengucapkan ini: “Demikianlah yang disebut persahabatan, ketika melaluinya kita mencintai setiap tempat dan musim yang dilalui; karena bagaikan . . . bunga-bunga meluruhkan daun-daun indahnya pada tanah di sekitarnya, demikian juga para sahabat menebarkan kebaikan kepada tempat-tempat di mana mereka berada.”

Hubungan Yonatan dan Daud melukiskan indahnya sebuah persabahatan sejati. Alkitab mencatat adanya kesatuan hati yang begitu erat dan langsung terjadi di antara mereka (1Sam. 18:1). Mereka menjaga keakraban tersebut dengan membuktikan kesetiaan mereka kepada satu sama lain (18:3; 20:16,42; 23:18). Mereka juga memelihara persahabatan itu dengan sikap yang saling menunjukkan perhatian. Yonatan memberi hadiah kepada Daud (18:4) dan memperingatkannya pada saat beragam kesulitan mengancam nyawa Daud (19:1-2; 20:12-13).

Dalam 1 Samuel 23:16, kita melihat momen terbaik dalam persahabatan mereka. Saat Daud menjadi buronan sang ayah, “Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.” Sahabat yang baik akan menolongmu menemukan kekuatan dalam Allah di titik nadir hidupmu.

Di dunia dimana banyak orang lebih mencari keuntungan diri dari relasi mereka dengan sesama, marilah kita menjadi pribadi yang lebih mengutamakan apa yang dapat kita berikan kepada sahabat kita. Yesus, Sahabat kita yang terbaik, telah membuktikan kepada kita bahwa “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). —PFC

Terima kasih Tuhan, untuk para sahabat dari-Mu yang mengasihiku
tanpa memandang kegagalan dan kelemahanku. Tolong aku untuk
menerima mereka sebagaimana Engkau menerima kami. Ikatkanlah
kami di dalam Engkau dan mampukan kami untuk saling menolong.

Keindahan hidup dialami dengan mengasihi, memberi, melayani; bukan dengan dikasihi, diberi, dan dilayani.

Photo credit: mattcameasarat / Foter / CC BY

Persahabatan

Selasa, 2 April 2013

Persahabatan

Baca: 1 Samuel 23:14-18

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. —Amsal 17:17

Persahabatan adalah salah satu karunia hidup yang terbesar. Sahabat sejati membawa kebaikan yang tertinggi bagi sahabat-sahabatnya, dengan maksud supaya mereka bisa mengenal Allah dan mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran mereka. Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan martir asal Jerman, pernah berkata, “Tujuan persahabatan semata-mata ditentukan oleh kehendak Allah atas sang sahabat itu.”

Yonatan, sahabat Daud, menjadi teladan yang luar biasa dari persahabatan sejati. Daud sedang berada di pengasingan, bersembunyi di padang gurun Zif, ketika menyadari bahwa “Saul telah keluar dengan maksud mencabut nyawanya” (1Sam. 23:15). Yonatan pun pergi ke Koresa untuk menemui Daud. Arti penting dari peristiwa ini terletak pada niat Yonatan: Ia menolong Daud untuk mendapatkan kembali kekuatan di dalam Allah, atau seperti disebutkan Alkitab, “Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah” (ay.16).

Itulah inti persahabatan Kristen. Lebih dari berbagi minat bersama, lebih dari berbagi kasih sayang, lebih dari berbagi sukacita dan tawa, tujuan utama persahabatan adalah menaburkan firman hidup yang kekal di dalam hidup orang lain, mengingatkan mereka pada hikmat Allah, menyegarkan kembali jiwa mereka dengan firman tentang kasih- Nya, dan mengokohkan iman mereka kepada Allah.

Berdoalah bagi sahabat Anda dan mintalah kepada Allah untuk memberi Anda perkataan yang tepat dan pada saat yang tepat untuk menolong mereka memperoleh kekuatan baru di dalam Allah dan firman-Nya. —DHR

Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau mengasihi kami. Kiranya
kasih-Mu mendorong kami untuk menyatakan kasih kepada sesama.
Berilah kepekaan akan Roh-Mu sehingga kami tahu cara terbaik
untuk menguatkan mereka dalam perjalanan imannya bersama-Mu.

Sahabat sejati adalah karunia Allah dan diberikan untuk menguatkan iman kita kepada-Nya.

Keterbukaan Yang Menyegarkan

Minggu, 3 Maret 2013

Keterbukaan Yang Menyegarkan

Baca: Yohanes 4:7-26

Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, . . . ia akan berbahagia oleh perbuatannya. —Yakobus 1:25

Di antara sekian banyak hal yang saya sukai dari ibu saya, yang paling saya sukai adalah keterbukaannya. Saya sering menelepon untuk meminta pendapatnya tentang suatu hal, dan ia selalu menanggapi dengan kata-kata berikut, “Jangan tanya pendapatku kecuali kau mau mendengarnya. Aku takkan mengatakan apa yang ingin kau dengar. Aku mengatakan kepadamu apa yang kupikirkan.”

Di tengah budaya di mana kata-kata diucapkan dengan hati-hati, ucapannya yang blak-blakan tersebut sungguh menyegarkan. Ini juga menjadi salah satu ciri seorang sahabat sejati. Sahabat sejati mengucapkan kebenaran kepada kita di dalam kasih— bahkan ketika kebenaran itu bukanlah hal yang ingin kita dengar. Dalam kitab Amsal tertulis, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik” (27:6).

Inilah salah satu alasan mengapa Yesus adalah sahabat yang terbaik. Ketika bertemu seorang perempuan Samaria di tepi sumur (Yoh. 4:7-26), Yesus menolak untuk terseret ke dalam perdebatan mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting. Dia memilih untuk menggali masalah dan kebutuhan hati yang terdalam dari sang perempuan. Yesus menantangnya untuk mengenal sifat Bapa yang sejati dan juga berbicara tentang impiannya yang hancur dan kekecewaannya yang mendalam dengan penuh kasih.

Ketika kita berjalan bersama Tuhan, biarlah kita mengizinkan-Nya untuk berbicara secara terbuka melalui Kitab Suci tentang kondisi hati kita yang sesungguhnya. Tujuannya adalah supaya kita datang kepada Allah dan menemukan kasih karunia-Nya yang dapat menolong kita pada waktunya. —WEC

Bapa, terima kasih Engkau telah mengirim Putra-Mu untuk menjadi
Juruselamat dan Sahabatku yang terbaik. Tolong aku agar belajar
dari-Nya untuk berbicara dengan penuh kejujuran sehingga aku
sanggup menolong orang-orang yang terluka di sekelilingku.

Yesus selalu mengatakan kebenaran kepada kita.