Posts

Sahabat Terbaik Kita

Senin, 10 April 2017

Sahabat Terbaik Kita

Baca: Ibrani 10:19-23

10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. —Yohanes 1:12

Sahabat Terbaik Kita

Ketika saya berusia 12 tahun, kami sekeluarga pindah ke sebuah kota yang terletak di kawasan gurun. Seusai pelajaran olahraga di sekolah saya yang baru, di tengah udara panas menyengat, kami bergegas mencari keran air minum. Karena bertubuh kurus dan paling kecil di kelas, saya sering didorong keluar dari jalur antrean sewaktu menunggu giliran minum. Suatu hari, Jose, teman saya yang bertubuh besar dan kuat untuk anak seusianya, melihat apa yang saya alami. Ia pun bertindak dan merentangkan tangannya yang kuat untuk membukakan jalan bagi saya. “Hei!” serunya, “Minggir semua! Biarkan Banks minum terlebih dahulu!” Sejak saat itu, saya tidak pernah menemui masalah lagi di keran air minum itu.

Yesus memahami rasanya mengalami perlakuan keji dari orang lain. Alkitab menyatakan, “Ia dihina dan dihindari orang” (Yes. 53:3). Namun, Yesus tidak hanya menderita sebagai korban, Dia juga menjadi Pembela kita. Dengan menyerahkan hidup-Nya, Tuhan Yesus telah membuka “jalan yang baru dan yang hidup” bagi kita untuk masuk dalam suatu hubungan dengan Allah (Ibr. 10:20). Dia melakukan bagi kita apa yang tidak akan pernah bisa kita lakukan bagi diri kita sendiri, yakni memberikan karunia keselamatan yang cuma-cuma ketika kita menyesal atas dosa-dosa kita dan percaya kepada-Nya.

Yesus adalah sahabat terbaik yang bisa kita miliki. Dia mengatakan, “Aku tidak akan menolak siapa pun yang datang kepada-Ku” (Yoh. 6:37 BIS). Orang lain bisa saja menjaga jarak terhadap kita atau bahkan menolak kita. Namun, Allah telah membuka lebar-lebar tangan-Nya untuk menyambut kita lewat salib Kristus. Alangkah dahsyatnya Juruselamat kita! —James Banks

Karya kasih-Nya genap, kemenangan-Nya tetap. Kristus jaya atas maut dan terbukalah Firdaus. —Charles Wesley

Karunia cuma-cuma dari Allah untuk kita telah dibayar mahal oleh-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 15-16; Lukas 10:25-42

Ada Masalah

Sabtu, 18 Maret 2017

Ada Masalah

Baca: Mazmur 34:12-19

34:12 Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!

34:13 Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?

34:14 Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

34:15 jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

34:16 Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

34:17 wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

34:18 Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

34:19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. —Mazmur 34:19

Ada Masalah

Pagi hari setelah kelahiran anak kami, Allen, dokter duduk di sebelah tempat tidur saya dan berkata, “Kami menemukan masalah.” Anak kami yang terlihat sempurna secara fisik ternyata memiliki cacat bawaan yang mengancam jiwanya dan perlu diterbangkan ke sebuah rumah sakit yang jauhnya lebih dari 1.000 km untuk segera dioperasi.

Setelah mendengar dokter itu mengatakan bahwa kondisi anak saya bermasalah, hidup saya berubah saat itu juga. Perasaan khawatir akan apa yang akan terjadi selanjutnya telah menghancurkan semangat saya. Dalam keterpurukan itu saya sangat mengharapkan Allah akan menguatkan saya agar saya juga dapat menolong anak saya. Saya pun bertanya-tanya, mungkinkah Allah yang penuh kasih mengizinkan ini terjadi? Pedulikah Dia kepada anakku? Apakah Dia ada? Segala pertanyaan tersebut dan pikiran-pikiran lainnya mengguncang iman saya pagi itu.

Lalu suami saya, Hiram, datang dan mendengar berita itu. Setelah dokter itu pergi, Hiram mengatakan, “Jolene, mari kita berdoa.” Saya setuju dan ia pun menggenggam tangan saya. Kami berdoa, “Terima kasih, Bapa, karena Engkau telah memberikan Allen kepada kami. Allen adalah milik-Mu, Allah, dan bukan milik kami. Engkau mengasihinya sebelum kami mengenalnya, dan Allen adalah milik-Mu. Kiranya Engkau menyertainya saat kami tak mampu melakukannya. Amin.”

Hiram adalah seorang pria yang tidak banyak bicara. Tidak mudah baginya untuk mengungkapkan pikirannya dengan kata-kata, dan ia sering merasa tidak perlu berbicara, karena ia tahu bahwa sayalah yang biasanya berbicara. Namun, pada hari ketika saya patah semangat, remuk redam, dan kehilangan iman, Allah memberi Hiram kekuatan untuk mengucapkan kata-kata yang tidak mampu saya ucapkan. Sembari menggenggam erat tangan suami saya, dalam keheningan yang mendalam dan derasnya air mata, saya merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat. —Jolene Philo, penulis tamu

Sahabat terbaik adalah sahabat yang tekun mendoakan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 32-34; Markus 15:26-47

Artikel Terkait:

Persahabatan yang Tidak Terduga

Hubungan persahabatan yang coba dijalin oleh Christine sangat tidak terduga. Orang yang tidak pernah dia duga bisa cocok, justru kini menjadi sahabat baiknya. Tuhan selalu tahu yang lebih baik dari kita! Yuk, baca kesaksian lengkap dari Christine di dalam artikel ini.

Yang Baik, Buruk, dan Terburuk

Rabu, 8 Februari 2017

Yang Baik, Buruk, dan Terburuk

Baca: 1 Samuel 20:35-42

20:35 Pada waktu pagi keluarlah Yonatan ke padang bersama-sama seorang budak kecil sesuai dengan janjinya kepada Daud.

20:36 Berkatalah ia kepada budaknya: “Larilah, carilah anak-anak panah yang kupanahkan.” Baru saja budak itu berlari, maka Yonatan melepaskan sebatang anak panah lewat kepala budak itu.

20:37 Ketika budak itu sampai ke tempat letaknya anak panah yang dilepaskan Yonatan itu, maka berserulah Yonatan dari belakang budak itu, katanya: “Bukankah anak panah itu lebih ke sana?”

20:38 Kemudian berserulah Yonatan dari belakang budak itu: “Ayo, cepat, jangan berdiri saja!” Lalu budak Yonatan memungut anak panah itu dan kembali kepada tuannya.

20:39 Tetapi budak itu tidak tahu apa-apa, hanya Yonatan dan Daudlah yang mengetahui hal itu.

20:40 Sesudah itu Yonatan memberikan senjatanya kepada budak yang menyertai dia, dan berkata kepadanya: “Pergilah, bawalah ke kota.”

20:41 Maka pulanglah budak itu, lalu tampillah Daud dari sebelah bukit batu; ia sujud dengan mukanya ke tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bercium-ciuman dan bertangis-tangisan. Akhirnya Daud dapat menahan diri.

20:42 Kemudian berkatalah Yonatan kepada Daud: “Pergilah dengan selamat; bukankah kita berdua telah bersumpah demi nama TUHAN, demikian: TUHAN akan ada di antara aku dan engkau serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya.”

20:43 Setelah itu bangunlah Daud dan pergi; dan Yonatanpun pulang ke kota.

Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. —Ibrani 13:5

Yang Baik, Buruk, dan Terburuk

Sorang sahabat pernah mengirimkan pesan pendek yang tertulis, “Aku senang kita bisa bercerita tentang apa saja. Yang baik, yang buruk, bahkan yang jelek-jelek sekalipun!” Kami sudah bersahabat bertahun-tahun lamanya, dan kami telah belajar untuk berbagi suka-duka yang kami alami. Kami menyadari bahwa masing-masing dari kami tidak sempurna, sehingga kami tidak hanya berbagi pergumulan tetapi juga berbagi sukacita dalam setiap keberhasilan yang kami raih.

Daud dan Yonatan juga menjalin persahabatan yang sangat erat. Persahabatan mereka terbangun pada masa-masa baik setelah Daud mengalahkan Goliat (1Sam. 18:1-4). Keduanya sama-sama merasakan kengerian pada masa-masa buruk ketika Raja Saul, ayah Yonatan, cemburu pada Daud (18:6-11; 20:1-2). Akhirnya, mereka sama-sama menderita pada masa-masa terburuk ketika Saul bersiasat untuk membunuh Daud (20:42).

Sahabat tidak akan meninggalkan kita di saat segala situasi eksternal berubah. Mereka akan tetap mendampingi kita melalui masa-masa yang baik dan buruk. Sahabat juga dapat mengarahkan kita kepada Allah di saat kita menghadapi masa-masa terburuk, yakni ketika kita mungkin tergoda untuk menjauh dari Tuhan kita.

Persahabatan sejati merupakan karunia Allah karena sahabat seperti itu mencerminkan Tuhan Yesus, Sahabat yang sempurna, yang tetap setia di sepanjang masa-masa yang baik, yang buruk, bahkan yang terburuk. Tuhan mengingatkan kita, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). —Keila Ochoa

Tuhan, aku bersyukur untuk semua sahabat yang Engkau berikan dalam hidupku. Namun lebih dari itu, aku bersyukur boleh menjadi sahabat-Mu.

Sahabat adalah orang pertama yang hadir tatkala seluruh dunia meninggalkan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 4-5; Matius 24:29-51

Artikel Terkait:

Surat untuk Sahabat Sejatiku

Kita senang dan ingin melewatkan lebih banyak waktu dengan sahabat-sahabat kita. Seberapa senang dan ingin kita melewatkan lebih banyak waktu dengan Tuhan?

Bersikap Dingin

Jumat, 1 Juli 2016

Bersikap Dingin

Baca: Ayub 11:7-20

11:7 Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?

11:8 Tingginya seperti langit–apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati–apa yang dapat kauketahui?

11:9 Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera.

11:10 Apabila Ia lewat, melakukan penangkapan, dan mengadakan pengadilan, siapa dapat menghalangi-Nya?

11:11 Karena Ia mengenal penipu dan melihat kejahatan tanpa mengamat-amatinya.

11:12 Jikalau orang dungu dapat mengerti, maka anak keledai liarpun dapat lahir sebagai manusia.

11:13 Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya;

11:14 jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu,

11:15 maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut,

11:16 bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu.

11:17 Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari.

11:18 Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram;

11:19 engkau akan berbaring tidur dengan tidak diganggu, dan banyak orang akan mengambil muka kepadamu.

11:20 Tetapi mata orang fasik akan menjadi rabun, mereka tidak dapat melarikan diri lagi; yang masih diharapkan mereka hanyalah menghembuskan nafas.”

Pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. —Ayub 12:13

Bersikap Dingin

Karena putus asa, seorang wanita menghubungi Pusat Layanan Perumahan tempat saya bekerja. Rusaknya alat pemanas ruangan di rumah kontrakannya membuat dirinya hampir membeku. Dengan panik, ia mengungkapkan kekhawatirannya atas keadaan anak-anaknya. Tanpa pikir panjang, saya menjawab sesuai prosedur resmi: “Pindah saja ke hotel dan kirimkan tagihannya kepada pemilik kontrakanmu.” Ia pun marah dan menutup teleponnya.

Saya tahu jawaban standar yang harus diberikan, tetapi saya gagal memahami isi hati wanita itu. Ia ingin ada seseorang yang memahami ketakutan dan keputusasaannya. Ia ingin merasa bahwa ia tidak sendirian. Saya menyesal telah bersikap dingin terhadapnya.

Setelah Ayub kehilangan segalanya, yang ia miliki hanyalah sahabat-sahabat yang pandai menjawab tetapi sempit pemahamannya. Zofar berkata bahwa yang perlu Ayub lakukan hanyalah hidup sungguh-sungguh bagi Allah, maka “kehidupan [Ayub] akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari” (Ayb. 11:17). Ayub menolak nasihat itu dan merespons dengan sindiran pedas, “Bersama-sama kamu hikmat akan mati” (12:2). Ayub tahu bahwa masalah-masalah nyata seperti yang dihadapinya tidak cukup ditanggapi dengan jawaban-jawaban standar.

Mudah bagi kita untuk mengecam sahabat-sahabat Ayub karena mereka gagal melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Namun bukankah kita juga sering terlalu cepat memberi jawaban atas sesuatu yang tidak benar-benar kita pahami? Meskipun orang butuh jawaban, mereka lebih membutuhkan kesediaan kita untuk mendengarkan dan memahami mereka. Mereka butuh kepedulian kita. —Tim Gustafson

Bapa, tolong kami untuk bersikap sebagai sahabat sebelum memberikan nasihat kepada orang lain. Terima kasih untuk kesempatan berharga ketika kami dapat mencurahkan isi hati kami kepada-Mu dalam doa. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Engkau utus sehingga kami takkan pernah sendirian.

Orang akan mendengar apa yang kita katakan jika mereka tahu kita peduli kepada mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 20-21; Kisah Para Rasul 10:24-48

Artikel Terkait:

Persahabatan yang Tidak Terduga

Hubungan persahabatan yang coba dijalin oleh Christine sangat tidak terduga. Orang yang tidak pernah dia duga bisa cocok, justru kini menjadi sahabat baiknya. Tuhan selalu tahu yang lebih baik dari kita! Yuk, baca kesaksian lengkap dari Christine di dalam artikel ini.

Buklet Renungan Persahabatan & Cinta

FNL AB

Ingin menunjukkan kepedulianmu kepada orang-orang terkasih, tetapi bingung harus mulai dari mana? Kami telah memilihkan 21 renungan seputar Persahabatan dan Cinta, dan mengemasnya dalam sebuah buklet menarik yang bisa kamu gunakan sebagai hadiah untuk menyemangati sahabat-sahabatmu, sekaligus mendorong mereka terus bertumbuh dalam iman dan kasih mereka kepada Tuhan.

Download Buklet Renungan Persahabatan & Cinta

Persahabatan yang Tidak Terduga

Penulis: Christine E
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: An Unlikely Friendship

An-Unlikely-Friendship

Pada awal tahun, aku membuat sebuah resolusi untuk menjalin persahabatan baru di gereja. Kaum muda di gerejaku tidak banyak, jadi dengan mudah aku segera menentukan pilihan. Gadis yang ingin kujadikan sahabat baruku itu seumuran denganku, masih kuliah, dan bekerja paruh waktu. Menurut pengamatanku, kami punya banyak kesamaan yang bisa membuat kami menjadi teman baik. Namun entah bagaimana, yang kubayangkan tidak terjadi. Kami berdua tidak pernah bisa “nyambung”. Hingga hari ini, kami tetap bertegur sapa setiap hari Minggu pagi, tetapi tidak lebih dari itu.

Aku cukup sedih. Resolusi awal tahun yang aku buat itu adalah bagian dari upayaku untuk mengalami gereja sebagai keluarga. Sejak kecil, aku menerima segala hal yang kubutuhkan untuk pertumbuhan rohani (dan jasmani) dari keluargaku dan para sahabat keluargaku. Meskipun kami pergi ke gereja setiap hari Minggu, aku tidak merasa terlalu membutuhkan gereja. Semua yang kuperlukan sudah terpenuhi, begitulah pikiranku saat itu.

Suatu hari seorang teman bertanya, mengapa aku tidak begitu peduli dengan gereja sebagai tubuh Kristus. Pertanyaan itu mendorongku untuk memikirkan cara untuk bisa lebih melibatkan diri dalam gereja, dan kemudian memilih seorang “calon sahabat” untuk diperhatikan. Sayangnya, tanpa kusadari, yang aku cari saat itu hanyalah seseorang yang mirip denganku. Gereja sebenarnya adalah sebuah tempat yang sangat kaya, penuh dengan orang dari beragam latar belakang, fase kehidupan, dan pergumulan yang berbeda-beda, namun semua dipersatukan sebagai orang-orang yang ditebus oleh Kristus (Galatia 3:26-29). Dalam anugerah-Nya, Allah menolongku untuk melihat keragaman yang indah itu.

Pada bulan Februari, aku mulai mengikuti sebuah kelas pendalaman Alkitab yang diadakan setiap hari Selasa pagi bagi para wanita. Kebanyakan peserta sudah memasuki usia pensiun, sedangkan aku adalah seorang lulusan akademi yang belum punya pekerjaan. Kami tidak punya banyak kemiripan, dan jujur saja, aku tidak berharap bisa mendapatkan manfaat dari kelas ini. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal mereka sedikit lebih baik.

Salah seorang wanita di kelas itu kemudian menjadi teman dekatku. Ia baru saja menyerahkan hidupnya kembali kepada Kristus, namun terus dihujani berbagai macam pencobaan. Kesehatannya menurun, kesehatan anggota keluarganya juga tidak stabil, ada badai dalam hubungan-hubungannya dengan orang lain—setiap minggu ia selalu punya pokok doa yang baru. Setiap pokok doanya menurutku sangat serius, namun sepertinya sangat sedikit yang dijawab Tuhan. Meski demikian, minggu demi minggu ia tetap datang, dan minggu demi minggu ia memuji Tuhan, bersyukur atas segala perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Keyakinannya bahwa Allah itu baik terpancar jauh lebih kuat dibanding dengan semua orang yang pernah aku kenal.

Kami berdua kemudian menjadi sahabat. Aku masih tidak bisa menjelaskan bagaimana persahabatan kami bermula. Kami sangat berbeda dari segi usia, kepribadian, pengalaman, dan cara pandang tentang kehidupan. Akan tetapi, aku selalu berharap bisa menjumpainya setiap hari Minggu, untuk mendengar kebaikan Allah yang ia alami dalam hidupnya serta menjadi rekan berbagi beban hidup, sebaik yang aku bisa!

Ia pun selalu berusaha agar dapat menyapa dan memelukku. Pernah ia mengatakan bahwa senyumku adalah senyum terindah yang pernah ia lihat, dan setiap kali ia melihatnya, senyumku itu mencerahkan hatinya.

Gereja adalah keluarga kita di dalam Kristus. Kita tidak bisa menentukan siapa saja yang akan muncul di gereja di hari Minggu. Hidup tidak akan begitu indah jika kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Ketika aku berdoa di awal tahun, memohon Tuhan menolongku membangun persahabatan di gereja, dalam hati aku sudah menetapkan sahabat seperti apa yang aku inginkan. Namun, oleh kemurahan-Nya, Tuhan memberiku sebuah persahabatan yang jauh lebih kaya daripada yang pernah aku bayangkan.

Mungkin kamu sedang ada pada posisi yang sama dengan penulis. Adakah persahabatan yang tidak pernah kamu duga Tuhan izinkan terjadi dalam hidupmu?

Adakah Persahabatan Sejati di Dunia Ini?

Penulis: Soo Yi, Malaysia
Artikel asli ditulis dalam Bahasa Mandarin: 真正的朋友
Are-there-Real-Friendships-in-this-World-

Siapa yang kamu sebut sahabat? Apakah sahabat sekadar orang yang mau menemanimu pergi makan atau nonton film? Orang seperti apakah sahabat itu?

Kita sering menggambarkan sahabat sejati sebagai teman dalam suka dan duka, seseorang yang menghargai kita dan tidak akan menyakiti atau mengkhianati kita. Namun, orang bisa berubah, demikian pula dengan persahabatan.

Ketika aku berangkat untuk studi di Taiwan, aku berusaha untuk mendapatkan banyak teman agar aku tidak kesepian. Banyak di antara mereka suka bersenang-senang—sebagian rela bolos demi itu—dan aku senang berteman dengan mereka. Kami merayakan ulang tahun dan jalan-jalan bersama. Pada saat itu aku merasa bahwa selama aku bersahabat dengan mereka, aku tidak butuh orang lain.

Karena kami senang menghabiskan waktu bersama, kami memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama juga. Pada saat itulah semuanya mulai berubah. Saat mempersiapkan presentasi, kami mulai berbeda pendapat. Beberapa di antara mereka bahkan mencari alasan untuk tidak datang karena mereka tidak ingin mengerjakan presentasi itu. Meski awalnya persahabatan kami cukup erat, perasaan kami terhadap satu sama lain kemudian berubah total. Kami makin sering berbeda pendapat, makin jauh satu sama lain, dan tak lama kemudian kami memilih jalan kami masing-masing.

Aku masih ingin punya sahabat, jadi aku mulai melewatkan waktuku bersama sekelompok teman baru. Kelompok ini senang minum-minum dan menyanyi di klub karaoke. Makin lama kami bersama, aku menyadari bahwa ini pun tidak memuaskan kerinduanku akan persahabatan sejati. Aku merasa hatiku kosong, dan aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apa yang sedang aku lakukan? Sungguhkah mereka ini sahabatku? Adakah persahabatan sejati di dunia ini?

Jawaban dari semua pertanyaan ini kutemukan saat aku mulai kembali datang ke gereja.

Aku adalah orang Kristen “generasi kedua”. Dengan kata lain, aku lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sudah Kristen. Meski begitu, aku tidak suka pergi ke gereja dan sudah lama sekali tidak ke gereja. Tetapi, ada orang yang mengundangku ke gerejanya, dan setelah beberapa waktu lamanya melewatkan waktu bersama teman-teman di sana, aku mulai menyadari bahwa mereka berbeda. Mereka tidak bergosip, namun punya banyak hal untuk diceritakan. Mereka tidak pergi clubbing dan minum-minum, namun mereka penuh canda dan tawa. Mereka tidak saling merendahkan atau mengkritik satu sama lain, namun saling mendengarkan, saling menghibur, dan saling menyemangati. Persahabatan di antara mereka menggugah hatiku. Inikah yang namanya persahabatan sejati?

Sikap mereka membuatku penasaran. Bagaimana mereka bisa demikian? Aku heran. Bagaimana mereka bisa tergerak untuk memperhatikan satu sama lain dan melakukannya dengan penuh sukacita?

Aku kemudian menemukan sumber persahabatan mereka—kasih. Orang-orang ini dapat mengasihi satu sama lain karena mereka melakukannya dengan kasih Kristus. Mereka melihat satu sama lain melalui mata Kristus.

Pengalaman itu mengajarkanku beberapa hal baru tentang persahabatan. Kita sering bicara tentang betapa kita menyenangi sahabat-sahabat kita. Tetapi, apakah kita sungguh mengasihi mereka? Mengasihi lebih sulit daripada menyenangi. Dapatkah kita mengasihi sahabat-sahabat kita sepenuhnya? Ya, kita bisa, karena kasih Kristus. 1 Yohanes 4:19 berkata: “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Karena sahabat-sahabat sejati saling mengasihi, mereka saling menolong untuk bertumbuh dan saling menopang ketika ada yang jatuh. 1 Korintus 15:33 berkata, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Para sahabat baruku di gereja juga menunjukkan betapa Tuhan Yesus Kristus adalah sahabat terbaik kita. Hanya Dia yang tidak akan pernah berubah. Kita dapat membagikan segala suka, duka, dan berbagai kesusahan kita kepada-Nya, karena Dia telah berjanji untuk menolong kita, mendukung kita, dan menyertai kita di sepanjang perjalanan hidup ini. Kita dapat bergantung sepenuhnya kepada-Nya, apa pun situasi yang sedang terjadi.

Saat Sahabat Tidak Sependapat

Penulis: Olivia Ow
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: When Friends Disagree

When-Friends-Disagree

“Maaf, tetapi aku tidak sependapat denganmu….”

Biasanya setelah kalimat itu terucap, suasana menjadi kaku dan mataku mulai berair karena marah.

Aku selalu merasa sangat sulit untuk menyatakan pendapat yang berbeda, karena aku tidak ingin kehilangan sahabat. Lebih sulit lagi bagiku untuk menerima bahwa orang lain ternyata tidak sependapat denganku, karena harga diriku terluka. Ketika seseorang memiliki pandangan yang berbeda, aku menganggap orang itu sedang menyalahkan, menolak, atau menghakimi aku, terlepas dari cara orang itu menyampaikan pendapatnya. Aku merasa seolah-olah orang itu tidak menghargaiku sebagai seorang pribadi, juga tidak menghargai semua jerih lelah dan pemikiran di balik apa yang kusampaikan atau yang kulakukan. Ini membuatku merasa disakiti, disalahpahami, dan direndahkan. Jadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang itu untuk menjelaskan mengapa ia tidak sependapat, biasanya aku akan segera berkata, “Kalau kamu tidak bisa memahami cara pandangku atau tidak bisa menerima caraku, aku juga tidak merasa perlu memahami dan menerima pemikiranmu.”

Akan tetapi, aku kemudian menyadari bahwa ketika seorang sahabat tidak sependapat denganku, adakalanya yang ia maksudkan hanyalah, “Aku kurang setuju dengan metode atau cara yang kamu pakai.” Ia tetap menghargaiku sebagai seorang pribadi. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ada cara lain yang dapat dipakai untuk menangani sesuatu, dan minta aku untuk mempertimbangkannya. Ia hanya mengomentari pendapatku, rencanaku, atau tindakanku, dan tidak sedang menyerang pribadiku.

Meski begitu, adakalanya juga sahabatku tidak sependapat denganku, karena apa yang aku lakukan itu berdosa, melawan Tuhan. Pada saat itu, aku harus mendengarkan pendapatnya dan bersedia untuk berubah.

Ini tidak mudah. Bagaimana aku bisa tahu sahabatku berbeda pendapat hanya karena ia ingin aku mempertimbangkan sesuatu yang lebih baik, atau karena ia sedang berusaha menyadarkan aku akan tindakanku yang berdosa? Aku belajar bahwa salah satu cara yang dapat menolong kami adalah dengan selalu menjaga sikap yang jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Kami harus berani menyuarakan pemikiran kami, dan bersedia untuk saling mendengarkan. Adakalanya, kami harus sepakat untuk tidak sepakat.

Meskipun kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang akan menanggapi pandangan kita, namun kita dapat belajar mengungkapkan pendapat yang berbeda kepada sahabat kita dalam kasih. Ketika motivasi kita adalah kasih, kita tidak akan bersikap sebagai orang yang paling benar dan merasa lebih baik daripada orang lain. Kita akan menjadi lebih peka, bisa mengendalikan emosi, dan lebih objektif dalam menyampaikan pendapat kita. Hati yang mengasihi itu tidak memegahkan diri (1 Korintus 13:4). Kasih juga memungkinkan kita tetap terbuka menerima pendapat orang lain, siap ketika sahabat kita balik mengoreksi kita dalam kasih (Galatia 6:1-4).

Seorang penulis Kristen, Gordon MacDonald menulis: “Ada sebuah ‘keindahan’ dalam persahabatan yang memberi aku ruang untuk menjadi diriku sendiri. Tetapi, yang lebih kubutuhkan sesungguhnya adalah sebuah hubungan yang dapat mendorong aku menjadi lebih baik daripada diriku sendiri. Aku perlu terus bertumbuh setiap hari. Aku tidak ingin tetap menjadi diriku yang kemarin. Aku ingin menjadi diriku yang bertumbuh setiap hari sebagai pribadi yang makin serupa Kristus.”

Persahabatan yang baik itu saling membangun, adakalanya melalui perbedaan pendapat dan masukan yang jujur. Meskipun perbedaan pendapat tidaklah menyenangkan bagiku, aku mulai melihat betapa penting dan bernilainya pendapat yang berbeda itu. Ayo kita berjuang menjadi pribadi yang lebih baik dan mendorong sahabat-sahabat kita melakukan hal yang sama!

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
Pernahkah kamu berbeda pendapat dengan sahabatmu? Bagaimana kamu menyikapinya?

Pentingnya Punya Sahabat

Penulis: Vincent Tanzil
Ilustrator: Galih Reza Suseno

Persahabatan 650

Berada bersama dengan seorang teman adalah hal yang umum kita jumpai di kampus. Pada saat mahasiswa-mahasiswa berjalan mengarungi selasar, biasanya mereka berjalan bersama satu, dua, atau beberapa orang teman. Pegawai dan dosen pun tidak jarang ditemukan sedang makan atau berjalan bersama. Berkumpul bersama dengan kawan-kawan merupakan kegiatan sehari-hari manusia pada umumnya.

Meski demikian, tidak semua orang punya teman dekat atau sahabat. Seseorang bisa memiliki teman makan bersama, teman satu kepanitiaan, teman satu program studi, teman satu kantor, bahkan banyak teman dalam media sosial, tetapi tetap merasa kesepian. Bukan kepada semua orang isi hati boleh ditumpahkan. Ada yang memahami, ada yang menghakimi. Sahabat adalah orang yang memahami ketimbang menghakimi, karena itulah kita merasa nyaman bersama dengannya. Tidak cukup hanya memiliki teman, setiap kita perlu memiliki sahabat.

Karakteristik seorang sahabat jauh lebih kompleks sekadar seorang teman biasa. Lahir dan besar di keluarga yang sama tidak menjamin sesama saudara bisa menjadi dekat satu sama lain. Orang yang kelihatannya riang dan hangat di kampus tidak selalu sama riangnya ketika berhadapan dengan saudara-saudaranya. Terkadang sahabat yang baru kita temui di kampus, organisasi atau tempat kerja, malah bisa menjadi lebih dekat dan cocok ketimbang saudara yang tinggal seatap. Sahabat seperti inilah yang bisa menjadi “lebih karib daripada seorang saudara” (Amsal 18:24b).

Memiliki sahabat adalah hal yang sangat penting. Ini esensial. Ini prinsip kehidupan. Saking pentingnya persahabatan, kitab Amsal sampai mengatakan untuk memelihara hubungan tidak hanya dengan sahabat kita, tetapi juga dengan para sahabat orangtua kita. “Jangan kau tinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh” (Amsal 27:10). Tidak selalu kita tinggal dekat dengan saudara, karena itu sangatlah baik apabila memiliki seorang yang dekat pada saat kesulitan. Tentu para mahasiswa dan pegawai yang berasal dari luar daerah sangat memahami situasi semacam ini.

Sahabat yang selalu ada di setiap waktu adalah bagian hakiki dari kehidupan. Pun demikian, penulis Amsal tampaknya menyadari adanya bahaya jika orang berpuas saja dengan sahabat yang selalu hadir, karena sangat mungkin kita hanya akan memilih sahabat yang mirip dengan kita, yang selalu sependapat dengan kita, dan yang tidak pernah memberikan masukan kepada kita. Sahabat yang demikian dapat membuat kita merasa senang, namun tanpa sadar ia membiarkan kita menuju kerusakan. Sebab itu, penulis Amsal berkata, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Amsal 27:5-6). Maksudnya apa? Memiliki seorang sahabat yang tidak sekadar memahami kita tetapi juga berani mengonfrontasi kekeliruan kita jauh lebih berharga ketimbang banyak teman tanpa kedalaman hubungan. Ada tipe sahabat yang menyenangkan untuk diajak berjalan-jalan bersama, bermain bersama, dan sebagainya. Akan tetapi, mereka yang bisa memberikan teguran untuk memperbaiki diri kita adalah sahabat terbaik yang bisa kita dapatkan.

Kita bukanlah orang sempurna. Kita cenderung menyukai perkataan-perkataan yang manis dan menyenangkan bagi hati dan telinga saja. Tetapi orang Kristen tidak dipanggil untuk sekadar merasa nyaman dan percaya diri. Menjadi orang Kristen tidak berarti kita akan selalu berlimpah pujian dan penguatan. Meski mendapatkan pujian dan penguatan adalah hal yang baik, tetapi bukan itu tujuan utama kita. Tujuan utama orang Kristen adalah menjadi makin serupa dengan Kristus. Untuk menjadi makin serupa Kristus, bukan sekadar pujian yang kita butuhkan. Kita juga membutuhkan nasihat, teguran, dan dorongan untuk berubah. Tuhan pun telah menetapkan salah satu sarana yang efektif: sahabat. “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17).

Sahabat terbaik adalah seorang yang mengenali kita luar dan dalam. Kita tidak perlu menutup-nutupi kondisi kita yang sebenarnya terhadap sahabat yang demikian, karena kita percaya bahwa ia selalu menginginkan yang terbaik bagi hidup kita. Ia peduli, dan karenanya ia melakukan apa yang perlu untuk menajamkan kita.

Milikilah teman yang banyak, sekelompok sahabat yang akrab, dan beberapa sahabat yang saling menajamkan.

Selamat bersahabat.

 
Artikel ini terbit dalam Dwi Pekan UK Petra no.12/Thn. XXIII 5 Mei-18 Mei 2015 dengan judul Seorang Sahabat. Diadaptasi dengan izin penulis.