Posts

Kata-Kata Bijak

Rabu, 17 Juni 2015

Kata-Kata Bijak

Baca: Amsal 10:18-21; 12:17-19

10:18 Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal.

10:19 Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.

10:20 Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya.

10:21 Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.

12:17 Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya.

12:18 Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.

12:19 Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata.

Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. —Amsal 12:18

Kata-Kata Bijak

Otot apakah yang paling kuat dalam tubuh manusia? Sebagian orang mengatakan itu lidah, tetapi sebenarnya sulit untuk menentukan otot yang paling kuat, karena otot-otot dalam tubuh tidak terpisahkan fungsinya antara satu dengan lainnya.

Namun, kita tahu bahwa lidah memang kuat. Walaupun ototnya kecil,banyak kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh lidah. Organ otot yang kecil dan aktif tersebut tidak hanya membantu kita untuk makan, menelan, mengecap, dan memulai proses pencernaan, tetapi juga mempunyai kecenderungan yang mendorong kita untuk mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya kita ucapkan. Lidah bersalah apabila digunakan untuk mengucapkan sanjungan yang berlebihan, mengutuk, berbohong, menyombongkan diri, melukai orang lain, dan masih banyak lagi.

Jadi, lidah memang berbahaya, bukan? Namun lidah tidak harus digunakan seperti itu. Ketika kita dikendalikan oleh Roh Kudus, lidah kita bisa diubahkan supaya dapat memberikan manfaat yang besar. Kita bisa berbicara tentang keadilan Allah (Mzm. 35:28) dan hukum Tuhan (37:30). Kita bisa mengatakan kebenaran (15:2), menunjukkan kasih (1Yoh. 3:18), dan mengakui dosa (1Yoh. 1:9).

Penulis Amsal 12:18 mengemukakan tentang salah satu manfaat terbaik dari lidah: “Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” Bayangkan, betapa kita dapat memuliakan Allah pencipta lidah itu ketika Dia menolong kita memakainya untuk mendatangkan kesembuhan—dan bukan luka hati—pada setiap orang yang kita ajak bicara. —Dave Branon

Ya Tuhan, jagalah setiap ucapan kami agar dapat mencerminkan pribadi-Mu dan kasih-Mu. Tolonglah agar lidah kami mengucapkan kata-kata yang membawa kesembuhan dan bukan luka hati.

Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu. —1 Tesalonika 5:11

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 7–9; Kisah Para Rasul 3

Menjinakkan yang Tak Terjinakkan

Senin, 16 Februari 2015

Menjinakkan yang Tak Terjinakkan

Baca: Yakobus 3:1-12

3:1 Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:4 Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.

3:5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

3:6 Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

3:7 Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,

3:8 tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

3:9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah. —Yakobus 3:8

Menjinakkan yang Tak Terjinakkan

Manusia telah belajar untuk menjinakkan beragam jenis hewan liar, mulai dari babi Vietnam berperut besar hingga rubah Siberia. Ada yang suka mengajar monyet untuk “bergaya” dalam iklan atau melatih rusa untuk makan dari tangan mereka. Ini seperti yang dikatakan Rasul Yakobus, “Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia” (3:7).

Namun ada satu hal yang tidak dapat kita jinakkan. Setiap dari kita mengalami kesulitan untuk mengendalikan sebuah benda kecil yang disebut lidah. “Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah,” demikian disampaikan Yakobus kepada kita (ay.8).

Mengapa demikian? Karena walaupun perkataan kita mungkin berada di ujung lidah kita, tetapi semua itu dihasilkan dari dalam batin kita. “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati” (Mat. 12:34). Dengan demikian, lidah bisa digunakan untuk maksud yang baik maupun yang jahat (Yak. 3:9). Atau seperti yang dikatakan seorang pakar Alkitab bernama Peter Davids, “Di satu sisi, [lidah] bisa menjadi sangat religius, tetapi di sisi lain, bisa sangat menajiskan.”

Jika kita tidak dapat menjinakkan lidah kita yang sulit dijinakkan, apakah itu berarti lidah kita harus membawa masalah bagi kita setiap hari karena cenderung mengatakan hal-hal yang jahat? (ay.10). Tentu tidak, berkat pertolongan Allah. Kita tidak dibiarkan untuk mengendalikannya dengan kekuatan kita sendiri. Tuhan akan mengawasi mulut kita; Dia akan berjaga “pada pintu bibirku” (Mzm. 141:3). Allah sanggup menjinakkan yang tak terjinakkan. —JDB

Ya Tuhan, mulutku terkadang mengucapkan kata-kata
yang tidak menghormati-Mu. Terima kasih karena oleh Roh-Mu,
lidahku yang tidak terjinakkan bisa dikendalikan
di bawah kuasa ilahi. Berjagalah pada pintu bibirku hari ini.

Untuk menguasai lidahmu, izinkan Kristus berkuasa di dalam hatimu.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 19-20; Matius 27:51-66

Photo credit: kavehkhkh / Foter / CC BY-NC

Perang Kata-Kata

Senin, 20 Oktober 2014

Perang Kata-Kata

Baca: Amsal 15:1-23

15:1 Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

15:2 Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan.

15:3 Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.

15:4 Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.

15:5 Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.

15:6 Di rumah orang benar ada banyak harta benda, tetapi penghasilan orang fasik membawa kerusakan.

15:7 Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal tidak jujur.

15:8 Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.

15:9 Jalan orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi siapa mengejar kebenaran, dikasihi-Nya.

15:10 Didikan yang keras adalah bagi orang yang meninggalkan jalan yang benar, dan siapa benci kepada teguran akan mati.

15:11 Dunia orang mati dan kebinasaan terbuka di hadapan TUHAN, lebih-lebih hati anak manusia!

15:12 Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak.

15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

15:14 Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.

15:15 Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.

15:16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.

15:17 Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.

15:18 Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.

15:19 Jalan si pemalas seperti pagar duri, tetapi jalan orang jujur adalah rata.

15:20 Anak yang bijak menggembirakan ayahnya, tetapi orang yang bebal menghina ibunya.

15:21 Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai berjalan lurus.

15:22 Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

15:23 Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. —Amsal 15:1

Perang Kata-Kata

Pada 28 Juli 1914, Kekaisaran Austria-Hongaria mendeklarasikan perang terhadap Serbia sebagai pembalasan terhadap pembunuhan Adipati Franz Ferdinand dan istrinya, Sophie. Hanya dalam waktu 90 hari, negara-negara Eropa lainnya telah melibatkan diri dan mengambil sikap memihak demi menjunjung aliansi militer mereka sekaligus mengejar ambisi mereka masing-masing. Satu peristiwa tunggal akhirnya memicu pecahnya Perang Dunia I, salah satu konflik bersenjata paling berdarah di era modern.

Perang memang merupakan tragedi besar yang menggemparkan, tetapi hubungan kita dengan sesama dan ikatan kekeluargaan dapat menjadi retak hanya oleh sejumlah kecil kata-kata yang penuh kebencian. Yakobus menulis, “Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar” (Yak. 3:5). Kunci untuk menghindari konflik lisan dapat ditemukan dalam kitab Amsal: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah” (15:1).

Sebuah ucapan yang sederhana dapat memulai pertengkaran besar. Ketika oleh anugerah Allah kita memilih untuk tidak membalas dengan kata-kata, sikap kita itu menghormati Yesus, Juruselamat kita. Ketika Yesus dilecehkan dan dihina, Dia sedang menggenapi nubuat Nabi Yesaya, “Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya” (Yes. 53:7).

Amsal mendorong kita untuk mengucapkan kebenaran dan mengusahakan perdamaian melalui perkataan kita. “Lidah lembut adalah pohon kehidupan, . . . dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (15:4,23). —DCM

Perkataan yang ceroboh dapat memulai pertikaian,
Perkataan kasar dapat menghancurkan hidup seseorang,
Perkataan yang tepat waktu dapat mengurangi beban stres,
Perkataan penuh kasih bisa memulihkan dan memberkati. —NN.

Ya Tuhan, jadikanku alat yang menebarkan damai-Mu. Di mana ada kebencian, kiranya hamba menabur kasih.

Perkataan Yang Tepat Pada Waktunya

Senin, 13 Oktober 2014

KomikStrip-WarungSateKamu-20141009-Apa -Yang-Kamu-Harapkan

Baca: Amsal 25:11-15

25:11 Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.

25:12 Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.

25:13 Seperti sejuk salju di musim panen, demikianlah pesuruh yang setia bagi orang-orang yang menyuruhnya. Ia menyegarkan hati tuan-tuannya.

25:14 Awan dan angin tanpa hujan, demikianlah orang yang menyombongkan diri dengan hadiah yang tidak pernah diberikannya.

25:15 Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. —Amsal 25:11

Perkataan Yang Tepat Pada Waktunya

Kamu mungkin pernah mendengar pepatah, “Waktu yang menentukan segalanya.” Menurut Alkitab, waktu yang tepat berlaku juga pada perkataan kita. Pikirkanlah suatu waktu ketika Allah pernah memakaimu untuk menyampaikan perkataan yang tepat bagi seseorang yang membutuhkan penghiburan, atau justru di kesempatan lain, ketika kamu ingin berbicara, kamu merasa lebih baik untuk tidak mengucapkan apa-apa.

Alkitab mengatakan bahwa ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara (Pkh. 3:7). Menurut Salomo, perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya dan yang disampaikan dengan baik itu bagaikan buah apel emas di pinggan perak—indah, berharga, dan disusun dengan saksama (Ams. 25:11-12). Mengetahui waktu yang tepat untuk berbicara akan memberi manfaat bagi pembicara maupun pendengarnya, entah perkataan itu tanda kasih, penguatan, atau teguran. Ada juga saatnya kita patut berdiam diri. Ketika kita tergoda untuk mengumpat, menghina, atau menjelek-jelekkan orang lain, Salomo mengatakan, alangkah bijaknya jika kita menahan lidah, karena itulah waktu yang tepat untuk berdiam diri (11:12-13). Ketika sikap banyak bicara atau amarah menggoda kita untuk berbuat dosa terhadap Allah atau seseorang, kita dapat menahan diri dengan mengambil sikap untuk lambat dalam berkata-kata (10:19; Yak. 1:19).

Sering kali sulit mengetahui apa yang harus kita katakan dan kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Roh Kudus akan menolong kita untuk bertindak bijaksana. Dia akan menolong kita untuk mengucapkan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang benar, demi kebaikan sesama dan demi kemuliaan-Nya. —MLW

Bapa surgawi, terima kasih karena Engkau memakai orang lain untuk
memberikan kata-kata yang menguatkan dan menantang imanku.
Berilah aku hikmat untuk menyadari waktu dan cara yang tepat agar
ucapan atau justru sikap diamku dapat bermanfaat bagi orang lain.

Sungguh berharga perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya.

Burung Hantu Yang Bijak

Kamis, 25 September 2014

Burung Hantu Yang Bijak

Baca: Amsal 10:17-21

10:17 Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.

10:18 Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal.

10:19 Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.

10:20 Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya.

10:21 Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. —Amsal 10:19

Burung Hantu Yang Bijak

Bertahun-tahun yang lalu seorang penulis tak dikenal pernah menulis suatu puisi singkat tentang manfaat dari menyaring ucapan kita.

Burung hantu bijak duduk di pohon ek;
Banyak melihat jadi sedikit berkata-kata;
Sedikit berkata jadi banyak mendengar;
Kenapa kita semua tak bisa seperti burung hantu bijak itu?

Kita bisa melihat hubungan antara hikmat dengan sikap mengekang lidah. Amsal 10:19 menulis, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

Sikap bijak kita tunjukkan ketika kita menjaga apa dan berapa banyak yang kita ucapkan dalam situasi-situasi tertentu. Menjaga ucapan pada saat kita sedang marah juga merupakan perbuatan yang bijaksana. Yakobus mendorong sesama orang percaya dengan menasihati, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak. 1:19). Mengendalikan perkataan kita juga menunjukkan penghormatan kepada Allah. Salomo berkata, “Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit” (Pkh. 5:1). Saat ada seseorang yang sedang berduka, kehadiran kita tanpa banyak bicara mungkin akan lebih membantunya daripada ungkapan simpati yang kita ucapkan bertubi-tubi: “Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayb 2:13).

Meskipun ada waktu untuk berdiam diri dan ada waktu untuk berbicara (Pkh. 3:7), memilih untuk mengekang lidah akan memampukan kita untuk lebih siap mendengar. —JBS

Ya Tuhan, tolong berilah aku hikmat untuk tahu kapan
aku harus berbicara dan kapan aku harus mendengar.
Aku ingin menguatkan sesamaku dan memperhatikan mereka
sebagaimana Engkau telah selalu memperhatikanku.

Berdiamlah apabila tidak ada kata-kata baik yang dapat kamu ucapkan.

Tentang Mendengarkan

Senin, 17 Februari 2014

Tentang Mendengarkan

Baca: Keluaran 16:1-8

16:1 Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.

16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;

16:3 dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

16:4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.

16:5 Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.”

16:6 Sesudah itu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh orang Israel: “Petang ini kamu akan mengetahui bahwa Tuhanlah yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir.

16:7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?”

16:8 Lagi kata Musa: “Jika memang TUHAN yang memberi kamu makan daging pada waktu petang dan makan roti sampai kenyang pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya–apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.”

Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah. —Pengkhotbah 5:1

Tentang Mendengarkan

Ada ungkapan: “Allah memberi kita dua telinga dan satu mulut dengan suatu maksud.” Kemampuan untuk mendengarkan merupakan keterampilan hidup yang penting. Para konselor meminta kita untuk mau mendengarkan satu sama lain. Para pemimpin rohani menasehati kita untuk mendengarkan Allah. Namun orang jarang berkata, “Dengarkanlah dirimu sendiri.” Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita memiliki suara batin yang selalu tahu apa yang harus kita katakan. Juga bukan berarti kita harus lebih mendengarkan diri sendiri daripada mendengarkan Allah dan sesama. Maksud saya, kita perlu mendengarkan diri sendiri agar kita dapat memahami apa yang mungkin ditangkap orang lain dari perkataan kita.

Bangsa Israel seharusnya menerapkan prinsip ini ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Baru beberapa hari setelah dibebaskan secara ajaib, mereka sudah mengeluh (Kel. 16:2). Kebutuhan mereka untuk makan memang wajar, tetapi cara mengungkapkan kebutuhan itu sungguh tidak pantas (ay.3).

Ketika kita mengucapkan sesuatu karena didorong oleh perasaan takut, kemarahan, ketidakpedulian, atau keangkuhan diri—sekalipun yang kita katakan itu benar—orang yang menyimak perkataan kita akan menangkap lebih daripada sekadar kata-kata yang kita ucapkan. Mereka mendengar emosi kita. Namun mereka tidak tahu apakah emosi itu didasari oleh sikap perhatian dan kasih, atau oleh niat untuk menghina dan merendahkan, sehingga bisa saja orang salah paham terhadap kita. Jika kita mendengarkan diri sendiri sebelum mengucapkan sesuatu, kita bisa memeriksa hati kita sebelum ucapan kita yang ceroboh merugikan orang lain atau mendukakan Allah. —JAL

Tuhan, tolong aku untuk berpikir sebelum berbicara,
untuk memeriksa hatiku. Tolong aku untuk mengendalikan lidahku
dan mengungkapkan maksudku dengan jelas sehingga aku tidak akan
menimbulkan perpecahan. Tolonglah aku menjaga bibirku.

Kata-kata yang diucapkan secara sembrono lebih sering menimbulkan kerugian daripada kebaikan.

Perkataan Yang Memulihkan

Selasa, 7 Januari 2014

Perkataan Yang Memulihkan

Baca: Matius 6:5-15

6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.

6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu. —Matius 6:9

Perkataan Yang Memulihkan

Pada tanggal 19 November 1863, dua orang terkenal memberikan pidato pada acara peresmian Taman Makam Militer di Gettysburg, Pennsylvania. Pembicara utamanya, Edward Everett, adalah mantan anggota kongres, gubernur, dan presiden dari Universitas Harvard. Everett yang dipandang sebagai salah satu orator ulung di zamannya itu berpidato selama 2 jam. Setelah selesai, tiba giliran Presiden Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya, dan ia hanya berbicara selama 2 menit.

Saat ini, pidato Lincoln yang disebut Pidato Gettysburg itu begitu dikenal luas dan dikutip di mana-mana, sedangkan perkataan Everett hampir dilupakan sama sekali. Pidato Lincoln tak hanya terkenal karena singkatnya isi pidato yang disampaikan dengan fasih itu. Pada kesempatan tersebut, perkataan Lincoln telah menyentuh jiwa sebuah bangsa yang yang terluka dan terpecah belah akibat perang saudara, serta menawarkan harapan bagi masa yang akan datang.

Bukan banyaknya kata yang membuat suatu pernyataan itu berarti. Perkataan Yesus yang kita sebut sebagai Doa Bapa Kami adalah salah satu pengajaran Yesus yang terpendek tetapi juga yang paling diingat orang. Doa tersebut memberikan pertolongan dan pemulihan karena mengingatkan kita bahwa Allah adalah Bapa surgawi kita yang berkuasa di bumi, sebagaimana di surga (Mat. 6:9-10). Dia menyediakan makanan, pengampunan, dan ketabahan bagi kita setiap hari (ay.11-13). Dia berhak menerima segala hormat dan kemuliaan (ay.13). Segala sesuatu yang terdapat pada masa lalu, masa kini, dan masa depan dari hidup kita terjamin dalam perkataan Tuhan yang sanggup menolong dan memulihkan kita tersebut. —DCM

Betapa mudahnya mengucapkan banyak kata
Dan tidak memikirkan ulang perkataan kita itu;
Oleh karena itu, serahkanlah ucapanmu kepada Tuhan
Agar banyak jiwa yang diberkati oleh perkataanmu. —D. DeHaan

Kata-kata kebajikan akan melembutkan, menenangkan, dan menghibur hati pendengarnya. —Blaise Pascal

Yang Kita Bicarakan

Rabu, 17 Juli 2013

Yang Kita Bicarakan

Baca: Mazmur 19

Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. —Mazmur 19:15

Anda mungkin pernah mendengar ungkapan, “Orang yang berpikiran luas suka membicarakan gagasan; orang yang berpikiran rata-rata suka membicarakan peristiwa; orang yang berpikiran kerdil suka membicarakan orang lain.” Memang, bisa saja kita membicarakan orang lain dengan cara yang menghormati mereka. Namun ungkapan di atas merujuk pada perbuatan kita yang tak pantas. Dengan hadirnya media sosial maupun profesional di mana-mana, kita pun terus-menerus diperhadapkan dengan kabar tentang kehidupan pribadi orang lain yang terkadang tak pantas untuk kita ketahui.

Lebih buruk lagi, derasnya arus informasi pribadi tentang orang lain ini bisa menjadi bahan pembicaraan di antara kita, sampai-sampai kita menganggap bahwa gosip adalah hal yang wajar dan gosip ini tak hanya ditujukan pada kalangan selebriti. Orang di tempat kerja, gereja, lingkungan, dan keluarga kita bisa menjadi sasaran dari perkataan yang tak pantas, dan bisa jadi mereka menderita akibat sesuatu yang seharusnya tak perlu dibicarakan.

Bagaimana kita bisa meloloskan diri dari kecenderungan untuk mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain? Dengan cara menyadari bahwa Allah merupakan pendengar utama dari perkataan kita, dan Dia menginginkan kita untuk memiliki sikap yang pantas. Bersama pemazmur, kita bisa berdoa, “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku” (Mzm. 19:15). Ketika berusaha untuk menyenangkan Allah melalui percakapan kita tentang orang lain, kita sedang menghormati Dia. Dengan pertolongan-Nya, kita bisa memuliakan Dia melalui ucapan kita. —WEC

Ampuni aku, Bapa, setiap kali perkataanku
melampaui batas dari apa yang pantas kuucapkan.
Tolong aku untuk memahami pengaruh dari perkataan,
dan beriku hikmat untuk berkata-kata dengan baik.

Lebih baik diam seribu bahasa daripada mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati.

Siapakah Yang Memiliki Bibirku?

Minggu, 17 Maret 2013

Siapakah Yang Memiliki Bibirku?

Baca: Mazmur 12

Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. —Mazmur 19:15

Yang membedakan pujian dengan sanjungan sering kali terletak pada motivasinya. Pujian memberikan penghargaan yang tulus atas kualitas atau tindakan yang terlihat di dalam diri orang lain. Sanjungan biasanya bertujuan untuk menonjolkan diri sendiri dengan mengandalkan sokongan dari orang lain. Pujian diberikan untuk menyemangati, sanjungan berusaha untuk memanipulasi.

Dalam Mazmur 12, Daud meratapi bangsanya ketika orang-orang yang setia dan saleh telah lenyap dan digantikan oleh mereka yang mengatakan dusta “dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang” (ay.3). Mereka telah berkata, “Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?” (ay.5).

Ada baiknya kita mengajukan pertanyaan “Siapakah yang memiliki bibirku?” kepada diri kita sendiri ketika tergiur untuk mengucapkan sanjungan yang tidak tulus demi mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Jika bibir saya adalah milik saya sendiri, saya dapat mengucapkan apa pun yang saya suka. Namun jika Tuhanlah pemilik bibir saya, ucapan saya akan mencerminkan perkataan-Nya, yang dilukiskan pemazmur sebagai “janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah” (ay.7).

Satu cara yang baik untuk menunjukkan siapa yang memiliki bibir kita adalah memulai setiap hari dengan doa Daud yang tertulis dalam mazmurnya: “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku” (Mzm. 19:15). —DCM

Perkataan yang ceroboh dapat memulai perselisihan,
Perkataan yang kejam dapat menghancurkan hidup sesama,
Perkataan yang bermanfaat dapat meredakan stres,
Perkataan penuh kasih menyembuhkan dan memberkati. —NN.

Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya. —Amsal 13:3