Posts

Oleh Kuasa Roh Kudus

Jumat, 19 Januari 2018

Oleh Kuasa Roh Kudus

Baca: Zakharia 4:1-7

4:1 Datanglah kembali malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannyalah aku seperti seorang yang dibangunkan dari tidurnya.

4:2 Maka berkatalah ia kepadaku: “Apa yang engkau lihat?” Jawabku: “Aku melihat: tampak sebuah kandil, dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu.

4:3 Dan pohon zaitun ada terukir padanya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu di sebelah kirinya.”

4:4 Lalu berbicaralah aku, kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: “Apakah arti semuanya ini, tuanku?”

4:5 Maka berbicaralah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: “Tidak, tuanku!”

4:6 Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.

4:7 Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang bersorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!”

Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. —Zakharia 4:7

Oleh Kuasa Roh Kudus

Apa yang akan Anda lakukan ketika sebuah gunung menghalangi jalan Anda? Kisah Dashrath Manjhi dapat menginspirasi kita. Istrinya meninggal dunia karena Manjhi tidak sanggup membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat. Karena peristiwa itu, Manjhi pun melakukan sesuatu yang kelihatannya mustahil. Ia menghabiskan waktu selama 22 tahun untuk memahat lubang besar di sebuah gunung supaya penduduk desa lainnya dapat pergi ke rumah sakit terdekat untuk menerima perawatan medis yang mereka butuhkan. Sebelum Manjhi tutup usia, pemerintah India sempat memberikan penghargaan atas usahanya itu.

Membangun kembali Bait Allah pasti kelihatan mustahil bagi Zerubabel, salah seorang pemimpin Israel yang kembali dari pembuangan. Rakyat sedang patah semangat, sementara musuh-musuh mengancam dan mereka kekurangan sumber daya atau jumlah pasukan yang cukup untuk bertahan. Namun, Allah mengirimkan Zakharia untuk mengingatkan Zerubabel bahwa tugas itu membutuhkan sesuatu yang lebih dahsyat daripada kekuatan militer, keperkasaan individu, atau sumber daya buatan manusia. Pekerjaan itu membutuhkan kuasa Roh Allah (Zak. 4:6). Dengan jaminan pertolongan ilahi, Zerubabel percaya bahwa Allah akan meratakan gunung kesulitan apa pun yang menghalangi pembangunan kembali Bait Allah dan proses pemulihan umat-Nya (ay.7).

Apa yang akan kita lakukan menghadapi “gunung” di hadapan kita? Kita memiliki dua pilihan: mengandalkan kekuatan kita sendiri atau mempercayai kuasa Roh Allah. Ketika kita mempercayai kuasa-Nya, Allah sanggup meratakan gunung itu, atau sebaliknya, memberi kita kekuatan dan ketahanan untuk mengatasinya. —Marvin Williams

Tujuan-tujuan Allah hanya dapat dicapai oleh kuasa Allah. Manusia takkan sanggup melakukannya dengan kekuatannya sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 46–48; Matius 13:1-30

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Robby Kurniawan

Memori yang Menguatkan Iman

Minggu, 31 Desember 2017

Memori yang Menguatkan Iman

Baca: Ratapan 3:19-26

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:23

Memori yang Menguatkan Iman

Saat melangkah memasuki ruang ibadah yang dipenuhi dengan musik, saya melihat kerumunan orang yang telah berkumpul untuk merayakan malam Tahun Baru. Sukacita membuat hati saya melimpah dengan pengharapan, sembari mengingat kembali doa-doa yang dinaikkan setahun sebelumnya. Jemaat kami pernah berduka karena anak-anak yang bermasalah, kematian orang-orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, dan hubungan yang retak. Namun, kami juga mengalami anugerah Allah saat mengingat orang-orang yang hatinya diubahkan dan hubungannya dipulihkan. Kami merayakan kemenangan, pernikahan, wisuda, dan baptisan. Kami menyambut anak-anak yang lahir, yang diadopsi, dan yang diserahkan kepada Tuhan, dan masih banyak lagi.

Saat mengingat berbagai pergumulan yang dialami jemaat gereja kami di masa lalu—seperti Yeremia mengingat “sengsara” dan “pengembaraan” yang dijalaninya (Rat. 3:19)—saya percaya bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (ay.22). Sang nabi meyakinkan kembali dirinya akan kesetiaan Allah di masa lalu, dan kata-katanya menghibur saya: “Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia” (ay.25).

Malam itu, setiap anggota jemaat kami menjadi bukti nyata dari kasih Allah yang mengubahkan hidup. Apa pun yang akan kami hadapi di tahun-tahun mendatang, sebagai anggota tubuh Kristus yang bergantung kepada satu sama lain, kami akan terus mengandalkan Tuhan. Di dalam upaya kami untuk terus mencari Allah dan mendukung satu sama lain, seperti Yeremia, kami mengalami bahwa pengharapan kami diteguhkan oleh memori-memori yang menguatkan iman. Segala memori itu mengingatkan kami pada karakter Allah yang tidak berubah dan selalu dapat diandalkan. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau menggunakan masa lalu kami untuk meyakinkan bahwa pengharapan kami tetap aman terjaga karena kesetiaan-Mu kekal selamanya.

Sembari menantikan tahun yang baru, marilah mengingat bahwa Allah telah berlaku setia dan akan selalu setia.

Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4 dan Wahyu 22

Kamar 5020

Senin, 16 Oktober 2017

Kamar 5020

Baca: Kejadian 50:15-20

50:15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”

50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”

50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini. —Kejadian 50:20

Kamar 5020

Jay Bufton menjadikan kamar perawatannya sebagai saluran berkat. Pria berusia 52 tahun yang bekerja sebagai guru SMA sekaligus pelatih olahraga itu sedang menderita kanker. Namun, ia menjadikan Kamar 5020 tempatnya dirawat sebagai saluran pengharapan bagi para sahabat, kerabat, dan pekerja di rumah sakit. Karena sikapnya yang ceria dan imannya yang tangguh, para perawat pun senang melayaninya. Beberapa dari mereka bahkan mengunjunginya di luar jam kerja.

Meski tubuhnya yang dahulu atletis kini melemah, ia tetap menyapa siapa pun dengan senyum dan berusaha menguatkan mereka. Seorang teman berkata, “Tiap kali mengunjungi Jay, ia selalu bersemangat, ceria, dan tidak pernah putus asa. Saat menghadapi kanker dan kematian pun, ia tetap menyaksikan imannya.”

Di hari pemakaman Jay, seorang kawan menyebut bahwa Kamar 5020 mempunyai makna khusus. Ia mengacu pada Kejadian 50:20, di mana Yusuf mengatakan bahwa meski saudara-saudaranya pernah menjualnya sebagai budak, Allah membalikkan keadaan itu dan mendatangkan kebaikan untuk “memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kanker menggerogoti tubuh Jay, tetapi karena melihat karya tangan Allah, ia dapat berkata bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” Itulah alasan Jay dapat memakai kanker yang ganas sekalipun sebagai kesempatan untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain.

Jay telah memberikan teladan iman yang tak tergoyahkan oleh ancaman kematian. Imannya kepada Allah yang Mahabaik dan layak dipercaya itu sungguh menjadi kesaksian yang luar biasa! —Dave Branon

Tuhan, banyak kesulitan kami alami dalam hidup ini. Tolong kami sungguh-sungguh mempercayai-Mu sehingga kami dapat melihat tiada satu hal pun yang berada di luar kendali-Mu. Tolong kami untuk menceritakan kasih-Mu bahkan di saat-saat yang sulit.

Oleh anugerah Allah, kita dapat memberikan kesaksian yang terbaik di tengah masa-masa yang terburuk.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 47-49; 1 Tesalonika 4

Terlahir di Masa Krisis

Selasa, 3 Oktober 2017

Terlahir di Masa Krisis

Baca: Mazmur 57

57:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam Dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.57:2 Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

57:3 Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.

57:4 Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. Sela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.

57:5 Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.

57:6 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

57:7 Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya. Sela

57:8 Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur.

57:9 Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!

57:10 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;

57:11 sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.

57:12 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

Dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. —Mazmur 57:2

Terlahir di Masa Krisis

Marc mengingat momen masa kecilnya saat ayahnya memanggil semua anggota keluarga untuk berkumpul. Mobil mereka rusak, dan keluarga mereka akan kehabisan uang pada akhir bulan itu. Ayah Marc berhenti sejenak dan berdoa. Lalu ia meminta keluarganya untuk menantikan jawaban dari Allah.

Kini Marc teringat bagaimana Allah menolong dengan cara-cara yang mengejutkan. Datanglah seorang teman yang membantu memperbaiki mobil mereka, sejumlah cek yang tak terduga, dan kiriman makanan ke rumah mereka. Mereka pun memuji Tuhan, dan masa krisis itu membuat mereka sangat bersyukur.

Mazmur 57 telah banyak menginspirasi penulisan lagu-lagu pujian kepada Allah. Ketika Daud berseru, “Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah!” (ay.12), mungkin kita membayangkan Daud sedang menatap langit Timur Tengah yang indah di malam hari atau sedang bernyanyi dalam ibadah di Bait Suci. Namun kenyataannya, Daud yang takut kehilangan nyawanya sedang bersembunyi di dalam gua.

“Aku terbaring di tengah-tengah singa,” kata Daud di mazmurnya. Singa itu adalah para musuh yang “suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam” (ay.5). Pujian Daud terlahir di masa krisis. Walaupun dikepung oleh para musuh yang menghendaki kematiannya, Daud masih dapat menuliskan kata-kata yang luar biasa ini: “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur” (ay.8).

Apa pun krisis yang kita hadapi hari ini, kita dapat berlari kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya. Setelah itu, kita dapat memuji-Nya sambil menanti dengan penuh keyakinan pada kuasa Allah yang sanggup memelihara kita. —Tim Gustafson

Krisis berikutnya yang kamu alami merupakan kesempatan berikutnya bagi kamu untuk mempercayai Allah kita yang tidak pernah gagal.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 17-19; Efesus 5:17-33

Dibimbing Allah

Jumat, 8 September 2017

Dibimbing Allah

Baca: Mazmur 30:1-13

30:1 Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud.30:2 Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.

30:3 TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.

30:4 TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.

30:5 Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!

30:6 Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.

30:7 Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!”

30:8 TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.

30:9 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon:

30:10 “Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?

30:11 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!”

30:12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

30:13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai. —Mazmur 30:6

Dibimbing Allah

Baru-baru ini tanpa sengaja saya menemukan beberapa jurnal yang saya tulis semasa kuliah. Setelah membacanya lagi, saya menyadari bahwa perasaan saya terhadap diri sendiri saat itu sangat jauh berbeda dengan perasaan saya saat ini. Pergumulan saya dalam menghadapi kesepian dan keraguan atas iman saya terasa begitu berat untuk dihadapi saat itu. Namun ketika melihat ke belakang, saya dapat melihat dengan jelas bagaimana Allah telah membimbing saya ke tempat yang lebih baik. Melihat bagaimana Allah dengan lembut membimbing saya melewati masa-masa itu mengingatkan saya bahwa apa yang begitu membebani kita hari ini kelak akan menjadi bagian dari kisah yang lebih besar tentang kasih-Nya yang memulihkan kita.

Mazmur 30 adalah mazmur perayaan yang juga melihat ke masa lalu dengan rasa kagum dan syukur atas pemulihan Allah yang luar biasa: yang sakit telah disembuhkan, yang terancam nyawanya telah diselamatkan, yang merasakan hukuman Allah telah menikmati kemurahan-Nya, yang berdukacita telah bersukacita (ay.3-4,12).

Mazmur itu ditulis oleh Daud, seorang yang menuliskan sejumlah ratapan paling memilukan di dalam Alkitab. Namun demikian, Daud juga mengalami pemulihan yang begitu luar biasa hingga ia dapat menyatakan, “Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6). Di balik semua penderitaan yang dialaminya, Daud menemukan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu tangan pemulihan Allah yang penuh kuasa.

Jika hari ini kamu terluka dan sedang membutuhkan penguatan, ingatlah kembali pada masa lalu ketika Allah membimbing dan memulihkanmu. Berdoalah agar kamu kembali beriman bahwa Dia akan melakukannya lagi. —Monica Brands

Tuhan, saat pergumulan kami terlalu berat untuk kami tanggung, tolonglah kami menemukan penghiburan dan kekuatan saat mengingat bimbingan-Mu di masa lalu.

Dengan penuh kasih, Allah bekerja membawa pemulihan dan sukacita di dalam dan melalui penderitaan hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 3-5 dan 2 Korintus 1

Damai Sejahtera dan Percaya

Kamis, 3 Agustus 2017

Damai Sejahtera dan Percaya

Baca: Yesaya 26:1-9

26:1 Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: “Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng.

26:2 Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia!

26:3 Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

26:4 Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.

26:5 Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu.

26:6 Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.”

26:7 Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya.

26:8 Ya TUHAN, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau.

26:9 Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi; sebab apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. —Yohanes 14:27

Damai Sejahtera dan Percaya

Ketika berusia enam tahun, saya naik roller coaster untuk pertama kalinya dengan kakak-kakak lelaki saya. Begitu kami menukik di tikungan tajam dengan kecepatan tinggi, saya pun berteriak: “Hentikan sekarang juga! Aku mau turun!” Tentu saja roller coaster itu tidak berhenti, dan saya mencengkeram erat pegangannya sampai roller coaster itu berhenti.

Terkadang hidup dapat seperti naik roller coaster yang tidak diinginkan, dengan jalur-jalur turun yang curam dan belokan-belokan tajam yang tak pernah kita lihat kapan munculnya. Ketika masalah kehidupan datang tak terduga, Alkitab mengingatkan bahwa jalan keluar terbaik bagi kita adalah dengan percaya sepenuhnya kepada Allah. Di masa penuh gejolak ketika penjajahan bangsa asing mengancam Israel, Nabi Yesaya yang terinspirasi Roh Allah merasakan janji yang kuat dari Tuhan: “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yes. 26:3).

Damai sejahtera yang diberikan Juruselamat kita pada saat kita berserah kepada-Nya itu “melampaui segala akal” (Flp. 4:7). Saya tidak akan pernah melupakan kata-kata seorang wanita yang sedang bergumul dengan kanker payudara yang diidapnya. Setelah sekelompok jemaat gereja kami mendoakannya suatu malam, ia berkata, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang kutahu, aku akan baik-baik saja, karena Tuhan ada di sini bersama kita malam ini.”

Kehidupan akan memiliki kesulitannya sendiri. Namun, Juruselamat yang sangat mengasihi kita lebih besar dari semua kesulitan itu. —James Banks

Tuhan, tolonglah aku untuk percaya kepada-Mu agar aku dapat menjalani hidup dengan damai.

Yesus adalah damai sejahtera kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 63-65 dan Roma 6

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Sabtu, 15 Juli 2017

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Baca: 1 Samuel 17:8, 32-37, 48-50

17:8 Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: “Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku.

17:32 Berkatalah Daud kepada Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”

17:33 Tetapi Saul berkata kepada Daud: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

17:34 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,

17:35 maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.

17:36 Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

17:37 Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

17:48 Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

17:49 lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang . . . akan melepaskan aku. —1 Samuel 17:37

Apakah Kamu Sedang Disiapkan?

Ketika masih di SMA, saya pernah bekerja di sebuah restoran cepat saji selama lebih dari dua tahun. Ada hal-hal tertentu dalam pekerjaan itu yang terasa sulit. Misalnya menghadapi pelanggan yang marah karena ia menemukan ada selembar keju yang tidak diinginkannya di dalam roti isi yang tidak saya buat. Segera setelah keluar dari sana, saya melamar pekerjaan komputerisasi di kampus saya. Atasan saya lebih tertarik dengan pengalaman kerja saya di restoran cepat saji daripada keahlian komputer saya. Mereka ingin tahu cara saya menghadapi orang. Pengalaman di tempat kerja yang tidak menyenangkan itu justru telah menyiapkan saya untuk pekerjaan yang lebih baik!

Daud yang masih muda pernah berhasil melewati sebuah peristiwa yang mungkin tidak menyenangkan di mata kita. Ketika Israel ditantang untuk mengirimkan seseorang sebagai lawan Goliat, tidak ada seorang pun yang cukup berani untuk melakukannya. Kecuali Daud. Raja Saul sebenarnya enggan mengirim Daud berperang. Namun, Daud menjelaskan bahwa sebagai gembala, ia pernah melawan dan membunuh singa dan beruang demi menyelamatkan domba-dombanya (1SAM. 17:34-36). Dengan percaya diri, ia menyatakan, “Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (ay.37).

Bekerja sebagai gembala tidak membuat Daud dihormati banyak orang, tetapi hal itu telah menyiapkannya untuk berperang melawan Goliat, dan pada akhirnya menjadi raja teragung bangsa Israel. Kita mungkin sedang berada dalam situasi-situasi yang sulit, tetapi melalui semua itu Allah mungkin sedang menyiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar! —Julie Schwab, penulis tamu

Tuhan, tolong aku untuk bertahan selama masa-masa yang tidak menyenangkan dalam hidupku. Aku percaya bahwa mungkin Engkau sedang menyiapkan aku untuk sesuatu yang lebih besar.

Allah memakai situasi saat ini untuk menyiapkan kita bagi masa depan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13-15dan Kisah Para Rasul 19:21-41

Pengamat Langit

Sabtu, 19 November 2016

Pengamat Langit

Baca: Yesaya 40:21-31

40:21 Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan?

40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

40:23 Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!

40:24 Baru saja mereka ditanam, baru saja mereka ditaburkan, baru saja cangkok mereka berakar di dalam tanah, sudah juga Ia meniup kepada mereka, sehingga mereka kering dan diterbangkan oleh badai seperti jerami.

40:25 Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.

40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

40:27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Dia yang mengatur [bintang-bintang] seperti pasukan, Ia tahu jumlah mereka semua, dan memanggil masing-masing dengan namanya. —Yesaya 40:26 BIS

Pengamat Langit

Gelisah karena persoalan di tempat kerja dan di rumah, Matt memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara malam di musim semi. Seiring dengan perubahan warna langit dari biru menjadi hitam, kabut tebal turun dan perlahan menutupi rawa. Bintang-bintang mulai berkelip, mengiringi bulan purnama yang terbit di timur. Bagi Matt, saat-saat itu terasa seperti sebuah pengalaman rohani. Dia hadir, pikirnya. Allah hadir, dan segalanya aman di tangan-Nya.

Ada orang memandang langit malam dan hanya melihat itu sebagai fenomena alam. Yang lain menganggap Allah sejauh dan sedingin planet Jupiter. Namun Allah yang “bertakhta di atas bulatan bumi” adalah Allah yang juga “mengatur [bintang-bintang] seperti pasukan, Ia tahu jumlah mereka semua, dan memanggil masing-masing dengan namanya” (Yes. 40:22,26 BIS). Dia mengenal setiap ciptaan-Nya dengan dekat.

Allah yang dekat itu bertanya kepada umat-Nya, “Jadi Israel, mengapa engkau berkeluh kesah, seolah-olah Tuhan Allahmu tak tahu engkau susah? Seolah-olah Ia tidak mengindahkan nasibmu?” Dalam belas kasihan-Nya, Allah mengingatkan mereka untuk berharap kepada-Nya. “Masakan engkau tidak tahu dan tidak mendengar? . . . Ia menguatkan orang yang lelah, memberi semangat kepada yang tak berdaya” (ay.27-29 BIS).

Kita mudah tergoda untuk melupakan Allah. Persoalan kita tidak akan hilang begitu saja, tetapi kita dapat menemukan ketenangan dan kepastian bahwa Allah selalu berkarya menggenapi rencana-Nya yang baik. “Aku hadir,” kata-Nya. “Kau aman di tangan-Ku.” —Tim Gustafson

Terima kasih, Tuhan, untuk langit malam yang menolong kami dapat melihat kekekalan secara sekilas. Kami belum mampu memahami sepenuhnya, tetapi kami tahu itu sungguh ada, dan kami tahu Engkau ada di sana. Tolong kami untuk mempercayai-Mu atas hal-hal yang tidak kami mengerti.

Kita patut menempatkan Allah sebagai yang utama di dalam hati kita sebagaimana Dia adalah yang utama di dalam alam semesta.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 11-13; Yakobus 1

Artikel Terkait:

Allah di Balik Kabut Asap

Pernahkah kamu bertanya mengapa Allah membiarkan bencana datang dan menyebabkan jutaan orang menderita? Markus memikirkan pertanyaan ini saat bencana kabut asap melanda Indonesia. Baca perenungannya di dalam artikel ini.

Jangan Pernah Menyerah!

Selasa, 2 Agustus 2016

Jangan Pernah Menyerah!

Baca: 2 Timotius 3:10-15

3:10 Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.

3:11 Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.

3:12 Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

3:13 sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.

3:14 Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.

3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. —2 Timotius 4:7

Jangan Pernah Menyerah!

Joop Zoetemelk menjadi pembalap sepeda paling sukses dari Belanda karena ia tidak pernah menyerah. Ia berhasil menyelesaikan lomba Tour de France sebanyak 16 kali; dengan menempati posisi kedua sebanyak lima kali sebelum menjuarainya pada tahun 1980. Itulah yang disebut ketekunan!

Banyak pemenang telah menggapai kesuksesan berkat usaha mereka yang tidak pernah menyerah. Namun demikian, ada banyak juga orang yang telah kehilangan kesempatan untuk meraih keberhasilan karena mereka terlalu cepat menyerah. Itu dapat terjadi di tiap bidang kehidupan: keluarga, pendidikan, pergaulan, pekerjaan, atau pelayanan. Ketekunan menjadi kunci meraih kemenangan.

Rasul Paulus tetap bertekun meski mengalami penganiayaan dan kesengsaraan (2Tim. 3:10-11). Ia memandang hidup dengan realistis dan mengakui bahwa sebagai pengikut Kristus, kita akan menderita penganiayaan (ay.12-13). Namun, ia menginstruksikan Timotius untuk beriman kepada Allah dan berpegang pada penguatan yang diberikan Kitab Suci (ay.14-15). Dengan melakukan semua itu, Timotius akan dimampukan untuk menghadapi kekecewaan dengan tetap bertekun dalam pengharapan. Di penghujung hidupnya, Paulus berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (4:7).

Kita juga dapat mengizinkan Kitab Suci untuk menguatkan kita di tengah perlombaan iman yang telah diwajibkan bagi kita. Karena Allah kita telah berjanji dan pasti akan menepati janji-Nya, Dia akan memberikan upah bagi mereka yang dengan setia menyelesaikan perlombaan itu (ay.8). —Jaime Fernandez Garrido

Bapa Surgawi, beriku kekuatan dalam karakter dan ketekunan untuk melayani-Mu dengan lebih baik. Tolong aku agar tidak kecewa ketika keadaan menjadi sulit, melainkan bergantung kepada-Mu dalam menghadapinya.

Iman menghubungkan kelemahan kita dengan kekuatan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 60-62; Roma 5

Artikel Terkait:

4 Hal yang Kupelajari dari Kesuksesan Paulus

Paulus berhasil mengakhiri pertandingan yang baik, mencapai garis akhir dengan memelihara iman, dan menerima mahkota kebenaran yang disediakan Tuhan. Apakah kita juga bisa meraih keberhasilan yang sama?