Posts

Tempat Perlindungan yang Teguh

Minggu, 17 Juni 2018

Tempat Perlindungan yang Teguh

Baca: Mazmur 91

91:1 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa

91:2 akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

91:3 Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.

91:4 Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.

91:5 Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,

91:6 terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.

91:7 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.

91:8 Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.

91:9 Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,

91:10 malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;

91:11 sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.

91:12 Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.

91:13 Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.

91:14 “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.

91:15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.

91:16 Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”

[Orang] akan berkata kepada Tuhan: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” —Mazmur 91:2

Tempat Perlindungan yang Teguh

Pekerjaan pertama saya adalah menjadi pegawai sebuah restoran cepat saji. Pada suatu Sabtu malam, seorang pria datang ke restoran dan bertanya kapan saya selesai bekerja. Itu membuat saya merasa tidak nyaman. Ketika hari semakin larut, ia kembali memesan kentang goreng, lalu memesan minuman, sehingga manajer saya tidak bisa mengusirnya. Walaupun rumah saya tidak terlalu jauh, saya takut berjalan pulang sendirian melewati beberapa tempat parkir yang gelap dan jalan setapak yang melintasi sebuah lapangan. Akhirnya, pada tengah malam, saya masuk ke ruang kantor untuk menelepon.

Orang yang saya telepon adalah ayah saya.Tanpa pikir panjang, ia segera meninggalkan kehangatan tempat tidurnya dan lima menit kemudian telah tiba di restoran untuk menjemput saya.

Keyakinan saya kepada ayah untuk datang dan menolong saya malam itu mengingatkan saya pada kepastian yang kita baca dalam Mazmur 91. Bapa kita di surga selalu menyertai, melindungi, dan memperhatikan kita ketika kita bingung, takut, atau membutuhkan pertolongan. Dia berkata, “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab” (Mzm. 91:15). Allah tidak hanya menjadi tempat kita mencari perlindungan. Dia sendiri adalah perlindungan kita (ay.1). Dialah Gunung Batu yang dapat kita andalkan sebagai perlindungan (ay.2).

Di masa-masa yang menakutkan, membahayakan, atau penuh ketidakpastian, kita dapat mempercayai janji Allah. Dia berjanji bahwa ketika kita berseru kepada-Nya, Dia akan menjawab dan menyertai kita dalam kesesakan (ay.14-15). Allah itulah tempat perlindungan kita yang teguh. —Cindy Hess Kasper

Ya Bapa, terima kasih Engkau telah menjadi Gunung Batu dan tempat perlindunganku yang teguh.

Allah yang hidup akan selalu menjadi tempat perlindungan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 7-9; Kisah Para Rasul 3

Persis Seperti di Iklan

Sabtu, 16 Juni 2018

Persis Seperti di Iklan

Baca: Yohanes 16:25-33

16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.

16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,

16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.

16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

16:29 Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.

16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.”

16:31 Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang?

16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. —Yohanes 16:33

Persis Seperti di Iklan

Dalam suatu liburan, saya dan suami mendaftarkan diri mengikuti wisata arung jeram santai di Sungai Chattahoochee, Georgia, Amerika Serikat. Hari itu saya mengenakan sandal, gaun terusan santai, dan topi lebar. Betapa kagetnya kami saat mengetahui bahwa wisata itu akan melewati sebuah jeram kecil yang cukup deras. Itu tidak ada di iklan yang kami lihat! Syukurlah kami serakit dengan pasangan yang sudah cukup berpengalaman mengarungi jeram. Mereka mengajari suami saya dasar-dasar mendayung dan berjanji mengarahkan kami untuk tiba di tujuan dengan selamat. Meski memakai pelampung, saya tetap menggenggam erat pegangan plastik pada rakit itu sambil berteriak-teriak. Setibanya di tepian sungai yang berlumpur dan turun dari rakit, saya harus membuang air dari dalam tas, sementara suami membantu saya memeras ujung gaun saya yang basah kuyup. Kami sangat senang, meskipun perjalanan itu tidak seperti yang diiklankan.

Tidak seperti brosur wisata yang tidak mencantumkan detail penting tentang jalur yang akan ditempuh, Yesus secara gamblang memperingatkan murid-murid-Nya tentang kesulitan yang akan mereka hadapi. Dia mengatakan bahwa mereka akan dianiaya dan dibunuh, serta Dia sendiri akan mati lalu dibangkitkan. Namun, Yesus juga menjamin bahwa Dia dapat dipercaya dan akan memandu mereka menuju kemenangan yang pasti dan pengharapan abadi (Yoh. 16:16-33).

Mungkin lebih menyenangkan apabila hidup mengikut Yesus berjalan mulus, tetapi Dia jelas mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan menghadapi berbagai kesulitan. Namun, Dia berjanji untuk selalu menyertai kita. Kesulitan-kesulitan itu tidak menentukan, membatasi, atau menggagalkan rencana Allah bagi kita, karena kebangkitan Yesus telah mengarahkan kita pada kemenangan abadi. —Xochitl Dixon

Tuhan, kami bersyukur untuk firman-Mu yang meyakinkan kami bahwa apa pun yang terjadi, Engkau telah merancang jalan kami dan selalu menyertai kami.

Yesus berjanji menyertai kita menghadapi terjangan gelombang kehidupan.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 4-6; Kisah Para Rasul 2:22-47

Artikel Terkait:

Allah di Balik Kabut Asap

Jam dan Tanggal

Minggu, 3 Juni 2018

Jam dan Tanggal

Baca: Mazmur 62

62:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Daud.62:2 Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

62:3 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

62:4 Berapa lamakah kamu hendak menyerbu seseorang, hendak meremukkan dia, hai kamu sekalian, seperti terhadap dinding yang miring, terhadap tembok yang hendak roboh?

62:5 Mereka hanya bermaksud menghempaskan dia dari kedudukannya yang tinggi; mereka suka kepada dusta; dengan mulutnya mereka memberkati, tetapi dalam hatinya mereka mengutuki. Sela

62:6 Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.

62:7 Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

62:8 Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

62:9 Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela

62:10 Hanya angin saja orang-orang yang hina, suatu dusta saja orang-orang yang mulia. Pada neraca mereka naik ke atas, mereka sekalian lebih ringan dari pada angin.

62:11 Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.

62:12 Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya,

62:13 dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. —Mazmur 62:9

Jam dan Tanggal

Ayah saya meninggal dunia pada usia 58 tahun. Sejak saat itu, di setiap tanggal kematiannya, saya akan mengambil waktu untuk mengenang dirinya dan merenungkan kembali pengaruh yang telah diberikannya dalam hidup saya. Ketika menyadari bahwa saya sudah hidup lebih lama tanpa dirinya daripada hidup bersama beliau, saya mulai merenungkan betapa singkatnya masa hidup saya sendiri.

Dalam perenungan seperti itu, mungkin kita tidak saja bergumul dengan peristiwa yang pernah terjadi, tetapi juga dengan perasaan yang kita alami pada saat itu. Kita memang mengukur masa hidup kita dengan jam dan tanggal, tetapi kita mengingat masa-masa tersebut karena segala peristiwa yang mengisinya. Momen-momen kehidupan yang paling membekas dalam ingatan kita adalah berbagai sukacita, rasa kehilangan, berkat, rasa sakit, kesuksesan, atau kegagalan yang pernah kita alami.

Kitab Suci menguatkan kita: “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita” (Mzm. 62:9). Pernyataan yang penuh keyakinan itu tidak timbul dari masa-masa hidup yang mudah. Daud menulis kata-kata tersebut ketika sedang dikepung musuh-musuhnya (ay.4-5). Meski demikian, ia tetap menanti dengan tenang di dekat Allah (ay.2,6) dan mengingatkan kita bahwa kasih setia Allah (ay.13) lebih besar daripada masa-masa sulit yang kita hadapi.

Dalam setiap peristiwa, kita mempunyai satu keyakinan pasti: Allah kita selalu mendampingi kita, dan Dia lebih dari sanggup untuk membawa kita melalui segala pasang surut yang terjadi dalam hidup ini. Ketika terjadi sesuatu yang mengancam untuk menggoyahkan kita, pertolongan Allah akan tiba tepat pada waktunya. —Bill Crowder

Bapa, kami bersyukur karena Engkau selalu dan akan senantiasa setia kepada kami.

Allah selalu menyertai kita dalam pasang surut hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 19-20; Yohanes 13:21-38

Manis dan Pahit

Selasa, 3 April 2018

Manis dan Pahit

Baca: Mazmur 119:65-72

119:65 Kebajikan telah Kaulakukan kepada hamba-Mu, ya TUHAN, sesuai dengan firman-Mu.

119:66 Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.

119:67 Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.

119:68 Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

119:69 Orang yang kurang ajar menodai aku dengan dusta, tetapi aku, dengan segenap hati aku akan memegang titah-titah-Mu.

119:70 Hati mereka tebal seperti lemak, tetapi aku, Taurat-Mu ialah kesukaanku.

119:71 Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.

119:72 Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.

Engkau baik dan berbuat baik. —Mazmur 119:68

Manis dan Pahit

Sejumlah orang menyukai cokelat pahit dan yang lain lebih menyukai cokelat manis. Bangsa Maya kuno di Amerika Tengah menikmati cokelat sebagai minuman dan menambahi rasanya dengan cabai. Mereka menyebut minuman itu sebagai “air pahit”. Bertahun-tahun kemudian cokelat dibawa ke Spanyol, tetapi orang Spanyol lebih menyukai cokelat manis. Oleh karena itu, mereka menambahkan gula dan madu untuk menyeimbangkan rasa pahit alami dari cokelat.

Seperti cokelat, hari-hari yang kita jalani dapat terasa manis atau pahit. Pada abad ke-17, biarawan asal Prancis yang bernama Brother Lawrence menulis, “Jika kita tahu betapa [Allah] sangat mengasihi kita, kita akan selalu siap menerima dengan sikap yang sama . . . pemberian-Nya, baik yang manis maupun yang pahit.” Selalu siap menerima baik yang manis maupun yang pahit dengan sikap yang sama? Itu tidak mudah! Apa yang dimaksud oleh Brother Lawrence? Kuncinya terletak pada karakter Allah. Sang pemazmur berkata kepada Allah, “Engkau baik dan berbuat baik” (Mzm. 119:68)

Bangsa Maya kuno juga menghargai cokelat pahit karena khasiatnya sebagai obat yang memberikan kesembuhan. Hari-hari pahit yang kita alami pun berharga. Hari-hari seperti itu membuat kita menyadari kelemahan-kelemahan kita dan menolong kita untuk makin bergantung kepada Allah. Pemazmur menulis, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (ay.71). Marilah kita menerima hidup ini dengan beragam rasa yang ditawarkannya—dan dengan meyakini kebaikan Allah. Marilah kita mengatakan, “Engkau telah memenuhi janji-Mu, ya Tuhan, dan berbuat baik kepada hamba-Mu” (ay.65 bis). —Keila Ochoa

Bapa, tolong aku untuk melihat kebaikan-Mu bahkan di masa-masa yang sulit.

Allah itu baik.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 19-21; Lukas 7:31-50

Tuntunlah Aku ke Gunung Batu

Sabtu, 10 Maret 2018

Tuntunlah Aku ke Gunung Batu

Baca: Mazmur 61

61:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Dari Daud.

61:2 Dengarkanlah kiranya seruanku, ya Allah, perhatikanlah doaku!

61:3) Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku.

61:4 Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh.

61:5 Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu! Sela

61:6 Sungguh, Engkau, ya Allah, telah mendengarkan nazarku, telah memenuhi permintaan orang-orang yang takut akan nama-Mu.

61:7 Tambahilah umur raja, tahun-tahun hidupnya kiranya sampai turun-temurun;

61:8 kiranya ia bersemayam di hadapan Allah selama-lamanya, titahkanlah kasih setia dan kebenaran menjaga dia.

61:9 Maka aku hendak memazmurkan nama-Mu untuk selamanya, sedang aku membayar nazarku hari demi hari.

Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku. —Mazmur 61:3

Tuntunlah Aku ke Gunung Batu

Saat hendak mencari alat penjaga kelembapan ruangan, saya memperhatikan seorang wanita lanjut usia mondar-mandir di lorong tersebut. Karena berpikir bahwa ia juga hendak membeli alat yang sama, saya bergeser agar ia dapat mendekat. Kami pun berbincang-bincang tentang wabah virus flu di daerah kami yang membuatnya sering batuk dan sakit kepala.

Beberapa menit kemudian, ia mulai mengomel sambil mengungkapkan teorinya tentang asal-usul virus itu. Saya hanya bisa mendengarkan tanpa tahu harus berbuat apa. Tidak lama kemudian, wanita tua itu meninggalkan toko dalam kondisi marah dan frustrasi. Walaupun ia telah mengungkapkan keluh-kesahnya, saya tidak dapat berbuat apa pun untuk menolongnya.

Daud, raja kedua Israel, menulis sejumlah mazmur untuk mengungkapkan rasa marah dan frustrasinya kepada Allah. Namun, Daud tahu bahwa Allah tidak hanya mendengarkan, tetapi juga dapat melakukan sesuatu terhadap kepedihan yang dialaminya. Dalam Mazmur 61, Daud menulis, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku” (ay.3). Allah adalah “tempat perlindungan” Daud (ay.4)—“gunung batu” yang dituju oleh Daud.

Ketika kita menderita, atau bertemu seseorang yang sedang menderita, kita dapat mengikuti teladan Daud. Kita dapat datang kepada “gunung batu” yang lebih tinggi atau mengarahkan orang lain yang sedang menderita itu ke sana. Andai saja saya menceritakan tentang Allah kepada wanita yang saya temui di toko itu. Meskipun Allah mungkin tidak menyingkirkan seluruh penderitaan yang ada, kita dapat percaya bahwa Dia melimpahkan damai sejahtera dan mendengar seruan hati kita. —Linda Washington

Allah Bapa, tolong aku untuk memperhatikan orang-orang yang ingin mencurahkan perasaan mereka dan membutuhkan jaminan kehadiran-Mu.

Andalkanlah Allah, Gunung Batu kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 11-13; Markus 12:1-27

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Mesulam Esther

Merasa Aman

Kamis, 22 Februari 2018

Merasa Aman

Baca: Ibrani 4:11-16

4:11 Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.

4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

4:14 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

4:15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia. —Ibrani 4:16

Merasa Aman

Dalam sebagian besar kehidupan ini, kita tidak diperingatkan tentang pengalaman yang akan datang dan mengguncang kita. Namun, Allah Bapa yang mengasihi kita tahu dan peduli terhadap pergumulan-pergumulan kita. Dia pun mengundang kita agar membawa semua beban, kepedihan, dan ketakutan kita kepada-Nya. Kitab Suci memberi tahu kita bahwa, “Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr. 4:15-16).

Di tengah segala guncangan yang kita alami, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah datang kepada Bapa kita di dalam doa. Frasa “kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” mengandung arti bahwa dalam kehadiran-Nya, kita dapat merasa aman dan damai, bahkan di saat-saat yang menakutkan, karena kita membawa setiap permasalahan kita kepada Pribadi yang lebih besar dari segalanya! Ketika beban hidup terasa begitu berat, kita dapat berdoa. Allah sanggup menolong kita melintasi segala guncangan yang ada. —Bill Crowder

Bapa, terkadang beban hidup ini begitu berat. Tolonglah aku mempercayai-Mu dalam segala guncangan dan menyadari bahwa Kau sangat mempedulikan hidupku.

Walau kita tidak bisa memperkirakan ujian yang akan kita alami, kita bisa berdoa kepada Bapa yang sangat memahami apa yang sedang kita hadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4-6; Markus 4:1-20

Artikel Terkait:

Dipulihkan Karena Doa

Memuji di Tengah Masa Sulit

Selasa, 6 Februari 2018

Memuji di Tengah Masa Sulit

Baca: Ayub 1:13-22

1:13 Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,

1:14 datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,

1:15 datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:16 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:17 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:18 Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,

1:19 maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.”

1:20 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,

1:21 katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

1:22 Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? —Ayub 2:10

Memuji di Tengah Masa Sulit

“Aku kena kanker.” Saya ingin tetap kuat ketika mama mengucapkan kata-kata itu. Namun, saya hanya bisa menangis. Tidak ada yang pernah mau mendengar kata itu bahkan untuk satu kali saja. Namun, ini adalah ketiga kalinya mama terkena kanker. Setelah menjalani mamogram dan biopsi rutin, mama mengetahui bahwa ia memiliki tumor ganas di bawah lengannya.

Walaupun mama yang mengalami kabar buruk itu, justru dirinya yang menghibur saya. Mama memberikan tanggapan yang menyadarkan saya, “Aku tahu Allah selalu baik padaku. Dia selalu setia.” Bahkan ketika mama menjalani operasi yang berat, dilanjutkan dengan terapi radiasi, ia selalu yakin akan kehadiran dan kesetiaan Allah.

Keyakinan itulah yang juga dimiliki Ayub. Ayub kehilangan anak-anaknya, kekayaannya, dan kesehatannya. Namun setelah mendengar semua berita itu, Ayub 1:20 menuliskan, “sujudlah ia dan menyembah.” Ketika dinasihati untuk mengutuk Allah, Ayub berkata, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (2:10). Sungguh suatu respons awal yang radikal. Walaupun Ayub kemudian mengeluh, pada akhirnya ia menerima kenyataan bahwa Allah tidak pernah berubah. Ayub tahu bahwa Allah senantiasa menyertainya dan mempedulikannya.

Bagi sebagian besar dari kita, pujian bukanlah respons awal kita terhadap suatu kesulitan. Terkadang beratnya penderitaan yang kita hadapi membuat kita meluap-luap dalam ketakutan atau kemarahan. Namun saat melihat respons mama, saya diingatkan bahwa Allah tetap menyertai dan Dia tetap baik. Dia akan menolong kita dalam menjalani masa-masa yang sulit. —Linda Washington

Tuhan, siapkanlah aku untuk masa-masa mendatang ketika pujian terasa sulit keluar dari mulut bibirku.

Bahkan di titik nadir hidup ini, kita dapat tetap mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 39-40; Matius 23:23-39

Sikap Kita

Senin, 22 Januari 2018

Sikap Kita

Baca: Yakobus 1:1-12

1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, –yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit–,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,

1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.

1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai bagai pencobaan. —Yakobus 1:2

Sikap Kita

Regina berkendara pulang dari tempat kerjanya dengan kondisi lelah dan kecewa. Di awal hari itu, ia mendapat kabar tragis dari seorang teman melalui pesan pendek. Selanjutnya hari itu bertambah berat, ketika di dalam rapat, rekan-rekan kerjanya menolak untuk melakukan gagasan apa pun yang diberikannya. Ketika Regina sedang mencurahkan kegalauannya kepada Tuhan, terlintas di pikirannya untuk mengesampingkan dahulu tekanan yang dialaminya hari itu. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi temannya, Maria, yang telah lanjut usia di panti wreda. Semangat Regina bangkit lagi ketika Maria menceritakan segala kebaikan Allah yang telah diterimanya. Maria berkata, “Aku punya tempat tidur dan sofaku sendiri, makan tiga kali sehari, dan sangat terbantu oleh para perawat di sini. Kadang-kadang Allah mengirimkan burung gereja bertengger di jendela kamarku karena Dia tahu aku menyukainya dan Dia sangat mengasihiku.”

Masalahnya adalah sikap dan sudut pandang kita. Sebuah ungkapan menyatakan, “Hidup ditentukan 10 persennya oleh apa yang kita alami, sementara 90 persennya lagi oleh reaksi kita terhadap pengalaman itu.” Orang-orang yang menerima surat dari Yakobus sedang hidup terpencar-pencar karena penganiayaan, dan Yakobus menantang mereka untuk memandang kesulitan dari sudut yang berbeda. Ia mendorong mereka dengan perkataan ini, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yak. 1:2).

Masing-masing dari kita berada dalam proses untuk belajar mempercayai Allah dalam situasi-situasi yang sulit. Sudut pandang yang dipenuhi sukacita, sebagaimana yang disampaikan Yakobus, dialami ketika kita belajar untuk melihat bahwa Allah dapat memakai setiap pergumulan untuk mendewasakan iman kita. —Anne Cetas

Tuhan, ubahlah sikapku dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Tumbuhkanlah sukacita, ketekunan, dan kedewasaan dalam diriku.

Allah dapat menumbuhkan iman kita lewat peristiwa sulit yang kita hadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4–6; Matius 14:22-36

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Julio Mesak

Pertolonganku!

Sabtu, 20 Januari 2018

Pertolonganku!

Baca: Mazmur 121

121:1 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?

121:2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

121:3 Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.

121:4 Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.

121:5 Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.

121:6 Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.

121:7 TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.

121:8 TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. —Mazmur 121:2

Pertolonganku!

Selama beberapa dasawarsa paduan suara dari gereja Brooklyn Tabernacle yang terkenal telah menjadi berkat bagi banyak orang melalui nyanyian-nyanyian rohani mereka yang menyegarkan jiwa. Salah satu nyanyian itu berjudul “My Help” (Pertolonganku) yang terilhami dari Mazmur 121.

Mazmur 121 diawali dengan pengakuan pemazmur tentang imannya kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dan yang menjadi sumber pertolongannya (ay.1-2). Apakah artinya? Hidupnya mempunyai stabilitas (ay.3), dipelihara sepanjang waktu (ay.3-4), disertai dan dilindungi terus-menerus (ay.5-6), dan dijaga dari segala malapetaka dari sekarang sampai selama-lamanya (ay.7-8).

Diinspirasi oleh Kitab Suci, umat Allah di sepanjang zaman telah menyatakan keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber “pertolongan” mereka dengan menuangkannya ke dalam puji-pujian. Saya sendiri sangat menikmati menyanyikan puji-pujian bersama jemaat Tuhan, salah satunya adalah himne gubahan Charles Wesley, “Tanganku menadah Tuhan, mengharap kasih-Mu. Andai Tuhan mengabaikan, ke mana ku pergi.” Tokoh reformasi, Martin Luther, sangat tepat menuliskan syair berikut, “Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku, menolong bila ‘ku jatuh, dan jadi pengharapanku.”

Apakah Anda merasa sendirian, terabaikan, terlantar, dan bingung? Renungkanlah Mazmur 121. Izinkan kata-katanya memenuhi jiwa Anda dengan iman dan keberanian. Anda tidak sendirian. Karena itu, jangan berusaha menjalani hidup Anda dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, bersukacitalah dalam pemeliharaan Allah dari sekarang hingga selamanya, seperti yang nyata dalam kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Langkah apa pun yang akan Anda tempuh di depan, lakukanlah dengan pertolongan-Nya. —Arthur Jackson

Ya Bapa, kami bersyukur untuk ayat-ayat Alkitab dan pujian yang mengingatkan kami bahwa Engkaulah sumber pertolongan kami. Tolong aku untuk mengingatnya hari ini.

Allah Sang Pencipta alam semesta adalah penolong bagi umat-Nya!

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 49–50; Matius 13:31-58

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Claudia Rachel

Artikel Terkait:

Ditolong Oleh Firman