Pos

Harta di dalam Labu

Senin, 22 Oktober 2018

Harta di dalam Labu

Baca: 2 Korintus 4:7-18

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7

Harta di dalam Labu

Sebagai seorang ibu muda, saya bertekad mendokumentasikan kehidupan putri saya di tahun pertamanya. Saya memotretnya bulan demi bulan untuk melihat perubahan dan pertumbuhannya. Dalam salah satu foto favorit saya, ia duduk dengan ceria di dalam sebuah labu yang saya beli dari petani setempat dengan isi yang telah dikeluarkan. Ke dalam sebuah labu berukuran raksasa itulah, putri kesayangan saya masuk dan duduk. Labu itu akan layu dalam beberapa minggu, tetapi putri saya terus tumbuh dan berkembang.

Cara Paulus menggambarkan pengenalan akan kebenaran tentang Yesus mengingatkan saya pada foto anak saya itu. Paulus mengibaratkan pengenalan tentang Yesus di dalam hati kita itu sebagai harta yang tersimpan di dalam bejana tanah liat. Mengingat apa yang Yesus lakukan bagi kita akan memberikan keberanian dan kekuatan kepada kita untuk bertekun melewati pergumulan demi pergumulan sekalipun “dalam segala hal [kita] ditindas” (2Kor. 4:8). Karena kuasa Allah hadir dalam hidup kita, saat kita “dihempaskan, namun tidak binasa,” kita akan menunjukkan kehidupan Yesus secara nyata di dalam diri kita (ay.9-10).

Seperti labu yang layu, kita mungkin dibuat lelah dan tak berdaya oleh pencobaan-pencobaan yang kita hadapi. Namun, sukacita Yesus dalam diri kita dapat terus bertumbuh di tengah segala tantangan tersebut. Pengenalan kita akan Dia—akan kuasa-Nya yang terus bekerja di dalam diri kita—merupakan harta yang tersimpan dalam tubuh kita yang rapuh. Kita dapat bertumbuh saat menghadapi beragam kesulitan karena kuasa-Nya bekerja nyata dalam diri kita. —Kirsten Holmberg

Bapa terkasih, terima kasih karena Engkau telah menaruh kebenaran-Mu di dalam hati dan hidupku. Tolong aku untuk bertahan dalam menghadapi tantangan dengan kuasa-Mu. Kiranya orang lain melihat karya-Mu di hidupku dan mau mengenal-Mu.

Kuasa Allah terus bekerja di dalam diri kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 65-66; 1 Timotius 2

Mengupayakan Diri

Kamis, 6 September 2018

Mengupayakan Diri

Baca: 2 Tawarikh 20:2-3,14-22

20:2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi.

20:3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

20:14 Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah,

20:15 dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

20:16 Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel.

20:17 Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

20:18 Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya.

20:19 Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring.

20:20 Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata: “Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!”

20:21 Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”

20:22 Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.

Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. —2 Tawarikh 20:3

Mengupayakan Diri

Para binaragawan yang berlomba dalam kompetisi akan menempa diri mereka dalam siklus pelatihan yang ketat. Pada bulan-bulan awal, mereka mengupayakan diri untuk memperbesar otot dan membangun kekuatan. Ketika kompetisi semakin mendekat, fokus mereka beralih pada pemangkasan lemak yang menimbun otot. Pada hari-hari terakhir menjelang kompetisi, mereka minum air lebih sedikit dari biasanya sehingga urat-urat otot mereka terlihat lebih jelas. Karena berkurangnya asupan nutrisi, para binaragawan itu sebenarnya dalam kondisi terlemah mereka di hari perlombaan, meskipun tubuh mereka terlihat kuat.

Dalam 2 Tawarikh 20, kita membaca suatu realitas yang berlawanan, yakni mengakui kelemahan untuk mengalami kekuatan Allah. Orang memberitahukan kepada Raja Yosafat, “Suatu laskar yang besar datang . . . menyerang tuanku.” Lalu “ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa” (ay.3). Raja bersama semua orang Yehuda berhenti makan dan meminta pertolongan kepada Allah. Setelah akhirnya Yosafat mengumpulkan pasukannya, ia menempatkan orang-orang yang menyanyikan nyanyian pujian kepada Allah di depan pasukan bersenjatanya (ay.21). Pada saat mereka mulai bernyanyi, “Tuhan mengadakan kekacauan di tengah-tengah tentara musuh yang sedang menyerang” (ay.22 bis).

Keputusan Yosafat menunjukkan kedalaman imannya kepada Allah. Dengan sadar, ia memilih untuk tidak mengandalkan kemampuannya sendiri dan kekuatan pasukannya. Ia memilih untuk bersandar kepada Allah. Daripada berupaya menghadapi segala pencobaan dengan mengandalkan diri sendiri, mari berpaling kepada Allah dan mengizinkan Dia menjadi kekuatan kita. —Kirsten Holmberg

Kita harus menyadari kelemahan kita supaya kita bisa mengalami kekuatan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 148-150; 1 Korintus 15:29-58

Sudut Pandang yang Sempurna

Sabtu, 18 Agustus 2018

Sudut Pandang yang Sempurna

Baca: Mazmur 102:1-3, 19-29

102:1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN.102:2 TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.

102:3 Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!

102:4 Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian.

Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus. —Mazmur 102:20

Sudut Pandang yang Sempurna

Ketika berada di London, seorang teman mengatur agar saya dan Marlene, istri saya, mengunjungi Sky Garden. Letaknya di lantai teratas dari sebuah gedung setinggi 35 tingkat di kawasan bisnis London. Sky Garden adalah sebuah ruangan besar berdinding kaca yang dipenuhi beragam tanaman, pepohonan, dan bunga. Namun, bagian sky (langit) sempat menarik perhatian kami. Kami menatap ke bawah dari ketinggian lebih dari 150 m, mengagumi Katedral St. Paul, Menara London, dan masih banyak lagi. Pemandangan ibu kota yang kami lihat itu sungguh membuat kami tak bisa berkata-kata sekaligus memberi kami pelajaran bermanfaat tentang sudut pandang.

Allah kita memiliki sudut pandang yang sempurna terhadap segala hal yang kita alami. Pemazmur menulis, “Sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm. 102:20-21).

Seperti orang-orang yang menderita dalam Mazmur 102, kita sering kali hanya bisa melihat masa sekarang dengan segala pergumulannya. Kita mengungkapkan “keluhan” kita dalam keputusasaan. Namun, Allah melihat hidup kita dari awal sampai akhir. Tuhan kita tidak pernah dibuat lengah oleh hal-hal yang tak kita ketahui. Sebagaimana dinanti-nantikan oleh sang pemazmur, sudut pandang Allah yang sempurna akan membawa pada pembebasan terbesar yang memerdekakan, bahkan bagi mereka yang telah “ditentukan mati dibunuh” (ay.21, 28-29).

Dalam momen-momen yang sulit, ingatlah: Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, tetapi Tuhan kita tahu. Kita dapat mempercayakan setiap momen yang terbentang di hadapan kita kepada-Nya. —Bill Crowder

Memusatkan pandangan kita kepada Kristus akan membuat kita mempunyai sudut pandang yang benar terhadap segala sesuatu yang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 100-102; 1 Korintus 1

Mengarungi Jeram

Selasa, 14 Agustus 2018

Mengarungi Jeram

Baca: Yesaya 43:1-7

43:1 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

43:3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.

43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

43:5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat.

43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,

43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan. —Yesaya 43:2

Mengarungi Jeram

Pemandu arung jeram membawa kelompok kami ke tepi sungai dan mengarahkan kami untuk memakai jaket pelampung dan meraih dayung. Saat kami naik ke perahu, pemandu mengatur posisi duduk kami untuk menjaga keseimbangan perahu agar tetap stabil saat melintasi jeram. Setelah menerangkan betapa serunya perjalanan yang akan kami lalui, si pemandu menjelaskan serangkaian arahan yang akan kami dengar darinya dan harus diikuti agar kami berhasil mengendalikan perahu melewati jeram demi jeram. Ia meyakinkan kami bahwa meskipun ada momen-momen menegangkan di sepanjang perjalanan, perjalanan kami seluruhnya akan aman dan menyenangkan.

Adakalanya hidup ini terasa seperti mengarungi jeram, suatu perjalanan yang mengharuskan kita melalui arus deras lebih sering daripada yang kita harapkan. Janji Allah kepada Israel melalui Nabi Yesaya dapat menenangkan hati ketika kita mengkhawatirkan terjadinya kemungkinan yang terburuk: “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan” (Yes. 43:2). Bangsa Israel sangat takut ditolak oleh Allah ketika mereka harus dibuang sebagai akibat dari dosa mereka. Namun, Allah meyakinkan mereka dan berjanji untuk menyertai mereka karena kasih-Nya kepada mereka (ay.2,4).

Allah takkan meninggalkan kita di tengah arus kehidupan yang deras. Kita dapat mempercayai-Nya untuk memandu kita melewati jeram demi jeram—ketakutan dan pergumulan kita yang berat—karena Dia mengasihi dan berjanji selalu menyertai kita. —Kirsten Holmberg

Terima kasih, Tuhan, karena Engkaulah pemanduku dalam mengarungi derasnya jeram kehidupan. Tolonglah aku untuk mempercayai-Mu sekalipun arus hidup ini begitu ganas dan menyeramkan.

Tuhan memandu kita melewati masa-masa yang sulit.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89-90; Roma 14

Bapa yang Baik

Kamis, 9 Agustus 2018

Bapa yang Baik

Baca: Mazmur 63

63:1 Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.63:2 Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.

63:3 Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.

63:4 Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

63:5 Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.

63:6 Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.

63:7 Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, —

63:8 sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.

63:9 Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

63:10 Tetapi orang-orang yang berikhtiar mencabut nyawaku, akan masuk ke bagian-bagian bumi yang paling bawah.

63:11 Mereka akan diserahkan kepada kuasa pedang, mereka akan menjadi makanan anjing hutan.

63:12 Tetapi raja akan bersukacita di dalam Allah; setiap orang, yang bersumpah demi Dia, akan bermegah, karena mulut orang-orang yang mengatakan dusta akan disumbat.

Waktu berbaring di tempat tidur, kuingat pada-Mu; sepanjang malam aku merenungkan Engkau. —Mazmur 63:7 BIS

Bapa yang Baik

Ketika putra kami, Xavier, masih kecil, suami saya kerap kali harus bepergian karena pekerjaannya. Ayahnya sering menelepon, tetapi adakalanya itu tidak cukup bagi Xavier. Untuk membantu menenangkan Xavier yang merindukan ayahnya, biasanya saya mengeluarkan album foto sebelum ia tidur. Saya memperlihatkan foto-foto yang menunjukkan pengalaman mereka bersama dan bertanya, “Kamu ingat ini?” Ingatan itu menghibur anak kami, dan ia pun sering berkata, “Ayahku baik sekali.”

Saya mengerti bagaimana Xavier perlu diingatkan kembali akan kasih ayahnya di saat mereka saling berjauhan. Di saat saya mengalami masa sulit atau merasa kesepian, saya pun rindu untuk diyakinkan bahwa saya sangat dikasihi, terutama oleh Bapa saya di surga.

Daud menyuarakan kerinduannya yang mendalam akan Allah dalam persembunyiannya di padang gurun (Mzm. 63:2). Saat mengingat kembali pengalaman pribadinya dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih, Daud pun tergerak untuk memuji Allah (ay.3-6). Di sepanjang malam-malam yang berat, Daud masih tetap bersukacita dalam pemeliharaan Allah Bapanya yang penuh kasih dan yang selalu bisa diandalkannya (ay.7-9).

Di masa-masa yang kelam, ketika kita sulit merasakan kehadiran Allah, kita perlu diingatkan kembali tentang karakter Allah dan karya-karya yang menjadi bukti kasih-Nya. Ketika kita merenungkan pengalaman pribadi kita dengan-Nya dan memperhatikan segala perbuatan-Nya yang tercatat dalam Kitab Suci, kita dapat diyakinkan kembali akan betapa banyaknya cara yang telah digunakan Allah Bapa kita yang baik untuk mengasihi kita. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau menunjukkan kasih-Mu yang tak berkesudahan kepada umat-Mu, dalam hidup kami, dan melalui firman-Mu dalam Kitab Suci.

Dengan mengingat-ingat karya Allah, kita melihat karakter-Nya dan diyakinkan kembali akan kasih-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77-78; Roma 10

Saat Hal Buruk Terjadi

Selasa, 7 Agustus 2018

Saat Hal Buruk Terjadi

Baca: 1 Raja-Raja 17:15-24

17:15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

17:16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

17:17 Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.

17:18 Kata perempuan itu kepada Elia: “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?”

17:19 Kata Elia kepadanya: “Berikanlah anakmu itu kepadaku.” Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.

17:20 Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?”

17:21 Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.”

17:22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.

17:23 Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: “Ini anakmu, ia sudah hidup!”

17:24 Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16

Saat Hal Buruk Terjadi

Ketika krisis keuangan melanda Asia pada tahun 1997, jumlah orang yang mencari pekerjaan jauh lebih banyak daripada lowongan kerja yang tersedia. Saya termasuk salah satu pencari kerja saat itu. Setelah menunggu dengan penuh kecemasan selama 9 bulan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai penulis naskah. Namun, perusahaan itu mengalami masa-masa sulit dan saya pun menganggur lagi.

Apakah kamu pernah mengalaminya? Baru saja satu hal buruk terlewati, tiba-tiba terjadi hal buruk yang lain. Itulah yang dialami seorang janda di Sarfat (1Raj. 17:12). Karena dalam masa paceklik, janda itu menyiapkan makanan terakhir untuk dirinya dan anaknya. Tiba-tiba Nabi Elia datang dan meminta sedikit makanan. Dengan sedikit enggan, janda itu mau berbagi dan Allah kemudian menyediakan terus tepung dan minyak baginya (ay.10-16).

Namun kemudian, anak janda itu sakit keras. Kesehatannya merosot sampai napasnya berhenti. Janda itu berseru, “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (ay.18).

Adakalanya, kita mungkin bereaksi seperti janda itu—kita bertanya-tanya apakah Allah sedang menghukum kita. Kita lupa bahwa hal-hal buruk masih terjadi di dunia yang berdosa ini.

Elia membawa masalah itu kepada Allah, berdoa dengan sungguh-sungguh dan tulus untuk anak itu, dan Allah pun menghidupkan anak itu kembali! (ay.20-22).

Saat hal-hal buruk kita alami, kiranya kita—seperti Elia—menyadari bahwa Pribadi yang setia itu tidak akan meninggalkan kita! Kita bisa mempercayai maksud-maksud Allah sembari tetap berdoa memohon pengertian dari-Nya. —Poh Fang Chia

Allah itu baik dalam masa suka maupun duka.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 72-73; Roma 9:1-15

Melalui Salib

Kamis, 19 Juli 2018

Melalui Salib

Baca: 2 Korintus 4:8-18

4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

[Tiada yang] akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. —Roma 8:39

Melalui Salib

Rekan kerja saya, Tom, memiliki salib kaca berukuran 20 x 30,5 cm di atas mejanya. Phil, seorang teman yang juga penyintas kanker seperti Tom, memberikan salib itu untuk membantu Tom melihat segala sesuatu “melalui salib”. Salib kaca tersebut selalu mengingatkannya pada kasih dan tujuan Allah yang baik atas hidupnya.

Pemikiran itu sepatutnya menantang semua orang yang percaya kepada Yesus, terutama di dalam masa-masa sulit yang kita hadapi. Dalam keadaan yang sulit, perhatian kita memang lebih mudah terpusat pada masalah daripada kasih Allah.

Kehidupan Rasul Paulus jelas merupakan contoh kehidupan yang memiliki sudut pandang salib. Ia menggambarkan dirinya di saat-saat ia mengalami penderitaan ketika “dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, . . . dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor. 4:9). Ia percaya bahwa di saat-saat yang sulit, Allah sedang “mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan” (ay.17-18).

“Memperhatikan . . . yang tidak kelihatan” tidak berarti bahwa kita mengecilkan persoalan yang ada. Dalam tafsirannya terhadap perikop itu, Paul Barnett menjelaskan, “Di satu sisi, kita harus mempunyai keyakinan yang didasarkan pada kepastian akan tujuan Allah bagi [kita] . . . Di sisi lain, kita sungguh menyadari bahwa kita mengeluh dengan pengharapan yang bercampur dengan penderitaan.”

Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita. Kasih-Nya teramat dalam dan rela berkorban. Ketika kita melihat kehidupan ini “melalui salib”, kita menyaksikan kasih dan kesetiaan-Nya. Iman kita kepada-Nya pun makin bertumbuh. —Anne Cetas

Bapa, ajarlah kami tentang diri-Mu. Kuatkan kepercayaan kami kepada-Mu. Penuhilah pikiran kami dengan sudut pandang-Mu.

Lihatlah segala sesuatu melalui salib.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 23-25; Kisah Para Rasul 21:18-40

Tenanglah, Hai Jiwaku!

Senin, 9 Juli 2018

Tenanglah, Hai Jiwaku!

Baca: Mazmur 131

131:1 Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.

131:2 Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.

131:3 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku. —Mazmur 131:2

Tenanglah, Hai Jiwaku!

Bayangkanlah orangtua yang dengan penuh kasih berusaha menenangkan anaknya yang sedang sedih, kecewa, atau menderita. Dengan lembut ia bergumam ke telinga sang anak—“ssttt.” Sikap tubuh dan gumaman sederhana itu dimaksudkan untuk menghibur dan menenangkan si buah hati. Kita dapat membayangkannya karena itu terjadi di mana saja dan kapan saja. Banyak dari kita pernah memberi atau menerima ungkapan penuh kasih seperti itu. Gambaran itulah yang terlintas di benak saya ketika merenungkan Mazmur 131:2.

Gaya bahasa dan alur tulisan dari mazmur itu mengindikasikan bahwa Daud sebagai penulis telah mengalami sesuatu yang memicunya untuk sungguh-sungguh merenung. Pernahkah kamu mengalami kekecewaan, kekalahan, atau kegagalan yang mendorong kamu untuk berdoa dan merenung dengan khusyuk? Apa yang kamu lakukan ketika situasi kehidupan ini membuatmu terpuruk? Bagaimana responsmu ketika gagal dalam ujian, kehilangan pekerjaan, atau mengalami putus hubungan? Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan sekaligus menelusuri dan memeriksa jiwanya secara jujur (Mzm. 131:1). Saat hendak berdamai dengan situasi yang dihadapinya, ia pun menemukan kepuasan seperti yang dialami seorang anak kecil yang merasa nyaman hanya dengan berbaring di dekat ibunya (ay.2).

Situasi-situasi dalam kehidupan ini terus berubah dan terkadang membuat kita terpuruk. Namun, kita bisa berharap dan merasa tenang ketika tahu bahwa ada satu Pribadi yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan atau mengabaikan kita. Kita dapat mempercayai-Nya sepenuhnya. —Arthur Jackson

Bapa, saat segala sesuatu berubah dalam hidupku, tolonglah aku untuk tidak cemas, melainkan tetap mempercayai-Mu dan menemukan kepuasan hanya di dalam-Mu.

Kepuasan hanya ditemukan di dalam Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 38-40; Kisah Para Rasul 16:1-21

Bergantung Penuh

Sabtu, 7 Juli 2018

Bergantung Penuh

Baca: Yohanes 5:16-23

5:16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

5:17 Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”

5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.

5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.

5:20 Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.

5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.

5:22 Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,

5:23 supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.

Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. —Yohanes 15:5

Bergantung Penuh

Ibunda Laura sedang berjuang melawan penyakit kanker. Suatu pagi, Laura dan seorang teman mendoakan ibunya. Teman Laura yang telah bertahun-tahun menderita cerebral palsy (kelumpuhan pada tulang belakang) itu berdoa: “Tuhan, Engkau selalu menolongku. Sekarang tolonglah juga ibunya Laura.”

Laura sangat tersentuh oleh pernyataan temannya yang bergantung penuh kepada Allah. Saat becermin pada hal itu, ia berkata, “Seberapa sering aku mengakui kebutuhanku akan Allah dalam segala hal? Itu seharusnya kulakukan setiap hari!”

Selama masa pelayanan-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan ketergantungan yang terus-menerus kepada Bapa-Nya di surga. Mungkin ada yang berpikir bahwa karena Yesus adalah Allah dalam rupa manusia, tentu saja Dia bisa mengandalkan diri-Nya sendiri. Namun, ketika para pemimpin agama meminta Yesus memberikan alasan tentang hal “bekerja” di hari Sabat, satu hari peristirahatan yang ditetapkan Hukum Taurat, karena Dia telah menyembuhkan seseorang pada hari itu, Dia menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya” (Yoh. 5:19). Yesus juga menyatakan ketergantungan-Nya kepada Bapa!

Ketergantungan Yesus kepada Bapa memberikan teladan terbesar bagi kita untuk memahami apa artinya menjalani hidup dalam persekutuan dengan Allah. Setiap napas yang kita hirup merupakan pemberian Allah, dan Dia ingin hidup kita dipenuhi dengan kekuatan-Nya. Ketika kita hidup mengasihi dan melayani Allah dengan senantiasa berdoa dan mengandalkan firman-Nya, kita sedang menyatakan ketergantungan kita kepada-Nya. —James Banks

Tuhan, aku membutuhkan-Mu dalam segala hal. Tolonglah aku untuk melayani-Mu dengan hidupku. Aku memuji-Mu karena Engkaulah Juruselamat dan kekuatanku.

Menjalani hidup tanpa doa menunjukkan keengganan kita untuk bergantung kepada Tuhan. —Daniel Henderson

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 34-35; Kisah Para Rasul 15:1-21