Posts

Dipandang Lemah, Tetapi Punya Peran yang Besar

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Pagi ini aku menikmati saat teduhku yang membahas tentang Timotius. Sosok ini mungkin tidak asing di telinga kita. Nama Timotius tersemat dalam dua surat yang ditulis Paulus. Namun, siapakah sebenarnya Timotius dan teladan apakah yang bisa kita raih dari kisahnya?

Timotius dikenal bertumbuh sebagai pribadi yang mengasihi Allah. Awalnya, kupikir karakter baik ini pastilah ada dalam diri Timotius karena pengaruh dari Paulus, tapi setelah kubaca lagi bagian-bagian dari suratnya, rupanya ada orang lain lagi yang turut memberi andil dalam perjalanan iman Timotius.

Alkitab tidak banyak mencatat tentang masa kecil Timotius. Dia tumbuh besar di kota Listra sebagai anak dari perempuan Yahudi bernama Eunike, yang telah percaya pada Yesus. Sedangkan ayahnya diyakini berkebangsaan Yunani (Kisah Para Rasul 16:1). Minimnya penyebutan tentang ayah Timotius menunjukkan besar kemungkinan apabila Timotius diasuh hanya oleh ibunya seorang. Tetapi, dalam 2 Timotius 1:5, tertulis nama Lois, nenek dari Timotius yang rupanya turut merawat Timotius. Menjadi orang tua tunggal bukanlah perkara yang mudah, terlebih pada zaman Timotius. Ada kemungkinan mereka mendapatkan stigma, apalagi status Eunike dan Lois sebagai orang percaya yang merupakan kaum marjinal pada masyarakat kekaisaran Romawi abad pertama. Tetapi, teladan dari merekalah yang akhirnya membawa Timotius pada keselamatan.

Saat teduh pagi ini pun mengusikku. Apakah aku bisa menjadi seperti Lois dan Eunike yang mampu memberi teladan baik bagi orang lain?

Lois dan Eunike membuktikan bahwa wanita yang kerap dipandang sebagai kaum yang lemah rupanya punya peran yang besar. Alkitab kita mencatat ada banyak tokoh wanita lain yang juga dipakai Allah untuk mewujudkan rencana-Nya. Ada Sarah yang melahirkan Ishak sebagai penggenapan janji Allah atas Abraham, juga Maria yang dipakai Allah untuk melahirkan sang Juruselamat.

Dalam kisah penciptaan, wanita adalah makhluk yang diciptakan terakhir. Ketika air dipisahkan dari daratan, wanita belum ada. Ketika binatang dan tumbuh-tumbuhan bermunculan, wanita masih tetap belum ada. Hingga akhirnya Allah menciptakan wanita (Hawa) dari rusuk pria (Adam). Allah melihat bahwa dunia dan manusia yang sudah diciptakan-Nya tidak akan lengkap tanpa ciptaan-Nya yang terakhir ini. Wanita menjadi “puncak” dari seluruh penciptaan dan melalui ini Allah ingin menyampaikan bahwa wanita diperlukan dan sangat penting.

Wanita disebut penolong yang sepadan. Wanita diciptakan untuk kemampuan-kemampuan yang bisa menolong pria dan ciptaan lainnya.

Aku jadi teringat dengan salah satu film yang berjudul, War Room. Seorang wanita tua, Ny. Clara yang setia berdoa. Dia memiliki satu ruangan khusus yang menjadi tempatnya untuk berdoa. Ruangan itu disebutnya sebagai tempatnya untuk berperang. Berperang untuk berdoa melawan segala kedagingannya, berdoa untuk orang-orang di sekelilingnya bahkan berdoa agar semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus.

Singkat cerita, suatu hari dia dipertemukan dengan seorang wanita muda, Elizabeth Jordan yang banyak bergumul dengan hidupnya. Wanita yang mengaku Kristen tetapi belum mengenal lebih sungguh siapa Allah. Lewat perjumpaan rutinnya dengan Ny. Clara, Elizabeth ditolong untuk mengenal siapa Allah. Mereka tekun untuk berdoa bersama hingga Elizabeth akhirnya memutuskan menjadikan lemarinya sebagai ruangan khusus buatnya untuk berdoa. Elizabeth beserta keluarga pada akhirnya mengenal siapa Allah melalui Ny. Clara.

Aku sendiri sadar, banyak orang yang ada di sekitarku. Tetapi aku sering lalai untuk memperhatikan mereka karena kesibukan-kesibukanku.

Terkadang berpikir bahwa waktu yang aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, studi dan hal-hal lainnya masih kurang, bagaimana aku harus memikirkan mereka.

Mungkin di saat aku sedang menyelesaikan tugasku, ada orang tua yang merindukan telepon dariku.

Mungkin di saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, ada rekan di sebelahku yang ingin bercerita menyampaikan pergumulannya akan pekerjaan.

Mungkin di saat aku sedang menulis ini pun, ada teman kosku yang sedang menantiku untuk keluar dan bercerita sejenak.

Kadang, aku berpikir bahwa momen-momen tersebut hanya akan menghabiskan waktuku padahal sebenarnya momen-momen itulah yang bisa menolongku untuk menyatakan Kristus dalam kehidupan mereka.

Allah menciptakan perempuan sama mulianya dengan laki-laki. Perempuan juga punya andil dalam menorehkan kisah sejarah umat manusia, sebagaimana teladan Lois dan Eunike serta bagaimana pemikiran Kartini yang akhirnya menata kembali tatanan feodalisme Jawa abad 20.

Selamat menyatakan Kristus di tengah kehidupan kita!

Baca Juga:

3 Hal yang Hilang Jika Kita Menikah dengan Pasangan Tidak Seiman

Semua manusia mencari kenyamanan. Ketika manusia telah menemukannya maka sangat sulit bagi mereka untuk meninggalkannya dan pergi menghadapi risiko-risiko baru. Begitu juga halnya dengan memilih pasangan hidup.

Mengalami Pelecehan Seksual, Aku Memilih untuk Mengampuni dan Dipulihkan

Oleh Rosa*, Bekasi

Belakangan ini berita tentang korban pelecehan seksual yang berani bersuara tersiar di banyak media. Membaca berita-berita itu membuatku seolah merasa lega, sebab masyarakat mulai menyadari bahwa pelecehan seksual sejatinya adalah sebuah kejahatan yang harus diusut tuntas.

Aku sendiri pernah mengalami pelecehan seksual dua kali. Kejadian pertama terjadi saat aku berusia 17 tahun. Peristiwa itu membuat depresi dan hampir tidak lulus sekolah. Terlebih lagi pelakunya adalah kakak kelasku sendiri. Kejadian kedua terjadi saat aku kuliah. Mantan kekasihkulah yang melakukannya. Dua cerita kelam ini kusimpan sendiri. Aku tak berani mengadu dan bercerita, sebab bicara soal pelecehan adalah topik yang dianggap tabu.

Kendati dua peristiwa itu sudah lama berlalu, namun trauma yang ditinggalkan masih tertanam. Sebagai perempuan, aku tahu aku perlu menjaga tubuhku—terkhusus area-area privatku—dengan sebaik mungkin sebagai upaya menjaga kekudusan bagi Tuhan. Namun, ketika apa yang kujaga dinoadai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, seketika aku merasa hancur. Aku merasa kotor dan tak layak di hadapan Tuhan. Aku pun trauma berelasi dengan lawan jenis, terlebih apabila terjadi sentuhan fisik.

Trauma itu perlahan pudar ketika akhirnya aku lahir baru, walaupun untuk dapat mengampuni itu membutuhkan banyak jatuh bangun. Roma 6:22 mengatakan bahwa aku telah dimerdekakan dari dosa dan aku telah menjadi hamba Allah. Aku mendapatkan perspektif baru bahwa semua manusia diciptakan berharga di mata Tuhan, masa laluku tidak menentukan nilai diriku di hadapan-Nya. Kristus telah menebusku dengan harga yang sangat mahal, dan Dia mengampuni semua dosaku tanpa memandangku hina. Kebenaran inilah yang menolongku untuk mengampuni diriku sendiri, juga kedua pelaku pelecehan yang pernah menodaiku.

Peristiwa yang mengingatkan kembali luka masa lalu

Suatu pagi, salah satu teman komselku memberitahuku berita di media sosial. Berita itu berkisah tentang pelecehan seksual. Aku seketika tersentak ketika mengetahui pelakunya adalah teman baikku sendiri. Temanku itu memang merupakan cowok yang cukup populer. Meski kami berbeda kampus, kami saling mengenal dan berelasi baik. Sepengetahuanku berkawan dengannya, dia adalah orang yang sopan dan menghargai perempuan. Apalagi kebanyakan teman dia pun kebanyakan perempuan.

Aku merasa tak percaya bahwa temanku itu sungguh melakukan hal tak terpuji ini. Namun rasa tak percaya ini sirna ketika akhirnya dia mengakui kepada publik bahwa itu adalah perbuatannya. Aku geram sekaligus kecewa. Aku geram kepada temanku itu yang tega melakukan hal demikian, tapi satu sisi lainnya aku pun kecewa: mengapa temanku di balik perangai baiknya tega melakukan ini? Pikiranku pun teringat akan kepedihan yang dulu kualami. Aku rasanya bisa memahami bagaimana perasaan para korban. Mungkin mereka merasa trauma, depresi, dan hancur seperti yang dahulu kurasakan. Di tengah kekalutan pikiran itu, aku menenangkan diri dengan berdoa. Kumohon pada Tuhan agar Dia mengaruniakanku kebijaksanaan untuk menyikapi ini.

Aku lalu mendapati kabar terbaru. Temanku itu mengakui diri bersalah dan siap menerima semua sanksi yang dijatuhkan padanya. Pada sore harinya, dia pun menyerahkan dirinya kepada pihak berwenang.

Bicara soal pelecehan seksual, peristiwa-peristiwa yang muncul ke permukaan hanyalah pucuk dari gunung es. Banyak dari korban tak berani bersuara karena takut diancam oleh pelaku, atau bahkan oleh masyarakat sendiri. Akibatnya, kisah-kisah pelecehan itu menumpuk menjadi kasus yang tak terselesaikan, dan menyisakan trauma di hidup para korban. Dan, jika korban-korban pun tak berani bersuara, terlebih langka lagi kita mendapati para pelaku yang menyadari kesalahannya. Terlepas dari kesalahannya, aku cukup mengapresiasi langkah temanku itu untuk mengakui dan bersedia dihukum dengan layak atas perbuatannya.

Teruntuk teman-teman yang pernah menjadi korban, aku pernah merasakan betapa beratnya trauma yang harus kita tanggung. Kita takut dijauhi oleh rekan-rekan, mendapatkan cap buruk, atau bahkan diancam. Namun, di tengah kemelut ketakutan yang menyelimutimu, aku berdoa kiranya kamu dapat melihat terang kasih Tuhan. Kamu tak dapat menyimpan trauma ini sendirian. Kepada orang yang kompeten dan sungguh bisa dipercaya, kamu bisa mengutarakan beban hatimu, seperti yang firman Tuhan katakan: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). Kamu berhak untuk berbicara dengan jujur.

Kendati kamu merasa kotor dan hina, ingatlah bahwa nilai diri kita hanya ditentukan oleh apa yang Kristus telah lakukan bagi kita di atas kayu salib. Kebenaran inilah yang akan menolongmu untuk pulih. Dan, kepada para pelaku pelecehan, ingatlah bahwa tindakan dosa sekecil apa pun tetaplah dosa. Tuhan melihat setiap tindakan dan motivasi hati kita (Amsal 15:3).

Kiranya damai sejahtera dan anugerah Tuhan beserta kita semua.

Soli Deo Gloria!

*Bukan nama sebenarnya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Berbuat atau Berbuah?

Berbuat dan berbuah. Dua kata ini cuma berbeda di satu huruf, namun perbedaan maknanya sangat menentukan perjalanan kehidupan kita sebagai pengikut Yesus.

Mengupas Mitos Femininitas

Oleh Olivia Elena Hakim, Jakarta

“Liv, satu hal yang perlu kita perhatikan sebagai penatua,” ujar salah seorang rekan pelayanan, sesaat sebelum aku resmi menjadi penatua di gereja. “Kita harus hati-hati banget sekarang, karena hidup kita seperti di dalam akuarium.” Aku hanya tersenyum. Sebagai perempuan muda di negara berflower penuh netizen +62, ini mah bukan hal baru. Bukankah hidup kita sudah kerap berjingkat dengan penuh kewaspadaan di antara berbagai mitos demi menjadi seorang perempuan yang “baik dan benar”? Dari kecil, kita akrab dengan teguran “Anak perempuan nggak boleh…” lalu beranjak remaja, “Eh kamu sudah gadis, nggak boleh….”

Kita hidup dalam sebuah konstruksi realitas, apapun gender dan jenis kelamin kita (cek juga artikel Ari Setiawan, Mengupas Mitos Maskulinitas). “Persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial,” kata Oom Ferdinand Saussure.

Mitos adalah bagian dari keseharian kita. Roland Barthes mengajarkan mitos merupakan gagasan tentang sebuah realitas yang dikonstruksi secara sosial dan disahkan sebagai sesuatu yang “alami” alias wajar saja.

1. “Hmm, kamu gendutan ya? Iteman ya?”

Setelah menginjakkan kaki dalam dapur redaksi sebuah majalah fesyen nasional, aku tahu bahwa sama sekali tidak ada yang “alami” atau “wajar” dari gambaran kecantikan yang kita anggap “alami” atau “wajar”. Tim Digital Imaging dengan tekun menghilangkan lipatan ketiak dan menyamarkan warna kulit ketiak yang gelap (Siapa di sini yang suka insecure sama ketiak kalian gara-gara melihat foto-foto seleb atau iklan deodoran?). Tahun demi tahun nguli di sana, gambar-gambar editan pun menjadi keseharian—yang agak ‘berisi’ dibuat mengerucut tirus, lembaran rambut yang tidak rapi dihilangkan, gigi diputihkan, dan kulit dibuat mulus tanpa noda setitik pun. Lalu dicetak dan disebarluaskan ke khalayak, sebagai panduan fashion & beauty.

Maka, tanpa dikomando tanpa di-briefing, barisan perempuan se-Indonesia pasti bisa dengan kompak menyuarakan ciri-ciri perempuan yang dianggap cantik di negara ini: Putih, rambut lurus, langsing. Inilah yang disebuah Stuart Hall sebagai “kesadaran palsu”—“The role of mass media turns out to be production of consent rather than a reflection of consensus that already exists.”

Jadi, sobat muda, foto-foto yang kalian lihat di layar gawai kalian tidak merefleksikan kenyataan; mereka “hanya” memproduksi efek realitas. Aku bersyukur, di saat media sosial kita dikeroyok tanpa ampun oleh foto-foto influencer, selebgram, selebtwit, tiktokers, maupun seleb-seleb lainnya yang menyodorkan kecantikan dengan standar tertentu, makin banyak campaign yang menyuarakan keragaman konsep kecantikan, seperti @januhairy maupun akun idolaku @tarabasro.

Tapi jika kalian masih sulit untuk melepaskan standar kecantikan usang itu dari benak kalian, ada buku yang wajib kalian baca. Buku ini berjudul “Putih”, karya L. Ayu Saraswati. Jika kalian masih sering berteman dengan oknum-oknum yang kalau ketemuan malah komentar soal fisik kamu, maklumi saja mungkin dia pikniknya kurang jauh dan kopinya kurang kental. Nggak usah dianggap serius gurauannya. Mungkin dari kecil, semua temannya putih dan kurus, jadi referensinya kurang banyak.

2. “Dengan body kaya gitu, pastilah dia bisa dapet lebih ”

Heiiiiits klean para woman womini lupus yang suka julid sama rezeki orang….sadar nggak, kerap kita menganggap perempuan ‘cantik’ hidupnya otomatis bakal lebih mudah dari para Sobat MisQueen dan rakyat jelata lainnya? Kita menganggap dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau dengan modal fisiknya yang mempesona, akibatnya semua prestasi yang diraih selalu dikaitkan sama fakta bahwa dia cantik. Akibatnya kita asyik stalking feed medsosnya dia sambil rebahan, dan lupa untuk berusaha meraih ambisi kita sendiri. Coba bangun dan kerja keras untuk mewujudkan visi hidupmu, tanpa sibuk mengecek ‘keberuntungan’ orang lain. It’s your own life, not theirs. Baca yuk Amsal 28:20, “Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.” Nggak usah ingin ‘cepat kaya’, nggak usah juga sirik sama yang menurutku ‘bisa cepat kaya’ karena penampilan fisiknya. Lagipula nggak semua ‘orang cantik’ hidupnya mudah kok. Nggak percaya? Cobalah buku ‘Cantik itu Luka’ karya Eka Kurniawan atau ‘Setan van Oyot’ karya Djoko Lelono.

3. “Kamu nyebelin banget. Mau dapet ya?”

Siklus istimewa kita sebagai perempuan, sayangnya sering ditunggangi untuk memperkuat narasi kalau perempuan itu ‘labil’, ‘emosional’, ‘lemah’. Kadang, hal itu membuat kita dipandang ‘tidak kompeten’ untuk posisi-posisi strategis di organisasi yang memerlukan pengambilan keputusan logis. Atau dijadikan excuse untuk mengacuhkan ekspresi emosi kita. Karakteristik perempuan dan lelaki yang unik seharusnya tidak dijadikan alasan untuk saling menyingkirkan atau tidak menganggap serius satu sama lain. Lelaki sangat dipersilakan menjadi perawat, perempuan sangat dipersilakan menjadi dokter. Tanpa meninggalkan karakter khas dari jenis kelaminnya. Aku pun banyak dibuat berdecak kagum oleh Jacinda Ardern, PM Selandia Baru yang dengan karakteristik keperempuanannya dalam memimpin, sukses menangani kasus penembakan massal di masjid Christchurch dan pandemi COVID19. Fakta unik lainnya, dia PM Selandia Baru pertama yang hamil dan melahirkan pula di tengah masa dinasnya. Buat kalian yang masih memerlukan ‘tonjokan’ lebih untuk berpikir progresif melampaui mitos kalau perempuan terlalu baperan untuk dianggap kompeten menduduki posisi tertentu, cek Becoming dari Michelle Obama (kalau malas baca yowis, nonton aja dokumenternya di Netflix).

So, mari kita melangkahi mitos-mitos yang mengungkung atau mencoba mendefinisikan hidup kita. Lepaskan dirimu, karena kita semua adalah ‘perempuan yang layak’ dengan ciri khas kita masing-masing, sambil mengingat bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kemuliaan dan hormat yang setara – seperti dalam Mazmur 8:4-5, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

“There is a diva in there, but all she needs is a little bit of a bold lip.”
Jonathan Van Ness.

Baca Juga:

Mengupas Mitos Maskulinitas

Lahir dengan jenis kelamin “laki-laki” pun lambat laun akan disertai dengan berbagai tuntutan dari lingkungan sosial. Namun, tak semua tuntutan yang diberikan kepada kita sebagai laki-laki harus dilakukan, karena ada tuntutan yang bersifat faktual, tapi ada juga tuntutan yang bersifat mitos.

Wanita untuk Kemuliaan Allah

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Dalam dunia yang penuh dengan kasus penyelewengan hak hidup seorang manusia, kita semua, orang Kristen, secara khusus mereka yang kaum wanita, menginginkan emansipasi (pembebasan dari perbudakan). Tak satupun dari semua wanita yang pernah berbincang denganku menginginkan dirinya dianggap rendah derajatnya oleh orang lain. Mirisnya, sejarah telah dengan sangat jelas mengisahkan bagaimana para wanita selama ini sering dianggap sebagai objek yang terus disalahgunakan. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, semua itu dianggap wajar oleh masyarakat dan budaya kita.

Aku punya banyak teman wanita yang telah diperlakukan dengan tidak pantas dan tidak adil bahkan oleh orang terdekat mereka. Beberapa tahun yang lalu, di suatu hari yang tidak kusangka-sangka, salah seorang teman wanita menghubungiku dan menyampaikan sesuatu yang menyesakkan dada. Ia katakan bahwa telah dinodai berkali-kali. Dan yang lebih memilukan hatiku adalah ketika ia memilih untuk diam dan tidak melaporkannya kepada pihak berwajib. Ia punya beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah ia takut ditinggalkan dan direndahkan oleh orang lain, termasuk kekasihnya. Aku memang punya pemikiran lain dan mendorongnya untuk bertindak tegas. Namun di akhir percakapan kami, dengan hati terluka bagai disayat-sayat dengan pisau tajam, aku tetap menghormati keputusannya itu.

Aku tahu, meski dengan kasus yang berbeda, ada banyak wanita yang merasakan tekanan yang sama. Aku tahu begitu banyak air mata kaum wanita yang tercurah di tempat gelap dan sepi yang menuntut keadilan. Mereka semua haus akan kasih sayang dan menginginkan rasa hormat. Mereka tahu mereka mempunyai “nilai” yang tak boleh diabaikan begitu saja. Dan mereka benar. Mereka memang pantas dihormati sebagaimana Allah menetapkan memberikan mereka hak untuk itu.

Dalam kondisi yang telah rusak dan tercemar dengan segala jenis perendahan harkat yang menimpa kaum wanita, Yesus Kristus secara mengejutkan, menjungkirbalikan anggapan umum yang telah mendarah-daging pada masyarakat kuno abad pertama. Pada saat Ia bangkit dari kematian-Nya, saksi pertama dari kisah yang mengguncangkan sejarah itu adalah Maria Magdalena, seorang wanita. Mengapa bukan tokoh yang dianggap penting seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, atau murid pria lainnya? Mengapa saksi pertama dari mukjizat yang amat besar, yang telah mengubah seluruh peradaban ini adalah seorang wanita, yang saat itu kesaksiannya dianggap tak berguna dalam pengadilan? Bahkan bagi orang Yahudi, ada doa mereka yang berbunyi: “Kami bersyukur, ya Tuhan Raja semesta alam, karena Tuhan telah menjadikan kami laki-laki dan bukan perempuan”.

Dapat dibayangkan “kepedihan jiwa” seorang wanita, apalagi mereka yang telah hidup dalam kebangkrutan moral, jika mendengarkan teriakan doa seperti itu. Apabila seorang wanita yang telah hidup bersahaja dan mati-matian menjaga kehormatan saja dapat dihancurkan oleh doa semacam itu, bagaimana dengan para wanita yang punya masa lalu kelam? Bagaimana terpukulnya seorang wanita yang selama hidupnya telah terlanjur mengambil begitu banyak pilihan keliru yang sudah menyeretnya penyesalan yang amat dalam?

Apakah para pria berbeban memikirkan semua ini dengan kesungguhan hati? Tentu saja! Ada jutaan ayah yang berjuang mati-matian untuk membela putri mereka. Ada jutaan suami yang bahkan rela kehilangan segalanya untuk istri mereka. Dan semua itu benar-benar dapat membuat hati meleleh. Tetapi dengan berani aku menjamin bahwa tidak ada yang dapat menandingi kasih sayang yang meluap-luap dan keseriusan menggebu-gebu seperti yang dimiliki seorang pria dari Nazaret bernama Yesus Kristus, Tuhan kita, kepada semua wanita di manapun berada. Ia tahu persis keterpurukan banyak wanita dan mengenal baik sensitivitas hati mereka. Ia memandang jauh ke dalam sanubari mereka.

Kembali pada kebangkitan Kristus. Bukankah peristiwa penting ini harus pertama-tama disaksikan oleh seorang yang juga penting? Jawabannya ya! Karena Maria memang penting. Lebih dari itu, karena wanita amat berharga bagi Allah.

Coba mundur beberapa langkah dan renungkan ketika Allah yang tiada batas, yang berkuasa atas dunia ini, yang menggantungkan milyaran bintang di angkasa, mau datang ke dalam dunia melalui rahim seorang perempuan muda bernama Maria. Dalam kedaulatan-Nya yang sempurna, Allah telah menetapkan tunangan Yusuf ini untuk mengambil bagian dalam proses penyelamatan seluruh umat manusia. Semua itu memang sepenuhnya adalah inisiatif dan pekerjaan Allah, yang tanpa kehendak dan kuasa-Nya tak mungkin untuk terlaksana. Tujuan-Nya memang tidak bergantung pada manusia manapun. Tetapi jangan pernah lupakan sebuah fakta mengagumkan ini: Allah memilih gender yang dianggap lemah untuk Ia hadir dalam dunia. Dengan kuasa-Nya Ia memilih seorang wanita dan memakainya untuk karya agung ini. Ia mau mengingatkan semua pria di manapun berada, dalam segala bentuk budaya, bahwa wanita benar-benar berharga di mata-Nya.

Kita tentu telah melihat bagaimana Ester/Hadasa dipakai oleh Allah untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Kita juga tahu bagaimana Allah bekerja melalui keberanian Debora (Hakim-Hakim 4-5). Kita terkagum-kagum ketika Rut dipelihara oleh Allah. Hati kita meleleh saat mendapati kisah Yesus memperlakukan wanita Samaria yang letih dan haus dengan penuh kasih sayang (Yohanes 4). Kita tak berhenti terpana dengan kelembutan hati-Nya saat Ia membela seorang wanita berdosa di rumah Simon orang Farisi (Lukas 7). Dan begitu banyak kisah lain lagi.

Maka jika Allah dapat memakai para wanita dengan berbagai layar belakang dan masa lalu yang berbeda untuk kemuliaan nama-Nya seperti yang dicatat oleh Kitab Suci, maka Allah yang sama pula akan memakai semua wanita yang mau hidup bagi-Nya. Apa pun pekerjaanmu, baik sebagai ibu rumah tangga, pengusaha, pegawai, guru, mahasiswa, ataupun yang lain, biarlah engkau bekerja dengan cara-Nya untuk kemuliaan-Nya. Apa pun latar belakangmu, baik seorang wanita muda yang kurang berpengalaman atau mungkin seorang janda yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, semuanya ada dalam pengawasan Allah. Bahkan untuk para wanita yang punya masa lalu kelam, bangkitlah dan hapus air matamu, berseru kepada-Nya dan pandang ke Salib itu dan berkatalah dengan lemah lembut “Aku Wanita, dan Aku Beharga”.

Yesus Kristus telah mati bagimu, Para Wanita untuk kemuliaan Allah. Hiduplah bagi-Nya.

Baca Juga:

Di Mana Kita Bisa Mengetahui Pimpinan Tuhan?

Sering sekali kita merasa bahwa Tuhan telah memimpin kita karena kita melihat kesan-kesan baik yang bisa kita terima. Tapi, pernahkah kita menyelidiki sungguh kah kesan yang baik itu pasti menunjukkan ke situlah jalan yang harus kita ambil?

Aku Ingin Jadi Sempurna

Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, namun dosa membuat kita terkadang tak menyadari bahwa kita diciptakan baik adanya. Terkhusus para perempuan, mungkin kita sering merasa kurang–kurang cantik, kurang langsing, kurang pintar, dan sederet kekurangan lainnya.

Namun, terlepas dari segala kekurangan itu, firman Tuhan bicara: (Yeremia 1:5).
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Yuk, bagikan ini ke sahabat kamu dan ingatkan bahwa mereka berharga di mata Tuhan.

Sungguhkah Menikah Seindah di Film? Inilah Pengalamanku Setelah 5 Bulan Menikah

Sungguhkah-Menikah-Seindah-di-Film-Inilah-Pengalamanku-Setelah-5-Bulan-Menikah

Oleh Juli Vesiania, Denpasar

“And they live happily ever after.”

Begitulah gambaran yang aku dapat dari film-film ketika dua insan bersatu dan memasuki kehidupan bersama dalam pernikahan. Di negeri dongeng, pernikahan seringkali digambarkan sebagai sebuah hal yang indah, memukau, dan menawan hati. Namun, bagaimana kenyataannya? Inilah sepenggal pergumulanku yang ingin aku bagikan seputar pernikahanku.

Aku ingin menikah di usia muda

Ketika aku masih SMA, aku berikhtiar untuk menikah muda. Alasanku saat itu sederhana saja, aku merasa jika usiaku dan usia anak-anakku tidak terpaut jauh, aku bisa menjadi sahabat bagi mereka, sama seperti ibuku yang menjadi sahabat bagiku. Selain itu, sejak kecil film-film animasi Disney favoritku membuatku membayangkan menjadi ratu sehari dalam pernikahan adalah sesuatu yang menyenangkan. Pernikahan menjadi sebuah mimpi yang ingin kuwujudkan.
Namun, ketika akhirnya kesempatan untuk menikah itu datang saat aku berusia 24 tahun, aku baru menyadari bahwa mengambil keputusan untuk menikah dan menjalankan pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah.

Pergumulanku sebelum pernikahan

Pernikahan adalah hal yang sangat penting dan sakral karena hanya dilakukan sekali seumur hidup. Artinya, siapa pun yang menjadi pasangan hidupku haruslah orang yang benar-benar tepat. Tidak boleh ada kata-kata “aku telah menyesal memilih dia”, atau “aku telah salah memilih pasangan hidup”.

Pikiran itulah yang menjadi kekhawatiranku ketika aku perlu mengambil keputusan untuk menikah. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Apakah sungguh dia orang yang tepat? Apakah dia dari Tuhan? Apakah aku yakin bisa hidup bersamanya? Apakah aku orang yang tepat untuknya? Apakah aku bisa menjadi penolong untuknya? Terlalu banyak pertanyaan “apakah” yang ada dalam pikiranku kala itu.

Kala pertanyaan-pertanyaan itu membuatku galau, aku diingatkan akan alasan mengapa aku mau berpacaran dengan pasanganku itu. Bagiku, kita harus selektif dalam memilih pacar, karena sesungguhnya pacar adalah calon pasangan hidup kita. Oleh karena itu, sebelum kami berpacaran, aku telah menanyakan berbagai pertanyaan dasar kepada calon pasanganku. Apakah dia orang yang takut akan Tuhan? Apakah dia orang yang bertanggung jawab? Bagaimana jika hubungan ini berlanjut ke pernikahan? Ketika aku mengingat kembali alasan aku mau berpacaran dengannya, dan juga setelah mengenal dia lebih baik lagi selama kami berpacaran, aku akhirnya setuju untuk menikah dengannya.

Pergumulanku setelah pernikahan

Setelah melewati masa galau saat aku memutuskan untuk menikah, aku mengalami masa galau lainnya setelah aku masuk ke dalam pernikahan. Aku menjadi mengerti, pernikahan bukanlah tentang sebuah pesta. Pernikahan adalah tentang kehidupan setelah pesta berakhir.
Kehidupan pernikahan adalah sebuah kehidupan di mana dua manusia dengan latar belakang yang berbeda mencoba untuk hidup bersama. Sulit? Kurasa “sulit” bukan kata yang tepat. “Menantang” adalah kata yang lebih cocok menggambarkannya.

Ada beberapa perbedaan yang kurasakan sebelum dan sesudah menikah. Sebelum menikah, kami hanya ketemu sesekali saja, sehingga perbedaan kami tidaklah terlalu mengganggu kami. Namun, setelah pernikahan kami hidup bersama-sama. Tiba-tiba, perbedaan yang ada menjadi semakin mencolok.

Aku suka makanan bercita rasa asin, tapi suamiku suka makanan bercita rasa manis. Hal itu menjadi begitu merepotkan karena kini kami sering makan bersama. Saat kami keluar mencari makan, kami harus mempertimbangkan selera masing-masing orang. Ketika masak di rumah pun, aku harus membuat dua menu yang berbeda, yang memenuhi selera masing-masing. Saat pacaran, lebih mudah untuk bertoleransi karena kami hanya sekali-sekali makan bersama. Tapi setelah kami menikah, perbedaan ini menjadi hal yang harus kami hadapi seumur hidup.

Contoh lainnya adalah mengenai waktu tidur. Aku adalah ibarat “ayam jago” yang energinya keluar di waktu pagi. Jadi, aku tidur lebih awal, dan bangun lebih pagi untuk beraktivitas. Berbeda dengan suamiku, dia adalah ibarat “kelelawar malam” yang banyak beraktivitas di malam hari. Hal ini menjadi masalah karena kami tidur sekamar. Tengah malam, suamiku masih menyalakan lampu dan melakukan aktivitasnya. Kadang itu membuatku menaruh guling menutupi telingaku dan berseru kepadanya, “Matikan lampunya, aku mau tidur!”

Hal-hal yang kutemui di masa awal pernikahanku ini mungkin terlihat seperti permasalahan yang sepele. Tapi jika kita tidak dapat menyelesaikannya dengan baik, hal itu bisa berakibat fatal.

Inspirasi yang menjawab pergumulanku

Suatu hari, aku menemukan sebuah doa yang pernah dicetuskan oleh seorang teolog Amerika Reinhold Niebuhr. Doa itu begitu indah dan memberiku pencerahan untuk menyikapi permasalahan yang ada dalam pernikahanku dengan bijak. Berikut adalah isi doanya:

Tuhan, berikan aku damai sejahtera untuk menerima hal yang tak dapat kuubah,
berikan aku keberanian untuk mengubah yang dapat kuubah,
dan berikan aku hikmat untuk mengetahui perbedaan dari kedua hal itu.

Membaca doa di atas mengingatkanku bahwa ada hal-hal yang tak dapat kita ubah, dan untuk hal-hal semacam itu, kita perlu beradaptasi dan menerimanya. Aku tak dapat mengubah suamiku yang merupakan “orang malam”. Yang dapat kulakukan adalah beradaptasi dan menerimanya. Aku pun membiasakan diri untuk tidur dengan lampu yang menyala.

Selain itu, aku juga diingatkan oleh sebuah ayat Alkitab berikut ini:

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma 12:18)

Ayat itu mengingatkanku bahwa untuk hidup dalam perdamaian, usahakanlah itu. Kadang hal itu menjadi sebuah tantangan ketika keinginanku berbeda dengan keinginan suamiku. Oleh karena itu, aku menyadari bahwa dalam beberapa hal, jika itu hanya menyangkut keinginanku, aku perlu berkompromi. Berkompromi berarti kita akan melakukan hal-hal yang mungkin tidak kita sukai, karena hal itu penting bagi pasangan kita. Agar perdamaian itu dapat terwujud, perlu ada setidaknya salah satu yang mengalah.

Ketika memasak, aku merelakan diri untuk lebih repot dengan dua kali memasak untuk memastikan kebutuhan cita rasa suamiku dan diriku yang berbeda dapat terpenuhi. Begitu pula dengan masalah lampu kamar. Ketika aku perlu tidur cepat dan mematikan lampu, suamiku mengalah dengan beraktivitas di luar kamar. Ketika kami saling berkompromi, itu sangat membantu kami untuk menciptakan sebuah pernikahan yang harmonis. Perbedaan-perbedaan yang ada pun tidak terasa terlalu mengganggu lagi.

Pernikahan bukan untuk mengejar kebahagiaan

Aku mengingat sebelum menikah aku sempat membaca sebuah buku karangan Gary Thomas yang berjudul “Sacred Marriage”. Dalam buku itu, Gary Thomas berkata bahwa tujuan pernikahan bukanlah untuk mengejar kebahagiaan. Pernikahan adalah suatu sarana yang diciptakan Allah untuk menguduskan manusia agar semakin serupa dengan-Nya.
Jika seseorang ingin menikah, dia harus siap untuk melalui proses pemurnian dan pembentukan Allah. Kebahagiaan bukanlah tujuan, melainkan bonus yang diberikan Allah ketika kita melalui proses-Nya.

Itulah yang kualami dalam lima bulan pertama dalam pernikahanku. Aku merasa Tuhan sedang menguduskanku dan membentukku menjadi pribadi yang lebih baik melalui setiap masa suka dan duka yang kualami dengan suamiku. Meski ada riak-riak perbedaan karakter dan kebiasaan yang muncul setiap hari, aku dapat menjalaninya dengan sukacita, karena aku percaya itu adalah proses pemurnian dan pengudusan Tuhan bagiku dan pasanganku.

Jadi, apakah menikah itu indah? Jawabannya adalah ya. Tetapi bukan indah dalam pengertian tidak ada masalah, hidup damai, dan semua senang seperti yang dipertontonkan di film-film. Melainkan, indah karena iman dan pengenalanku akan Tuhan boleh semakin bertumbuh, dan karakterku diproses dari hari ke hari.

Aku sungguh berharap bahwa pernikahan yang kami bangun ini diperkenan Tuhan untuk menjadi berkat bagi anak-anakku kelak dan pasangan-pasangan lain. Kiranya keluarga yang kami bangun ini menjadi keluarga yang takut akan Allah, dan kiranya kelak anak-anak kami dapat menjadi pewaris kerajaan Allah.

Baca Juga:

Mengapa Aku Masih Single?

Aku sedang duduk di bangku gereja mendengarkan khotbah pendeta kami ketika pandanganku tertuju pada sepasang kekasih yang duduk beberapa baris di depanku. Tidak jelas apakah sang perempuan sedang bersandar di bahu sang lelaki, atau sang lelaki sedang mengecup kening sang perempuan, namun pemandangan itu mengalihkan perhatianku.