Posts

Nenekku dan Seorang Perempuan Nepal

Oleh Eugene Seah, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Nepali Lady And My Grandmother

Ketika kami duduk mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi di Nepal, temanku yang adalah seorang Nepal membagikan kabar Injil kepada seorang perempuan yang menyiapkan sarapan kami.

Perempuan itu menjawab, “Kalau dengan percaya kepada Tuhanmu aku bisa tidak bekerja, aku akan percaya!”

Bagaimana kamu merespons jawaban itu? Secara pribadi, waktu itu aku tidak bisa meresponsnya dengan jawaban yang tepat. Tapi sekarang, seiring aku mengingat kembali kesaksian nenekku, aku menemukan jawabannya.

Di dekade 1960-an, banyak orang Tionghoa di Singapura lebih memilih untuk punya anak lelaki daripada perempuan. Hasilnya, nenekku sering mendapat perlakuan kejam—secara fisik dan verbal—oleh ayah mertuanya karena dia tidak melahirkan anak laki-laki. Nenekku dikaruniai tiga anak perempuan. Mertuanya pernah meminta suami nenekku untuk mengambil istri lain. Untungnya dia menolak usulan itu. Saat nenekku mengandung anak keempat dan masih terus mengalami penyiksaan fisik, dia didesak oleh tetangganya untuk bunuh diri saja. Namun, dia menolak, dia tidak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ibu.

Suatu ketika, saat dia sedang dalam perjalanan ke toko daging di mana suaminya bekerja, dia berpapasan dengan kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh orang Kristen. Dia bergumam, “Kalau Engkau Tuhan yang bisa menyelamatkanku dari segala sakit hatiku dan menjagai anak-anakku, aku akan percaya kepada-Mu!”

Sekarang, nenekku adalah ibu yang luar biasa dari enam anak (tiga anak perempuan dan kemudian dia dikaruniai tiga anak lelaki), dan sangat dicintai oleh hampir selusin cucunya.

Tuhan telah menempatkan harapan di dalam hatinya dan menopangnya melalui tahun-tahun penuh badai. Tuhan kita yang Mahabesar mendengar tangisnya dari surga dan menjawab (Mazmur 55:17)!

Sebagai tanggapan, nenekku menjadikan doa sebagai gaya hidupnya. Dia menceritakan pada Tuhan tentang perjuangannya dan bersyukur kepada Tuhan atas segalanya. Selain itu, dia juga melaksanakan Amanat Agung untuk mencari domba-domba yang hilang dengan membagikan Injil kepada saudara-saudarinya dan orang-orang lain yang belum percaya. Nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Kristus! Meskipun Nenek tidak bisa membaca, tapi Tuhan memakai dirinya untuk membawa banyak orang kepada keselamatan.

Nenekku sungguh-sungguh ingin memahami Alkitab lebih baik. Dia pun belajar bagaimana membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin dan mengikuti seminar-seminar rohani untuk belajar semakin mengenal Tuhan. Semangat nenekku itu membuatku merasa malu, sebab kurasa aku belum pernah sesemangat itu.

Tahun lalu, dia didiagnosis menderita kanker. Seharusnya dia merasa kecewa dan khawatir karena kabar itu. Tapi, keluargaku bisa melihat bahwa saat-saat sedih itu berlalu dengan cepat dan nenekku pun kembali bersukacita.

Seperti yang telah dilakukannya sebelumnya, nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Injil, kesetiaan Tuhan, dan kebaikan Tuhan, bahkan saat dia bergumul dengan kanker! Memang, Tuhan adalah Tuhan atas segala musim kehidupan kita, kita pun seharusnya menyembah-Nya dalam setiap musim kehidupan kita.

Kembali ke pertanyaan yang diberikan oleh seorang perempuan Nepal tadi, bagaimana aku menjawabnya sekarang?

Menjadi seorang pengikut Kristus tidak berarti bahwa kita bisa berhenti bekerja. Malah, akan ada banyak hal yang harus kita lakukan. Namun, yang jadi pembedanya adalah sekarang kita bekerja dengan jaminan penuh bahwa semua ada dalam kendali Tuhan dan segala jerih payah kita tidak sia-sia.

Melalui kehidupan nenekku, aku melihat kebesaran dan kesetiaan Tuhan. Dia memberikan sukacita yang nyata kepada semua anak-anak-Nya. Kita juga bisa mendapatkan penghiburan dalam pengetahuan bahwa anak-anak-Nya akan menerima upah yang kekal, yang tidak akan rusak ataupun hilang (Wahyu 22:12).

Memang, penyakit dan kesulitan dapat membuat tubuh kita lelah. Namun sebagai anak-anak Tuhan, meskipun dari luar kita terlihat rapuh, tapi di dalam batin kita dibaharui dari hari ke hari. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Jika Tuhan berkehendak, aku berharap bisa kembali ke Nepal dan memberi tahu perempuan itu tentang kebaikan Tuhan kita. Kiranya kasih-Nya yang teguh dalam kehidupan nenekku, yang sedang berjuang untuk pulih, menjadi dorongan yang nyata untuk perempuan itu! Aku akan berbicara tentang kebaikan Tuhan di mana pun Dia menempatkanku. Ayo, kita bersama-sama menyatakan pujian kepada Tuhan ke manapun kita pergi.

Baca Juga:

Aku Gagal Masuk SMA Favorit, Tapi Aku Belajar untuk Tidak Larut dalam Kekecewaan

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” firman ini menegurku yang merasa kecewa karena impianku masuk ke SMA favorit tidak terwujud. Melalui proses yang Tuhan izinkan terjadi, aku belajar untuk memahami bahwa rancangan yang Tuhan beri padaku adalah yang terbaik.

2 Hal yang Menolongku untuk Mempercayai Allah Sepenuhnya

Oleh Jesse Schmidt, Kanada
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 2 Ways To Build Trust In God

“Percayalah kepada Tuhan.” Kamu mungkin sudah sering mendengar kalimat ini berkali-kali, terutama saat kamu sedang menghadapi tantangan, merasa ragu, ataupun dihadapkan pada situasi-situasi yang sulit dalam hidup. Tapi, meski mudah diucapkan, percaya sepenuhnya kepada Tuhan itu seringkali terasa sulit untuk dilakukan. Bukankah begitu?

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak hal yang sebenarnya melatih kita untuk percaya. Ketika kita bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, kita mempercayai orang yang mengemudikan kendaraan yang kita naiki. Meski kita tahu bahwa mereka adalah manusia yang tidak sempurna sama seperti kita, namun kita percaya bahwa si pengemudi akan membawa kita tiba di tujuan dengan aman.

Tapi, jika berkaitan dengan Yesus—Pribadi yang sempurna dan mengetahui segalanya—khususnya ketika kita menghadapi jalan hidup yang sulit, kita malah ragu untuk mempercayakan kehidupan kita seluruhnya pada Yesus. Mengapa bisa begini?
Bolehkah aku mendorongmu untuk memikirkan dua kebenaran sederhana yang aku percaya bisa menolongmu untuk membangun kepercayaanmu kepada Tuhan?

1. Mempercayai Allah dimulai dari mengenal-Nya

Kembali pada contoh bepergian. Kita percaya kepada orangtua kita, atau misalnya orangtua teman kita ketika mereka mengemudikan mobil yang kita tumpangi. Kita percaya bahwa mereka sanggup mengendalikan mobil dan kita tidak akan mengalami kecelakaan. Mengapa kita percaya kepada mereka? Mungkin karena kita tahu siapa mereka, atau mungkin pula karena kita memiliki relasi pribadi dengan mereka. Dua hal inilah yang memberikan kita keyakinan bahwa mereka peduli terhadap kita dan tidak akan membiarkan kita celaka. Relasi inilah yang menjadi dasar kepercayaan kita kepada mereka.

Tapi, bagaimana jika yang mengemudikan kendaraan itu adalah orang lain yang tidak kita kenal, seperti supir bus, taksi, atau masinis kereta api yang membawa kita dari tempat A ke tempat B? Dalam hal ini, kita tetap mempercayai mereka karena kompetensi mereka, atau bisa jadi juga karena rekomendasi dari orang lain. Inilah yang membuat kita yakin bahwa mereka dapat diandalkan dan mampu mengantarkan kita tiba di tujuan dengan selamat.

Jadi, apakah yang menghalangi kita untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan? Mungkin satu kebenaran yang sulit untuk kita pahami adalah karena Tuhan mengizinkan hal-hal baik dan buruk terjadi dalam kehidupan kita (Ratapan 3:38). Tapi, jika kita mengenal-Nya lebih jauh, kita mampu melihat bahwa inilah sesungguhnya cara Tuhan bekerja, dan Dia tetap akan menyertai kita meski di saat-saat terburuk sekalipun.

Alkitab memberi kita banyak contoh tentang orang-orang yang tetap saleh dan setia meski menghadapi pencobaan dan kesukaran. Contohnya adalah Ayub yang menderita luar biasa karena kemiskinan, sakit penyakit, dan kematian seluruh anggota keluarganya. Ayub bergumul untuk memahami Allah dan penderitaan yang dia alami, tapi Ayub tidak pernah berhenti untuk mempercayai Allah (Ayub 13:15). Dan, pada akhirnya, Ayub dilimpahi dengan berkat melebihi dari apa yang dia pernah bayangkan.

Ketika aku bekerja sebagai anak magang yang harus bekerja selama 12 jam sehari atau bahkan lebih, aku pun bergumul dengan kebenaran ini. Proyek-proyek yang aku lakukan tidak berjalan baik. Di ujung hari, energiku secara fisik dan mental terkuras habis. Aku berjuang keras untuk tetap membaca Alkitab dan berdoa. Tapi, pada ujungnya aku malah jadi bertanya-tanya: mengapa Tuhan menempatkanku dalam situasi ini?

Namun, suatu ketika Tuhan berbicara kepadaku melalui sebuah khotbah. Tuhan mengingatkanku akan kedaulatan dan kebaikan-Nya yang tidak berkesudahan, meski kehidupan sepertinya tidak baik untukku. Ketika aku merenungkan kebenaran ini selama seminggu setelah mendengarkan khotbah itu, Allah memberikanku damai dan mengajariku bagaimana percaya sepenuhnya kepada-Nya. Dengan kasih karunia Tuhan, jam kerjaku perlahan-lahan berkurang dan aku jadi bisa melanjutkan aktivitas pembacaan Alkitab dan doaku.

Kepercayaan kita kepada Tuhan bertumbuh ketika kita mengenal Dia dengan lebih erat.

2. Mempercayai Allah dimulai dari mengakui bahwa kita sesungguhnya tidak tahu apa-apa

Ketika kita sedang bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, kita mungkin tidak tahu jalan menuju ke sana. Tapi, kita dapat mempercayai supir dari mobil atau bus yang kita tumpangi untuk membawa kita tiba di tujuan dengan aman. Sama halnya, ada banyak yang mungkin tidak kita mengerti dalam perjalanan hidup kita. Kita mungkin tidak tahu bagaimana suatu hal terjadi, atau pilihan apa yang seharusnya kita ambil dalam situasi tersebut.

Inilah saatnya untuk kita belajar bahwa mempercayai Tuhan dimulai dari mengakui diri bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki semua jawaban atas pertanyaan hidup kita. Kita harus percaya kepada-Nya dan menyerahkan jalan-jalan kita kepada-Nya, bahkan ketika kelihatannya ada yang tidak masuk akal bagi kita.

Alkitab kembali memberikan contoh yang baik. Allah memerintahkan Yosua untuk mengelilingi tembok Yerikho yang kokoh beberapa kali supaya tembok itu runtuh (Yosua 6:1-10). Jika dipikir dengan logika, perintah Allah ini tentu tidak masuk akal sama sekali.

Namun, Yosua tetap mempercayai Allah dan mengambil keputusan untuk taat kepada perintah-Nya—dan tembok itu pun runtuh, persis seperti yang dikatakan Allah.

Bahkan Salomo, yang dianggap sebagai orang yang paling bijaksana yang pernah ada, berkata: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Suatu ketika, aku mendapati diriku berada di dalam situasi di mana aku diharuskan mempraktikkan ayat ini. Aku sedang menghadapi ujian tengah semesterku dan harus memutuskan apakah aku perlu untuk belajar lagi di hari Sabat atau tidak. Jika dipikirkan secara logis, mengambil satu hari tambahan untuk belajar ini memang masuk akal. Tapi, aku juga mengingat bahwa Yesus ingin aku mencari kerajaan-Nya terlebih dulu. Hasilnya, aku memutuskan untuk percaya kepada Allah dan aku yakin bahwa Dia akan memenuhi apa yang kuperlukan. Aku memutuskan untuk mendedikasikan hari Sabatku untuk memuji dan menyembah-Nya dan melanjutkan belajarku di hari lainnya. Karena anugerah Allah, hasil ujianku pun baik.

Kepercayaan kita kepada Tuhan bertumbuh ketika kita sadar bahwa jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan kita dan kita taat kepada perintah-Nya, bahkan ketika perintah-Nya itu terkesan seperti tidak ‘logis’.

Jadi bagaimana kita bisa menerapkan dua kebenaran ini? Inilah yang bisa kita lakukan:

  1. Luangkan waktu bersama Tuhan dan orang-orang yang mengenal-Nya dengan baik. Bacalah Alkitab, berdoa, temui orang-orang Kristen lainnya dan carilah koneksi dengan gereja yang dapat membantu kita untuk semakin bertumbuh dalam relasi dengan Yesus.
  2. Akuilah bahwa kita terbatas dalam pengertian kita. Oleh karena itu kita mau taat kepada perintah-Nya meski terkadang perintah-Nya sulit untuk kita mengerti.

Maukah kamu mempercayakan hidupmu kepada Yesus?

Baca Juga:

Teguran Allah yang Membuatku Kembali Pada-Nya

Sebagai seorang mahasiswa yang mendapatkan kesempatan bekerja parah waktu, aku jadi tergoda dengan uang dan mulai mengabaikan relasiku dengan Allah. Hingga suatu ketika, melalui teguran-Nya, aku pun menyadari kesalahanku.

Hari di mana Aku Tidak Lagi Bisa Menolak Yesus

Oleh Jefferson, Singapura

“Apakah kamu ingin mengetahui Kebenaran?” tanya guru pelajaran agama Kristen kepadaku dan seorang teman. Waktu itu sedang jam istirahat siang dan kami sedang berada di ruang guru untuk suatu alasan yang tidak bisa kuingat.

“Tentu, pak,” balasku.

Guruku mengajak kami ke perpustakaan, dan segera setelah kami menemukan tempat duduk, dia bertanya, “Siapa Yesus?”

“Dia adalah Juruselamat,” jawabku tanpa pikir panjang.

“Betul, tapi tidak lengkap,” balasnya.

Aku melirik kepada temanku untuk meminta bantuan, tapi dia sama bingungnya sepertiku. Aku mencoba mengingat-ingat bahan pelajaran agama dari kelas-kelas sebelumnya—tidak ada jawaban lain yang muncul.

Puas dengan kebingungan kami, guru kami menyuruh kami untuk mengambil Alkitab dari rak buku dan membaca Roma 10:9.

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan,” baca kami serentak.

“Jadi, siapa itu Yesus?” tanya guruku sekali lagi.

Jawabannya sudah jelas; namun, rencana Tuhan yang memimpinku kepada momen ini tidak sejelas itu.

Meragukan Kekristenan

Sejak aku masih kecil, aku sudah tertarik pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial. “Siapa diriku? Apakah arti hidup? Apa yang akan terjadi setelah aku meninggal?” Seiring umurku bertambah, aku mulai mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.

Perhentian pertamaku adalah iman Katolik. Ketika aku dan adikku masih balita, orangtua kami sering mengajarkan kami tentang Yesus yang mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa sehingga mereka bisa masuk surga setelah meninggal. Mereka juga membawa kami ke ibadah misa mingguan.

Namun, sebagai seorang anak kecil, aku tidak mengerti apa itu keselamatan. Aku pun tidak menikmati ibadah yang kuikuti. Yang aku tahu adalah gereja itu membosankan dan ritualistik. Kalau bisa memilih, aku lebih baik tinggal di rumah dan menonton kartun daripada pergi ke gereja. “Kalau keselamatan berarti mengikuti ibadah yang membosankan setiap Minggu, aku tidak mau diselamatkan,” pikirku. Setelah menghadapi begitu banyak keluhan dan gerutuan dariku dan adikku, orangtuaku, yang ketika itu cukup acuh tak acuh terhadap agama, memutuskan untuk berhenti menghadiri ibadah sama sekali ketika aku berumur delapan tahun.

Perhentianku berikutnya adalah Agnostisme dan Ateisme. Waktu itu aku baru melanjutkan sekolah ke sebuah SMP Kristen Protestan. Kupikir orang-orang Protestan akan berbeda dari orang Katolik. Dugaanku dibantahkan oleh teman-temanku yang mengaku dirinya “Kristen” tapi tidak serupa Kristus sama sekali. Dalam pandanganku saat itu, tampaknya Yesus, yang mengklaim dirinya adalah Tuhan, tidak mampu sama sekali untuk mengubah orang menjadi baik. Kesimpulanku adalah iman Protestan sama tak berdayanya. Aku mulai mengembangkan filosofiku sendiri—hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang kuanggap dapat membantuku untuk hidup dengan baik—yang sangat dipengaruhi oleh paham Panteisme dari Timur dan Humanisme Sekuler dari Barat.

Filosofiku hanya bertahan selama tiga tahun. Pada saat aku masuk SMA, kepercayaan-kepercayaanku telah menghadapi banyak tantangan dan kemunduran. Misalnya, dulu aku percaya bahwa dengan kemauanku semata aku bisa memfokuskan diri pada hal-hal filosofis yang kupandang lebih bermakna dari pengejaran akan kesenangan duniawi. Tetapi pikiranku tidak bisa fokus dan aku sering menemukan diriku teralihkan oleh hiburan-hiburan yang kuanggap “duniawi” seperti komik dan film. Kejadian yang terus berulang ini membuktikan bahwa aku tidak bisa melakukan hal baik apapun dengan kekuatanku atau kemauanku sendiri.

Setelah dikecewakan oleh filosofiku sendiri, dan, mengetahui dari pengalamanku bahwa cara manusia selalu berakhir dalam kesia-siaan, aku berpaling kepada iman yang dulu kupandang rendah: Kekristenan.

Mengapa iman Kristen? Tiga tahun mempelajarinya dalam pelajaran agama di SMP membukakan mataku kepada keunikannya dibandingkan dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Kekristenan berkata bahwa aku diselamatkan oleh Allah hanya karena Allah mau menyelamatkanku, bukan karena aku orang yang baik atau berhak mendapatkannya atau karena usahaku sendiri. Sambil aku melihat bagaimana kasih-Nya memenuhi dan meresapi setiap sudut ciptaan-Nya, aku mulai menemukan jawaban-jawaban terhadap keberatan-keberatanku terhadap Kekristenan, termasuk tentang teman-teman “Kristen” ku.

Selama beberapa bulan aku bermain mata dengan Kekristenan melalui iman Katolikku yang tidak pernah kupegang dengan sungguh-sungguh. Aku mulai berdoa tapi tidak menganggap Allah sebagai Tuhan. Aku juga mulai membaca Alkitab tapi tidak mempercayai otoritas serta klaim-klaim teologisnya.

Situasi ini berlanjut hingga aku bertemu dengan guruku yang dalam pelajaran pertamaku bersamanya membicarakan akhir zaman sebagaimana tercatat dalam kitab Wahyu. Karena aku baru menonton film dokumentasi tentang topik tersebut beberapa minggu sebelumnya, aku berbincang dengannya di akhir pelajaran untuk memperjelas beberapa kebingunganku. Jawaban-jawabannya yang logis selama diskusi singkat kami membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku tidak pernah menyangka bahwa teologi Kekristenan memiliki kerangka yang sangat rasional. Perbincangan ini memimpinku kepada beberapa diskusi lanjutan dengannya tentang hubungan antara iman dan rasio.

Walaupun tarikan untuk percaya kepada Tuhan semakin kuat, aku terus menemukan cara untuk mengelak. Aku tidak mau hidupku diatur oleh Allah yang keberadaan dan otoritas-Nya tidak bisa kuterima. Sampai akhirnya pertanyaan itu tiba.

“Siapa itu Yesus?”

Bergumul dengan Kebenaran

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan. . .

“Oke, aku bisa mengaku demikian, kemudian hidup seolah-olah Yesus bukan Tuhan. Karena dia bukanlah Tuhanku. Bukankah aku adalah penguasa diriku sendiri?!” pikirku.

. . . dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Aku merasa dipojokkan. Ayat ini membawaku tepat kepada inti daripada Kekristenan, di mana aku melihat Yesus yang telah bangkit berdiri memandangku dalam kemuliaan-Nya, telapak tangan dan kaki-Nya masih berlubang dari penyaliban, lambung-Nya dari tusukan tombak, tangan-Nya terentang kepadaku, memanggilku kembali kepada-Nya.

Mekanisme pertahananku langsung aktif, pikiranku mencoba membuktikan bahwa ini tidak mungkin benar. Menariknya, setiap argumen yang keluar malah mendukung lebih jauh klaim bahwa Yesus adalah Tuhan. Salah satu bantahan terkuatku terhadap Kekristenan sudah kusebut, yaitu “ketidakmampuan” Yesus untuk mengubah teman-temanku untuk hidup dengan benar. Namun, setelah merenungkan ayat ini dan pengalamanku sendiri, aku menyadari bahwa hidup dengan benar memerlukan iman kepada Tuhan yang benar: ketika seseorang percaya bahwa Yesus benar-benar adalah Tuhan yang Allah telah bangkitkan dari kematian di atas kayu salib, kasih Allah akan memenuhi dan memampukan orang itu untuk hidup memuliakan dan menikmati-Nya.

Aku mulai melihat bahwa setiap detik keberadaanku di dunia dan setiap hal yang dapat kutemukan di dunia ini menunjuk kepada keberadaan Allah dan kedaulatan-Nya sebagai Tuhan. Fakta bahwa Ia, Yesus, telah mati dan bangkit kembali memberiku pengharapan bahwa sekalipun aku telah pergi begitu jauh dari Tuhan, aku masih bisa diselamatkan dan kembali kepada-Nya. Tidak ada jalan lain. Aku harus percaya.

Memandang guruku, aku menemukan diriku sendiri berkata, “Tuhan.”

Hidup dalam kedaulatan Tuhan Yesus

Lima belas tahun pertama kehidupanku diwarnai dengan banyak kekecewaan dan penyesalan. Segala usahaku untuk “hidup dengan baik dan benar” gagal total. Hanya setelah pertobatanku aku bisa merasakan sukacita dan damai yang sejati dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang memberitahukan jalan kehidupan kepadaku (Mazmur 16:11).

Karena Yesus adalah Tuhan atas segala ciptaan, tidak ada orang yang bisa berkata, mengklaim, atau bahkan membuktikan kalau mereka berkuasa atas hidup mereka sendiri. Kita hanya bisa memilih antara menghidupi seluruh keberadaan kita dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan atau melewati setiap momen kehidupan dalam penyangkalan akan kedaulatan-Nya. Seorang misionaris bernama Hudson Taylor merangkum kebenaran ini dengan sangat baik, “Antara Kristus adalah Tuhan atas segalanya atau dia bukanlah Tuhan sama sekali.” Dan jika kita memang mengakui Kebenaran ini, segala hal yang kita lakukan, setiap detik keberadaan kita harus menunjuk kepada-Nya dan kemuliaan-Nya, bahkan dalam hal-hal paling sepele seperti membersihkan kamar kita (1 Korintus 10:31).

Sekarang sudah enam tahun sejak aku mengakui Yesus sebagai Tuhanku. Hidupku berubah total sejak saat itu dan aku bisa berkata kalau pengakuan dan pengenalan akan Kristus itu jauh lebih baik dan berharga dibandingkan dengan ketika aku hidup sebagai penguasa atas diriku sendiri.

Soli Deo gloria.

Baca Juga:

Bagaimana Seharusnya Kita Merespons Sakit Penyakit?

Sebagai seorang pekerja medis yang menangani pasien dengan beragam keluhan, aku mendapati bahwa respons seseorang terhadap penyakitnya itu bisa saja membuat situasi menjadi lebih buruk atau membaik.

Wallpaper: Amsal 3:5

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

Yuk download dan pakai wallpaper bulan ini!

Lock Screen: Amsal 3:5

Yuk download dan gunakan lock screen ini di ponselmu!

Kiranya kita terus diingatkan untuk terus percaya kepada Tuhan dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri.
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

SinemaKaMu: Silence—Siapkah Kamu Memikul Salib?

sinemakamu-silence-siapkah-kamu-memikul-salibnya

Oleh Denissa Krisfetson, Jakarta

Apa yang akan kita lakukan jika kita dihadapkan pada keadaan yang menguji iman kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, aku ingin mengajakmu untuk berefleksi sejenak dari sebuah film berjudul “Silence” yang bercerita tentang dilema yang harus dihadapi oleh orang-orang Kristen di Jepang beberapa abad lalu.

Silence adalah sebuah film karya Martin Scorsese yang diangkat dari sebuah novel. Pada tahun 1966, Shusako Endo menuliskan sebuah novel yang bercerita tentang dua orang misionaris bernama Rodrigues dan Garupe yang harus menghadapi tantangan ketika mereka memutuskan untuk pergi ke Jepang.

Perjalanan mereka berdua ke Jepang bertujuan untuk mencari guru mereka, Ferreira, yang telah lama hilang semenjak kunjungannya ke Jepang. Bahkan ada kabar yang beredar bahwa Ferreira sudah menyangkal imannya sebagai seorang pengikut Yesus dan beralih kepercayaan terhadap dewa-dewa Jepang.

Untuk melancarkan misi perjalanan mencari Ferreira, mereka dipertemukan dengan seorang Kristen Jepang yang bernama Kichijiro. Awalnya Kichijiro tidak mau membantu mereka untuk menjalankan misi pencarian itu, tapi setelah susah payah diyakinkan akhirnya dia bersedia untuk membantu dan mereka pun pergi ke Jepang dengan cara menyelundup di sebuah kapal.

Pada masa itu, kekaisaran Jepang yang digerakkan oleh Keshogunan Tokugawa sangat menutup diri dari pengaruh dunia luar, termasuk dari kedatangan para misionaris. Kebijakan kekaisaran untuk menutup diri itu juga berdampak kepada orang-orang asli Jepang yang sebelumnya telah memeluk iman Kristen. Jika mereka tetap memegang teguh imannya kepada Yesus mereka akan disiksa perlahan sampai akhirnya mati.

Semua misionaris yang sebelumnya telah datang di tanah Jepang harus memilih untuk menyangkal iman mereka atau dibunuh. Akibatnya, orang-orang Jepang yang telah menjadi Kristen tidak lagi memiliki pemimpin rohani. Ketika Rodrigues dan Garupe tiba di Jepang, mereka disambut begitu hangat oleh orang-orang Kristen yang telah menanti-nantikan pemimpin rohani.

Sambil melayani kebutuhan rohani orang-orang Kristen Jepang, Rodrigues dan Garupe juga berusaha mencari informasi tentang keberadaan Ferreira.

Setelah beberapa waktu berlalu, pihak kekaisaran berhasil menemukan keberadaan mereka berdua dan juga orang-orang Kristen Jepang lainnya. Mereka kemudian memaksa orang-orang Kristen di desa untuk menyangkal Yesus dan juga dianiaya. Rodrigues dan Garupe harus melarikan diri dan berpencar supaya tetap dapat melayani orang-orang Kristen yang masih bertahan.

Tapi, pelarian mereka tidak bertahan lama karena pihak kekaisaran Jepang berhasil menangkap mereka dan mereka pun dipaksa untuk menyangkal Yesus. Mereka berdua menghadapi dilema yang sangat berat, mereka takut kalau penolakan mereka untuk menyangkal Yesus akan menyebabkan orang-orang Kristen Jepang semakin dianiaya.

Setelah pergumulan dan penganiayaan yang sangat panjang, Garupe akhirnya meninggal dunia dan meninggalkan Rodrigues seorang diri. Rodrigues pun dipenjara dan selama itu ia harus melihat orang-orang Kristen yang ditangkap, disiksa lalu dibunuh dengan sadis.

Pada puncaknya, akhirnya ia dipertemukan dengan Ferreira, guru yang selama itu dia cari. Namun pertemuan ini membuat dia sangat terkejut dan hatinya hancur. Ferreira telah menyangkal Yesus dan mengubah namanya dengan nama Jepang. Bahkan dia juga telah menikah dan mempunyai anak serta menjadi pendeta dewa-dewa.

Meskipun hatinya sangat hancur, Rodrigues masih menolak untuk menyangkal Yesus. Akibat keputusannya itu maka lebih banyak orang-orang Kristen Jepang yang dianiaya dengan sadis dan Rodrigues harus menyaksikan itu semua.

Pada akhirnya, Rodrigues menyerah dan memilih untuk menyangkal Yesus. Kemudian dia bergabung dengan Ferreira dan melakukan ritual penyembahan kepada dewa-dewa Jepang. Akhir film ini ditutup dengan adegan ketika Rodrigues meninggal dan memegang salib dalam peti jenazahnya.

Dari kisah ini, ada satu pertanyaan menarik yang bisa kita tanyakan dan renungkan kepada diri kita sendiri. Ketika datang pencobaan bahkan penganiayaan, apa yang akan kita lakukan? Maukah kita tetap setia kepada Yesus?

Mungkin di masa sekarang ini tantangan iman yang kita hadapi tidak selalu berupa penganiayaan fisik. Ada banyak hal yang menggoda dan “memaksa” kita untuk menyangkal iman kepada Yesus. Apakah itu kecanduan kita pada obat-obatan terlarang, pornografi, uang, bahkan hingga ketergantungan pada smart phone.

Tuhan Yesus berkata dalam Matius 16:24, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”

Ketika kita memutuskan untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus, itu berarti kita siap memikul salib-Nya. Memikul salib itu berarti melepaskan segala kenyamanan dan keterikatan kita dengan dosa.

Maukah kita tetap mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan kita dan memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya?

Baca Juga:

Tuhan Yesus, Terima Kasih untuk Tragedi Ini

Tak lama setelah aku memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus, ayahku dipanggil pulang ke surga. Ibu harus bekerja mengadu nasib ke luar negeri untuk menopang kehidupan keluarga, sementara itu adikku pun terjerat dalam narkoba. Tapi, itu semua bukanlah akhir, melainkan permulaan dari rencana Tuhan yang indah pada waktunya.

Sebuah Pesan Berharga dari Christina Grimmie

christina-grimmie

Oleh Joanna Hor
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Christina Grimmie’s Death Matters

Akhir minggu lalu adalah akhir minggu yang suram bagi dunia musik.

Seperti banyak orang di seluruh dunia, aku masih terkejut karena mendengar berita pembunuhan Christina Grimmie, penyanyi Amerika berusia 22 tahun yang begitu terkenal di YouTube dan finalis The Voice USA (Musim ke-6). Pada Jumat malam, Grimmie ditembak tiga kali oleh seorang pria (yang diidentifikasikan oleh polisi sebagai Kevin James Loibl, 27 tahun, yang mungkin adalah seorang penggemarnya yang gila) saat sedang diadakan sesi tanda tangan setelah penampilannya dengan band pop rock, Before You Exit, di Orlando, Florida, AS. Dia kemudian meninggal karena luka-lukanya.

Meskipun aku tidak menganggap diriku sebagai penggemar beratnya, kabar tentang kematiannya mengagetkan dan menyedihkanku. Mungkin itu karena aku merasa pernah mengetahui tentang dia, pernah menonton dan mendengar video-video awalnya di YouTube, ketika dia menyanyi dengan segenap jiwanya sembari memainkan keyboard-nya dan kemudian, melihatnya bertumbuh dan bersinar di acara The Voice USA (Musim ke-6). Aku ingat bagaimana aku kagum dengan dirinya yang begitu muda (saat itu dia berusia 19 tahun) dan begitu bertalenta. Dan setelah selesai menonton acara tersebut, aku akan memutar berulang kali penampilannya menyanyikan lagu Jason Mraz “I Won’t Give Up on Us” dan Drake “Hold On, We’re Going Home” karena penampilannya begitu bagus.

Meskipun aku tidak mengikuti kabar-kabar terbarunya, Grimmie adalah salah satu dari penyanyi-penyanyi yang aku takkan pernah lupakan—bagiku, suaranya adalah salah satu suara terbaik yang pernah kudengar di The Voice USA (dan aku telah menonton 9 musim acara itu). Jadi seperti banyak orang lainnya, aku marah, bingung, dan hancur setelah mengetahui apa yang terjadi padanya, di usianya yang masih begitu belia.

Dan seperti banyak orang lainnya, aku menghabiskan dua hari terakhir menonton video-video lamanya di Youtube dan membaca berita-berita terbaru tentang penyerangan yang mengerikan itu, berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku. Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi padanya, terutama pada seseorang yang begitu muda? Apa yang menjadi motif pembunuhnya? Mengapa keamanan pertunjukan itu tidak diperketat?

Sayangnya, aku tidak menemukan jawaban yang aku cari. Aku malah menemukan hal-hal lainnya, seperti fakta bahwa dia “berteman dengan semua orang”, dia mengasihi Tuhan dan keluarganya, dan pada tahun 2013, dia mem-posting sebuah tweet (yang penggemar-penggemarnya banyak membagikannya lagi):

“Kadang Tuhan mengizinkan hal-hal buruk terjadi dalam hidupmu dan kamu tidak tahu mengapa. Tapi itu tidak seharusnya membuatmu berhenti mempercayai Dia.”

Wow.

Meskipun aku yakin dia tidak tahu bahwa apa yang telah dituliskannya tiga tahun yang lalu akan menjadi sesuatu yang sangat berarti hari ini, tweet itu begitu menghibur dan begitu perlu untuk didengarkan terutama di saat-saat seperti ini—karena itu benar sekali.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak pernah mengetahui alasan mengapa Tuhan mengizinkan hal-hal yang buruk dan tragis terjadi di dalam hidup kita atau di dalam hidup orang-orang lain. Tapi kita dapat mempercayai Dia, karena Dia telah melalui penderitaan yang begitu memilukan dengan kehilangan Anak-Nya yang Dia kasihi, Yesus Kristus, ketika Dia secara tidak adil disalibkan di atas kayu salib bagi kita. Kita dapat mempercayai Dia, karena meskipun hal-hal buruk terjadi dan kematian memisahkan kita, kita akan dikumpulkan kembali bersama-sama dengan Dia, karena kebangkitan Yesus dari antara orang mati (1 Tesalonika 4:14). Kita dapat mempercayai Dia, karena suatu hari nanti, Dia akan membuat segala sesuatu menjadi baik (Mazmur 135:14; Wahyu 21:4).

Terima kasih, Christina, karena telah mengingatkan kami. Meskipun kami akan begitu merindukanmu dan suaramu yang begitu merdu, kami begitu dihiburkan karena mengetahui bahwa kamu kini ada di tempat yang lebih baik. Dan ketika kami menggunakan beberapa hari ke depan untuk merayakan hidup yang telah kamu jalani dan berduka atas kematianmu, kiranya kami diingatkan lebih dari segalanya, untuk kembali kepada Tuhan dan senantiasa percaya kepada-Nya.

Photo credit: Disney | ABC Television Group via DesignHunt / CC BY-ND

Baca Juga:

Ibu, Terima Kasih untuk Teladanmu yang Luar Biasa

“Ibuku adalah salah satu wanita paling luar biasa yang pernah aku tahu. Setelah ayahku meninggal pada tahun 2011, ia tetap berjuang demi ketiga anaknya.” Baca kesaksian Charlotte selengkapnya di dalam artikel ini.

Apakah Kamu Orang Percaya?

Oleh: Chia Poh Fang
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Are You A Believer?

Are-you-a-believer

Apakah kamu orang percaya? Mungkin kamu akan terkejut mengetahui bahwa kita semua adalah orang percaya—terlepas dari apa pun agama yang kita anut.

Kita semua hidup oleh iman setiap hari—kita mengimani bahwa alarm jam kita akan membangunkan kita tepat waktu dan percaya bahwa kita masih akan hidup untuk menghadapi hari esok. Setiap kita memiliki serangkaian asumsi tertentu tentang bagaimana kehidupan ini seharusnya berjalan. Kita duduk di atas sebuah kursi dengan asumsi bahwa kursi itu sanggup menopang berat badan kita. Kita membuat rencana untuk hari esok karena kita percaya kita akan hidup untuk menjalankan rencana-rencana itu.

Kita adalah sekelompok makhluk yang beriman. Setiap kita menganut keyakinan, nilai, dan pengetahuan tertentu, dan kita memegang hal-hal tersebut sebagai kebenaran dalam hidup kita. Apa yang kita anggap sebagai kebenaran itu menentukan tindakan-tindakan kita dan membentuk proses berpikir kita, seringkali tanpa kita menyadarinya.

Seperti organ jantung, pandangan-dunia—cara kita menerima dan menanggapi sekeliling kita—diam-diam menjadi penggerak banyak hal yang terjadi dalam hidup kita. Jantung kita memompa darah dengan kecepatan 70 kali per menit. Dalam satu tahun, jantung kita akan memompa 3,5-7 juta liter darah melalui seluruh tubuh (tergantung aktivitas kita). Apa yang dikerjakan jantung kita dalam 12 jam setara dengan pekerjaan mengangkat sebuah mobil tangki 65.000 kg sejauh 30 cm dari atas permukaan tanah. Aktivitas yang tidak terlihat namun konsisten inilah yang menjaga kita tetap hidup.

Untuk dapat tetap prima dan untuk mencegah sakit mendadak, kita harus tetap menjaga kesehatan dengan memperkuat ritme jantung kita melalui olahraga yang teratur dan diet yang seimbang. Kita harus mengawasi kadar kolesterol kita untuk mencegah serangan jantung. Jika pandangan-dunia kita ibaratkan sebagai jantung, kita harus terus-menerus memeriksa asumsi-asumsi yang kita miliki. Apakah ada “lemak” dalam pola pikir kita? Bagaimana cara kita melatih penalaran kita? Nutrisi apa yang saat ini kita berikan untuk pemikiran kita?

Sangatlah menarik memperhatikan bahwa sebuah pengalaman yang sama dapat memunculkan penafsiran yang berbeda-beda dari orang yang berbeda. Yang satu bisa merasa begitu sial lalu mengumpat, yang lain melihat adanya berkat lalu bersyukur. Mengapa bisa muncul tanggapan yang jauh berbeda?

Mungkin, karena sebagian dari kita percaya bahwa seseorang merupakan produk dari pengalamannya. Kita percaya bahwa orang-orang yang terlibat di sepanjang masa pertumbuhan kita serta berbagai hal yang kita jumpai dalam hidup, punya peran yang sangat besar dalam menentukan cara kita berhubungan dengan dunia di sekitar kita. Jika pandangan ini benar, kita sama sekali tidak bisa mengendalikan hidup kita. Kita hanyalah korban dari zaman ini, dipermainkan oleh takdir, diombang-ambingkan oleh angin keberuntungan. Orang yang memiliki cara pandang semacam ini jarang mau mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka punya kecenderungan untuk menyalahkan orang lain dan situasi di sekitar mereka. Pertanyaanku adalah: Apakah orang yang demikian membangun hidup di atas sebuah asumsi yang masuk akal?

Sebagian orang lainnya percaya bahwa manusia memegang kunci masa depan mereka sendiri. Istilah para filsuf untuk orang-orang yang demikian adalah para “humanis”. Mereka tidak pasrah pada situasi yang ada, mereka berusaha menaklukkannya. Mereka sepertinya percaya bahwa manusia itu sempurna—benarkah manusia tidak pernah gagal?

Dua contoh tersebut mungkin terlalu sederhana untuk menjelaskan perilaku manusia yang sangat kompleks. Poin yang ingin aku tunjukkan adalah bagaimana kedua sistem kepercayaan dan pola perilaku yang dihasilkannya itu dibangun di atas dasar yang sama: asumsi-asumsi yang tidak diuji secara cermat. Parahnya lagi, kita bisa saja memegang dua asumsi yang bertolak belakang pada saat yang sama, dan tindakan yang kita ambil bisa berbeda-beda tergantung situasi yang kita hadapi. Hal ini membuat kita menjadi orang-orang yang tidak punya prinsip, yang menjalani hidup hanya berdasarkan naluri untuk melindungi dan mencari kenyamanan diri. Kita mengiyakan kepercayaan apapun yang paling cocok dengan minat kita pada satu waktu tertentu.

Mungkin ini waktunya bagi kita untuk memperhatikan nasihat Jonathan Edwards, salah satu filsuf dan ahli teologi di Amerika yang banyak dikenal karena pemikiran-pemikirannya yang penting dan orisinal: “Sangatlah penting untuk selalu menyelidiki hatimu; agar di dalamnya citra Tuhan dapat tertanam; hal-hal yang disukai-Nya dapat terus berkembang; dunia dan kedagingan dapat ditaklukkan; cinta akan dosa dapat disingkirkan, dan cinta akan kekudusan dapat bertumbuh.

Mari memeriksa apa yang kita percayai dan mengapa kita mempercayainya, karena keyakinan kita membentuk kelakuan kita. Salah satu cara terbaik untuk memeriksa keyakinan kita adalah dengan memperhatikan tindakan-tindakan kita lalu bertanya: Mengapa aku melakukan hal ini? Mengapa aku mengucapkan hal itu? Lebih penting lagi, kita perlu menanyakan: Apakah sikapku mencerminkan citra Allah dan hal-hal yang disukai-Nya? Apakah aku sedang bertumbuh dalam kekudusan atau keduniawian?

Misteri yang Tersembunyi

Jumat, 26 Juni 2015

Misteri yang Tersembunyi

Baca: 2 Raja-Raja 6:15-23

6:15 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”

6:16 Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”

6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

6:18 Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada TUHAN: “Butakanlah kiranya mata orang-orang ini.” Maka dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa.

6:19 Kemudian berkatalah Elisa kepada mereka: “Bukan ini jalannya dan bukan ini kotanya. Ikutlah aku, maka aku akan mengantarkan kamu kepada orang yang kamu cari.” Lalu diantarkannya mereka ke Samaria.

6:20 Segera sesudah mereka sampai ke Samaria berkatalah Elisa: “Ya TUHAN, bukalah mata orang-orang ini, supaya mereka melihat.” Lalu TUHAN membuka mata mereka, sehingga mereka melihat, dan heran, mereka ada di tengah-tengah Samaria.

6:21 Lalu bertanyalah raja Israel kepada Elisa, tatkala melihat mereka: “Kubunuhkah mereka, bapak?”

6:22 Tetapi jawabnya: “Jangan! Biasakah kaubunuh yang kautawan dengan pedangmu dan dengan panahmu? Tetapi hidangkanlah makanan dan minuman di depan mereka, supaya mereka makan dan minum, lalu pulang kepada tuan mereka.”

6:23 Disediakannyalah bagi mereka jamuan yang besar, maka makan dan minumlah mereka. Sesudah itu dibiarkannyalah mereka pulang kepada tuan mereka. Sejak itu tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel.

Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka. —2 Raja-Raja 6:16

Misteri yang Tersembunyi

Sebagian besar yang terjadi di alam semesta ini tidak pernah dapat kita lihat. Banyak yang ukurannya terlalu kecil, bergerak terlalu cepat, atau bahkan terlalu lambat untuk dapat kita lihat. Namun dengan bantuan teknologi modern, seorang pembuat film bernama Louis Schwartzberg bisa menangkap gambar-gambar bergerak yang menakjubkan dari benda dan gerakan seperti mulut seekor ulat bulu, mata seekor lalat, dan proses bertumbuhnya sebuah jamur.

Keterbatasan kita untuk melihat bagianyang sangat kecil, rumit, dan menakjubkan dari benda-benda di alam yang kasatmata ini mengingatkan bahwa kemampuan kita untuk dapat melihat dan memahami apa yang sedang terjadi di alam rohani juga sama terbatasnya. Di sekitar kita, Allah terus mengerjakan hal-hal yang jauh lebih indah daripada yang dapat kita bayangkan. Namun demikian, pandangan rohani kita terbatas dan kita tidak dapat melihatnya. Akan tetapi, Nabi Elisa dapat melihat karya supernatural yang sedang Allah kerjakan. Allah juga membuka mata bujang Elisa yang ketakutan agar ia juga dapat melihat balatentara surga yang diutus-Nya untuk berperang bagi mereka (2Raj. 6:17).

Rasa takut membuat kita merasa lemah dan tak berdaya. Kita juga dibuat berpikir bahwa kita hanya seorang diri di dunia ini. Namun Allah telah meyakinkan kita bahwa Roh-Nya, yang ada di dalam kita, lebih besar daripada kuasa mana pun yang ada di dunia ini (1Yoh. 4:4).

Ketika kita merasa kecil hati karena melihat segala kejahatan yang terjadi, kita justru perlu memikirkan segala pekerjaan baik, yang tidak kasatmata, yang sedang dikerjakan Allah. —Julie Ackerman Link

Ya Tuhan, aku cenderung merasa takut terhadap sesuatu yang tak bisa kumengerti atau kukendalikan. Namun jaminanku ada di dalam Engkau dan bukan pada segala yang terjadi padaku atau di sekitarku. Tolonglah aku untuk tinggal tenang di dalam kasih-Mu yang tiada berkesudahan.

Dengan mata iman, kita melihat Allah berkarya dalam segala sesuatu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 5–7; Kisah Para Rasul 8:1-25