Posts

Negeri yang Terbentang Jauh

Kamis, 10 Mei 2018

Negeri yang Terbentang Jauh

Baca: Yesaya 33:17-22

33:17 Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, akan melihat negeri yang terbentang jauh.

33:18 Dalam hatimu engkau akan memikirkan kengerian yang sudah-sudah: “Sudah lenyapkah juru hitung, sudah lenyapkah juru timbang, dan sudah lenyapkah orang yang menghitung menara-menara?”

33:19 Tidak lagi akan kaulihat bangsa yang biadab itu, bangsa yang logatnya samar, sehingga tidak dapat dipahami, yang bahasanya gagap, sehingga tiada yang mengerti.

33:20 Pandanglah Sion, kota pertemuan raya kita! Matamu akan melihat Yerusalem, tempat kediaman yang aman, kemah yang tidak berpindah-pindah, yang patoknya tidak dicabut untuk seterusnya, dan semua talinya tidak akan putus.

33:21 Di situ kita akan melihat betapa mulia TUHAN kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar; perahu dayung tidak melaluinya, dan kapal besar tidak menyeberanginya.

33:22 Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita.

Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, akan melihat negeri yang terbentang jauh. —Yesaya 33:17

Negeri yang Terbentang Jauh

Amy Carmichael (1867-1951) dikenal karena usahanya dalam menyelamatkan gadis-gadis yatim piatu di India dan memberi mereka kehidupan yang baru. Di tengah-tengah pelayanan yang menguras tenaga itu, ia mengalami apa yang disebutnya sebagai “momen-momen penglihatan”. Dalam bukunya Gold by Moonlight, ia menulis, “Di tengah suatu hari yang sibuk, kami diberi secercah gambaran tentang suatu ‘negeri yang terbentang jauh’, dan kami hanya bisa berdiri, terpaku di tengah jalan.”

Nabi Yesaya berbicara tentang suatu masa ketika umat Allah yang pernah memberontak akhirnya berbalik kepada-Nya. “Engkau akan memandang raja dalam semaraknya, akan melihat negeri yang terbentang jauh” (Yes. 33:17). Memandang “negeri yang terbentang jauh” tersebut berarti mengalihkan pandangan kita dari segala situasi yang terjadi saat ini hingga kita mendapatkan sudut pandang kekekalan. Di tengah masa-masa sulit, Tuhan memampukan kita untuk melihat hidup kita dari sudut pandang-Nya dan memperoleh pengharapan di dalam Dia. “Sebab Tuhan ialah Hakim kita, Tuhan ialah yang memberi hukum bagi kita; Tuhan ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita” (ay.22).

Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: melihat keadaan kita yang mengecewakan atau mengarahkan pandangan kita kepada “negeri yang terbentang jauh” dan melihat “betapa mulia Tuhan kita” (ay.21).

Amy Carmichael menghabiskan waktu lebih dari 50 tahun di India untuk menolong para gadis yang sangat membutuhkan bantuan. Bagaimana ia melakukannya? Setiap hari ia mengarahkan pandangannya kepada Yesus dan menyerahkan hidupnya ke dalam tangan pemeliharaan-Nya. Kita pun dapat melakukan hal yang sama. —David C. McCasland

Tuhan, hari ini kami mengalihkan pandangan dari situasi-situasi yang mengecewakan kami dan melihat-Mu sebagai Raja, sehingga kami beroleh damai sejahtera.

Arahkan pandanganmu senantiasa kepada Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 10-12; Yohanes 1:29-51

Iman Seorang Janda

Kamis, 26 April 2018

Iman Seorang Janda

Baca: 2 Raja-Raja 4:1-7

4:1 Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

4:3 Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.

4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapa-Mu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. —Matius 6:32

Iman Seorang Janda

Hari masih sangat gelap saat Ah-pi memulai aktivitasnya. Penduduk desa lainnya juga akan segera bangun untuk pergi ke perkebunan karet. Menyadap lateks (getah pohon karet) adalah salah satu sumber penghasilan utama bagi penduduk desa Hongzhuang, China. Untuk mengumpulkan lateks sebanyak mungkin, pohon karet harus disadap sebelum fajar merekah. Ah-pi akan bergabung dengan penyadap karet lainnya, tetapi ia mengambil waktu bersekutu dengan Allah terlebih dahulu.

Bersama menantu perempuannya, Ah-pi menafkahi ibunya yang sudah tua dan dua cucunya. Ayah, suami, dan putra tunggalnya telah meninggal dunia. Ah-pi mengingatkan saya kepada kisah dalam Alkitab tentang seorang janda yang mempercayai Allah.

Suami dari janda itu telah meninggal dan mewariskan utang (2Raj. 4:1). Dalam kesulitannya, ia mencari pertolongan Allah dengan mengadu kepada hamba-Nya, Nabi Elisa. Janda itu percaya bahwa Allah memperhatikannya dan Dia sanggup melakukan sesuatu untuk menolongnya. Dan Allah pun bertindak. Dia memenuhi kebutuhan janda itu secara ajaib (ay.5-6). Allah yang sama juga memenuhi kebutuhan Ah-pi—meski tidak dengan mukjizat, melainkan lewat setiap jerih lelahnya, hasil dari pohon karet, dan bantuan dari saudara seimannya.

Meskipun terkadang hidup membebani kita dengan beragam tuntutan, kita dapat selalu meminta kekuatan dari Allah. Kita dapat berserah sepenuhnya kepada Allah, melakukan yang terbaik, dan memperkenankan Allah bertindak dengan cara-Nya sendiri di dalam situasi yang sedang kita hadapi. —Poh Fang Chia

Bapa, terima kasih atas kesabaran-Mu bahkan di saat aku lebih mengandalkan diriku sendiri dan baru datang kepada-Mu sebagai pilihan terakhir. Ajarku untuk mencari pertolongan-Mu sebelum aku melakukan apa pun.

Situasi yang kita hadapi mungkin berada di luar kemampuan kita, tetapi sesungguhnya tidak pernah melampaui kesanggupan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 23-24; Lukas 19:1-27

Jangan Tergesa-gesa

Kamis, 19 April 2018

Jangan Tergesa-gesa

Baca: Yesaya 26:1-4

26:1 Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: “Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng.

26:2 Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia!

26:3 Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.

26:4 Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.

Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. —Yesaya 26:3

Jangan Tergesa-gesa

“Buanglah jauh ketergesa-gesaan.” Ketika dua teman saya mengulangi pepatah yang bijak dari Dallas Willard tersebut, saya tahu bahwa saya harus sungguh-sungguh memikirkannya. Apakah saya sedang berputar-putar tanpa arah sambil membuang-buang waktu dan energi? Yang lebih penting dari itu, apakah saya sedang tergesa-gesa dan tidak lagi mencari pimpinan dan pertolongan Allah? Berminggu-minggu setelah itu, bahkan berbulan-bulan kemudian, saya masih teringat pada pepatah itu dan mengarahkan kembali diri saya kepada Tuhan dan hikmat-Nya. Saya mengingatkan diri saya untuk lebih mempercayai-Nya daripada bersandar kepada pengertian saya sendiri.

Lagipula, tergesa-gesa dalam kepanikan sepertinya berlawanan dengan “damai sejahtera” yang sempurna, sebagaimana disebutkan oleh Nabi Yesaya. Tuhan mengaruniakan damai itu kepada mereka “yang hatinya teguh” karena mereka percaya kepada-Nya (ay.3). Dan Tuhan memang layak untuk dipercaya—hari ini, besok, dan sampai selamanya—karena “Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal” (ay.4). Mempercayai Allah dengan pikiran yang terpusat kepada-Nya merupakan obat yang manjur bagi hidup yang tergesa-gesa.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga merasa tergesa-gesa hingga pontang-panting dalam menjalani hidup ini? Atau sebaliknya, kita sering mengalami damai sejahtera. Atau mungkin kita sedang berada di antara kedua pengalaman tersebut.

Apa pun keadaan kita, hari ini saya berdoa agar kita dapat membuang jauh ketergesa-gesaan dengan mempercayai Tuhan, yang tidak akan pernah mengecewakan kita dan yang mengaruniakan damai sejahtera-Nya kepada kita. —Amy Boucher Pye

Tuhan Allah, Engkau memberikan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Ajar aku untuk tidak menyia-nyiakan pemberian-Mu itu. Terima kasih.

Damai sejahtera Allah menolong kita untuk tidak tergesa-gesa.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 6-8; Lukas 15:1-10

Menghadapi Badai

Sabtu, 14 April 2018

Menghadapi Badai

Baca: Markus 4:35-41

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. —Markus 4:39

Menghadapi Badai

Angin menderu, petir menyambar, gelombang ombak menerjang. Saya mengira saya akan mati. Hari itu, saya sedang memancing di danau bersama kakek dan nenek, tetapi kami terlalu lama di luar. Saat matahari terbenam, gelombang air yang bergulung cepat menghantam perahu kami yang kecil. Kakek memerintahkan saya duduk di depan untuk menjaga agar perahu kami tidak terbalik. Rasa ngeri memenuhi hati saya. Namun kemudian, entah bagaimana, saya mulai berdoa. Waktu itu saya baru berumur empat belas tahun.

Dalam doa itu, saya meminta Allah untuk memberikan kepastian dan perlindungan kepada kami. Badai memang tidak mereda, tetapi kami berhasil sampai ke pantai. Hingga hari ini, rasanya belum pernah lagi saya mengalami kepastian akan kehadiran Allah yang begitu kuat seperti pada malam itu.

Yesus tidak asing dengan badai. Dalam Markus 4:35-41, Dia menyuruh murid-murid-Nya untuk menyeberangi danau yang tidak lama kemudian diterjang angin dan ombak besar. Badai pada malam itu menguji iman dan kelihaian para nelayan berpengalaman tersebut. Mereka mengira akan mati. Namun, Yesus menenangkan danau itu dan mendesak murid-murid-Nya untuk lebih beriman.

Demikian juga, Yesus mengundang kita untuk mempercayai-Nya di tengah badai yang kita alami. Adakalanya Dia secara ajaib meneduhkan angin dan ombak yang menerjang. Adakalanya Dia memilih untuk melakukan sesuatu yang sama ajaibnya: Dia menguatkan hati kita dan menolong kita untuk mempercayai-Nya. Yesus meminta kita untuk teguh berpegang pada keyakinan bahwa Dia memiliki kuasa untuk menghardik angin dan ombak, “Diam! Tenanglah!” —Adam Holz

Tuhan, adakalanya badai kehidupan yang kami alami seolah akan menerkam kami. Tolong kami untuk percaya bahwa Engkau berkuasa atas alam dan badai, sehingga kami tetap beriman kepada-Mu saat badai kehidupan menerjang dengan dahsyatnya.

Allah mendampingi kita di hadapan bahaya yang mengancam kita.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25-26; Lukas 12:32-59

Berapa Lama Lagi?

Rabu, 11 April 2018

Berapa Lama Lagi?

Baca: Mazmur 13

13:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.

13:2 Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

13:3 Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

13:4 Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

13:5 supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

13:6a Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.

13:6b Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? —Mazmur 13:2

Berapa Lama Lagi?

Dalam karya klasik Lewis Carroll yang berjudul Alice in Wonderland, Alice bertanya, “Berapa lamakah selamanya itu?” Si Kelinci Putih menyahut, “Adakalanya, hanya sedetik.”

Demikianlah rasanya waktu berjalan ketika saudara laki-laki saya, David, tiba-tiba meninggal. Hari-hari menjelang pemakamannya terasa begitu lambat, sehingga kehilangan dan kepedihan yang kami alami pun terasa berlipat ganda. Setiap detik terasa seperti selamanya.

Raja Daud juga mengungkapkan perasaan yang sama, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” (Mzm. 13:2-3). Hanya dalam dua ayat, ia empat kali bertanya kepada Allah, “Berapa lama lagi?” Adakalanya penderitaan hidup seakan-akan tidak akan pernah berakhir.

Di dalam kepedihan seperti itu, Bapa Surgawi memberikan penyertaan dan perhatian-Nya. Seperti Raja Daud, kita dapat datang dengan terbuka kepada-Nya untuk mengungkapkan kepedihan dan rasa kehilangan yang kita alami, karena kita menyadari bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Pemazmur juga menemukan kebenaran itu sehingga ia mengubah ratapannya yang pilu menjadi deklarasi kemenangan, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mzm. 13:6a).

Dalam momen-momen pergumulan kita yang seakan tiada akhir, kasih setia-Nya akan selalu menopang kita. Kita dapat bersukacita di dalam keselamatan-Nya. —Bill Crowder

Di dalam penderitaan dan kehilangan, Allah yang kekal menjadi sumber penghiburan kita yang sejati.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 17-18; Lukas 11:1-28

Manis dan Pahit

Selasa, 3 April 2018

Manis dan Pahit

Baca: Mazmur 119:65-72

119:65 Kebajikan telah Kaulakukan kepada hamba-Mu, ya TUHAN, sesuai dengan firman-Mu.

119:66 Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.

119:67 Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.

119:68 Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

119:69 Orang yang kurang ajar menodai aku dengan dusta, tetapi aku, dengan segenap hati aku akan memegang titah-titah-Mu.

119:70 Hati mereka tebal seperti lemak, tetapi aku, Taurat-Mu ialah kesukaanku.

119:71 Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.

119:72 Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.

Engkau baik dan berbuat baik. —Mazmur 119:68

Manis dan Pahit

Sejumlah orang menyukai cokelat pahit dan yang lain lebih menyukai cokelat manis. Bangsa Maya kuno di Amerika Tengah menikmati cokelat sebagai minuman dan menambahi rasanya dengan cabai. Mereka menyebut minuman itu sebagai “air pahit”. Bertahun-tahun kemudian cokelat dibawa ke Spanyol, tetapi orang Spanyol lebih menyukai cokelat manis. Oleh karena itu, mereka menambahkan gula dan madu untuk menyeimbangkan rasa pahit alami dari cokelat.

Seperti cokelat, hari-hari yang kita jalani dapat terasa manis atau pahit. Pada abad ke-17, biarawan asal Prancis yang bernama Brother Lawrence menulis, “Jika kita tahu betapa [Allah] sangat mengasihi kita, kita akan selalu siap menerima dengan sikap yang sama . . . pemberian-Nya, baik yang manis maupun yang pahit.” Selalu siap menerima baik yang manis maupun yang pahit dengan sikap yang sama? Itu tidak mudah! Apa yang dimaksud oleh Brother Lawrence? Kuncinya terletak pada karakter Allah. Sang pemazmur berkata kepada Allah, “Engkau baik dan berbuat baik” (Mzm. 119:68)

Bangsa Maya kuno juga menghargai cokelat pahit karena khasiatnya sebagai obat yang memberikan kesembuhan. Hari-hari pahit yang kita alami pun berharga. Hari-hari seperti itu membuat kita menyadari kelemahan-kelemahan kita dan menolong kita untuk makin bergantung kepada Allah. Pemazmur menulis, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (ay.71). Marilah kita menerima hidup ini dengan beragam rasa yang ditawarkannya—dan dengan meyakini kebaikan Allah. Marilah kita mengatakan, “Engkau telah memenuhi janji-Mu, ya Tuhan, dan berbuat baik kepada hamba-Mu” (ay.65 bis). —Keila Ochoa

Bapa, tolong aku untuk melihat kebaikan-Mu bahkan di masa-masa yang sulit.

Allah itu baik.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 19-21; Lukas 7:31-50

Janji Ganda

Jumat, 23 Maret 2018

Janji Ganda

Baca: Yesaya 25:1-9

25:1 Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.

25:2 Sebab Engkau telah membuat kota itu menjadi timbunan batu, dan kota yang berkubu itu menjadi reruntuhan; puri orang luar tidak lagi menjadi kota, dan tidak dibangunkan lagi untuk selama-lamanya.

25:3 Oleh karena itu suatu bangsa yang kuat akan memuliakan Engkau; kota bangsa-bangsa yang gagah akan takut kepada-Mu.

25:4 Sebab Engkau menjadi tempat pengungsian bagi orang lemah, tempat pengungsian bagi orang miskin dalam kesesakannya, perlindungan terhadap angin ribut, naungan terhadap panas terik, sebab amarah orang-orang yang gagah sombong itu seperti angin ribut di musim dingin,

25:5 seperti panas terik di tempat kering. Kegaduhan orang-orang luar Kaudiamkan; seperti panas terik ditiadakan oleh naungan awan, demikianlah nyanyian orang-orang yang gagah sombong ditiadakan.

25:6 TUHAN semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya.

25:7 Dan di atas gunung ini TUHAN akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa.

25:8 Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.

25:9 Pada waktu itu orang akan berkata: “Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!”

Sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu. —Yesaya 25:1

Janji Ganda

Sejak menderita kanker beberapa tahun yang lalu, Ruth mengalami kesulitan untuk makan, minum, bahkan untuk menelan. Kekuatan fisiknya juga banyak berkurang dan banyaknya operasi serta perawatan telah membuat kondisinya jauh lebih merosot dibandingkan sebelumnya.

Namun, Ruth masih dapat memuji Allah; imannya tetap teguh dan sukacitanya menular kepada orang-orang di sekitarnya. Ia mengandalkan Allah setiap hari dan masih sangat berharap akan dipulihkan sepenuhnya suatu saat nanti. Ia berdoa memohon kesembuhan dan percaya bahwa Allah akan menjawab—cepat atau lambat. Betapa luar biasa imannya!

Ruth menjelaskan, alasan yang membuat imannya tetap teguh adalah keyakinannya yang pasti bahwa Allah tidak hanya akan memenuhi janji-Nya pada waktu-Nya, tetapi juga akan menopang dirinya sampai janji itu digenapi. Itu juga menjadi pengharapan umat Allah ketika mereka menantikan Allah melaksanakan rancangan-Nya (Yes. 25:1), melepaskan dari para musuh mereka (ay.2), menghapus air mata mereka, menjauhkan aib mereka, dan “membinasakan maut untuk selama-lamanya” (ay.8 BIS).

Sementara itu, Allah menjadi tempat pengungsian dan perlindungan bagi umat-Nya (ay.4) selagi mereka menantikan-Nya. Allah menghibur mereka yang tengah mengalami pencobaan, memberi mereka kekuatan untuk bertahan, dan memberikan kepastian bahwa Dia selalu menyertai mereka.

Inilah janji ganda yang kita miliki—pengharapan akan kelepasan suatu saat nanti dan tersedianya penghiburan, kekuatan, dan perlindungan dari-Nya di sepanjang hidup kita. —Leslie Koh

Tuhan, terima kasih untuk anugerah pengharapan-Mu yang indah. Engkau telah berjanji untuk menyelamatkanku dan mengiringiku setiap hari sepanjang hidupku.

Mempercayai kesetiaan Allah dapat mengenyahkan ketakutan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 13-15; Lukas 1:57-80

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Steven Mink

Berjalan di atas Air

Rabu, 21 Maret 2018

Berjalan di atas Air

Baca: Matius 14:25-33

14:25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

14:26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

14:27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”

14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

14:32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

14:33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” —Matius 14:27

Berjalan di atas Air

Pada suatu hari di musim dingin, saya bertualang ke danau Michigan, danau terbesar kelima di dunia, untuk melihat permukaannya yang beku. Selama ini, saya lebih sering berlibur di tepi pantai sambil berjemur di bawah sinar matahari. Saya tidak menyesal karena dapat menyaksikan pemandangan yang sungguh luar biasa. Danau itu membeku saat airnya mengombak dan hasilnya adalah suatu mahakarya seni dari es.

Karena airnya membeku dan menjadi padat sampai ke tepi pantai, saya pun mendapat kesempatan untuk “berjalan di atas air”. Meskipun tahu bahwa lapisan esnya cukup tebal dan kuat untuk saya pijak, saya sangat berhati-hati saat melangkahkan kaki untuk pertama kali. Saya takut lapisan es itu tidak dapat menahan berat tubuh saya. Saat dengan hati-hati menyusuri lapisan yang tidak biasa tersebut, saya teringat saat-saat Yesus memanggil Petrus agar keluar dari perahu di Danau Galilea.

Ketika murid-murid melihat Yesus berjalan di atas air, mereka pun menjadi takut. Namun, Yesus menanggapi dengan berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27). Petrus dapat mengatasi rasa takutnya dan melangkah keluar dari perahu karena ia tahu ada Yesus. Ketika langkah-langkahnya yang berani itu kemudian melemah saat diterpa angin dan ombak, Petrus pun berseru kepada Yesus. Yesus masih ada di sana, bahkan cukup dekat untuk mengulurkan tangan-Nya dan menyelamatkan Petrus.

Jika hari ini kamu dipanggil Tuhan Yesus untuk melakukan sesuatu yang tampaknya mustahil, seperti berjalan di atas air, teguhkanlah hatimu. Pribadi yang memanggilmu akan selalu ada di sana untuk menyertai kamu. —Lisa Samra

Tuhan, terima kasih atas kepastian bahwa Engkau selalu menyertai kami.

Saat kita berseru kepada Allah, Dia mendengar.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 7-9; Lukas 1:21-38

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Catherine Tedjasaputera

Musim yang Baik

Selasa, 20 Maret 2018

Musim yang Baik

Baca: Pengkhotbah 3:1-11

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;

3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. —Pengkhotbah 3:1

Musim yang Baik

Hari ini adalah hari pertama musim semi di belahan bumi bagian utara. Jika kamu tinggal di Australia, hari ini adalah hari pertama musim gugur. Itulah yang disebut sebagai ekuinoks vernal (titik musim semi matahari) di belahan bumi bagian utara dan ekuinoks musim gugur di belahan bumi bagian selatan. Hari ini, matahari bersinar langsung ke arah khatulistiwa, dan rentang jam pada siang hari dan malam hari hampir sama di seluruh dunia.

Pergantian musim mempunyai arti penting bagi banyak orang. Ada sebagian orang yang menghitung hari demi hari sampai berlangsungnya pergantian musim karena mereka menanti-nantikan apa yang akan terjadi di musim yang baru. Kamu yang tinggal di Wisconsin, Amerika Serikat, mungkin telah menandai hari ini untuk menyambut berakhirnya musim dingin. Kamu yang tinggal di Melbourne, Australia, mungkin sudah tidak sabar menantikan datangnya musim gugur agar kamu terbebas dari teriknya sinar matahari.

Kita juga melewati musim-musim kehidupan yang tidak terkait dengan cuaca. Penulis kitab Pengkhotbah mengatakan bahwa untuk apa pun di bawah langit ini ada masa dan musimnya, yakni waktu yang ditentukan Allah untuk kita jalani dalam hidup kita (3:1-11).

Musa berbicara tentang masa yang baru dalam hidupnya setelah ia memimpin bangsa Israel melewati padang gurun (Ul. 31:2), dan ia harus menyerahkan kepemimpinannya kepada Yosua. Paulus merasa kesepian pada saat menjalani tahanan rumah di Roma dan rindu dikunjungi oleh para sahabatnya, tetapi akhirnya menyadari bahwa Allah telah mendampinginya (2Tim. 4:17).

Apa pun musim kehidupan yang kamu jalani, bersyukurlah kepada Allah atas kebesaran, pertolongan, dan penyertaan-Nya. —Dave Branon

Bapa, terima kasih atas janji pemeliharaan-Mu dalam musim kehidupan yang saat ini kujalani. Engkau telah mengizinkannya dengan maksud yang baik. Tolong aku memakai masa yang Engkau kehendaki ini agar aku makin beriman kepada-Mu.

Kita mempunyai alasan untuk bersukacita dalam setiap musim kehidupan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 4-6; Lukas 1:1-20

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Julio Mesak