Posts

Pertolongan dari Surga

Minggu, 12 Agustus 2018

Pertolongan dari Surga

Baca: Yosua 10:6-15

10:6 Lalu orang-orang Gibeon itu menyuruh orang kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal, mengatakan: “Jangan menarik tanganmu dari pada hamba-hambamu ini. Datanglah dengan segera kepada kami, lepaskanlah kami dan bantulah kami, sebab semua raja orang Amori, yang diam di pegunungan, telah bergabung melawan kami.”

10:7 Lalu Yosua bergerak maju dari Gilgal, dia dan seluruh tentara yang bersama-sama dengan dia, semuanya pahlawan yang gagah perkasa.

10:8 Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka kepadamu. Tidak seorangpun dari mereka yang akan dapat bertahan menghadapi engkau.”

10:9 Lalu Yosua menyerang mereka dengan tiba-tiba, setelah semalam-malaman bergerak maju dari Gilgal.

10:10 Dan TUHAN mengacaukan mereka di depan orang Israel, sehingga Yosua menimbulkan kekalahan yang besar di antara mereka dekat Gibeon, mengejar mereka ke arah pendakian Bet-Horon dan memukul mereka mundur sampai dekat Azeka dan Makeda.

10:11 Sedang mereka melarikan diri di depan orang Israel dan baru di lereng Bet-Horon, maka TUHAN melempari mereka dengan batu-batu besar dari langit, sampai ke Azeka, sehingga mereka mati. Yang mati kena hujan batu itu ada lebih banyak dari yang dibunuh oleh orang Israel dengan pedang.

10:12 Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!”

10:13 Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.

10:14 Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

10:15 Kemudian Yosua dan seluruh orang Israel yang menyertainya pulang kembali ke tempat perkemahan di Gilgal.

Sebab yang berperang untuk orang Israel ialah Tuhan. —Yosua 10:14

Pertolongan dari Surga

SOS adalah sinyal kode Morse yang diciptakan pada tahun 1905 karena para pelaut membutuhkan cara untuk mengindikasikan adanya kesulitan yang ekstrem. Kode itu menjadi tenar pada tahun 1910 saat dipakai oleh sebuah kapal yang sedang tenggelam, Steamship Kentucky, sehingga seluruh penumpang kapal yang berjumlah 46 orang itu berhasil diselamatkan.

Meskipun pesan SOS merupakan penemuan di zaman modern, seruan untuk minta tolong sudah ada sejak permulaan zaman. Kita sering mendengarnya dalam kisah Perjanjian Lama tentang Yosua yang menghadapi pertentangan dari orang sebangsanya (Yos. 9:18) dan medan yang sulit (3:15-17) selama lebih dari 14 tahun. Pada saat itu, orang Israel perlahan-lahan menaklukkan dan menduduki tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka. Sepanjang perjuangan itu, “Tuhan menyertai Yosua” (6:27).

Dalam Yosua 10, orang Israel turun tangan membantu orang Gibeon, sekutu Israel yang sedang diserang oleh lima raja. Yosua tahu bahwa ia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk mengalahkan banyaknya musuh yang kuat (ay.12). Allah merespons dengan mengirimkan hujan batu, bahkan menghentikan matahari di tengah langit guna memberi Israel lebih banyak waktu untuk mengalahkan musuh. Yosua 10:14 mencatat, “Sebab yang berperang untuk orang Israel ialah Tuhan!”

Jika kamu sedang berada dalam situasi yang sulit, kamu dapat mengirimkan pesan SOS kepada Allah. Pertolongan yang kita terima akan berbeda dari bantuan yang diterima Yosua, tetapi bisa saja pertolongan itu berupa pekerjaan tak terduga, dokter yang penuh pengertian, atau damai sejahtera di tengah duka. Kiranya kamu dikuatkan saat melihat cara-cara Allah dalam merespons seruanmu yang meminta agar Dia menolong dan berperang bagimu. —Lisa Samra

Bapa, terima kasih karena Engkau telah menyertaiku dalam perjalanan yang sulit ini dan mendengarkanku saat aku berseru kepada-Mu.

Saat berseru kepada Allah untuk meminta pertolongan-Nya, yakinlah bahwa Dia akan menyertai kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 84-86; Roma 12

Artikel Terkait:

Dipulihkan Karena Doa

Ratapan Penuh Pengharapan

Jumat, 10 Agustus 2018

Ratapan Penuh Pengharapan

Baca: Ratapan 3:49-58

3:49 Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya,

3:50 sampai TUHAN memandang dari atas dan melihat dari sorga.

3:51 Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku.

3:52 Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab.

3:53 Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu.

3:54 Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: “Binasa aku!”

3:55 “Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam.

3:56 Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku!

3:57 Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!”

3:58 “Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.

Ya Tuhan, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. —Ratapan 3:55

Ratapan Penuh Pengharapan

Mengunjungi Taman Nasional Clifton Heritage di Nassau, Bahama, membawa seseorang teringat pada suatu masa yang tragis dalam sejarah. Di sana, di tepi pantai, terdapat tangga-tangga batu yang mengarah ke tebing. Dahulu, pada abad ke-18, para budak meninggalkan keluarga mereka dan dibawa ke Bahama dengan kapal. Mendaki tangga-tangga batu itu menjadi permulaan dari hidup yang berat dan perlakuan tidak manusiawi yang akan mereka terima di sepanjang hidup mereka. Kini di puncak tebing terdapat semacam tugu-tugu peringatan untuk mengenang para budak itu. Pohon-pohon aras telah diukir menjadi figur-figur perempuan yang menatap laut ke arah tanah airnya dan anggota keluarga yang telah mereka tinggalkan. Setiap patung itu diparut hingga meninggalkan bekas seperti luka cambuk dari kapten penjaga budak.

Patung-patung perempuan yang meratapi penderitaan mereka itu mengingatkan saya tentang pentingnya kita menyadari dan meratapi ketidakadilan serta kerusakan yang terjadi di dunia. Meratap bukan karena kita kehilangan pengharapan, melainkan karena kita jujur di hadapan Allah. Meratap haruslah menjadi sikap yang lazim bagi orang Kristen; sekitar empat puluh persen isi kitab Mazmur merupakan mazmur ratapan, dan dalam kitab Ratapan, umat Allah berseru kepada-Nya setelah kota mereka dihancurkan oleh pasukan musuh (3:55).

Ratapan merupakan respons yang wajar terhadap realitas penderitaan, di mana kita melibatkan Allah di tengah kesakitan dan pergumulan kita. Pada akhirnya, ratapan itu dipenuhi pengharapan: ketika kita meratapi sesuatu yang tidak benar, kita mengajak diri kita sendiri dan orang lain untuk aktif mengupayakan perubahan.

Itulah mengapa taman penuh patung di Nassau itu dinamai “Genesis” (Kejadian atau Permulaan)—tempat ratapan yang kini dikenal sebagai tempat permulaan yang baru. —Amy Peterson

Kita dapat mempercayai Allah untuk memunculkan sesuatu yang baru dari masa-masa ratapan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 79-80; Roma 11:1-18

Saat Hal Buruk Terjadi

Selasa, 7 Agustus 2018

Saat Hal Buruk Terjadi

Baca: 1 Raja-Raja 17:15-24

17:15 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.

17:16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

17:17 Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.

17:18 Kata perempuan itu kepada Elia: “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?”

17:19 Kata Elia kepadanya: “Berikanlah anakmu itu kepadaku.” Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.

17:20 Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?”

17:21 Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.”

17:22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.

17:23 Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: “Ini anakmu, ia sudah hidup!”

17:24 Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. —Ibrani 4:16

Saat Hal Buruk Terjadi

Ketika krisis keuangan melanda Asia pada tahun 1997, jumlah orang yang mencari pekerjaan jauh lebih banyak daripada lowongan kerja yang tersedia. Saya termasuk salah satu pencari kerja saat itu. Setelah menunggu dengan penuh kecemasan selama 9 bulan, akhirnya saya diterima bekerja sebagai penulis naskah. Namun, perusahaan itu mengalami masa-masa sulit dan saya pun menganggur lagi.

Apakah kamu pernah mengalaminya? Baru saja satu hal buruk terlewati, tiba-tiba terjadi hal buruk yang lain. Itulah yang dialami seorang janda di Sarfat (1Raj. 17:12). Karena dalam masa paceklik, janda itu menyiapkan makanan terakhir untuk dirinya dan anaknya. Tiba-tiba Nabi Elia datang dan meminta sedikit makanan. Dengan sedikit enggan, janda itu mau berbagi dan Allah kemudian menyediakan terus tepung dan minyak baginya (ay.10-16).

Namun kemudian, anak janda itu sakit keras. Kesehatannya merosot sampai napasnya berhenti. Janda itu berseru, “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (ay.18).

Adakalanya, kita mungkin bereaksi seperti janda itu—kita bertanya-tanya apakah Allah sedang menghukum kita. Kita lupa bahwa hal-hal buruk masih terjadi di dunia yang berdosa ini.

Elia membawa masalah itu kepada Allah, berdoa dengan sungguh-sungguh dan tulus untuk anak itu, dan Allah pun menghidupkan anak itu kembali! (ay.20-22).

Saat hal-hal buruk kita alami, kiranya kita—seperti Elia—menyadari bahwa Pribadi yang setia itu tidak akan meninggalkan kita! Kita bisa mempercayai maksud-maksud Allah sembari tetap berdoa memohon pengertian dari-Nya. —Poh Fang Chia

Allah itu baik dalam masa suka maupun duka.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 72-73; Roma 9:1-15

Membungkam Kritik

Kamis, 14 Juni 2018

Membungkam Kritik

Baca: Nehemia 4:1-6

4:1 Ketika Sanbalat mendengar, bahwa kami sedang membangun kembali tembok, bangkitlah amarahnya dan ia sangat sakit hati. Ia mengolok-olokkan orang Yahudi

4:2 dan berkata di hadapan saudara-saudaranya dan tentara Samaria: “Apa gerangan yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini? Apakah mereka memperkokoh sesuatu? Apakah mereka hendak membawa persembahan? Apakah mereka akan selesai dalam sehari? Apakah mereka akan menghidupkan kembali batu-batu dari timbunan puing yang sudah terbakar habis seperti ini?”

4:3 Lalu berkatalah Tobia, orang Amon itu, yang ada di dekatnya: “Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.”

4:4 Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.

4:5 Jangan Kaututupi kesalahan mereka, dan dosa mereka jangan Kauhapus dari hadapan-Mu, karena mereka menyakiti hati-Mu dengan sikap mereka terhadap orang-orang yang sedang membangun.

4:6 Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri. —Nehemia 4:4

Membungkam Kritik

Saya bekerja dalam sebuah tim untuk menyelenggarakan acara tahunan bagi komunitas kami. Sebelas bulan kami habiskan untuk merencanakan setiap detail agar acara tersebut berhasil. Kami memilih tanggal dan tempat, menetapkan harga tiket masuk, dan memilih segala sesuatu dari penjual makanan hingga teknisi suara. Menjelang pelaksanaannya, kami menjawab pertanyaan publik dan menyediakan petunjuk. Setelah acara, kami mengumpulkan masukan. Ada masukan yang memuji, tetapi ada juga yang tidak mengenakkan. Tim kami mendengar antusiasme dan juga keluhan-keluhan dari hadirin. Masukan yang negatif terkadang membuat kami kecewa dan ingin menyerah.

Nehemia juga dikritik ketika memimpin sebuah tim untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Orang mengejek Nehemia dan mereka yang bekerja bersamanya dengan berkata, “Lihat tembok yang mereka bangun! Anjing hutan pun bisa merobohkannya!” (Neh. 4:3 bis). Tanggapan Nehemia telah menolong saya dalam menghadapi kritik: Alih-alih gundah atau berusaha menimpali, ia memohon pertolongan Tuhan. Alih-alih langsung membalas, Nehemia meminta Allah untuk mendengar bagaimana umat-Nya telah dihina dan meminta-Nya untuk membela mereka (ay.4). Setelah menyerahkan pergumulan tersebut kepada Allah, Nehemia dan rekan-rekannya melanjutkan pekerjaan pembangunan tembok itu “dengan segenap hati” (ay.6).

Kita dapat belajar dari Nehemia dengan tidak terusik oleh kritik yang ditujukan terhadap pekerjaan kita. Ketika dikritik atau diejek, daripada membalas karena marah atau sakit hati, kita dapat berdoa dan meminta Allah untuk menjaga hati kita dari kekecewaan sehingga kita dapat terus bekerja dengan segenap hati. —Kirsten Holmberg

Tuhan, tolong aku untuk menilai kebaikan dan keburukan dari kritik-kritik yang kuterima, selalu mempercayai-Mu, dan terus bekerja dengan segenap hati.

Allah adalah Pembela kita yang terbaik dalam menghadapi kritik.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 9-10; Kisah Para Rasul 1

Nasihat Ayah

Senin, 11 Juni 2018

Nasihat Ayah

Baca: Amsal 3:1-7

3:1 Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,

3:2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.

3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu,

3:4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.

3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

3:6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

3:7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. —Amsal 3:5

Nasihat Ayah

Setelah diberhentikan dari suatu pekerjaan editorial, saya berdoa dan meminta Allah untuk menolong saya mendapatkan pekerjaan baru. Namun, saat minggu demi minggu berlalu dan upaya saya menghubungi kenalan dan mengirim lamaran tidak juga membuahkan hasil, saya mulai bersungut-sungut. “Tuhan, tidakkah Engkau tahu betapa pentingnya bagiku memiliki pekerjaan?” tanya saya dengan sikap protes karena merasa doa saya tidak dijawab-jawab.

Saya lalu membahas keadaan saya tersebut dengan ayah saya. Ayah sering mengingatkan saya untuk mempercayai janji-janji Allah, dan kali itu beliau berkata, “Ayah ingin kamu mengalami sendiri apa artinya tetap mempercayai firman Allah.”

Nasihat ayah itu mengingatkan saya pada Amsal 3 yang berisi nasihat bijak dari orangtua kepada seorang anak yang dikasihinya. Bagian yang sudah sering dikutip ini sangat tepat diterapkan dalam kondisi saya: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Ams. 3:5-6). “Meluruskan jalan” berarti bahwa Allah akan menuntun kita menuju maksud yang dikehendaki-Nya untuk pertumbuhan kita. Maksud utama-Nya adalah agar saya menjadi makin serupa dengan-Nya.

Itu tidak berarti jalan yang dipilih-Nya bagi kita akan mudah. Namun, saya dapat memilih untuk percaya bahwa tuntunan dan waktu-Nya adalah yang terbaik untuk saya.

Apakah kamu sedang menanti-nantikan jawaban Allah? Pilihlah untuk mendekat kepada-Nya dan percaya bahwa Dia akan menuntunmu. —Linda Washington

Tuhan, terima kasih Engkau menuntun dan memperhatikan setiap langkah kami. Tolonglah kami untuk mempercayai-Mu dari hari ke hari.

Bapa Surgawi tahu yang terbaik untuk kamu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 1-2; Yohanes 19:23-42

Diam

Jumat, 1 Juni 2018

Diam

Baca: Mazmur 46

46:1 Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.

46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

46:3 Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;

46:4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela

46:5 Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.

46:6 Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.

46:7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.

46:8 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

46:9 Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi,

46:10) yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!

46:11 “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

46:12 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! —Mazmur 46:11

Diam

Suatu hari, saya dan seorang teman sedang berselonjor di pantai sambil menikmati deburan ombak yang berirama di laut. Saat matahari mulai terbenam di kejauhan, ombak demi ombak terus bergulung ke arah kami, berhenti sebentar, lalu beriak lagi hingga hampir menyentuh ujung jari kami, dan kemudian surut kembali. “Aku suka sekali dengan laut,” kata teman saya sembari tersenyum. “Laut bergerak sehingga aku cukup diam dan tidak perlu bergerak.”

Alangkah cemerlangnya pemikiran teman saya itu! Banyak dari kita merasa sangat sulit untuk diam. Kita terus-terusan bergerak dan bekerja karena khawatir jika kita berhenti bergerak, kita akan kehilangan makna diri. Atau kita berpikir, apabila kita berhenti, kita harus menghadapi kenyataan hidup yang selama ini ada, tetapi kita hindari.

Dalam Mazmur 46:9-10, Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya dan menyatakan kuasa-Nya secara terbuka, “Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, . . . yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” Allah kita adalah Allah yang senantiasa bekerja untuk menciptakan ketenangan dari tengah-tengah segala kekacauan yang kita hadapi hari demi hari.

Namun kemudian, di ayat 11 kita membaca, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”

Tentu saja kita dapat mengenal Allah di tengah segala kesibukan yang kita lakukan ke sana kemari. Namun, undangan pemazmur untuk diam telah memanggil kita untuk memiliki pengenalan yang berbeda. Pengenalan itu membuat kita menyadari bahwa kita boleh diam—tanpa kehilangan makna diri—karena Allah sendiri tak pernah diam. Kita juga mengetahui bahwa hanya kuasa Allah yang sanggup memberikan kepada kita makna, perlindungan, dan kedamaian yang sejati. —Elisa Morgan

Ya Allah, tolonglah aku menemukan ketenteraman yang kurindukan di dalam-Mu.

Kita akan menemukan ketenteraman saat kita berada dalam dekapan kasih Allah dan kehendak-Nya yang sempurna.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 15-16; Yohanes 12: 27-50

Gelisah Tak Bisa Tidur

Kamis, 24 Mei 2018

Gelisah Tak Bisa Tidur

Baca: Mazmur 4

4:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi.Mazmur Daud.

4:2 Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!

4:3 Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan? Sela

4:4 Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya.

4:5 Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela

4:6 Persembahkanlah korban yang benar dan percayalah kepada TUHAN.

4:7 Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!

4:8 Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.

4:9 Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman. —Mazmur 4:9

Gelisah Tak Bisa Tidur

Apa yang membuat kamu terjaga di malam hari? Akhir-akhir ini saya sering kurang tidur dan merasa gelisah di atas tempat tidur karena berusaha mencari solusi atas suatu masalah. Akhirnya saya mulai mengkhawatirkan keadaan saya yang tidak cukup beristirahat dan merasa ragu akan dapat mengatasi tantangan-tantangan yang muncul keesokan harinya!

Kamu pernah mengalami hal serupa? Masalah dalam hubungan, masa depan yang tidak menentu, apa pun itu—pada satu waktu, kita juga pasti digelisahkan oleh rasa khawatir.

Raja Daud merasa sangat tertekan saat menulis Mazmur 4. Orang-orang sedang menjatuhkan reputasinya dengan tuduhan yang tak berdasar (ay.3). Ditambah lagi sejumlah pihak mempertanyakan kemampuannya dalam memimpin (ay.7). Daud mungkin marah karena diperlakukan tidak adil. Tentulah Daud menghabiskan malam-malamnya dengan terus memikirkan segala kesusahan itu. Namun, kita membaca kata-katanya yang luar biasa, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur” (ay.9).

Charles Spurgeon menjelaskan ayat 9 dengan indah, “Dengan membaringkan diri, . . . [Daud] mempercayakan dirinya kepada Allah; ia pasrah total, ia tidur tanpa terbebani masalah; ada rasa percaya yang sempurna.” Apa yang menginspirasi rasa percaya itu? Dari semula, Daud yakin bahwa Allah akan menjawab doa-doanya (ay.4). Dan Daud yakin bahwa karena Allah telah memilih untuk mengasihinya, Dia juga akan memenuhi segala kebutuhannya dengan sepenuh kasih.

Saat kekhawatiran melanda, kiranya Allah menolong kita beristirahat dalam kuasa dan hadirat-Nya. Dalam tangan kasih-Nya yang berdaulat, kita dapat “membaringkan diri, lalu segera tidur.” —Poh Fang Chia

Bapa, terima kasih karena Engkau mendengarku saat aku berseru. Aku serahkan segala kekhawatiranku kepada-Mu dan bersandar pada kuasa dan kehadiran-Mu.

Kita dapat menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah yang sepenuhnya tepercaya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 22-24; Yohanes 8:28-59

Seandainya

Sabtu, 19 Mei 2018

Seandainya

Baca: Daniel 3:8-18

3:8 Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi.

3:9 Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: “Ya raja, kekallah hidup tuanku!

3:10 Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu,

3:11 dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.

3:12 Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.”

3:13 Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja,

3:14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?

3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”

3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.

3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;

3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami . . . dari perapian yang menyala-nyala itu . . . tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku. —Daniel 3:17-18

Seandainya

Adakalanya masalah seakan menerjang hidup kita. Di lain kesempatan, mukjizat terjadi dalam hidup kita.

Tiga pemuda yang berada dalam pembuangan di Babel dihadapkan dengan raja yang menakutkan dari negeri itu. Dalam keadaan itu, mereka dengan berani menyatakan bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menyembah patung emas raksasa yang menjulang di depan mereka. Bersama-sama mereka menyatakan, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan . . . menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Dan. 3:17-18).

Ketiga pemuda itu—Sadrakh, Mesakh, Abednego—akhirnya dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Namun, Allah secara ajaib melepaskan mereka sehingga tak sehelai pun rambut mereka yang hangus dan pakaian mereka pun tidak berubah, bahkan bau kebakaran pun tidak ada (ay.19-27). Mereka sudah siap menghadapi kematian tetapi kepercayaan mereka kepada Allah tetap tidak tergoyahkan—bahkan “seandainya” Allah tidak menyelamatkan mereka.

Allah ingin kita terus bergantung kepada-Nya—bahkan seandainya orang yang kita kasihi tidak mengalami kesembuhan, bahkan seandainya kita kehilangan pekerjaan, bahkan seandainya kita dianiaya. Terkadang Allah menyelamatkan kita dari marabahaya dalam hidup ini, tetapi adakalanya juga tidak. Namun, kita dapat memegang teguh kebenaran ini: “Allah [kita] yang [kita] puja sanggup,” dan Dia mengasihi serta menyertai kita di setiap pencobaan, di setiap seandainya. —Alyson Kieda

Tuhan, kami mengasihi-Mu! Berilah kami iman yang tak tergoyahkan—dan kekuatan serta pengharapan hari demi hari—untuk situasi apa pun yang kami hadapi.

Allah sanggup.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 7-9; Yohanes 6:22-44

Bertahan dengan Damai Sejahtera

Jumat, 11 Mei 2018

Bertahan dengan Damai Sejahtera

Baca: Mazmur 3

3:1 Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya.

3:2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;

3:3 banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” Sela

3:4 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.

3:5 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela

3:6 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!

3:7 Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.

3:8 Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik.

3:9 Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! Sela

Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab Tuhan menopang aku! —Mazmur 3:6

Bertahan dengan Damai Sejahtera

Dalam upaya saya untuk terus mempercayai Allah di tengah pergumulan dengan rasa sakit yang kronis, kemunduran sekecil apa pun terasa seperti pukulan telak. Serangan demi serangan seakan menghantam saya dari samping, belakang, dan juga depan. Saat kekuatan saya melemah dan pertolongan tidak segera datang, melarikan diri dan bersembunyi tampaknya merupakan ide cemerlang. Namun, karena tak bisa melepaskan diri dari rasa sakit, mengubah keadaan, atau mengabaikan emosi saya, saya belajar sedikit demi sedikit untuk bersandar kepada Allah yang menopang saya melalui semua itu.

Ketika memerlukan penguatan, peng-hiburan, dan keberanian, saya menghayati pujian-pujian para pemazmur yang membawa pergumulan mereka kepada Allah. Dalam salah satu mazmur favorit saya, Raja Daud melarikan diri dari Absalom, anaknya yang ingin membunuh dan merebut kerajaannya. Meski Daud meratapi situasinya yang sulit (Mzm. 3:2-3), ia yakin Allah melindunginya dan percaya Allah akan menjawab doanya (ay.4-5). Daud tidak membiarkan kekhawatiran dan ketakutan tentang masa depan mengusik waktu tidurnya, karena ia percaya bahwa Allah akan menopang dan menyelamatkannya (ay.6-9).

Penderitaan fisik dan emosional sering terasa bagaikan serangan gencar dari musuh. Kita mungkin tergoda untuk menyerah atau melarikan diri di saat kita tak berdaya dan tak bisa melihat akhir dari pergumulan tersebut. Namun, seperti Daud, kita dapat belajar percaya bahwa Allah akan menopang dan menolong kita untuk mengandalkan kehadiran-Nya yang setia dan penuh kasih. —Xochitl Dixon

Tuhan, kami bersyukur untuk damai sejahtera yang kami terima lewat kehadiran-Mu yang setia dan untuk kepastian kemenangan yang telah Engkau rebut bagi kami.

Allah memberi kita damai sejahtera dengan menopang dan menyertai kita di tengah setiap percobaan yang kita hadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 13-14; Yohanes 2