Pos

Nyanyian untuk Regu Tembak

Rabu, 10 Oktober 2018

Nyanyian untuk Regu Tembak

Baca: Markus 14:16-26

14:16 Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

14:17 Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu.

14:18 Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.”

14:19 Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”

14:20 Ia menjawab: “Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku.

14:21 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

14:22 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”

14:23 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.

14:24 Dan Ia berkata kepada mereka: “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang.

14:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah.”

14:26 Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” —Mazmur 116:10

Nyanyian untuk Regu Tembak

Dua pria yang dipidana karena mengedarkan obat terlarang telah menunggu waktu eksekusi mereka selama satu dekade. Di penjara itu, mereka mengenal kasih Allah bagi mereka di dalam Yesus Kristus dan hidup mereka pun diubahkan. Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk berhadapan dengan regu tembak, mereka menghadapi para eksekutor itu sembari mengucapkan Doa Bapa Kami dan menyanyikan pujian “Amazing Grace” (Sangat Besar Anugerah-Nya). Karena iman mereka kepada Allah, oleh kekuatan Roh Kudus, mereka sanggup menghadapi kematian dengan keberanian yang luar biasa.

Mereka mengikuti teladan iman yang diberikan Juruselamat mereka, Yesus Kristus. Saat Yesus mengetahui kematian-Nya sudah dekat, Dia melewati malam itu dengan bernyanyi bersama sahabat-sahabat-Nya. Sungguh mengagumkan bagaimana Dia dapat bernyanyi dalam situasi seperti itu. Namun, yang lebih menakjubkan adalah apa yang dinyanyikan-Nya. Malam itu, Yesus dan sahabat-sahabat-Nya menikmati jamuan Paskah, yang selalu diakhiri dengan mengucapkan serangkaian mazmur yang dikenal sebagai Hallel, Mazmur 113-118. Menjelang kematian-Nya, Yesus bernyanyi tentang “tali-tali maut” yang melilit-Nya (Mzm. 116:3). Namun, Dia memuji kasih setia Allah (Mzm. 117:2) dan bersyukur kepada-Nya untuk keselamatan (Mzm. 118:14). Pastilah Mazmur itu telah menjadi penghiburan bagi Yesus pada malam sebelum Dia disalibkan.

Kepercayaan Yesus kepada Allah sangatlah besar. Jadi, meski kematian-Nya sudah dekat—kematian yang tidak layak diterima-Nya—Dia memilih untuk bernyanyi tentang kasih Allah. Karena Yesus, kita juga dapat memiliki keyakinan bahwa apa pun yang kita hadapi, Allah selalu menyertai kita. —Amy Peterson

Allah terkasih, teguhkanlah iman kami di dalam Engkau agar di saat kami menghadapi pencobaan, atau bahkan menjelang maut, kami dapat bernyanyi tentang kasih-Mu dengan penuh keyakinan.

Sungguh manis kabar anugerah Allah yang ajaib!

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34-36; Kolose 2

Mengupayakan Diri

Kamis, 6 September 2018

Mengupayakan Diri

Baca: 2 Tawarikh 20:2-3,14-22

20:2 Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi.

20:3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

20:14 Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah,

20:15 dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

20:16 Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel.

20:17 Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

20:18 Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya.

20:19 Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring.

20:20 Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata: “Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!”

20:21 Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”

20:22 Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah.

Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. —2 Tawarikh 20:3

Mengupayakan Diri

Para binaragawan yang berlomba dalam kompetisi akan menempa diri mereka dalam siklus pelatihan yang ketat. Pada bulan-bulan awal, mereka mengupayakan diri untuk memperbesar otot dan membangun kekuatan. Ketika kompetisi semakin mendekat, fokus mereka beralih pada pemangkasan lemak yang menimbun otot. Pada hari-hari terakhir menjelang kompetisi, mereka minum air lebih sedikit dari biasanya sehingga urat-urat otot mereka terlihat lebih jelas. Karena berkurangnya asupan nutrisi, para binaragawan itu sebenarnya dalam kondisi terlemah mereka di hari perlombaan, meskipun tubuh mereka terlihat kuat.

Dalam 2 Tawarikh 20, kita membaca suatu realitas yang berlawanan, yakni mengakui kelemahan untuk mengalami kekuatan Allah. Orang memberitahukan kepada Raja Yosafat, “Suatu laskar yang besar datang . . . menyerang tuanku.” Lalu “ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa” (ay.3). Raja bersama semua orang Yehuda berhenti makan dan meminta pertolongan kepada Allah. Setelah akhirnya Yosafat mengumpulkan pasukannya, ia menempatkan orang-orang yang menyanyikan nyanyian pujian kepada Allah di depan pasukan bersenjatanya (ay.21). Pada saat mereka mulai bernyanyi, “Tuhan mengadakan kekacauan di tengah-tengah tentara musuh yang sedang menyerang” (ay.22 bis).

Keputusan Yosafat menunjukkan kedalaman imannya kepada Allah. Dengan sadar, ia memilih untuk tidak mengandalkan kemampuannya sendiri dan kekuatan pasukannya. Ia memilih untuk bersandar kepada Allah. Daripada berupaya menghadapi segala pencobaan dengan mengandalkan diri sendiri, mari berpaling kepada Allah dan mengizinkan Dia menjadi kekuatan kita. —Kirsten Holmberg

Kita harus menyadari kelemahan kita supaya kita bisa mengalami kekuatan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 148-150; 1 Korintus 15:29-58

Kekuatan bagi Perjalananmu

Minggu, 2 September 2018

Kekuatan bagi Perjalananmu

Baca: Habakuk 3:16-19

3:16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.

3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Engkau memberi aku kekuatan seperti kaki rusa, kakiku Kaukokohkan. Engkau membimbing aku supaya aman waktu berjalan di pegunungan. —Habakuk 3:19 BIS

Kekuatan bagi Perjalananmu

Hinds’ Feet on High Places (Sekuat Kaki Rusa di Pegunungan) adalah kisah alegori klasik mengenai hidup orang Kristen yang didasarkan pada Habakuk 3:19. Kisah itu mengangkat tokoh bernama Much-Afraid (Si Penakut) yang melakukan perjalanan bersama Sang Gembala. Namun, Much-Afraid begitu takut hingga ia meminta Sang Gembala menggendongnya.

Sang Gembala menjawab dengan lembut, “Aku bisa saja menggendongmu sampai ke puncak bukit daripada membiarkanmu mendakinya sendiri. Namun, bila itu kulakukan, kamu takkan pernah bisa membuat kakimu sekuat kaki rusa, dan menjadi pendampingku dan mengikutiku ke mana pun aku pergi.”

Much-Afraid menggemakan pertanyaan Nabi Habakuk di Perjanjian Lama (dan sejujurnya, pertanyaan saya juga): Mengapa aku harus menderita? Mengapa hidupku sulit?

Habakuk tinggal di Yehuda pada akhir abad ke-7 sm sebelum bangsa Israel dibawa ke pembuangan. Sang nabi hidup dalam masyarakat yang mengabaikan keadilan sosial dan dilumpuhkan oleh ketakutan atas serbuan orang Kasdim (Hab. 1:2-11). Ia meminta Tuhan untuk campur tangan dan menghapuskan penderitaan (1:13). Allah menjawab bahwa Dia akan bertindak adil, tetapi sesuai waktu-Nya (2:3).

Dengan iman, Habakuk memilih untuk percaya kepada Tuhan. Sekalipun penderitaan tidak juga berakhir, sang nabi percaya bahwa Allah akan senantiasa menjadi kekuatannya.

Kita juga mendapat penghiburan dengan meyakini bahwa Tuhanlah kekuatan yang menolong kita bertahan di tengah penderitaan. Dia sendiri juga akan memakai masa-masa hidup kita yang sulit untuk memperdalam persekutuan kita dengan Kristus. —Lisa Samra

Tuhan, terkadang rasanya penderitaanku terlalu berat untuk kutanggung. Tolong aku untuk mempercayai-Mu dan terus berjalan bersama-Mu menyusuri kehidupan ini.

Kita dapat mempercayai Tuhan sebagai kekuatan kita di masa-masa sulit.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 137-139; 1 Korintus 13

Belajar Mempercayai

Selasa, 28 Agustus 2018

Belajar Mempercayai

Baca: Matius 6:25-34

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. —Yakobus 1:17

Belajar Mempercayai

Saat masih remaja, adakalanya saya menantang ucapan ibu saya yang mendorong saya untuk lebih mempunyai iman. “Percayalah kepada Tuhan. Dia akan menjagamu,” kata ibu saya. “Tapi tak semudah itu, Bu!” jawab saya dengan keras. “Tuhan hanya menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri!”

Namun, ungkapan “Tuhan hanya menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri” tidak berasal dari Kitab Suci. Sebaliknya, firman Allah mengajar kita untuk mengandalkan-Nya dalam kebutuhan kita sehari-hari. Yesus mengatakan, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:26-27).

Segala sesuatu yang kita nikmati—bahkan kemampuan untuk mencari nafkah dan “menolong diri sendiri”—merupakan pemberian dari Bapa Surgawi yang mengasihi dan menghargai kita, jauh melebihi kemampuan kita untuk memahaminya.

Menjelang akhir hayatnya, ibu saya menderita penyakit Alzheimer yang merenggut ingatan dan pikirannya. Namun, imannya kepada Allah tidak pernah pudar. Ia sempat tinggal bersama kami untuk sementara waktu, dan saya dapat melihat langsung bagaimana Allah memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang tak terduga. Semua itu membuktikan kepada saya bahwa ucapannya memang benar. Alih-alih khawatir, ibu saya mempercayakan dirinya kepada Pribadi yang berjanji akan menjaganya. Allah pun menunjukkan kesetiaan-Nya. —James Banks

Tuhan yang penuh kasih, tolonglah aku agar percaya bahwa Engkau senantiasa menjagaku hari ini, esok, dan sampai selamanya!

Jangan mengkhawatirkan hari esok—ada Allah di sana.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 123-125; 1 Korintus 10:1-18

Kita akan Melihat Yesus

Jumat, 24 Agustus 2018

Kita akan Melihat Yesus

Baca: Yohanes 12:20-26

12:20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.

12:21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.”

12:22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.

12:23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Orang-orang itu pergi kepada Filipus, . . . lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” —Yohanes 12:21

Kita akan Melihat Yesus

Saat memandang dari atas mimbar, tempat saya membawakan doa di suatu acara pemakaman, saya melihat sekilas plakat berbahan kuningan yang mencantumkan kata-kata dari Yohanes 12:21: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Saya pun berpikir, alangkah tepat ayat itu ketika dengan air mata dan senyuman kami sedang mengenang seseorang yang hidupnya memancarkan Yesus. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kekecewaan dalam hidupnya, almarhum tidak pernah melepaskan imannya kepada Kristus. Karena Roh Allah juga hidup dalam dirinya, kami dapat melihat Yesus melalui hidupnya.

Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus memasuki Yerusalem (lihat Yoh. 12:12-16), sejumlah orang Yunani mendekati Filipus, salah satu murid Yesus, dan meminta, “Tuan, kami ingin bertemu Yesus” (ay.21). Bisa jadi mereka penasaran dengan penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat Yesus. Namun, karena bukan orang Yahudi, mereka tidak diizinkan memasuki pelataran Bait Allah. Ketika permintaan mereka diteruskan kepada Yesus, Dia menyatakan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk dimuliakan (ay.23). Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa Dia akan segera mati menanggung dosa banyak orang. Yesus akan memenuhi misi-Nya untuk menjangkau tidak saja orang Yahudi, tetapi juga orang non-Yahudi (“orang Yunani” di ayat 20), dan sekarang mereka hendak bertemu dengan Yesus.

Setelah Yesus Kristus mati, Dia mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri pengikut-pengikut-Nya (14:16-17). Jadi, saat kita mengasihi dan melayani Yesus, kita melihat bahwa Dia aktif berkarya dalam diri kita. Yang luar biasa, orang-orang di sekitar kita juga bisa melihat Yesus melalui kehidupan kita! —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, aku begitu terhormat dan takjub karena Engkau mau datang dan hidup di dalamku. Tolonglah aku untuk membagikan anugerah yang ajaib ini dengan orang-orang yang kutemui hari ini.

Kita bisa melihat Yesus lewat kehidupan pengikut-pengikut-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 116-118; 1 Korintus 7:1-19

Kebahagiaan Abadi

Kamis, 23 Agustus 2018

Kebahagiaan Abadi

Baca: Mazmur 34:1-15

34:1 Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi.
34:2 Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.

34:3 Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.

34:4 Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!

34:5 Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.

34:6 Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.

34:7 Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

34:8 Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.

34:9 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!

34:10 Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!

34:11 Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.

34:12 Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!

34:13 Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?

34:14 Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

34:15 jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? . . . Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. —Mazmur 34:13,15

Kebahagiaan Abadi

Sering kita mendengar bahwa kebahagiaan akan kita alami ketika kita melakukan segala sesuatu dengan cara kita sendiri. Namun, itu tidak benar. Pandangan seperti itu hanya membawa kita pada rasa hampa, kegelisahan, dan kekecewaan.

Penyair W. H. Auden mengamati orang-orang yang berusaha mencari pelarian dalam kesenangan. Ia menulis tentang mereka: “Tersesat di hutan lebat, / Bagai anak-anak yang takut malam / Tak pernah merasa senang atau tenang.”

Daud pernah menulis mazmur tentang mengobati ketakutan dan ketidakbahagiaan kita. “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm. 34:5). Kebahagiaan dialami ketika kita melakukan segala sesuatu dengan cara Allah, dan kebenaran dari fakta tersebut dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Daud menulis bahwa muka orang yang memandang kepada Allah akan berseri-seri (ay.6). Cobalah dan kamu akan melihat hasilnya. Itulah yang dimaksudkan Daud saat berkata, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!” (ay.9).

Kita berkata, “Aku baru mau percaya setelah aku melihatnya.” Begitulah cara kita mengetahui segala sesuatu di dunia ini. Buktikan dahulu, maka saya akan percaya. Allah mengatakan yang sebaliknya. Percaya dahulu, baru melihat. “Kecaplah, lalu kamu akan melihat.”

Percayalah pada firman Tuhan. Lakukan apa yang dikehendaki Allah untukmu lakukan dan kamu akan melihat. Dia akan memberimu anugerah untuk melakukan hal yang benar, bahkan lebih lagi: Dia memberikan diri-Nya sendiri—satu-satunya sumber kebaikan—dan kebahagiaan abadi yang dibawa-Nya bagi kita. —David H. Roper

Tuhan, terkadang kami hanya perlu berdoa: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Tolonglah kami untuk mempercayai-Mu dengan melakukan apa yang telah Engkau percayakan untuk kami kerjakan hari ini.

Kita berbahagia ketika kita melakukan hal yang benar.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 113-115; 1 Korintus 6

Sudut Pandang yang Sempurna

Sabtu, 18 Agustus 2018

Sudut Pandang yang Sempurna

Baca: Mazmur 102:1-3, 19-29

102:1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN.102:2 TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu.

102:3 Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!

102:4 Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian.

Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus. —Mazmur 102:20

Sudut Pandang yang Sempurna

Ketika berada di London, seorang teman mengatur agar saya dan Marlene, istri saya, mengunjungi Sky Garden. Letaknya di lantai teratas dari sebuah gedung setinggi 35 tingkat di kawasan bisnis London. Sky Garden adalah sebuah ruangan besar berdinding kaca yang dipenuhi beragam tanaman, pepohonan, dan bunga. Namun, bagian sky (langit) sempat menarik perhatian kami. Kami menatap ke bawah dari ketinggian lebih dari 150 m, mengagumi Katedral St. Paul, Menara London, dan masih banyak lagi. Pemandangan ibu kota yang kami lihat itu sungguh membuat kami tak bisa berkata-kata sekaligus memberi kami pelajaran bermanfaat tentang sudut pandang.

Allah kita memiliki sudut pandang yang sempurna terhadap segala hal yang kita alami. Pemazmur menulis, “Sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh” (Mzm. 102:20-21).

Seperti orang-orang yang menderita dalam Mazmur 102, kita sering kali hanya bisa melihat masa sekarang dengan segala pergumulannya. Kita mengungkapkan “keluhan” kita dalam keputusasaan. Namun, Allah melihat hidup kita dari awal sampai akhir. Tuhan kita tidak pernah dibuat lengah oleh hal-hal yang tak kita ketahui. Sebagaimana dinanti-nantikan oleh sang pemazmur, sudut pandang Allah yang sempurna akan membawa pada pembebasan terbesar yang memerdekakan, bahkan bagi mereka yang telah “ditentukan mati dibunuh” (ay.21, 28-29).

Dalam momen-momen yang sulit, ingatlah: Mungkin kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, tetapi Tuhan kita tahu. Kita dapat mempercayakan setiap momen yang terbentang di hadapan kita kepada-Nya. —Bill Crowder

Memusatkan pandangan kita kepada Kristus akan membuat kita mempunyai sudut pandang yang benar terhadap segala sesuatu yang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 100-102; 1 Korintus 1

Hati yang Lapar

Kamis, 16 Agustus 2018

Hati yang Lapar

Baca: Yohanes 6:32-40

6:32 Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

6:33 Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia.”

6:34 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.”

6:35 Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

6:36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.

6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.

6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.

6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”

Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. —Yohanes 6:35

Hati yang Lapar

Saat berkendara bersama suami, saya melihat-lihat e-mail di ponsel saya dan dikejutkan oleh munculnya iklan sebuah toko donat di kota saya. Toko itu baru saja kami lewati! Tiba-tiba saja perut saya keroncongan karena lapar. Alangkah hebatnya cara teknologi memungkinkan para penjual merayu kita untuk mencoba produk atau jasa mereka.

Sembari menutup e-mail tersebut, saya teringat kepada Allah yang terus-menerus rindu menarik saya mendekat kepada-Nya. Dia selalu mengetahui di mana saya berada dan rindu untuk mempengaruhi pilihan-pilihan yang saya buat setiap hari. Saya bertanya-tanya, Apakah hati saya juga begitu mendambakan-Nya seperti perut saya yang lapar karena menginginkan donat?

Dalam Yohanes 6, setelah mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang, para murid sangat berharap Yesus akan selalu memberi mereka “roti yang . . . memberi hidup kepada dunia” (ay.33-34). Yesus menanggapi di ayat 35, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Sungguh luar biasa bagaimana hubungan pribadi dengan Yesus dapat selalu memberikan asupan rohani yang kita butuhkan sehari-hari!

Iklan toko donat tadi menyasar kelaparan jasmani saya, tetapi pengetahuan Allah yang sempurna akan kondisi hati saya telah mendorong saya untuk mengenali kebutuhan saya yang tiada habisnya akan Dia dan untuk menerima kepuasan sejati yang hanya dapat ditemukan di dalam Dia. —Elisa Morgan

Ya Allah, ingatkan aku bahwa aku membutuhkan kehadiran-Mu setiap hari.

Hanya Yesus yang menyediakan roti yang benar-benar memuaskan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 94-96; Roma 15:14-33

Mengarungi Jeram

Selasa, 14 Agustus 2018

Mengarungi Jeram

Baca: Yesaya 43:1-7

43:1 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

43:3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.

43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

43:5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat.

43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,

43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan. —Yesaya 43:2

Mengarungi Jeram

Pemandu arung jeram membawa kelompok kami ke tepi sungai dan mengarahkan kami untuk memakai jaket pelampung dan meraih dayung. Saat kami naik ke perahu, pemandu mengatur posisi duduk kami untuk menjaga keseimbangan perahu agar tetap stabil saat melintasi jeram. Setelah menerangkan betapa serunya perjalanan yang akan kami lalui, si pemandu menjelaskan serangkaian arahan yang akan kami dengar darinya dan harus diikuti agar kami berhasil mengendalikan perahu melewati jeram demi jeram. Ia meyakinkan kami bahwa meskipun ada momen-momen menegangkan di sepanjang perjalanan, perjalanan kami seluruhnya akan aman dan menyenangkan.

Adakalanya hidup ini terasa seperti mengarungi jeram, suatu perjalanan yang mengharuskan kita melalui arus deras lebih sering daripada yang kita harapkan. Janji Allah kepada Israel melalui Nabi Yesaya dapat menenangkan hati ketika kita mengkhawatirkan terjadinya kemungkinan yang terburuk: “Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan” (Yes. 43:2). Bangsa Israel sangat takut ditolak oleh Allah ketika mereka harus dibuang sebagai akibat dari dosa mereka. Namun, Allah meyakinkan mereka dan berjanji untuk menyertai mereka karena kasih-Nya kepada mereka (ay.2,4).

Allah takkan meninggalkan kita di tengah arus kehidupan yang deras. Kita dapat mempercayai-Nya untuk memandu kita melewati jeram demi jeram—ketakutan dan pergumulan kita yang berat—karena Dia mengasihi dan berjanji selalu menyertai kita. —Kirsten Holmberg

Terima kasih, Tuhan, karena Engkaulah pemanduku dalam mengarungi derasnya jeram kehidupan. Tolonglah aku untuk mempercayai-Mu sekalipun arus hidup ini begitu ganas dan menyeramkan.

Tuhan memandu kita melewati masa-masa yang sulit.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89-90; Roma 14