Pos

Teruslah Maju

Jumat, 15 Maret 2019

Teruslah Maju

Baca: Keluaran 10:21-29

10:21 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba gelap itu.”

10:22 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari.

10:23 Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya.

10:24 Lalu Firaun memanggil Musa serta berkata: “Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu.”

10:25 Tetapi Musa berkata: “Bahkan korban sembelihan dan korban bakaran harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk TUHAN, Allah kami.

10:26 Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan satu kakipun tidak akan tinggal, sebab dari ternak itulah kami harus ambil untuk beribadah kepada TUHAN, Allah kami; dan kami tidak tahu, dengan apa kami harus beribadah kepada TUHAN, sebelum kami sampai di sana.”

10:27 Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga dia tidak mau membiarkan mereka pergi.

10:28 Lalu Firaun berkata kepadanya: “Pergilah dari padaku; awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati.”

10:29 Kemudian Musa berkata: “Tepat seperti ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi!”

Karena beriman, maka Musa meninggalkan Mesir tanpa merasa takut terhadap kemarahan raja. —Ibrani 11:27 BIS

Daily Quotes ODB

Bekerja di dunia swasta membuat saya berinteraksi dengan banyak orang yang berbakat dan berpikiran sehat. Namun, saya menemui kesulitan dalam satu proyek yang dipimpin oleh manajer yang tinggal di luar kota. Meskipun tim kami menunjukkan perkembangan, si manajer terus saja mengkritik dan menuntut kami bekerja lebih keras dalam rapat via telepon yang kami lakukan tiap minggu. Komentarnya membuat saya tawar hati dan takut, bahkan sempat terpikir untuk mengundurkan diri saja.

Bisa jadi Musa juga ingin menyerah saat menghadap Firaun di saat Mesir dijatuhi tulah kegelapan. Allah telah menjatuhkan delapan tulah atas Mesir sebelumnya, dan akhirnya kali ini kemarahan Firaun meledak. Ia berkata kepada Musa, “Pergilah dari padaku; awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati” (Kel. 10:28).

Meski diancam, Musa tetap dipakai Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman Firaun. “Karena beriman, maka Musa meninggalkan Mesir tanpa merasa takut terhadap kemarahan raja. Musa maju menuju tujuannya seolah-olah ia sudah melihat Allah yang tidak kelihatan itu” (Ibr. 11:27 bis). Musa menghadapi Firaun dengan mempercayai bahwa Allah akan menepati janji pembebasan-Nya (Kel. 3:17).

Hari ini, kita dapat berpegang pada janji bahwa Allah akan selalu menyertai kita dalam segala keadaan dan menopang kita lewat Roh-Nya yang kudus. Ia menolong kita bertahan terhadap intimidasi dan menjaga kita dari respons yang salah. Caranya dengan memberi kita roh yang menjadikan kita kuat, penuh kasih, dan dapat menahan diri (2Tim. 1:7). Roh Kudus memberi kekuatan yang kita butuhkan untuk terus maju dan mengikuti pimpinan Allah dalam hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt

Situasi seperti apa yang membuat kamu kesal? Bagaimana cara kamu bergantung kepada Tuhan?

Tuhan, tolong aku tetap berfokus kepada-Mu ketika aku kesal. Lindungi, pimpin, dan tolonglah aku mempercayai-Mu dalam segala keadaanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 26-27; Markus 14:27-53

Mengharapkan Penundaan

Selasa, 12 Maret 2019

Mengharapkan Penundaan

Baca: Amsal 16:1-3,9

16:1 Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.

16:2 Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.

16:3 Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.

16:9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9

Daily Quotes ODB

Yang benar saja? Saya sudah terlambat, tetapi tulisan di papan informasi jalan di depan saya mengandaskan harapan saya untuk tiba di kantor tepat waktu: “Ada Hambatan di Depan”.

Saya berharap segala sesuatu berjalan sesuai jadwal yang sudah saya susun, tetapi tidak memperkirakan adanya perbaikan jalan.

Dalam hal rohani, tak banyak dari kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang akan menghambat perjalanan kita atau memaksa kita mengubah rencana. Namun, kalau dipikir-pikir, saya jadi ingat betapa seringnya keadaan memaksa saya menata ulang rencana hidup saya—dalam hal besar maupun kecil. Hambatan akan selalu ada.

Dalam Amsal 16, Raja Salomo menulis tentang bagaimana rencana kita terkadang tidak sama dengan rencana Allah. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari menuliskan ayat 1 sebagai berikut: “Manusia boleh membuat rencana, tapi Allah yang memberi keputusan.” Salomo mengulangnya di ayat 9 (BIS), dengan berkata, “Manusia dapat membuat rencana, tetapi Allah yang menentukan jalan hidupnya.” Dengan kata lain, kita dapat membayangkan apa yang seharusnya terjadi, tetapi adakalanya Allah mempunyai jalan lain untuk kita jalani.

Bagaimana saya bisa melupakan kebenaran rohani itu? Saya menyusun rencana-rencana saya, tetapi bisa jadi lupa bertanya kepada Allah apa rencana-Nya bagi saya. Saya pun frustrasi ketika sesuatu menyela dan mengubah rencana saya.

Namun, daripada khawatir, kita dapat mengikuti nasihat Salomo dengan belajar mempercayai bahwa Allah menuntun kita, langkah demi langkah, sembari terus berdoa mencari wajah-Nya, menanti tuntunan-Nya, dan mengizinkan-Nya terus mengarahkan kita.—Adam Holz

Bagaimana biasanya reaksimu saat menghadapi penundaan dan perubahan rencana yang tidak terduga? Ketika merasa frustrasi, apa yang akan menolongmu berserah kepada Allah dan mempercayai Dia lebih lagi?

Ganti kekhawatiranmu dengan kepercayaan. Allah akan menuntun kamu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 17-19; Markus 13:1-20

Allah di Sini

Senin, 26 November 2018

Allah di Sini

Baca: Hosea 6:1-6

6:1 “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.

6:2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya.

6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”

6:4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar.

6:5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang.

6:6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan. —Hosea 6:3

Allah di Sini

Sebuah plakat di rumah kami mencantumkan tulisan “Diundang atau tidak, Allah hadir di sini.” Versi modern dari pernyataan tersebut kira-kira seperti ini, “Disadari atau tidak, Allah hadir.”

Hosea, seorang nabi dalam Perjanjian Lama yang hidup pada akhir abad ke-8 sm (755-715), menuliskan kata-kata yang serupa pada bangsa Israel. Hosea mendorong orang Israel untuk “berusaha sungguh-sungguh” (hos. 6:3)mengenal Allah karena mereka telah melupakan-Nya (4:1). Ketika bangsa Israel melupakan kehadiran Allah, mereka mulai meninggalkan-Nya (4:12) dan tidak lama kemudian Allah tak akan ada lagi dalam pikiran mereka (lihat Mzm. 10:4)

Perkataan Hosea yang sederhana, tetapi mendalam, tentang perlunya mengenal Allah itu mengingatkan kita bahwa Allah selalu menyertai kita dan berkarya dalam hidup kita, baik dalam masa sukacita maupun masa pergumulan.

Mengenal atau menyadari Allah bisa berarti ketika kita memperoleh promosi di tempat kerja, kita menyadari bahwa Allah sajalah yang memberi kita hikmat untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan sesuai dengan dana yang ada. Jika pengajuan kredit kepemilikan rumah kita ditolak, pengenalan akan Allah dapat menguatkan kita karena kita percaya Allah bekerja dalam situasi tersebut untuk kebaikan kita.

Jika kita tidak diterima di universitas pilihan kita, kita menyadari bahwa Allah terus menyertai dan, meski kecewa, kita terhibur oleh penyertaan-Nya itu. Saat menikmati makan malam, kesadaran akan Allah mungkin mengingatkan kita bahwa Allah saja yang telah menyediakan bahan makanan dan dapur untuk memasak makanan itu.

Ketika kita mengenal dan menyadari Allah, kita mengingat kehadiran-Nya dalam setiap suka dan duka, baik kecil atau besar, dalam kehidupan kita. —Lisa Samra

Tuhan Yesus, ampunilah aku untuk saat-saat aku cenderung melupakan-Mu. Tolong aku untuk menyadari kehadiran-Mu dalam hidupku.

Allah selalu hadir dan berkarya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 27-29; 1 Petrus 3

Kondisi yang Tidak Ideal?

Selasa, 20 November 2018

Kondisi yang Tidak Ideal?

Baca: Filipi 1:12-18

1:12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

1:13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

Apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil. —Filipi 1:12

Kondisi yang Tidak Ideal?

Ketika jembatan yang digunakan untuk mencapai kota Techiman, Ghana, dihanyutkan banjir, penduduk New Krobo yang tinggal di sisi lain dari Sungai Tano pun terjebak. Jumlah kehadiran dalam kebaktian gereja yang digembalakan Pendeta Samuel Appiah di Techiman juga menurun drastis karena banyak anggota jemaat yang tinggal di New Krobo. Sungguh suatu kondisi yang tidak ideal.

Di tengah krisis tersebut, Pendeta Samuel berusaha memperluas panti asuhan milik gereja agar bisa menampung lebih banyak anak yatim piatu. Ia pun berdoa. Kemudian gerejanya mengadakan kebaktian alam terbuka di tepi sungai di New Krobo. Lalu mereka mulai membaptis jemaat yang baru percaya kepada Yesus. Sebuah gereja baru mulai berakar di sana. Bukan hanya itu, New Krobo juga memiliki tempat penampungan sementara bagi anak-anak yatim piatu. Allah sedang merajut karya pemulihan-Nya di tengah krisis.

Saat Rasul Paulus berada kondisi yang tidak ideal, yakni sedang dipenjara, ia tidak meratapi situasinya. Dalam suratnya yang luar biasa kepada jemaat di Filipi, ia menulis, “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil” (Flp. 1:12). Paulus menuliskan bagaimana pemenjaraannya telah membuat “seluruh istana dan semua orang lain” mengetahui tentang Kristus (ay.13). Selain itu, saudara-saudara seiman lainnya makin berani memberitakan kabar baik tentang Yesus (ay.14).

Walau menghadapi rintangan, Pendeta Samuel dan Rasul Paulus menyaksikan bagaimana Allah menunjukkan kepada mereka cara-cara baru untuk berkarya di tengah krisis yang melanda. Apa yang mungkin sedang Allah lakukan di tengah situasi kita yang sulit saat ini? —Tim Gustafson

Tuhan, terkadang kami merasa seperti berada dalam situasi yang tidak ideal. Namun, kami tahu Engkau hadir di mana saja. Tolonglah kami untuk melihat-Mu.

Allah bekerja di tengah kekacauan. Itulah inti dari Alkitab. Matt Chandler

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 14-15; Yakobus 2

Terus Membangun!

Minggu, 18 November 2018

Terus Membangun!

Baca: Ezra 5:1-5

5:1 Tetapi nabi Hagai dan Zakharia bin Ido, kedua nabi itu, bernubuat terhadap orang-orang Yahudi yang tinggal di Yehuda dan di Yerusalem dalam nama Allah Israel, yang menyertai mereka.

5:2 Pada waktu itu mulailah Zerubabel bin Sealtiel dan Yesua bin Yozadak membangun rumah Allah yang ada di Yerusalem. Mereka didampingi dan dibantu oleh nabi-nabi Allah.

5:3 Tetapi pada waktu itu juga datanglah kepada mereka Tatnai, bupati daerah sebelah barat sungai Efrat, bersama-sama dengan Syetar-Boznai dan rekan-rekan mereka, dan beginilah katanya kepada mereka: “Siapakah yang memberi perintah kepadamu untuk membangun rumah ini dan menyelesaikan tembok ini?”

5:4 Lalu katanya pula kepada mereka: “Siapakah nama-nama orang yang mendirikan bangunan ini?”

5:5 Tetapi mata Allah mengamat-amati para tua-tua orang Yahudi, sehingga mereka tidak dipaksa berhenti oleh orang-orang itu sampai ada berita diterima oleh Darius dan kemudian dikirim kembali surat jawaban mengenai hal itu.

Mata Allah mengamat-amati [mereka], sehingga mereka tidak dipaksa berhenti. —Ezra 5:5

Terus Membangun!

Saat terbuka peluang untuk menduduki posisi baru di kantor, Simon meyakini itu sebagai berkat dari Tuhan. Setelah mendoakan keputusan itu dan mencari nasihat, ia merasa bahwa Tuhan sedang memberikan kesempatan itu agar ia dapat memikul tanggung jawab yang lebih besar. Semua berjalan lancar dan atasannya mendukung keputusannya. Namun kemudian keadaan berubah. Ada sejumlah rekan kerja Simon yang tidak menyukai promosi yang diterimanya dan menolak bekerja sama. Simon mulai berpikir apakah sebaiknya ia mundur saja.

Saat bangsa Israel kembali ke Yerusalem untuk membangun rumah Allah, ada pihak musuh yang berusaha menakut-nakuti dan melemahkan semangat mereka (Ezr. 4:4). Bangsa Israel sempat menghentikan pembangunan itu, tetapi melanjutkannya lagi setelah Allah menguatkan mereka melalui nubuat Nabi Hagai dan Zakharia (4:24-5:2).

Namun, sekali lagi, musuh kembali datang mengganggu. Kali ini bangsa Israel tetap bertahan, karena mereka menyadari bahwa “mata Allah mengamat-amati [mereka]” (5:5). Mereka memegang teguh instruksi Allah dan percaya bahwa Dia akan menuntun mereka melewati tantangan apa pun yang mereka hadapi. Benar saja, Allah kemudian menggerakkan raja Persia untuk mendukung penyelesaian bait Allah (ay.13-14).

Itu pula yang dilakukan oleh Simon. Ia mencari hikmat Allah untuk memutuskan apakah ia harus tetap pada posisi barunya atau pindah ke posisi yang lain. Setelah merasakan panggilan Allah untuk tetap bertahan, Simon mengandalkan kekuatan Allah untuk bertekun dalam pekerjaannya. Perlahan-lahan ia pun diterima oleh rekan-rekan kerjanya.

Saat kita berusaha mengikut Allah, di mana pun Dia menempatkan kita, mungkin saja kita akan menghadapi tantangan. Pada saat itulah kita perlu terus mengikut Dia. Allah akan menuntun dan menyertai kita melewati tantangan tersebut. —Leslie Koh

Tetaplah teguh, karena mata Allah mengamat-amati kamu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 8-10; Ibrani 13

Senantiasa Mengucap Syukur

Senin, 29 Oktober 2018

Senantiasa Mengucap Syukur

Baca: Bilangan 11:1-11

11:1 Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan.

11:2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu.

11:3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.

11:4 Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?

11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.

11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

11:7 Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah.

11:8 Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng.

11:9 Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.

11:10 Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa.

11:11 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?

Apakah semua ikan di laut cukup untuk memberi makan kepada mereka? —Bilangan 11:22 BIS

Senantiasa Mengucap Syukur

Tahun-tahun yang melelahkan akibat penyakit kronis dan rasa frustrasi terhadap ruang gerak saya yang terbatas akhirnya memuncak. Ketidakpuasan yang saya rasakan membuat saya sering menuntut dan sulit mengucap syukur. Saya mulai mengeluh tentang perawatan yang diberikan suami. Saya mengomel tentang cara suami saya membersihkan rumah. Walaupun ia adalah koki terbaik yang pernah saya kenal, masih saja saya menggerutu tentang kurangnya variasi menu makanan kami. Ketika akhirnya ia mengatakan bahwa keluh-kesah saya melukai perasaannya, saya malah menjadi jengkel. Pikir saya, mana mungkin ia tahu apa yang saya alami? Namun akhirnya, Allah menolong saya untuk melihat segala kesalahan yang saya lakukan, dan saya pun meminta pengampunan dari suami dan Tuhan.

Harapan kita akan situasi yang berbeda dapat membuat kita berkeluh-kesah, bahkan menjadikan kita terlalu berpusat pada diri sendiri yang mengakibatkan hubungan kita dengan orang lain menjadi rusak. Bangsa Israel tidak asing lagi dengan masalah itu. Tampaknya mereka tidak pernah merasa puas dan selalu mengeluhkan pemeliharaan Allah (Kel. 17:1-3). Meskipun Tuhan memelihara umat-Nya di padang gurun dengan memberi mereka “hujan roti” dari langit (16:4), mereka mulai mendambakan makanan lain (Bil. 11:4). Alih-alih bersukacita atas mukjizat dari Allah yang diterima dari hari ke hari, bangsa Israel menghendaki yang lebih banyak, yang lebih baik, yang berbeda, atau bahkan yang dahulu pernah mereka miliki (ay.4-6). Bangsa Israel menumpahkan rasa frustrasi mereka kepada Musa (ay.10-14).

Mempercayai kebaikan dan kesetiaan Allah dapat menolong kita untuk senantiasa belajar mengucap syukur. Hari ini, marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala bentuk pemeliharaan-Nya yang tak terhingga banyaknya atas kita. —Xochitl Dixon

Pujian syukur memuaskan jiwa kita dan menyenangkan hati Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 18-19; 2 Timotius 3

Kehendak-Mu, Bukan Kehendakku

Minggu, 28 Oktober 2018

Kehendak-Mu, Bukan Kehendakku

Baca: Lukas 22:39-46

22:39 Lalu pergilah Yesus ke luar kota dan sebagaimana biasa Ia menuju Bukit Zaitun. Murid-murid-Nya juga mengikuti Dia.

22:40 Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

22:41 Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya:

22:42 “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

22:43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

22:44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

22:45 Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.

22:46 Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. —Amsal 3:5

Kehendak-Mu, Bukan Kehendakku

Kamil dan Joelle sangat terpukul ketika putri mereka yang berusia delapan tahun, Rima, didiagnosis mengidap penyakit leukemia langka. Penyakit itu menyebabkan radang otak dan stroke, dan Rima pun jatuh koma. Tim medis menyarankan Kamil dan Joelle untuk menyiapkan pemakaman bagi Rima, karena peluangnya untuk bertahan hidup kurang dari satu persen.

Kamil dan Joelle berdoa dan berpuasa untuk sebuah mukjizat. “Saat kami berdoa,” kata Kamil, “kami harus mempercayai Allah apa pun yang terjadi. Dan harus seperti Yesus—bukan kehendak-Ku, Bapa, tetapi kehendak-Mu yang terjadi.” “Namun, saya ingin sekali Allah menyembuhkan Rima!” jawab Joelle dengan jujur. “Benar! Dan kami harus memintanya!” lanjut Kamil. “Akan tetapi, Allah dimuliakan ketika kami menyerahkan diri kami kepada-Nya, meski itu sulit, karena itulah yang telah Yesus lakukan.”

Sebelum Yesus disalibkan, Dia berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42). Dengan berdoa, “ambilah cawan ini,” Yesus memohon untuk tidak disalibkan; tetapi Dia berserah kepada Bapa karena kasih.

Menyerahkan segala keinginan kita kepada Allah memang tidak mudah, dan hikmat-Nya bisa jadi sulit dimengerti dalam momen-momen yang sulit. Doa Kamil dan Joelle dijawab dengan cara yang menakjubkan—saat ini Rima adalah seorang gadis berusia lima belas tahun yang sehat walafiat.

Yesus mengerti setiap pergumulan manusia. Bahkan ketika permohonan-Nya tidak dikabulkan, demi kita, Yesus menunjukkan bagaimana kita dapat mempercayai Allah untuk memenuhi setiap hal yang kita butuhkan. —James Banks

Aku ingin hidup “total” bagi-Mu, ya Bapa. Aku percaya kepada kasih-Mu yang tak pernah berakhir dan kuserahkan diriku kepada-Mu sebagai hamba-Mu hari ini.

Allah selalu layak menerima penyerahan diri dan pujian kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 15-17; 2 Timotius 2

Percaya kepada-Nya

Senin, 15 Oktober 2018

Percaya kepada-Nya

Baca: Yesaya 46:3-13

46:3 “Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim.

46:4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

46:5 Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?

46:6 Orang mengeluarkan emas dari dalam kantongnya dan menimbang perak dengan dacing, mereka mengupah tukang emas untuk membuat allah dari bahan itu, lalu mereka menyembahnya, juga sujud kepadanya!

46:7 Mereka mengangkatnya ke atas bahu dan memikulnya, lalu menaruhnya di tempatnya; di situ ia berdiri dan tidak dapat beralih dari tempatnya. Sekalipun orang berseru kepadanya, ia tidak menjawab dan ia tidak menyelamatkan mereka dari kesesakannya.

46:8 Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak!

46:9 Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku,

46:10 yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,

46:11 yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.

46:12 Dengarkanlah Aku hai orang-orang yang congkak, orang-orang yang jauh dari kebenaran:

46:13 Keselamatan yang dari pada-Ku tidak jauh lagi, sebab Aku telah mendekatkannya dan kelepasan yang Kuberikan tidak bertangguh lagi; Aku akan memberikan kelepasan di Sion dan keagungan-Ku kepada Israel.”

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. —Mazmur 68:20

Percaya kepada-Nya

“Ayah, jangan lepaskan aku!”

“Tidak, Ayah akan memegangmu dengan erat. Ayah janji.”

Saat saya masih kecil dan takut pada air, ayah ingin saya tetap belajar berenang. Ia sengaja menarik saya menjauh dari tepi kolam renang menuju bagian kolam yang kedalamannya melebihi kepala saya. Di sana hanya ayah satu-satunya andalan saya. Lalu ayah mengajarkan agar saya tetap tenang dan berusaha mengapung.

Itu bukan hanya soal pelajaran berenang, melainkan juga latihan untuk percaya. Saya tahu ayah mengasihi saya dan takkan membiarkan saya dilukai secara sengaja, tetapi saya masih juga merasa takut. Biasanya saya merangkul erat leher ayah sampai ia berhasil meyakinkan saya bahwa takkan ada masalah. Pada akhirnya, kesabaran dan kebaikannya dapat menenangkan saya, dan saya pun mulai berenang. Namun, saya perlu mempercayai ayah terlebih dahulu.

Ketika saya merasa terbenam di dalam suatu kesulitan, saya sering mengingat kembali momen masa kecil tersebut. Semua itu menolong saya mengingat jaminan Tuhan kepada umat-Nya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yes. 46:4).

Kita mungkin tidak selalu bisa merasakan tangan Allah yang menopang kita, tetapi Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Ketika kita percaya pada pemeliharaan dan janji-janji-Nya, Dia menolong kita untuk belajar mempercayai kesetiaan-Nya. Dia mengangkat kita keluar dari kekhawatiran untuk menemukan damai yang baru di dalam Dia. —James Banks

Abba, Bapa, aku memuji-Mu karena Engkau telah menopangku di sepanjang hidupku. Berilah aku iman untuk percaya bahwa Engkau selalu menyertaiku.

Allah membawa kita ke tempat-tempat baru yang penuh anugerah di saat kita percaya kepada-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 45-46; 1 Tesalonika 3

Aman dalam Tangan-Nya

Jumat, 12 Oktober 2018

Aman dalam Tangan-Nya

Baca: Yesaya 40:9-11

40:9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!”

40:10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.

40:11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya. —Yesaya 40:11

Aman dalam Tangan-Nya

Cuaca di luar sangat tidak bersahabat, dan pemberitahuan yang saya terima di ponsel memperingatkan saya akan kemungkinan terjadinya banjir bandang. Banyak sekali kendaraan diparkir di lingkungan tempat tinggal saya selagi para orangtua dan yang lainnya menjemput anak-anak di tempat pemberhentian bus sekolah. Saat bus tiba, hujan pun sudah turun. Saat itulah saya mengamati seorang wanita keluar dari mobil dan mengambil payung dari bagasi. Ia menjemput seorang anak kecil dan memastikannya terlindungi dari hujan sampai mereka masuk kembali ke dalam mobil. Itulah gambaran yang indah akan pengasuhan dan perlindungan dari orangtua yang mengingatkan saya pada pemeliharaan Bapa Surgawi kita yang sempurna.

Nabi Yesaya menubuatkan jatuhnya hukuman atas ketidaktaatan yang disusul dengan hari-hari yang lebih baik bagi umat Allah (Yes. 40:1-8). Kabar baik yang diserukan dari atas gunung yang tinggi (ay.9) meyakinkan bangsa Israel akan dahsyatnya kehadiran Allah dan kelembutan perhatian-Nya. Kabar baiknya bagi mereka, dan kita: karena Allah kuat dan berkuasa, kita tidak perlu merasa takut (ay.9-10). Termasuk dalam kabar baik itu adalah berita tentang perlindungan Tuhan, seperti yang diberikan oleh gembala (ay.11): anak-anak domba yang rentan akan merasa aman di tangan Sang Gembala; induk-induk domba dituntun-Nya dengan lemah lembut.

Di dunia yang tidak selalu nyaman ini, gambaran akan rasa aman dan pemeliharaan ilahi itu mendorong kita untuk memandang dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan dengan segenap hati akan mendapatkan rasa aman dan kekuatan yang diperbarui di dalam Dia (ay.31). —Arthur Jackson

Ya Bapa, di dunia yang sering membuat kami merasa terancam ini, kami terhibur oleh pemeliharaan-Mu yang penuh kasih—di dalam dan melalui Tuhan kami, Yesus Kristus.

Alangkah bahagianya, Allah memelihara kita dengan sempurna!

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 39-40; Kolose 4

Artikel Terkait:

Berlari Menuju Masa Depan