Posts

Singa yang Mengintai

Rabu, 2 Maret 2016

Singa yang Mengintai

Baca: Bilangan 14:1-9

14:1 Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.

14:2 Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!

14:3 Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?”

14:4 Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.”

14:5 Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.

14:6 Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,

14:7 dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.

14:8 Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

14:9 Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”

Tuhan menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. —Bilangan 14:9

Singa yang Mengintai

Ketika saya masih kecil, Ayah suka “menakut-nakuti” kami dengan bersembunyi di balik semak-semak dan mengaum seperti singa. Meski kami tinggal di pedesaan Ghana di dekade 1960-an, hampir mustahil seekor singa sungguhan dapat mengendap dan mendekati kami. Saya dan kakak biasanya hanya tertawa, lalu mencari-cari sumber auman itu dengan gembira, karena itu tandanya kami bisa bermain bersama Ayah.

Suatu hari, seorang teman datang berkunjung. Ketika bermain, kami mendengar auman yang tidak asing itu. Saya dan kakak sudah mengenal suara Ayah—auman itu hanyalah ancaman kosong. Namun, teman kami itu kaget, menjerit, dan kabur. Lucunya, kami ikut kabur bersamanya. Ayah merasa bersalah karena telah membuatnya ketakutan. Saya dan kakak pun belajar untuk tidak terpengaruh oleh kepanikan orang lain.

Kaleb dan Yosua tidak terpengaruh oleh kepanikan orang lain. Saat Israel bersiap memasuki Tanah Perjanjian, Musa mengutus 12 orang untuk mengintai wilayah itu. Semua pengintai sepakat bahwa wilayah itu indah, tetapi 10 dari mereka memusatkan perhatian pada hambatan yang ada dan mengecilkan hati seluruh bangsa (Bil. 13:27-33). Kepanikan pun merebak di antara mereka (14:1-4). Hanya Kaleb dan Yosua yang dengan tepat menilai situasi saat itu (ay.6-9). Keduanya tahu pengalaman pendahulu mereka dan percaya bahwa Allah akan membuat mereka berhasil.

Sejumlah bahaya memang memberikan ancaman nyata, tetapi ada pula ancaman kosong. Meski demikian, sebagai pengikut Yesus, kita dapat mempercayai Dia, karena kita telah mengenal suara-Nya dan mempercayai perbuatan-Nya. —Tim Gustafson

Ya Tuhan, kami menghadapi banyak ketakutan hari ini. Tolonglah kami membedakan antara bahaya nyata dengan ancaman kosong, dan mempercayai Engkau sepenuhnya. Kiranya kami hidup bukan dalam ketakutan, melainkan dalam iman.

Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda. —Amsal 28:1

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 26-27; Markus 8:1-21

Pemandangan dari Atas Gunung

Minggu, 21 Februari 2016

Pemandangan dari Atas Gunung

Baca: Filipi 4:8-13

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

4:10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas. —Kolose 3:1

Pemandangan dari Atas Gunung

Lembah tempat tinggal kami di negara bagian Idaho bisa menjadi sangat dingin pada musim dingin. Awan dan kabut menyelimuti tanah, memerangkap udara beku di bawah lapisan udara yang lebih hangat di atasnya. Namun kamu dapat mencapai bagian di atas lembah tersebut. Ada jalan terdekat yang mengitari sisi dari Shafer Butte, sebuah gunung setinggi 2.200 m yang menjulang dari tengah lembah. Setelah berkendara beberapa menit, kamu mulai keluar dari kabut dan segera merasakan kehangatan dan cerahnya sinar matahari. Kamu dapat melongok ke bawah pada awan-awan yang menutupi lembah dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Terkadang hidup juga seperti itu. Keadaan di sekitar kita seakan dilingkupi kabut yang tak dapat ditembus oleh sinar matahari. Namun demikian, iman menjadi jalan bagi kita untuk mencapai bagian di atas lembah—sarana kita dalam mencari “perkara yang di atas” (Kol. 3:1). Ketika kita beriman, Tuhan akan memampukan kita untuk bangkit mengatasi keadaan yang ada, dan kita memperoleh keberanian dan ketenangan untuk menghadapi hari yang akan kita jalani. Rasul Paulus menulis: “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Flp. 4:11).

Kita dapat mengatasi kesesakan dan kemurungan kita. Kita dapat berdiam sejenak dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, karena Kristus telah memberikan kekuatan kepada kita (Flp. 4:13). —David Roper

Ya Tuhan, meskipun aku tidak selalu melihat-Mu atau melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, aku tetap percaya pada kasih-Mu kepadaku.

Iman dapat mengatasi ketakutanmu.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 26-27; Markus 2

Empat Cara untuk Memandang

Sabtu, 20 Februari 2016

Empat Cara untuk Memandang

Baca: Mazmur 77:1-16

77:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Asaf.

77:2 Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah, supaya Ia mendengarkan aku.

77:3 Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan.

77:4 Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku. Sela

77:5 Engkau membuat mataku tetap terbuka; aku gelisah, sehingga tidak dapat berkata-kata.

77:6 Aku memikir-mikir hari-hari zaman purbakala, tahun-tahun zaman dahulu aku ingat.

77:7 Aku sebut-sebut pada waktu malam dalam hatiku, aku merenung, dan rohku mencari-cari:

77:8 “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?

77:9 Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun?

77:10 Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?” Sela

77:11 Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.”

77:12 Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.

77:13 Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.

77:14 Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?

77:15 Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.

77:16 Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf. Sela

Aku hendak menyebut-nyebut segala perkerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. —Mazmur 77:13

Empat Cara untuk Memandang

Ketika ibadah baru akan dimulai, Joan teringat pada sejumlah pergumulan besar menyangkut anak-anaknya. Saking lelahnya, ia ingin “mengundurkan diri” saja sebagai ibu. Lalu sang pengkhotbah mulai berbicara dan membangkitkan semangat jemaat yang merasa ingin menyerah. Ada empat pemikiran yang didengar Joan pagi itu yang mendorongnya terus maju:

Pandang ke atas dan berdoalah. Asaf berdoa sepanjang malam dan mengungkapkan perasaannya bahwa Allah telah melupakan dan mengabaikannya (Mzm. 77:10-11). Kita dapat menyatakan segalanya kepada Allah dan jujur tentang perasaan kita. Kita bisa meminta apa saja kepada-Nya. Jawaban-Nya mungkin tidak langsung diberikan atau tidak dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi Dia tidak akan menegur kita karena meminta kepada-Nya.

Pandang ke belakang dan ingatlah karya Allah di masa lalu untukmu dan orang lain. Asaf tidak hanya berbicara kepada Allah tentang deritanya; ia juga mengingat-ingat kuasa dan karya ajaib Allah baginya dan bagi umat-Nya. Ia menulis: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (ay.12).

Pandang ke depan. Pikirkan kebaikan yang mungkin akan dihasilkan oleh situasi tersebut. Apa yang bisa kamu pelajari? Apakah yang mungkin hendak Allah lakukan? Karena jalan Allah itu sempurna, apakah yang bisa kamu pastikan akan dilakukan oleh-Nya? (ay.14)

Pandang kembali. Lihatlah keadaanmu sekarang dengan mata iman. Ingatkan dirimu sendiri bahwa Allah itu ajaib dan dapat dipercaya (ay.15).

Kiranya ide-ide di atas menolong kita mempunyai cara pandang yang benar dan menguatkan iman kita di dalam Yesus. —Anne Cetas

Tuhan, aku sulit untuk tidak melihat masalahku. Tolong aku agar tidak kecewa dan menjadi lesu, tetapi melihat Engkau hadir di tengah-tengah masalahku.

Masalah merupakan kesempatan kita untuk menemukan solusi Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 25; Markus 1:23-45

Seruan Iman

Jumat, 19 Februari 2016

Seruan Iman

Baca: Habakuk 3:16-19

3:16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.

3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Sekalipun pohon ara tidak berbunga . . . aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN. —Habakuk 3:17-18

Seruan Iman

Kabar itu membuat mati rasa. Air mata yang mengalir deras tak lagi dapat ditahannya. Benaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan ketakutan nyaris menenggelamkan dirinya. Hidupnya yang selama ini baik-baik saja, tiba-tiba porak-poranda dan berubah selamanya tanpa pemberitahuan.

Tragedi dapat terjadi dalam berbagai bentuk—kepergian orang terkasih, penyakit, kehilangan harta, atau kehilangan mata pencaharian. Tragedi dapat menimpa siapa pun dan kapan pun.

Meskipun Nabi Habakuk mengetahui bahwa tragedi akan terjadi, rasa takut tetap menyergap hatinya. Di saat Habakuk menantikan waktunya bangsa Babel akan menyerang kerajaan Yehuda, hatinya gentar, bibirnya menggigil, dan kakinya pun gemetar (Hab. 3:16).

Ketakutan adalah emosi yang wajar di saat tragedi melanda, tetapi ketakutan tidak harus melumpuhkan kita. Pada saat kita tidak mengerti tentang pencobaan yang sedang kita alami, kita dapat mengingat kembali bagaimana Allah telah bekerja di masa lalu (ay. 3-15). Itulah yang dilakukan Habakuk. Mengingat karya Allah memang tidak mengenyahkan rasa takutnya, tetapi ia memperoleh keberanian untuk terus melangkah dengan memilih untuk terus memuliakan Tuhan (ay.18).

Allah kita telah membuktikan kesetiaan-Nya. Dari tahun ke tahun, Dia selalu menyertai kita. Karena karakter-Nya yang tidak berubah, ketika kita takut, kita dapat terus menyerukan iman kita dengan mantap, “Allah Tuhanku itu kekuatanku!” (ay.19). —Poh Fang Chia

Ya Tuhan, ketika duniaku seakan dijungkirbalikkan, tolonglah aku untuk mempercayai-Mu. Selama ini Engkau selalu setia kepadaku.

Kita dapat belajar mempercayai Allah pada saat kita mengalami pencobaan.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 23-24; Markus 1:1-22

Photo credit: orangegreenblue / Foter / CC BY-NC

Sebelum Meminta Tolong

Kamis, 28 Januari 2016

Sebelum Meminta Tolong

Baca: Mazmur 18:1-7

18:1 Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul.

18:2 Ia berkata: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!

18-3 Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

18-4 Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

18-5 Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

18-6 tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.

18-7 Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.

Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN. —Mazmur 18:7

Sebelum Meminta Tolong

Sebagai seorang ibu dari anak-anak yang masih kecil, terkadang saya mudah menjadi panik. Apabila putra saya terkena alergi atau putri saya tiba-tiba terserang batuk, reaksi pertama saya adalah menelepon ibu saya dan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk menolong mereka.

Ibu memang penolong yang hebat, tetapi ketika saya membaca Mazmur, saya diingatkan betapa seringnya kita membutuhkan pertolongan yang tidak dapat diberikan oleh manusia. Di Mazmur 18, Daud berada dalam bahaya yang sangat besar. Dalam ketakutannya karena nyaris mati dan sangat menderita, ia pun berseru kepada Tuhan.

Daud dapat berkata, “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN” karena ia mengerti bahwa Allah adalah bukit batu, kubu pertahanan, dan penyelamatnya (ay.2-3). Allah adalah perisainya, keselamatannya, dan kekuatannya. Mungkin kita tidak dapat memahami pujian Daud karena kita belum pernah mengalami pertolongan Allah. Mungkin kita cenderung mencari pertolongan manusia sebelum datang kepada Allah untuk menerima nasihat dan pertolongan-Nya.

Tentunya Allah menempatkan orang-orang dalam hidup kita untuk menolong dan menghibur kita. Namun, marilah kita juga senantiasa ingat untuk berdoa. Allah akan mendengar kita. Daud menyanyikan, “Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (ay.7). Ketika kita datang kepada Allah, kita ikut menyanyikan pujian Daud dan mengalami Dia sebagai bukit batu, kubu pertahanan, dan penyelamat kita.

Lain kali ketika kamu mencari pertolongan dari orang lain, ingatlah juga untuk berdoa. —Keila Ochoa

Ya Tuhanku, tolonglah aku untuk mengingat bahwa Engkaulah penyelamatku, dan Engkau selalu mendengar seruanku.

Doa menjadi jembatan antara kepanikan dan kedamaian.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 19-20; Matius 18:21-35

Photo credit: Foter / CC BY-NC-ND

Apakah Ini?

Rabu, 27 Januari 2016

Apakah Ini?

Baca: Keluaran 16:11-31

16:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

16:12 “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

16:13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

16:18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

16:19 Musa berkata kepada mereka: “Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.”

16:20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka.

16:21 Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu.

16:22 Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa.

16:23 Lalu berkatalah Musa kepada mereka: “Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi.”

16:24 Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya.

16:25 Selanjutnya kata Musa: “Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah sabat untuk TUHAN, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang.

16:26 Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu.”

16:27 Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya.

16:28 Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku?

16:29 Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.”

16:30 Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh.

16:31 Umat Israel menyebutkan namanya: manna; warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu.

Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” —Keluaran 16:15

Apakah Ini?

Ibu saya pernah mengajar Sekolah Minggu selama puluhan tahun. Suatu waktu, ia ingin menjelaskan tentang bagaimana Allah menyediakan makanan bagi bangsa Israel di tengah padang gurun. Untuk membuat cerita tersebut lebih hidup, ia membuat sesuatu yang melambangkan “manna” bagi anak-anak di kelasnya. Ia memotong roti kecil-kecil dan melapisinya dengan madu. Resepnya diilhami oleh penjelasan Alkitab tentang manna yang menyatakan “rasanya seperti rasa kue madu” (Kel. 16:31).

Ketika bangsa Israel pertama kali memakan roti Allah dari surga, roti itu muncul di atas tanah di luar kemah mereka seperti embun beku. “Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: ‘Apakah ini?’” (ay.15). Kata Ibrani man berarti “apa”, maka mereka menyebutnya manna. Mereka mendapati bahwa mereka dapat menggiling manna itu dan membentuknya menjadi roti bundar atau memasaknya dalam periuk (Bil. 11:7-8). Apa pun manna itu, kemunculannya sangat mengherankan (Kel. 16:4,14), konsistensinya unik (ay.14), dan masa kadaluarsanya pendek (ay. 19-20).

Terkadang Allah memenuhi kebutuhan kita dengan cara-cara yang mengejutkan. Tindakan-Nya itu mengingatkan kita bahwa Allah tidaklah dibatasi oleh harapan kita, dan kita tidak dapat memperkirakan apa yang hendak Dia lakukan. Sementara kita menanti, lebih baik kita memusatkan perhatian kita pada diri-Nya daripada pada apa yang kita pikir harus dilakukan-Nya. Sikap tersebut akan memampukan kita mengalami sukacita dan kepuasan dalam hubungan kita dengan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Allah, tolong aku untuk menerima dengan terbuka pemeliharaan-Mu dan cara yang Engkau pilih untuk melakukannya. Terima kasih karena Engkau memperhatikanku dan mencukupkan kebutuhanku.

Mereka yang berserah pada pemeliharaan Allah akan selalu dipuaskan.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16-18; Matius 18:1-20

Berpeganglah!

Selasa, 12 Januari 2016

Berpeganglah!

Baca: Wahyu 3:7-13

3:7 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

3:8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

3:9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.

3:10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.

3:11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

3:12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.

3:13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu. —Wahyu 3:11

Berpeganglah!

Seorang teman saya yang bekerja sebagai koboi dan tumbuh besar di sebuah peternakan di Texas mempunyai sejumlah ungkapan yang menarik. Salah satu yang saya sukai adalah “Kopi enak tidak butuh banyak air.” Dan ketika ada seorang koboi yang berusaha menjerat seekor lembu jantan muda yang terlalu besar untuk dikendalikannya atau tengah mengalami masalah, teman saya akan berseru, “Pegang erat-erat apa yang sedang kamu pegang!” yang berarti, “Bantuan akan segera tiba! Jangan menyerah!”

Dalam kitab Wahyu, kita membaca suratsurat yang ditujukan kepada “ketujuh jemaat yang di Asia Kecil” (Pasal 2-3). Pesan-pesan dari Allah itu diwarnai dengan dorongan, teguran, dan tantangan, dan surat-surat itu juga berbicara kepada kita di masa kini, sama seperti kepada para penerimanya di abad pertama.

Dalam surat-surat tersebut, kita menemukan frasa seperti berikut sebanyak dua kali, “Peganglah apa yang ada padamu.” Tuhan mengatakan kepada jemaat di Tiatira, “Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang” (2:25). Dan kepada jemaat di Filadelfia, Dia berkata, “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu” (3:11). Di tengah-tengah pencobaan dan perlawanan yang hebat, orang-orang percaya itu terus bergantung pada janji Allah dan bertekun dalam iman.

Di tengah keadaan yang sulit dan kepedihan menekan sukacita kita, Yesus berseru kepada kita, “Peganglah erat-erat apa yang sedang kamu pegang! Bantuan akan segera tiba!” Dan dengan janji tersebut, kita dapat bertekun dalam iman dan tetap bersukacita. —David McCasland

Tuhan, kami bersandar pada janji-Mu, berharap pada kedatangan-Mu kembali, dan bertekun dengan keyakinan teguh, sembari berkata, “Amin! Datanglah, Tuhan Yesus!”

Janji kedatangan Kristus yang kedua kali memanggil kita untuk bertekun dalam iman.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29-30; Matius 9:1-17

Anjing Penerjun Payung

Jumat, 11 Desember 2015

Anjing Penerjun Payung

Baca: Mazmur 143:7-12

143:7 Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur.

143:8 Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku.

143:9 Lepaskanlah aku dari pada musuh-musuhku, ya TUHAN, pada-Mulah aku berteduh!

143:10 Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!

143:11 Hidupkanlah aku oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, keluarkanlah jiwaku dari dalam kesesakan demi keadilan-Mu!

143:12 Binasakanlah musuh-musuhku demi kasih setia-Mu, dan lenyapkanlah semua orang yang mendesak aku, sebab aku ini hamba-Mu!

Sebab kepada- Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku. —Mazmur 143:8

Anjing Penerjun Payung

Saya sangat kagum dengan kisah tentang anjing-anjing penerjun payung (paradogs) dari masa Perang Dunia II. Dalam persiapan menjelang serangan D-Day (6 Juni 1944), pasukan Sekutu membutuhkan ketajaman indra penciuman dari anjing untuk mengendus letak ranjau dan memperingatkan pasukan akan bahaya yang mendekati mereka. Satu-satunya cara agar anjing-anjing itu dapat menyelinap ke garis pertahanan musuh adalah dengan terjun payung. Namun secara naluriah, anjing takut melakukannya, dan jujur saja, manusia pun demikian. Meskipun demikian, setelah dilatih berminggu-minggu, anjing-anjing itu belajar mempercayai pawang-pawangnya untuk berani melompat saat diperintahkan.

Saya membayangkan adakah di antara kita yang mempercayai Tuhan kita untuk mau melakukan hal-hal yang tidak akan pernah kita lakukan sendiri atau yang membuat kita takut. Secara natur, mungkin kita tidak mudah bermurah hati, bersikap sabar, atau rela mengampuni orang yang menjengkelkan kita. Namun, Yesus memerintahkan agar kita percaya kepada-Nya sedemikian rupa sehingga kita rela melakukan hal-hal yang mungkin sulit bagi kita, tetapi yang akan memperluas kerajaan-Nya. Kita mau untuk berkata, “Sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku” (Mzm 143:8).

Anjing-anjing penerjun payung itu sering memperoleh medali penghargaan untuk keberanian mereka. Saya percaya kelak kita pun akan mendengar ucapan, “Baik sekali,” karena kita telah mempercayai Tuhan kita untuk melangkah saat Dia berkata, “Pergilah!” —Joe Stowell

Apakah Allah sedang memintamu untuk melakukan hal-hal yang kamu takuti? Maukah kamu mempercayai-Nya untuk memimpin dan menyertaimu?

Percayalah kepada Yesus untuk menunjukkan bagaimana kamu dapat dipakai oleh-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 5-8; Wahyu 2

Photo credit: vissago / Foter / CC BY-NC

Hamba yang Setia

Senin, 7 Desember 2015

Hamba yang Setia

Baca: Yosua 14:6-15

14:6 Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: “Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea.

14:7 Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya.

14:8 Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.

14:9 Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.

14:10 Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;

14:11 pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.

14:12 Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN.”

14:13 Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya.

14:14 Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.

14:15 Nama Hebron dahulu ialah Kiryat-Arba; Arba ialah orang yang paling besar di antara orang Enak. Dan amanlah negeri itu, berhenti berperang.

Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. —1 Petrus 4:11

Hamba yang Setia

Madaleno adalah seorang tukang bangunan. Tiap Senin sampai Kamis, ia membangun tembok dan memperbaiki atap rumah. Ia seorang yang pendiam, dapat diandalkan, dan pekerja keras. Kemudian tiap Jumat sampai Minggu, ia pergi ke kawasan pegunungan untuk mengajarkan firman Tuhan. Madaleno cakap berbicara dalam bahasa Nahuatl (salah satu dialek di Meksiko) sehingga ia dapat dengan mudah menceritakan kabar baik tentang Yesus kepada penduduk di wilayah itu. Di usia 70 tahun, ia masih menggunakan kedua tangannya untuk bekerja membangun rumah, sekaligus juga ia bekerja membangun keluarga Allah.

Nyawa Madaleno telah beberapa kali terancam. Ia pernah tidur beratapkan langit dan hampir mati karena kecelakaan mobil dan terjatuh. Ia juga pernah diusir dari beberapa kota. Namun Madaleno meyakini bahwa Allah telah memanggilnya untuk melakukan apa yang ia lakukan, dan ia melayani dengan senang hati. Dengan keyakinan bahwa ada jiwa-jiwa yang membutuhkan Tuhan, ia pun bersandar kepada Allah untuk memperoleh kekuatan yang ia perlukan.

Kesetiaan Madaleno mengingatkan saya akan kesetiaan Kaleb dan Yosua, dua dari sekelompok pengintai yang diutus Musa untuk mengintai Tanah Perjanjian dan melaporkan keadaannya kepada bangsa Israel (Bil. 13; Yos. 14:6-13). Para pengintai lainnya takut kepada penduduk yang tinggal di sana, tetapi Kaleb dan Yosua mempercayai Allah dan meyakini bahwa Dia akan menolong mereka untuk menaklukkan tanah tersebut.

Pekerjaan yang dipercayakan kepada kita mungkin berbeda dengan yang dipercayakan kepada Madaleno, atau kepada Kaleb dan Yosua. Akan tetapi, kita bisa mempunyai keyakinan yang sama teguhnya dengan mereka. Untuk menjangkau sesama, kita tidak mengandalkan diri kita sendiri, melainkan mengandalkan kekuatan dari Allah kita. —Keila Ochoa

Di mana Allah menempatkanmu untuk melayani? Apakah kamu setia?

Kita bertumbuh semakin kuat ketika kita melayani Tuhan.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5-7; 2 Yohanes