Posts

Sharing: Jika Kamu Jadi Gubernur, Masalah Apa yang Pertama-tama akan Kamu Tangani?

Sharing-WarungSaTeKaMu-201511-B

Jeritan Bisu Aylan

Penulis: Joanna Hor
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Aylan’s Silent Scream

Aylan-Silent-Scream

Sebuah foto yang melukiskan seribu kata: foto seorang bocah laki-laki Suriah berusia 3 tahun, tertelungkup di pinggir sebuah pantai di Turki. Bocah itu bernama Aylan Kurdi.

Minggu lalu, dunia digemparkan oleh gambar jasad Aylan yang tersapu ombak dan terdampar di pantai Bodrum. Ia tewas tenggelam—bersama dengan kakak laki-lakinya yang berusia 5 tahun dan ibunya yang berusia 35 tahun—setelah perahu karet kecil mereka terbalik dihempas ombak laut Mediterania. Hari itu tanggal 2 September, dan mereka sedang dalam perjalanan mengungsi dari Turki menuju Yunani. Ayah Aylan adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih bertahan hidup.

Potret jasad mungil yang membuat hati miris itu membuat krisis pengungsi Suriah yang telah terjadi selama bertahun-tahun menjadi begitu dekat dan nyata bagi semua orang. Fotografer dari kantor berita Dogan di Turki yang memotret jasad Aylan menggambarkan bagaimana darahnya terasa “beku” saat melihat bocah itu tertelungkup di pantai, dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah “menyuarakan jeritannya kepada dunia”.

Kematian Aylan jelas bukan sekadar sebuah tragedi yang kebetulan terjadi. Sebagaimana yang dikemukakan banyak pengamat, peristiwa ini menunjukkan dampak dari sikap yang pasif dan tidak peduli dari banyak negara yang lebih kaya, namun enggan membantu jutaan pengungsi yang keluar dari tanah air mereka di Timur Tengah dan Afrika karena perang untuk menemukan kehidupan baru di tempat lain.

Sejumlah negara di wilayah sekitar Suriah dikritik habis-habisan karena memberikan sangat sedikit bantuan—seperti menyediakan tempat penampungan—bagi para pengungsi. Beberapa negara beralasan bahwa arus besar pengungsi akan mengacaukan keseimbangan ras dan agama dalam populasi mereka. Seorang pemimpin gereja bahkan dikabarkan sempat menolak untuk menampung pengungsi dengan alasan tidak ingin dianggap terlibat dalam “perdagangan manusia”.

Namun, kematian Aylan tampaknya telah mengubah hati banyak orang. Foto-foto Aylan telah meningkatkan kesadaran publik tentang situasi di Suriah dan menggalang banyak dukungan untuk para pengungsi dari berbagai wilayah Eropa. Inggris Raya, misalnya, telah mengatakan bahwa mereka akan menerima lebih banyak pengungsi Suriah, sementara Paus Francis mendorong institusi-institusi Katolik di seluruh Eropa untuk memberikan tempat penampungan bagi para pengungsi itu. Di dunia maya, perhatian masyarakat banyak tampak jelas dengan membanjirnya tagar #refugeeswelcome di Twitter.

Tanggapan luas yang diberikan terhadap krisis kemanusiaan yang memilukan hati tersebut sungguh menggugah semangat. Kita diingatkan bahwa masalah yang ada hanya bisa dituntaskan bila ada kerjasama dari berbagai pihak—dan bahwa gereja seharusnya berada di garis depan dalam perjuangan ini.

Yakobus 1:27 memberitahu kita, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Jika kamu adalah seorang Kristen yang tinggal di salah satu negara Eropa yang telah berkomitmen untuk menerima para pengungsi, maukah kamu ikut ambil bagian memberikan bantuan sesuai dengan kapasitasmu?

Bagaimana bila kamu tinggal puluhan ribu kilometer jauhnya dari lokasi para pengungsi, apa yang dapat kamu lakukan? Mungkin ini pertama kalinya kamu mendengar bahwa ada krisis di Suriah. Ambillah waktu beberapa menit untuk membaca berita tentang apa yang terjadi di sana. Mungkin kamu akan tergerak mendoakan agar ada perdamaian di Suriah, mendoakan agar penganiayaan yang terjadi di sana dapat berakhir, dan agar Tuhan memberi kekuatan bagi orang-orang yang tengah bekerja keras memberikan bantuan bagi para korban.

Atau, mungkin kamu akan tergugah untuk mencari tahu apa saja upaya penanganan masalah pengungsi yang sedang dilakukan di sekitar tempat tinggalmu dan bagaimana kamu dapat mendukung pekerjaan kemanusiaan itu dengan berbagai cara, misalnya dengan menyumbangkan uang, menggalang dana, menjadi sukarelawan, menyebarluaskan informasi, dan sebagainya.

Semoga jeritan bisu Aylan tidak menjadi sia-sia.

Sumber Foto: Reporter ABC News, Muhammad Lila

 
Krisis Pengungsi di Suriah
Jutaan orang telah meninggalkan kampung halaman mereka karena perang saudara di Suriah dan munculnya ISIS. Jumlah pengungsi yang mencapai sekitar 12 juta jiwa ini disebut-sebut sebagai bencana kemanusiaan terburuk dalam generasi kita.

Perang saudara Suriah dimulai pada awal 2011, setelah kekerasan yang dilakukan rezim pemerintah menuai berbagai aksi protes dari masyarakat yang menentang pemerintah. Separuh dari 12 juta orang yang harus mengungsi akibat perang itu diyakini adalah anak-anak.

Selama beberapa tahun terakhir, ratusan ribu pengungsi telah berusaha menyeberangi Timur Tengah menuju wilayah barat, dengan harapan dapat memulai kehidupan yang baru di Eropa.