Posts

Ini Pesan Tuhan untuk Kita Semua di Tahun 2021

Oleh Minerva Siboro

Natal dan Tahun Baru yang belum lama kita rayakan terasa berbeda. Semua orang kini memakai masker dan selalu mencuci tangan. Maklumlah, adanya virus yang baru saja ditemukan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi banyak orang. Mungkin saja, salah satu di antara kita yang membaca artikel ini mengalami “kehilangan” akibat pandemi ini. Banyak kicau tweet dari twitter yang mengatakan bahwa tahun 2020 hanyalah bulan Januari dan Februari saja, sedangkan sisanya hanyalah rebahan, karena akhirnya tidak terasa sudah dipenghujung tahun lagi. Banyak orang yang berharap bahwa hidup akan semakin baik di tahun 2020 yang cantik, tetapi malangnya tahun 2020 tidaklah menjadi tahun cantik seperti yang diharapkan oleh banyak orang.

Aku terlahir dari keluarga Batak, dan kami punya tradisi setiap akhir tahun, yaitu Mandok Hata, artinya menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh anggota keluarga. Biasanya dimulai dari adik bungsu lalu sulung, kemudian diakhiri oleh orang tua. Pesan yang disampaikan beragam, seperti ucapan salam selamat Natal dan tahun baru, permintaan maaf selama satu tahun berjalan mungkin ada perilaku yang tidak baik, meminta doa restu untuk resolusi di tahun yang baru, dan harapan-harapan yang baik untuk saudara/i serta orang tua.

Pada saat giliran orang tuaku yang Mandok hata, suasana menjadi sedih. Hatiku memang hancur, bahkan air mata pun jatuh karena aku tak kuasa lagi membendungnya. Papa bercerita bagaimana sulitnya menjalani tahun 2020. Profesi Papaku adalah seorang pedagang, sedangkan mamaku tidak bekerja. Pandemi membuat aktivitas jual-beli menurun, sehingga penghasilan pun ikut menurun. Aku sedih karena aku tak bisa banyak membantu. Namun, hal yang membuat air mataku jatuh adalah ketika Papaku berkata, “Tapi sejauh ini Tuhan selalu mencukupkan (menyediakan)”. Mamaku juga berkata, “Tiap malam kami selalu berdoa dan menangis di hadapan Tuhan, supaya kalian sehat, supaya Tuhan selalu jaga (menyertai) kalian yang jauh dari kami.”

Dari dua kalimat yang diucapkan oleh kedua orang tuaku, kini aku mengerti pesan apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui tahun 2020. Jangan lupakan! Bahwa Allah adalah Sang Penyedia dan Sang Penyerta. Meski terasa suram, tahun 2020 adalah tahun di mana kita belajar melihat bahwa Allah sungguh-sungguh menyediakan dan sungguh-sungguh menyertai. Ia tetap berotoritas dan berdaulat meski di tengah-tengah pandemi yang menakutkan. Tuhan juga ingin mengingatkan ciptaan-Nya, bahwa banyak hal di bawah langit adalah sia-sia, tetapi penyertaan Tuhan itulah yang paling penting karena dengan bersama Allah, segala sesuatu yang kita butuhkan dicukupkan-Nya.

Aku teringat pada sebuah lagu yang berjudul “God Will Provide”, liriknya yang sangat menyentuh membuatku semakin kuat untuk terus berharap di dalam Tuhan sepanjang perjalanan 2021 ini.

The time has come to journey on and go where God leads me
And though the road may seem to long
I know God’s love will keep me
I may not know how the road will turn or where God will send me
So by Faith I’ll trust and with grace I’ll learn
God’s mighty hand will defend me
I may not see all the things that are waiting just ahead
But I know God’s watching over me
And in God’s strength I’ll stand
God will provide strength for journey
Bread for the morning and shelter for the night
God will provide hope for the weary
God will sustain me all the days of my life

Aku tahu bahwa kasih Tuhan menyertaiku. Aku tahu bahwa Tuhan menjagaku. Melalui kekuatan yang dari Tuhan, aku dapat berdiri tegak. Tuhan akan menyediakan! Allah sang Penyedia dan Allah sang Penyerta. Pada tahun 2021 yang datang ini pun, Allah tetap sang Penyedia, dan Allah tetap sang Penyerta. Aku mau berjalan terus bersama dengan-Nya.

Saat menulis ini, aku teringat pada kisah kepercayaan Abraham yang diuji oleh Allah. Aku sungguh-sungguh tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Abraham saat “harta” yang berharga baginya, yaitu anaknya, Ishak, yang sudah lama ia tunggu-tunggu, tetapi Tuhan memintanya untuk mempersembahkannya sebagai korban bakaran. “Sebenarnya mau Tuhan apa?” – mungkin itulah yang keluar dari dalam hatiku jika aku menjadi Abraham. Aku mengerti sekali bahwa pada sepanjang perjalanan tahun 2021 ini pun mungkin akan banyak situasi yang membuatku akan terus bertanya “Sebenarnya mau Tuhan apa?”

Benar sekali bahwa Ishak adalah harta yang berharga bagi Abraham, tetapi jauh melebihi itu semua, Abraham menunjukkan bahwa harta yang lebih berharga adalah ketaatan pada Firman Tuhan. Melalui ketaatanlah, kita dapat melihat bahwa Allah itu sang Penyedia, bahwa Allah itu sang Penyerta. Saat Ishak bertanya, “Di mana anak domba korban bakarannya?”, maka dengan Iman, Abraham menjawab bahwa Allah yang akan menyediakannya. Iman yang besar menunjukkan ketaatan kita kepada Tuhan (Kejadian 22:1-19). Ketaatan membawa kita pada kepercayaan bahwa Allah sang Penyedia dan Allah menyertai.

Jika pada tahun 2020, Tuhan mengingatkanku bahwa segala sesuatu tecukupkan (Allah menyediakan) dan Ia selalu menjagaku (Allah menyertai), maka pada tahun 2021, Tuhan mengingatkanku untuk semakin taat pada apa yang Ia telah “hidangkan” di mejaku. Begitu juga dengan semua orang yang membaca artikel ini. Mari belajar taat pada apa yang Tuhan telah “hidangkan” di meja pribadi milik kita. Ketaatan menunjukkan kualitas iman kita, apakah kita mau terus percaya dan berserah pada kehendak-Nya. Tuhan menyediakan, Tuhan menyertai! Terpujilah Tuhan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

2 Cara untuk Berhenti Membanding-bandingkan Diri Sendiri

Membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain seringkali berujung pada rasa kecewa dan tidak puas. Jika kita terjebak dalam jerat membanding-bandingkan diri, inilah dua cara untuk keluar.

Tembok Bata dari Jaring Laba-laba

Oleh Aryanto Wijaya

Alkisah ketika Perang Dunia II berlangsung di Pasifik, seorang marinir Amerika Serikat (AS) terpisah dari pasukannya. Berawal dari keterpisahan dan nyaris mati, sang marinir malah mendapati ‘mukjizat’ pertolongan. Tak diketahui siapa nama marinir tersebut, tetapi kemungkinan besar kisah ini terjadi di Saipan, salah satu pulau di Kepulauan Mariana.

Perang di Pasifik antara AS dengan Jepang jauh berbeda dengan palagan di Eropa. Tentara AS menghadapi medan berupa hutan belantara yang hawanya lembab, dan prajurit Jepang yang lebih memilih mati daripada menyerah. Tentara musuh memanfaatkan belantara sebagai tempat yang tepat untuk sembunyi dan menyerang tiba-tiba.

Ketika sang marinir terpisah dari pasukannya, dia mendaki ke bukit yang tanpa dia ketahui adalah teritori musuh. Langkahnya tetiba berhenti. Dia mendengar seorang prajurit Jepang berpatroli. Jika ketahuan, tentu kematian adalah jawabannya. Sang marinir lalu berusaha mencari tempat sembunyi. Tak jauh dari posisinya, dia melihat sebuah goa. Dia berdoa agar goa itu kosong, dan doanya pun terkabul.

Goa itu punya kedalaman yang lumayan, tetapi tetap saja pasukan musuh bisa sewaktu-waktu merangsek masuk. Cahaya matahari dari luar pun masuk dengan berlimpah ke dalam. Ini berbahaya. Prajurit jepang bisa dengan mudah melihat ada musuh di dalam goa. Dia pun berdoa kembali, memohon Tuhan memberikan tembok bata supaya prajurit musuh tak mampu melihatnya, atau tak bisa masuk ke dalam goa itu.

Bermenit-menit sang marinir memasang telinga, dengar-dengaran terhadap suara sekecil apa pun. “Krak…krak..” dia mendengar langkah kaki yang mematahkan ranting dan dedaunan kering. Itu langkah kaki pasukan Jepang! Lagi-lagi sang marinir berdoa agar Tuhan memberinya tembok bata, tapi tak ada yang terjadi. Tak mungkin ada pasukan marinir lain menolongnya, jadi dia pun menyiapkan senjata. Wajah pertama yang muncul di dalam goa akan dia tembak. Selama dia bersiaga, muncul seekor laba-laba besar. Laba-laba itu menjalin jaring persis di mulut goa. Menit demi menit, jaring itu bertambah besar dan besar, menutupi hampir seluruh mulut goa.

Sang marinir lantas tertawa, “Tuhan, aku perlu sebuah tembok bata dan Engkau mengirimkanku laba-laba?”

Tak lama menjelang, langkah kaki pasukan Jepang semakin dekat. Sang marinir bersembunyi di balik cerukan, sudah siap menembak sembari melihat bahwa sarang laba-laba itu nyaris selesai sempurna. Langit sedikit mendung sehingga pandangan ke dalam goa menjadi gelap. Pasukan Jepang yang telah tiba di depan goa berbicara. Mereka ragu untuk mengecek ke dalam karena jaring laba-laba tersebut. “Kita tidak perlu memeriksa goa ini. Tidak seorang pun dapat masuk ke dalam tanpa merusak jaring ini.” Benarlah apa yang prajurit itu katakan. Jika memang ada orang yang masuk ke dalam goa, tentu dia harus merobek jaring laba-laba tersebut. Mengira goa itu kosong, mereka pun lantas pergi.

Butuh beberapa saat bagi sang marinir untuk mencerna peristiwa itu. Dia tertegun dan mengucap syukur pada Tuhan untuk ‘tembok bata’ yang dibuat dari jaring laba-laba itu.

Keadaan tertekan, takut, dan hampir putus asa pun pernah dialami Habakuk pada zaman Perjanjian Lama. Habakuk mempertanyakan apakah Allah masih setia terhadap bangsa Israel yang hidup ditindas oleh orang Kasdim. Namun, di tengah keadaan yang sepertinya suram dan tak lagi ada harapan, Habakuk meneguhkan imannya dengan kembali berfokus pada Allah sumber keselamatan, kekuatan, dan keteguhan (Habakuk 3:18-19). Dari Habakuk kita dapat belajar bahwa siapa pun yang percaya kepada Allah tidak dikecewakan-Nya.

Kisah sang marinir juga sekelumit tentang Habakuk ini menggemakan pertanyaan di hati kita: berapa banyak ‘jaring laba-laba’ yang sudah Tuhan bentuk dalam hidup kita, tapi kita malah bersikap seperti sang marinir, sangsi dan merasa laba-laba itu cuma buang-buang waktu dan upaya tak berguna. Hingga kemudian, kita menyadari bahwa itu sesungguhnya adalah berkat yang terselubung. Ketika kita mengizinkan Tuhan bekerja dalam hidup kita, itu tidak berarti jalan kita akan jadi mulus dan nyaman. Setiap orang, bahkan orang Kristen sekalipun, akan mengalami penderitaan dan kesukaran dalam hidup mereka. Cobaan-cobaan itu bisa datang dalam rupa relasi yang karam, kehilangan pekerjaan, krisis keuangan, sakit keras, atau kematian orang yang dikasihi.

Kita lantas berfokus pada bahaya yang menyergap di luar dan mengabaikan ‘goa’ yang sesungguhnya cukup untuk menjadi tempat perlindungan kita. Kita getir, tak melihat bagaimana sesungguhnya Tuhan bekerja. Kita acuh tak acuh ketika Tuhan memberi cerukan dalam goa itu sebagai tempat kita bersembunyi, atau tatkala Dia membuat langit sedikit mendung agar kita diluputkan dari musuh. Kita pun mengernyit ketika seekor laba-laba dipakai Tuhan untuk menciptakan jaring yang lemah, tetapi mampu menahan kita dari kesukaran yang lebih besar.

Kisah marinir tersebut mungkin bisa dianggap sebagai kisah mukjizat, tapi bisa juga sebagai kisah kebetulan biasa. Tapi jaring laba-laba itu bisa jadi sungguh menyelamatkan. Setelah prajurit Jepang pergi, pasukan AS akan segera datang dan menyelamatkan dia.

Tuhan jauh lebih tahu apa yang kita butuhkan, dan terkadang apa yang Dia beri melampaui apa yang kita pikirkan. Sungguh, Tuhanlah “tempat perlindungan dan kubu pertahanan” kita (Mazmur 91:2).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Siapakah Yesus bagi Kita? Sebuah Perenungan Menyambut Natal

Para sahabat pernah bertanya kepadaku, “Mengapa kamu beragama Kristiani?” Pertanyaan itu perlu kujawab dengan bertutur tentang siapa sosok Yesus yang ingin kubagikan dalam tulisan panjang ini. Selamat membaca!

Di Mana Kita Bisa Mengetahui Pimpinan Tuhan?

Oleh Minerva Siboro, Tangerang

Setiap hari kita selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Entah itu kita harus bertahan atau pergi, kita dipaksa untuk memilih suatu keadaan yang sulit, yang mau tidak mau harus dipilih. Terkadang kita dengan yakin merasa bahwa pilihan kita merupakan hasil pimpinan Tuhan. Jadi, tidak salah apabila banyak orang yang yang menyalahkan Tuhan dalam hidupnya, karena merasa bahwa Tuhan telah memimpinnya ke jalan yang tidak benar. Atau mungkin kita marah, karena Tuhan seakan dengan sengaja membiarkan kita hidup tersesat. Bukankah Tuhan mengetahui segalanya, lalu mengapa Ia membiarkan kita untuk hidup di jalan yang yang seolah bukan pimpinan-Nya? Semua orang pasti pernah mengalami hal yang serupa—begitu juga dengan aku—tetapi tidak semua orang memiliki respons yang benar.

Sering sekali kita merasa bahwa Tuhan telah memimpin kita karena kita melihat kesan-kesan baik yang bisa kita terima. Tuhan bisa saja memakai petunjuk menggunakan kesan-kesan yang ada di dalam pikiran dan hati kita—toh, Dia adalah Allah yang berkuasa, yang dapat melakukan apa pun.

Tapi, pernahkah kita menyelidiki sungguhkah kesan yang baik itu pasti menunjukkan ke situlah jalan yang harus kita ambil? Bukankah iblis juga mampu untuk melakukan keajaiban-keajaiban demi membuat pandangan kita buram saat melihat Allah?

Iblis pernah mencoba untuk menggoda Tuhan Yesus dengan hal-hal yang ajaib yang bisa dilihat oleh mata (Matius 4:1-11, pencobaan di padang gurun). Sebenarnya cara kerja Iblis tidak pernah berubah, yaitu selalu memperlihatkan hal-hal yang ajaib dan indah, namun palsu untuk mengelabui kita dan membuat kita meninggalkan Tuhan.

Aku teringat akan sebuah lagu anak sekolah minggu “Firman Tuhan ada di hatiku ada di langkahku ada di hidupku selalu bertumbuh sirami jiwaku berbuah berbuah berbuah berbuah lebat”. Ternyata jawaban tentang bagaimana sebenarnya pimpinan Tuhan itu sudah lama kita ketahui, yaitu semenjak lagu ini dikumandangkan pada saat kita belajar firman Tuhan di sekolah Minggu. Untuk mengetahui pimpinan Tuhan dalam hidup kita hanya ada satu cara yaitu melalui Firman Tuhan yang terus bertumbuh di dalam diri kita. Jikalau Firman Tuhan itu ada di hati, di langkah, dan di hidup kita, maka apa pun yang menjadi keputusan atas pilihan yang kita pilih merupakan hasil dari kesan-kesan kuat yang ditimbulkan dari dalam hati kita melalui kerja Roh Kudus—bukan kesan-kesan palsu yang yang dikerjakan oleh tipu muslihat Iblis.

Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”.

Firman Tuhan merupakan landasan dan jawaban yang tepat untuk setiap pilihan yang kita pilih jikalau kita mau hidup di bawah pimpinan Tuhan. Itulah betapa pentingnya membaca Firman Tuhan setiap hari, bukan hanya di saat kita ingin mengetahui pimpinan Tuhan yang baik dan yang benar itu. Sama seperti tanaman yang disiram setiap hari akan tumbuh subur dan kita dapat melihat bunga yang cantik, begitu juga dengan orang-orang yang setiap hari mendengarkan Firman Tuhan. Mereka akan terus bertumbuh menghasilkan bunga yang cantik yaitu kehidupan yang indah di bawah pimpinan Tuhan. Hidup dibawah pimpinan Tuhan berarti memilih kesan-kesan yang kuat yang berasal dari pada Roh Kudus.

Richard L. Strauss dalam bukunya “Bagaimana memahami kehendak Tuhan” mengatakan Tuhan meletakkan hal-hal tertentu dalam pikiran kita ketika kita membaca Alkitab dengan hati terbuka dan kemauan kita diserahkan pada-Nya. Apa pun yang menjadi pengorbanan pribadi kita, dan kalau kita membuka Firman-Nya untuk mencari apa yang Dia ingin katakan kepada kita daripada hanya sekadar mencari apa yang ingin kita dapati, kita dapat percaya bahwa Dia akan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Dia sudah berjanji bahwa Firman-Nya akan menjadi terang bagi jalan kita.

Kebingungan akan timbul apabila terlalu banyak pilihan yang terbuka bagi kita. Apalagi saat ini kita menghadapi zaman relativisme, yaitu setiap orang dapat melakukan apa pun yang baik menurut pengertian mereka. Meskipun pola ini adalah pola dosa yang berulang dari zaman perbudakan sampai pelepasan bangsa Israel dari Mesir—hingga saat ini—belum tentu semuanya adalah kehendak Tuhan. Oleh karena itu, setiap keadaan harus dipertimbangkan di bawah penerangan Firman Tuhan, dalam sikap berdoa, disertai kepekaan terhadap kesaksian Roh Kudus di dalam batin kita, dan berdasarkan penyerahan total untuk mematuhi rencana-Nya daripada rencana kita sendiri (kutipan buku Bagaimana memahami kehendak Tuhan oleh Richard L. Strauss).

Aku menyelesaikan studiku di Pendidikan Biologi. Tetapi aku ditempatkan mengajar SD. Awalnya aku menangis karena aku tidak mengerti mengajar SD itu harus apa dan bagaimana. Di sisi lain juga karena kesombongan hatiku yang tidak mau mengajar SD dan merasa tidak percaya diri. Seolah-olah Tuhan tidak “mempercayakanku” untuk mengajar Biologi di senior (SMP-SMA) karena aku tidak layak. Tetapi saat itu tidak ada pilihan lain. Namun, aku meyakini itulah kehendak Tuhan. Tetapi, pilihan untuk menjalani kehendak Tuhan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pilihan untuk bertahan dan bertekun dalam kesetiaan serta sukacita menjalani panggilan pelayanan mengajar SD atau memilih pergi saja. Tetap mengajar demi menuntaskan masa penempatan karena beasiswa yang kuterima sewaktu kuliah, tetapi dengan setengah hati. Toh, semua ini akan berlalu dengan cepat. Keputusan yg aku ambil yaitu memilih untuk taat serta bersuka pada kehendak Tuhan. Saat ini aku mengajar kelas 1 SD dan aku menikmati setiap proses belajar yang Tuhan berikan padaku.

Beberapa minggu lalu, aku dipanggil oleh kepala sekolahku. Ternyata, mereka memberikanku kesempatan mengajar Biologi di SMA. Aku merasa bingung dan benar-benar tidak tau harus memilih apa. Aku teringat pada keinginanku dulu, tetapi aku juga sudah mencintai pengajaran dan anak-anak SD. Dengan pertimbangan yang terus aku gumulkan dan doakan, akhirnya aku menetapkan pilihanku. Bukan suatu keputusan yang mudah. Aku yakin dan percaya Tuhan sedang “mendidik” aku untuk mau terus merendahkan hatiku dan taat pada Kehendak-Nya.

Kini, aku mau terus berjalan di dalam kehendakNya, sampai selama-lamanya.

Mari menikmati setiap proses kehidupan kita dengan selalu mengejar hidup kudus di bawah pimpinan Tuhan. Kiranya apa pun yang kita pilih, biarlah hal itu merupakan pilihan yang tepat dan sudah dipertimbangkan di bawah penerangan firman Tuhan yang kita baca setiap hari.

Selamat bertumbuh dan menghasilkan buah. Tuhan Yesus menyertai kita sekalian.

Baca Juga:

Mengatasi Burnout di Tempat Kerja

WHO yang merupakan organisasi kesehatan dunia mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang dihasilkan stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola dengan baik. Bagaimana mengatasinya?

Kemarin Aku Gagal, Hari Ini Aku Memilih Mengucap Syukur

Oleh Novita Melianti Manurung, Bangka Belitung

Sore itu aku duduk di teras rumah sambil memandang air hujan yang membasahi tanah dan hampir menggenangi seluruh halaman rumah. Aku suka dengan hujan, tetesan airnya mengingatkanku akan Tuhan—sang pencipta hujan itu sendiri—serta bagaimana berkat-Nya melimpah bagiku. Hari belum terlalu sore sebenarnya, tapi karena hujan yang amat lebat dan pekatnya awan, membuat hari seolah sudah malam.

Hari itu pula, sudah enam minggu lamanya aku di rumah saja. Hari-hariku membosankan. Tak banyak kegiatan kulakukan. Dalam lamunanku sore itu, aku ingat pada kegagalan beberapa bulan lalu. Memori akan kegagalan itu membuat bibirku mengucap syukur. Aku tahu tak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan. Tuhan merencanakan semuanya dengan baik.

Tahun lalu, setelah aku lulus dari jurusan Tata Boga di salah satu universitas negeri di Medan, aku dan teman-teman Kelompok Tumbuh Bersama-ku (KTB) merintis usaha kuliner kecil-kecilan di Pulau Samosir, namun usaha kami cuma bertahan beberapa bulan saja. Awalnya kami menikmati prosesnya, tapi seiring waktu, pendapatan kami semakin menurun hingga kami pun kesulitan keuangan. Saat itu aku juga mengalami sakit yang sejak awal tahun 2019 semakin terasa. Aku sudah tiga kali ke klinik sebelum kami membuka usaha kuliner itu, namun belum ada kepastian mengenai penyakit apa yang sebenarnya aku derita.

Kami mencoba banyak cara supaya bisnis kami bisa bertahan karena modal besar sudah kami keluarkan. Kami coba buat menu baru yang menarik, lalu mempromosikannya ke orang-orang yang kami jumpai. Tapi, usaha itu tidak membuahkan hasil. Tabungan kami semakin menipis dan teman-temanku mulai pesimis untuk melanjutkan usaha ini. Ditambah lagi terjadi selisih paham dengan pemilik tempat yang kami sewa.

Mendengar kisah usahaku yang tak berhasil, orang tuaku menyuruhku untuk pulang saja ke kampung halaman supaya aku sekalian bisa berobat. Empat minggu kami bergumul, akhirnya aku dan teman-temanku sepakat menyudahi bisnis ini. Kami pulang ke Medan lalu berencana merintis usaha daring saja.

Tapi, lagi-lagi yang sudah kami rencanakan ternyata tak sesuai kenyataan. Usaha daring kami kembali terkendala saat kami mendaftarkan menu-menu.

“Sudah bagaimana prosesnya?” pertanyaan ini sering diajukan orang tua kami, tapi kami bingung mau menjawab apa. Berhari-hari kami menanti kepastian, tapi tak jelas pula.

Setiap hari di dalam doaku, aku bertanya apa sebenarnya yang Tuhan ingin kulakukan untuk aku kerjakan? Apa maksud dari semua ini? Jika dituliskan, ada banyak pertanyaanku kala itu. Namun aku tergerak untuk berdoa dan membaca Alkitab. Kutemukan satu ayat dari Amsal 23:18, “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.”

Ketika memutuskan pulang kampung dan menceritakan kegagalan ini ke orang tua, rasanya aku tak siap. Tapi, kuingat bahwa di balik kegagalan itu, Tuhan tetap memeliharaku. Kebutuhanku dicukupkan-Nya. Orang tuaku pun ternyata tidak marah, mereka malah memotivasiku. Masa-masa aku berdiam di kampung dipakai-Nya menjadi kesempatan untukku berobat. Puji Tuhan sekarang kesehatanku sudah mulai pulih.

Karena kesehatanku mulai membaik, aku pergi ke rumah kakak pertamaku di Bangka Belitung. Seminggu setelah aku tiba di sini, pandemi virus corona dinyatakan telah masuk ke Indonesia.

Memang sampai saat ini aku belum mendapatkan pekerjaan atau merintis usaha baru lagi. Namun aku bersyukur karena masa-masa ini bisa kugunakan untuk melayani kakakku yang saat ini sedang mengandung anak pertamanya.

Meski di awal usahaku meniti karier pil terasa getir, tapi aku mau tetap membuka hatiku untuk mengecap kebaikan-Nya.

Teruntuk saudara-saudariku, di balik usaha dan rencana kita yang kandas, Tuhan tengah menyiapkan yang baik bagi kita. Tugas kita adalah menikmati perjalanan bersama-Nya, mengucap syukur, dan berserah.

Baca Juga:

Aku Meninggalkan Pekerjaanku, Tetapi Tuhan Merancangkan Sesuatu yang Indah Bagiku

Aku pernah menghadapi dua pilihan yang membuatku bingung. Ketika aku sedang dalam proses pemulihan pasca operasi yang kujalani beberapa tahun silam, aku bergumul tentang pekerjaanku. Aku sulit memilih di antara dua pilihan.

Dinyatakan Positif COVID-19: Sepenggal Ceritaku Menjalani Isolasi Bersama Tuhan

Oleh Dian Mangedong, Makassar
*Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian dari NA

“Hasil tes swab pegawai sudah keluar, dan kamu hasilnya positif…”

Aku NA, salah satu anggota tim perawatan isolasi Covid di rumah sakit swasta. Mendengar kabar itu dari balik telepon, seketika duniaku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan sakit sekali, mengabari bapak di kampung yang hari itu tepat berulang tahun. Aku tiba-tiba menyesal, kenapa mesti menjadi bagian tim Covid di rumah sakit tempatku bekerja. Masa depanku kurasa hilang begitu saja. Semangat yang biasa kuberi kepada pasien Covid yang kurawat, sekarang hanya sekadar kata-kata belaka. Sebab aku sudah tertular dan positif!

“Jangan panik, jangan stress, percaya saja Tuhan selalu lindungi..” suara direktur rumah sakit dari balik telepon. Walau pagi itu ucapan semangat bertubi-tubi datang kepadaku, baik dari orang tua, sahabat, teman kerja, sungguh tidak ada pengaruhnya. Kukunci kamar dan kubanjiri kasurku sampai basah dengan air mata. Rasa bersalah karena dapat menjadi pembawa virus bagi orang sekitar. Rasa hancur karena diberikan cobaan seperti ini dari Tuhan. Bahkan marah! Kenapa saat aku memberi diri melayani sebagai petugas medis isolasi Covid, Tuhan malah membiarkanku terjangkit virus ini.

Melalui beberapa waktu sendiri, aku bangkit dan bersiap menuju rumah sakit. Aku akan menjalani perawatan isolasi. Di saat itu aku bahkan kesal saat orang-orang hanya mengirimkanku pesan tanpa berani menjengukku. Seketika ilmu yang kupelajari mengenai Covid hilang begitu saja. Aku panik, khawatir, egois, bahkan marah oleh karena pikiran yang kuciptakan sendiri.

Setelah melalui hari yang panjang. Aku merasa lelah dan tetap tidak damai. Aku masuk kategori orang tidak bergejala (OTG) dan perlahan mulai menerima keadaan ini. Satu-satunya cara adalah kembali kepada Tuhan. Seorang pendeta meneleponku dan mengingatkanku lagi tentang kisah Yusuf. Ia dibuang saudaranya, dijual, difitnah, tetapi di balik itu semua Tuhan punya rencana yang besar. Pula tentang Ayub yang tetap bersyukur dan memuliakan Tuhan di setiap pergumulan yang ia hadapi.

Di ruang isolasi aku merenungi semua yang terjadi. Saat itu aku berdoa dan mencurahkan semua kesedihanku kepada Tuhan. Air mata mengalir tetapi hati benar-benar damai. Kutahu Tuhan sudah menunggu saat-saat seperti ini bersamaku. Berdua saja. Intim dan khidmat. Kuingat lagi kata mamaku bahwa kejadian ini bukan petaka namun menjadi waktuku bersama Tuhan, untuk lebih dekat lagi, membaca Alkitab, berkomunikasi dengan-Nya, bahkan berserah penuh.

Sebagai manusia biasa, aku sadar telah melalui masa-masa penolakan dan stress luar biasa. Tetapi dibalik semua aku sangat bersyukur dan jiwaku lega menyadari ada satu jalan tempatku kembali dan merasakan damai, yaitu di dalam Tuhan. Bahkan Tuhan bukannya membuatku terasing di ruangan isolasi ini. Setiap hari kulihat bagaimana cinta nyata-Nya terwujud melalui sesama manusia terhadapku. Mendukungku dengan segala macam cara dan bentuk. Sungguh manis dan mengharukan kasih Tuhan melalui kehadiran kasih mereka.

“Perang baru dimulai!” kataku dengan penuh kekuatan. Aku berusaha menjalani hari-hariku di ruang isolasi dengan energi positif dari firman Tuhan yang senantiasa menguatkan dan menemaniku setiap hari. Hari-hari kulalui dengan bersyukur. Selain menjalani terapi fisik, perbaikan hubungan bersama Tuhan adalah yang paling kurasakan. Bagaimana sempurnanya kasih Tuhan yang bahkan mencintaiku disaat-saat terpuruk sekalipun.

“Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan” (Mazmur 62:12-13a).

Ya, aku percaya Tuhan berkuasa atas hidupku, maka aku tenang.

Hari-hari isolasiku telah usai. Hasil tes swab keduaku sudah negatif. Puji Tuhan… Masih perlu satu kali swab lagi untuk menyatakan aku benar-benar bersih dari virus ini. Sampai kumenulis ini tidak ada gejala sama sekali yang kurasakan. Sungguh Tuhan teramat baik terhadap umat-Nya.

Baca Juga:

Kehendak-Nya Tidak Selalu Tentang Mauku

Ketika sesuatu terjadi tak sesuai mau kita, kita mungkin membombardir Tuhan dengan deretan pertanyaan kenapa. Tapi, mengapa tidak menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melihat dari sudut pandang-Nya?

Cerpen: Mamaku Terkena Stroke Tiba-tiba

Oleh Eka Arapenta Ginting, Medan

Pagi hari itu, Jumat, 8 Agustus 2014, aku terbangun dari tempat tidurku. Aku terkejut melihat mamaku tergeletak di ambal dan sedang diurut oleh ahli urut. Di samping mamaku, ada papa dan kakak.

“Mama kenapa, Pa?” aku bertanya.

“Mama kena stroke. Tangan dan kaki kirinya tidak bisa digerakkan,” jawab papaku.

Jawaban itu menyakitkan hatiku. Air mataku tak terbendung. Aku pergi ke kamar dan menangis tersedu. Hari itu aku harus masuk sekolah, tapi rasanya aku ingin bolos saja. Aku mengambil handuk lalu mandi, tapi di kamar mandi pun aku masih menangis. Seusai mandi, aku pergi ke kamar, mengganti bajuku, dan aku pun berdoa, “Tuhan, aku tidak percaya kalau mama terkena stroke. Sembuhkanlah mama, amin.”

Sesampainya di sekolah, hari itu ada kegiatan olahraga senam. Aku tidak serius mengikuti tiap gerakannya. Lalu di jam-jam setelahnya pun aku banyak diam sampai sahabatku heran dan bertanya, “Eka, kamu kenapa?” Pertanyaan itu tidak kujawab.

Waktu terasa berjalan lama, aku ingin segera pulang. Setelah jam pelajaran usai, aku mengirim sms ke kakakku. “Kak, bagaimana keadaan mama?”

“Sekarang mama lagi dirawat di IGD RS Adam Malik.”

Aku langsung pergi ke rumah sakit. Temanku bersedia mengantarku naik motor, tapi sesampainya di rumah sakit, dia langsung pulang ke rumahnya. Aku segera menjumpai mamaku di IGD.

Di situ aku mau menangis lagi, tapi mamaku bilang, “Jangan nangis, Ka. Tuhan pasti akan memberi jalan.”

Aku memberikan sedikit kataku untuk menyemangati mama, “Ma, kami bertiga belum sukses, Ma. Masa mama sakit? Mama harus bisa sembuh. Apalagi kakak dan abang bentar lagi wisuda, Ma.”

Mama cuma diam dan merenung saja. Sementara itu, kawan mama dan abangnya mengurus semua administrasi di rumah sakit. Aku berterima kasih karena ada orang-orang yang mempedulikan mama. Aku juga bersyukur kepada Tuhan karena seluruh biaya opname dan pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh BPJS.

Kepada kawan mamaku, aku bertanya, “Kok mama bisa kena stroke?”

“Karena mamamu tensinya sampai 200, ditambah lagi jantungnya bengkak. Karena tensinya tinggi, pembuluh darahnya yang di otak mengalami pendarahan.”

Lagi-lagi air mataku ingin menetes, tapi aku berusaha sebisa mungkin menahannya. Waktu tak terasa sudah pukul 16:00, barulah mamaku mendapatkan ruangan opname, di lantai 2. Sekali lagi aku bersyukur karena mamaku mendapatkan ruang menginap dan tidak perlu menunggu sampai besok pagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21:00. Aku pamit kepada mama, bapak, dan kakakku. Abang saudaraku mengantarku pulang. Tapi sesampainya di rumah, aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan mama.

Aku berdoa pada Tuhan, “Tuhan, kenapa mamaku bisa terkena stroke ya Tuhan. Ampunilah dosa mama dan keluarga kami ya Tuhan, karena Engkaulah Allah yang paling berkuasa di dunia ini ya Tuhan! Amin.”

Setelah itu kudengarkan lagu rohani dan air mata kembali mengalir deras sampai aku tertidur.

* * *

Sudah dua hari mamaku dirawat di ruang Rindu A lantai 2. Mamaku tidak bisa tidur karena di ruangan itu ada 8 orang. Siang harinya, mama pindah ke lantai 3. Kali ini ruangannya kelas VIP, mama bisa tidur karena di ruangan itu hanya ada dua orang yang dirawat.

Setiap pulang sekolah aku selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk mama. Setiap malam juga aku terus berdoa pada Tuhan dan air mataku selalu mengalir. Hati ini tak bisa menahan perasaan yang menyedihkan.

Puji Tuhan, setelah 6 tahun mama sakit, Tuhan menyembuhkan mama perlahan demi perlahan. Namun, mama masih sering sesak nafas dan harus diopname di rumah sakit karena pasca stroke mama mengalami komplikasi penyakit lainnya.

Hikmah yang aku dapatkan melalui peristiwa ini adalah Tuhan tetap peduli kepadaku dan menjadikanku alat untuk menyatakan kemuliaan-Nya lewat tulisan singkatku ini.

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13).

Baca Juga:

Buatlah Pilihan untuk Melakukan Perkara Surgawi

Di dalam mengambil sebuah pilihan, apa pun itu, ingatlah bahwa semuanya memiliki dampak yang signifikan dalam hidup kita, cepat atau lambat. Itu sebabnya sebagai seorang anak Tuhan berhati-hatilah dalam memilih.

Jika Awalnya Saja Sudah Buruk, Sungguhkah Nanti Lebih Baik?

Oleh Chia Poh Fang, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Such A Bad Start To 2020?

“Kuharap tahun barumu dimulai dengan baik.”

Sepenggal kalimat itu mengisi sebuah email yang dikirimkan kepadaku, sebuah ucapan yang tulus.

Namun, serentetan kabar buruk yang kubaca dan tonton di media belakangan ini telah mempengaruhi orang-orang yang kukenal sampai ke tataran kehidupan pribadi mereka.

Di hari pertama 2020, hujan lebat di sekitar Jakarta membuat debit air meninggi dan banjir di mana-mana. Seorang temanku sampai terpisah dari anak-anaknya selama beberapa hari karena mereka harus mengungsi di rumah sang nenek. Temanku yang lain, seharusnya terbang ke Malaysia untuk rapat, tapi dia tidak bisa pulang mengambil barang bawaannya karena banjir. Dia harus membeli baju baru di Malaysia.

Kemudian, kita juga mendengar berita tentang gunung meletus di Filipina. Lima relawan penerjemah dari kantor kami tinggal di dekat lokasi bencana tersebut. Rumah mereka ditutupi abu vulkanik. Tiga dari mereka sesak nafas karena debu yang terlampau tebal, dan mereka hidup tanpa air dan listrik selama tiga hari.

Sementara itu, di Australia, kebakaran hutan merambat dengan masif. Seorang temanku yang sedang dalam penerbangan pulang ke Canberra tak dapat mendarat karena asap yang terlampau pekat. Penerbangannya dialihkan dan membuatnya meratap ingin segera pulang ke rumah.

Kabar buruk masih belum berhenti. Berita terbaru yang kita dengar dan menghiasi media di seluruh dunia adalah kabar tentang penyebaran virus Corona yang telah merenggut lebih dari 427 nyawa sejak penyebarannya yang pertama pada 31 Desember 2019.

Meski secara pribadi aku tidak kenal siapa pun yang tertular virus tersebut, namun aku bisa sedikit merasakan bagaimana pedihnya kehilangan. Dalam 17 hari pertama tahun ini, ada tiga kematian yang terjadi di antara orang-orang dekatku. Ada seorang sepupuku yang meninggalkan istrinya selamanya, seorang pria yang kehilangan teman hidupnya selama 40 tahun lebih, dan seorang ibu yang harus meninggalkan anaknya yang berusia lima tahun.

Mengatakan bahwa tahun ini tidak diawali dengan baik rasanya bukanlah pernyataan yang berlebihan.

Mungkin ada di antara kita yang kehidupannya terdampak oleh salah satu dari sekian banyak kabar buruk di atas, diliputi ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, atau kesedihan. Jika ya, bolehkah aku mengatakan hal ini kepadamu?

Tidak apa-apa untuk mengatakan kamu sedang tidak baik-baik saja

Adalah wajar untuk marah karena kematian yang merenggut orang yang kamu kasihi. Kamu mungkin merasa takut atau pun panik akan perubahan iklim yang mengakibatkan banjir dan kebakaran hutan, atau mungkin pula khawatir karena penyebaran virus Corona.

Aku berduka karena kematian sepupuku, dan bertanya-tanya mengapa kehidupan seseorang yang masih muda direnggut begitu cepat. Aku dan teman-temanku pun berduka atas penderitaan yang harus dihadapi orang-orang yang berjuang pulang karena kebakaran hutan, atau mereka yang harus bekerja ekstra membersihkan rumah mereka pasca banjir dan letusan gunung berapi.

Jika kita membuka Alkitab kita, kita melihat Yesus pun menunjukkan gejolak emosinya saat berada di pemakaman. Ketika dia mendapati Maria yang saudara laki-lakinya, Lazarus, meningal dunia, “hati-Nya sedih, dan Ia tampak terharu sekali” (Yohanes 11:33 BIS)

Mengapa Yesus bersedih? Mungkin, Yesus kecewa dan marah karena dosa dan konsekuensi yang diakibatkannya. Allah tidak menjadikan dunia supaya dipenuhi dengan kesakitan, penderitaan, dan maut, tapi dosa memasuki dunia dan menodai rencana mulia Allah.

Ketika keadaan tidak baik, ketahuilah ini bukanlah akhir

Ada banyak pertanyaan tentang kesakitan dan penderitaan yang belum kutemukan jawabannya yang paling memuaskan. Namun, ketika aku bergumul dengan keraguan, aku ingat bahwa Yesus hadir ke dunia dua ribu tahun silam dan menunjukkan pada kita bagaimana Allah sesungguhnya.

Tangan-Nya menyentuh yang sakit kusta (Markus 1:41); Pandangan-Nya tertuju kepada janda yang sakit di Nain (Lukas 7:11-17). Dia tersakiti ketika kita merasa sakit. Kita memiliki Juruselamat yang peduli dan menderita bersama kita. Namun, lebih daripada itu semua, Yesus mati dan bangkit dari maut. Dialah satu-satunya Pribadi yang mati, bangkit, dan tidak pernah mati kembali! Dia telah mengalahkan maut. Kita punya harapan yang hidup dalam Yesus, sebab Juruselamat kita adalah Tuhan yang hidup.

Dan, Yesus pun berjanji kelak akan tiba waktunya di mana segala kesakitan akan berakhir (Wahyu 21:4). Ketika kita tak dapat menghentikan kesakitan dan dosa menggerogoti tubuh kita yang fana saat ini, sebagai anak-anak-Nya, kita kelak akan menerima tubuh yang baru dan mulia (1 Korintus 15:42-43). Inilah kisah akhir dari sejarah manusia yang teristimewa dapat kita ketahui saat ini.

Apakah hari-harimu di tahun ini juga dimulai dengan kisah getir? Teguhkanlah hatimu sebab ini bukanlah akhir. Allah sedang bekerja untuk memulihkan; Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).

Seiring 2020 terus berlanjut, kita mungkin akan masuk ke dalam situasi yang mengharuskan kita hanya dapat bergantung dan percaya pada-Nya. Bersediakah kamu bersama-sama denganku untuk memusatkan pandanganmu kepada Yesus? Harapan kita hanya di dalam-Nya, dan bersama-Nya segala sesuatu dapat kita lalui.

Baca Juga:

Di Balik Hambatan yang Kita Alami, Tuhan Sedang Merenda Kebaikan

Meski kamu melalui jalan yang berbelok-belok, atau bahkan berbatu-batu, dan meski seringkali kamu menemukan dirimu tidak memahami maksud Tuhan dalam hidupmu, tetaplah percaya kepada-Nya. Bila Tuhan yang menyertaimu, Dia pasti akan memberikan pertolongan dan tuntunan-Nya dalam segala sesuatu yang kamu kerjakan.

Karuna Sankara, Ini Suratku Untukmu

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya

Karuna Sankara, nama yang kupilih untuk bayi perempuanku. Dia lahir di bulan kesepuluh, hari kelima belas, pukul 04:00 pagi di salah satu klinik bidan di Surabaya. Dia anak perempuan yang menggemaskan dengan berat 3,3 kilogram dan panjang 52 cm. Sangat melegakan melihat dia lahir setelah perjuangan istriku melewati proses persalinan yang sungguh luar biasa.

Istriku merasakan kesakitan yang hebat dengan kontraksi-kontraksi yang sering bermunculan di hari Jumat sampai Senin. Selama empat hari itu, dia hampir tidak dapat tidur. Berdasarkan prediksi dokter, seharusnya Karuna lakhir tanggal 7 Oktober 2019, tetapi dia baru lahir di 15 Oktober 2019, pukul 04:00 pagi.

Beberapa jam sebelum Karuna lahir, tepatnya di hari Senin jam tiga sore kami diminta datang ke klinik untuk dilakukan tindakan pacu lewat selang infus. Tindakan ini menimbulkan rasa sakit yang lebih dalam persalinan normal. Tepat jam 12 malam, telah terjadi bukaan sempurna dan harusnya Karuna sudah siap dilahirkan.

Sebelumnya, sudah aku tanyakan berapa lama waktu untuk mengejan agar bayi kami lahir. Jawaban asisten bidan adalah maksimal dua jam, tapi dalam kurun waktu itu pun bayi kami belum lahir. Aku pun mulai panik dan tidak tega melihat istriku yang kesakitan luar biasa dengan merasakan tiap sobekannya.

Aku minta kepada asisten itu ntuk meminta rujukan saja ke rumah sakit tapi aku tidak tahu kenapa kami belum mendapatkan rujukan tersebut dan harus menunggu maksimal jam empat pagi. Aku keluar masuk ruang persalinan karena kasihan melihat istriku yang berjuang menanggung kesakitannya dalam persalinan ini. Lalu, datanglah anaknya bidan yang juga seorang bidan untuk membantu persalinan istriku.

Tepat pukul empat pagi, Karuna lahir dengan tangisannya. Namun, detak jantungnya kelihatannya tidak beres.

Aku izin pulang sebentar karena ada beberapa pekerjaan yang harus dibereskan terlebih dahulu. Agak berat bagiku untuk meninggalkan dua perempuanku sendirian. Di sini aku merasa sedikit bodoh. Meski aku tahu ada bidan yang menjaga, mengapa aku tetap meninggalkan mereka? Fatalnya, sampai di rumah aku pun ketiduran sampai jam 9 pagi. Sesegera mungkin aku kembali ke klinik dan memohon agar Karuna dibawa ke rumah sakit agar bisa ditangani lebih lanjut.

Aku bersama bidan dan asistennya membawa Karuna ke rumah sakit. Aku tahu istriku mencemaskan Karuna, karena seharusnya bayi yang baru lahir itu mendapatkan ASI dari ibunya, namun Karuna harus berjuang dahulu dengan sakitnya.

“Karuna kenapa, Hun?” pertanyaan itu selalu menempel di pikiranku.

Kucoba menenangkan diri tiap kali pertanyaan itu datang. Bidan menjawabku, “Tenang, Pak. Nanti akan baik-baik saja, karena terlalu lama dalam proses persalinannya.”

Perjuangan selama tiga hari

Setelah mendapatkan pertolongan intensif dari rumah sakit, hatiku sedikit lega. Kami menunggu, menangisi, dan menyesal mengapa ini harus terjadi kepada bayi kami. Padahal, kami selalu rutin cek kehamilan tiap bulan, bahkan seminggu sekali menjelang hari kelahiran.

Rekam medis Karuna dalam kandungan pun sangat baik. Tidak ada tanda-tanda buruk terkait kesehatannya. Namun, ketika dia lahir, yang kudapati malah hal lain. Istriku kesakitan dengan jahitan di perutnya yang cukup banyak, tapi seakan tak peduli akan sakitnya demi menemani Karuna.

Hari Jumat, kami merasa sepertinya Karuna tidak kuat bertahan dengan banyak selang di tubuhnya. Malam harinya, tubuhnya sempat drop dan dibutuhkan tindakan. Selang oksigen dipasang lewat mulutnya supaya dia tetap bisa bernafas.

Aku sungguh takut kalau-kalau memang benar Karuna meninggal. Jumat pukul 22:00, aku menulis sebuah tulisan untuknya:

Dear Karuna,

Kamu sedang apa di sana? Kenapa kamu masih suka dengan alat-alat bantu pernafasan itu? Tidakkah kamu ingin lepas itu semua untuk bermain denganku? Iya…bermain dengan bapak. Menunggumu terlahir adalah penantian terbesarku, tapi kenapa saat kamu lahir, kamu malah main sendiri dalam box itu?

Bapak gak bisa ikut main di situ, Karuna. Bapak gak mungkin bisa. Bapak melangkah masuk ruangan terluar saja sudah dilarang. Kenapa? Kenapa? Kau masih asyik di situ… AYOOO Karuna, come!

Bapak pengen pegang tangan mungilmu itu. Tapi, kenapa kamu pegang selang buat mainanmu?
Bapak pengen mencium bibirmu itu. Tapi kenapa kamu tak mau lepaskan selang itu?

Apa boleh bapak jadi selangmu, Karuna? Menggantikan apa yang kamu pegang dan kamu cium itu.

Apa boleh bapak jadi perbanmu, Karuna? Menggantikan apa yang melingkupi tubuhmu itu.

Mungkin bapakmu ini sudah gila, menginginkan dirinya menjadi benda mati hanya untuk menyentuhmu dan melingkupimu.

Mungkin bapakmu ini sudah tak waras, mengharapkan sesuatu yang mustahil dan bodoh.

Tapi, untuk apa ejekan gila dan tak waras itu jika bapakmu ini bisa menemanimu setiap waktu?

Waktu yang akan selalu berharga dan bernilai.
Tapi, ketika banyak orang ngomong, “Berarti anakmu lebih penting dari Tuhanmu ya?”
Pertanyaan itu memang tidak bisa aku jawab, karena secara teoritis pastilah Tuhan itu lebih penting darimu
Tapi hati bapakmu tidak membohongi kalau aku memilihmu.
Fakta ini menunjukkan kesalahan dalam diriku, sebagai manusia dan sebagai Bapak yang mengajarimu untuk takut akan Tuhan.

Bagian terakhir surat ini sangat berat bagiku, karena dari hal ini aku belajar memahami bagaimana perasaan Ayub yang tertulis dalam Alkitab. Benar apa yang Ayub katakan, bahwasannya manusia lahir dengan telanjang dan mati dengan telanjang pula; Allah yang memberi, Allah yang mengambil, terpujilah nama TUHAN (Ayub 1:21). Ayub mengatakan, kita harus menerima apa yang diberikan Allah, entah itu baik atau buruk menurut kita (Ayub 2:10b). Aku yang kehilangan seorang anak saja sakitnya luar biasa, apalagi Ayub yang kehilangan segalanya, sampai-sampai kesehatannya pun buruk. Namun, Ayub masih memandang Allah dengan benar.

Aku tahu aku menangisi anakku dengan keras, namun aku tahu juga Allah memiliki rencana yang baik menurut Dia, bukan menurutku. Aku belajar bersyukur di titik terendahku sekarang. Meski dulu mudah sekali aku mengucapkannya, tapi menerima kenyataan ini memang mengajarkanku banyak hal. Aku dan istriku belajar untuk tidak menyalahkan siapa pun, bahkan diri kami sendiri. Meskipun sering muncul penyesalan dan intimidasi, kami berusaha untuk mengutarakan hati kami sejujur-jujurnya dalam perbincangan kami dan dalam doa-doa kami.

Sebuah anugerah yang luar biasa untuk hadiah setahun pernikahan kami. Karuna meninggal di tanggal 19 Oktober 2019 pukul 00:00. Tangis dan kenangannya selalu kami simpan dan teladannya pun kami jaga.

Apakah Tuhan itu jahat terhadap kami? Nyatanya tidak. Tuhan tetap baik dalam ke-Mahakuasaan-Nya. Aku belajar dari anakku untuk mengampuni, sesuai dengan nama yang kami pilihkan untuknya pada bulan April 2019. Karuna berarti ‘mengampuni dan berbelas kasihan’. Karuna pergi untuk mengajari kami bagaimana untuk mengampuni diri kami, situasi, dan orang-orang yang terlibat dalam proses persalinan kemarin.

Karuna Sankara adalah anugerah indah yang Tuhan berikan kepada kami, meskipun kami mengantarkannya pergi dengan kesedihan dan tangisan.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! TUHAN adalah bagianku, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (Ratapan 3:22-24).

Baca Juga:

Memang Lidah Tak Bertulang, Tapi Firman-Nya Ada di Lidahku

“Kata-kata yang diucapkan sejatinya bukanlah sekadar ucapan, Yakobus berkata kata-kata kita bisa berkuasa memberikan berkat tapi juga bisa merusak (Yakobus 3:9-10).

Lantas, kata-kata seperti apa yang seharusnya keluar dari mulut kita?”

Kini dan Nanti, Penyertaan-Nya Tetap Ada

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT

Begitu pesan yang muncul di laman pengumuman SBMPTN 2019. Hari itu adalah salah satu hari yang paling kuingat di sepanjang hidupku. Sebagai kakak perempuan dari adikku satu-satunya, aku turut sedih dengan pengumuman itu. Kutenangkan hati dan pikiranku, lalu ku-screen shot pengumuman itu dan kukirimkan pada adikku. Tidak ada kata-kata atau emotikon apa pun yang kusertakan selayaknya kami biasanya saling chat. Bukan sedang tidak mau memberi semangat atau enggan menulis kalimat supaya adikku tidak putus asa, tapi kali itu aku menyadari kalau hal itu sepertinya tidak akan menolongnya untuk tidak bersedih atau pun bingung.

Memoriku saat mengantar dan menemani adikku mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri kembali terngiang.

“Kayakmana lah aku kalau nggak lulus ke kampus negeri,” adikku bertanya padaku saat perjalalan pulang.

Aku sengaja mengajak adikku pulang jalan kaki, selain karena lokasi ujian yang dekat dengan kosku, aku juga jadi punya kesempatan untuk menanyakan bagaimana pengalamannya ikut ujian itu.

“Optimislah dek, kalau memang bagianmu yang kuliah itu, jalannya akan tersedia,” nasihatku padanya.

Saat aku mengantarnya ikut ujian itu, kami memang tidak punya rencana alternatif jika dia tidak lulus. Kuliah di negeri menjadi satu-satunya rencana kami karena biaya kuliah yang relatif lebih murah. Walau sudah punya penghasilan, aku belum bisa membantu adikku secara finansial karena aku masih mengerjakan tugas akhirku. Tidak kuliah dan mencari pekerjaan adalah satu-satunya cara yang harus diterima adikku jika dia gagal seleksi.

Kami tiga bersaudara. Ayah dan ibuku bukan orang yang mengenyam bangku kuliah. Ibuku tamatan SMP dan ayah tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Kuliah adalah hal yang baru bagi keluarga kami, termasuk juga dalam keluarga besar maupun masyarakat di kampung kami. Bagi banyak orang tua di tempat kami, kuliah itu identik dengan biaya mahal: uang studi, uang kos, uang bulanan, belum lagi lokasi kampus yang jauh dari kampung. Setelah menyelesaikan SMA, merantau ke kota besar seperti Batam, atau menjadi tenaga kerja di Malaysia seolah jadi kebiasaan yang diturunkan antar generasi. Jika tidak beruntung menyelesaikan SMA, menjadi buruh tani, kernet mobil tanah, atau menjadi buruh bangunan adalah hal yang umum di keluarga besar kami.

Aku masih ingat bagaimana respons kedua orang tuaku ketika mendengar kalau aku akan kuliah. Mereka terkejut, tapi tidak berani melarangku. Mungkin mereka tak tega karena aku sering berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik di sekolah. Singkat cerita, dengan beberapa usaha, khususnya dalam dana dan beberapa perjanjian tentang hal yang boleh dan tidak boleh kulakukan selama kuliah, aku bisa mengenyam pendidikan tinggi di salah satu kampus negeri di kota Medan. Keputusanku untuk kuliah terinspirasi dari abang sepupuku. Dia menjadi orang pertama dalam keluarga besar kami yang kuliah. Dia kuliah di kampus keguruan yang ada di bagian selatan Tapanuli.

Nggak pernah aku nggak makan, dek. Tuhan mencukupkan setiap hal yang kubutuhkan,” begitu dia menasihatiku setipa kali aku bercerita tentang kekhawatiranku.

“Kuliah tidak menjamin pekerjaan yang baik untukmu, tapi ada pola pikir yang lebih luas terbentuk selama proses itu.” Perkataan ini merupakan bagian yang selalu kuingat sampai saat ini. Dan, benar, sampai di penghujung waktu kuliah, aku merasakan bagaimana Tuhan memelihara hidupku seperti yang Dia janjikan dalam Ibrani 13:5b.

Sama seperti aku yang terinspirasi dari abang sepupuku tersebut, tampaknya adikku juga mengalami hal yang sma. Dulu dia sempat menyatakan kalau dia akan bersekolah di SMK karena tidak mau kuliah. Bisa jadi dia terdorong memutuskan itu karena dia menyaksikan bagaimana keluarga kami berjuang agar kuliahku bisa terus berlanjut. Sebagai kakak, tentu aku berharap setiap kebaikan Tuhan terjadi pada adikku, termasuk harapanku kalau dia juga bisa berkuliah. Sembari berharap, aku mengingat firman Tuhan dari Yeremia 1:5, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau.”

Semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Tuhan. Pandangan yang sama mengenai perkuliahan serta sharing pengalamanku selama kuliah tetap kubagikan padanya. Seiring waktu berlalu, aku tidak mengerti bagaimana Tuhan bekerja. Alih-alih mendaftar ke SMK, adikku malah mengikuti beberapa seleksi masuk SMA dan berhasil menamatkan studinya dari bidang IPS. Lagi-lagi, aku belajar bahwa banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana (Amsal 19:21).

Ketika hal-hal terjadi sesuai dengan yang kita inginkan atau harapkan, mungkin tidak sulit untuk menerima dan menyatakan itu sebagai bagian dari penyertaan Tuhan. Namun, ketika semua terjadi di luar perencanaan kita, maka kekecewaan dan kekhawatiran sering menjadi teman setia kita, dan Tuhan pun terasa jauh. Ketika menerima kabar ketidaklulusan adikku, itu bukanlah hal yang mudah bagiku dan keluarga besarku.

Mungkin, saat ini semuanya masih tampak belum jelas. Adikku belum bisa berkuliah, tapi dia berencana untuk ikut seleksi kembali di tahun 2020 ini. Namun, kegagalan ini bukan berarti Tuhan tidak merestui rencananya berkuliah. Seperti aku yang dahulu merasakan bagaimana Tuhan menyertai perjalanan hidupku melewati suka dan duka, aku juga belajar percaya bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik buat adikku dan keluargaku (Yesaya 55:8-9).

Perencanaan-perencanaan untuk mencapai hal-hal yang lebih baik tentu menjadi harapan kita di awal tahun 2020 ini. Resolusi pada karakter diri, karier, asmara, serta hal-hal lainnya kiranya tidak meluputkan kita dari menyerahkan diri kepada Tuhan.

Melewati setiap musim kehidupan yang sudah kita alami, atau yang akan kita lalui kelak, biarlah kita tetap percaya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (FIlipi 4:19).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Bersyukur dan Percaya di Tengah Kesulitan, Sanggupkah?

Sepanjang tahun 2019 lalu, rasanya mudah sekali menuliskan “kejutan-kejutan” yang tak terduga karena begitu banyak hal yang terjadi di luar perkiraanku dan tak terbayangkan sebelumnya. Lantas, haruskah aku tetap percaya pada penyertaan Tuhan?