Posts

Inspirasi yang Aku Dapatkan dari Dalam Penjara

inspirasi-yang-aku-dapatkan-dari-dalam-penjara

Oleh Jes Nuylan, Filipina
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Day I Spent In Prison

Aku mempersiapkan diriku untuk pertemuan itu, sembari memikirkan bagaimana aku harus berkata-kata dan bersikap di tengah mereka. Hatiku berdebar-debar, tidak sabar menantikan pertemuan itu, namun aku juga menjadi gugup karena aku belum pernah berinteraksi dengan para tahanan sebelumnya. Dan aku begitu terkejut ketika akhirnya aku bertemu mereka.

Penjara New Bilibid. Sebelum aku mengunjungi penjara itu, aku hanya pernah mendengar namanya saja. Beberapa temanku pernah mengunjungi para tahanan itu dan mengenal mereka ketika mengerjakan disertasi mereka. Mereka mengajakku untuk pergi dengan mereka di kunjungan mereka yang kedua. Mereka berencana untuk melayani para tahanan tersebut—memberikan mereka kado Natal, dan kata-kata penghiburan.

Mendengar bahwa mereka adalah pria-pria berusia paruh baya dan dipenjara karena kasus narkoba dan pencopetan, awalnya aku merasa gelisah. Namun, aku terkejut ketika bertemu mereka. Mereka begitu senang melihat kami dan memperlakukan kami bagaikan kawan-kawan lama. Kemudian aku baru tahu bahwa mereka merindukan interaksi dengan “orang-orang luar”, karena mereka terpisah dari keluarga mereka.

Kami memberikan mereka hadiah-hadiah sederhana, yang mereka rasakan seperti hadiah-hadiah terbaik yang pernah mereka terima. Mereka mendengarkan dengan saksama kesaksian-kesaksian yang telah kami siapkan dan renungan singkat yang dibagikan oleh temanku. Mereka memberitahu kami bahwa mereka begitu dikuatkan. Respons mereka menggetarkan hati kami.

Sebagai balasannya, mereka memberikan kami barang-barang kerajinan tangan seperti karangan bunga dan lentera Natal berbentuk bintang. Mereka juga membuat pertunjukan untuk kami, menunjukkan talenta mereka dalam bernyanyi, menari, bermain drama, dan sebagainya. Aku sungguh bersukacita menontonnya! Namun lebih daripada perasaan senang yang kami rasakan dari interaksi dengan mereka, ada satu hal yang begitu mengena bagiku. Aku diingatkan bahwa aku kurang mengucap syukur dengan apa yang aku miliki saat ini.

1. Kita adalah orang merdeka, namun seringkali kita berlaku seperti kita dipenjara—oleh keegoisan kita, kemarahan kita, pergumulan kita, stres kita, dan lain-lain.

2. Seringkali kita tidak mensyukuri keberadaan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kunjungan itu menyadarkanku betapa Tuhan telah memberkatiku dengan memberikanku keluarga dan teman-teman.

3. Kita mempunyai begitu banyak hal material, tapi begitu sulit bagi kita untuk menjadi puas dengan apa yang kita miliki. Aku terus-menerus mengeluh tentang barang-barang yang aku tidak miliki dan yang aku ingin miliki.

4. Kita sulit melihat hal-hal yang menginspirasi yang ada di sekeliling kita. Kunjunganku ke penjara adalah sebuah pengalaman yang merendahkan hatiku, membuatku merefleksikan bukan hanya berkat-berkat Tuhan, tapi juga anugerah-Nya.

* * *

Meskipun para tahanan itu tidak memiliki banyak hal yang dapat dinikmati orang-orang yang bebas, namun, dalam beberapa aspek, mereka memiliki begitu banyak hal yang dapat kita pelajari, khususnya tentang mengucap syukur.

Aku mengunjungi mereka dengan tujuan untuk melayani mereka, namun justru akulah yang merasa diberkati dan terinspirasi. Dan meskipun 5 tahun telah berlalu sejak kunjunganku itu, pengalaman itu masih terus mengingatkanku untuk mengucap syukur. Aku berdoa agar kiranya refleksiku ini dapat menginspirasi kamu untuk mengucap syukur juga.

Photo credit: Gowiththe Flo via Scandinavian / CC BY-NC-ND

Baca Juga:

5 Hal yang Menolongku Lepas dari Kecanduan Bermain Game

Beberapa tahun yang lalu, aku sempat kecanduan bermain sebuah game ponsel yang bernama “Temple Run”. Berikut adalah 5 hal yang menolongku lepas dari kecanduan tersebut.