Posts

Menyerap Firman Allah

Minggu, 25 Juni 2017

Menyerap Firman Allah

Baca: Ulangan 6:1-9

6:1 “Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

6:3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu. —Ulangan 6:6-7

Menyerap Firman Allah

Ketika putra kami Xavier masih balita, keluarga kami berjalan jalan mengunjungi Monterey Bay Aquarium. Sewaktu kami memasuki gedung tersebut, saya menunjuk ke arah patung besar yang tergantung di langit-langit. “Lihat itu. Ikan paus bungkuk.” Xavier terlihat begitu kagum dan berkata, “Dahsyat.” Suami saya menoleh ke arah saya dan bertanya, “Koq ia bisa tahu kata itu?”

“Ia pasti pernah mendengar kita mengatakannya.” Saya heran sekaligus kagum melihat bagaimana anak balita kami telah menyerap kosakata yang sebenarnya belum pernah kami ajarkan kepadanya.

Di Ulangan 6, Allah memerintahkan umat-Nya agar bersungguh-sungguh dalam mengajar anak-anak mereka untuk mengenal dan menaati Kitab Suci. Semakin bangsa Israel dan anak-anak mereka mengenal Allah, semakin mereka ingin menghormati-Nya. Mereka juga akan semakin menikmati berkat-berkat yang diterima karena mereka mengenal Allah dengan mendalam, mengasihi-Nya segenap hati, dan mengikuti-Nya dalam ketaatan penuh (ay.2-5).

Kesungguhan dalam menyerap firman Allah ke dalam hati dan pikiran kita (ay.6) akan menolong kita lebih siap meneruskan kasih dan kebenaran Allah kepada anak-anak kita di tengah aktivitas yang dijalani sehari-hari (ay.7). Melalui teladan yang kita tunjukkan, kita dapat memperlengkapi sekaligus mendorong kaum muda untuk mengakui dan menghormati otoritas serta relevansi kebenaran Allah yang tidak pernah berubah (ay.8-9).

Ketika firman Allah mengalir secara alami dari hati dan mulut kita, kelak kita akan meninggalkan warisan iman yang tangguh pada generasigenerasi mendatang (4:9). —Xochitl Dixon

Kata-kata yang kita serap menentukan kata-kata yang kita ucapkan, hidupi, dan teruskan kepada orang-orang di sekeliling kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 3-4 dan Kisah Para Rasul 7:44-60

Menemukan Waldo

Sabtu, 10 Juni 2017

Menemukan Waldo

Baca: Kisah Para Rasul 8:26-40

8:26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi.

8:27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.

8:28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

8:29 Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”

8:30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?”

8:31 Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

8:32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.

8:33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

8:34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?”

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

8:37 (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”)

8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

8:40 Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.

Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?” —Kisah Para Rasul 8:34

Menemukan Waldo

Waldo adalah tokoh utama dari “Where’s Waldo”, sebuah serial komik anak terlaris. Waldo menyembunyikan diri di tengah keramaian orang dalam gambar pada setiap halaman dan mengundang anak-anak untuk menemukan di mana ia bersembunyi. Para orangtua suka sekali melihat ekspresi wajah anakanak mereka ketika berhasil menemukan Waldo. Mereka juga senang ketika anak-anak meminta mereka ikut mencari Waldo.

Tak lama setelah Stefanus, seorang diaken pada zaman gereja mula-mula dilempari batu sampai mati karena memberitakan tentang Kristus (lihat Kis. 7), dimulailah penganiayaan hebat terhadap orang Kristen. Penganiayaan itu mendesak mereka meninggalkan Yerusalem. Seorang diaken yang lain, Filipus, mengikuti orang-orang Kristen yang melarikan diri ke Samaria. Di sana ia memberitakan tentang Kristus dan diterima dengan baik (Kis. 8:6). Saat di Samaria, Roh Kudus mengutus Filipus dalam tugas khusus ke “jalan yang sunyi”. Tentulah itu panggilan yang tidak lazim, mengingat berhasilnya pemberitaan Injil yang dilakukannya di Samaria. Bayangkan betapa bersukacitanya Filipus, ketika ia dapat bertemu dan menolong seorang pembesar dari Etiopia untuk menemukan dan mengenal Yesus dalam kitab Yesaya (ay.26-40).

Kita juga sering diberi kesempatan untuk menolong orang lain “menemukan Yesus” dalam Kitab Suci agar mereka lebih mengenal Yesus. Seperti orangtua yang menyaksikan mata anak-anak mereka berbinar-binar dan seperti Filipus yang menolong seorang Etiopia mengenal Yesus, kita juga dapat mengalami kegembiraan saat melihat orang-orang di sekeliling kita bertemu dengan Yesus. Dalam menjalani hidup ini, kiranya kita selalu siap sedia menceritakan tentang Kristus seturut dengan pimpinan Roh Kudus kepada orang-orang yang kita kenal maupun yang kita temui sehari-hari. —Randy Kilgore

Tugas terbesar seorang Kristen adalah menemui seseorang dan memperkenalkannya kepada Yesus Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 34-36 dan Yohanes 19:1-22

Membela Allah

Selasa, 23 Mei 2017

Membela Allah

Baca: Lukas 9:51-56

9:51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,

9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.

9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”

9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.

9:56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. —Amsal 15:1

Membela Allah

Stiker-stiker bernada kebencian terhadap Allah yang ditempel pada bumper sebuah mobil telah menarik perhatian seorang dosen. Dosen yang dahulu ateis itu berpikir bahwa mungkin saja pemilik mobil itu bermaksud menyulut kemarahan orang Kristen. “Kemarahan orang Kristen justru membuat orang ateis membenarkan pandangan ateisnya,” jelas sang dosen. Ia pun memperingatkan, “Sayangnya, orang ateis itu sering kali berhasil mencapai tujuannya.”

Ia teringat pada perhatian seorang sahabat Kristen yang dahulu mendorongnya untuk mempertimbangkan kebenaran tentang Kristus. Sahabatnya menyampaikan kebenaran itu dengan “perasaan mendesak tetapi tanpa kemarahan sedikit pun”. Ia tidak pernah lupa pada tulusnya sikap hormat dan kebaikan yang diterimanya dari sang sahabat saat itu.

Orang Kristen sering tersinggung ketika ada pihak-pihak yang menolak Yesus. Namun, bagaimana Yesus sendiri menanggapi penolakan itu? Yesus terus-menerus menghadapi ancaman dan kebencian, tetapi Dia tidak tersinggung ketika ada yang meragukan identitas-Nya. Pada waktu sebuah desa menolak menerima-Nya, Yakobus dan Yohanes ingin membalas perbuatan mereka. Mereka bertanya, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54). Yesus tidak menghendaki itu dan Dia “berpaling dan menegor mereka” (ay.55). Lagi pula, “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:17).

Mungkin kita terkejut saat menyadari bahwa Allah tidak memerlukan pembelaan dari kita. Dia justru ingin kita mewakiliNya! Itu membutuhkan kesabaran, kerja keras, pengendalian diri, dan kasih. —Tim Gustafson

Tuhan, saat kami menghadapi kebencian, tolong kami untuk tidak membenci, melainkan merespons seperti Anak-Mu: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34

Cara terbaik membela Yesus: Jalani hidup seperti Dia menjalaninya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 19-21; Yohanes 8:1-27

Benih yang Ditaburkan

Minggu, 14 Mei 2017

Benih yang Ditaburkan

Baca: Matius 13:1-9

13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.

13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.

13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

[Benih] yang ditaburkan di tanah yang baik . . . berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. —Matius 13:23

Benih yang Ditaburkan

Saya menerima sebuah e-mail istimewa dari seorang wanita yang menulis, “Ibu kamu pernah menjadi guru kelas 1 saya di Putnam City pada tahun 1958. Beliau adalah guru yang hebat dan baik hati, tetapi juga sangat tegas! Beliau mengharuskan murid-muridnya menghafal Mazmur 23 dan mengucapkannya di depan kelas, dan saya sangat ketakutan. Itulah sekali-sekalinya saya membaca Alkitab, sampai kemudian saya menjadi Kristen pada tahun 1997. Saya pun teringat pada ibumu saat saya membaca kembali Mazmur 23.”

Kepada orang banyak yang mendengarkan-Nya, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang petani yang menaburkan benih yang jatuh di atas beragam jenis tanah— di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik (Mat. 13:1-9). Meskipun sebagian benih itu tidak dapat tumbuh, “[benih] yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (ay.23).

Selama dua puluh tahun, ibu saya mengajar murid-murid kelas 1 di sejumlah sekolah negeri. Sambil mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung, beliau menaburkan benih-benih kebaikan dan kabar tentang kasih Allah.

E-mail dari mantan muridnya itu diakhiri dengan kalimat, “Tentu saja ada banyak orang yang telah mempengaruhi perjalanan iman saya setelah saya percaya kepada Tuhan. Meski demikian, saya selalu mengenang [Mazmur 23] dan kelembutan [ibu kamu] dalam hati saya.”

Benih kasih Allah yang ditaburkan hari ini mungkin akan menghasilkan tuaian yang luar biasa kelak. —David McCasland

Tuhan, aku ingin hidupku menaburkan benih yang baik bagi orang di sekitarku. Tolonglah aku meneruskan apa yang telah Engkau percayakan kepadaku.

Kita yang menabur benih, Allah yang menghasilkan tuaian.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 19-21; Yohanes 4:1-30

Penting untuk Dibagikan

Selasa, 9 Mei 2017

Penting untuk Dibagikan

Baca: Yohanes 1:6-14

1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;

1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

[Yohanes] datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. —Yohanes 1:7

Penting untuk Dibagikan

Di beberapa negara, para saksi yang hadir dalam ruang pengadilan mempunyai peran lebih besar daripada sekadar menjadi pengamat atau penonton. Mereka terlibat aktif dalam membantu untuk menentukan hasil dari sebuah kasus. Demikian juga dengan kesaksian kita bagi Kristus. Kita harus terlibat aktif dalam hal-hal yang mempunyai kepentingan mutlak, yakni kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Ketika Yohanes Pembaptis datang untuk memberikan kesaksian tentang Yesus, Sang Terang Dunia, kepada orang banyak, Yohanes melakukannya dengan menyatakan pengenalannya akan Yesus. Yohanes sang murid, yang mencatat peristiwa-peristiwa itu, bersaksi tentang pengalamannya bersama Yesus: “Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Rasul Paulus kemudian menjabarkan pemikiran itu dengan mengatakan kepada Timotius, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2Tim. 2:2).

Semua orang Kristen telah dipanggil untuk terlibat dalam persidangan dunia. Alkitab mengatakan bahwa kita bukan hanya penonton, tetapi peserta yang terlibat aktif. Kita menjadi saksi dari kebenaran tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Seperti Yohanes Pembaptis menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun, kita juga dapat bersuara di tempat kerja, lingkungan, gereja, dan di antara keluarga dan teman-teman kita. Kita dapat menjadi saksi-saksi yang aktif memberi tahu orang lain tentang realitas kehadiran Tuhan Yesus dalam hidup kita. —Lawrence Darmani

Apakah tindakan kita memampukan kita untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus? Apa sajakah cara-cara kreatif yang dapat kita pakai untuk bersaksi hari ini?

Injil itu terlampau penting untuk tidak dibagikan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 7-9; Yohanes 1:1-28

Belajar Bahasa

Kamis, 27 April 2017

Belajar Bahasa

Baca: Kisah Para Rasul 17:22-32

17:22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: “Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.

17:23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.

17:24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia,

17:25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.

17:26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka,

17:27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing.

17:28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

17:29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.

17:30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.

17:31 Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.”

17:32 Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.”

Ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL. —Kisah Para Rasul 17:23

Belajar Bahasa

Saya berdiri di hadapan jemaat suatu gereja kecil di Jamaika dan menyapa mereka dengan dialek lokal, “Wah Gwan, Jamaika?” Reaksi yang saya terima lebih baik daripada yang saya harapkan—mereka semua tersenyum dan bertepuk tangan menyambut saya.

Sebenarnya yang saya katakan hanyalah salam biasa, “Apa kabar?” dalam bahasa Patois [pa-twa]. Namun, bagi mereka saya sedang berkata, “Dengan berbicara dalam bahasamu, saya belajar memahami kamu.” Tentu saja saya belum banyak tahu untuk dapat berbicara terus dalam bahasa Patois, tetapi pintu kesempatan telah terbuka.

Ketika berdiri di hadapan orang-orang Atena, Rasul Paulus menunjukkan kepada mereka bahwa ia mengenal budaya mereka. Ia mengatakan bahwa ia melihat mezbah mereka yang ditujukan “kepada allah yang tidak dikenal,” dan ia mengutip salah seorang penyair mereka. Tentu, tidak semua orang mempercayai pesan Paulus tentang kebangkitan Yesus, tetapi ada dari mereka yang berkata, “Kami ingin mendengar Saudara berbicara lagi mengenai hal ini” (Kis. 17:32 BIS).

Ketika kita berbicara kepada orang lain tentang Tuhan Yesus dan keselamatan yang Dia tawarkan, pelajaran-pelajaran dari Kitab Suci mengajarkan kepada kita cara untuk dapat memahami mereka— ibaratnya mempelajari bahasa mereka—agar terbuka jalan untuk memberitakan kabar baik kepada mereka (lihat juga 1Kor. 9:20-23).

Ketika kita mengetahui “Wah Gwan?” dalam kehidupan orang lain, terbukalah pintu bagi kita untuk bersaksi tentang apa yang telah Allah perbuat dalam hidup kita. —Dave Branon

Tunjukkan kepada kami, ya Tuhan, apa yang penting bagi orang lain. Tolong kami untuk mendahulukan kepentingan orang lain, dan berilah kepada kami kesempatan untuk menceritakan tentang kasih Yesus.

Sebelum kamu membagikan kabar baik tentang Kristus kepada orang lain, biarlah terlebih dahulu mereka melihat kepedulianmu.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-Raja 1-2; Lukas 19:28-48

Artikel Terkait:

Warisan nenek penjual pecel

Menyebarkan Keharuman

Rabu, 19 April 2017

Menyebarkan Keharuman

Baca: 2 Korintus 2:14-16

2:14 Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.

2:15 Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.

2:16 Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?

Syukur bagi Allah, . . . dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. —2 Korintus 2:14

Menyebarkan Keharuman

Penulis Rita Snowden pernah menceritakan pengalamannya yang menyenangkan saat mengunjungi sebuah desa kecil di Dover, Inggris. Saat duduk di luar sebuah kedai di sore hari sambil menikmati secangkir teh, ia mencium ada aroma yang harum. Rita bertanya kepada pelayan dari mana sumber keharuman tersebut. Ia diberi tahu bahwa keharuman itu berasal dari orang-orang yang lewat di sekitarnya. Sebagian besar penduduk desa bekerja di sebuah pabrik parfum yang tidak jauh dari sana. Saat pulang, mereka pun membawa dan menyebarkan wangi parfum yang terserap oleh pakaian mereka.

Sungguh itu menjadi gambaran yang indah tentang kehidupan orang Kristen! Rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah bau yang harum dari Kristus dan yang menyebarkan keharuman-Nya ke mana pun (2Kor. 2:15). Paulus menggunakan gambaran tentang seorang raja yang kembali dari pertempuran sedang berpawai bersama pasukan dan tawanannya. Arak-arakan itu menyebarkan wangi dupa kemenangan ke udara sebagai tanda kebesaran sang raja (ay.14).

Kita menyebarkan keharuman Kristus dengan dua cara. Pertama, melalui perkataan kita: menceritakan kepada orang lain tentang Pribadi yang terindah bagimu. Kedua, melalui kehidupan kita: melakukan perbuatan yang mencerminkan pengorbanan Kristus (Ef. 5:1-2). Meskipun keharuman ilahi yang kita sebarkan tidak akan dihargai oleh beberapa orang, hal itu tetap akan membawa kehidupan bagi banyak orang.

Rita Snowden menghirup keharuman di sebuah kedai dan tergerak untuk mencari sumbernya. Ketika kita mengikut Yesus, kita juga menyerap keharuman-Nya, dan kita menyebarkan keharuman-Nya itu di mana pun kita berada melalui setiap perkataan dan perbuatan kita. —Sheridan Voysey

Tuhan Yesus, jadikanlah kami pembawa dan penyebar keharuman-Mu kepada siapa saja yang ada di rumah, di kantor, dan di lingkungan kami.

Kita adalah bau yang harum dari Kristus bagi sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 6-8; Lukas 15:1-10

Injil yang Viral

Selasa, 21 Februari 2017

Injil yang Viral

Baca: 1 Tesalonika 1:1-10

1:1 Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

1:2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.

1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

1:4 Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.

1:5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.

1:6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

1:7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.

1:8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.

1:9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,

1:10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah. —1 Tesalonika 1:8

Injil yang Viral

Proyek Viral Texts yang dilakukan oleh Northeastern University di Boston mempelajari bagaimana suatu berita cetak pada abad ke-19 tersebar melalui surat kabar—jaringan media sosial pada zaman itu. Pada era revolusi industri itu, sebuah artikel dianggap “viral” (tersebar dengan cepat dan luas) apabila dicetak ulang hingga 50 kali atau lebih. Dalam artikelnya di majalah Smithsonian, Britt Peterson mencatat bahwa sebuah artikel berita dari abad ke-19 tentang para pengikut Yesus yang dihukum mati karena iman mereka pernah dicetak ulang setidaknya 110 kali.

Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Tesalonika, ia memuji mereka atas kesaksian mereka yang berani dan penuh sukacita tentang Yesus Kristus. “Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah” (1Tes. 1:8). Berita Injil menjadi viral melalui orang-orang yang hidupnya telah diubahkan oleh Yesus Kristus tersebut. Walaupun mengalami berbagai kesulitan dan penganiayaan, mereka tidak berdiam diri.

Kita mewartakan kisah tentang pengampunan dan kehidupan kekal di dalam Kristus melalui kebaikan hati, tindakan nyata, dan perkataan yang jujur dari kita semua yang sudah mengenal Tuhan. Injil mengubahkan hidup kita dan juga hidup orang-orang yang kita jumpai.

Kiranya kabar itu terus kita gemakan agar didengar semua orang hari ini! —David McCasland

Tuhan Yesus, tolong kami untuk menjalani hidup dengan berani dan membagikan kabar baik tentang Engkau kepada sesama kami hari ini.

Tidak ada kabar yang lebih baik daripada Injil. Mari beritakan!

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 1-3; Markus 3

Artikel Terkait:

5 Kesalahan yang (Mungkin) Sering Kita Lakukan dalam Membagikan Iman

Kekristenan adalah iman yang menular. Ironisnya, bagi kebanyakan orang Kristen, membagikan imannya itu tidak mudah. Mengapa? Baca pengamatan menarik James tentang hal ini!

Harta untuk Dibagikan

Kamis, 19 Januari 2017

Harta untuk Dibagikan

Baca: 2 Korintus 4:1-7

4:1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

4:2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

4:3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,

4:4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

4:5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.

4:6 Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. —2 Korintus 4:7

Harta untuk Dibagikan

Pada bulan Maret 1974, para petani di Tiongkok yang sedang menggali sumur menemukan sesuatu yang mengejutkan. Di bawah tanah kering di Tiongkok tengah itu terkubur Tentara Terakota—patung-patung tanah liat seukuran orang dewasa yang berasal dari abad ke-3 SM. Temuan yang luar biasa itu terdiri dari 8.000 tentara, 150 kuda kavaleri, dan 130 kereta yang ditarik oleh 520 kuda. Tentara Terakota itu telah menjadi salah satu lokasi wisata paling populer di Tiongkok, dengan memikat lebih dari satu juta pengunjung setiap tahunnya. Harta menakjubkan yang terkubur selama berabad-abad lamanya itu sekarang telah diperkenalkan kepada dunia.

Rasul Paulus menuliskan bahwa para pengikut Kristus mempunyai harta terpendam dalam diri mereka yang harus dibagikan kepada dunia: “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor. 4:7). Harta yang kita punyai di dalam diri kita itu adalah kabar baik tentang Kristus dan kasih-Nya.

Harta itu bukanlah untuk disembunyikan tetapi untuk dibagikan sehingga oleh kasih dan anugerah Allah setiap bangsa dapat menjadi keluarga-Nya. Melalui karya Roh Kudus, kiranya hari ini kita dapat membagikan harta tersebut kepada seseorang. —Bill Crowder

Ya Bapa, kabar baik tentang Yesus Kristus itu terlalu indah untuk kusimpan sendiri. Kiranya aku menyatakan Injil melalui hidupku dan membagikannya kepada orang lain sepanjang hidupku bersama-Mu, Tuhan.

Kiranya orang lain tidak hanya mendengar kesaksian kita, tetapi juga melihat bukti nyata dari kesaksian itu dalam hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 46-48; Matius 13:1-30

Artikel Terkait:

Ketika Temanku Menjadi Tersangka Kasus Pembunuhan

“Aku tidak dapat tidur nyenyak malam itu. Aku hanya tidak dapat percaya bagaimana seorang temanku yang lemah lembut seperti Kosal dapat terlibat dalam kasus pembunuhan yang begitu keji.”

Baca cerita selengkapnya di dalam artikel berikut.