Posts

Ini Caraku Memberitakan Injil

Oleh Amy Ji, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Oh Dear, Am I Ashamed Of The Gospel?

Masa-masa itu datang lagi. Gerejaku menyebutnya sebagai “masa penginjilan”.

Pendetaku berkata kalau ini adalah momen yang tepat untuk membangkitkan kembali semangat penginjilan dengan mengundang teman atau kerabat datang ke gereja. Aku membuka daftar kontak di ponselku. Siapakah yang mungkin kuundang ke gereja kali ini? Semua temanku tahu cerita Paskah. Maksudku, hampir semua temanku dulu belajar di sekolah Methodist, apa lagi yang harus aku ceritakan kepada mereka?

Di persekutuan pemuda, aku malah merasa lebih buruk. Mereka mengatakan kalau kita bisa menggunakan media sosial untuk menyebarkan Injil kepada teman-teman kita. Ayat-ayat Alkitab ditulis dengan tipografi dan diletakkan di atas foto yang bagus. Isi caption-nya mungkin seperti ini: “Pernahkah kamu merasa hilang dan sendirian?”, atau kutipan-kutipan populer dari penulis Kristen: “Jangan sia-siakan hidupmu.” Aku terduduk di kursiku. Aku pernah mendengar teman-temanku mengeluh tentang orang-orang yang mengunggah konten inspirasional tapi tidak menghidupinya di keseharian mereka. Tidak otentik, kata mereka. Aku pun tidak mau kalau ada orang lain yang mengatakan demikian terhadapku.

Ketika aku mengajukan keberatanku kepada pemimpin persekutuan itu, dia dengan cepat menyimpulkan, “Kamu malu terhadap Injil.”

Aku berpikir kembali tentang pertobatanku dulu. Dua cara di atas tidak berefek kepadaku. Meski aku sudah mengikuti ibadah pra-paskah berkali-kali dan melihat ratusan konten Kristen seperti kutipan-kutipan Injil di media sosial, itu semua tidak meyakinkanku tentang kebenaran.

Di sisi lain, kekurangan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Alkitab dan juga orang-orang Kristen di sekitarkulah yang justru meyakinkanku akan kebenaran Injil. Jika Allah dapat menggunakan pembohong seperti Abraham untuk menjadi orang benar, dan seorang pezinah seperti Daud untuk menjadi seorang yang berkenan pada-Nya; jika Allah dapat menyelamatkan kakak kelasku di sekolah yang vulgar dan menjengkelkan, atau membawa seorang mantan pengedar narkoba menangis di altar-Nya; jika Allah menginginkan orang-orang berdosa seperti mereka, maka Dia pun mungkin juga menginginkanku.

Jangan salah sangka. Aku tidak ingin meremehkan acara-acara gereja ataupun pelayanan media sosial untuk menjangkau jiwa. Aku menyaksikan ada orang-orang yang diberkati melalui pesan-pesan yang dibagikan lewat cara-cara itu. Tapi, cara itu tidak berhasil buatku. Dan, mungkin juga tidak berhasil buatmu. Apa yang ingin aku katakan adalah kita tidak menjadi kurang Kristen jika tidak menggunakan cara-cara itu.

Jadi, bagaimana aku memberitakan Injil?

Aku tidak memberitakan Injil seperti yang gerejaku inginkan. Aku mengundang orang-orang untuk datang dan makan bersama di rumahku. Aku menjalin relasi yang dekat dan menjaga komunikasi dengan teman-temanku yang bukan Kristen. Seperti yang orang lain juga lakukan, aku menghadiri pernikahan mereka, upacara pemakaman orangtua mereka, dan juga pesta ulang tahun anak-anak mereka. Aku mendengar keluhan-keluhan mereka, dan mereka pun mendengarku. Ketika mereka bertanya kepadaku tentang bagaimana aku bisa mengatasi situasi yang sulit, dengan jujur aku mengatakan kalau aku mendapat kekuatan dan harapanku dalam Kristus. Ketika mereka harus menghadapi operasi atau anak-anak mereka sakit, dan mereka memintaku untuk berdoa buat mereka, dengan senang hati aku melakukannya, tapi dalam kondisi di mana mereka mengizinkanku untuk berdoa bersama mereka.

Beberapa temanku telah datang kepada Kristus, dan dua keluarga juga telah menghadiri ibadah di gerejaku. Tidak hanya itu, Allah menggunakan keterbukaan dan kebaikan yang kulakukan untuk melembutkan hati orang-orang yang berseteru dengan Kekristenan, dan Dia mengizinkanku untuk membangun relasi yang bertumbuh dan berarti dengan orang-orang yang berbeda iman dariku supaya berita Injil bisa disebarkan dan suatu saat juga diterima.

Kekuatan Injil itu jauh lebih besar daripada ayat-ayat Alkitab yang dikemas cantik atau kutipan-kutipan terkenal. Jangkauannya jauh lebih besar daripada pengkhotbah yang berkarisma dan berbagai strategi pemasaran. Kekuatan Allah dinyatakan melalui kelemahan dan keterbatasan kita, dan aku pun tidak malu untuk berbangga atasnya.

Ketika membagikan hidupku dengan orang-orang di sekitarku, aku membagikan ketakutanku sebagai seorang ibu atau pergumulanku dengan pelayanan pemuda. Di dalam kenyataan dan ketidaksempurnaan hidupku, biarlah orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan.

Baca Juga:

Ketika Aku Bertobat dari Menghakimi Orang Lain

Aku merasa malu. Aku hanya melihat orang dari luarnya saja, aku menghakiminya sejak dalam pikiranku. Aku selalu merasa kalau akulah yang paling rohani di antara yang lain.

Mewariskan Iman

Kamis, 22 Maret 2018

Mewariskan Iman

Baca: Mazmur 79:8-13

79:8 Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami.

79:9 Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!

79:10 Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: “Di mana Allah mereka?” Biarlah di hadapan kami bangsa-bangsa lain mengetahui pembalasan atas darah yang tertumpah dari hamba-hamba-Mu.

79:11 Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!

79:12 Dan balikkanlah ke atas pangkuan tetangga kami tujuh kali lipat cela yang telah didatangkan kepada-Mu, ya Tuhan!

79:13 Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.

Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun. —Mazmur 79:13

Mewariskan Iman

Telepon saya berbunyi, tanda ada pesan pendek yang masuk. Ternyata putri saya meminta saya mengirimkan resep kue es krim pepermin ala nenek saya kepadanya. Ketika mencarinya di antara tumpukan kartu yang sudah menguning dalam sebuah kotak usang, saya memperhatikan tulisan tangan yang unik dari nenek saya—dan beberapa catatan ibu saya dalam huruf sambung. Saya pun tersadar, karena sekarang putri saya memintanya, resep kue es krim pepermin itu sudah diturun-temurunkan hingga generasi keempat dalam keluarga saya.

Saya bertanya-tanya, Apakah hal lain yang dapat diwariskan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya? Bagaimana dengan pilihan-pilihan soal iman? Selain resep kue, apakah iman nenek saya—dan iman saya sendiri—berperan penting dalam kehidupan putri saya dan anak-cucunya kelak?

Dalam Mazmur 79, pemazmur meratapi ketidaktaatan Israel yang telah kehilangan pegangan imannya. Ia memohon kepada Allah untuk melepaskan umat-Nya dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal-Nya dan memulihkan Yerusalem. Jika itu terjadi, ia berjanji untuk kembali setia kepada jalan Allah hingga selamanya. “Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun” (ay.13).

Dengan penuh semangat saya meneruskan resep itu kepada putri saya. Resep kue ala nenek saya akan tetap hidup dalam keluarga kami. Tidak lupa saya sungguh-sungguh berdoa agar kami juga menurunkan satu warisan kekal yang terpenting dan abadi, yaitu iman yang mempengaruhi keluarga kami dari generasi ke generasi. —Elisa Morgan

Kesaksian hidup yang sesuai dengan iman merupakan cara terbaik untuk mewariskan iman tersebut.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 10-12; Lukas 1:39-56

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Robby Kurniawan

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Rabu, 17 Januari 2018

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Baca: Roma 11:33-36

11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. —Roma 11:36

Menumbuhkan Sikap Bersyukur

Apakah Anda ingin makin memiliki sikap hati yang bersyukur? George Herbert, penyair Inggris dari abad ke-17, mendorong para pembacanya untuk mencapai tujuan itu melalui puisinya “Gratefulness” (Ucapan Syukur): “Walau begitu banyak yang telah Engkau berikan padaku, berilah satu hal lagi: hati yang bersyukur.”

Herbert menyadari bahwa satu-satunya hal yang ia perlukan agar dapat bersyukur hanyalah kesadaran akan berkat-berkat Allah yang telah diterimanya.

Roma 11:36 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah sumber segala berkat: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” “Segala sesuatu” mencakup semua pemberian, baik pemberian yang luar biasa maupun yang biasa kita terima dalam hidup kita sehari-hari. Setiap hal yang kita terima dalam hidup ini berasal langsung dari Bapa Surgawi (Yak. 1:17), dan Allah rela memberikan semua itu karena kasih-Nya kepada kita.

Untuk menumbuhkan kesadaran saya akan berkat-berkat Allah di dalam hidup saya, saya belajar untuk mengembangkan sikap hati yang menyadari sumber dari seluruh sukacita yang saya alami setiap hari, khususnya berkat-berkat yang sering saya pandang enteng atau yang saya anggap biasa-biasa saja. Berkat-berkat seperti itu termasuk, misalnya, cuaca yang cerah untuk lari pagi, pertemuan yang santai dengan teman-teman, persediaan makanan yang cukup untuk keluarga saya, keindahan alam yang terlihat dari jendela rumah, bahkan hingga aroma kopi yang baru diseduh.

Apa saja berkat yang telah dilimpahkan Allah bagi Anda? Buka mata Anda untuk melihat berkat-berkat tersebut dan Anda akan dimampukan untuk menumbuhkan sikap hati yang bersyukur. —lisa samra

Sediakan waktu beberapa menit untuk bersyukur kepada Allah atas apa pun yang muncul di benak Anda saat ini. Cobalah melakukan hal itu sepanjang hari ini.

Ketika Anda memikirkan segala hal yang baik, bersyukurlah kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 41–42; Matius 12:1-23

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Grace Syiariel

Mengutamakan yang Terpenting

Kamis, 7 Desember 2017

Mengutamakan yang Terpenting

Baca: 1 Timotius 4:12-16

4:12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

4:14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.

4:15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.

4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. —1 Timotius 4:16

Mengutamakan yang Terpenting

Ketika kamu melakukan perjalanan udara, sebelum pesawat lepas landas, para pramugari dan pramugara biasanya memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan. Mereka menjelaskan apa yang perlu dilakukan jika tekanan dalam kabin pesawat menurun. Para penumpang diberi tahu bahwa masker oksigen akan otomatis jatuh dari kompartemen atas dan mereka harus memakainya sendiri terlebih dahulu sebelum menolong penumpang lain. Mengapa demikian? Karena sebelum dapat menolong orang lain, kita perlu memperhatikan kesiapan fisik kita sendiri.

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus menekankan pentingnya Timotius menjaga kesehatan rohaninya sendiri sebelum menolong dan melayani orang lain. Ia mengingatkan Timotius tentang banyaknya tanggung jawab sebagai pemimpin jemaat: Ada ajaran palsu yang harus dihadapi (1Tim. 4:1-5) dan doktrin-doktrin sesat yang perlu diluruskan (ay.6-8). Namun, agar dapat menunaikan tugasnya dengan baik, hal terpenting yang harus dilakukan Timotius adalah mengawasi dirinya sendiri dan ajarannya serta tekun melakukan semuanya itu (ay.16). Timotius perlu menjaga persekutuan pribadinya dengan Tuhan terlebih dahulu sebelum ia dapat menolong orang lain.

Nasihat Paulus kepada Timotius juga berlaku bagi kita. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Ketika kita mengisi kerohanian kita terlebih dahulu lewat perenungan firman Tuhan dan doa serta kesanggupan yang diberikan Roh Kudus, persekutuan pribadi kita dengan Allah pun akan selalu terjaga. Dengan demikian, kita akan siap secara rohani untuk menolong orang lain. —C. P. Hia

Tuhan, ajarkanlah firman-Mu kepadaku sekarang. Perkenankan aku merasakan kesegarannya sebelum aku pergi menjadi terang-Mu bagi dunia.

Kehidupan orang Kristen bagaikan jendela terbuka yang melaluinya orang lain dapat melihat Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5-7 dan 2 Yohanes

Menulis Surat

Minggu, 10 September 2017

Menulis Surat

Baca: 2 Korintus 3:1-6

3:1 Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?

3:2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.

3:3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.

3:4 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus.

3:5 Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

3:6 Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.

Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. —2 Korintus 3:2

Menulis Surat

Ibu saya dan saudari-saudarinya masih suka menulis surat—suatu seni yang semakin ditinggalkan orang. Setiap Minggu mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka melalui surat; begitu konsistennya hingga ada seorang tukang pos yang merasa khawatir apabila ia tidak membawa surat untuk dikirimkan! Surat mereka berisi kisah tentang seluk-beluk dan suka-duka kehidupan, serta peristiwa sehari-hari yang dialami teman-teman dan keluarga.

Saya senang memikirkan kegiatan Mingguan yang dilakukan oleh para wanita itu. Lewat kegiatan tersebut, saya didorong untuk semakin menghargai perkataan Rasul Paulus yang menyatakan bahwa mereka yang mengikut Yesus disebut sebagai “surat Kristus”, yang “ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup” (2Kor. 3:3). Dalam menanggapi guru-guru palsu yang ingin mendiskreditkan berita yang dibawanya (lihat 2 Kor. 11), Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk senantiasa mengikut Allah yang hidup dan sejati seperti yang diajarkannya. Dalam pesannya, ia menggambarkan orang percaya sebagai surat Kristus. Hidup mereka yang telah diubahkan merupakan kesaksian tentang karya Roh yang bekerja dalam pelayanan Paulus yang lebih kuat daripada surat tertulis apa pun.

Alangkah indahnya ketika Roh Allah yang diam di dalam kita menuliskan kisah tentang anugerah dan penebusan Allah! Meskipun sama pentingnya dengan kata-kata yang tertulis, hidup kita menjadi saksi kebenaran Injil yang terbaik, karena hidup kita berbicara begitu banyak lewat belas kasih, pelayanan, ucapan syukur, dan sukacita yang kita tunjukkan. Melalui perkataan dan perbuatan kita, Tuhan dapat menyebarkan kasih-Nya yang menghidupkan. Jadi, pesan apa yang kamu sampaikan lewat hidupmu hari ini? —Amy Boucher Pye

Tuhan Allah, tulislah kisah hidupku agar aku dapat mencerminkan kasih dan kebaikan-Mu kepada siapa saja yang kutemui hari ini.

Kita adalah surat-surat Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 8-9 dan 2 Korintus 3

Siap Dituai

Selasa, 22 Agustus 2017

Siap Dituai

Baca: Yohanes 4:35-38

4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

4:36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

4:37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.

4:38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. —Yohanes 4:35

Siap Dituai

Di penghujung musim panas, kami berjalan-jalan di New Forest, Inggris. Dengan gembira, kami memetik buah beri hitam yang tumbuh di alam liar sambil melihat beberapa kuda bermain di sekitar kami. Sambil menikmati dompolan buah manis yang ditanam orang lain beberapa tahun sebelumnya, saya teringat ucapan Yesus kepada murid-murid Nya: “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan” (Yoh. 4:38).

Saya suka dengan kemurahan hati Allah yang terlihat di ayat tersebut. Dia memperkenankan kita menikmati buah dari kerja keras orang lain, seperti ketika kita membagikan tentang kasih kita kepada Yesus. Kita membagikannya kepada seorang teman yang tanpa sepengetahuan kita telah didoakan oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Saya juga suka dengan batasan-batasan yang tersirat dalam ucapan Yesus tersebut, karena kita mungkin menanam benih yang buahnya tidak akan pernah kita tuai tetapi mungkin dituai oleh orang lain. Oleh karena itu, kita dapat berserah ketika melakukan tugas-tugas yang kita terima, tanpa dikungkung pemikiran bahwa kita bertanggung jawab terhadap hasilnya. Bagaimanapun, pekerjaan Allah tidak bergantung kepada kita. Allah memiliki semua sumber daya untuk menghasilkan tuaian yang berlimpah dan kita mendapat kehormatan untuk ikut ambil bagian di dalamnya.

Saya membayangkan ladang apa yang siap kamu dan saya tuai? Kiranya kita memperhatikan instruksi Yesus yang penuh kasih: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai!” (ay.35). —Sheridan Voysey

Allah Pencipta, terima kasih karena kemurahan hati-Mu sehingga mempercayai kami untuk melakukan pekerjaan-Mu. Kiranya kami selalu peka dengan setiap kesempatan untuk membagikan kabar baik-Mu.

Kita dapat menuai apa yang ditabur orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 110-112 dan 1 Korintus 5

Kita Harus Berhenti Memasarkan Kekristenan

kita-harus-berhenti-memasarkan-kekristenan-(2)

Oleh Christan Reksa, Tangerang Selatan

Di hari Sabtu pagi yang tenang, seorang teman seangkatanku di kuliah bertanya di sebuah grup Whatsapp:

“Untuk mas-mas yang Nasrani, dari perspektif pribadi, menurut mas agama memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari gak? Apakah itu sesuatu yang penting untuk dipelajari?“

Pertanyaan yang hadir tiba-tiba itu cukup mengagetkanku. Grup Whatsapp itu adalah grup yang beranggotakan sekitar 30 orang teman-teman kulihaku dulu yang berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian besar dari mereka bukanlah orang Kristen.

Aku pun memberanikan diri untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara perlahan dan runut, tapi juga sesederhana mungkin. Aku menjelaskan bahwa inti dari Kekristenan adalah hidup yang berpusat kepada Kristus, dan bersyukur atas pengorbanan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya yang menyelamatkan kita dari kematian kekal karena dosa. Oleh karena itu, penting bagiku untuk mempelajari ajaran Kristus, agar aku dapat meneladani Kristus dan menjadi semakin serupa dengan-Nya.

Setelah aku memberikan jawabanku, mengalirlah sebuah diskusi yang lumayan panjang di grup itu. Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dan aku mencoba menjawabnya untuk mempertanggungjawabkan iman yang aku percayai. Namun, aku juga berhati-hati agar tidak memicu perdebatan yang dapat menimbulkan kepahitan.

Diskusi itu akhirnya berakhir dengan aman dan damai, namun hasil diskusi itu cukup mengagetkanku. Ada banyak kesalahpahaman antara persepsi teman-temanku mengenai Kekristenan dan iman Kristen yang sesungguhnya aku percayai. Mereka hanya mendengar tentang Kekristenan dari tokoh agama mereka, dan tidak mendapatkan cukup penjelasan yang memadai dari orang Kristen sendiri.

Diskusi hari itu membuatku berpikir dan mencoba mengintrospeksi diriku. “Kalau teman-temanku memiliki pemahaman yang salah tentang Kekristenan, siapakah yang salah?” pikirku. Harus kuakui, sebagai orang Kristen, kadang aku juga takut untuk memulai diskusi dengan orang lain yang berbeda iman, apalagi jika topiknya mengarah kepada pembahasan tentang iman masing-masing. Kita mungkin takut menyinggung perasaan orang lain dan akhirnya memilih untuk diam. Tapi, sikap diam kita justru membuat banyak orang mendengar tentang iman Kristen dari sumber yang salah.

Di ekstrem yang lain, ada juga seminar-seminar penginjilan yang berfokus untuk mengorek-ngorek kelemahan kepercayaan lain, dan mengajarkan cara memasarkan Kekristenan, seolah-olah Kekristenan itu adalah sebuah produk yang superior dan semua kepercayaan di luar Kristen adalah kompetitor kita. Cara berpikir seperti ini bisa jadi malah membuat kita memandang rendah orang-orang dari kepercayaan lain. Bukannya melihat mereka sebagai objek untuk dikasihi, kita malah melihat mereka sebagai objek untuk dihakimi. Dan sedihnya lagi, tidak jarang itu juga yang dilakukan pemuka-pemuka agama dan diturunkan kepada umatnya.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dan memikirkan kembali bagaimana kita seharusnya memberitakan Injil. Yang harus kita lakukan bukanlah memasarkan Kekristenan, tetapi membagikan kasih Kristus. Ya, kasih Kristus, Sang Sumber Kasih yang telah mati untuk menebus dosa kita (Roma 5:8).

Bukalah dialog. Nyatakan kasih Kristus kepada teman-teman yang berbeda iman dengan penuh rasa hormat. Janganlah kita menghakimi mereka, melainkan tunjukkanlah bahwa kita memang benar-benar mengasihi mereka dan ingin mengenal mereka. Aku percaya, mengasihi harus dimulai terlebih dahulu dengan mencoba memahami mereka.

Melalui kasih Kristus yang kita bagikan, niscaya pintu dialog akan terbuka pelan-pelan, dan bila Tuhan berkenan, Roh Kudus akan membukakan kesempatan bagi kita untuk membagikan kesaksian kita—kesaksian tentang kasih Kristus yang tanpa batas, yang telah menyentuh kita, dan yang kita rindukan juga untuk dapat menyentuh semua orang di dunia ini.

Ketika kita membagikan kasih Kristus, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan kepada diri kita: “Apakah kita melihat diri kita lebih layak daripada orang lain? Apakah kita merasa diri lebih baik dan lebih unggul karena telah mengenal Kristus?” Bila kita menjawab “ya”, kita mungkin perlu menarik diri sejenak dan mengingat kembali bahwa sesungguhnya kita semua adalah manusia berdosa. Jika kita bisa diselamatkan, dan terus hidup dan berkarya hingga saat ini, itu hanya karena kasih karunia Allah (Roma 3:23-24). Kasih Kristus yang telah kita terima itulah yang perlu kita bagikan kepada orang lain.

Akhirnya, marilah kita meminta bimbingan Roh Kudus untuk membukakan kesempatan yang tepat untuk membagikan kasih Kristus dan kesaksian iman kita.

Baca Juga:

PustaKaMu: Doa Itu Bukan Sekadar Meminta Pada Tuhan

Dalam sebuah sesi pendalaman Alkitab bersama mentorku, kami membahas tentang seberapa pentingnya doa dalam kehidupan orang Kristen. Terus terang, aku bukanlah termasuk orang yang rajin berdoa. Ketika berdoa, aku lebih memfokuskan doaku untuk meminta Tuhan memenuhi apa yang menjadi keinginan hatiku.

Menunjukkan Anugerah

Sabtu, 5 Agustus 2017

Menunjukkan Anugerah

Baca: Kolose 4:2-6

4:2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.

4:3 Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.

4:4 Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.

4:5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.

4:6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. —Kolose 4:6

Menunjukkan Anugerah

Turnamen Golf Masters Amerika Serikat dimulai pada tahun 1934. Sejak saat itu, hanya tiga pemain yang telah memenangi turnamen tersebut selama dua tahun berturut-turut. Tanggal 10 April 2016, tampaknya Jordan Spieth, yang berusia 22 tahun, akan menjadi pemain ke-4 yang memenangi turnamen dua tahun berturut-turut. Namun, perjuangan Jordan makin melemah di 9 lubang terakhir dan ia pun harus puas menduduki peringkat kedua pada klasemen akhir. Dengan mengabaikan kekalahannya yang mengecewakan, Spieth tetap bersikap ramah pada juara turnamen, Danny Willet. Spieth mengucapkan selamat atas kemenangan Willet sekaligus atas kelahiran anak pertamanya, sesuatu “yang lebih penting daripada permainan golf”.

Dalam tulisannya di surat kabar The New York Times, Karen Krouse mengatakan, “Butuh kebesaran hati bagi Spieth untuk dapat mengetahui apa yang terpenting segera setelah menyaksikan lawan yang mengalahkannya meraih trofi dan penghargaan sebagai pemenang” Krouse melanjutkan, “Spieth memang tampil buruk di lapangan, tetapi sikap dan karakter yang ditampilkannya sungguh tidak bercela.”

Paulus mendorong para murid Yesus di Kolose, “Hendaklah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol. 4:5-6).

Sebagai orang yang telah memperoleh kasih karunia Allah, menjadi hak istimewa sekaligus panggilan kita untuk menunjukkannya di tiap situasi kehidupan kita—baik saat menang atau kalah. —Leslie Koh

Tuhanku, tolong aku dengan Roh-Mu untuk bersikap ramah dan baik kepada orang lain sekaligus menyatakan tentang diri-Mu.

Kata-kata yang penuh kasih selalu baik untuk diucapkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 68-69 dan Roma 8:1-21

Manusia Baru

Senin, 31 Juli 2017

Manusia Baru

Baca: Kolose 1:3-14

1:3 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu,

1:4 karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,

1:5 oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,

1:6 yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya.

1:7 Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.

1:8 Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.

1:9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,

1:10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,

1:11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,

1:12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.

1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;

1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

Kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil. —Kolose 1:23

Manusia Baru

Saat sekelompok remaja mengunjungi panti wreda di Montego Bay, Jamaika, seorang remaja putri memperhatikan seorang pria yang terlihat kesepian di ujung ruangan. Pria itu tidak dapat turun dari tempat tidur karena keterbatasan fisiknya.

Remaja tadi langsung membagikan cerita tentang kasih Allah dan membacakan ayat-ayat Alkitab kepada pria itu. “Saat berbagi dengannya,” kata remaja itu kemudian, “saya dapat merasakan keinginannya untuk mendengar lebih banyak lagi.” Remaja putri itu kemudian menjelaskan keajaiban dari kematian Yesus yang berkorban bagi kita. “Sulit bagi pria yang sudah tak punya harapan dan keluarga itu untuk memahami bahwa satu Pribadi yang tidak pernah dikenalnya begitu mengasihinya sampai rela mati di kayu salib untuk menebus dosanya,” ujar remaja putri itu.

Ia pun menceritakan lebih banyak lagi tentang Yesus—dan juga janji akan surga (termasuk tubuh yang baru) bagi semua yang percaya. Pria tersebut lalu bertanya, “Maukah kamu berdansa denganku nanti di atas sana?” Remaja putri tersebut melihat pria itu mulai membayangkan dirinya terbebas dari tubuhnya yang rapuh dan lumpuh.

Saat pria tersebut mengatakan ingin menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, remaja itu menolongnya berdoa memohon pengampunan dan iman. Saat remaja itu ingin berfoto bersamanya, pria tersebut menjawab, “Tentu saja, jika kamu mau menolongku untuk duduk. Sekarang aku adalah manusia baru.”

Syukur kepada Allah untuk Injil Yesus Kristus yang mengubahkan hidup, memberi pengharapan, dan tersedia bagi semua orang! Injil Yesus Kristus memberikan hidup baru bagi semua yang percaya kepada-Nya (Kol. 1:5,23). —Dave Branon

Tuhan, terima kasih untuk hidup baru yang kami miliki dalam Yesus Kristus. Tolonglah kami membagikan pengharapan dari hidup baru itu kepada orang lain agar mereka pun dijadikan baru.

Yesus memberikan hidup yang baru.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 54-56 dan Roma 3