Posts

Gangguan Berbahaya

Kamis, 15 November 2018

Gangguan Berbahaya

Baca: Yohanes 13:31-35

13:31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.

13:32 Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.

13:33 Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.

13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

13:35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. —Yohanes 13:35

Gangguan Berbahaya

Seniman Sigismund Goetze mengejutkan masyarakat Inggris pada zaman kekuasaan Ratu Victoria dengan lukisannya “Despised and Rejected of Men” (Dihina dan Dihindari Orang). Di lukisan itu, ia menggambarkan Yesus yang dihukum dan menderita sambil dikelilingi oleh orang dari generasi Goetze sendiri. Orang-orang itu tampak sibuk dengan urusan pribadi mereka—bisnis, percintaan, politik—hingga mereka sama sekali tak menyadari pengorbanan Sang Juruselamat. Kerumunan orang yang tak acuh terhadap Kristus itu, sama seperti kerumunan orang di bawah salib Yesus, tak memahami apa—atau siapa—yang telah mereka abaikan.

Demikian pula pada masa kini, orang yang percaya dan yang tidak percaya sama-sama mudah teralihkan dari hal-hal yang bersifat kekal. Bagaimana pengikut Yesus bisa menembus kabut ketidakpedulian itu dengan kebenaran tentang kasih Allah yang ajaib? Kita dapat memulai dengan saling mengasihi sebagai sesama anak-anak Allah. Yesus berkata, “Semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35).

Namun, kasih yang sejati tidak berhenti sampai di situ. Kita memperluas jangkauan kasih tersebut dengan membagikan Injil agar orang lain tertarik untuk mengenal Sang Juruselamat. Itulah yang disebutkan Paulus, “Kami ini adalah utusan-utusan Kristus” (2Kor. 5:20).

Dengan cara itulah, kita sebagai tubuh Kristus dapat mencerminkan sekaligus memancarkan kasih Allah, kasih yang sungguh-sungguh kita butuhkan, kepada satu sama lain di dalam umat Tuhan maupun kepada dunia kita. Kiranya dengan kesanggupan dari Roh-Nya, kedua upaya itu dapat menembus kabut ketidakpedulian yang menghalangi kita melihat keajaiban kasih Allah dalam diri Yesus. —Bill Crowder

Kita membawa terang kabar baik tentang Yesus ke dalam dunia yang diselimuti oleh kabut ketidakpedulian.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 1-2; Ibrani 11:1-19

Berkelip-kelip

Sabtu, 6 Oktober 2018

Berkelip-kelip

Baca: Filipi 2:14-16

2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

[Bercahayalah] di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan. —Filipi 2:15-16

Berkelip-kelip

“Twinkle, Twinkle, Little Star” adalah lagu pengantar tidur berbahasa lnggris yang terkenal. Liriknya yang berasal dari puisi karya Jane Taylor mengungkapkan keajaiban alam semesta ciptaan Allah dengan bintang-bintang yang tergantung “tinggi di langit”. Bait berikutnya yang jarang dinyanyikan menyatakan bahwa bintang-bintang itu memberikan panduan: “Kerlipmu yang terang menyinari jalan pengembara dalam gelapnya malam.”

Dalam suratnya, Paulus menantang jemaat di Filipi untuk hidup benar dan suci sehingga mereka “bercahaya . . . seperti bintang-bintang di dunia” ketika memberitakan kabar baik kepada orang-orang di sekitar mereka (2:15-16). Mungkin kita bingung bagaimana kita dapat bercahaya seperti bintang. Kita sering merasa tak layak dan tidak yakin apakah “cahaya” kita cukup memberikan pengaruh. Namun, bintang hanya perlu memancarkan terang. Terang mengubah dunia kita, dan juga mengubah kita. Allah menciptakan terang ke dalam dunia kita (Kej. 1:3); dan melalui Yesus, Allah membawa terang rohani ke dalam hidup kita (Yoh. 1:1-4).

Kita yang memiliki terang Allah dalam diri kita harus bercahaya sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar kita melihat cahaya itu dan tertarik untuk mengenal sumbernya. Seperti bintang-bintang yang tergantung di langit malam, terang kita memberikan pengaruh karena natur dari terang itu sendiri: ia bercahaya! Saat kita bersinar, kita mengikuti perintah Paulus untuk “berpegang pada firman kehidupan” di tengah dunia yang kelam, dan kita menarik orang lain untuk datang kepada sumber pengharapan kita: Tuhan Yesus Kristus. —Elisa Morgan

Allah yang baik, kiranya sinar-Mu terpancar dari kerapuhan diri kami di saat kami terus memegang firman kehidupan dan dan memberitakannya kepada sesama.

Yesus membawa terang ke dalam hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 26-27; Filipi 2

Puntung Kayu Allah

Selasa, 2 Oktober 2018

Puntung Kayu Allah

Baca: Zakharia 3:1-7

3:1 Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia.

3:2 Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: “TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?”

3:3 Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat itu,

3:4 yang memberikan perintah kepada orang-orang yang melayaninya: “Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.” Dan kepada Yosua ia berkata: “Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta.”

3:5 Kemudian ia berkata: “Taruhlah serban tahir pada kepalanya!” Maka mereka menaruh serban tahir pada kepalanya dan mengenakan pakaian kepadanya, sedang Malaikat TUHAN berdiri di situ.

3:6 Lalu Malaikat TUHAN itu memberi jaminan kepada Yosua, katanya:

3:7 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Apabila engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan melakukan tugas yang Kuberikan kepadamu, maka engkau akan memerintah rumah-Ku dan mengurus pelataran-Ku, dan Aku akan mengizinkan engkau masuk ke antara mereka yang berdiri melayani di sini.

Dosamu telah kubuang, engkau akan kuberi pakaian yang baru. —Zakharia 3:4 BIS

Puntung Kayu Allah

Setelah meraih anak yang terkecil, pelayan wanita yang panik itu bergegas keluar dari rumah yang sedang dilalap api. Ia masih berteriak keras memanggil Jacky, anak yang berumur lima tahun.

Namun, Jacky tidak mengikutinya. Di luar rumah, seorang warga cepat-cepat mengambil tindakan. Ia memanjat bahu temannya untuk menaiki jendela loteng, lalu ia menarik Jacky keluar dan membawanya ke tempat aman—persis sebelum atap rumah itu runtuh. “Jacky kecil seperti puntung kayu yang ditarik dari api,” kata Susanna, ibunya. “Puntung kayu” itu kemudian tumbuh menjadi pemberita Injil besar bernama John Wesley (1703-1791).

Susanna Wesley mengutip tulisan Zakharia, seorang nabi yang memberi kita wawasan berharga tentang karakter Allah. Saat menulis tentang penglihatan yang diterimanya, Zakharia membawa kita memasuki ruang pengadilan tempat Iblis berdiri di sebelah Imam Besar Yosua (3:1). Iblis mendakwa Yosua, tetapi Tuhan menghardik Iblis dan berkata, “Orang ini bagaikan puntung kayu yang ditarik dari nyala api” (ay.2 BIS). Kemudian Tuhan berkata kepada Yosua, “Dosamu telah kubuang, engkau akan kuberi pakaian yang baru” (ay.4 BIS).

Lalu Tuhan memberi Yosua tantangan—dan kesempatan: “Kalau engkau mematuhi hukum-hukum-Ku dan melakukan tugas-tugas yang Kuberikan kepadamu, maka untuk seterusnya engkau boleh menjadi pemimpin di dalam Rumah-Ku dan mengurus pelatarannya” (ay.7 BIS).

Sungguh indah gambaran anugerah yang kita terima dari Allah melalui iman kita kepada Yesus! Dia menarik kita dari api neraka, membersihkan kita, dan berkarya dalam diri kita sembari kita mengikuti tuntunan Roh-Nya. Kita pun dapat disebut sebagai puntung kayu yang ditarik dari api oleh Allah. —Tim Gustafson

Bapa, terima kasih karena Engkau menyelamatkan kami dan mendamaikan kami dengan-Mu. Kami mohon tuntunan Roh-Mu saat kami melayani-Mu hari ini.

Allah menyelamatkan kita karena Dia mengasihi kita; lalu Dia memperlengkapi kita untuk membagikan kasih-Nya kepada sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 14-16; Efesus 5:1-16

Artikel Terkait:

Mengapa Aku Tetap Berharap

Warisan Kasih

Senin, 17 September 2018

Warisan Kasih

Baca: 2 Timotius 1:1-5

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,

1:2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.

1:4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.

1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16

Warisan Kasih

Saya sedang membuka-buka halaman Alkitab milik nenek buyut saya saat sesuatu yang berharga jatuh ke pangkuan saya. Itu adalah secarik kertas yang mencantumkan tulisan tangan seorang anak kecil dan bertuliskan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (Mat. 5:3-4). Di samping ayat tersebut, terlihat tanda tangan ibu saya yang masih berantakan.

Nenek buyut saya memang punya kebiasaan mendidik cucu-cucunya untuk menuliskan ayat-ayat Alkitab agar mereka mempelajari dan menghayatinya. Namun, kisah di balik ayat itu sungguh membuat saya terharu. Kakek meninggal saat ibu saya masih sangat muda, lalu adiknya (paman saya) meninggal beberapa minggu kemudian. Di masa-masa penuh duka itulah, nenek buyut menolong ibu saya untuk mengenal Yesus dan mengalami penghiburan yang hanya dapat diberikan oleh-Nya.

Paulus menulis kepada Timotius, “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2Tim. 1:5). Iman tidak diwariskan secara otomatis karena garis keturunan, melainkan iman itu diteruskan. Ibu dan nenek Timotius meneruskan iman mereka kepadanya, dan Timotius menjadi percaya.

Ketika kita menguatkan orang-orang terdekat kita untuk tetap berharap kepada Yesus, kita sedang memberi mereka sebuah warisan kasih. Melalui catatan yang sederhana, ibu saya meninggalkan bukti tentang kasih neneknya kepada keluarganya dan Sang Juruselamat. Marilah mewariskan Kristus kepada anak-cucu kita! —James Banks

Bapa, terima kasih untuk mereka yang telah mewariskan kasih-Mu kepadaku. Hari ini, tolong aku mengarahkan orang lain pada keselamatan yang Engkau berikan.

Harta paling berharga yang bisa kita wariskan adalah iman kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 27-29; 2 Korintus 10

Kita akan Melihat Yesus

Jumat, 24 Agustus 2018

Kita akan Melihat Yesus

Baca: Yohanes 12:20-26

12:20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.

12:21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.”

12:22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.

12:23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Orang-orang itu pergi kepada Filipus, . . . lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” —Yohanes 12:21

Kita akan Melihat Yesus

Saat memandang dari atas mimbar, tempat saya membawakan doa di suatu acara pemakaman, saya melihat sekilas plakat berbahan kuningan yang mencantumkan kata-kata dari Yohanes 12:21: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Saya pun berpikir, alangkah tepat ayat itu ketika dengan air mata dan senyuman kami sedang mengenang seseorang yang hidupnya memancarkan Yesus. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kekecewaan dalam hidupnya, almarhum tidak pernah melepaskan imannya kepada Kristus. Karena Roh Allah juga hidup dalam dirinya, kami dapat melihat Yesus melalui hidupnya.

Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus memasuki Yerusalem (lihat Yoh. 12:12-16), sejumlah orang Yunani mendekati Filipus, salah satu murid Yesus, dan meminta, “Tuan, kami ingin bertemu Yesus” (ay.21). Bisa jadi mereka penasaran dengan penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat Yesus. Namun, karena bukan orang Yahudi, mereka tidak diizinkan memasuki pelataran Bait Allah. Ketika permintaan mereka diteruskan kepada Yesus, Dia menyatakan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk dimuliakan (ay.23). Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa Dia akan segera mati menanggung dosa banyak orang. Yesus akan memenuhi misi-Nya untuk menjangkau tidak saja orang Yahudi, tetapi juga orang non-Yahudi (“orang Yunani” di ayat 20), dan sekarang mereka hendak bertemu dengan Yesus.

Setelah Yesus Kristus mati, Dia mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri pengikut-pengikut-Nya (14:16-17). Jadi, saat kita mengasihi dan melayani Yesus, kita melihat bahwa Dia aktif berkarya dalam diri kita. Yang luar biasa, orang-orang di sekitar kita juga bisa melihat Yesus melalui kehidupan kita! —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, aku begitu terhormat dan takjub karena Engkau mau datang dan hidup di dalamku. Tolonglah aku untuk membagikan anugerah yang ajaib ini dengan orang-orang yang kutemui hari ini.

Kita bisa melihat Yesus lewat kehidupan pengikut-pengikut-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 116-118; 1 Korintus 7:1-19

Pengabdian Kasih

Rabu, 8 Agustus 2018

Pengabdian Kasih

Baca: Roma 9:1-5

9:1 Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

9:2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

9:3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.

9:4 Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

9:5 Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya [Israel] diselamatkan. —Roma 10:1

Pengabdian Kasih

Setelah beriman kepada Yesus Kristus, Nabeel Qureshi menulis beberapa judul buku untuk menolong para pembacanya agar bisa memahami orang-orang yang masih menganut agama yang dahulu pernah dianutnya. Qureshi menulis dengan cara yang sopan dan sikap yang menunjukkan kasih kepada orang-orang tersebut.

Qureshi mengabdikan salah satu bukunya untuk saudara perempuannya yang belum beriman kepada Yesus. Kalimat dedikasinya cukup singkat, tetapi sarat makna. “Aku memohon kepada Allah agar suatu hari nanti kita bisa beribadah kepada-Nya bersama-sama,” demikian tulisnya.

Kita bisa merasakan kasih yang serupa ketika membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma. Ia menulis, “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Rom. 9:2-3).

Paulus begitu mengasihi bangsa Yahudi sampai-sampai ia rela untuk terpisah dari Allah, jika itu bisa membuat mereka menerima Kristus. Ia memahami bahwa dengan menolak Yesus, kaum sebangsanya telah menolak satu-satunya Allah yang sejati. Itulah yang mendorongnya untuk mengimbau para pembacanya agar membagikan kabar baik tentang Yesus kepada setiap orang (10:14-15).

Hari ini, marilah kita sungguh-sungguh mengabdikan diri dalam kasih yang rela berkorban bagi orang-orang terdekat kita! —Tim Gustafson

Bapa, kami meminta kepada-Mu, penuhilah hati kami dengan kasih-Mu kepada sesamaku manusia. Kami membawa Saudara/Saudari _______________ kepada-Mu dan berdoa kiranya ia bisa melihat kebenaran tentang Anak-Mu, Yesus Kristus.

Kita harus mengasihi mereka yang baginya Kristus telah mati sekaligus mereka yang di dalam dirinya Kristus terus hidup.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 74-76; Roma 9:16-33

Menerapkan Iman

Senin, 2 Juli 2018

Menerapkan Iman

Baca: 1 Petrus 3:8-16

3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:

3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.

3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

3:16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! —1 Petrus 3:15

Menerapkan Iman

Saat menginap di sebuah hotel di Austin, Texas, saya melihat selembar kartu di meja dalam kamar saya. Pada kartu itu tertulis:

Selamat Datang
Semoga kamu beristirahat dengan nyaman dan perjalanan kamu membuahkan hasil.
Kiranya Tuhan memberkati dan melindungimu, dan menyinarimu dengan wajah-Nya.

Kartu dari pengelola hotel itu membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Saya pun mengakses situs mereka dan membaca tentang budaya, keunggulan, dan nilai-nilai yang mereka pegang. Dengan cara yang menarik, mereka berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan menerapkan iman mereka di dunia kerja.

Falsafah kerja mereka mengingatkan saya pada perkataan Petrus kepada para pengikut Yesus yang tersebar di seluruh Asia Kecil. Petrus mendorong mereka untuk menunjukkan iman mereka kepada Kristus di tengah masyarakat tempat mereka tinggal. Sekalipun mereka berada di bawah ancaman dan penganiayaan, Petrus menasihati mereka untuk tidak takut, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1Ptr. 3:15).

Salah seorang teman menyebut hal itu sebagai “menjalani gaya hidup yang menuntut jawaban”. Di mana pun kita tinggal atau bekerja, kiranya kita senantiasa menerapkan iman kita dengan kekuatan dari Allah hari demi hari. Kiranya kita selalu siap sedia memberikan jawaban dengan lemah lembut dan penuh hormat kepada siapa saja yang bertanya tentang pengharapan yang kita miliki. —David C. McCasland

Jalanilah hidup sedemikian rupa sehingga orang lain tergerak untuk bertanya tentang pengharapan yang kita miliki.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 22-24; Kisah Para Rasul 11

Bahu-Membahu

Rabu, 6 Juni 2018

Bahu-Membahu

Baca: Nehemia 3:1-12

3:1 Maka bersiaplah imam besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, lalu membangun kembali pintu gerbang Domba. Mereka mentahbiskannya dan memasang pintu-pintunya. Mereka mentahbiskannya sampai menara Mea, menara Hananeel.

3:2 Berdekatan dengan mereka orang-orang Yerikho membangun, dan berdekatan dengan orang-orang itu Zakur bin Imri.

3:3 Pintu gerbang Ikan dibangun oleh bani Senaa. Mereka memasang balok-balok lalu memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya.

3:4 Berdekatan dengan mereka Meremot bin Uria bin Hakos mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Mesulam bin Berekhya bin Mesezabeel. Berdekatan dengan dia Zadok bin Baana mengadakan perbaikan,

3:5 dan berdekatan dengan dia orang-orang Tekoa. Hanya pemuka-pemuka mereka tidak mau memberi bahunya untuk pekerjaan tuan mereka.

3:6 Pintu gerbang Lama diperbaiki oleh Yoyada bin Paseah dan Mesulam bin Besoja. Mereka memasang balok-balok lalu memasang pintu-pintunya dengan pengancing-pengancing dan palang-palangnya.

3:7 Berdekatan dengan mereka Melaca, orang Gibeon, dan Yadon, orang Meronot, mengadakan perbaikan beserta orang-orang Gibeon dan Mizpa, yang berada di wilayah kekuasaan bupati daerah sebelah barat sungai Efrat.

3:8 Berdekatan dengan mereka Uziel bin Harhaya, salah seorang tukang emas, mengadakan perbaikan, dan berdekatan dengan dia Hananya, seorang juru campur rempah-rempah. Mereka memperkokoh Yerusalem sampai tembok Lebar.

3:9 Berdekatan dengan mereka Refaya bin Hur, penguasa setengah wilayah Yerusalem yang satu mengadakan perbaikan.

3:10 Berdekatan dengan dia Yedaya bin Harumaf mengadakan perbaikan, tepat di depan rumahnya, dan berdekatan dengan dia Hatus bin Hasabneya.

3:11 Malkia bin Harim dan Hasub bin Pahat-Moab memperbaiki bagian yang lain dan menara Perapian.

3:12 Berdekatan dengan mereka Salum bin Halohesh, penguasa setengah wilayah Yerusalem yang lain mengadakan perbaikan bersama-sama anak-anak perempuannya.

Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. —Pengkhotbah 4:9

Bahu-Membahu

Pada zaman kuno, kota yang temboknya rusak menjadi indikasi bahwa penduduknya telah dikalahkan. Mereka terancam bahaya dan berisiko dipermalukan. Itulah alasan orang Yahudi membangun kembali tembok kota Yerusalem. Nehemia 3 menunjukkan bahwa mereka melakukannya dengan bahu-membahu.

Sekilas, pasal 3 mungkin terlihat seperti cerita bertele-tele tentang apa tugas orang-orang dalam pembangunan tersebut. Namun, jika dicermati, pasal itu memperlihatkan bagaimana bangsa itu bergotong royong. Para imam bahu-membahu dengan para penguasa. Juru campur rempah-rempah dan tukang emas sama-sama bekerja. Orang-orang dari kota-kota sekitar datang membantu. Yang lainnya memperbaiki rumah di depan rumah mereka. Anak-anak perempuan Salum ikut mengadakan perbaikan (3:12) dan ada yang memperbaiki dua bagian, seperti orang-orang Tekoa (ay.5,27).

Ada dua hal yang menonjol dari pasal ini. Pertama, mereka semua bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Kedua, mereka semua dipuji karena telah mengambil bagian dalam pekerjaan itu dan bukan karena besar-kecilnya pekerjaan mereka masing-masing.

Saat ini kita melihat banyaknya keluarga yang hancur dan masyarakat yang rusak. Namun, Yesus datang untuk membangun Kerajaan Allah dengan mengubah hidup manusia. Kita dapat mengambil bagian untuk membangun kembali lingkungan kita dengan menunjukkan kepada sesama kita bahwa mereka bisa menemukan pengharapan dan hidup baru di dalam Yesus Kristus. Tugas itu memanggil kita semua. Karena itu, marilah kita bahu-membahu dalam mengerjakan bagian kita—besar atau kecil—untuk menciptakan komunitas kasih yang memungkinkan orang bertemu dengan Yesus. —Keila Ochoa

Allah terkasih, tolong aku untuk dapat bekerja sama dengan sesamaku, dengan bahu-membahu dalam menunjukkan kasih dan mengarahkan orang lain kepada Yesus.

Marilah kita bahu-membahu membangun Kerajaan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27; Yohanes 16

Wanita Babushka

Rabu, 23 Mei 2018

Wanita Babushka

Baca: Kisah Para Rasul 2:22-36

2:22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.

2:23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.

2:24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.

2:25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

2:26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,

2:27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

2:28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.

2:29 Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.

2:30 Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya.

2:31 Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.

2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.

2:33 Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.

2:34 Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:

2:35 Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.

2:36 Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. —Kisah Para Rasul 2:36

Wanita Babushka

“Wanita Babushka” menjadi salah satu misteri yang menyelimuti peristiwa pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada tahun 1963. Wanita misterius yang tertangkap kamera sedang merekam peristiwa tersebut ternyata tidak mudah untuk dikenali. Ia terlihat mengenakan mantel dan syal penutup kepala (mirip dengan yang biasa dikenakan kaum nenek di Rusia). Sampai saat ini, ia tidak pernah teridentifikasi dan hasil rekamannya tidak pernah diketahui keberadaannya. Selama puluhan tahun, pakar sejarah berspekulasi bahwa rasa takut telah menghalangi “Wanita Babushka” itu untuk menceritakan pengalaman- nya tentang hari yang kelabu tersebut.

Namun, kita tak perlu berspekulasi untuk memahami mengapa murid-murid Yesus bersembunyi. Mereka ketakutan karena pihak penguasa telah membunuh Guru mereka (Yoh. 20:19). Mereka enggan tampil dan menceritakan pengalaman mereka. Namun, Yesus kemudian bangkit dari kematian. Roh Kudus juga datang dan tak ada lagi yang bisa membungkam para pengikut Kristus yang tadinya penakut! Pada hari Pentakosta, Roh memampukan Simon Petrus untuk mengatakan, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36).

Kesempatan untuk berani berbicara dalam nama Yesus tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang berjiwa pemberani atau yang pernah mendapatkan pelatihan penginjilan. Roh Allah yang berdiam dalam diri kitalah yang memampukan kita untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus. Oleh kuasa-Nya, kita mempunyai keberanian untuk menceritakan tentang Juruselamat kita kepada orang lain. —Bill Crowder

Tuhan, beriku kekuatan dan keberanian untuk menceritakan tentang Engkau kepada orang lain.

Ceritakanlah tentang kasih Kristus yang tiada bandingnya kepada siapa pun yang perlu mendengarnya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 19-21; Yohanes 8:1-27