Posts

Siapa Itu?

Jumat, 19 Juli 2019

Siapa Itu?

Baca: Mazmur 24

24:1 Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.

24:2 Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

24:3 “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”

24:4 “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

24:5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

24:6 Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.” Sela

24:7 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!

24:8 “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!”

24:9 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!

24:10 “Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!” Sela

“Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!” —Mazmur 24:10

Siapa Itu?

Dalam perjalanan pulang dari bulan madu, saya dan suami mengantre untuk memasukkan koper-koper kami ke bagasi di bandara. Saya lalu menyenggol suami saya dan menunjuk ke arah seseorang yang berdiri tak jauh dari kami.

Suami saya melirik, sambil berkata, “Siapa itu?”

Dengan penuh semangat, saya menyebut peran-peran yang pernah dilakoni pria tersebut. Kami pun mendatanginya dan memintanya berfoto bersama. Dua puluh empat tahun kemudian, saya masih senang bercerita tentang pertemuan kami dengan bintang film itu.

Bisa mengenali seorang bintang film memang menyenangkan, tetapi saya bersyukur bisa mengenal satu Pribadi yang jauh lebih penting. “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” (Mzm. 24:8). Daud sang pemazmur menyebut Tuhan Mahakuasa sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa segala sesuatu. Ia bernyanyi, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai” (ay.1-2). Dalam kekaguman, Daud menyatakan bahwa Tuhan memang di atas segalanya, tetapi tetap dapat ditemui secara pribadi (ay.3-4). Kita dapat mengenal Dia, dikuatkan oleh-Nya, dan mempercayai Dia untuk berperang bagi kita, karena kita hidup bagi Dia (ay.8).

Allah memberi kesempatan kepada kita untuk menyatakan Dia sebagai Pribadi Agung, satu-satunya yang layak diperkenalkan kepada orang lain. Saat kita mencerminkan karakter-Nya, orang-orang yang belum mengenal Dia akan tergerak untuk bertanya, “Siapa Dia?” Seperti Daud, kita dapat mengarahkan mereka kepada Tuhan dengan penuh kekaguman dan menceritakan tentang diri-Nya! —Xochitl Dixon

WAWASAN
Mazmur 24 kerap dipasangkan dengan Mazmur 15 sebagai satu liturgi yang dinyanyikan ketika umat memasuki rumah ibadat untuk beribadah. Dalam Mazmur 24:7-10, Daud menggambarkan betapa Allah layak menerima puji-pujian kita. Dia adalah “Raja Kemuliaan” dan yang “Mahakuasa.” Kata Ibrani untuk “mulia” adalah kãbôd yang berarti “berat, substansi, makna”. Kata ini memberi penekanan pada status Allah dan kemegahan-Nya. Kata yang diterjemahkan sebagai “Mahakuasa” memiliki makna penaklukan dan pemerintahan Allah dalam peperangan atau suatu pasukan. Dua mazmur tersebut juga menggambarkan siapa saja yang boleh datang ke “gunung” Tuhan, yaitu orang “yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil” (15:2), “orang yang bersih tangannya dan murni hatinya” (24:4). Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai frasa “tidak bercela” memiliki arti “tanpa noda.” Pada kitab lain, kata yang sama dipakai untuk menjelaskan korban yang benar (2 Samuel 22:24) dan dapat diterima (Imamat 14:10; 22:19). Akan tetapi, kita tidak mungkin menjadi “benar” atau “tidak bercela” dengan kekuatan kita sendiri. Hanya melalui pengorbanan Kristus kita dapat disebut orang benar (Filipi 3:8-9). —Julie Schwab

Apa yang telah Tuhan tunjukkan kepada kamu tentang diri-Nya? Bagaimana kamu dapat membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain?

Tuhan, terima kasih atas berkat sukacita dan hak istimewa untuk mengenal-Mu. Engkau juga memberi kami kesempatan untuk memperkenalkan-Mu kepada sesama kami setiap hari.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 23-25; Kisah Para Rasul 21:18-40

Handlettering oleh Kent Nath

Kabar Baik untuk Diberitakan

Selasa, 9 April 2019

Kabar Baik untuk Diberitakan

Baca: Kisah Para Rasul 8:26-35

8:26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi.

8:27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.

8:28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

8:29 Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”

8:30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?”

8:31 Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

8:32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.

8:33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

8:34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?”

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. —Kisah Para Rasul 8:35

Kabar Baik untuk Diberitakan

“Siapa namamu?” tanya Arman, seorang mahasiswa asal Iran. Setelah saya memberi tahu bahwa nama saya Estera, wajahnya langsung berseri-seri dan ia berseru, “Wah, kita punya nama yang mirip! Dalam bahasa Farsi, nama saya adalah Setare.” Interaksi sederhana itu menjadi awal dari percakapan yang luar biasa. Saya menceritakan kepadanya bahwa saya diberi nama mengikuti salah seorang tokoh Alkitab, “Ester,” seorang ratu Yahudi di Persia (sekarang Iran). Dimulai dari kisah Ester, saya pun membagikan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Sebagai tindak lanjut dari percakapan kami, Arman mulai mengikuti kelas Alkitab mingguan untuk belajar lebih dalam tentang Kristus.

Salah seorang pengikut Yesus, Filipus, dituntun oleh Roh Kudus untuk mengajukan pertanyaan yang memicu percakapan dengan seorang pejabat Etiopia yang sedang berada dalam perjalanan dengan keretanya: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Pria Etiopia itu sedang membaca bagian dari kitab Yesaya dan ingin menerima pemahaman rohani. Jadi, pertanyaan Filipus datang di saat yang tepat. Lalu ia mengundang Filipus duduk di sampingnya dan dengan rendah hati mendengarkan penjelasannya. Menyadari betapa luar biasanya kesempatan itu, “mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya” (ay.35).

Seperti Filipus, kita juga memiliki kabar baik untuk diberitakan. Mari manfaatkan kesempatan yang terbuka sehari-hari di tempat kerja, di pasar swalayan, atau di lingkungan kita. Biarlah kita mengizinkan Roh Kudus menuntun langkah kita dan memberikan kita kata-kata yang tepat untuk membagikan harapan dan sukacita yang kita miliki dalam Yesus Kristus. —Estera Pirosca Escobar

WAWASAN

Seluruh Alkitab menunjuk kepada Yesus dan semua bagian berbicara tentang Dia. Dalam bacaan hari ini (Kisah Para Rasul 8:26-35), mudah untuk melihat kutipan dari Yesaya 53 sebagai nubuatan tentang Yesus karena memang sudah digenapi. Namun, Yesus sendiri mengingatkan kita bahwa seluruh Alkitab mengarah kepada Dia, bukan bagian nubuatan saja. “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi” (Lukas 24:27). —J.R. Hudberg

Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk lebih terbuka dalam berbicara kepada orang lain tentang Yesus? Dorongan apa yang Anda dapatkan dari teladan Filipus?

Ya Allah, tuntunlah langkahku hari ini kepada seseorang yang membutuhkan harapan yang hanya mungkin diterimanya dari Yesus Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 13–14; Lukas 10:1-24

Handlettering oleh Julio Mesak Nangkoda

Kerinduanku Ketika Mengingat Besar Pengurbanan-Nya di Kalvari!

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Dua tahun yang lalu, aku memiliki kerinduan untuk membawa satu jiwa bisa mengenal Tuhan. Kerinduan itu pun dijawab Tuhan dengan berita bahwa aku berhasil diterima di salah satu universitas di Taiwan. Aku begitu bersemangat, sebab di negeri yang akan kutuju itu ada banyak orang yang belum mengenal Tuhan. Dalam hati aku berbisik, “Tuhan, aku benar-benar akan berjuang melakukannya.”

Melihat semangatku itu, salah seorang penatua di gerejaku pun bertanya, “Apa yang membuatmu semangat sekali kuliah di sana?”

Dengan suara lantang, aku menjawab, “Aku ingin menuntut ilmu dan membawa satu jiwa mengenal Dia. Doakan aku Ibu.”

“Pastinya,” refleks beliau seketika.

Dipertemukan dengan orang-orang baru

Ketika aku sudah tiba di Taiwan, aku masuk ke kamar asramaku. Tapi, aku tak melihat ada seorang pun di dalam. Kulihat meja-meja temanku, kucoba menebak dari mana asal mereka. Dari penelusuran sederhanaku itu, aku menyimpulkan kalau mereka adalah orang-orang lokal di negeri ini. Ketika seorang seniorku yang adalah orang Indonesia dan yang sudah tinggal di Taiwan selama enam bulan mengunjungiku, dia mengiyakan kesimpulanku. Katanya, teman-teman seasramaku adalah orang-orang Taiwan. Mereka belum datang ke asrama karena perkuliahan belum dimulai.

Seminggu berselang, ketka perkuliahan siap dimulai, satu per satu mereka pun berdatangan. Mereka kaget melihat kehadiranku, mungkin karena warna kulit kami berbeda. Tapi aku coba membuat suasana pertemanan yang hangat supaya mereka bisa terbuka dan berteman baik nantinya.

Aku memberikan gantungan kunci khas Indonesia buat mereka, berkenalan, dan menceritakan apa alasanku memilih negara dan kampus ini, juga memberitahukan pada mereka kalau aku seorang Kristen. Ketika tahu bahwa aku orang Kristen, mereka mengajukan beberapa pertanyaan. Bagi mereka yang kebanyakan acuh tak acuh pada keberadaan Tuhan, percaya kepada Tuhan adalah sesuatu yang aneh. Aku berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan apa yang aku tahu dari Alkitab. Aku menceritakan kasih Tuhan yang nyata, yang aku rasakan sepanjang hidupku. Mereka meresponsku dengan mengiyakan saja, tanpa tertarik untuk mengetahui lebih dalam. Bagi mereka, apa yang kusampaikan itu adalah hal yang tidak masuk akal.

Meski begitu, aku tidak berkecil hati. Misi keduaku adalah aku mencoba terlibat dalam setiap aktivitas mereka: makan malam bersama, cuci baju di laundry bersama, mengunjungi lab mereka satu per satu, mendengarkan cerita hidup mereka, mengikuti seminar tesis, sampai ikut merayakan hari besar mereka secara langsung di salah satu rumah mereka. Hal-hal itu kuperjuangkan hari demi hari meskipun selama melakukannya aku mengalami cultural shock, perbedaan sistem pendidikan, tekanan dari profesor, juga kandasnya agenda jalan-jalan bersama teman-teman Indonesiaku. Tapi, aku bersyukur dan bersukacita menjalaninya. Bagiku, teman-teman baruku ini adalah anugerah yang harus kuperjuangkan, agar mereka juga bisa mendengar dan kelak mengenal Allah yang aku kenal.

Satu temanku akhirnya lulus, dan dua lagi memutuskan untuk pindah ke asrama yang hanya dihuni dua orang dalam satu kamar. Mereka ingin pindah karena mereka tidak mau beradaptasi lagi jika nanti ada mahasiswa baru yang masuk ke kamar kami tersebut. Perasaanku tercabik, kupikir kesempatan untuk mengenalkan Tuhan kepada mereka akan pergi tak lama lagi. Kerinduanku belum selesai kulakukan, tapi berujung dengan perpisahan. Aku menangis kepada Tuhan, aku merasa bersalah karena aku belum mencapai visi itu, dan aku juga tak ingin kehilangan mereka.

Di dalam masa kesedihanku, aku tetap setia berdoa bagi mereka dan juga berdoa kiranya teman baruku adalah orang Filipina. Doaku untuk untuk memiliki teman sekamar orang Filipina adalah keinginan besarku. Mereka biasanya mampu berbahasa Inggris dengan baik, sehingga nantinya aku bisa sekalian belajar meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku. Peluang ini rasanya sangat besar terjadi, karena jumlah mahasiswa Filipina lumayan banyak ada di kampusku.

Namun, kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Satu bulan kemudian, datanglah teman kamar baruku. Dia bukan orang Filipina, melainkan orang Vietnam. Aku merasa sedih, tapi kurasa aku tidak layak untuk bersedih, karena aku tahu doaku itu hanya keinginanku semata. Aku mencoba memulihkan perasaanku dengan mengingat kembali visiku dan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Sudahkah yang Terbaik ‘Ku Berikan?

Lirik lagu ini, ayat pertama dan ketiganya berkata demikian:

Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus Tuhanku?
Besar pengurbanan-Nya di Kalvari!
Diharap-Nya terbaik dariku.

Telah ‘ku perhatikankah sesama,
atau ‘ku biarkan tegar?
‘Ku patut menghantarnya pada Kristus
dan kasih Tuhan harus ‘ku sebar.

Reff:
Berapa yang terhilang t’lah ‘ku cari
dan ‘ku lepaskan yang terbelenggu?
Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus, Tuhanku?

Kesempatan baru yang Tuhan berikan

Semangatku pun kembali. Apapun kondisinya, aku berjanji untuk tidak melupakan dan terus memperjuangkan visiku. Aku coba melakukan misi yang sebelumnya sudah kulakukan ke ketiga mantan teman kamarku, dan puji Tuhan, temanku yang baru ini sangat terbuka. Bahkan dia bersedia kuajak ke gereja walaupun hanya sekali. Aku tetap bersyukur, dan aku berdoa supaya benih firman yang telah dia dengar bisa berakar dalam hidupnya. Walaupun aku tidak tahu seberapa lama masa pertumbuhan benih firman itu, namun aku beriman bahwa suatu saat benih itu akan berbuah secara nyata dalam hidupnya.

Perjuanganku untuk membawa jiwa kepada Tuhan rasanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan Tuhan Yesus bagiku. Namun, aku berdoa bagi kamu yang saat ini membaca tulisanku, supaya kita sama-sama terbeban, sekecil apapun itu, untuk membawa satu jiwa mengenal Tuhan.

Sebuah lagu yang kutulis di atas, bait keduanya berbunyi demikian:

Begitu banyak waktu yang terluang, sedikit ‘ku b’ri bagi-Nya.
Sebab kurang kasihku pada Yesus;
mungkinkah hancur pula hati-Nya?

Lirik ini menjadi suatu pengingat, agar kita pun mau memiliki kerinduan tersebut, dan pada akhirnya memperjuangkannya. Hidup kita sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap. Yuk kita gunakan waktu-waktu kita untuk Tuhan Yesus, yang telah berkurban di Kalvari demi kita.

Selamat menghayati hari-hari menjelang Paskah dan menikmati kebangkitan Tuhan Yesus di dalam hati kita!

Baca Juga:

Gagal Naik Podium Tidak Menghentikan Rencana Tuhan dalam Hidupku

Sebagai atlet, aku berusaha keras untuk menggapai prestasi. Namun, usaha kerasku tidak membuahkan hasil sesuai harapanku. Tetapi, di balik prestasiku yang seolah gagal, Tuhan sesungguhnya tidak berhenti bekerja dalam hidupku.

Hadiah Terbaik

Minggu, 31 Maret 2019

Hadiah Terbaik

Baca: Yohanes 1:43-51

1:43 Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”

1:44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.

1:45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”

1:46 Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

1:47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

1:48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”

1:49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

1:50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”

1:51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Kami telah menemukan Dia, . . . yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret. —Yohanes 1:45

Daily Quotes ODB

Selama bertahun-tahun, teman saya Barbara telah memberi saya banyak kartu berisi kata-kata yang menguatkan dan hadiah-hadiah kecil yang penuh makna. Setelah saya mengabarinya bahwa saya telah menerima Yesus sebagai Juruselamat, ia memberikan hadiah terbaik darinya: Alkitab pertama saya. Ia berkata, “Kamu akan semakin dekat dengan Allah dan semakin dewasa dalam kerohanianmu jika kamu bertemu dengan Dia setiap hari, membaca Kitab Suci, berdoa, beriman, dan menaati-Nya.” Hidup saya berubah ketika Barbara mengajak saya untuk lebih mengenal Allah.

Barbara mengingatkan saya pada Filipus. Setelah Yesus mengajak Filipus untuk mengikut Dia (Yoh. 1:43), sang murid segera memberi tahu sahabatnya, Natanael bahwa Yesus adalah pribadi “yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi” (ay.45). Ketika Natanael merasa ragu, Filipus tidak membantah, mengkritik, atau meninggalkan sahabatnya itu. Yang ia lakukan hanyalah mengajak Natanael untuk bertemu sendiri dengan Yesus. “Mari dan lihatlah!” katanya (ay.47).

Saya dapat membayangkan betapa sukacitanya Filipus ketika ia mendengar Natanael menyebut Yesus sebagai “Anak Allah” dan “Raja orang Israel” (ay.49). Tentu Filipus juga sangat berbahagia saat mengetahui bahwa sahabatnya akan ikut melihat “hal-hal yang lebih besar” yang Yesus janjikan kepada mereka (ay.50-51).

Roh Kudus memprakarsai hubungan kita dengan Allah, lalu Dia hidup di dalam diri setiap orang yang merespons dengan iman. Dia memampukan kita untuk mengenal Allah secara pribadi dan untuk mengajak orang lain agar mau bertemu dengan Dia setiap hari lewat Roh-Nya dan Kitab Suci. Ajakan untuk mengenal Yesus lebih jauh adalah hadiah terbaik yang bisa kita terima dan berikan. —Xochitl Dixon

Siapa yang akan kamu ajak untuk mengenal Yesus lebih jauh? Bagaimana Dia memakai orang lain untuk menumbuhkan imanmu?

Mengenal Yesus adalah anugerah terbaik yang bisa kita terima; memperkenalkan-Nya kepada sesama adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 11-12; Lukas 6:1-26

Cahaya Terang

Jumat, 29 Maret 2019

Cahaya Terang

Baca: Filipi 2:12-18

2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.

2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Kamu adalah terang dunia. —Matius 5:14

Daily Quotes ODB

Di musim panas tahun 2015, rombongan tim misi dari gereja kami merasa iba melihat keadaan di Mathare, salah satu kawasan kumuh di Nairobi, Kenya. Kami mengunjungi sekolah dengan lantai tanah, dinding dari lembaran seng berkarat, dan bangku-bangku kayu. Namun, di tengah lingkungan yang sedemikian sederhana, ada satu orang yang terlihat sangat menonjol.

Nama wanita itu Brilliant, yang berarti Cemerlang. Sungguh nama yang sangat cocok untuknya. Sebagai guru di sekolah dasar itu, pembawaannya yang riang dan penuh semangat sangat cocok dengan misinya. Dengan baju berwarna-warni, penampilan dan keceriaannya dalam mengajar serta menyemangati anak-anak sangatlah menakjubkan.

Cahaya terang yang dibawa oleh Brilliant ke tengah lingkungannya menyerupai cara hidup yang patut dijalani oleh orang-orang Kristen di Filipi yang menerima surat Paulus pada abad pertama. Di tengah dunia yang haus rohani, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus harus bersinar “seperti bintang-bintang di dunia” (flp. 2:15). Sampai sekarang pun, tugas kita masih sama. Cahaya terang dibutuhkan di mana-mana!

Sungguh kita terhibur saat menyadari bahwa melalui Dia “yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (ay.13), orang-orang percaya di dalam Yesus dapat bersinar seperti yang dikatakan Yesus tentang mereka yang menjadi pengikut-Nya. Kepada kita juga Dia berkata, “Kamu adalah terang dunia. . . . Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14-16). —Arthur Jackson

Bagaimana cara kamu memancarkan terang Kristus kepada orang lain? Apa yang dapat kamu lakukan untuk membawa sukacita Kristus kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya?

Terangi dunia kamu dengan memantulkan terang Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-hakim 7-8; Lukas 5:1-16

Misi Penyelamatan Terbesar

Minggu, 10 Maret 2019

Misi Penyelamatan Terbesar

Baca: Lukas 19:1-10

Prayer Maret

19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10

Daily Quotes ODB

Pada 18 Februari 1952, sebuah badai besar menghantam kapal tanker SS Pendleton hingga patah menjadi dua bagian sekitar 16 kilometer dari tepi pantai Massachusetts. Lebih dari 40 orang pelayar terjebak di buritan kapal yang perlahan tenggelam di tengah tiupan angin kencang dan terjangan ombak ganas.

Saat kabar tentang musibah itu sampai ke kantor Penjaga Pantai AS di Chatham, Massachusetts, Kepala Kelasi Bernie Webber pun menurunkan perahu penyelamat dengan 3 orang awak. Mereka berusaha menyelamatkan para anak buah kapal yang terjebak itu dalam keadaan yang hampir mustahil. Usaha mereka akhirnya berhasil menyelamatkan tiga puluh dua ABK. Tindakan mereka yang berani itu tercatat sebagai salah satu aksi penyelamatan terbesar sepanjang sejarah Penjaga Pantai AS, dan kisah mereka telah diangkat ke layar lebar dengan judul The Finest Hours yang rilis pada tahun 2016.

Di Lukas 19:10, Yesus menggambarkan misi penyelamatan-Nya demikian: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Salib dan kebangkitan menjadi ungkapan penyelamatan terbesar yang pernah ada, lewat penyerahan diri Yesus demi menanggung dosa kita dan memulihkan kembali hubungan semua orang yang percaya kepada-Nya dengan Allah Bapa. Selama 2.000 tahun, begitu banyak orang telah menerima tawaran hidup berkelimpahan di dunia dan hidup kekal bersama-Nya di surga. Mereka semua selamat!

Sebagai pengikut Yesus, kita mempunyai hak istimewa, dengan pertolongan Roh Kudus, untuk mengikuti Juruselamat kita dalam misi penyelamatan-Nya. Siapa orang dalam hidupmu yang membutuhkan kasih-Nya yang menyelamatkan? —Bill Crowder

Bagaimana cara Allah menyelamatkan kamu meninggalkan pengaruhnya bagimu? Apa yang dapat menolong kamu secara efektif membagikan rencana keselamatan-Nya kepada sesamamu?

Bapa, mampukan aku melihat dunia seperti cara-Mu melihat dunia dan terlibat dalam misi penyelamatan-Mu. Jadikan aku alat kasih karunia-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 11-13; Markus 12:1-27

Cara untuk Tidak Khawatir

Selasa, 8 Januari 2019

Cara untuk Tidak Khawatir

Baca: Matius 6:25-34

6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? —Matius 6:27

Cara untuk Tidak Khawatir

Seorang pria yang taat hukum dan jujur menerima pesan suara berisi ucapan, “Saya petugas ____ dari kepolisian. Mohon hubungi saya kembali di nomor ini.” Orang itu langsung merasa khawatir—ia takut jangan-jangan telah melakukan suatu kesalahan. Ia tidak berani menelepon, bahkan tiap malam ia tak bisa tidur karena memikirkan segala hal yang mungkin terjadi. Ia begitu khawatir akan tertimpa masalah. Petugas tadi tak pernah menelepon lagi, tetapi pria itu merasa khawatir sampai berminggu-minggu lamanya.

Yesus pernah menanyakan sesuatu yang menarik tentang kekhawatiran: “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”(Mat. 6:27). Pertanyaan itu dapat mendorong kita untuk memikirkan kembali kecenderungan kita untuk merasa khawatir. Yesus hendak menyatakan bahwa kekhawatiran tidak akan menyelesaikan masalah kita.

Saat menjumpai persoalan, cobalah menghadapinya dengan dua langkah berikut: Mengambil tindakan dan juga mempercayai Allah. Jika ada yang dapat kita lakukan untuk menghindari masalah, cobalah cara itu. Berdoalah meminta pimpinan Allah dalam memilih tindakan yang hendak diambil. Namun, jika memang tak ada yang bisa dilakukan, bersyukurlah bahwa Allah selalu sanggup bertindak bagi kita. Kita selalu bisa menyerahkan pergumulan kita kepada-Nya dengan penuh kepercayaan dan keyakinan.

Saat mulai khawatir, ingatlah firman Allah melalui perkataan Daud. Ia mengalami kesesakan dan kekhawatiran, tetapi katanya, “Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!” (Mzm. 55:23). Sungguh cara yang sangat baik untuk tidak khawatir! —Dave Branon

Bapa, Engkau tahu masalah yang kuhadapi hari ini. Kuserahkan kekhawatiranku kepada-Mu. Kuatkan dan tolonglah aku untuk mempercayai-Mu di tengah pergumulanku.

Kekhawatiran apa yang perlu kamu serahkan kepada Allah hari ini?

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 20-22; Matius 6:19-34

Artikel Terkait:

Tomas, Si Peragu

Rumah

Sabtu, 8 Desember 2018

Rumah

Baca: Yohanes 14:1-6

14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

14:5 Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. —Yohanes 14:2

Rumah

Baru-baru ini, Patsy, seorang teman yang bekerja sebagai makelar rumah meninggal dunia karena kanker. Sewaktu mengenang kehidupan Patsy, istri saya ingat bahwa bertahun-tahun lalu Patsy pernah membawa seseorang percaya kepada Yesus dan orang itu sekarang menjadi salah satu teman baik kami.

Betapa indahnya mengingat bahwa Patsy tak hanya membantu orang menemukan rumah di dunia ini, tetapi juga membantu mereka mendapat rumah yang kekal.

Tatkala Yesus bersiap menuju salib demi kita, Dia menunjukkan perhatian yang besar pada kediaman kita yang kekal. Kata-Nya kepada para murid, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2). Dia mengingatkan mereka bahwa ada banyak tempat tinggal di rumah Bapa-Nya bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Kita senang memiliki rumah yang indah dalam kehidupan ini—tempat yang istimewa bagi keluarga kita untuk makan-minum, beristirahat, dan menikmati kebersamaan. Namun, renungkanlah betapa luar biasanya ketika kita memasuki kehidupan selanjutnya dan melihat bahwa Allah telah menyiapkan rumah kita yang kekal. Terpujilah Allah yang memberi kita kehidupan ”dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10), termasuk kehadiran-Nya bersama kita saat ini dan persekutuan dengan Dia kelak di tempat yang telah disediakan-Nya untuk kita (Yoh. 14:3).

Mengingat apa yang telah Allah sediakan bagi orang percaya, semestinya kita pun tertantang untuk mengikuti jejak Patsy dengan memperkenalkan orang lain kepada Yesus. —Dave Branon

Tuhan, selagi kami menantikan rumah yang Engkau siapkan, mampukan kami untuk mengabarkan kepada orang lain bahwa mereka juga dapat menikmati rumah kekal yang Engkau sediakan bagi semua yang percaya kepada Yesus.

Hari ini, siapa yang dapat kamu ajak bicara tentang rumah dan kepastian kekal yang mereka butuhkan?

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 8-10; 3 Yohanes

Kesaksian Tanpa Kata

Minggu, 25 November 2018

Kesaksian Tanpa Kata

Baca: 1 Petrus 2:11-21

2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.

2:12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

2:13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,

2:14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.

2:15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.

2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

2:17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

2:18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.

2:19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.

2:20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

2:21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Kelakuanmu di antara orang yang tidak mengenal Tuhan haruslah sangat baik. —1 Petrus 2:12 BIS

Kesaksian Tanpa Kata

Amy tinggal di negara yang melarang penyebaran Injil. Ia bekerja di sebuah rumah sakit besar sebagai seorang perawat yang merawat bayi-bayi yang baru lahir. Amy begitu mencintai pekerjaannya sehingga prestasinya sangat menonjol dan banyak rekan kerja wanita yang bertanya-tanya tentang dirinya. Mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara diam-diam. Saat itulah Amy secara terbuka menceritakan tentang Juruselamatnya.

Karena hasil kerja Amy yang baik, beberapa rekan kerja merasa iri dan menuduhnya mencuri sejumlah obat. Atasan Amy tidak percaya kepada mereka dan pihak berwenang pun akhirnya menemukan pencurinya. Peristiwa tersebut membuat beberapa rekan kerjanya mulai bertanya tentang iman Amy. Teladan Amy mengingatkan saya pada perkataan Petrus, “Saudara-saudara yang tercinta! . . . Kelakuanmu di antara orang yang tidak mengenal Tuhan haruslah sangat baik, sehingga apabila mereka memfitnah kalian sebagai orang jahat, mereka toh harus mengakui perbuatanmu yang baik, sehingga mereka akan memuji Allah pada hari kedatangan-Nya” (1Ptr. 2:11-12 BIS).

Kehidupan kita sehari-hari di rumah, di tempat kerja, atau di sekolah bisa memberikan dampak kepada orang lain, jika kita mengizinkan Allah bekerja dalam diri kita. Orang-orang di sekitar kita memperhatikan perkataan dan perbuatan kita. Marilah mengandalkan Allah dan mengizinkan-Nya mengarahkan perbuatan dan pikiran kita. Dengan demikian kita dapat memberikan pengaruh kepada mereka yang belum mengenal Tuhan dan mungkin membawa beberapa dari mereka untuk beriman kepada Yesus. —Keila Ochoa

Ya Bapa, tolong aku menjalani hidup sedemikian rupa sehingga nama-Mu dimuliakan ke mana pun aku melangkah.

Perbuatan kita berbicara lebih kuat daripada perkataan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 24-26; 1 Petrus 2