Posts

Wallpaper Ponsel: Hanya Pada Allah Saja Aku Tenang

Semua Selamat!

Rabu, 14 Oktober 2015

Semua Selamat!

Baca: Ibrani 11:8-16

11:8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

11:9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.

11:10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.

11:11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.

11:12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

11:13 Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.

11:14 Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air.

11:15 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.

11:16 Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. —Ibrani 11:1

Semua Selamat!

Pada Januari 1915, kapal Endurance terjebak dan terjepit hingga hancur di hamparan es di lepas pantai Antartika. Sekelompok penjelajah kutub, yang dipimpin oleh Ernest Shackleton, dapat bertahan hidup dan berhasil mencapai Elephant Island dengan tiga sekoci kecil. Terjebak di pulau tak berpenghuni yang jauh dari jalur pelayaran yang normal itu, mereka mempunyai satu harapan. Pada 24 April 1916, 22 laki-laki menyaksikan Shackleton dan lima awaknya pergi berlayar dalam sekoci kecil menuju South Georgia, sebuah pulau sekitar 1.300 km jauhnya. Kemungkinan mereka untuk berhasil memang kecil, dan jika keenam orang itu gagal, mereka semua pasti mati. Sungguh menggembirakan, setelah lebih dari empat bulan berlalu, sebuah kapal muncul di cakrawala dan Shackleton yang berada di haluan kapal itu berteriak, “Apakah kalian baik-baik saja?” Mereka yang di pulau membalas, “Semua selamat! Kami baik-baik saja!”

Apa yang membuat mereka tetap bertahan hidup selama berbulan-bulan? Keyakinan dan harapan mereka pada satu orang. Mereka percaya Shackleton akan menemukan cara untuk menyelamatkan mereka.

Teladan keyakinan dan harapan manusiawi ini mencerminkan iman dari para tokoh Alkitab yang tercantum dalam Ibrani 11. Iman mereka pada “segala sesuatu yang [mereka] harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak [mereka] lihat” telah menolong mereka bertahan saat melalui berbagai kesulitan dan pencobaan besar (Ibr. 11:1).

Ketika kita memandang ke cakrawala masalah yang ada di hadapan kita, janganlah kita putus asa. Biarlah kita terus berpengharapan oleh karena keyakinan iman kita kepada Satu Pribadi, yaitu Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. —Randy Kilgore

Ya Bapa, terima kasih untuk janji pengampunan yang diberikan oleh Yesus.
Kiranya janji itu mencerahkan hari-hari kami yang kelam.

Pengharapan dari Yesus tetap bersinar cemerlang di tengah kelamnya hari-hari yang kita jalani.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 43-44; 1 Tesalonika 2

Seekor Lalat Pengingat

Senin, 21 September 2015

Seekor Lalat Pengingat

Baca: Pengkhotbah 9:4-12

9:4 Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.

9:5 Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.

9:6 Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.

9:7 Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.

9:8 Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.

9:9 Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.

9:10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

9:11 Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.

9:12 Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

Siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan. —Pengkhotbah 9:4

Seekor Lalat Pengingat

Ketika pertama kali saya mulai bekerja di ruangan kantor kecil yang sekarang saya sewa, penghuni lainnya di sini hanyalah beberapa ekor lalat yang nasibnya mengenaskan. Ada beberapa yang telah mati, dengan bangkai yang berserakan di lantai dan ambang jendela. Saya membuang semuanya kecuali satu ekor yang saya biarkan di tempat yang mudah terlihat.

Bangkai lalat tersebut mengingatkan saya untuk menjalani hidup dengan baik setiap hari. Kematian adalah pengingat yang sangat baik akan kehidupan, dan hidup ini adalah anugerah. Salomo berkata, “Siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan” (Pkh. 9:4). Menjalani hidup di atas bumi memberi kita kesempatan untuk mempengaruhi dan menikmati dunia di sekitar kita. Kita dapat makan dan minum dengan sukacita dan menikmati hubungan kita (ay. 7,9).

Kita juga dapat menikmati pekerjaan kita. Salomo menasihatkan, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga” (ay.10). Apa pun keterampilan atau pekerjaan atau peran kita dalam hidup ini, kita masih dapat melakukan hal-hal yang berarti, dan melakukannya dengan baik. Setiap hari kita dapat memberi semangat, mendoakan, dan mengungkapkan kasih kepada sesama dengan ketulusan hati.

Penulis kitab Pengkhotbah berkata, “Waktu dan nasib dialami mereka semua. Karena manusia tidak mengetahui waktunya” (9:11-12). Memang mustahil untuk mengetahui kapan hidup kita di dunia ini akan berakhir, tetapi sukacita dan tujuan hidup dapat kamu alami hari ini ketika kamu mengandalkan kekuatan dari Allah dan bergantung pada janji hidup kekal yang diberikan Yesus (Yoh. 6:47). —Jennifer Benson Schuldt

Ya Allah, tolong kami untuk dapat mengatur waktu kami dengan baik dan menikmati kebaikan yang ada di dunia kami hari ini. Terima kasih untuk janji hidup kekal yang kami terima melalui Anak-Mu, Yesus Kristus.

Inilah hari yang dijadikan Tuhan. Marilah bersorak-sorak dan bersukacita.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 7-9; 2 Korintus 13

Riak Pengharapan

Senin, 7 September 2015

Riak Pengharapan

Baca: 1 Petrus 1:3-9

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,

1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Karena rahmat-Nya yang besar [Allah] telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. —1 Petrus 1:3

Riak Pengharapan

Pada tahun 1966, Robert Kennedy, sebagai Senator Amerika Serikat, melakukan kunjungan yang penting ke Afrika Selatan. Di sana ia menyampaikan kata-kata pengharapan kepada para penentang apartheid (politik diskriminasi warna kulit) lewat pidatonya yang terkenal, Ripples of Hope (Riak Pengharapan), di Universitas Cape Town. Dalam pidatonya, ia menyatakan, “Setiap saat seseorang yang mempertahankan idealismenya, atau bertindak untuk memperbaiki nasib sesama, atau bersikap melawan ketidakadilan, ia membersitkan riak pengharapan. Setiap riak dari jutaan pusat energi dan keberanian itu saling bertemu, dan membentuk arus yang sanggup merobohkan tembok-tembok tekanan dan perlawanan yang paling kuat sekalipun.”

Adakalanya di dunia ini harapan terasa begitu langka. Namun demikian, para pengikut Kristus selalu mempunyai pengharapan yang terbesar. Petrus menulis, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” (1Ptr. 1:3).

Melalui kepastian akan kebangkitan Kristus, seorang anak Allah memiliki pengharapan yang dahsyat. Pengharapan itu merupakan suatu arus keyakinan yang tak terbendung pada kesetiaan Kristus yang telah menaklukkan kematian bagi kita. Yesus, dengan kemenangan-Nya atas maut—musuh terbesar kita—mampu menyinarkan pengharapan ke dalam keadaan yang paling mustahil sekalipun. —Bill Crowder

Tiada lain landasanku,
hanyalah pada darah-Mu;
tiada lain harapanku,
‘ku bersandarkan nama-Mu. —Edward Mote
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 120)

Dalam Kristus, yang putus harapan menemukan pengharapan.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 1-2; 1 Korintus 16

Menemukan-Mu dalam Tanyaku

Oleh: Dewi Simanungkalit

dalam-tanyaku

Setapak demi setapak
Tanpa asa kakiku berjejak
Merasakan butiran pasir melesak
Membuat jemariku tak lagi jenak

Rasanya tak enak
Semuanya menyesak
Tetes air mata jatuh ke telapak
Mengiringi sebuah proses yang tak nampak

Di mana Engkau, Tuhan?
Hatiku berteriak
Bukankah Engkau jawaban?

Di mana Engkau, Tuhan?
Napasku kian sesak
Bukankah Engkau Sang Pengharapan?

Di mana Engkau, Tuhan?
Seruku mulai serak
Haruskah langkah kuhentikan?

“Ini Aku,”
Sayup kudengar jawab-Mu
“Apabila kamu berseru
dan datang berdoa kepada-Ku
Aku akan mendengarkan kamu
Apabila kamu mencari Aku,
kamu akan menemukan Aku
Apabila kamu menanyakan Aku
dengan segenap hatimu
kamu akan menemukan Aku”

Ah, Bapaku
Lega hatiku
Rupanya pikiranku
Telah berkelana terlalu jauh
Merentang jarak dari-Mu

Terima kasih untuk jawab-Mu
Untuk janji yang sungguh teguh
Untuk cinta-Mu yang izinkanku
Menemukan-Mu dalam tanyaku

 
Yeremia 29:11-14a

Harapan Hidup

Jumat, 24 April 2015

Harapan Hidup

Baca: 1 Petrus 1:3-9

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,

1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Kemurnian imanmu—yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, . . . memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. —1 Petrus 1:7

Harapan Hidup

Ketika tragedi mengerikan telah menghempaskan hidup seseorang, mereka pun bertanya-tanya. Baru-baru ini, seorang ibu yang kehilangan anak remajanya berkata, “Aku tak mengerti. Aku tak tahu apakah aku masih punya iman. Aku mencoba, tetapi Allah sepertinya tak masuk akal bagiku. Apa maksud semua ini?” Tak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan sebesar itu. Namun bagi mereka yang percaya kepada Kristus, selalu ada harapan, baik kita sedang berlimpah berkat atau mengerang dalam duka.

Petrus menjelaskan hal itu dalam suratnya yang pertama. Dengan berapi-api, ia memuji Allah yang telah melahirkan kita kembali “kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” (1Ptr. 1:3) melalui penyelamatan kita. Harapan itu dapat membawa kebahagiaan, bahkan setelah terjadinya suatu tragedi. Ia juga meyakinkan kita bahwa pengharapan itu bersifat abadi (ay.4). Lalu ia berbicara tentang kenyataan yang pedih, bahwa kita mungkin harus “berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (ay.6). Mereka yang telah menderita kembali mendapatkan pengharapan melalui kata-kata Petrus berikutnya: “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu . . . sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya”(ay.7).

Melalui kata-kata itu, kita melihat sisi lain dari suatu pencobaan yang sering terasa acak dan tak terpahami. Di tengah-tengah tragedi, karena Juruselamat kita yang agung, kekuatan dan keindahan dari keselamatan kita dapat memancarkan sinarnya. Kiranya sinar harapan itu dapat menolong seseorang yang sedang berduka. —Dave Branon

Tuhan, Engkau meyakinkan kami bahwa keselamatan agung yang Kau berikan itu dimurnikan melalui penderitaan kami dan membawa kemuliaan bagi nama- Mu. Tolonglah kami memulai setiap hari baru dengan selalu berharap kepada-Mu.

Cahaya keselamatan bersinar terang di malam tergelap sekali pun.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 19-20; Lukas 18:1-23

Mengapa Aku Tetap Berharap

Oleh: Michele Ong, New Zealand
(artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I Didn’t Give Up on Hope)

Why-I-Didn’t-Give-Up-on-Hope

Dulu aku memiliki pandangan yang sangat tidak jelas tentang kata “pengharapan”. Menurutku, kata itu terdengar seperti sesuatu yang tidak pasti. Orang yang berharap tak ubahnya seperti orang yang tidak punya pendirian. Berharap berarti mengucapkan keinginanmu lalu pasrah menantikan seseorang akan mengabulkannya. Ketika langit mendung, aku sering mendengar orang berkata, “Aku berharap hari ini tidak hujan.” Banyak bahan renungan yang kubaca menuliskan bahwa Yesus adalah pengharapanku, salib adalah pengharapanku, Kristus yang ada di tengah-tengah kamu adalah pengharapan akan kemuliaan (Kolose 1:27). Tetapi, aku sendiri tidak pernah merasa bisa memahaminya secara penuh.

Sebuah pertanyaan besar muncul ketika aku mengalami kekecewaan dalam hubungan dengan orang-orang yang kusayangi: “Apa yang akan kulakukan dengan hidupku?” Aku merasa begitu putus asa dan tidak punya harapan. Aku begitu ketakutan ketika hubungan dengan pacarku berakhir. Aku khawatir tidak akan bisa menikah dan menjadi orang aneh seperti Patty dan Selma (dua saudari kembar dalam film The Simpsons).

Sangat sering aku mengeluh atau melontarkan pemikiran-pemikiran negatif tentang hidupku. Kakak perempuanku sampai-sampai membuat sistem denda untuk meredamnya. Setiap kali mengeluarkan perkataan negatif, aku harus memasukkan uang sebesar Rp.50.000,- ke dalam celengan Hello Kitty-nya, dan uang yang terkumpul nanti akan disumbangkan kepada organisasi yang nilai-nilai dan misinya tidak ingin aku dukung. Sungguh menyedihkan!

Tetapi Allah memegang kendali atas segala sesuatu. Pada suatu hari Minggu, pendetaku berkhotbah tentang—kamu pasti bisa menebaknya—pengharapan. Ia menjelaskan bahwa pengharapan itu bukanlah sesuatu yang tidak pasti, angan-angan semu yang ditawarkan dunia. Ketika kita berharap kepada Allah, kita sedang menambatkan harapan kita pada Pribadi yang berdaulat atas segenap semesta, yang rancangan-Nya selalu digenapi (Ibrani 6:19). Penjelasan itu membuatku tertegun. Rasanya seperti mendapat teguran langsung dari Allah. Aku disadarkan bahwa pandanganku tentang pengharapan harus diubah. Pengharapan yang diletakkan di dalam Allah, Sang Pencipta langit dan bumi adalah pengharapan yang kuat, aman, terpercaya, dan pasti digenapi. Bukan sesuatu yang sepele dan tidak pasti.

Berpegang pada pengharapan sama seperti berpegang pada sebuah tali penyelamat yang akan menolong kita melewati badai hidup, kekecewaan, rasa sakit, dan berbagai kesulitan. Jika kita memiliki pengharapan sebagai sauh atau jangkar bagi jiwa, kita dapat melangkah keluar dari momen-momen terberat dalam hidup kita, dan berkata: “Allah yang adalah pengharapan itu, telah menopangku.”

Setiap kali kita melihat salib Kristus, kita melihat pengharapan akan pengampunan dosa, pemulihan, keselamatan, dan hidup yang kekal. Mari berpegang pada pengharapan ini, pengharapan yang tidak akan pernah mengecewakan.

Datanglah Kepada-Ku

Minggu, 5 April 2015

Datanglah Kepada-Ku

Baca: Yohanes 20:24-31

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

20:26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

20:28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. —Yohanes 20:29

Datanglah Kepada-Ku

Charlotte Elliott menulis himne “Just As I Am” (Meski Tak Layak Diriku–Kidung Jemaat, NO. 27) pada tahun 1834. Saat itu Elliott telah menjadi cacat selama bertahun-tahun, dan ia terlalu sakit untuk membantu penggalangan dana bagi sebuah sekolah bagi kaum wanita. Elliott merasa begitu tidak berguna dan penderitaan batinnya ini mulai membuatnya meragukan imannya kepada Kristus. Ia menulis himne itu sebagai tanggapan atas keraguannya. Siksaan batinnya mungkin terungkap paling jelas dalam kata-kata berikut:

Terombang-ambing, berkeluh,
Gentar di kancah kemelut,
Ya Anak domba Allahku,
‘Ku datang kini pada-Mu.

Tiga hari setelah kematian dan penguburan-Nya, Yesus bangkit dari kematian dan mengundang seorang murid yang dalam sejarah dijuluki dengan nama “Tomas yang tidak percaya” untuk memeriksa bekas luka penyaliban-Nya (Yoh. 20:27). Ketika Tomas menyentuh luka pada tubuh Yesus, ia pun akhirnya percaya akan kebangkitan-Nya. Kristus berkata kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ay.29).

Sebagai pengikut Kristus dewasa ini, kita termasuk mereka yang tidak melihat tetapi tetap percaya. Meskipun demikian, terkadang keadaan di atas bumi ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam jiwa kita. Akan tetapi kita dapat berseru, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk. 9:24). Yesus menyambut kita untuk datang kepada-Nya sebagaimana adanya kita. —Jennifer Benson Schuldt

Yesusku, mampukan aku untuk mempercayai-Mu saat hidup terasa tak masuk akal. Angkatlah setiap keraguanku dan gantikan dengan iman yang makin teguh di dalam-Mu.

Kristus yang bangkit membuka jalan agar kamu dapat memperoleh kepenuhan hidup.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 1-3; Lukas 8:26-56

Photo credit: MohammeD BuQuRais / Foter / CC BY-NC-SA

Anugerah Pengharapan

Jumat, 20 Maret 2015

Anugerah Pengharapan

Baca: Hakim-Hakim 13:1-7

13:1 Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.

13:2 Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak.

13:3 Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki.

13:4 Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.

13:5 Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin."

13:6 Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: "Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku.

13:7 Tetapi ia berkata kepadaku: Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; oleh sebab itu janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan dan janganlah makan sesuatu yang haram, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah."

Dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin. —Hakim-Hakim 13:5

Anugerah Pengharapan

Ketika topan yang sangat kuat menerjang kota Tacloban di Filipina pada tahun 2013, diperkirakan 10.000 orang meninggal, dan banyak dari mereka yang selamat telah kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Kebutuhan sehari-hari menjadi langka. Tiga bulan kemudian, ketika kota itu masih berjuang untuk bangkit dari kerusakan besar akibat topan tersebut, seorang bayi lahir di tepi jalan dekat Tacloban, di tengah derasnya hujan dan angin kencang. Meskipun cuaca saat itu mengingatkan mereka kembali pada peristiwa yang menyakitkan, warga setempat bekerja sama untuk mencari bidan, lalu mengantar ibu dan bayinya ke klinik. Sang bayi pun selamat, tumbuh sehat, dan menjadi lambang pengharapan di tengah masa sulit.

Penindasan bangsa Filistin selama 40 tahun menandai suatu masa yang suram dalam sejarah bangsa Israel. Pada masa itulah, seorang malaikat mengabarkan kepada seorang wanita Israel bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang istimewa (Hak. 13:3). Anak itu akan menjadi seorang nazir Allah, yaitu orang yang dikhususkan bagi Allah, dan dengannya “akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin” (ay.5). Anak laki-laki yang diberi nama Simson itu menjadi anugerah pengharapan yang lahir di tengah suatu masa yang sulit.

Kesulitan memang tak terhindari, tetapi Yesus sanggup melepaskan kita dari keputusasaan. Dia lahir “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera” (Luk. 1:76-79). —Jennifer Benson Schuldt

Tuhan, tolonglah aku untuk melihat jauh melampaui keadaanku dan berharap kepada-Mu. Milik-Mulah segala otoritas dan kuasa. Ingatkan aku akan kebaikan- Mu, dan kiranya aku bersandar pada kasih-Mu.

Yesus adalah harapan yang meneduhkan badai kehidupan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 4-6; Lukas 1:1-20