Posts

Lembah Penglihatan

Rabu, 30 September 2015

Lembah Penglihatan

Baca: Yunus 2:1-10

2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu. —Yunus 2:7

Lembah Penglihatan

Buku doa kaum Puritan berjudul “Lembah Penglihatan” menggambarkan jarak yang terbentang antara seorang manusia berdosa dan Allah yang kudus. Manusia itu berkata kepada Allah, “Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan . . . ; dikungkung oleh dosa yang menggunung, telah kulihat kemuliaan-Mu.” Setelah menyadari kesalahannya, manusia itu tetap memegang pengharapan. Ia melanjutkan, “Bintang dapat terlihat dari sumur yang terdalam, dan semakin dalam sumurnya, semakin terang bintang-Mu bersinar.” Akhirnya, puisi itu diakhiri dengan permohonan: “Kiranya aku menemukan terang-Mu dalam kegelapanku, . . . kemuliaan-Mu di tengah lembahku.”

Yunus menemukan kemuliaan Allah selama ia berada di dalam laut. Ia telah memberontak kepada Allah dan terdampar di dalam perut ikan. Di sana, tersadar akan dosanya, Yunus pun berseru kepada Allah: “Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, . . . Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku” (Yun. 2:3,5). Meskipun dalam keadaan demikian, Yunus tetap berkata, “Teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu” (ay.7). Allah mendengar doa Yunus dan membuat ikan itu memuntahkan dirinya.

Meskipun dosa menciptakan jarak antara Allah dan kita, kita dapat memandang ke atas dari titik nadir hidup kita dan melihat kepada-Nya —untuk melihat kesucian, kebaikan, dan karunia-Nya. Apabila kita berpaling dari dosa kita dan mengakuinya kepada Allah, Dia akan mengampuni kita. Allah menjawab doa-doa yang kita panjatkan dari lembah hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan, di siang hari bintang dapat terlihat dari sumur yang terdalam, dan semakin dalam sumurnya, semakin terang bintang-Mu bersinar; kiranya aku menemukan terang-Mu dalam kegelapanku.

Kegelapan dosa hanya akan membuat terang anugerah Allah bersinar semakin cemerlang.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 9-10; Efesus 3

Pertukaran

Rabu, 22 Juli 2015

Pertukaran

Baca: Mazmur 32:1-11

32:1 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

32:2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!

32:3 Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;

32:4 sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela

32:5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela

32:6 Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya.

32:7 Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela

32:8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.

32:9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.

32:10 Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia.

32:11 Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!

Aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. —Mazmur 32:5

Pertukaran

Jen duduk di teras rumahnya sambil merenungkan sebuah pertanyaan yang menakutkan: Apakah ia perlu menulis sebuah buku? Selama ini ia suka menulis di blog dan berbicara di depan umum, tetapi ia merasa bahwa Allah mungkin menghendakinya berbuat lebih banyak lagi. “Aku bertanya kepada Allah apakah Dia mau aku melakukan ini,” katanya. Ia berbicara kepada Allah dan memohon bimbingan-Nya.

Jen mulai bertanya-tanya apakah Allah ingin supaya ia menulis tentang kecanduan suaminya terhadap pornografi dan karya Allah di dalam hidupnya dan pernikahan mereka. Namun kemudian ia berpikir bahwa hal itu mungkin akan mempermalukan suaminya di muka umum. Jadi ia berdoa, “Bagaimana jika kami menulis buku itu bersama-sama?” Ia menanyakan hal itu kepada suaminya, Craig, yang kemudian menyetujuinya.

Meskipun tidak menyebutkan dosa yang telah diperbuatnya, Raja Daud mengungkapkan pergumulannya kepada orang banyak. Ia bahkan menuliskannya dalam sebuah lagu. “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu,” tulisnya (Mzm. 32:3). Jadi, ia berkata, “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku” (ay.5). Memang tidak setiap orang harus mengemukakan pergumulan pribadi mereka di depan umum, tetapi ketika Daud mengakui dosanya, ia menemukan kedamaian dan penyembuhan yang mengilhaminya untuk menyembah Allah.

Craig dan Jen mengatakan bahwa proses penulisan kisah mereka yang sangat pribadi itu telah membawa keduanya lebih dekat satu sama lain. Alangkah serupanya itu dengan Allah, yang bersedia menukar kesalahan, rasa malu, dan keterasingan kita dengan pengampunan, keteguhan hati, dan persekutuan dengan-Nya! —Tim Gustafson

Apakah kamu merasa perlu menukarkan kesalahanmu dengan pengampunan Allah? Dia sedang menantikanmu.

Allah mengampuni mereka yang mengakui kesalahan mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 31–32; Kisah Para Rasul 23:16-35

Angkatlah Tanganmu

Rabu, 1 Juli 2015

Angkatlah Tanganmu

Baca: Yohanes 4:7-15,28-30

4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.

4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

4:10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”

4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

4:28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:

4:29 “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”

4:30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. —Yohanes 3:17

Angkatlah Tanganmu

Paduan Suara St. Olaf dari Northfield, Minnesota, terkenal karena kemampuan mereka mengalunkan musik yang indah. Salah satu keunggulan mereka terletak pada proses seleksinya. Para penyanyi dipilih tak hanya berdasarkan kecakapan mereka bernyanyi, tetapi juga bagaimana suara mereka dapat berpadu menjadi satu kesatuan. Keunggulan yang lain terletak pada kesepakatan dari setiap anggotanya untuk menjadikan paduan suara sebagai prioritas utama mereka, dengan berkomitmen mengikuti jadwal latihan dan pertunjukan yang sangat ketat.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya pada paduan suara tersebut adalah sesuatu yang terjadi pada latihan mereka. Setiap kali salah satu dari mereka salah dalam bernyanyi, orang itu akan mengangkat tangannya. Mereka tidak berusaha menghindar dari kesalahan, tetapi justru mengakuinya. Dengan demikian, pemimpin paduan suara dapat membantu setiap penyanyi dalam mempelajari bagian yang sulit, sehingga kemampuan mereka untuk tampil dengan sempurna nantinya akan semakin baik.

Saya pikir itulah ciri komunitas yang sedang dibangun Yesus ketika memberitahukan kepada Nikodemus bahwa Allah mengutus Anak-Nya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (Yoh. 3:17). Tak lama setelah itu, Yesus bertemu seorang perempuan Samaria di sebuah sumur. Yesus menolong perempuan itu untuk mengakui kegagalannya dan menjanjikannya sebuah jalan hidup yang lebih baik saat perempuan itu menerima pengampunan dari-Nya (Yoh. 4).

Sebagai anggota tubuh Kristus di bumi ini, kita tak perlu takut mengakui kesalahan kita, melainkan menerimanya sebagai kesempatan untuk bersama-sama mengalami sukacita dalam pengampunan Allah. —Julie Ackerman Link

Tuhan, kami cenderung menyembunyikan dosa dan kesalahan kami. Kami rindu datang kepada-Mu dengan jujur, karena Engkau mengasihi dan mengampuni kami.

Kita tidak dapat meninggalkan dosa apabila kita belum menghadapinya.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 20–21; Kisah Para Rasul 10:24-48

Mendambakan Kasih Seorang Ayah

Oleh: J. Leng, Malaysia,
(Artikel asli dalam Simplified Chinese: 从无到有的父爱)

Craving a Father's Love

Setiap kali melihat ada ayah dan anak yang bisa mengobrol dan bercanda dengan akrabnya, aku selalu merasa agak iri. Aku tidak pernah punya kenangan seindah itu. Ketika aku berusia 11 tahun, kedua orangtuaku bercerai karena ayahku berselingkuh. Menurut ibuku, ayah tidak menginginkan hak pengasuhan atas kami karena ia tidak suka anak-anak. Ketika ayah menikah lagi, ia pun tidak memiliki anak samasekali.

Aku dan kakak perempuanku dibesarkan oleh ibu. Hubungan kami dengan ayah sangat minimal, kebanyakan hanya untuk meminta uang saku. Kadang-kadang saja ia berbasa-basi menanyakan kabar kami. Ia sangat jarang mengajak kami keluar untuk makan malam atau meluangkan waktu bersama kami. Yang namanya “kasih ayah” tidak pernah benar-benar bisa kami alami di sepanjang tahun-tahun pertumbuhan kami.

Aku bisa merasakan bahwa ibu sinis dan benci kepada ayah setelah perceraian itu, terutama dari cara bicaranya setiap kali menyebut ayah. Ia kerap mengingatkan aku dan kakakku untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang seperti ayah.

Apa yang ia katakan tahun demi tahun, ditambah pengalamanku sendiri dalam berinteraksi dengan ayah, membuat aku kemudian merasakan hal serupa. Aku merasa ayah menghindari tanggung jawabnya terhadap keluarga. Ia hanya menunjukkan tanggung jawabnya hanya bila sudah tidak ada pilihan lain.

Perlahan-lahan, aku juga mulai percaya bahwa semua laki-laki pada umumnya tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya. Sama seperti ibu, aku memandang rendah ayahku.

Aku ingat suatu kali saat liburan SMA, aku minta tolong ayah untuk membantuku pindah dari asrama. Ia tidak muncul. Akhirnya, aku terpaksa mengangkut semuanya sendirian dengan pertolongan beberapa teman.

Ketika aku masuk universitas, ayah berkata bahwa ia tidak sanggup membayari biaya kuliahku secara penuh, dan memintaku untuk mencari jalan keluar sendiri. Aku sangat kecewa kepadanya. Itu adalah masa-masa yang paling sulit dalam hidupku—aku sendirian di tempat asing, dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa.

Tertekan karena tidak bisa membayar uang sekolah, aku mengalami depresi. Pada saat itu aku merasa tidak ada bedanya aku punya ayah atau tidak. Aku harus menjalankan beberapa pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Dan aku merasa semua kesulitan yang kuhadapi itu disebabkan oleh ayah.

Namun, pada masa-masa itu jugalah aku mengenal Yesus dan menerima anugerah keselamatan-Nya.

Dalam Matius 11:28 aku membaca, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Selain itu, Ulangan 31:8 berkata, “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Kedua ayat ini sangat menghiburku. Allah menyadarkanku bahwa aku tidak perlu menanggung semua beban sendirian. Aku dapat mempercayakan semua kekhawatiran dan ketakutanku kepada Tuhan, yang dapat diandalkan. Mungkin aku bahkan perlu berterima kasih kepada ayahku karena situasi yang disebabkannya membuatku aku akhirnya percaya kepada Tuhan.

Setelah aku menjadi seorang Kristen, aku mulai belajar bagaimana membangun hubungan dengan Allah, dan secara bertahap mulai memahami kasih Bapa di surga yang luar biasa. Salah satu kekecewaan terbesar dalam hidupku adalah tidak bisa mengalami kasih seorang ayah, namun kini aku mendapatkan kasih terbesar yang bisa diberikan seorang ayah, yaitu kasih dari Bapaku yang di surga.

Melalui doa dan pembacaan Alkitab, aku juga mulai memahami kehendak Allah bagiku dalam Matius 6:15, “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Jujur saja, mengampuni ayah yang telah menggoreskan luka dalam hidupku, bukanlah hal yang mudah. Tetapi setiap hari, aku memohon agar Allah memampukanku untuk memahami dan memaafkan ayahku. Meski tidak mudah, Allah menghendaki kita tidak hanya berdamai dengan-Nya, tetapi juga dengan sesama kita.

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 3 – tamat)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu3

Perlahan namun pasti, aku mulai menata kehidupanku lagi. Aku menyadari betul itu bukan karena kekuatanku sendiri, namun karena kasih karunia Tuhan. Pak Yudi dan teman-teman gereja membantuku untuk bangkit lagi. Dengan kemampuan lukisku, aku mulai bekerja untuk menyambung hidup. Aku juga mulai aktif melayani di gereja. Sungguh aku sangat bersyukur bisa kembali menjalani hidup dengan pikiran yang jernih.

Meski begitu, ada satu hal yang masih terus menghantui hidupku. Aku masih sulit sekali melepaskan pengampunan bagi orangtuaku. Setiap kali ada pembicaraan yang menyinggung tentang mereka, nada suaraku berubah menjadi ketus. Pak Yudi pernah menegurku, mengingatkanku pada firman Tuhan.

Neng, dalam Matius 6:14-15 Tuhan mengatakan ‘jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’ Bapak dulu juga susah mengampuni orang yang menabrak istri dan anak Bapak, tapi percayalah Neng, hidup Neng gak akan tenang kalau Neng tidak mau mengampuni. Kalau orangtua Neng tetap keras hati dan tidak mau hidup bersama lagi itu urusan mereka dengan Tuhan. Bagian Neng adalah mengampuni dan menghormati mereka. Bukankah Tuhan juga sudah mengampuni Neng?”

Aku terdiam, memilih untuk tidak mendebat Pak Yudi yang sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Namun, hatiku masih protes. Mengampuni dan menghormati kedua orangtuaku? Apakah mereka masih merasa menjadi orangtua dari seorang Ellea? Mungkin saja mereka sudah tidak ingat kalau mereka pernah punya seorang anak perempuan yang mereka sia-siakan. Meski firman Tuhan sangat jelas menyatakan bahwa aku harus mengampuni, praktiknya bagiku tidak semudah itu.

Ellea, kami sangat menyesal…..” sosok di depanku mengulangi pernyataannya dengan wajah penuh air mata.

Maafkan kami karena kami begitu egois dan tidak memikirkan masa depanmu. Kamu pasti sangat menderita…”

Badanku terasa kaku, tanganku bergetar memegangi pinggir sofa yang mulai mengelupas. Aku tidak mengerti keajaiban apa gerangan yang telah membawa papa dan mamaku ke tempat ini. Aku melihat mamaku terisak-isak dalam pelukan papaku. Bertahun-tahun aku ingin melihat mereka berangkulan seperti itu. Wajah mereka tampak letih dan makin tua, meski sebenarnya baru dua tahun kami berpisah.

Ada banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi dari rumah, Ellea…” papaku angkat bicara dengan suaranya yang berat. Desahannya juga terdengar sangat berat.

Kami tidak jadi bercerai. Memang belum semua masalah kami bisa dibereskan, tetapi satu hal yang pasti, kami tidak ingin kehilangan kamu. Kalau kamu bersedia Ellea, kembalilah pulang. Kita mulai kembali lembaran baru untuk keluarga kita…”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Air mataku tak terbendung. Seharusnya aku bahagia. Namun, entah kenapa aku masih ragu. Apa jaminannya mereka tidak akan bertengkar dan menyakitiku lagi? Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Ayat-ayat firman Tuhan yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir bermunculan di kepalaku. Aku tertegun menyadari Roh Kudus tengah mengingatkanku tentang apa yang Tuhan ingin aku lakukan sebagai anak-Nya.

“ … sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)

“… hendaklah kamu … saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32)

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:4)

… ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…” (Matius 6:12)

Aku tahu ini bukan masalah orangtuaku lagi. Ini masalah hatiku sendiri di hadapan Tuhan. Aku ingat begitu seringnya aku berdoa “jadilah kehendak-Mu, Tuhan, di dalam hidupku.” Dan kini, aku diperhadapkan pada pilihan, apakah aku akan membiarkan kehendak Tuhan itu dinyatakan dalam tindakanku atau tidak. Aku menarik napas dalam-dalam. Saatnya mengambil keputusan. Sekarang atau tidak sama sekali. Mengikuti kehendak Tuhan, atau kehendak hatiku sendiri.

Papa tahu, kamu mungkin butuh waktu untuk memaafkan papa dan mama…” sosok gagah di hadapanku berujar pelan sambil menundukkan kepala seperti seorang prajurit kalah perang.

Papa…mama… aku…. memaafkan kalian,” kalimat itu akhirnya terucap mantap meski banjir air mata kembali tidak terhindarkan membasahi wajahku. Aku menghambur memeluk mama, lalu papa, dengan kelegaan yang luar biasa.

Terima kasih Ellea…” mama berbisik lirih. Papa menggenggam tanganku erat-erat.

***

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Aku melompat dari tempat tidurku dengan penuh semangat, membuka jendela lebar-lebar. Tidak ada sawah. Yang ada hanya pekarangan luas penuh pepohonan rindang dan bunga-bunga. Aku kembali berada di kamarku sendiri, asyik membayangkan memindahkan lukisan alam yang indah itu ke dalam salah satu kanvasku. Ah, indahnya!

Sudah bangun? Ayo turun sini, ikut papa potong rumput!” Aku tertawa lepas. Belum pernah merasa sebahagia ini. Dulu, hampir mustahil melihat papa ada di rumah pada hari Sabtu.

“Papa belum cerita, bagaimana caranya bisa menemukanku di rumah itu,” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Papa tersenyum lebar, “Ada teman papa yang bekerja di panti rehabilitasi asuhan gereja itu.” Aku terpana. Wow! Tuhan punya cara yang tak terduga dalam mempertemukan kami kembali. Bayangan Pak Yudi dan teman-teman gereja yang pernah membantuku, melintas di pikiranku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya,” kata-kata Pak Yudi kembali terngiang di telingaku.

Ayo turun! Tunggu apa lagi?” aku tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolku. Sembari menuruni tangga, hatiku spontan bersenandung.

Bersama-Mu Bapa, kulewati semua…
PerkenananMu yang teguhkan hatiku…
Engkau yang bertindak memb’ri pertolongan…
AnugerahMu besar melimpah bagiku…

Aku tidak tahu apa yang akan kami hadapi sebagai keluarga ke depan. Namun, aku tahu bersama Tuhan, kami akan melewati semua dan bertumbuh di dalamnya. Bagian kami adalah belajar menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan mengikuti kehendak kami sendiri, karena kehendak-Nya jelas yang terbaik bagi kami semua.

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 2)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu2

Suara itu lagi. Teriakan itu lagi. Bunyi keras itu lagi. Hampir setiap hari hanya itu yang dapat ku dengar. Papa dan mamaku selalu bertengkar setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Umpatan kasar sering terlontar dari mulut mamaku, menuduh papa tidak lagi memperhatikan keluarganya. Bantahan papa tidak kalah kasarnya, terutama bila ia kelihatan sangat lelah sepulang kantor. Kadang ia sampai menggebrak meja atau membanting barang. Aku yang mendengarkan mereka, merasa lebih lelah lagi. Tidak ada yang menemaniku belajar. Tidak ada yang mendengarkan ceritaku, apalagi keluh kesahku.

Kedua orangtuaku sebenarnya adalah orang Kristen, namun menurutku, kehidupan mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak kenal Tuhan. Mereka jarang berdoa, apalagi ke gereja dan membaca Alkitab. Sepertinya mereka tidak pernah berpikir panjang, apalagi mempertimbangkan apa kata firman Tuhan, dalam mengambil keputusan-keputusan. Termasuk keputusan untuk bercerai.

Aku menjadi seperti orang yang yang kehilangan separuh nyawa. Sebelum sidang perceraian itu dilakukan, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan membawa seluruh tabunganku, menghilang dari kehidupan kedua orangtuaku. Dalam keadaan depresi, aku mulai terjerumus pergaulan bebas karena pengaruh seorang teman kos. Aku ikut menggunakan narkoba dan minuman keras sebagai pelampiasan rasa kecewa atas keluargaku. Singkat cerita, hidupku berantakan, gara-gara kedua orangtuaku!

Ellea, kami sangat menyesal….” sosok di hadapanku kini ikut bersimbah air mata melihatku melangkah mundur di belakang sofa, menjaga jarak dengan mereka.

Menyesal! Aku tertegun. Momen-momen tertentu dalam hidupku seolah berulang.

Hari itu aku juga merasakan penyesalan yang luar biasa. Hidupku terasa kosong dan sia-sia. Duduk sendiri di teras kos, aku bertanya-tanya apakah masih ada harapan bagiku. Tadi malam aku baru saja menggadaikan handphone kesayanganku demi bisa membeli sepaket shabu. Kedengarannya mungkin konyol, namun apa daya, sekujur tubuhku sudah meronta dan menyiksaku sepanjang hari. Air mataku meleleh. Aku merasa sangat lemah. Aku menyesal, tetapi tidak tahu harus mulai darimana memperbaiki hidupku.

Tuhan, jika Engkau ada, tunjukkan jalan-Mu untuk aku bisa bangkit lagi…” bisikku lirih dalam hati.

Pagi, Neng!”

Aku buru-buru mengeringkan pipiku yang basah. Seorang bapak tua berkemeja batik tersenyum lebar sembari berjalan tertatih-tatih melintasi jalan di depan kosku. Pak Yudi. Pengusaha tahu berdarah Sunda yang juga membuka warung di ujung gang. Ia tinggal sendirian. Anak dan isterinya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Entah apa yang membuat bapak itu begitu tegar. Ia sangat ramah kepada anak-anak kos sepertiku.

Ada apa Neng?” Pak Yudi tampak khawatir melihatku. Ia menghentikan langkahnya dan mendekati pagar. Tangannya yang sudah mulai keriput memegang sebuah tas Alkitab dari kulit. Aku tahu ia baru pulang dari gereja yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumahnya. Sebuah perjalanan yang terbilang jauh, apalagi untuk orang seusianya. Setiap yang melihatnya bisa merasakan betapa berartinya Tuhan dalam kehidupan Pak Yudi. Biasanya ia mengikuti kebaktian paling pagi, sehingga pukul 10 seperti sekarang ia sudah dalam perjalanan pulang.

Aku tidak bisa menahan tangis. Sosok Pak Yudi mengingatkanku pada papaku sendiri. Papa yang aku rindukan sekaligus kubenci setengah mati.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Pak.. aku merasa hidupku sangat kosong dan sia-sia.” ujarku lirih di sela derai tangisku, ketika Pak Yudi duduk di sebelahku. Entah bagaimana, cerita hidupku mengalir begitu saja. Ketika selesai, aku merasa tak percaya baru saja membuka segala kebobrokanku dan keluargaku di depan seorang yang tidak terlalu kukenal. Aku merasa sangat malu. Namun, sorot mata Pak Yudi sama sekali tidak melecehkanku. Ia menepuk pundakku dengan lembut.

Tidak ada jalan keluar selain datang pada Tuhan, Neng. Jangan ditunda lagi,” katanya pelan namun tegas.

Tapi Pak, apa Tuhan masih mau menerimaku yang seperti ini?” aku masih terisak-isak.

Pak Yudi mengangguk sambil tersenyum. Tangannya yang keriput membuka Alkitab di pangkuannya.

Tuhan berkata kepada umat-Nya: ‘…engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’” Lalu ia kembali menatapku dalam-dalam.

Dosa memang membuat hidup kita berantakan Neng. Tetapi, bagaimanapun keadaan kita, Tuhan mau menerima kita. Dia mengasihi kita dan memandang kita berharga. Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya, dan Dia ingin memulihkan hidup kita untuk dapat kembali mencerminkan kemuliaan-Nya.”

Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud Pak Yudi. Namun, kata-katanya menyejukkan hatiku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya.”

Dan dalam firman-Nya, Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, Neng. Yesus berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.’”

Aku mengangguk pelan dan tidak menolak ketika kemudian diajak Pak Yudi berdoa.

Minggu itu sangat berat untuk kulalui, namun aku akhirnya membulatkan tekad untuk pergi ke gereja. Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku. Pak Yudi menunjukkan informasi tentang sebuah panti rehabilitasi yang ada di bawah asuhan gereja. Mereka juga menyediakan bantuan dana bagi yang benar-benar membutuhkan. Dengan yakin aku segera mendaftarkan diri. Aku tahu bila aku tetap tinggal di kos, akan sulit bagiku untuk menghindari pengaruh narkoba. Mereka yang telah menjerumuskanku jelas tidak akan melepaskanku dengan mudah. Aku juga meminta bantuan pak Yudi untuk mencarikan aku tempat kontrakan yang baru setelah rehabilitasiku berakhir.

 
Bersambung …

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 1)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Jadilah-KehendakMu1

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Kicauan burung sudah ramai terdengar. Sesuatu yang paling kusenangi sejak tinggal di kontrakan mungil di pinggir sawah ini. Memang untuk mencapai halte angkutan umum terdekat aku harus berjalan sekitar 1 km, tetapi aku lebih rela untuk jalan kaki agak jauh demi menikmati pagi sepi polusi di tempat ini.

Pagi mbak Ellea,” seorang ibu berbaju biru menyapaku begitu aku membuka jendela. Balita yang digendongnya tertawa-tawa riang.

Pagi Bu Jum,” balasku tersenyum lebar.

Mawarnya sudah mekar, cantik sekali…,” katanya menunjuk sebuah pot yang berada persis di depan jendela kamarku. Aku mengangguk gembira. Menghirup wanginya dalam-dalam.

Pagi-pagi mau ke mana, Bu?”

Ke posyandu, Mbak. Tanggal 15, Intan jadwalnya imunisasi nih,” balas si ibu menunjuk balita dalam gendongannya sembari terus berjalan.

Aku melambai. Perasaanku tiba-tiba terasa campur aduk.

Di satu sisi aku sangat bersyukur. Untuk kemilau pagi, untuk semerbak bunga, untuk kicau burung, untuk keramahan warga di lingkungan baruku ini. Di sisi lain, kehangatan keluarga-keluarga di sekitarku membongkar kembali rindu yang tadinya telah terkubur dalam kalbu, menyodorkan kenyataan bahwa kini aku hidup seorang diri, tanpa ada yang menemani. Tak bisa disangkal, aku kerap merasa kesepian.

Dua tahun yang lalu, aku masih tinggal di kamar pribadi yang lebih seperti istana dibanding kamarku sekarang. Luasnya mungkin tiga kali kontrakanku ini. Bebas nyamuk, semut, dan kecoak. Setiap kali kenangan itu datang, rasa syukurku sangat cepat menguap. Berganti dengan rasa ingin menyerah dari kehidupan yang kini kujalani.

Aku beranjak keluar kamar, meraih handuk di gantungan sebelah pintu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Langkahku terhenti sebentar saat melewati kanvas di ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Aku tersenyum lega melihat lukisan yang akhirnya selesai kukerjakan tadi malam. Pesanan Pak Yudi. Pengusaha tahu yang baik hati. Lukisan itu akan menjadi hadiah Pak Yudi dan teman-teman kelompok kecilnya untuk ulang tahun pernikahan pendeta mereka. Lukisan itu juga menjadi hadiah untukku, karena dengan menyelesaikannya, aku akan bisa membayar uang kontrakanku untuk bulan ini. Lagi-lagi perasaanku jadi campur aduk. Dua tahun lalu, uang jajanku sebulan bisa membayar uang kontrakan ini selama lima bulan. Mengandalkan bakat melukis untuk hidup bukanlah jalan yang mudah. Kalau aku lulusan jurusan seni rupa dari universitas ternama mungkin ceritanya akan berbeda. Aku bahkan tidak sempat menyelesaikan SMA-ku. Jika bukan karena Pak Yudi dan kenalan-kenalannya, entah dari mana aku bisa mendapat pesanan lukisan setiap bulan.

***

Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua siang ketika aku kembali dari mengantar lukisan ke rumah Pak Yudi dan singgah sebentar di warung makan. Matahari sangat terik di sepanjang perjalanan, membuatku merasa sangat gerah dan lelah. Begitu masuk rumah, aku segera menyalakan kipas angin lalu menyandarkan tubuh di sofa. Ahhh enaknya…. Entah sudah berapa lama usia sofa kusam ini, tetapi menurutku masih cukup nyaman untuk dipakai. Saatnya untuk bersantai, pikirku sambil merogoh tas, mencari-cari alat pemutar MP3 kesayanganku. Sepanjang pagi tadi aku sibuk membuat tiga sketsa lukisan baru. Sabtu pagi memang hari yang paling nyaman untuk menyelesaikan pesanan lukisan atau menggarap ide-ide baru. Sudah seminggu ini, dari hari Senin sampai Jumat aku sibuk menjadi asisten guru di sebuah taman bermain—pekerjaan yang baru kuperoleh, lagi-lagi atas rekomendasi Pak Yudi.

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini
Satu perkara yang kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu ‘kan terjadi tanpa Allah peduli

Ternyata tidak mudah bagiku untuk bersantai sepenuhnya. Baru satu bait lagu itu mengalun, lelehan kristal bening sudah berlomba membasahi pipiku. Tuhan, berapa lama lagi aku harus hidup seperti ini?

Allah mengerti Allah peduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
Kubergumul sendiri
S’bab Allah peduli

Ya, Tuhan, aku tahu Engkau peduli dan mendengar doa-doaku, aku tidak akan menyerah … jadilah kehendak-Mu dalam hidupku,” gumanku dalam hati, berusaha menepis bayangan-bayangan masa lalu dan impian-impian masa depan yang membanjiri pikiranku. Memangnya kamu sudah siap bila Tuhan menjawab doamu sekarang? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul, menggantung di ambang pikiranku. Namun, aku sudah terlalu lelah untuk menanggapinya. Pipiku yang basah mulai mengering oleh semilir kipas angin. Bersamaan dengan itu, aku pun terlelap.

Ellea …” Sebuah tangan yang halus terasa membelai wajahku. Aku tersentak bangun. Mataku terbelalak mendapati orang yang selama ini kurindukan berada di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku memeluknya. Ia balas memelukku. Lalu tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu yang sangat kuat menghampiri pikiranku. Seperti tersadar dari mimpi, aku segera melepaskan pelukanku dan mendorong orang itu dengan kasar.

Bagaimana kalian bisa ada di sini? Mau apa kalian datang?” Aku berteriak-teriak seperti orang gila sambil mengusap air mata yang mengalir tanpa bisa kukendalikan. Semua peristiwa yang tadinya sudah kusimpan rapat-rapat seolah diputar kembali di hadapanku.

 
Bersambung …

Mulai dari Sini!

Sabtu, 6 Juni 2015

Mulai dari Sini!

Baca: Kisah Para Rasul 9:1-9

9:1 Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? —Kisah Para Rasul 22:10

Mulai dari Sini!

Pada 6 Juni 1944, tiga tentara Amerika meringkuk di sebuah lubang bekas ledakan bom di Pantai Utah, Normandia, Prancis. Saat menyadari bahwa air pasang telah membawa mereka ke tempat yang salah di pantai itu, ketiganya langsung membuat keputusan: “Kita akan mulai bertempur dari sini.” Keadaan membuat mereka harus bergerak maju dari suatu titik awal yang sulit.

Saulus berada dalam keadaan yang sulit dan ia perlu mengambil keputusan setelah bertemu dengan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik (Kis. 9:1-20). Tiba-tiba, ia menyadari bahwa hidupnya telah salah jalan, dan apa yang telah dijalaninya selama ini terasa sia-sia. Bagi Paulus, melangkah maju pastilah sulit dan membutuhkan kerja keras dan perjuangan, bahkan mungkin ia harus berhadapan dengan keluarga-keluarga Kristen yang telah dihancurkannya. Namun ia menjawab, “Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?” (Kis. 22:10).

Kita juga sering mengalami keadaan-keadaan yang tidak terduga, sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan atau harapkan. Mungkin kita sedang terlilit utang, terhambat oleh keterbatasan fisik, atau menderita karena harus menanggung konsekuensi dosa. Baik kita sekarang sedang terpuruk atau sedang jaya, baik kita sedang gagal, patah arang, atau dikuasai oleh keinginan egois kita sendiri, Kitab Suci mendorong kita agar memperhatikan nasihat Paulus untuk melupakan apa yang di belakang kita dan mengarahkan diri kepada Kristus (Flp. 3:13-14). Masa lalu bukanlah halangan untuk maju bersama-Nya. —Randy Kilgore

Apakah kamu dilumpuhkan oleh masa lalu? Apakah kamu sedang menjauh dari Kristus? Atau bahkan mungkin kamu belum pernah bertemu dengan Dia? Hari ini adalah waktunya untuk memulai sesuatu yang baru dengan Kristus bahkan ketika kamu pernah gagal sebelumnya.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk bangkit kembali.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25–27; Yohanes 16

Apakah Kita Lebih Baik Daripada Duo Bali Nine?

Oleh: Wendy Wong
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Are We Any Different From The Bali Nine Duo?)

W--Are-We-Any-Different-from-the-Bali-Nine-duo-

Pada tanggal 29 April yang baru lewat, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran akhirnya menjalani hukuman mati, setelah kasus yang melibatkan dua negara besar ini melewati proses peradilan sepanjang 10 tahun lamanya.

Pada tahun 2005, dua orang yang populer dengan sebutan “duo Bali Nine” ini ditangkap karena terbukti merekrut tujuh warga Australia lainnya dan mengatur penyelundupan lebih dari 8 kg heroin dari Bali, Indonesia, ke Australia. Mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Selama 10 tahun terakhir mereka harus meringkuk di penjara Indonesia sembari menunggu hukuman dilaksanakan. Setelah permohonan grasi dan upaya terakhir mereka untuk mendapatkan keringanan hukuman ditolak, kedua pria tersebut akhirnya menjalani eksekusi oleh regu tembak di Nusakambangan.

Berita tentang kedua orang itu pertama kali kudengar sekitar satu bulan yang lalu; kasus mereka telah menimbulkan ketegangan dalam hubungan diplomatik antara Australia dan Indonesia. Pemerintah Australia telah berusaha memohon, melakukan negosiasi, hingga memberikan ancaman kepada pihak Indonesia untuk meringankan hukuman mereka. Akan tetapi, sekalipun mendapatkan tekanan dari dunia internasional, Indonesia tetap teguh pada pendiriannya, menegaskan “perang melawan narkoba” mengingat tingginya kasus pemakaian narkoba di Indonesia.

Tanggapanku sempat sinis ketika membaca berita tentang permohonan grasi mereka. Orang-orang ini adalah para pengedar narkoba, sudah tentu mereka tahu bahwa yang mereka lakukan itu salah, dan sudah seharusnya mereka siap menerima konsekuensi atas perbuatan mereka. Logika yang sederhana, bukan?

Namun, beberapa hari kemudian, aku menemukan fakta yang secara drastis mengubah pandanganku terhadap kedua orang tersebut.

Dalam sepuluh tahun penahanan mereka, kedua pria ini telah berubah. Chan, yang berusia 31 tahun, telah bertobat dan menjadi seorang Kristen. Ia bahkan telah ditahbiskan sebagai seorang pendeta setelah 6 tahun belajar dan melayani sesama narapidana di LP Kerobokan, Bali. Ia membuka kelas memasak, mengadakan berbagai kursus, serta menjadi mentor bagi rekan-rekannya.

Dalam video dokumenter berjudul “Dear Me”, yang dibuat untuk mengingatkan para pelajar tentang bahaya menggunakan narkoba, Chan membacakan sebuah surat: “Yang terkasih diriku, saat kamu dewasa, kamu akan dikurung di sebuah penjara di Bali dan menjalani hukuman mati. Semua itu terjadi karena kamu berpikir bahwa menggunakan narkoba itu hebat… Keluarga dan teman-temanmu merasa hancur hati melihatmu…”

Sukumaran, yang berusia 34 tahun, memutuskan untuk menekuni dunia seni. Ia mengajar bahasa Inggris, desain grafis, dan filosofi kepada sesama narapidana. Ia juga sempat memulai bisnis menjual karya-karya seni dan pakaian dengan merek sendiri. Dua bulan sebelum ajal menjemputnya, ia bahkan sempat meraih gelar sarjana muda dalam bidang Seni Rupa. Surat kabar Sydney Morning Herald menulis, “keluarga dan para rohaniwan Kristen bersaksi bahwa ia telah sungguh-sungguh bertobat dan menjadi seorang Kristen dalam hari-hari menjelang kematiannya.”

Christie Buckingham, seorang pendeta Australia yang ikut membimbing Chan saat menempuh pendidikan pastoralnya, memberikan komentar berikut tentang Chan dan Sukumaran: “Mendekam dalam penjara memberimu kesempatan untuk introspeksi diri. Kedua pemuda itu telah melakukannya…. Setiap manusia punya keinginan untuk diterima. Andrew telah melangkah di jalan yang salah. Siapa pun bisa melakukan kesalahan yang sama.”

Apa yang dikatakan Christie sungguh benar. Sama seperti Chan dan Sukumaran, setiap kita telah melakukan kesalahan dalam hidup kita. Kesalahan kita mungkin tidak separah penyelundupan narkoba, tetapi kita semua telah berdosa di hadapan Allah. Entah itu berbohong atau berzinah, melakukan korupsi atau sekadar memaki, semuanya tetaplah dosa. Kita telah melanggar hukum Allah yang kudus dan sempurna, kita tidak dapat memenuhi apa yang menjadi standar-Nya. Sama seperti duo Bali Nine, setiap kita sesungguhnya pantas menerima hukuman atas dosa-dosa kita—maut.

Akan tetapi, Anak Allah sendiri telah memilih untuk mati menggantikan kita, memberi kita bukan saja kesempatan kedua, tetapi juga kehidupan yang kekal melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Janji keselamatan yang telah digenapi inilah yang memenuhi hati kedua terpidana mati ketika mereka menghadapi regu tembak pada hari Rabu itu. Mereka menyanyikan lagu “Bless the Lord O My Soul” [Pujilah Tuhan hai jiwaku] menjelang detik-detik terakhir eksekusi dilakukan oleh kedua belas anggota regu tembak.

Jangan salah paham, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa perbuatan mereka tidak salah atau bahwa mereka tak seharusnya dihukum mati atas kejahatan mereka. Justru aku ingin menegaskan bahwa mereka salah dan pantas dihukum. Akan tetapi, sama seperti Chan dan Sukumaran, kita semua juga adalah manusia yang tidak sempurna, kecenderungan kita adalah berbuat dosa, dan sama seperti mereka, kelak kita pun akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat di hadapan Allah, Sang Hakim yang agung.

Sungguh kita bersyukur bahwa dalam kasih karunia-Nya, Allah berkenan menyediakan pengampunan. Sebesar apa pun dosa yang pernah kita perbuat, ada pengharapan bagi setiap kita yang memandang dan memercayakan hidup kepada Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan jiwa kita.

Aku yakin bahwa pengharapan inilah yang dimiliki Chan dan Sukumaran saat mereka bersiap menghadap Sang Pencipta.